Anda di halaman 1dari 3

Penggunaan Emulgator Dalam Sediaan Krim Krim merupakan tipe emulsi di mana terdapat dua cairan tidak dapat

tercampurkan, seperti air dan minyak, yang dibuat menjadi bentuk terdispersi stabil dengan cara membuat salah satunya sebagai fase dispersi dan mendispersikannya dalam bagian yang lain yang bertindak sebagai medium pendispersi. Sebagai suatu sediaan semisolid, krim bersifat lebih stabil dalam berbagai keadaan jika dibandingkan dengan losio dan minyak, serta memiliki lebih banyak kandungan air dan humektan (Mitsui, 1997). Krim dapat berbentuk emulsi air dalam minyak (A/M) maupun minyak dalam air (M/A), dengan ciri khasnya masing-masing ditentukan oleh surfaktan dan bahan bersifat minyak yang digunakan di dalamnya. Pada emulsi tipe M/A, surfaktan yang digunakan bersifat hidrofil. Bahan bersifat minyak yang digunakan dapat bervariasi kepolarannya, dari yang tidak memiliki kepolaran hingga yang bersifat sangat polar. Pada sediaan krim dengan jumlah fase internal (fase terdispersi) yang besar, bentuk krim dicapai ketika sifat struktur cairannya menghilang sebagai akibat dari peningkatan berat jenis partikel emulsi (Mitsui, 1997). Emulgator atau zat pengemulsi merupakan zat yang berguna untuk mengemulsikan atau mencampurkan zat-zat yang tidak bercampur. Emulgator membantu menstabilkan sediaan yang terdiri dari dua zat yang tidak bercampur. Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan tipe dan sifat krim yang dikehendaki (Widodo & Nurdjanah, 2007). Emulsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu emulsi minyak dalam air (M/A) dan emulsi air dalam minyak (A/M). Jika misel terbentuk di dalam fase air, maka yang terbentuk adalah emulsi M/A. Sedangkan jika misel terbentuk di dalam fase minyak, maka yang terbentuk adalah emulsi A/M Krim merupakan tipe emulsi di mana terdapat dua cairan tidak dapat tercampurkan, seperti air dan minyak, yang dibuat menjadi bentuk terdispersi stabil dengan cara membuat salah satunya sebagai fase dispersi dan mendispersikannya dalam bagian yang lain yang bertindak sebagai medium pendispersi. Sebagai suatu sediaan semisolid, krim bersifat lebih stabil dalam berbagai keadaan jika dibandingkan dengan losio dan minyak, serta memiliki lebih banyak kandungan air dan humektan. Beberapa komponen utama dalam sediaan krim antara lain bahan yang bersifat minyak, bahan yang bersifat air, surfaktan, pengawet, agen pengkelat, pewangi, dan bahan aktif (Mitsui, 1997). Bahan yang digunakan sebagai emulgator adalah bahan aktif permukaan atau surfaktan. Terdapat berbagai jenis surfaktan, tetapi seluruhnya memiliki kemiripan dalam struktur molekularnya, yaitu memiiki bagian yang berafinitas tinggi terhadap minyak (lipofilik atau hidrofobik) dan bagian yang berafinitas tinggi terhadap air (hidrofilik). Secara umum, surfaktan dikelompokkan berdasarkan disosiasi ioniknya di dalam air (Mitsui, 1997). 1) Surfaktan Anionik Saat surfaktan anionik dilarutkan di dalam air, basa hidrofilnya akan terdisosiasi membentuk anion. Surfaktan anionik secara garis besar dikelompokkan menjadi karbonat, ester sulfat, sulfonat, dan ester fosfat (Mitsui, 1997). Salah satu contoh surfaktan anionik sintetik adalah alfa-olein sulfonat yang merupakan gabungan dari hidroksialkana dan alkena sulfonat. Alfa-olein sulfonat stabil pada pH rendah.

