Anda di halaman 1dari 25

Gambar 1.

Anamnesis

Sudah berapa lama bercak muncul? Apakah ada gangguan sensasi pada bercak? Bagaimana kehidupan sosial ekonomi pasien? Apakah ada riwayat kontak dengan penderita kusta? Apakah di lingkungan tempat tinggal pasien ada penderita kusta? Apakah pasien pernah berpergian ke daerah endemik kusta?

Status dermatologis

: Pada regio coli dan abdominalis tampak lesi monomorf berupa bercak hipopigmentasi dengan batas tegas, garis tepi ireguler, ukuran numular dan plakat, jumlah multiple, distribusi bilateral dan asimetris (perlu dilakukan tes sensibilitas dan otonom pada bercak). Selain itu juga ditemukan pembesaran saraf tepi yaitu N. Auricularis magnus.

Diagnosis klinis Diagnosis Banding

: Morbus Hansen : 1. Pityriasis alba 2. Vitiligo 3. Tinea versicolor

Pemeriksaan Penunjang

: 1. Biopsi dari lesi kulit atau saraf, kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan Ziehl

Neelsen atau Fite-Faraco 1

2. Juga dapat dilakukan skin smears dari lesi atau kulit di area yang lebih dingin seperti lobulus auricula, siku dan lutut. Bila ditemukan M. leprae maka dikatakan multibasiler, bila negatif (namun disertai lesi berjumlah 5 atau kurang pada satu regio) maka dikatakan pausibasiler. 3. Pemeriksaan histopatologik dan tes serologi Penatalaksanaan : Pemberian obat antikusta (dapsone, rifampin, clofazimine) MDT, regimen disesuaikan dengan keadaan pasien, sesuai pedoman WHO. Apabila terjadi reaksi kusta tipe I maka dapat diberikan kortikosteroid sistemik, untuk ENL (tipe II) dapat diberikan thalidomide.

Gambar 2.

Anamnesis : Diawali dengan rasa gatal / nyeri di sekitar lesi disertai panas dan malaise. Kelainan kulit tersebut mula-mula eritema yang kemudian berkembang menjadi papula dan vesikula yang dengan cepat membesar menjadi bula. Perubahan bentuk lesi berlangsung sangat cepat dalam waktu beberapa hari.

Status dermatologis : Regio thorakalis anterior dan posterior tampak vesikel bergerombol diatas kulit yang eritematus, diantara gerombolan terdapat kulit normal, jumlah multipel, ukuran milier dan lentikuler, berjalan sesuai dermatom dengan distribusi regional

Diagnosa sementara : Herpes Zoster

Diagnosis banding

: 1. Herpes simpleks 2. Varisela 3. Dermatitis kontak alergika

Diagnosis klinis

Herpes zoster

Pemeriksaan penunjang : 1. Tes Tzanc 2. Kultur virus

Penatalaksanaan : 1. Istirahat 2. Untuk mengurangi neuralgia dapat diberikan analgetik 3. Usahakan agar vesikel tidak pecah untuk menghindari infeksi sekunder, yaitu dengan bedak salisil 2%. Jika terjadi infeksi sekunder dapat diberikan antibiotic likal misal, salep kloramfenikol 2%. 4. Untuk mengurangi neuralgia pascaherpetika dapat diberikan kortikosteroid seperti prednisone dan deksametason.

Gambar 3.

Anamnesis

: Tn. B, Mengeluh tumbuh benjolan di ujung jari tangan, makin lama makin banyak sejak 3 bulan.

Status dermatologis

: Regio digiti 3&4 distal manus sinistra, digiti 2 distal manus dextra; tampak papule sewarna dengan warna kulit dengan permukaan verukosa, jumlah multipel dengan distribusi regional

Diagnosis klinis Diagnosis Banding

: Veruca Vulgaris : tuberkulosis kutis verukosa dan prurigo nodularis.

