Anda di halaman 1dari 13

Tablet Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet inti adalah tablet inti yang khusus untuk disalut, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan tujuan tertentu. Tablet salut film adalah tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna (Depkes RI, 1979). Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Supaya dapat menahan bantingan selama proses penyalutan tablet inti harus memiliki resistensi dan kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut yang berputar terus menerus selama proses berlangsung. Kekerasan yang cukup juga akan berperanan memperlambat penyalut pada waktu dilakukan penyalutan dan sebaiknya permukaan tablet berbentuk. Bentuk tablet inti yang ideal untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat atau bikonvekoval. Tinggi antara permukaan tablet sedapat mungkin agak rendah. Pada bentuk ini sesudah dibasahi dengan cairan penyalut, kemungkinan hanya terjadi lengketan pada satu titik tertentu saja dari sisi tablet dan perlekatan ini hanya akan berlangsung selama periode waktu relative singkat karena segera terlepas lagi pada waktu terjadi gerakan panci penyalut. Kelebihan salut film dibanding dengan salut gula ialah lebih tahan terhadap kerusakan akibat goresan, bahan yang dibutuhkan lebih sedikit dan waktu pembuatannya lebih sedikit (Ansel, 1989). Beberapa keuntungan penggunaan teknologi film coating yaitu : (1) waktu proses yang lebih cepat (2) pengurangan luas area produksi (3) peningkatan berat yang minimum

(4) otomatisasi, seiring dengan perkembangan teknologi proses penyalutan lapis tipis dapat diotomatisasi (Basri, 2009). Dalam penyalutan lapis film pada tablet biasanya mengandung jenis-jenis bahan seperti polimer (pembentukan selaput), plasticizer, surfaktan, pewarna, pemanis/perasa/pengharum, pengkilap, dan pelarut. Bahan polimer yang digunakan adalah hidroksipropil metilselulosa (HPMC). Polimer ini merupakan suatu bahan pilihan untuk sistem suspensi udara dan sistem panci penyalut dengan penyemprotan (Lachman, et. al., 1994). Jika hanya menggunakan polimer saja akan dihasilkan lapisan film yang rapuh, mudah pecah, dan mudah terkelupas, untuk memperbaiki hal tersebut, diperlukan plasticizer untuk mempertinggi keluwesan dan fleksibilitas dari lapisan tipis penyalut tersebut (Basri, 2009). Tablet inti (core) yang akan disalut haruslah memenuhi persyaratan tertentu, karena selama proses penyalutan akan terjadi gerakan dan bantingan tablet inti secara terus menerus selama beberapa waktu. Kerapuhan tablet inti harus sekecil mungkin. Kerapuhan yang tinggi akan menyebabkan terbentuknya partikel halus dan kasar yang akan dapat menempel pada permukaan tablet selama proses penyalutan, tempelan tersebut dengan sendirinya akan menyebabkan cacat pada permukaan tablet yang disalut. Tablet inti harus hancur dengan cepat di dalam lambung atau usus sesudah penyalut terlarut (untuk tablet yang entero soluble). Pada umumnya tablet inti yang disalut akan hancur lebih lama jika dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut. Perubahan waktu hancur tersebut disebabkan karena pada waktu penyalutan, pori pada permukaan tablet ditutupi oleh larutan penyalut sehingga akan memperlambat penetrasi cairan pada waktu hancur (Basri, 2009). Persyaratan Tablet yang Sudah Disalut Tablet yang disalut haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan, diantaranya: Permukaan tablet harus benar-benar licin

Lapisan penyalut harus stabil dan tidak cacat Pewarnaan yang homogen pada lapisan tipis yang berwarna dan tidak boleh terjadi migrasi zat warna ke dalam inti tablet

Lapisan penyalut tidak boleh menunjukkan sifat mudah pecah dan retak Penyalutan harus dapat melindungi tablet inti terhadap pengaruh udara kelembaban dan cahaya.

Penyalut harus mempunyai rasa yang menyenangkan dan dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari tablet inti

Pada umumnya lapisan penyalut harus melarut dalam media cairan lambung dengan waktu sesingkat mungkin

Penyalutan yang digunakan tidak boleh merusak atau mengurangi aktivitas bahan obat (Martin, et. al., 1993).

Prinsip-Prinsip Penyalutan Tablet Pemberian salut pada tablet yang merupakan langkah tambahan dalam proses pembuatan dan menaikkan biaya produksi. Dengan demikian, keputusan untuk menyalut tablet biasanya didasarkan atas salah satu atau beberapa tujuan berikut ini: 1. Untuk menutupi rasa, bau, atau warna obat. 2. Untuk memberikan perlindungan fisik dan kimia pada obat. 3. Untuk mengendalikan penglepasan obat dari tablet. 4. Untuk melindungi obat dari suasana asam lambung, dengan menyalutnya dengan salut enterik tahan asam. 5. Untuk menggabungkan obat lain atau membantu formula dalam penyalutan untuk menghindari tidak tercampurnya obat secara kimia atau untuk menjamin terselenggaranya penglepasan obat secara berurutan. 6. Untuk memperbaiki penampilan obat dengan menggunakan warna khusus dan pencetakan kontras (Barkley, et.al., 2006).

