Anda di halaman 1dari 30

Filum Platyhelminthes

1. Ciri Umum a. Pengertian Platyhelminthes berasal dari Bahasa Yunani, dari kata Platy = pipih dan helminthes = cacing. Jadi berarti cacing bertubuh pipih.Tubuh pipih dorsoventral tidak berbuku-buku, simetri bilateral, serta dapat dibedakan antara ujung anterior dan posterior. Lapisan tubuh tersusun dari 3 lapis (triploblastik aselomata) yaitu ektoderm yang akan berkembang menjadi kulit, mesoderm yang akan berkembang menjadi otot otot dan beberapa organ tubuh dan endoderm yang akan berkembang menjadi alat pencernaan makanan. Filum Platyhelminthes terdiri dari sekitar 13,000 species, terbagi menjadi tiga kelas; dua yang bersifat parasit dan satu hidup bebas. Planaria dan kerabatnya dikelompokkan sebagai kelas Turbellaria. Cacing kait adalah parasit eksternal atau internal dari Kelas Trematoda. Cacing pita adalah parasit internal dari kelas Cestoda.. b. Struktur Tubuh Semua anggota filum ini berbentuk simetri bilateral dan memiliki bagian kepala. Sudah memiliki tiga lapisan tubuh; ektoderm, mesoderm dan endoderm. Tipe rongga tubuhnya termasuk acoelomata berbetuk kantung dengan satu lubang. Lapisan mesoderm memunculkan otot dam organ perkembangbiakan. Hewan dewasa yang hidup bebas telah memiliki otot, serabut saraf dan organ pencernaan tapi belum memiliki alat pernafasan dan sistem peredaran darah.

Cacing pipih seperti planaria memiliki percabangan rongga gastrovascular sebagai tempat pencernaan ekstraseluler juga sebagai tempat mendistribusikan sari makanan ke seluruh bagian tubuh. Pertukaran gas melalui difusi lewat kulit. Platyhelminthes telah memiliki sistem pengeluaran yang juga berfungsi sebagai sistem osmo-regulasi. Cacing pipih memiliki sistem saraf tangga-tali yang tersusun dari pasangan-pasangan ganglion yang membentuk otak dihunungkan lewat sel-sel saraf menuju sel-sel sensori di lapisan tubuh Filum Platyhelminthes yang parasit seperti cacing kait dan cacing pita dicirikan dengan modifikasi berikut; ~ hilangnya bagian kepala membentuk bantalan kepala berkait dan berpenghisap untuk melekatkan diri pada inang. ~ Perkembangan ekstensif dari sistem reproduksi bertepatan dengan hilangnya sistem-sistem lain. ~ Hilangnya gastrovaskular perkembangan sistem yang saraf dan baik

~ Mengembangkan sistem kulit yang melindungi mereka dari cairan pencernaan inang. 2. Klasifikasi

Filum Platyhelminthes ini dibagi menjadi tiga kelas yaitu Turbelaria, Trematoda, dan Cestoda. a. Turbellaria Kelas Turbellaria termasuk planaria air tawar seperti Dugesia yang memberi makan organism kecil atau tetap sebagai makhluk kecil. Kepala planaria berbentuk ujung panah, dengan tambahan sisinya sebagai pengindera makanan atau keberadaan organism lain. Cacing pipih mempunyai dua bintik mata yang peka cahaya, memiliki pigmen sehingga Nampak seperti mata bersilangan. Adanya tiga lapisan otot membuatnya dapat melakukan berbagai gerak. Sel kelenjar mengeluarkan material lendir untuk hewan ini dapat meluncur. Memiliki sel api sebagai sistem ekskresi yang terdiri dari serangkaian kana-kanal yang saling berhubungan di sepanjang kedua sisi longitudinal tubuhnya. Sel api adalah sel berbentuk gelembung berisi seberkas silia dan terdapat lubang di bagian tengah gelembung itu. Sel api ini berfungsi baik untuk ekskresi maupun pengaturan osmosis. Planaria bereproduksi secara aseksual dengan fragmentasi tubuh yang mampu menumbuhkan individu baru, maupun seksual bersifat hermaphrodit. b. Trematoda Kelas Trematoda termasuk cacing kait (flukes) baik dalam darah, hati maupun paru-paru.