Pemeriksaan Penunjang

: 1. Histopatologi untuk membedakan bentukan dari

papiloma apakah berupa keganasan atau bukan. Lihat keadaan dermis (pelebaran pembuluh darah dan adanya sebukan sel radang) dan epidermis (hyperkeratosis, akantosis, parakeratosis, papilomatosis). 2. Biopsi kulit. Sama dengan histopatologi. Penatalaksanaan : Penatalaksanaan verruca plantaris didasarkan pada usia 5

penderita, lokasi ruam, perluasan ruam dan tingkat kemampuan penderita. Pada dua pertiga kasus, verruca dapat mengalami regresi spontan dalam waktu dua tahun. Prinsip terapi definitif untuk verruca adalah menghilangkan verruca tersebut dengan jalan antara lain: 1. Kuret dan elektrodesikasi ringan 2. Bedah Kiro dengan nitrogen cair 3. Asam triklorasetat 50-80 % 4. Keratolotik : asam salisilat 20%,asam laktat10%.

Gambar 4.

Anamnesis : Pada anamnesis penting untuk ditanyakan kepada pasien yaitu pekerjaan dan status perkawinan. Karena pada kondiloma akuminata merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Dengan anamnesis yang benar makan akan mempermudah kita untuk mendiagnosis dengan tepat. a. Keluhan utama: terdapat kulil pada alat genetalia b. Keluhan tambahan: panas disekitar alat kelamin, nyeri c. Riwayat perjalanan penyakit: 1. Durasi: kapan kutil pertama timbul? Kutil biasanya muncul dlm waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi. 2. Periodisitas: apakah kutil bertambah banyak atau menetap? Bertambah banyak 3. Evolusi: bagaimana perkembangan atau perubahan bentuk kutil? Dimulai sebagai pembengkakan kecil yg lembut, lembab, dan berwarna merah/pink. Tumbuh dengan cepat dan memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar memberikan gambaran bunga kol. 4. Keparahan: apa sangat nyeri atau gatal? 5. Faktor pencetus eksaserbasi lesi: sangat nyeri d. Riwayat pemakaian obat: apa pasien pernah mengkonsumsi obat yg dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Pernah menggunakan kontrasepsi hormonal atau oral sebelumnya e. Riwayat penyakit dahulu: apa pernah mengalami infeksi servisitis, herpes genitalia, f. Riwayat penyakit keluarga: 7

suami apa menderita penyakit menular seksual seperti kondiloma akuminata, gonore, sifilis, dan lain-lain. g. Riwayat kebiasaan sosial: Dapat ditanyakan tentang personal hygienenya, apakah pasien rutin mengganti celana dalamnya dalam sehari, apakah pasien mampu menjaga daerah genitalianya tetap kering/tidak lembab. Dapat pula ditanyakan apakah pasien pernah mandi di kolam renang umum ataupun menggunakan toilet umum. Kemudian dapat ditanyakan status gizi dan daya tahan tubuh pasien, apakah pasien memiliki pola makan yang teratur dan cukup gizi, apakah sehari-hari pasien cukup istirahat. Apa pasien sering bergantian menggunakan handuk dan pakaian dengan orang lain? 1. Jika pasien sudah menikah, tanyakan apa suami ibu pernah melakukan koitus dengan wanita lain dan apakah terdapat lesi yg sama pada suami ibu. 2. Jika pasien belum menikah, tanyakan apa pasien pernah melakukan koitus dengan pria atau lebih dari satu pria 3. Kapan terakhir berhubungan seksual sebelum lesi timbul 4. Jika pasien belum menikah, apakah pasien pernah melakukan koitus sebelum keluhan muncul, jika pasien malu untuk mengakui maka dapat di lakukan pemeriksaan hymennya saat dokter melakukan pemeriksaan fisik sehingga dapat di tentukan benjolan yang timbul akibat penyakit menular seksual atau tidak. 5. Jika pasien tidak pernah melakukan koitus, juga dapat ditanyakan tentang personal hygienenya, apakah pasien rutin mengganti celana dalamnya dalam sehari, apakah pasien mampu menjaga daerah genitalianya tetap kering/tidak lembab. Dapat pula ditanyakan apakah pasien pernah mandi di kolam renang umum ataupun menggunakan toilet umum. Kemudian dapat ditanyakan status gizi dan daya tahan tubuh pasien, apakah pasien memiliki pola makan yang teratur dan cukup gizi, apakah sehari-hari pasien cukup istirahat. Juga ditanyakan keluhan tambahan yang mengarah ke penyakit genitalia lainnya yang sedang dialami oleh pasien saat ini, seperti kandidiasis, trikomoniasis, dan infeksi genital non spesifik. Status dermatologis Tampak lesi di regio genitalia, labia mayor dan anal. Lesi monomorf, multiple, berupa papul berkelompok, berbentuk bulat, berukuran lentikuler, warna lesi serupa dengan warna kulit di sekitar, dan 8

