Anda di halaman 1dari 8

Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan

9

BAB III
Pemilihan Propeller Dan Pemeriksaan Kavitasi


Tujuan dari pemilihan type propeller adalah menentukan karakteristik
propeller yang sesuai dengan karakteristik badan kapal(badan kapal yang
tercelup ke air) dan besarnya daya yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan
misi kapal. Dengan diperolehnya karakteristik type propeller maka dapat
ditentukan efisiensi daya yang ditransmisikan oleh motor induk ke propeller.
Langkah langkah dalam pemilihan type propeller :
1. Perhitungan dan pemilihan type propeller (Engine Propeller Matching)
2. Perhitungan syarat kavitasi
3. Design dan gambar type propeller.

Dalam melakukan perancangan propeller, pertama kali yang harus dipahami
adalah mengenai beberapa definisi yang mempunyai korelasi langsung terhadap
perancangan, yang mana meliputi Power, Velocities, Forces, dan Efficiencies.
Ada tiga parameter utama yang digunakan dalam perancangan propeller, antara
lain : Delivered Horse Power (DHP); Rate of Rotation (N); dan Speed of Advance
(Va), yang selanjutnya disebut sebagai kondisi perancangan(Design Condition).
Adapun definisi dari masing-masing kondisi perancangan adalah sebagai berikut
:
a. Delivered Horse Power (DHP), adalah power yang di-absorb oleh
propeller dari Shafting System untuk diubah menjadi Thrust Horse Power
(THP). Berdasarkan perhitungan sebelumnya, digunakan nilai DHP
adalah sebesar :
DHP = 2814,43 HP

b. Rate of Rotation (N), adalah putaran propeller. Putaran propeller
direncanakan berkisar di 125 RPM, dari putaran main engine sebesar 250
rpm yang direduksi menggunakan reduction gear. Dalam perhitungan ini,
dicari nilai reduction gears yang yang menghasilkan efisiensi paling tinggi.
Oleh karena itu diuji 3 nilai rasio reduction gears sekaligus yaitu:
- Rasio 1,121
- Rasio 1,397
- Rasio 1,76

c. Speed of Advance (Va), adalah kecepatan aliran fluida pada disk
propeller. Harga Va adalah lebih rendah dari Vs (kecepatan servis kapal)
yang mana hal ini secara umum disebabkan oleh friction effects dan flow
displacement effects dari fluida yang bekerja pada sepanjang lambung
kapal hingga disk propeller. Dari perhitungan sebelumnya, telah
didapatkan harga Va sebesar :
Va = 4,37 m/s
Va = 8,49 knot




Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
10

Optimum Diameter & Pitch Propeller
Prosedur perancangan propeller dengan menggunakan bantuan data yang
diturunkan dari pengujian-pengujian model propeller series (Standard Series
Open Water Data), adalah dimaksudkan agar nilai diameter dan pitch yang
optimal dari propeller yang dirancang tersebut dapat didefinisikan. Adapun
prosedur perancangan dengan menggunakan Bp- Diagram yang dikembangkan
oleh Taylor adalah sebagai berikut :


Dari perhitungan tahanan kapal didapatkan didapat :
t = 0,252
w = 0,315
Vs = 12,4 knot
= 6,378 m/s
air laut = 1025 kg/m3

Proses penentuan dan pemilihan type propeller dilakukan dengan pembacaan
diagram Bp - setelah melalui langkah-langkah berikut :
Menentukan nilai BP ( Power Absorbtion )
Nilai BP diperoleh dari rumusan :

5 , 2
5 , 0
a
prop
p
V
xP N
B =

dimana : Va = ( 1 w ) VS
Contoh kasus untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
N
Prop
= N
Engine
x Rasio GB
N
Prop
= 210 x 1,120
N
Prop
= 187,33

Bp = (187,33 x 2920,23^0,5)/8,49^2,5
Bp = 48,14

Pembacaan diagram Bp-1 (pada lampiran)
Pada pembacaan diagram Bp-1, nilai Bp harus dikonversikan terlebih dahulu,
dengan rumusan:
Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
11

prop
a
N
xV
D
0
0

=
Bp1 = 0,1739 x Bp

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :

