Anda di halaman 1dari 4

Cara Buat Klinik

Mungkin anda pernah mendengar Kalimat seperti ini. Dokter itu Pekerjaan Mulia. Pedagang itu Pekerjaan Mulia. Tapi Menjadi dokter sekaligus pedagang itu tidak baik. Menurut saya, kalimat itu tidak adil bagi seorang dokter. Seakan-akan dokter itu selalu mencari keuntungan di balik penyakit orang lain. Seakan-akan seorang dokter selalu akan memberikan obat-obat yang mahal kepada pasien-pasien, tidak memandang status ekonomi pasien. Anda merasa sebagai dokter seperti itu? Kalau saya sih tidak mau disebut seperti itu. Ya, mungkin memang ada satu-dua dokter yang mata duitan. Ini juga tidak boleh dilihat sebagai hitam-putih. Untuk menjadi seorang dokter, apalagi di zaman sekarang, membutuhkan uang yang sangat banyak. Bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dalam batas tertentu, bisa dimaklumi kalau ada dokter yang niatnya memang mencari uang untuk mengganti investasi yang telah mereka habiskan di bangku kuliah. Tapi hanya sebagian kecil dokter yang seperti itu. Kebanyakan dokter adalah sosok yang punya hati nurani, yang bisa menempatkan situasi dan menangani pasien sesuai dengan kondisi ekonomi pasien tersebut. Kembali ke TOPIK (versi tukul) Judul di atas sengaja ditambahkan kata Belajar. Hal ini karena tidak semua orang bisa membuat klinik sendiri. Bermacam alasannya, mulai dari jiwa entrepreneurship yang masih rendah, belum punya modal yang cukup, masih sekolah, ataupun masih sibuk bekerja di manapun posisi kerja sekarang. Tidak semua orang sanggup bikin klinik. Tapi saya yakin semua orang BISA BELAJAR untuk bikin klinik. Saya juga membuat tulisan ini untuk belajar bagaimana sih cara bikin klinik/balai pengobatan.

Mengapa sih harus membangun usaha? Toh kita adalah seorang dokter yang mudah mencari pekerjaan. Lapangan pekerjaan dokter masih luas. Apalagi kalau kita sudah melanjutkan sekolah ke program spesialisasi. Banyak rumah sakit sudah menunggu untuk menampung kita. Jawaban dari pertanyaan ini kembali lagi ke mindset entrepreneurship di kepala masing-masing teman sejawat. Dalam hidup ini, setiap orang membutuhkan aset. Aset adalah sesuatu yang sudah ditinggalkan tapi menghasilkan nilai yang rutin setiap kurun waktu tertentu. Contohnya seperti deposito. Anda punya deposito 400 juta di bank, maka tiap bulan dengan bunga bank sekitar 6 persen maka deposito itu akan menghasilkan sekitar 2 juta per bulan. Anda sudah meninggalkannya tapi tetap menghasilkan, bukan? Mengapa sih aset itu penting sekali? Saya bukan ahli ekonomi, tapi saya senang membaca bukubuku entrepreneurship. Kalau anda ingin menjadi orang Kaya, anda harus punya aset. Kaya itu tidak berkaitan dengan seberapa banyak uang yang anda miliki. Walaupun anda punya uang ratusan milyar, belum tentu anda bisa disebut Kaya. Kaya itu adalah suatu keadaan dimana anda memiliki aset yang bekerja untuk anda dan mampu memenuhi kebutuhan rutin anda. Jadi kalau anda punya kebutuhan rutin Dua juta rupiah setiap bulan, dan anda sudah punya usaha yang menghasilkan minimal 2 juta sebulan, maka anda sudah bisa dikatakan Kaya. Tapi ingatlah ini penghasilan dari ASET. Saya tahu banyak para dokter yang sudah bekerja di rumah sakit, klinik atau dimana saja yang sudah menghasilkan jutaan bahkan puluhan juta per bulan. Tapi saya yakin, sangat sedikit dokter yang sudah memiliki aset yang sudah menghasilkan minimal dua juta perbulan. Klinik atau balai Pengobatan adalah salah satu usaha yang patut dilirik oleh seorang dokter. Usaha ini relatif bermodal kecil dengan syarat-syarat yang relatif mudah dibandingkan usaha Rumah Sakit yang membutuhkan modal milyaran rupiah. Berikut adalah beberapa persyaratan yang saya kutip dari tulisan MAULANA ADRIAN S,dr.SPT, FOUNDER KLINIKITA GROUP, PT.DOKTER MOEZ INDONESIA