Cacing kait tidak memiliki kepala, namun memiliki mulut penghisap. Sistem pencernaan, sistem saraf dan sistem pembuangan yang kurang tapi sistem reproduksinya berkembang baik walau hermaphrodit.

c. Cestoda Kelas Cestoda terdiri dari cacing pita. Bagian scolex memiliki pangait dan pengisap yang memungkinkannya

menempel pada dinding usus inang. Di bawah skolex terdapat leher yang pendek dan tali panjang proglottid, dimana setiap proglottid berisi satu set penuh organ kelamin jantan dan betina dan stuktur lainnya.

Seteleh terjadi pembuahan, proglottid menjadi sekantung telur masak, lalu putus dan keluar bersama feses. Jika telur ini tertelan oleh babi atau sapi, larvanya menjadi sistiserkus di dalam otot inang. Jika manusia memakan daging babi atau sapi yang terinfeksi yang tidak dimasak sempurna, maka manusia akan terinfeksi cacung ini.

3. Peranan Peranan Platyhelminthes dalam kehidupan : a. Planaria menjadi salah satu makanan bagi organism lain. b. Cacing hati maupun cacing pita merupakan parasit pada manusia

Platyhelminthes berasal dari bahasa yunani, Platy = Pipih dan Helminthes = cacing. Oleh sebab itulah Filum platyhelminthes sering disebut Cacing Pipih. Platyhelminthes adalah filum ketiga dari kingdom animalia setelah porifera dan coelenterata. Platyhelminthes adalah hewan triploblastik yang paling sederhana. Cacing ini bisa hidup bebas dan bisa hidup parasit. Yang merugikan adalah platyhelminthes yang hidup dengan cara parasit. Ciri Tubuh Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita. Struktur dan Fungsi Tubuh Platyhelminthes merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma. Namun, mesoderma cacing ini tidak mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam dan tidak membentuk sel khusus. Sistem Pencernaan Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan dilanjutkan ke kerongkongan. Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang memiliki cabang ke seluruh tubuh. Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh. Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus. Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi. Sistem Syaraf

Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih: Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor), dan sel asosiasi (perantara). Indera Beberapa jenis cacing pipih memiliki sistem penginderaan berupa oseli, yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya. Bintik mata tersebut biasanya berjumlah sepasang dan terdapat di bagian anterior (kepala). Seluruh cacing pipih memiliki indra meraba dan sel kemoresptor di seluruh tubuhnya. Beberapa spesies juga memiliki indra tambahan berupa aurikula (telinga), statosista (pegatur keseimbangan), dan reoreseptor (organ untuk mengetahui arah aliran sungai). Umumnya, cacing pipih memiliki sistem osmoregulasi yang disebut protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran berpembeluh yang berakhir di sel api. Lubang pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang berjumlah sepasang atau lebih. Sedangkan, sisa metabolisme tubuhnya dikeluarkan secara difusi melalui dinding sel. Reproduksi Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi seksual akan menghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh (internal). Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain. Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes. Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi aseksual dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenerasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru. Cara Hidup dan Habitat

Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit. Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti sisa organisme. Platyhelminthes parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Habitat Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan tempat-tempat yang lembap. Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia. Klasifikasi Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria (cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap),Monogenea, dan Cestoda (cacing pita).

Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria. Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma. Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T. saginataSpesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer. - See more at: http://teksbiologi.blogspot.com/2013/02/klasifikasi-dan-ciriciri.html#sthash.CgGJmT7g.dpuf http://www.adipedia.com

Platyhelminthes dalam bahasa yunani, platy = pipih, helminthes = cacing atau cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sedah lebih maju dibandingkan porifera dan Coelenterata.Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), yaitu ekstoderm, mesoderm, dan endoderm. Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan aselomata.Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus). Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.[1]

Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti sisa organisme. Platyhelminthes parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Maka dari itu sangatlah penting kita untuk mengetahui tentang siklus hidup dan habitat dari platyhelminthes.