2)

3)

4)

5)

Penggunaan surfaktan anionik bersama dengan alkanol amida juga diketahui dapat meningkatlan viskositas (Barel, Marc & Howard, 2001). Selain itu, terdapat juga asil Nmetil taurat yang umum digunakan dalam krim pembersih. Asil N-metil taurat diketahui aman digunakan dan stabil pada rentang pH yang luas serta dalam air dengan kandungan mineral tinggi (Mitsui, 1997). Surfaktan Kationik Ketika dilarutkan di dalam air, bagian hidrofilik surfaktan kationik akan terdisosiasi membentuk kation-kation. Surfaktan kationik diabsorbsi dengan baik oleh rambut dan memiliki aktivitas anti-statik, karena itu jenis surfaktan ini banyak digunakan dalam produk perawatan rambut (Mitsui, 1997). Salah satu surfaktan kationik adalah garam-garam ammonium kuartener (Barel, Marc & Howard, 2001). Surfaktan Amfoter Surfaktan amfoter memiliki gugus fungsi baik anionik dan kationik di dalam molekulnya, sehingga pada pH asam, surfaktan jenis ini akan terdisosiasi menjadi kation dan pada pH basa terdisosiasi menjadi anion. Selain itu, jika dibandingkan dengan surfaktan ionik, suraktan amfoter memiliki tingkat toksisitas dan iritasi terhadap kulit yang jauh lebih rendah sehingga banyak digunakan pada produk bayi (Mitsui, 1997). Salah satu contohnya adalah N-asil amidopropil betain yang juga digunakan pada shampoo karena kemampuan membentuk busanya yang baik (Barel, Marc & Howard, 2001). Surfaktan Non Ionik Surfaktan non ionik tidak terdisosiasi menjadi ion di dalam air, melainkan sifataktif permukaannya terdapat pada adanya gugus OH, -O-, -CONH-, dan-COOR dalam molekulnya. Berdasarkan strukturnya ini surfaktan non ionik dapat dikelompokkan menjadi jenis polioksietilen dengan gugus hidrofil dan jenis yang memiliki gugus hidroksil. Semakin panjang rantai polioksietilen yang dimiliki, kelarutan surfaktan dalam air akan semakin rendah, sementara semakin banyak gugus hidroksil, semakin tinggi kelarutannya dalam air. Sifatnya ini memberikan sifat kelarutan, pembasahan, kemampuan penetrasi, emulsifikasi, dan solubilisasi yang berbeda-beda pada surfaktan non ionik karena adanya perbedaan keseimbangan HLB gugus hidrofil dan lipofilnya (Mitsui, 1997). Pada perbandingan minyak dan air 1:1, di suhu tinggi, surfaktan non ionik memiliki kelarutan dalam minyak yang tinggi serta membentuk mikroemulsi M/A pada fase minyak dengan sedikit sisa/kelebihan air (Barel, Marc & Howard, 2001). Surfaktan Lainnya Selain jenis-jenis surfaktan tersebut di atas, terdapat juga surfaktan polimer yang merupakan surfaktan dengan BM tinggi. Karena BM yang tinggi ini, sebagian besar surfaktan polimer dapat juga digunakan sebagai flokulan, pendispersi, dan sebagainya. Contoh surfaktan polimer antara lain derivat starch, gum tragakan, dan polivinil alkohol. Di samping itu, terdapat juga surfaktan alami seperti lesitin dan lanolin (Mitsui, 1997).

Daftar Pustaka Barel, A. O., Marc P & Howard I. M. 2001. Handbook of Cosmetic Science and Technology. Marcel Dekker, Inc. New York. Mitsui, T. 1997. New Cosmetic Science.Elsevier. Amsterdam. Widodo, Y. P. A. S., Nurdjanah. 2007. Pembuatan Basis Krim VCO (Virgin Coconut Oil) Menggunakan Microwave Oven. Available online at http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/06/efektivitas_emulgator_vco.pdf [diakses 26 Agustus 2013.

Anda mungkin juga menyukai