permukaannya verukosa. Warna sesuai kulit, tidak mudah berdarah, tidak ada radang. Gerombolan nodula berkonfluen dengan permukaan verukosa, bewarna sebagian eritema dan abu abu, tampak madidans. Diagnosa klinis 1. Kondiloma akuminata Diagnosa banding 1. Kondiloma akuminata. 2. 3. 4. Veruka vulgaris Kondiloma latum Karsinoma sel skuamosa

Pemeriksaan penunjang serta cara melakukannya Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk menegakkan diagnosa kondiloma akuminata. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu mengarahkan diagnosis. 1. Untuk lesi yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan dengan membubuhkan asam asetat 5% pada lesi lesi selama 3-5 menit. Lesi kondiloma akuminata akan berubah menjadi putih. 2. Histopatologi Perubahan kondiloma akuminata terlihat sebagai hyperkeratosis, hipergranulosis, dan koilositosis pada stratum spinosum serta akantosis ireguler yang meluas ke tengah. Infiltrate mononuclear yang sedikit terlihat pada dermis. Gambaran yang dominan berupa akantosis dan papillomatosis, lapisan tanduk juga mengalami parakeratosis tetapi tidak terlalu menebal. Proses epidermal terjadi menyeluruh dengan batas bawah yang tegas. Bisa pula didapatkan banyak sel bervakuol dalam lapisan atas Malpighi, tetapi terbatas dalam distribusi dan tidak dijumpai pada semua bagian. 3. Deteksi DNA HPV Adanya DNA HPV dan tipe HPV spesifik dapat ditentukan melalui pemeriksaan apusan dan biopsy dengan hibridisasi in situ. Dapat juga dengan mikroskop electron namun tidak efektif untuk tipe tertentu dengan jumlah partikel virus yang sedikit. 4. Serologi Terjadinya genital swart adalah pertanda praktek seksual yang tidak aman. Tes serologi sifilis dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi lain yang menyertai.

Tata laksana Sebelum pengobatan dimulai sebaiknya dicari kemungkinan adanya PMS lainnya sehingga penyakit tersebut diobati terlebih dahulu. Begitupula bila ditemukan penyakit lain yang menurunkan sistem imun. Pasangan seksual juga diperiksa dan diobati. 1. Kemoterapi a. Tingtura Pedofilin 25% Kulit disekitar lesi dioleskan dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi.Setelah 4-6 jam, lesi di cuci. Dapat dilakukan 2 kali seminggu, setiap kali pemberian tidak lebih dari 0,5 cc, sebaiknya tidak dilakukan pada lesi yang luas, terutama yang terdapat pada mukosa. Tidak boleh dilakukan pada wanita hamil. b. Podofilotoksin 0,5% Reaksi iritasi lebih jarang dibandingkan tingtura podofilin. Dioleskan 2 kali sehari selama 3 hari berturut turut c. Asam trikloroasetat 25-50% Dioleskan seminggu sekali dan harus berhati hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam karena bahan tsb bersifat kaustik dan menyebabkan koagulasi protein dan desikasi yang akhirnya menyebabkan nekrosis pada lapisan superficial. Tidak perlu di cuci. Boleh diberikan pada wanita hamil. d. 5-fluorourasil Dalam bentuk krim 5% dapat diberikan dua kali seminggu untuk terapi kondiloma intraurethral dan sebagai alternatif untuk terapi destruktif pada neoplasia intraepiteal pada genitalia eksterna. Akan tetapi penggunaannya perlu dibatasi oleh adanya efek samping inflamasi. 2. Bedah a. Bedah scalpel b. Bedah listrik: biasanya efektif tetapi membutuhkan anestesi lokal c. Bedah beku : mudah dilakukan dan tidak membutuhkan anestersi lokal. Dengan memakai lidi kapas, nitrogen cair diletakkan pada lesi selama 10-20 detik d. Bedah laser karbondioksida 3. Interferon 4. Imunoterapi 5. Edukasi