B. Tujuan 1. Mengamati larva larva trematoda pada stadium cercaria dan redia 2. Melaporkan gerakan gerakan ataupun morfologinya C. Manfaat Adapun manfaat yang dapat di ambil dari praktikum ini adalah kita dapat menganalisis larva larva trematoda dan mengetahui pergerakannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Platyhelminthes adalah sekelompok orgnisme yang tubuhnya pipih, bersifat tripoblastik, tidak berselom. Pada umumnya spesies dari platyhelminthes adalah parasit pada hewan. Ektoderm adalah tipis yang dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari cairan hospes. Sistem ekskresi hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan keluar tidak memiliki

sistem sirkulasi, maka bahan makanan itu di edarkan oleh pencernaan itu sendiri. Alat reproduksi jantan dan betina terdapat pada tiap tiap hewan dewasa. Alat jantan terdiri atas sepasang testis, dua pembuluh vasa deferensia, kantung vesiculum seminalis, saluran ejakulasiyang berakhir pada alat kopulasi dan penis.[2] Platyhelminthes dapat dibagi atas beberapa kelas yaitu kelas tubellari, contoh organisme dari kelas ini adalah planaria yang hidup di air tawar , bipalium dan geoplana yang hidup pada tanah,berikutnya kelas trematoda, merupakan hewan yang parasit, tidak mempunyai mata kecuali pada larvanya, tidak bercilia kecuali pada larvanya, mempunyai kutikula mulut disebelah anterior, farinks tidak berotot, tidak ada anus usus berbentuk garpu, mempunyai pengisap, hermaprodit, mempunyai kelenjar kuning. Contoh : Fasiola hepatica. Selanjutnya kelas cestoda, merupakan hewan hermaprodit, tidak mempunyai alat pencernaan makanan, merupakan endoparasit pada hewan vetebrata, Mempunyai saraf pada bagian kedua sisi tubuhnya yang berhubungan dengan kepala. Mempunyai saluran ekskresi yang diperlengkapi dengan protonefrida. Tiap progtida mengandung organ organ alat jantan dan betina yang lengkap. Telur telurnya di kumpulkan pada uterus.[3] Tubuhnya tertutup epidermis dan di bagian ventral mengandung cilia yang berfungsi untuk merayap. Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel kelenjar dan batang batang kecil yang disebut rhabdoid. Sel kelenjar menghasilkan lender untuk melekat, membungkus mangsa, dan sebagai jejak lender pada waktu merayap. Sel kelenjar acap kali juga terdapat di dalam mesenkhim (parenkim),

dan mempunyai saluran kecil menembus epidermis. Di bawah epidermis terdapat serabut serabut otot melingkar, longitudinal, diagonal, dan dorso ventral.[4] Sistem pencernaan pada pltyhelminthes belum sempurna, cacing ini telah memiliki mulut tapi tidak memiliki anus, hewan ini memiliki rongga gastrovaskuler yang merupakan saluran pencernaan yang bercabang cabang yang berperan sebagai usus. Sistem saraf memiliki dua ganglion pada ujung ventral tubuh. Pada ujung ventral tubuh keluar satu pasang saraf longitudinal menuju ke bagian tubuh posterior.[5]

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut : Waktu Tempat : Pukul 13.00 15.00 : Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

B. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, deck glass, cawan petri, pipet dan pinset.

2. Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah siput diambil dari sawah atau kolam.

C. Prosedur Kerja 1. Pengamatan Larva Trematoda a. Siput diletakkan pada cawan petri yang berisi air suling sebanyak sepertiga

b. Cangkang siput dipecahkan dengann pinset, kemudian cawan digoyangkan untuk melepaskan larva c. Amati larva redia ataupun ceraria. Kedua larva ini dapat di bedakan dari pergerakannya serta anatominya. Jika suatu siput mengandung redia maka umumnya akan juga ditemukan larva cercaria dalam bentuk yang berbeda beda. Larva redia dilihat berupa titik titik putih yang bergerak cepat d. Jika pergerakan larva cepat sehingga sulit di amati, sebaiknya dilakukan pematian dengan menggunakan larutan formalin + gliserol e. Gambar dan tuliskan klasifikasinya.