Proses Penyalutan Proses penyalutan tablet terbagi atas beberapa tahap yaitu: protective, gum syrup, built up syrup, smoothing syrup, colouring syrup, dan polishing. Lapisan penutup merupakan tahap pemberian lapisan pelindung agar air dari larutan berikutnya tidak masuk ke dalam tablet inti. Lapisan elastis merupakan lapisan dasar dari salut gula yang bertujuan untuk melapisi gum syrup agar tablet tidak retak selama proses atau selama penyimpanan. Bahan-bahan yang akan dituang diaduk lebih dahulu, kemudian masukkan CaCO3 secukupnya, aduk kembali sampai semua serbuk melapisi tablet baru kemudian dialirkan udara panas. Built up syrup merupakan proses pemberian lapisan sebenarnya dari salut gula, sedangkan smoothing syrup bertujuan untuk membuat permukaan tablet licin sehingga zat warna dapat melapisi tablet secara merata. Colouring bertujuan untuk memberikan warna pada permukaan tablet dan polishing merupakan proses pengkilatan permukaan tablet sehingga menjadi mengkilat (Asmarini, 2007). Penyalutan dengan Lapisan Tipis Metode Panci Tuang Metode ini cukup lambat, dan sangat tergantung pada keterampilan serta teknik dari operator untuk mengimbangi tahap pembuatan produk yang dapat diterima. Tablet yang akan dilapisi dengan lapisan tipis melalui proses panci tuang hampir selalu memerlukan tahap tambahan untuk pengeringan dalam rangka membuang pelarut laten. Penyalut lapisan tipis yang menggunakan air sebagai bahan dasar tidak cocok dengan metode pemakaian ini, karena keadaan setempat yang terlalu basah yang dijumpai pada proses panci tuang akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari erosi permukaan sampai ketidakstabilan produk yang disebabkan tingginya tingkat kelembapan laten dalam inti tablet (Lachman, et.al., 1994). Metode Panci Semprot

Dalam rangka memperbaiki efisiensi proses pelapisan tipis digunakan alat penyemprot. Penyemprotan memeberikan banyak kegunaan terhadap proses tersebut, dan memungkinkan pengawasan otomatis dari pemakaian cairan. Corak penyemprot dipilih untuk memberikan suatu pita kontinu melintasi permukaan tumpukan tablet (Lachman, et.al., 1994). Variabel Proses Variabel-variabel yang perlu dikendalikan dalam proses penyalutan lapisan tipis menggunakan cara panci penyemprot adalah: 1. Variabel Panci rancangan panci/pengaturan pergerakan cairan, kecepatan, muatan panci.

2. Udara Proses kualitas udara, temperature, kecepatan aliran udara/volume/keseimbangan.

3. Variabel Penyemprot laju penyemprotan, derajat atomisasi, pola penyemprotan, jarak mulut pipa penyemprot ke permukaan tumpukan tablet (Lachman, et.al., 1994). Proses Fluidized Bed Sistem fluidized bed telah berhasil diterapkan dengan baik untuk penyalutan cepat dari tablet, granul dan kapsul. Karena digunakan udara untuk menggerakkan tablet di dalam proses penyalutan, maka ada beberapa pengawasan proses yang khas bagi penyalut suspensi udara. Rancangan ruang, bersamaan dengan udara proses, mengendalikan corak fluidasi. Bentuk, ukuran dan kerapatan tablet, serta

beban kuantitas mempengaruhi kemampuan masa tablet untuk mengalami fluidasi (Lachman, et.al., 1994). Larutan selaput penyalut yang dapat menghasilkan penyalutan pada tablet biasanya mengandung jenis-jenis bahan sebagai berikut: 1. Pembentukan selaput : mampu menghasilkan lapisan tipis yang halus, dapat diproduksi kembali di bawah kondisi penyalutan biasa dan dapat untuk tablet dengan berbagai bentuk. Contoh: selulosa asetat ftalat. 2. Bahan logam campuran : memungkinkan kelarutan dalam air atau permeabilitas air ke dalam selaput agar pasti dapat ditembus oleh cairan tubuh dan kemungkinan ketersediaan terapeutik obatnya. 3. Plasticizer : untuk mendapatkan fleksibilitas dan elastisitas dari penyalutan yang berarti memperpanjang umur tablet. Contoh: minyak jarak. 4. Surfaktan : untuk meningkatkan daya penyebaran film selama penggunaanya. Contoh: derivat polioksietilen sorbitan. 5. Opaquant dan pewarna : membuat penampilan tablet menjadi manis dank has. Contoh: opaquant, titandioksid; pewarna, zat warna F.D dan C atau zat warna D dan C. 6. Pemanis, perasa, dan pengharum : untuk meningkatkan diterimanya tablet oleh pasien. