Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PERCOBAAN IV PENENTUAN KALOR REAKSI (TERMOKIMIA)

NAMA NIM KELOMPOK HARI, TANGGAL PERCOBAAN ASISTEN

: JEANE MELYANTI M. : H311 11 277 : VI (ENAM) : SENIN, 4 MARET 2013 : ALFANI MARING DATU

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Energi kimia tersimpan dalam satuan struktur zat kimia, besarnya ditentukan oleh jenis dan susunan atom-atom penyusunnya. Ketika zat-zat terlibat dalam reaksi kimia, energi kimia dilepaskan, disimpan, dan diubah menjadi bentuk energi lainnya, seperti energi listrik. Reaksi kimia umumnya akan disertai efek panas, entah sistem tersebut menyerap panas, atau mengeluarkan panas. Sistem yang menyerap panas disebut endoterm, sedangkan yang mengeluarkan panas disebut eksoterm. Namun tidak semua reaksi tersebut bisa ditentukan besar kalor reaksinya secara kalorimetrik. Penentuan besarnya kalor reaksi hanya bisa ditentukan pada reaksi-reaksi yang berkesudahan yang berlangsung dengan cepat, seperti reaksi pembakaran, reaksi penetralan, dan reaksi pelarutan. Kajian tentang kalor yang dihasilkan atau dibutuhkan oleh reaksi kimia disebut termokimia. Termokimia merupakan cabang dari termodinamika karena tabung reaksi dan isinya membentuk sistem. Jadi, kita dapat mengukur (secara tidak langsung, dengan cara mengukur kerja atau kenaikan temperatur) energi yang dihasilkan oleh reaksi sebagai kalor bergantung pada kondisinya, apakah dengan perubahan energi dalam atau perubahan entalpi. Fokus bahasan dalam termokimia ini adalah jumlah kalor yang dapat dihasilkan oleh sejumlah tertentu pereaksi. Selain itu ilmu kimia ini juga mempelajari mengenai cara pengukuran dari kalor reaksi tersebut. Secara eksperimen

kalor reaksi ditentukan dengan kalorimeter. Penentuan ini terbatas pada reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung dengan cepat seperti pada reaksi pembakaran, reaksi penetralan, dan reaksi pelarutan.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari penentuan tetapan kalorimeter dan kalor penetralan laruta secara kalorimeter.

1.2.2 Tujuan Percobaan 1. Menentukan tetapan kalorimeter secara kalorimetrik. 2. Menentukan kalor penetralan asam dan basa secara kalorimetrik.

1.3 Prinsip Percobaan Prinsip pada percobaan ini yaitu penentuan tetapan kalorimeter dengan

mencampurkan air pada suhu kesetimbangan termal dengan air pada suhu 50 0C serta penentuan kalor penetralan dari campuran larutan asam HCl dan larutan basa NaOH dengan mengukur suhu selang waktu menit selama 5 menit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Termodinamika dalam arti luas adalah pengkajian hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi, seperti energi yang dikaitkan dengan gejala elektromagnet, permukaan, dan kimia. Konsep termodinamika merupakan hal mendasar yang paling penting bagi ahli fisika, dan ahli kimia (Keenan, dkk, 1992). Termokimia dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang ilmu kimia yang menangani hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain energi, dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan keadaan. Erat berkaitan dengan termodinamika kimia adalah termokimia, yang menagani pengukuran dan penafsiran perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan dan pembentukan larutan (Keenan, dkk, 1992). Persyaratan energi memainkan peranan penting dalam menentukan arah akan terjadinya suatu reaksi kimia. Dengan perhatian yang dipusatkan pada kebutuhan energi, usaha pokok dilakukan untuk mencari reaksi endoterm yang diberi tenaga dari panas matahari, yang menghasilkan zat-zat yang nantinya dapat bereaksi eksoterm untuk menghasilkan energi dan pereaksi-pereaksi aslinya. Mengenai ke arah mana dan sejauh apa reaksi pada pelbagai kondisi akan berlangsung telah dimungkinkan oleh pengetahuan tentang termodinamika (Keenan, dkk, 1992). Reaksi kimia yang menyangkut pemecahan dan atau pembentukkan ikatan kimia selalu berhubungan dengan penyerapan atau pelepasan panas. Reaksi eksotermik adalah suatu reaksi yang melepaskan panas. Jika reaksi berlangsung pada