10

Sebaiknya hubungan seksual dihindari sementara waktu atau menggunakan pelindung seperti kondom, serta menjaga kebersihan genital untuk mencegah infeksi.

11

Gambar 5.

Anamnesis

: Riwayat hubungan seksual dengan pasangan, riwayat oral seks, nyeri pada saat BAK, keluarnya pus pada meatus eksterna.

Status dermatologis

: regio genitalis (penis), tampak pus purulen pada meatus uretra eksterna.

Diagnosis klinis Diagnosis banding

: Gonorrhea Urethritis : 1. Non gonorrhea urethritis 2. Prostatitis non Gonoccocus 3. Sifilis

Pemeriksaan penunjang 1. Sediaan langsung

Sediaan diwarnai dengan pewarnaan gram untuk melihat adanya kuman Diplococcus gram negatif, berbentuk biji kopi yang terletak intra dan ekstra seluler. 2. 3. 4. Percobaan dua gelas (tes Thomson) Kultur Tes Definitif (dari hasil kultur yang positif) a. Tes oksidasi b. Tes fermentasi c. Tes Beta-laktamase

12

Penatalaksanaan Sistemik 1. :

Gonore tanpa komlipkasi (cerviks, uretra, rectum dan faring) a. b. c. d. Ciprofloxacin 500 mg oral single dose Ofloxacine 400 mg oral single dose Cefixime 400 mg oral single dose Ceftriaxone 125 mg im single dose Bila dicurigai adanya infeksi campuran dengan klamedia dapat ditambahkan : e. f. Erytromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari Doxycycline 2 x 100 mg/hari oral selama 7 hari

2.

Gonore dengan komplikasi sistemik a. Meningitis dan endocarditis Ceftriaxone 1-2 g iv setiap 12 jam, untuk meningitis dilanjutkan 10-14 hari dan untuk endocarditis diteruskan paling sedikit 4 minggu. b. Artriris, tenosynovitis dan dermatitis 1. 2. 3. 4. Ciprofloxacin 500 mg iv setiap 12 jam Ofloxacine 400 mg setiap 12 jam Cefotaxime 1 g iv setiap 8 jam Ceftriaxsone 1 g im/iv setiap 24 jam

Edukasi

: Jaga kondisi fisik, dan apabila pasangan mempunyai gejala dan tanda yg sama agar segera dibawa ke dokter.

13

Gambar 6.

Anamnesis Sejak kapan terdapat skuama, Apakah terasa gatal pada kepala yang terdapat skuama, Apakah sebelumnya pasien merasa kelelahan, stress, atau terkena paparan sinar matahari. Status dermatologis Regio kapitis, terdapat skuama, difus, ukuran numuler dan plakat, dengan garis tepi irreguler distribusi regional. Diagnosis Klinis Tinea Kapitis. Diagnosis Banding 1. Dermatitis seboroik. 2. Alopesia areata. 3. Psoriasis vulgaris. Pemeriksaan Penunjang 1. Sinar wood. 2. Preparat langsung dari kerokan kulit dengan larutan KOH 10%. 3. Pembiakan skuama dalam media agar Sabouraud.

