Anda di halaman 1dari 23

Seorang wanita berusia 39 tahun, ibu dari dua orang anak, mengeluh dalam beberapa bulan terakhir mengalami

penurunan berat badan, merasa lemas dan sering terbangun malam hari karena ingin buang air kecil. Ia juga mengeluh mulut kering dan sering rasa haus serta adanya keputihan pada alat kelamin. Temannya menganjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan ditemukan kadar gula puasa 158 mg/dl dan gula darah 2 jam sesudah makan 246 mg/dl.

Wanita, 39 tahun

Keluhan :

penurunan BB, lemas, terbangun malam hari ( buang air kecil ), mulut kering, merasa haus, adanya keputihan pada alat kelamin. Pem. Lab : Kadar glukosa puasa 158 mg/dl Gula darah 2 jam sesudah makan 246 mg/dl

Wanita 39 tahun, mengalami penurunan berat badan, sering merasa haus serta adanya keputihan pada alat kelamin dengan pemeriksaan laboratorium kadar glukosa puasa dan gula darah sesudah makan meningkat.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Anamnesis dan Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang dan interpretasi hasil laboratorium Diagnosis dan diagnosis banding Etiologi ( Faktor resiko ) dan Epidemiologi Manifestasi klinik Patofisiologi Penatalaksanaan Penanganan nutrisi Komplikasi, Prognosis, dan Edukasi

Identitas Umum

Keluhan utama
Apakah pasien sering merasa lapar , sering kencing ,

sering haus ? Apakah pasien sering merasa kesemutan ? Apakah pasien merasakan daya penglihatan mulai menurun ? Apakah pasien memiliki luka yang sulit untuk sembuh ?

Adakah riwayat obesitas , hipertensi atau sakit

jantung ? Terjadi penurunan berat badan yang drastis akhir-akhir ini ? Kaki pasien terasa bengkak dan merasa cepat lelah ? Saat selesai BAK terdapat semut pada urin setelah beberapa menit kemudian ? Apakah keluarga terdekat pasien seperti tante atau om , kakak , nenek menderita DM ?

Bila pasien pria , tanyakan ada disfungsi ereksi ? Bila pasien wanita , tanyakan ada pruritus vulva ?

Vital sign ( tanda vital ) : tekanan darah , nadi ,

frekuensi napas , suhu. Pemeriksaan Antropometri : Tinggi Badan , Berat Badan , Lingkar Perut , Lingkar pinggang. Tanda-tanda neuropati , sensitivitas kulit , pemeriksaan mata ( visus , lensa mata dan retina ) , rongga mulut dan keadaan kaki .

Pemeriksaan kadar gula darah

Hemoglobin glikosilat ( HbA1c )


Keton Mikroalbumin

Gas Darah dan Elektrolit


Asam Laktat Darah Lipid Darah

C-peptidase

Kadar Normal
Kadar gula darah puasa Gula darah 2 jam sesudah makan ( OGTT ) < 200 mg/dl

< 110 mg/dl

Diagnosis : DIABETES MELLITUS TIPE 2

Diagnosis banding : -

Ditandai dengan adanya resistensi insulin.

Adanya disfungsi sel pankreas.


Faktor resiko 1.

Faktor genetik 2. Faktor lingkungan

Pravalensi DM pada populasi dewasa di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sebesar 35 % dalam dua dasawarsa dan menjakiti 300juta orang dewasa pada tahun 2025. Bagian terbesar peningkatan angka pravalensi ini akan terjadi di negara-negara berkembang. Untuk Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. ( Buku Gizi Kesehatan Masyarakat EGC hal. 407 )

Penurunan berat badan Poliuria

Polidipsi
Polifagi Gejala lain yang mungkin dikeluhkan pasien

adalah kesemutan , gatal , impotensi pada pria dan pruritus vulva pada wanita.

Intervensi Farmakologis

1. Terapi insulin 2. Obat Antidiabetik Oral 3. Obat Hiperglikemik

Menurut terapi gizi dan diet, terdapat 2 macam penanganan nutrisi yaitu :

Nutrisi preventif :
-Pencegahan obesitas pada pasien berisiko diabetes -Asupan serat pangan 25gr/1000 kalori -Menghindari asupan kalori yang berlebihan -Olahraga teratur

Nutrisi kuratif :
-Mengendalikan kadar glukosa dan lemak darah -Mendapatkan & mempertahankan BB normal/ideal -Menghasilkan status gizi yang adekuat -Menghasilkan kenugaran dan rasa nyaman tubuh

Penyakit Jantung dan Pembuluh darah

Kerusakan saraf ( neuropati )


Kerusakan ginjal Kerusakan mata

Kerusakan kaki
Osteoporosis Gangguan pendengaran

Infeksi kulit dan mulut.

Tergantung dari pola hidup serta kepatuhan

pasien mengkonsumsi obat secara rutin . Bila penanganannya baik prognosis baik, jika tidak prognosis buruk .

Memberikan nasehat dan saran kepada keluarga

pasien agar supaya dapat memberikan semangat kepada pasien ( penderita ) untuk tidak menyerah terhadap penyakit DM . Mengingatkan pasien untuk minum obat teratur Mengatur Pola hidup (lifestyle) seperti : 1. Pengaturan Diet 2. Olahraga teratur 3. Menjaga kebersihan diri 4. Menghindari luka pada kulit ( jangan memakai sepatu yang sempit ) Jangan stress

Wanita 39 tahun didiagnosis diabetes mellitus tipe 2,

dengan prognosis baik jika dilakukan penanganan yang benar.