Anda di halaman 1dari 4

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH SISTEM PEMILIHAN UMUM

DISUSUN OLEH : NAMA : JAHYA P SIDAURUK NIM : 115030500111011

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

Analisa Mengenai Pemilihan Umum Walikota Kota Malang

Berdasarkan quickcount pengamatan sejumlah Lembaga Survey seperti LSI, Ave Media Research, LaPoRa FISIP Universitas Brawijaya menempatkan pasangan AJI (AntonSutiaji) menang/mengungguli pasangan lainnya. Dalam hal ini, dapat kita lihat adanya suatu gap antara normatif dengan praktek ataupun berdasarkan hasil quickcount sementara. Jika pada sebelumnya dapat dikatakan bahwa melalui survey ataupun simulasi yang dilakukan oleh beberapa media ataupun Lembaga Survey, tidak memfavoritkan pasangan AJI yang akan memenangkan pemilihan walikota ini. Secara potensial, menurut saya sendiri yang seharusnya memenangkan pemilihan/bersaing ketat dalam pemilihan walikota Malang adalah pasangan SR-MK dan pasangan DaDi yang akan bersaing secara ketat dalam pemilu tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari partai yang mengusung calon itu dan beberapa factor -faktor lainnya yang menurut saya menjadi alasan adalah contohnya pasangan SR-MK diusung oleh partai PDIP yang notabene merupakan partai yang lumayan kuat di Kota Malang dan juga melihat kapasitas dari Sri Rahayu yang juga merupakan anggota DPR-RI. Jika kita berbicara mengenai kapasitas dan kemampuannya, sudah tidak diragukan lagi. Secara umum, banyak pihak terlebih golongan yang mengikuti pemberitaan maupun seluk-beluk pemilu kota Malang melihat hasil ini sedikit tidak percaya bahkan terkejut melihat hasil quickcount sementara dimana kemenangan yang cukup mutlak dengan koleksi suara kurang lebih 47%, berbanding terbalik dengan beberapa prediksi sebelum diadakannya Pemilu. Bagi kalangan yang mengikuti perkembangan pemberitaan pemilihan walikota kota Malang, tentu saja hasil ini diluar dugaan mereka dan menganggap adanya suatu gap antara normatif (idealnya) dengan hasil/praktek yang terjadi di lapangan. Ada beberapa kejanggalan yang menurut tim pemenang DaDi bahwa terdapat sejumlah kejanggalan antara lain di Kedungkandang, Lowokwaru hingga kasus adanya beras berlogo DaDi. Padahal menurut mereka, timnya tidak pernah menyebarkan beras. Melihat beberapa kasus tersebut, kita dapat membuat beberapa spekulasi yang terjadi di lapangan seperti pada kasus beras berlogo DaDi tersebut. Boleh jadi beras tersebut yang menyebarkan adalah tim pemenang/tim sukses dari lawan yang sengaja ingin membuat suatu pandangan public bahwa tim pemenang DaDi melakukan suatu kecurangan dalam kampanye dengan membagi -bagikan beras. Hal itu bertujuan agar membuat suatu kesan yang buruk terhadap TS dari DaDi sehingga simpati masyarakat akan berkurang, atau malah adanya oknum ketiga yang dalam hal ini saya sebut

sebagai orang yang bertaruh/berjudi dalam Pemilihan Walikota. Agar pasangan yang dia pertaruhkan (bet) menang dalam Pemilihan tersebut, maka dia (pejudi) tersebut melakukan upaya-upaya agar dapat memenagkan perjudian itu. Dari beberapa upaya tersebut antara lain seperti kasus diatas dimana pihak tim pemenang tidak tahu menahu tentang adanya pemberian beras berlogo DaDi tersebut. Akan tetapi menurut analisa saya berdasarkan artikel yang saya baca pada harian Radar Malang Jumat 24 Mei 2013, menyebutkan bahwa keunggulan AJI di semua kecamatan menunjukkan besarnya harapan warga ingin terjadi perubahan di Kota Malang. Menurut Direktur Strategi LSI Agus Budi Prasetyiohadi, pencitraan Anton sangat meyakinkan warga sebagai pemimpin yang membela wong cilik, terlepas apakah nantinya akan tetap pada komitmennya tersebut. Selain itu, langkah pengenalan Anton sangat sefektif sehingga mengungguli pasangan calon lain. Memang di awal pencitraan, popularitas Anton kalah bersaing disbanding Bunda Heri a lebih taupun Sri Rahayu akan tetapi kesukaan warga terhadap Anton lebih tinggi. Berdasarkan analisis dari harian Radar Malang, saya juga mendapatkan suatu informasi bahwa menurut warga Malang, nama Abah Anton dikalangan masyarakat bawah, relatif sudah popular jauh sebelum mencalonkan diri sebagai calon walikota. Kebiasaan Anton memberangkatkan orang pergi berziarah ke makam para wali yang bahkan kebiasaan ini tetap dilaksananakan setelah dia resmi menjadi calon walikota. Bahkan Anton juga sering memberangkatkan orang yang tidak mampu berumroh. Kebiasaan itu menurut sumber yang saya baca dilakukan Anton bukan dalam hitungan satu atau dua tahun (artinya tidak instan) tetapi bertahun-tahun lamanya. Jika memang hal itu benar adanya, maka bias jadi untuk mencapai kursi Walikota, Anton sudah melakukan proses touch yang tidak instan. Artinya kebiasaan-kebiasaannya dalam berinteraksi social dengan rakyat, sudah dia lakukan jauh sebelum dia mencalonkan diri menjadi walikota. Ditambah lagi, dia juga sudah memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat. Mulai dari lewat partai mana dia akan maju, dengan siapa dia berpasangan, dan pendekatan yang seperti apa yang seharusnya dilakukan saat berkampanye. Dan hasilnya seperti yang kita lihat dari hasil quick qount yang memenangkan Abah Anton. Namun demikian kita masih harus menunggu hasil akhir yang pasti dari KPU Kota Malang. Jika memang dalam kemenangannya terdapat suatu kecurangan, jika memang memiliki bukti yang kuat, pastinya pasangan lain akan menuntut hal ini kepada MK. Akan tetapi jika nantinya yang menang memang Abah Anton, yang dapat kita lakukan adalah mendukung program-program kerja

yang telah disusun oleh Abah Anton demi kemajuan Kota Malang. Karena hasil pemilu seringkali tidak dapat diprediksi sebelum pemilu tersebut selesai dilaksanakan.