14

Penatalaksanaan 1. Sistemik: Griseofulvin 10-25 mg/kgBB; dewasa 500 mg/hari. Ketokenazol 5-10 mg/kg BB; dewasa 200 mg/hari selama 7-14 hari. 2. Topikal: Mencuci kepala dan rambut dengan shampoo desinfektan antimikotik seperti larutan asam salisilat, asam benzoate dan sulfur presipitarum. Obat deviriat imidazol 1-2% dalam krim.

Edukasi : Higene yang baik.

15

Gambar 7.

Anamnesis Terdapat lesi berwarna putih, makular, dan terasa gatal bila berkeringat. Status Dermatologis Regio thorakalis posterior dextra dan sinistra, tampak makula hipopigmentasi berbatas tegas,soliter, konfluens, tertutup skuama halus dan membentuk gambaran polisiklik.\ Diagnosis Klinis Pityriasis Versikolor Diagnosis Banding 1. Pitiriasis Alba 2. Vitiligo 3. Morbus Hansen

Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan dengan larutan KOH 20% atau campuran 9 bagian KOH 20% dengan 1 bagian tinta Parker blueblack superchrome. Hasil positif : hifa pendek, lurus, bengkok (seperti huruf i,v,j) dan gerombolan spora buddding yeast yang berbentuk bulat mirip seperti sphaghetti with meatballs. Hasil negatif : bila tidak ada lagi hifa, maka berarti bukan Pitiriasis versikolor walaupun ada spora. 16

2.

Lampu Wood Hasilnya positif apabila terlihat fluoresensi berwarna kuning emas pada lesi tersebut.

Penatalaksanaan A. Obat topikal (digunakan bila lesi tidak terlalu luas) 1. Krim Mikonasol 2%, dioleskan 2 kali sehari selama 3 4 minggu untuk lesi di muka dan badan yang tidak luas. 2. Solusio Natrium Tiosulfas 25 %, dioleskan 2 kali sehari selama 2 minggu (kurang dianjurkan oleh karena bisa menyebabkan iritasi, berbau tidak enak dan tidak boleh untuk daerah wajah dan leher). 3. Krim Tretinoin 0,05% - 0,1% untuk lesi hiperpigmentasi dioleskan 2 kali sehari selama 2 minggu. 4. Shampo Ketokonasol 1 2 % dioleskan pada lesi selama 10 - 15 menit sebelum mandi 2 kali seminggu selama 2 4 minggu. 5. Larutan propilen glikol 50% dalam air dioleskan seluruh tubuh 2 x sehari selama 2 minggu. Merupakan sediaan yang murah, efektif, kosmetik bagus, memberikan hasil bagus dan sangat kecil efek iritasi kulitnya. B. Obat sistemik (digunakan bila lesi luas, resisten terhadap obat topikal, sering kambuh) 1. Ketokonazol : Dosis anak-anak : 3,3 6,6 mg/kgBB/hari. Dosis dewasa : 200 mg/hari. Diberikan sekali sehari sesudah makan pagi. Lama pemberian : 10 hari

17

Gambar 8.

Anamnesis Terdapat kemerahan pada daerah kontak, disertai peninggian kulit yang sudah mengering dan garis-garis lipatan kulit semakin jelas. Terasa gatal dan bertambah berat jika memakai bahan dasar karet seperti sandal jepit. Status dermatologis Pada regio dorsum pedis dan digiti dextra sinistra tampak eritema, plakat, likhenifikasi. distribusi regional dan diatasnya terdapat skuama dan papula. Disebabkan oleh sendal jepit. Diagnosis banding 1. Dermatitis kontak alergika e.c sandal jepit 2. Dermatitis atopik 3. Dermatitis seboroika Diagnosis klinis: Dermatitis kontak alergika Pemeriksaan penunjang dan cara melakukannya Uji tempel (patch test) : Uji tempel digunakan untuk mengetahui hipersensitivitas terhadap suatu bahan yang kontak dengan kulit. Uji tempel menggunakan bahan standar atau bahan yang dicurigai. 18

