Anda di halaman 1dari 14

PERAWATAN LANJUT USIA DI KOMUNITAS

A. PERUBAHAN PADA LANSIA 1. PROSES PENUAAN Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses ini menjadi beban bagi orang lain dibadingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal dan tidak normal.

2. LANDASAN

PENANGANAN

LANJUT

USIA

TINGKAT

MASYARAKAT a. Filsafat Negara /P4. b. Undang undang dasar 1945, pasal 27 ayat 2 dan pasal 34. c. Undang-undang nomer 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan bab 1 pasal 1 ayat 1. d. Undang-undang no 4 tahun 1965, tentang pemberian bantuan penghidupan orangtua. e. Undang-undang no 5 tahun 1974, tentang pokok-pokok pemerintah didaerah. f. Undang-undang no 6 tahun 1974, tentang ketentua-ketentuan pokok kesejahteraan sosial. g. Keputusan presiden RI no 44 tahun 1974. h. Program PBB tentang lanjut usia anjuran kongres internasional WINA 1983. i. GBHN 1983/ pelita IV. j. Keputusan mentri sosial RI no 44 tahun 1974, tentang organisasi dan tata kerja departemen social propinsi.

Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

3. BEBERAPA ALASAN TIMBULNYA PERHATIAN KEPADA LANJUT USIA Alasan-alasan tersebut meliputi: 1. Pensiunan dan masalah-masalahnya. 2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan Stroke 3. Meningkatnya jumlah lanjut usia 4. Pemerataan pelayanan kesehatan 5. Kewajiban pemerintah terhadap orang cacat dan jompo 6. Perkembangan ilmu Gerontology Geriatri

7. Program PBB 8. Konferensi Internasional di Wina Tahun 1983 9. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit 10. Mahalnya obat-obatan

B. PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA 1. PENDEKATAN FISIK Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh,tingkat kesehatan yang masih bias dicapai dan dikembangkan, penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dibagi atas dua bagian yakni:

Klien lanjut usia yang masih aktif dimana keadaan fisiknya masih mampu bergaerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya seharihari masih mampu melakukan sendiri.

Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit.Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang
2 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.Kebersihan perorangan (personal hygiene) sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.

2. PENDEKATAN PSIKIS Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan

pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.Perawat hendaknya memilikikesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa aman.

3. PENDEKATAN SOSIAL Menagadakan diskusi dan tukar pikiran serat bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama sesame klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka.Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya perawat dapat menciptakan hubungan social antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri. Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi misalnya jalan pagi, menonton film atau hiburan-hiburan lain. Para werda perlu dirangsang untuk mengetahui dunia luar seperti nonton televise, mendengarkan radio atau membaca surat kabar dan majalah. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatantidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lanjut usia. Menurut Drs. H. Manan dalam bukunya Komunikasi Dalam Perawatan mengatakan: tidak sedikit klien tidak bias tidur karena stress. Setres memikirkan
3

penyakitnya,

biaya

hidup,

kelurga

dirumah,

sehingga

Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

menimbulkan kekecewaan, rasa katakutan atau kekhawatiran, rasa kecemasan dan lain sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan perhatian

terhadapsekelilingnya perlu diberi kesempatan kepada mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada hubungan dengan dunia luar. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang tinggal di Panti Werda), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontrak sesame mereka, makan dan duduk bersama, menanamkan rasa kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, punya hak dan kewajiban bersama.Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan klien lanjut usia di Panti Werda.

4. PENDEKATAN SPIRUTUAL Pearawt harus bias memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit, atau mendekati kematian. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian,DR. Tonny Seyiabudhi mengemukakan bahwa: maut seringkali menggugah rasa takut. Rasa takut semacam ini disadari oleh berbagai macam factor, seperti ketidak pastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit/penderitaan yang sering menyertai, kegelisaan untuk tidak berkumpul lagi dengan keluarga/lingkungan sekitarnya dan lain sebagainya. Dalam menghadapi kematian, setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara mereka menghadapi hidup ini. Sebab itu, perawat harus meneliti dengan cermat, dimanakah letak kelemahan dan dimana pula letak kekuatan klien, agar perawatan selanjutnya akan lebih terarah lagi. Bila kelemahan terletak pada segi spiritual, sudah selayaknya perawatan dengan tim berkewajiban untuk mencari upaya agar klien lanjut usia ini dapat diringankan penderitaannya.
4 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

Perawatbisa

memberikan

kesempatan

kepada

lanjut

usia

untuk

melaksanakan ibadahnya, atau secara langsung memberikan bimbingan rohani dengan menganjurkan melaksanakan ibadahnya seperti membaca kitab atau membantu lanjut usia dalam menunaikan kewajiban terhadap agama yang dianutnya.