2. Pengamatan Fasiola Hepatica a. F. Hepatica dapat diperoleh pada tempat tempat pemotongan sapi, kerbau atau kambing pada bagian hati atau saluran empedu. Cacing yang di peroleh dapat di simpan semeentara pada larutan Nacl fisiologis.

b.

Amati dengan menggunakan mikroskop atau jika mungkin dengan lup. Pengamatan anatomi harus digunakan preparat awetan yang sudah diwarnai dan dijernihkan.

c.

Gambarlah pada posisi sebelah menyebelah dari cacing tersebut.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Fasciola hepatica Keterangan gambar : 1 . mulut 2. saraf cincin 3. saluran elementer 4. uterus 5. vas deferens 6. testis anterior 7. kelenjar kuning telur 8. faring 9. penis 10. kantung seminal 11. saraf longitudinal 12. ovarium 13. kelenjar kulit

B. Pembahasan

a. Morfologi Morfologi Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).Pada cacing betina, p sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi. Hati Fasciola juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit dalam memotong empedu. b. Anatomi Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat bergerak. c. Habitat Fasciola hepatica parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Fasciola hepatica yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia.

d. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari Fasciola hepatica adalah sebagai berikut :

Kingdom Phylum Class Ordo Genus Spesies

: Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Echinostomida : Fasciola : Fasciola Hepatica

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. larva tremtoda yang dapat kami amati adalah fasciola hepatica. 2. fasicola hepatica,pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).Pada cacing betina, sepertiga depan

terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi. Hati Fasciola juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit.

B. Saran Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih memperhatikan kondisi bahan. Agar organisme yang diamati lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Hala,Yusminah. Daras Biologi Umum II. Makassar: Alauddin Press. 2007. Oman Karmana. Cerdas Biologi. Bandun : Grafindo Media Pratama .2006. Schistosoma.http://febrianfn.wordpress.com ( 21 Juni 2011 ). Suwignyo,Sugiarto. Avetebrata Air Jilid 1. Jakarta : Penebar Swadaya. 2005. Tim Dosen. Penuntun Praktikum Zoologi Invetebrata. Makassar: Uin Alauddin Makassar.2011.

Platyhelminthes dalam bahasa yunani, platy = pipih, helminthes = cacing atau cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sedah lebih maju dibandingkan porifera dan Coelenterata.Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), yaitu ekstoderm, mesoderm, dan endoderm.

Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan aselomata.Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus). Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.1[1] Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti sisa organisme. Platyhelminthes parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Maka dari itu sangatlah penting kita untuk mengetahui tentang siklus hidup dan habitat dari platyhelminthes.2[2] Dengan melihat jumlah invertebrata begitu banyak khususnya filum poirifera belum kita ketahui baik itu dalam hal bentuk, jenis mamfaat, maupun kerugian serta tempat tempat di mana ia terdapat, maka perlu diadakan praktikum ini. B. Tujuan Percobaan Adapun beberapa tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu : 1. Untuk mengamati larva-larva trematoda pada stadium cercaria dan redia. 2. Untuk melaporkan gerakan-gerakan ataupun morfologinya.

C. Manfaat Percobaan Adapun manfaat dilakukannya percobaan ini yaitu agar dapar mengetahui larva-larva trematoda pada stadium cercaria dan redia serta agar dapat melaporkan gerakan-gerakan ataupun morfologinya.

1[1]Rudi, 2012, Laporan Praktium Zoologi Plastyhelminthes, Blog Rudi. http://rudibiologi.blogspot.com/2012/03/laporan-prtikum-zoologiplathelminthes.html (20 Mei 2012).
2[2]Platyhelminthes, Wikipedia Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/ (22 Mei 2012).

3[3]Adun Rusyana, Zoologi Invertebrata (Bandung: ALFABETA, 2011), h. 53. 4[4]Maskoeri Jasin, Zoologi Invetebrata, (Surabaya: Sinar Wijaya, 1992), h. 131.
5[5]Rudi, 2012. Laporan Praktikum Zoologi Platyhelminthes, Blog Rudi. http://rudibiologi.blogspot.com/2012/03/laporan-prtikum-zoologi-plathelminthes.html (22 Mei 2012).