suhu tetap, berdasarkan perjanjian H akan bernilai negatif, karena kandungan panas dari sistem akan menurun. Sebaliknya, pada reaksi endotermik yaitu reaksi yang membutuhkan panas, berdasarkan perjanjian, H akan mempunyai nilai positif. Tetapi harap diingat bahwa kadang-kadang beberapa buku menggunakan tanda yang sebaliknya dari yang telah diuraikan di atas, karena itu dalam penulisan di bidang termodinamika, dianjurkan untuk selalu mencantumkan penggunaan tanda yang akan digunakan. Bila perubahan panas yang dikaitkan dengan suatu reaksi kimia dinyatakan dengan suatu reaksi, pernyataan lengkapnya dirujuk sebagai persamaan termokimia (Bird, 1993). Panas reaksi adalah adalah banyaknya panas yang dilepaskan atau diserap ketika reaksi kimia sedang berlangsung, biasanya bila tidak dicantumkan keterangan lain berarti berlangsung pada tekanan tetap. Panas reaksi dapat dibedakan atas, panas pembakaran suatu unsur atau senyawa adalah banyaknya panas yang dilepaskan ketika 1 mol unsur atau senyawa tersebut terbakar sempurna dalam oksigen sebagai contoh panas pembakaran molar. Panas netralisasi dapat didefinisikan sebagai jumlah panas yang dilepas ketika 1 mol air terbentuk akibat reaksi netralisasi asam oleh basa ataupun sebaliknya, untuk netralisasi asam kuat, nilai Ho selalu tetap yaitu -57 kJ/mol. Panas pelarutan, jenis panas reaksi yang lain adalah panas yang dilepas atau diserap ketika 1 mol senyawa dilarutkan dalam pelarut berlebih yaitu sampai suatu keadaan di mana pada penambahan pelarut selanjutnya tidak ada panas yang diserap atau dilepaskan lagi. Panas pembentukkan, entalpi pembentukkan molar standar Hof suatu senyawa adalah banyaknya panas yang diserap atau dilepaskan ketika 1 mol senyawa tersebut dibentuk dari unsur - unsurnya dalam keadaan standar. Karena entalpi adalah fungsi keadaan, maka besaran H dari reaksi kimia tak

tergantung dari lintasan yang dijalani pereaksi untuk membentuk hasil reaksi. Biasanya untuk menyatakan entalpi dan energi dalam digunakan keadaan standar sebagai titik acuan, karena dalam menyatakan entalpi atau energi dalam sebenarnya yang diukur adalah perbedaan entalpi atau energi dalam suatu keadaan dengan keadaan standarnya (Bird, 1993). Sampai sekarang, panas juga digunakan seperti dalam penentuan kuantitas eter, yang telah diperkenalkan sejak awal sebagai fungsi defisit yang meliputi perbedaan, dalam proses apapun, antara E dan -W. Sekarang telah terlengkapi konsep-konsep sebelumnya dengan memperkenalkan kedua perangkat unit dan metode untuk mengukur panas dan untuk pemantauan pemanasan. Metode yang baik untuk mengukur fluks panas adalah dengan menggunakan kalorimetri. Dasar termodinamika untuk prosedur ini berasal dari hukum pertama dari termodinamika tersebut. Dalam termodinamika konsep kimia di atas sangat besar penerapannya dalam mengukur kalor reaksi kimia. Salah satu prosedur yang banyak digunakan adalah melaksanakan langkah combusi yang sangat cepat dan adiabatik kalorimeter dalam pembuatan bom (Honig, 1982). Menurut Dogra (1990), panas reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan energi produk dan reaktan pada volume konstan (E) atau pada tekanan konstan (H). Sebagai contoh adalah reaksi Reaktan (T) Produk (T)

E = E( produk ) E ( reaktan ) Pada temperatur konstan dan volume konstan, dan pada temperatur konstan dan tekanan konstan.

H = H ( produk ) - H ( reaktan) Satuan SI untuk E atau H adalah joule, yaitu satuan energi, tetapi satuan umum yang lain adalah kalori. Jika H atau E positif, reaksi dikatakn endotermis dan jika H atau E negatif, reaksi disebut eksotermis. Suatu reaksi kimia hanya sempurna jika selain menuliskan persamaan keseimbangan dan harga energi, dituliskan juga keadaan reaktan dan produk (Dogra dan Dogra, 1990). Sampai sekarang, panas juga digunakan seperti dalam penentuan kuantitas eter, yang telah diperkenalkan sejak awal sebagai fungsi defisit yang meliputi perbedaan, dalam proses apapun, antara E dan -W. Sekarang telah terlengkapi konsep-konsep sebelumnya dengan memperkenalkan kedua perangkat unit dan metode untuk mengukur panas dan untuk pemantauan pemanasan. Metode yang baik untuk mengukur fluks panas adalah dengan menggunakan kalorimetri. Dasar termodinamika untuk prosedur ini berasal dari hukum pertama dari termodinamika tersebut. Dalam termodinamika konsep kimia di atas sangat besar penerapannya dalam mengukur kalor reaksi kimia. Salah satu prosedur yang banyak digunakan adalah melaksanakan langkah combusi yang sangat cepat dan adiabatik kalorimeter dalam pembuatan bom (Keenan, 1992). Seperti diterapkan untuk senyawa organik, kalorimetri pembakaran mencakup pemutusan lengkap kerangka karbon, bila senyawaan itu terbakar dalam oksigen. Metoda pembakaran mempunyai penerapan yang meluas dengan senyawa organik yang kurang reaktif terhadap regensia selain okigen, atau yang menghasilkan lebih dari satu produk organik dengan regensia lain (Keenan, dkk, 1992).

Molekul dan proses tingkat molekuler dari sistem baik yang hidup atau mati sering sangat kompleks. Energetika proses dapat dipelajari dengan cara yang menghindari komplikasi ini. Termodinamika memiliki sebuah tingkat terendah bagi molekul-tingkat kompleksitas dan bahkan untuk tingkat molekuler. Ini juga digambarkan oleh prosedur eksperimental yang digunakan untuk memperoleh data dasar tentang perubahan panas, atau lebih umum perubahan energi, yang menyertai reaksi. Perubahan entalpi pada saat sistem mengalami perubahan perubahan fisika atau kimia biasanya dilaporkan untuk proses yang terjadi pada sekumpulan kondisi standar (Barrow, 1997). Dalam termokimia, air dan karbon dioksida (CO2) merupakan proses yang dapat menjanjikan suatu solusi untuk menghadapi masalah energi di masa depan. Khususnya kemungkinan penggabungan tenaga surya ini yang akan membuat prosesprosesnya berkelanjutan dan yang menarik dari hal ini karena hanya dengan menggunakan air, tenaga surya dan karbon dioksida (CO2), energi surya yang berkonsentrasi dapat diubah menjadi bahan bakar storable dan mudah diangkut. Salah satu hambatan utama untuk keberhasilan teknologi identifikasi bahan aktif ini yang cocok menjadi katalis dan bahan redoks adalah ketahanan reaktivitasnya dan efisiensinya. Selain itu, bahan juga mempunyai peranan penting dalam komponen sebagai kunci pembangunan dan untuk implementasi di pabrik surya komersial. Air dan karbon dioksida (CO2) dalam termokimia masih dalam proses pengembangan lebih lanjut untuk potensi masa depan (Roeb, 2012).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu akuades, natrium hidroksida (NaOH) 1 M, asam klorida (HCl) 1 M, metil orange dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu alat kalorimeter sederhana, gelas kimia 250 mL, gelas ukur 100 mL, termometer 5 100 0C, pengaduk lingkar, stopwatch, statif, pipet tetes, pembakar, kaki tiga dan bahan isolasi (pecahan plastik).

3.3 Prosedur Percobaan Disusun alat kalorimeter adiabatik sederhana seperti gambar dibawah ini: Termometer

Gelas piala Pengaduk lingkar Gabus Gelas piala Bahan Isolasi 3.3.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter Dimasukkan 50 mL Akuades ke dalam kalorimeter, kemudian dicatat suhu ini (T1). Dipanaskan 50 mL akuades dengan menggunakan gelas kimia lain hingga mencapai suhu kurang lebih 50 C (T2) dan dijalankan stopwatch dan dengan cepat

dituangkan akuades panas ke dalam kalorimeter. Sambil diaduk perlahan-lahan dicatat suhu akuades dalam kalorimeter tiap setengah menit selama 5 menit. 3.3.2 Penentuan Kalor Penetralan Diukur suhu larutan HCl 1 M 50 mL dan larutan NaOH 1 M 50 mL pada suhu ruangan, lalu dimasukkan 50 mL larutan HCl ke dalam kalorimeter.