Peran Perawat Lansia Komunitas Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional. Dalam Prakteknya Keperawatan Gerontik Meliputi Peran Dan Fungsinya Sebagai Berikut: 1. Sebagai Care Giver /Pemberi Asuhan Langsung Memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang meliputi intervensi/tindakan keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan tindakan medis sesuai dengan pendelegasian yang diberikan. 2. Sebagai Pendidik Klien Lansia Sebagai pendidik, perawat membantu lansia meningkatkan kesehatannya malalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kadar kesehatan, dan lain sebagainya.
5 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

3. Sebagai Motivator Sebagai motivator,perawat memberikan motivasi kepada lansia. 4. Sebagai Advokasi Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan. 5. Sebagai Konselor Memberikan konseling/ bimbingan kepada lansia, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan penglaman yang lalu, pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup kea rah perilaku hidup sehat. Fungsi Perawat Gerontik Menurut Eliopoulous tahun 2005 fungsi dari perawat gerontology adalah : 1. Membimbing orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat. 2. Menghilangkan perasaan takut tua. 3. Menghormati hak orang dewasa lebih tua dan memastikan yang lain melakukan hal yang sama. 4. Memantau dan mendorong kualitas pelayanan. 5. Memperhatikan serta mengurangi kesejahteraan. 6. Mendidik dan mendorong pemberi pelayanan kesehatan.
6 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

risiko

terhadap kesehatan dan

7. Mendengarkan dan memberi dukungan. 8. Memberikan semangat, dukungan, dan harapan. 9. Menghasilkan, mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian. 10. Melakukan perawatan rehabilitatif. 11. Mengoordinasi dan mengatur perawatan. 12. Mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh. 13. Memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan. 14. Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli di bidangnya. 15. Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, sosial, dan spiritual. 16. Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan tempat. 17. Memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghadapi proses kematian. 18. Mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang optimal. Tugas-Tugas Perawat Dalam Setiap Teori Penuaan 1. Tugas Perawat dalam Teori Biologi Perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dikembangkan, penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lansia dapat dibagi atas 2 bagian yakni : a. Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannnya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri. b. Klien lansia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini terutama hal-hal yang
7 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

berhubungan

dengan

kebersihan

perorangan

untuk

mempertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya penyakit/peradangan mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar. Untuk klien lansia yang aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kuku dan rambut, kebersihan tempat tidur serta posisinya, hal makan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan membantu para klien lansia untuk bernafas dengan lancar, makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tutbuh waktu berjalan, duduk, merubah posisitiduran, beristrahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian,

mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dari kecelakaan. 2. Tugas Perawat Dalam Teori Sosial Perawat sebaiknya memfasilitasi sosialisasi antar lansia dengan mengadakan diskusi dan tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia, yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah hubungan sosial antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri. Perawat memberikan kesempatan yang seluasluasnya kepada para werda untuk mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lansia. Menurut Drs H. Mannan dalam bukunya
8 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

Komunikasi dalam Perawatan mengatakan : tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan atau kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan kesempatan kepada mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada hubungan dengan dunia luar. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak sesama mereka, makan dan duduk nbersama, menanamkan rasa kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan klien lansia di panti werda. 3. Tugas Perawat dalam Teori Psikologi Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lansia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa puas. Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobby yang dimilikinya. Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan karena : perubahan psikologi terjadi bersama dengan makin lanjutnya usia. Perubahanperubahan ini meliputi gejala-gejala seperti menurunnya dayaingat untuk peristiwa yang baru
9 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

terjadi,

berkurangnya

kegairahan

atau

keinginan,

peningkatan

kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang dan pergeseran libido. Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita yang membosankan, jangan mentertawakan atau memarahi bila klien lansia lupa atau bila melakukan kesalahan. Harus diingat, kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawatbisa melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka ke arah pemuasan pribadi sehingga pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lansia ini mereka tetap merasa puas dan bahagia.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA TINGKAT MASYARAKAT

1. Tujuan asuhan keperawatan lansia tingkat masyarakat Agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari- hari secara mendiri Fokus asuhan keperawatan lansia : 1. Peningkatan kesehatan. 2. Pencegahan penyakit. 3. Mengoptimalkan fungsi fisik dan mental. pengkajian Fisik / biologis
10

Wawancara riwayat kesehatan : Pandangan lansia tentang kesehatannya. Kegiatan yang mampu dilakukan lansia. Kekuatan fisik lansia (otot, sendi, pendengaran, penglihatan). Kebiasaan lansia merawat diri sendiri.
Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur,BAB / BAK. Kebiasaan gerak badan / olah raga. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan. Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat Masalah-masalah seksual yang dirasakan.

