Anda di halaman 1dari 4

Kekerasan di lingkungan masyarakat

2013

KEKERASAN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT ( PERCERAIAN )

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Intervensi Krisis pada Program Studi Ilmu Keperawatan semester VII (Tujuh) Pengampu : Zumrotul Choirriyyah ,S.Kep.,Ns.M.Kes

Oleh. Yoyok Dwi Saputra (Nim.010110a135)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN TA. 2013

Kekerasan di lingkungan masyarakat PERCERAIAN DI INDONESIA

2013

Akhir-akhir ini banyak kita jumpai permasalahan mengenai disorganisasi keluarga, diantaranya adalah perceraian. Kasus perceraian pasangan suami istri sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan, jadi bisa dibayangkan betapa sebenarnya banyak keluarga disekitar kita mengalami satu fase kehidupan yang sungguh tidak diharapkan. Perceraian senantiasa membawa dampak yang mendalam bagi anggota keluarga meskipun tidak semua perceraian membawa dampak yang negatif.

Tingginya angka perceraian adalah hal yang menyedihkan. Betapa banyak anak yang kemudian harus menjalani takdir hidup tidak bersama ayah-ibunya secara utuh. Tidak sedikit dari mereka menjadi korban perebutan kuasa asuh. Mereka hidup dalam ketakutan, namun tak berdaya. Dampak negatif perceraian selalu ada bagi anak-anak.

Salah satu contohnya di panggung dunia hiburan tanah air belakangan disuguhi kasus perceraian artis-artis papan atas. Sebut saja yang masih hangat di pemberitaan media yaitu kasus perceraian Venna Melinda dengan Ivan Fadilla. Politisi Partai Demokrat ini mengugat Ivan, suaminya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Sidang perceraian mereka sampai saat ini masih bergulir dan menyedot perhatian publik.

Keberadaan orang ke tiga, dan kesibukan serta ketiadaan waktu Venna untuk keluarga, diduga menjadi sumber perceraian mereka. Pasangan yang telah menikah 17 tahun lamanya dan telah dikarunia dua orang putra, Verrel Bramasta dan Athalla Naufal. Kasus ini akhirnya menyeret perhatian anak anak mereka dalam pusaran perceraian orang tua. Apalagi kedua anak mereka Verrel dan Naufal lebih senang tinggal bersama sang ayah. Sementara Vena sebagai ibu, protes karena untuk menemui kedua buah hati mereka sangat sulit. Persoalan anak akhirnya menyeret hak asuh anak, disamping harta gono gini yang juga menjadi subyek perceraian yang diperebutkan mereka.

Kekerasan di lingkungan masyarakat

2013

Menurut saya perceraian memeang jalan keluar dari suatu masalah yang tidak dapat di urai lagi. Namun harus di fikirkan dengan matang dulu, tidak bisa seenaknya keluar dari masalah , karena jika dipertahankan untuk tetap stay together, gtidak jarang malah terjadi KDRT. Mana yang lebih baik anak dari keluarga Broken home atau anak dari keluarga yang mempertahankan pernikahan yang didalamnya terjadi KDRT? Tentu semua tidak ada yang lebih baik dari keduanya . Akibat dari perceraian sudah pasti memberikan dampak buruk terutama bagi anak. Keluarga yang bercerai rentan untuk menghasilkan anak broken home.dan hal tersebut tentunya akan mempengaruhi kondisi psikologis seorang anak akan masalah yang ada dalam keluarganya .beragam penyebab perceraian orang tua dapat menimbulkan perspektif negatif bagi anak, sebagai contoh perselingkuhan orang tua yang menyebabkan perceraian bagi keluarganya bisa kemungkinan membuat pandangan seorang anak akan selamnya menjadi benci terhadap prilaku orang tuanya baik itu dilakukan oleh seorang ibu ataupun ayahnya . kondisi seperti ini tentu dapat menghambat masa depan seorang anak .sehingga perceraian yang semakin tinggi setiap tahunnya akan menjadi salah satu faktor penghambat masa depan generasi bangsa.

Melihat akibat yang sangat dahsyat bagi kemajuan bangsa di masa yang akan datang, saya rasa sudah saatnya perceraian mendapatkan perhatian dan penanganan seperti banjir. Walaupun tidak dapat diberantas tuntas, namun harus diambil langkah-langkah yang dapat meminimalisasi terjadinya perceraian. Dalam opini saya, hal yang pertama harus dilakukan adalah persiapan sebelum menikah

Dengan maraknya berbagai berita dan kasus-kasus perceraian yang semakin meningkat di kalangan masyarakat ini, sedikit banyak saya dapat memahami bahwa cinta memang tidak dengan sendirinya tetap meluap-luap sebagaimana saat bulan madu. Seperti kartu pra-bayar, cinta perlu di isi ulang untuk dipertahankan. Hanya kadang-kadang, kita sudah sedemikian malasnya untuk mengisi ulang pulsa dan membiarkan saja kartu pra bayar tersebut hangus karena masa tenggang nya sudah lewat. Toch nanti bisa ganti dengan kartu yang lain. Kartu telepon genggam pra bayar memang mudah diganti. Tapi mengganti

Kekerasan di lingkungan masyarakat

2013

suami atau istri tentunya tidak semudah mengganti kartu pra bayar. Jadi bagaimana cara mempertahankan cinta dalam pernikahan? Sambil menulis saya berpikir, di masa lalu, banyak orang tua kita menikah karena perjodohan. Cinta tumbuh kemudian karena terbiasa, witing tresno jalaran soko kulino. Tetapi tingkat perceraian sangat rendah. Masa kini orang bebas untuk menikah karena rasa cinta, tapi pernikahan sering kandas. Setelah merenungkan fakta ini beberapa saat, saya melihat satu nilai yang dipegang teguh oleh orang tua kita yang di zaman modern ini semakin luntur: KOMITMEN. Komitmen adalah dasar dari segala bentuk hubungan. Komitmen adalah cara mempertahankan cinta yang paling ampuh. Di masa orang bebas mencinta, komitmen untuk mempertahankan cinta sangat rendah karena dasar hubungan adalah rasa cinta dan bukan komitmen untuk mencinta. Di masa lalu, pernikahan dimulai dari sebuah komitmen untuk menikah, lalu tumbuh cinta dari sebuah komitmen. Di saat rasa kesal, rasa marah dan rasa negatif lainnya menggerogoti perasaan cinta, komitmen tetap menjadi ikatan yang mempersatukan. Karena inti dari hubungan tersebut bukan rasa nya tapi komitmen nya. Dalam sebuah komitmen selalu ada cara untuk menyelesaikan permasalahan. Tanpa komitmen, tidak ada hubungan yang dapat dipertahankan. Jika sebuah rumah tangga selaluy memilkirkan jalan perceraian pada sebuah masalah yang di hadapi , maka pondasi rumah tangga itu terbilang cukup rapuh.