Bp1 = 0,1739 x 48,14
Bp1 = 1,21

Menentukan nilai
0
(

D
P
dan (1/J) dari pembacaan Bp - diagram
(terlampir). Dengan nilai Bp sebesar 1,21 tersebut, pada diagram Bp- ditarik
garis hingga memotong maximum efficiency line. Dari titik potong itu kemudian
ditarik garis ke kiri sehingga didapatkan nilai (P/D)o sebesar 0,71 dan juga (1/J)o
sebesar 2,54 , sehingga:

o = [(1/J)o]/0,009875
= 2,54/0,009875
= 257,22

Catatan : diagram Bp- yang digunakan pada Contoh kasus Untuk tipe Propeller
B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :

Sebenarnya (1/J) adalah sama dengan , yang membedakan adalah (1/J)
menggunakan satuan internasional (SI) sedangkan menggunakan satuan
British. Pada perhitungan selanjutnya notasi yang akan dipakai seterusnya
adalah untuk mewakili (1/J).

Menentukan nilai Diameter Optimum (D
0
) dari pembacaan diagram Bp-
Nilai Do atau diameter propeller pada kondisi open water dapat dihitung dengan
formulasi sebagai berikut :

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
D
0
= (257,22 x 8,49)/187,33
D
0
= 11,66 feet

Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
12

Menentukan nilai Pitch Propeler (P
0
)
Nilai P
0
diperoleh dari rumusan :
(P/D)o = 0,74
Po = 0,74 Do
= 0,74 x 11,66
= 12,0774 feet
= 3,68 meter

Menentukan nilai Diameter Maksimal (D
B
)
Nilai D
B
diperoleh dari rumusan :
D
B
= 0,95 x D
0
( untuk single screw Propeller )
D
B
= 0,97 x D
0
( untuk twin screw Propeller )

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
D
B
= 0,95 x D
0

D
B
= 0,95 x 11,66
D
B
= 11,08 feet

Menentukan nilai B
Nilai B diperoleh dari rumusan :
a
B prop
B
V
xD N
=


Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
b = (187,33 x 11,08)/8,49
b = 244,35

Menghitung nilai
B
D
P
(


Setelah nilai B didapatkan, maka nilai tersebut diplotkan ke diagram Bp-
dan dipotongkan dengan maximum efficiency line seperti pada pembacaan
diagram Bp- untuk kondisi open water, sehingga diperoleh nilai (P/D)
B
= 0,73
serta efisiensi behind the ship B = 0,538. Dari harga-harga yang telah
Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
13

didapatkan tersebut, maka nilai pitch propeller behind the ship dapat dihitung
sebagai berikut :
(P/D)
B
= 0,79
P
B
= 0,79 x D
B

= 0,79 x 4,726
= 3,592 meter

Menentukan Effisiensi masing-masing type propeller
Langkah-langkah diatas dilakukan pula untuk masing-masing variasi rasio
gearbox sehingga didapat berbagai nilai efisiensi propeller. Dari nilai-nilai diatas,
cari efisiensi propeller yang paling tinggi.

Perhitungan Kavitasi
Perhitungan kavitasi perlu dilakukan dengan tujuan untuk memastikan
suatu propeller bebas dari kavitasi yang menyebabkan kerusakan fatal terhadap
propeller. Perhitungan kavitasi ini dengan menggunakan Diagram Burrils.
Prosedur yang digunakan untuk menghitung angka kavitasi adalah
sebagai berikut:
1. Menghitung nilai Ae
A
0
=
2
2
|

\
| D

A
e
= A
0
x (A
e
/A
0
)

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
A
0
= 3,14 x (11,08/2)^2
A
0
= 96,45

A
e
= 96,45 x (0,7)
A
e
= 67,52

2. Menghitung nilai Ap
Ap = Ad x (1,067 (0,229 x
D
P
))
dimana : Ad = Ae
Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
14


Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
Ad = Ae = 67,52
Ap = 67,52 x (1,067- (0,229 x 0,73) )
Ap = 60,75