Pemeriksaan fisik Sistem integumen/kulit Muskuluskletal Respirasi Kardiovaskuler Perkemihan Persyarafan Fungsi sensorik (penglihatan, pendengaran, pengecapan dan penciuman)

Psikologis Dilakukan saat berkomunikasi untuk melihat fungsi kognitif termasuk daya ingat, proses fikir Perlu dikaji alam perasaan, orentasi terhadap menyelesaikan masalah realitas, kemampuan dalam

Sosial ekonomi Bagaimana lansia membina keakraban dengan teman sebaya maupun dengan lingkungannya dan bagaimana keterlibatkan lansia dalam organisasi social,

penghasilan yang diperoleh, perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan sosial ekonomi 1. Spiritual Kenyakinan agama yang dimiliki dan sejauh diterapkan dalam: Kegiatan ibadah setiap hari. Kegiatan keagamaan
11 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

mana kenyakinan tsb. Dapat

Cara menyelesaikan masalah (Doa) Terlihat sabar dan tawakal

I. Fisik / biologis Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan dari kebutuhan tubuh s.d intake yang tidak adekuat Gangguan pesepsi s.d gangguan pendengaran / penglihatan Kurangnya perawatan diri s.d menurunnya minat dalam merawat diri Resiko cidera fisik s.d (jatuh) penyesuaiaan terhadap penurunan fungsi tubuh tidak adekuat Perubahan pola eliminasi s.d pola makan yang tidak efektif Gangguan pola tidur s.d kecemasan atau nyeri Gangguan pola nafas s.d penyempitan jalan nafas dan gangguan mobilisasi s.d kekakuan sendi II.Psikologis sosial Menarik diri dari lingkungan s.d perasaan tidak mampu Isolasi sosial s.d perasaancuriga Depresi s.d isolasi perasaan ditolak Koping yang tidak adekuat s.d ketidak mampuan mengungkapkan perasaan secara tepat Cemas s.d sumber keuangan yang tidak terbatas.

III.Spiritual Reaksi berkabung / berduka s.d ditinggal pasangan Penolakan terhadap proses penuaaan s.d kematian Marah terhdap tuhan s.d kegagalan yang dialami Perasaan tidak tenang s.d ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat ketidak siapan menhadapi

1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi Intervensi keperawatan : 1. Makanan porsi kecil tapi sering
12 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

2. Banyak minum dan kurangi makan 3. Makanan mengandung serat 4. Batasi makanan yang mengandung kalori (gula, makanan manis, minyak, makanan berlemak), kebutuhan kalori laki-laki 2100 kalori dan wanita 1700 kalori : KH 60 % dari jumlah kalori Lemak 15-20 % Protein 20-25 % Vitamin dan mineral + kebutuhan usia muda Air 6-8 gelas /hari Membatasi minum kopi dan teh.

2. Meningkatkan keamanan dan keselamatan lansia intervensi : 1. biarkan menggunakan alat bantu 2. latih untuk / mobilisasi 3. menggunakan kaca mata 4. menemani bila berp[ergian 5. ruagan dekat kantor 6. meletakan bel dibawah bantal 7. tempat tidur tidak terlau tinggi 8. meyediakan meja kecil dekat tempat tidur 9. lantai bersih, rata dan tidak licin / basah. 10. Peralatan yang menggunakan roda dikunci 11. Pasang pengaman dikamar mandi 12. Hindari lampu yang redup dan menyilaukan (sebaiknya lampu 70-100 watt) 13. Gunakan sepatu dan sandal yang beralas karet.

3. Memelihara kebersihan diri Sebagian lansia mengalami kemunduran /motivasi untuk melakukan perawatan diri secara teratur karena penurunan daya ingat, kebiasaan diusia muda,
13 Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik

kelemahan dan ketidakmampuan. Masalah : keringat berkurang kulit lansia bersisik, kering Intervensi : 1. Mengingatkan/ membantu 2. Menganjurkan untuk menggunakan sabun lunak dan gunakan skin lotion.

4. Memelihara keseimbangan istirahat / tidur : Masalah yang sering terjadi : gangguan tidur Intervensi : 1. Menyediakan tempat tidur yang nyaman 2. Mengatir lingkungan yang cukup ventilasi, bebas dari bau 3. Melatih melakukan latihan fisik yang ringan (berkebun, berjalan, dll).

5. Meningkatkan hubungan interpersonal Masalah yang sering ditemukan : penurunan daya ingat, pikun, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, curiga dapat terjadi karena hubungan interpersonal yang tidak adekuat. Intervensi : 1. Berkomuikasi dengan kontak mata 2. Memberikan stimulus / mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan 3. Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan 4. Menghargai pendapat lansia. 5. Melibatkan lansia dalam kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan.

Sumber: http://www.askep-lansia-komunitas.blogspot.com// Nugroho, wahjudi. 2000. Perawatan Lanjut Usia Edisi ke-2. Jakarta: EGC Carpenito, L. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis Edisi ke-6. Jakarta: EGC

14

Perawatan Lanjut Usia di Komunitas Keperawatan Gerontik