BAB III METODELOGI PERCOBAAN A. Waktu dan Tempat Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini yaitu : Hari/tanggal Pukul Tempat : Senin/ 28 Mei 2012 : 13.00-15.00 wita : Laboratorium Zoologi Lantai II Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Samata Gowa

B. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang akan digunakan pada percobaan ini yaitu cawan petri, mikroskop stereo dan biasa, dan pinset/pipet. 2. Bahan Adapun bahan yang akan digunakan pada percobaan ini yaitu air suling, larutan formalin 4% + gliserol 5% perbandingan 4 : 1, dan siput (Limnea sp) yang diambil dari sawah atau kolam.

C. Prosedur Kerja 1. Pengamatan larva Trematoda a. b. Meletakkan siput pada cawan petri yang berisi air suling sebanyak sepertiganya. Memecahkan cangkang siput dengan pinset, kemudian menggoyangkan cawan untuk melepaskan siput. c. Mengamati larva redia ataupun cercaria. Membedakan kedua larva dari pergerakannya serta anatominya. Jika suatu siput mengandung larva redia, maka pada umunya akan juga menemukan larva cercaria dalam bentuk yang berbedabeda. Melihat larva redia berupa titik-titik putih yang bergerak cepat (menggunakan mikroskop stereo jika sulit mengamati), sebaliknya larva cercaria bentuknya lebih besar, panjang dan gerakannya sangat lambat. Mengambil larvalarva tersebut dan menempatkan pada objek gelas untuk mengamati pada mikroskop biasa.

d.

Jika pergerakan larva cepat sehingga sulit mengamati, sebaiknya melakukan pengamatan dengan menggunakan larutan formalin + gliserol.

e.

Menggambar dan menuliskan klasifikasinya.

2. Pengamatan Fasciola hepatica a. Memperoleh Fasciola hepatica pada tempat-tempat pemotongan sapi, kerbau atau kambing pada bagian hati atau saluran empedu. Cacing yang diperoleh dapat disimpan sementara pada larutan NaCl fisiologis. b. Mengamati dengan menggunakan mikroskop stereo atau jika memungkinkan dengan lup. Pengamatan anatomi harus menggunakan preparat awetan yang sudah diwarnai dan dijernihkan. c. Menggambar pada posisi sebelah menyebelah dari cacing tersebut (bilateral simetris).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan 1. Larva Fasciola hepatica Keterangan : 1. Mulut 2. Saraf cincin 3. Uterus 4. Testis anterior 5. Kelenjar kuning telur 6. Lendir

7. Testis posterior 8. Kelenjar kulit 9. Ovarium 10. Penis 11. Faring

Gambar referensi Keterangan : 1. Mulut 2. Saraf cincin 3. Uterus 4. Testis anterior 5. Kelenjar kuning telur 6. Lendir 7. Testis posterior 8. Kelenjar kulit 9. Ovarium 10. Penis 11. Faring

2. Bentuk dewasa dari Fasciola hepatica Keterangan : 1. Ovary 2. Oral sucker 3. Ventral sucker

4. Uterus 5. Cecum

3. Daur hidup Fasciola hepatica keterangan : 1. Telur 2. Redia 3. Siput (Limnea sp) 4. Serkaria 5. Rumput 6. Cacing dewasa B. Pembahasan a. Morfologi Morfologi cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).Pada cacing betina, sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi. Hati Fasciola juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit dalam memotong empedu.6[1] b. Anatomi

6[1]Aqsha,

2012,

Laporan

Praktikum

Platyhelminthes

Blog

Aqsha.

http://aqshabiogger2010. blogspot. com/2012/02/laporan-praktikum- platyhelminthes. html (26 Mei 2012).

Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat bergerak.7[2] c. Habitat Fasciola hepatica parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Fasciola hepatica yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia.8[3] d. Daur hidup Adapun daur hidup dari Fasciola hepatica yaitu : 1. Cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu sapi atau domba. Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa). 2. Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu). 3. Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis.

7[2]Ibid. 8[3]Ibid.

4.

Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.

5.

Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria

membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica. 6. Apabila rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di sana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.9[4] e. Peranan Fasciola hepatica adalah parasit yang cukup potensial penyebab fascioliasis atau distomatosis. Di Indonesia fascioliasis merupakan salah satu penyakit ternak yang telah lama dikenal dan tersebar secara luas. Keadaan alam Indonesia dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi, dan ditunjang pula oleh sifatnya yang hemaprodit yakni berkelamin jantan dan betina akan mempercepat perkembangbiakan cacing hati tersebut. Cacing ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia. Cacing ini termasuk cacing daun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang dan 13 mm lebar.10[5]
9[4]Alqarniu, 2012. Platyhelminthes Blog Alqarniu.

http://alqarniu.blogspot.com/2010/10/v-behaviorurldefaultvmlo_10.html (26 Mei 2012).

10[5]Ibid.

f. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari Fasciola hepatica adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Class Ordo Genus Spesies 2012) : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Echinostomida : Fasciola : Fasciola hepatica (Anonim,

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Adapun kesimpulan pada pembahasan ini adalah sebagai berikut : 1. Larva tremtoda yang dapat kami amati adalah Fasciola hepatica. 2. Fasicola hepatica pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi. Hati Fasciola hepatica juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit.

B. Saran Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih memperhatikan kondisi bahan. Agar organisme yang diamati lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2012. Platyhelminthes. http://id.wikipedia.org/wiki/ (22 Mei 2012). Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. Zoologi Invertebrata. Jakarta: Erlangga, 1989. Jasin, Maskoeri. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.

Rudi, 2012. Laporan Praktikum Zoologi Platyhelminthes. http://rudibiologi. blogspot. com/2012/03/laporan-prtikum-zoologi-plathelminthes.html (22 Mei 2012). Rusyana, Adun. Zoologi Invertebrata. Bandung: ALFABETA, 2011. Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih. Beberapa ahli menganggap Nemertia, yaitu satu kelas yang tergabung dalam Platyhelminthes sebagai filum tersendiri yaitu filum Nemertia. Cacing daun bersifat triploblastik, tetapi tidak berselom. Ruang digesti berupa ruang gastrovaskular yang tidak lengkap. Cacing pita tidak mempunyai saluran digesti. Walaupun hewan-hewan itu bersifat simetri bilateral, namun mereka mempunyai sistem ekstretorius, saraf, dan reproduksi yang mantap. Sebagaian anggota cacing daun itu hidup parasitis pada manusia dan hewan. Cacing-cacing planaria hidup dalam air tawar. Cacing hati dan cacing pita bersiklus hidup majemuk dan menyangkut beberapa inang sementara. Cacing-cacing nemertian hidup mandiri di laut dan terkenal sebagai cacing ikat pinggang (Mukayat, 1989: 81). Platyhelminthes adalah sekelompok orgnisme yang tubuhnya pipih, bersifat tripoblastik, tidak berselom. Pada umumnya spesies dari platyhelminthes adalah parasit pada hewan. Ektoderm adalah tipis yang dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari cairan hospes. Sistem ekskresi hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan keluar tidak memiliki sistem sirkulasi, maka bahan makanan itu di edarkan oleh pencernaan itu sendiri. Alat reproduksi jantan dan betina terdapat pada tiap tiap hewan dewasa. Alat jantan terdiri atas sepasang testis, dua pembuluh vasa deferensia, kantung vesiculum seminalis, saluran ejakulasiyang berakhir pada alat kopulasi dan penis (Maskoeri, 1992: 139). Platyhelminthes dapat dibagi atas beberapa kelas yaitu kelas tubellari, contoh organisme dari kelas ini adalah planaria yang hidup di air tawar , bipalium dan geoplana yang hidup pada tanah,berikutnya kelas trematoda, merupakan hewan yang parasit, tidak mempunyai mata kecuali pada larvanya, tidak bercilia kecuali pada larvanya, mempunyai kutikula mulut disebelah anterior, farinks tidak berotot, tidak ada anus usus berbentuk garpu, mempunyai pengisap, hermaprodit, mempunyai kelenjar kuning. Contoh : Fasiola hepatica. Selanjutnya kelas cestoda, merupakan hewan hermaprodit, tidak mempunyai alat pencernaan