Ditambahkan 50 mL Larutan NaOH 1 M ke dalam kalorimeter, bersamaan dengan itu stopwatch dinyalakan. Diaduk larutan dalam kalorimeter secara perlahan-lahan dengan pengaduk lingkar dan dicatat suhunya setiap setengah menit selama 5 menit lalu ditambahkan indikator metil jingga untuk mengetahui bahwa penetralan terjadi dengan sempurna.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter T1 = 32,4 C = 305,4 K T2 = 50 C = 323 K V total = 100 ml

Tabel 1. Hasil pengamatan tetapan kalorimeter t (menit) 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 T (oC) 39 38,2 38 38 37,9 37,7 37,6 37,5 37,3 37,2 T (K) 312 311,2 311 311 310,9 310,7 310,6 310,5 310,3 310,2

4.1.2

Penentuan Kalor Penetralan T = 30,1 C = 303,1 K Vtotal = 100 ml

Tabel 2. Hasil pengamatan kalor penetralan t (menit) 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 T (oC) 35,5 35,5 35,4 35,4 35,3 35,3 35,2 35,2 35,1 35 T (K) 308,5 308,5 308,4 308,4 308,3 308,3 308,2 308,2 308,1 308

4.2. Grafik 4.2.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter

312.5 312 311.5

T (K)

311 310.5 310 309.5 309 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5

R = 0.8713 y = -0.32x + 311.72

t (menit)

4.2.2 Penentuan Kalor Penetralan

308.6 308.5 308.4

R = 0.964 y = -0.107x + 308.5

Suhu (K)

308.3 308.2 308.1 308 307.9 307.8 307.7 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6

t (menit)

4.3 Perhitungan 4.3.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter W = V x akuades x Keterangan : W V x

= Tetapan kalorimeter (J/K) = volume (mL)

akuades = massa jenis akuades (g/cm3) C H2O T1 T2 Ta = kapasitas kalor per gram (4,2 J/kg) = suhu akuades I (K) = suhu akuades II (K) = suhu termal (K)
a

W = V x akuades x

= 100 mL x 1 g/mL x 4,2 J/g K x

- ( -

= 420 J/K x 4,96


6,32 = 420 J/K x 0,7848 = 329,616 J/K 4.3.2 Penentuan kalor penetralan = - (4,2 J/g K x m
T

W) ( T) .

1000 VM

Keterangan:

= Kalor penetralan (J/mol) = massa larutan (g) = konsentrasi (M) = volume (mL) = suhu akhir (K) m W) ( T) x 1000 VM 1000 gr/mL 50 mL x 1 gr/mol

m M V
T

= - (4,2 J/g K

= -(4,2 J/gK x 100 g + 329,616 J/K)(308,59 K 303,1 K) x = -(749,616 J/K) (5,49 K) x 20 mol = - 82307,8368 J/mol = - 82,3078 kJ/mol

4.4 Pembahasan Berdasarkan percobaan kalor reaksi yang telah dilakukan, digunakan kalorimeter sederhana yang disekitarnya diberi bahan berupa potongan plastik berukuran kecil dan gabus. Plastik dan Gabus ini berfungsi sebagai isolator. Isolator berguna untuk memperlambat pertukaran kalor dari sistem ke lingkungan, karena

akan selalu ada pertukaran kalor dengan lingkungan, maka perlu diadakan koreksi terhadap kalor yang hilang. Penentuan tetapan kalorimeter dimulai dengan memasukkan akuades ke dalam kalorimeter dan dicatat suhunya, ini untuk mendapatkan suhu awal akuades dingin (T1), kemudian akuades dipanaskan hingga mencapai suhu 50 C untuk mendapatkan suhu akuades kedua (T2). Akuades panas dicampurkan kedalam kalorimeter dan diaduk. Pengadukan bertujuan untuk mencampurkan akuades panas dan akuades dingin agar keduanya homogen. Suhu akuades kemudian diukur setiap setengah menit selama 5 menit, hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi selama pencampuran. Dari hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa dalam kalorimeter telah terjadi pertukaran kalor dimana Suhu akuades panas akan turun dan suhu akuades dingin akan meningkat akibat adanya pelepasan kalor oleh akuades panas dan penyerapan kalor pada akuades dingin. Namun kalor yang diserap akuades dingin tidak sama dengan kalor yang dilepas akuades panas. Hal ini dikarenakan kalorimeter juga ikut menyerap panas yang dilepas oleh akuades panas. Akuades merupakan zat yang bersifar endoterm. Dibuat grafik pengamatan selang waktu vs temperatur, hal ini dilakukan untuk mengatahui harga penurunan akuades panas dan akuades dingin. Percobaan penetapan kalor penetralan digunakan larutan asam HCl 1 M dan larutan basa NaOH 1 M pada volume yang sama, hal ini bertujuan karena reaksi penetralan dapat kita peroleh apabila volume dan konsentrasi dibuat sama sehingga menghasilkan garam netral bukanlah garam yang bersifat asam maupun bersifat basa. Setelah suhu kedua larutan sama, larutan asam dimasukkan ke dalam kalorimeter kemudian dilanjutkan dengan laurtan basa, Reaksi yang terjadi adalah reaksi netralisasi asam kuat oleh basa. Kemudian pencatatan suhu ini berlangsung setiap 30 detik selama 5 menit agar dapat diketahui perubahan kalor selama