Penatalaksanaan Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak alergika yang baik adalah

mengidentifikasi penyebab dan menyarankan penderita untuk menghindari agen yang dapat menimbulkan alergi, pada gambar diatas penderita di jauh kan dengan bahan dasar karet. terapi individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit. A. Pengobatan sistemik : a. Kortikosteroid -> diberikan pada kasus yang sedang atau yang berat, diberikan secara peroral, intramuskular atau intravena. Digunakan dalam waktu singkat. 1. Prednison : D. 5-10 mg/dosis, 2-3 kali/24 jam A. 1 mg/kgBB/hari 2. Deksametason : D. 0,5 mg/dosis, 2-3 kali/24 jam A: 0,1 mg/kgBB /hari 3. Triamisolon : D. 4-8 mg/dosis, 2-3 kali/24 jam A: 1 mg/kgBB/ hari b. Antihistamin 1. Klorfenerin maleat: D. 3-4 ing/dosis, 2-3 kali/24 jam, A. 0,09 mg/kg/dosis, 3 ksli/24 jam 2. Difenhidramin : D. 10-20 mg/dosis i.m 1-2 kali/ 24 jam, A. 0,5 mg/kg/dosis, 1-2 kali/ 24 jam 3. Larotadin : D. 1 tablet / hari c. Pengobatan topikal: 1. Bentuk akut dan eksudatif diberi kompres larutan garam faali ( NaCl 0,9 %) 2. Bentuk kronik dan kering diberi krim hidrokortison 1% atau diflukortolon valerat 0,1 % atau krim betametason valerat 0,005 0,1 %.

19

Gambar 9.

Anamnesis 1. Apakah pasien merasakan gatal dan timbul sensasi ingin menggaruk pada daerah lesi? 2. Apakah pasien mempunyai riwayat atopi (asma, rhinitis alergika, konjungtivitis dan reaksi alergi terhadap serbuk-serbuk tanaman) keluarganya? Status Dermatologis 1. Regio ekstremitas superior sinistra tampak papula, vesikula, erosi, ekskoriasi, likenifikasi, jumlah tunggal dengan distribusi regional. 2. Regio ekstremitas superior dextra et sinistra tampak eritema, erosi, likenifikasi, jumlah tunggal dengan distribusi regional. Diagnosis Banding 1. Dermatitis Atopik. 2. Dermatitis seboroik (terutama DA fase infantil). 3. Dermatitis numularis (terutama DA fase anak/dewasa). pada dirinya sendiri ataupun

Diagnosis Klinis Dermatitis atopic Pemeriksaan Penunjang 1. Uji klinis white dermographysm 2. Atopic patch test dan prick test 3. Pemeriksaan darah tepi : eosinofilia 20

4. Pemeriksaan level serum IgE

Penatalaksanaan Prinsip terapi : 1. Hindari paparan antigen 2. Cegah timbulnya ikatan antigen dengan IgE 3. Hambat sekresi mediator radang yang disekresi mastosit dan eosinofil. 4. Kurangi populasi sel imun yang reaktif. 5. Cegah infeksi berarti mencegah kekambuhan. Medikamentosa Pengobatan sistemik 1. Kortikosteroid Hanya dipakai untuk mengendalikan DA eksaserbasi akut. Digunakan dalam waktu singkat ( 3 minggu) dan dosis rendah, bila masih diperlukan disarankan dosis minimal diberikan secara alternate saja. Pemakaian jangka panjang akan menimbulkan efek samping dan bila tiba-tiba dihentikan akan timbul rebound phenomen. 2. Antihistamin Sedatif (untuk bayi dan anak) atau non sedatif terapi ajuvan, bila gatal sangat