10 TAHAPAN CARA BUAT KLINIK


1. PILIH LOKASI & BANGUNAN 2. CEK DOKUMEN TANAH &BANGUNAN LOKASI KE DTK/GS/KRK KAWASAN APA,IJIN LENGKAP,DLL? 3. CEK KOMPETISI & PELUANG PASAR 4. PENUHI SYARAT IJIN PELENGKAP (KRK,IMB,HO) 5. PENUHI SYARAT IJIN SDM (SIP, SIK ) 6. RENOVASI PERLENGKAPAN IJIN KLINIK 7. PENGAJUAN IJIN KLINIK BPPT PEMKOT SMG 8. SURVEI LAPANGAN OLEH TIM PERIJINAN

9. IJIN KELUAR 10. OPERASIONAL Syarat-syarat Pengajuan Izin Klinik 1. SuratPermohonan 2. FC Aktenotaris(bilaPemohonBadanhukum) danFC KTP (bilaperorangan) 3. FC IjinGangguan(HO ) 4. FC status bangunandantanah 5. Gambardenahsituasi/ denahlokasi 6. Gambardenahtindakan(termasukruangtindakan) 7. Daftarketenagaan 8. Suratpenunjukandankesanggupan(semuaTenaga) 9. DaftarperalatanMedisdannon medis 10. Daftar tarif 11. Surat Pernyataan tunduk peraturan yang berlaku bermaterai Rp.6.000,12. Rekomendasi Puskesmas setempat 13. Surat pernyataan mampu membina peran serta masyarakat setempat dalam pembangunan kesehatan di lingkungannya. 14. FC Kerjasama pengelolaan limbah medis 15. Surat Pernyataan IPAL 16. Data Dokter penanggung jawab 17. DaftarRiwayat hidup dokter penanggung jawab 18. FC ijasah STR,SIP semua dokter 19. Surat Ijin atasan langsung jika penanggung jawab PNS 20. Data tenaga paramedic dan tenaga lainnya 21. FC ijasah SIK,SIA 22. FC ijin lama (bilaperpanjangan) 23. Foto 4X6 sebanyak2 lembar

SYARAT IJIN HO 1. Mengisi formulir permohonan Ijin Gangguan (HO) ditandatangani pemohon dan diketahui Lurah dan Camat sesuai lokasi tempat usaha. 2. Surat Persetujuan Tetangga diketahui Lurah setempat 3. Fotocopy KTP pemohon dan/ atauPemilikTanah. 4. Fotocopy Keterangan Rencana Kota (KRK). 5. Fotocopy SK IMB dengan menunjukkan aslinya (lengkap dengan Gambar IMBnya) 6. Fotocopy surat-surat penguasaan tanah yang sah. 7. Bila tanah bukan miliknya sendiri dilampiri surat pernyataan tidak keberatan dari pemilik dari pemilik tanah dan ditandatangani di atas meterai cukup. 8. Bila pemohon merupakan badan hukum dilampiri fotocopy Akte Pendirian Badan Hukum 9. Fotocopy Pelunasan PBB tahun terakhir atau Keterangan dari Instansi yang berwenang apabila tidak terkena PBB. 10. Gambar Denah Tempat Usaha skala 10 : 100/ 10 : 200. 11. Surat Pernyataan Kesanggupan mentaati peraturan/ ketentuan yang telah ditetapkan dan ditandatangani di atas materai cukup. 12. Dokumen lain yang disyaratkan sesuai ketentuan yang berlaku Makassar, 4 November 2011 Dr.Amrizal Muchtar