pencampuran. Kemudian ditambahkan indikator metil jingga, fungsi penambahan indikator metil jingga mengetahui apakah reaksi penetralan tersebut telah sempurna atau tidak, apabila larutan bersifat asam maka akan berwarna merah sedangkan apabila bersifat basa maka akan berwarna orange dan apabila bersifat netral maka warna larutan tersebut akan memiliki warna diantara keduanya yaitu warna kuning. Dari percobaan diperoleh tetapan kalorimeter (W) sebesar +329,616 J/K. Tanda positif menunjukkan bahwa terjadi reaksi endoterm, zat tersebut menyerapa kalor sebesar 329,616 J/K. Nilai kalor penetralan (
T)

dari hasil percobaan sebesar

-82,3078 kJ/mol, sedangkan nilai kalor penetralan berdasarkan teori adalah -57 kJ/mol. Adanya perbedaan nilai ini disebabkan karena adanya bebrapa kesalahan dalam percobaan, diantaranya karena faktor pengadukan yang tidak merata, kesalahan dalam pembacaan skala termometer pada saat mengukur suhu, dan

penempatan bahan isolasi (plastik) yang kurang rapat sehingga ada kalor yang terlepas.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa nilai tetapan kalorimeter adalah 329,616 J/K dan nilai kalor penetralan HCl 1 M dan NaOH 1 M adalah - 82,3078 kJ/mol.

5.2 Saran Saran untuk laboratorium sebaiknya alat- alat yang digunakan sebaiknya yang masih baik, dan bahan-bahannya juga diperbaharui agar tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran. Serta sebelum praktikum sebaiknya bahan-bahan yang akan digunakan dilengkapi. Saran untuk praktikum diharapkan terdapat bahan lain sebagai pembanding pada percobaan kalor penetralan. Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktikan saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Barrow, G. M., 1997, Physical Chemistry fot the Life Sciences, International Student Edition, London Bird, T., 1993, Kimia Fisika untuk Universitas, diterjemahkan oleh Kwee Ie Tjien, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Dogra, S.K., dan Dogra, S., 2009, Kimia Fisik dan Soal-Soal, Diterjemahkan oleh Umar Mansyur, UI-Press, Jakarta. Honig, J.M., 1982, Thermodynamis Principles Cheracterizing Physical Processes, Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam-Oxford-New York . Keenan, C.W., Kleinfelter, D.C., dan Wood, J.H., 1992, Ilmu Kimia untuk Universitas, Erlangga, Jakarta. Roeb, M., Neises M., Monnerie N., Call F., Simon H., Sattler C., Schmucker M., dan Paal R. P., 2012, Materials-Related Aspects of Thermochemical Water and Carbon Dioxide Splitting, A Review, 5 (2); 2015-2054.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 7 Maret 2013 Asisten Praktikan

ALFANI MARING DATU NIM : H3 11 09 290

JEANE MELYANTI MATUTU NIM : H3 11 11 277

Lampiran 1 Bagan 1 : Penentuan Tetapan Kalorimeter

50 mL air

50 mL air

- Dimasukkan kedalam kalorimeter - Dibiarkan hingga suhu mencapai kesetimbangan thermal - Dicatat suhunya (T1)

- Dipanaskan 500C - Dicatat suhunya (T2) - Dimasukkan kedalam kalorimeter

Kalorimeter

- Diaduk perlahan - Diukur suhunya setiap 1/2 menit selama 5 menit

Hasil

Bagan 2 : Penentuan Kalor Penetralan

200 mL NaOH 1M

200 mL HCl 1M MAJAJQIKM MAKAM - Dibiarkan beberapa waktu pada suhu kamar sampai kedua larutan ini mencapai suhu yang sama (suhunya dicatat, T) - Larutan asam dimasukkan kedalam kalorimeter - Larutan basa dituangkan kedalam larutan asam - Kalorimeter ditutup dan suhu campuran reaksi setiap setengah menit selama 5 menit dicatat - Ditambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator metil jingga Data

Lampiran 2 Rangkaian alat kalorimeter

Hasil Pengamatan