3. Menghitung nilai (Vr)
2

(Vr)
2
= Va2 + (0,7 x x n x D)
2

dimana : Va = speed advance (m/s)
n = putaran propeller (rps)
D = Diameter behind the ship (m)

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
Vr
2
= 4,37
2
+ (0,7 x 3,14 x 3,12 x 11,08)^2
Vr
2
= 538,08

4. Menghitung nilai T
T =
xVs t
EHP
) 1 (

dimana : EHP = Effective Horse Power
Vs = Kecepatan Dinas
t = Thrust Deduction Factor
Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
T = 1264,54/((1-0,252)x 12,4)
T = 352,8292

5. Menghitung nilai C
C =
2
) ( 5 , 0 Vr x x Apx
T



Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
C = T/(60,75 x 0,5 x 1,025 x 538,08)
C = 0,19
Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
15


6. Menghitung nilai 0.7R
0,7R =
2 2 2
836 , 4
62 , 19 2 , 188
D n Va
H
+
+

dimana: H = tinggi sumbu poros dari base line ( m )
VA = speed of advance ( m/s )
n = putaran propeller ( RPS )
D = diameter propeller ( m )

Nilai
0.7R
tersebut di plotkan pada Burrill Diagram untuk memperoleh C diagram
(pada lampiran). Untuk syarat terjadinya kavitasi adalah C diagram < C
hitungan.

Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
h= D/2+ 0,2
h= 4,726/2+ 0,2
h= 2,563

H=T-h
H=7,764-2,563
H=5,201

0.7R
= 0,54
Masukkan nilai
0.7R
ke diagram burill sehingga akan diperoleh nilai C diagram.

Untuk
0.7R
=0,54, didapat nilai C diagram sebesar 0,19.
Setelah didapat nilai c diagram selanjutnya dicek dengan syarat kavitasi
untuk menentukan apakah propeller yang dipilih mengalami kavitasi atau tidak.
Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
0,17< 0,19 <Tidak Kavitasi>
Propeller yang dipilih telah memenuhi syarat kavitasi karena nilai c lebih
kecil dari nilai c max, hal ini berarti bahwa propeller tersebut bebas dari kavitasi.

Perhitungan Clearance Propeller
Tugas Propeller Dan Sistem Perporosan
16

Berdasarkan aturan yang berlaku, ruang/space aman yang tersedia untuk
propeller adalah 0,6T0,7T dimana T adalah sarat air kapal. Referensi lain
menyebutkan bahwa ukuran yang perlu dipertimbangkan untuk ruang aman
propeller pada lambung kapal adalah : 0,6T 0,7T 0,04 D + 0,08 D + D,
dimana D = diameter propeller
Pada perencanaan awal dalam Tugas Rencana Garis diambil diameter
maksimal adalah 0,7T.
Contoh kasus Untuk tipe Propeller B4-70 dengan rasio Gearbox 1,120 :
D + 0,08 D + 0,04 D 0,7 T
3,377+ (0,08 x 3,377) + (0,04 x 3,377) 5,15
3,75 5,15 m (memenuhi)

Catatan : D yang digunakan dalam perhitungan diatas adalah dipilih diameter
behind the ship yang paling besar dari kelima diameter hasil perhitungan untuk
masing-masing tipe propeller. Sehingga apabila perhitungan di atas memenuhi,
maka untuk diameter yang lain pasti memenuhi.
Seluruh langkah-langkah diatas digunakan untuk mencari nilai dari semua
variasi rasio gear box dan tipe propeller yang digunakan. Maka propeller yang
dipilih harus didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
Propeller yang digunakan tidak boleh melebihi batasan = 5,43482 m
Memiliki tingkat effisiensi yang paling tinggi
Tidak mengalami fenomena kavitasi

Dari pertimbangan di atas maka spesifikasi propeller yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Rasio GearBox : 1 : 1,120
Type Propeller : B4 - 70
propeller : 0,54
P/D : 0,73
Diameter (m) : 3,4
RPM prop : 187,33

Anda mungkin juga menyukai