makanan, merupakan endoparasit pada hewan vetebrata, Mempunyai saraf pada bagian kedua sisi tubuhnya yang berhubungan dengan kepala. Mempunyai saluran ekskresi yang diperlengkapi dengan protonefrida. Tiap progtida mengandung organ organ alat jantan dan betina yang lengkap. Telur telurnya di kumpulkan pada uterus (Yusminah, 2007: 19). Kebanyakan filum Platyhelminthes hidup sebagai parasit, maka umumnya merugikan manusia, baik langsung sebagai parasit pada tubuh manusia maupun parasit pada binatang peliharaan seperti babi, sapi, anjing dan sebagainya. Usaha-usaha untuk mencegah infeksi pada manusia atau binatang peliharaan biasanya dengan memutuskan siklus hidupnya baik mencegah jangn sampai terjadi infeksi pada hospes perantara maupun pada hospes tetapnya sendiri. Oleh karena hal tersebut, pembuangan faeces manusia harus diatur sehingga tidak memungkinkan terjadinya siklus hidup yang lengkap. Misalnya untuk Taenia terjadinya hexacant tertelan ternak tidak diberi kemungkinan. Daging yang akan dimakan manusia diusahakan harus matang sehingga cysticercusnya mati (Maskoeri, 1992: 131). Morfologi Morfologi Fasciola hepatica jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada Fasciola hepatica jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).Pada Fasciola hepatica betina, sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. bentuknya pipih (seperti daun), susunan tubuh triploblastik yang terdiri dari lapisan ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Sistem pencernaan makanan sederhana. Sistem ekskresi hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan ke luar. b. Anatomi Fasciola hepatica ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat

bergerak. Fasciola hepatica dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi. Hati Fasciola hepatica juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit dalam memotong empedu. c. Habitat Fasciola hepatica parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Fasciola hepatica yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia. d. Sistem Organ a. Sistem Respirasi Cacing hati (Fasciola hepatica) tidak memiliki alat pernafasan khusus maka ia menggunakan permukaan tubuh / kulit-nya sebagai tempat pertukaran O2 atau CO2. b. Sistem Sirkulasi System sirkulasi cacing hati (Fasciola hepatika), dengan darah yang terdiri atas bagian cair yang disebut plasma, dan sel-sel darah atau korpuskula. c. Sistem Ekskresi Cacing hati (Fasciola hepatica) memiliki alat ekskresi khusus yang terdapat pada setiap segmen tubuhnya. Alat ekskresi ini dinamakan nefridium. Alat ini disebut nefrostom. Nefrostom berfungsi sebagai penarik cairan tubuh dari satu segmen kesegmen lainnya. Sementara, sisa metabolisme akan dikeluarkan melalui sebuah lubang yang disebut nefridiopori. Saat silia pada nefrostom bergetar, cairan tubuh dari segmen di sebelahnya akan mengalir ke dalam nefridium. Pada nefridum ini, zat berguna seperti glukosa dan ion-ion diserap oleh darah untuk dialirkan melalui pembuluh kapiler. Sedangkan zat sisa seperti air, senyawa nitrogen, dan garam yang tidak berguna oleh tubuh dikeluarkan melalui nefridiopori. d. Sistem Reproduksi Alat reproduksi pada Fasciola Hepatica jantan memiliki sepasang testis dan penis. e. Sistem Pencernaan

Cacing hati memiliki alat pencernaan tetapi tidak lengkap. Susunan system pencernaan makanan hanya terdiri dari mulut, faring, esophagus dan intestine. Lubang mulut tertutup oleh alat pengisap oral (sucker). Lubang mulut berlanjut dengan rongga mulut yang berbentuk corong. Rongga mulut berlanjut pada faring yang berdinding tebal dengan lumen sempit. Dinding faring tersusun oleh otot melingkar. Faring berfungsi untuk mengisap makanan. Faring mempunyai kelenjar faringeal. Esophagus menghubungkan faring dengan intestine. Intestine bercabang dua ke kiri dan ke kanan yang membentang kea rah posterior, dan sejajar. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateralmembentuk kantungkantung seka atau divertikula yang buntu. Cabang-cabang ini mebagi makanan ke seluruh tubuh. Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga, 1989. Hala, Yusminah. Biologi Umum 2. Makassar: UIN Alauddin Press, 2007. Jasin, Maskoeri. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.