Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN BBDM THT II

Wanita 73 Tahun dengan Otitis Media Supuratif Kronik Sinistra dan Rhinosinusitis Akut
Disusun oleh : Yenny Kartika G. 22010112210115 Yanuarizka Buenito 22010112210118 Winda Agustina 22010112210120 Vitricya Purnamasari 22010112210121 Eriel Sandika 22010112210157

Penguji : dr. Dian Ayu Ruspita, Sp. THT-KL, M.Si.Med

Faktor

risiko terjadinya OMSK Dasar diagnosis OMSK Tatalaksana OMSK Komplikasi OMSK Dasar diagnosis rhinosinusitis akut

a. Lingkungan Anak-anak yang tinggal di dalam rumah yang penuh sesak dan didalamnya terpapar dengan anak lain yang terinfeksi, dipercaya meningkatkan insidensi OMSK (Kenna dan Latz, 2006).
b. Sosial ekonomi Faktor sosial ekonomi mempengaruhi kejadian OMSK dimana kelompok social ekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan secara umum termasuk status imunisasi, diet dan tempat tinggal yang padat juga memengaruhi kejadian OMSK. (Browning, 1997; Akinpelu et al, 2008).

c. Gangguan fungsi tuba Pada otitis kronis aktif, tuba Eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum diketahui (Browning, 1997).
d. Otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis (Browning, 1997). Homoe et al (1999) mendapatkan 35% anak-anak dengan OMSK didahului dengan otitis media akut yang berulang sedangkan Lasisi et al (2008) mendapatkan 70% OMSK dengan onset otitis media sebelumnya pada usia yang lebih dini.

e. Infeksi saluran pernafasan atas Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri (Browning, 1997). f. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah baik aerob ataupun anaerob menunjukkan organisme yang multipel. Organisme yang terutama dijumpai adalah gram negatif, bowel-type flora dan beberapa organisme lainnya (Browning, 1997). Nursiah di Medan (2000) mendapatkan jenis kuman aerob terbanyak adalah S. aureus (36,1%), diikuti E. coli (27,7%), Proteus sp (19,4%), S. albus (5,6%), S. viridan (5,6%), Klebsiella sp (2,8%) dan P. aeroginosa (2,8%). Park (2008) memeriksa 1.360 pasien OMSK dan mendapatkan 54% merupakan kuman staphylococcus. Yeo et al melakukan studi retrospektif pada 1102 pasien dengan OMSK dari 6 RS di Korea sejak Januari 2001 hingga Desember 2005, hasilnya bakteri pathogen yang paling banyak adalah pseudomonas (Yeo et al, 2007).

g. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder (Browning, 1997). Penelitian pada pasangan kembar, kembar monozygot memiliki riwayat otitis media yang lebih besar dibandingkan kembar dizygot, yang kemungkinan oleh karena komponen genetik yang lebih kuat. Faktor genetik pada otitis media bersifat komplek dengan kontribusi dari banyak gen (Rovers et al, 2004).
h. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap otitis media kronis (Browning, 1997). Akinpelu et al (2008) dari 160 pasien OMSK, 2,5% dengan penyakit imunodefisiensi, sedangkan Weber et al (2006) meneliti 459 anak dengan HIV terdapat 14,2% yang menderita OMSK.

i. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi (Browning, 1997). Susilo (2010) di Medan memeriksa 54 objek dan mendapatkan reaksi alergi pada penderita OMSK tubotimpanal lebih besar dibandingkan dengan reaksi alergi pada penderita non OMSK yaitu sebesar 741% pada kelompok penderita OMSK tipe tubotimpanal dan 407% pada kelompok non OMSK.

Anamnesis Keluar cairan dari telinga (sekret encer, bening ataupumukopurulen) lebih dari 2 bulan Telinga gemrebeg Telinga terasa penuh Kurang pendengaran
Pemeriksaan Fisik Sekret di liang telinga Warna membrana timpani suram Reflex cahaya membrana timpani menurun Perforasi membrana timpani Pemeriksaan Penunjang Kultur sekret

Tipe benigna: konservatif atau medikamentosa Apabila sekret keluar terus menerus diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O 2 3 % selama 3-5 hari,. Setelah cairan berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan mengg unakan anttibiotik dan kortikosteroid. Terapi antibiotik tetes telinga yang dapat digunak an adalah ofloksasin. Penggunaan oflokasasin (Tarivid) 6-10 tetes, 2 kali sehari, dapat dii berikan selama 10-14 hari. Cara pemberian: 6-10 tetes, dibiarkan selama 10 menit. Secara oral dapat diberikan antibiotik oral dari golonga ampisilin atau eritromisin, sebel um dilakukan tes resistensi. pada infeksi yang dicurigai telah mengalami resistensi terha dapp golongan ampisilin, dapat diberikan ampisilin + asam klavulanat. Apabila sekret telah kering, teapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan , maka idealnya dapat dilakukan miringoplasti atau ttimpanoplasti. Operasi ini bertujua n untuk menghentikan infeks secara permanen, memperbaiki membran timpani yang per forasi, mencegah terjadinya komplikasi, atau kerusakan pendengaran yang lebih berat. Apabila terdapat siumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya in feksi berulang, maka sumber infeksi tersebut harus ditangani terlebih dahulu, munngkin juga diperlukan pembedahan, misalnya adenoidektomi atau tonsilektomi.

Tipe

maligna : pembedahan, yaitu mastoidektomi Terapi yang digunakan untuk OMSK tipe maligna adalah masto idektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. -Terapi medikame ntosa dapat diberikan untuk terapi sementarra sebeleum dila kukan pembedahan.

Komplikasi di telinga tengah: Perforasi membran timpani peresisten Erosi tulang pendengaran Paralisis nervus fasialis Komplikasi di telinga dalam Fistula labirin Labirintis supuratif Tuli saraf (sensorikneural) Komplikasi ekstradural Abses ekstradural Trombosis sinus lateralis Petrositis Komplikasi ke susunan saraf pusat Meningitis Abses otak Hidrosefalus otitis

-Anamnesis: Pilek biasa yang tak sembuh-sembuh Ingus kental Suara sengau/nasolalia Sakit kepala Batuk, terutama pada anak Foetor ex nasi -Pemeriksaan fisik: Nyeri ketok daerah pipi/dahi (akut, subakut) -Rhinoskopi anterior: Mukosa hidung edem, hiperemis Sekret mukopurulen kental Warna kuning-kehijauan di cavum nasi dan meatus medius -Pemeriksaan faring: Drainase post nasal -Pemeriksaan penunjang X-foto sinus paranasal Pungsi sinus CT scan

Kriteria Saphiro & Rachelefsky 1992 Mayor: rhinorrhea purulen, drainase post nasal, batuk Minor: demam, nyeri kepala dan sinus, foetor Sinusitis: 2 mayor; 1 mayor + 2/lebih minor
Kriteria Task Force AAOA dan ARS (1997) Gejala Mayor: sakit pada muka (pipi, dahi, hidung), buntu hidung, ingus purulent, gangguan penciuman, Pemeriksaan hidung: ingus purulent Gejala Minor: batuk, demam (akut), nyeri kepala, nyeri graham, haliotis, tenggorok berlendir Sinusitis: 2 mayor/lebih, 1 mayor + 2 minor Kriteria EPOS 2012

Hidung buntu, kongesti Nasal discharge, post nasal drip. Mukopurulen


Nyeri fasial, nyeri kepala Penurunan/hilangnya kemampuan menghidu