menggaggu. Diberi untuk mengurangi rasa gatal. Pada kasus sulit dapat diberi doxepin hidrochloride 75 mg/oral/2 x sehari yang sebagai tricyclic antidepressant) menghambat reseptor histamin H1 dan H2. 3. Anti infeksi Pemberian anti biotika berkaitan dengan ditemukannya peningkatan koloni S. aureus pada kulit penderita DA. Dapat diberikan golongan macrolide (eritromisin, dan

azitromisin, klaritromisin), penisilinase resisten penisilin (dikloksasilin, oksasilin, kloksasilin). 4. Interferon IFN bekerja menekan respon IgE dan menurunkan fungsi dan proliferasi sel Th1 sehingga menurunkan jumlah eosinofil total dalam sirkulasi. 5. Imunosupresan sistemik (siklosporin) Imunosupresan poten yang bekerjanya pada sel T dengan menekan transkripsi sitokin. Obat ini akan berikatan dengan cyclopilin, suatu protein intraseluler dan akan menjadi suatu kompleks yang akan menghambat calcineurin, suatu molekul yang dibutuhkan 21

untuk inisiasi transkripsi gen sitokin. Dosis anak 5 mg/kg BB/oral/ hari diturunkan menjadi 2,5-5 mg/kg/hari atau dewasa 150 mg atau 300 mg/hari, diberi dalam waktu singkat, bila obat dihentikan umumnya penyakit kambuh kembali. Efek sampingnya adalah peningkatan : kreatinin dalam serum dan bisa terjadi penurunan fungsi ginjal dan hipertensi 6. Anti metabolit : 6. Mofetil mikofenolat (DA refrakter), 2gr/hari. 7. Metotreksat (DA rekalsitran) : merupakan antimetabolit dengan efek inhibisi poten pada sintesa sitokin dan kemotaksis sel, telah digunakan pada penderita DA denagn kondisi yang parah dan tidak responsif terhadap modalitas terapi lain. 8. Azatioprin (DA berat) : bekerja menghambat sintesa DNA dan RNA, berguna pada kasus rekalsitran melalui efek imunosupresif dan sitotoksik. Dosis 2,5 mg/kg/hari atau 50 mg dua kali sehari 7. Probiotik Pemberian probiotik perinatal akan menurunkan resiko DA pada anak di usia 2 tahun pertama. Laporan beberapa penelitian, menyatakan bahwa lactobacillus tidak hanya menurunkan resiko juga menurunkan keparahan DA. 1. Pengobatan topikal a. Hidrasi kulit (pelembab) Tujuannya adalah mengatasi xerosis (kulit kering) akibat berkurangnya ceramide dikulit yang menyebabkan hilangnya air melalui lapisan epidermis. Kekeringan ini

menyebabkan mikrofisura serta celah di kulit yang memungkinkan masuknya patogen, antigen, dan bahan iritan, sehingga menyebabkan timbulnya keinginan penderita untuk

menggaruk sehingga proses penyakit jadi menetap atau terjadi eksaserbasi penyakit. Pemakaian pelembab dilakukan beberapa kali sehari, setelah mandi, idealnya dalam bentuk ointment seperti petrolatum atau cream, juga hydrophilic ointment. Pada lesi DA yang berat dan kronis dapat dilakukan kompres (wet dressing). Hidrasi dengan berendam atau kompres meningkatkan penetrasi glukokortikoid topikal, kompres juga berfungsi sebagai penghalang yang efektif untuk melakukan garukan. b. Kortikosteroid topikal Kortikosteroid potensi lemah-sedang diberi pada bayi, daerah intertriginosa dan daerah genitalia. Kortikosteroid potensi sedang dapat diberi pada anak dan dewasa. Bila aktifitas penyakit telah terkontrol, kortikosteroid diaplikasikan intermiten, umumnya dua 22

kali seminggu, dikombinasikan dengan pelembab.

