Anda di halaman 1dari 4

NAMA NIM KELAS

: DESY MUTIARA SATI : 120301079 : AGROEKOTEKNOLOGI 2

KONSEP DAN KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN Wirausahawan modern muncul pada abad XVIIIA di Inggris pada saat revolusi industri. Awalnya para wisahawan ini menciptakan wirausaha hanya untuk mengembangkan organisasi mereka. Keuntungan dan kekayaan bukanlah tujuan utama mereka. Mereka muncul dari kelas menengah kebawah, mereka ingin mewujudkan imipiam meraka. Keberhasilan merupakan suatu kebanggan bagi mereka. Kewirausahaan bukanlah sekedar keterampilan manajerial dan bisnis belaka. Seorang wirausaha bukanlah pengambil resiko tetapi penentu resiko. Wirausaha juga meliputi aspek mental dan perilaku seseorang. Wirausaha tak terpisahkan dari kreativitas dan inovasi. Wirausaha adalah ketrampilan bukan merupakan keturunan semata, tetapi dapat dilatih dan dipelajari. Modal dasar dalam membangun sikap wirausaha adalah kemauan belajar hal baru, kerja keras, daya adaptasi tinggi, dan selalu menggali ide sebagai sumber kekayaan. Beberapa faktor personal yang mendorong inovasi adalah: keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, keinginan menanggung resiko, faktor pendidikan, dan faktor pengalaman. Adanya inovasi yang berasal dari diri seseorang akan mendorong dia mencari pemicu ke arah memulai usaha.Sedangkan faktor-faktor environment mendorong inovasi adalah: adanya peluang, pengalaman dan kreativitas. Tidak diragukan lagi pengalaman adalah sebagai guru yang berharga yang memicu perintisan usaha apalagi oleh adanya peluang dan kreativitas. Berani memulai artinya seseorang harus segera memulai, paling tidak berpikir untuk berusaha, memulai usaha dari hal-hal yang paling kecil sesuai dengan kemampuan si calon pengusaha. Untuk memulai

pertama kali suatu usaha memang terasa sangat berat. Banyak kendala yang dihadapi, seperti dari mana dimulainya usaha tersebut dan apa yang perlu dipersiapkan. Hal yang terpenting adalah memulai terlebih dahulu, barulah diketahui kekurangan dan hal-hal yang perlu dipersiapkan lanjut. Terkadang niat dan motivasi yang kuat untuk berusaha tidak akan pernah terealisasi tanpa berani mulai saat ini juga. Banyak orang mengatakan bahwa membuka usaha gampang, tetapi memulainya sangat slt. Penyakit seperti ini harus dikikis habis.Langkah selanjutnya, seorang calon pengusaha dituntut untuk berani menanggung sehala risiko, baik risiko kerugian, bangkrut atau risiko lainnya. Penyakit takut rugi atau bangkrut, ini juga menjadi momok bagi calon wirausahawan baru. Perlu diingat bahwa dalam usaha (bisnis) hanya ada dua pilihan, yakni untung atau rugi. Artinya bisnis yang akan dijalankan pasti memiliki risiko dan untung. Seorang calon pengusaha harus berani mengambil risiko sebesar dan seberat apa pun. Hal yang perlu diingat adalah menjalankan segala sesuatu dengan perhitungan matang dan selalu memiliki sikap optimis bahwa semua masalah dapat diatasi. Perlu dicamkan pula bahwa semakin besar risiko yanng dihadapi, semakin besar peluang untuk maju dan meraup keungtungan. Ada istilah ekstrem bahwa jika ingin berwirausaha, harus siap rugi terlebih dahulu sehingga bersungguhsungguh dalam menjalankan usaha nantinya. Persoalan penting yang menjadi prioritas untuk dilakukan adalah bagaimana agar tenaga kerja terdidik yang tidak terserap di dunia kerja tetap menjadi aset yang potensial dalam era globalisasi ini. Di sinilah pentingnya pemahaman dan kajian mengenai kewirausahaan sebagai alternatif memasuki dunia kerja yang tidak lebih jelek dari jabatan pegawai negeri maupun swasta, bahkan menjanjikan pendapatan yang tidak kecil.Tidak hanya itu, John Naisbitt (1994) dalam event Global Entrepreneur 95 di Singapore, menyatakan bahwa semakin besar dan semakin terbukanya ekonomi dunia, semakin perusahaan-perusahaan berskala kecil dan sedang

akan mendominasi, bahkan hilangnya penghalang perdagangan di seluruh dunia, membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan kecil. Singkatnya, perusahaan kecil dan menengah akan menjadi pemain utama dalam percaturan ekonomi dunia di masa yang akan datang, karena memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi disertai akses yang lebih luas untuk menjangkau peluang ekonomi dunia dibandingkan dengan perusahaan besar. Everet Hagen yang menyatakan, bahwa kemajuan suatu bangsa bergantung pada seberapa besar warganya berpegang pada nilai dan sikap inovatif atau innovational personality. Semakin tinggi kuantitas dan kualitas anak bangsa berpegang pada innovational personality, maka semakin besar pula peluang untuk mencapai modernisasi, termasuk di dalamnya kemajuan dalam bidang ekonomi. Jika wirausahawan bisa ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, maka keterbelakangan dalam bidang ekonomi, begitu pula amoral failist, tentu bisa diminimalisir pada aras yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian terwujudnya bangsa Indonesia yang modern secara ekonomi dan sosial tentu semakin mudah tercapai. Contoh wirausaha yang pernah saya lakukan sejak saya berada di tingkat sekolah dasar adalah berjualan. Pada saat itu tanpa memikirkan adanya keuntungan dari hasil penjualan karya saya, saya terus menawarkan barang yang saya ciptakan kepada teman-teman saya. Awalnya saya hanya mencoba memuaskan hobi saya terhadap bidang seni yaitu menggambar. Setelah saya menjual hasil gambar saya kepada teman-teman saya terdapat kepuasan tersendiri yang membuat saya ingin terus menggambar dan menjualnya kepada teman-teman saya. Ketika saya duduk di sekolah menengahpertama hobi saya untuk membuat kerajinan tangan dimulai pada saat saya pulang darii sekolah ketika berada di dalam angkutan umum. Ketika itu saya memperhatikan anak usia sekolah dasar yang mengejekan kerajinan tangan yang berupa gelang. Karena rasa ketertarikan saya pada gelang yang telah dihasilkan tersebut maka saya mencoba

membuat gelang itu di rumah dan mulai memproduksinya dalam skala banyak untuk dijual lagi kepada teman-teman saya. Wirausaha adalah ketrampilan bukan merupakan keturunan semata, tetapi dapat dilatih dan dipelajari. Modal dasar dalam membangun sikap wirausaha adalah kemauan belajar hal baru, kerja keras, daya adaptasi tinggi, dan selalu menggali ide sebagai sumber kekayaan. Model proses perintisan dan pengembangan kewirausahaan ini digambarkan oleh Bygrave, menjadi urutan langkah-langkah berikut: (1) Proses Inovasi; (2) Proses Pemicu; (3) Proses Pelaksana; dan (4) Proses Pertumbuhan. Sedangkan Kasmir merumuskan jurus awal menjadi pengusaha adalah: 1) Berani memulai; 2) Berani menanggung risiko (tidak takut rugi); 4) Penuh perhitungan; 5) Memiliki rencana yang jelas; 6) Tidak cepat puas dan utus asa; 7) Optimis dan penuh keyakinan; 8) Memiliki tanggung jawab; 9) Memiliki etika dan moral; 10) Dan lainnya.