Sediaan ointment lebih poten, paling oklusif, paling sedikit mengandung pengawet. Selain itu sangat bagus sebagai penghantar obat dan kurang terjadi penguapan. Ointment harus dihindari pada lesi terbuka , basah, dan area lipatan. Sediaan cream lebih disukai

pada cuaca panas, ketat dan lembab karena mudah dioleskan, namun dapat mencetuskan dermatitis kontak alergika karena mengandung pengawet. Sedangkan solusio dapat

dipakai untuk kulit kepala atau daerah berambut lainnya. Frekuensi pengolesan disarankan dua kali sehari, bisa dikurangi misalnya area fleksural atau ditambah misalnya di tangan. Penelitian menunjukkan kortikosteroid aman dan efektif untuk terapi DA pada penggunaan hingga 4 minggu, namun kortikosteroid potensi kuat dianjurkan tidak digunakan lebih dari 2 minggu. c. Preparat Tar Mempunyai efek anti pruritus dan anti inflamasi pada kulit. Sediaan dalam bentuk salap hidrofilik misalnya mengandung liquor carbonat detergent 5%, 10% atau crude coal tar 1% - 5%. Digunakan untuk likenifikasi. d. Antibiotika topikal Penggunaan antibiotika anti Staphylococcus bermanfaat bagi penderita yang terinfeksi atau trerdapat kolonisasi S.aureus yang banyak. Dapat diberi sediaan antibiotik berupa mupirosin, ataupun asamdan natrium fusidat. Pemakaian bergantung pada luasnya lesi dan derajat keparahan infeksi.

Non medikamentosa (edukasi) a. Menghindarkan pemakaian bahan-bahan iritan (deterjen, alkohol, astringen, pemutih, dll). b. Menghindarkan suhu yang terlalu panas dan dingin, kelembaban tinggi. c. Menghindarkan aktifitas yang akan mengeluarkan banyak keringat. d. Menghindarkan makanan-makanan yang dicurigai dapat mencetuskan DA. e. Melakukan hal-hal yang mengurangi jumlah tungau debu rumah/agen infeksi, seperti menghindari penggunaan kapuk/karpet/mainan berbulu, menghindarkan stres emosi.

23

Gambar 10.

Anamnesis

: Sejak kapan muncul gejala ini pada kulit? Apakah gangguan pada kulit ini meluas atau timbul berulang? Bagaimana awal lesi ini muncul? 4. Apakah disertai rasa gatal? 5. Apakah ada yang mengalami penyakit seperti ini pada keluarga pasien? 6. Riwayat penyakit dahulu dan riwayat minum obat?

Status dermatologis

: Pada regio sakrum dan glutea tampak plak eritema berbatas tegas bentuk bulat, ukuran numular dan plakat, jumlah lesi multiple, distribusi regional dengan skuama keperakan yang kering di atasnya. Terdapat skuama yang sudah terkelupas dengan sedikit perdarahan di dasarnya.

Diagnosis klinis Diagnosis Banding

: Psoriasis vulgaris : 1. Dermatitis seboroik 2. Pityriasis rosea 3. Lichen planus 4. Dermatomyositis

Pemeriksaan Penunjang

: 1. bila lesi dikerok, akan tampak titik-titik pendarahan (Auspitz sign) 2. Pemeriksaan histopatologi

24

Penatalaksanaan

: 1. Terapi topikal seperti kortikosteroid, tar, anthralin, tazarotene, calcipotriene, macrolactams, asam salisilat. 2. Fototerapi dengan sinar ultraviolet. 3. Obat sistemik seperti methotrexate (MTX), acitretin, cyclosporin A(CsA), fumaric acid esters (FAEs), steroid sistemik (tidak dianjurkan sebagai terapi rutin). 4. Edukasi kepada pasien agar menghindari terjadinya trauma pada kulit yang akan memicu timbulnya lesi, menghindari stress, dan menghindari mengkonsumsi obat-obat tertentu yang dapat memperburuk psoriasis.

25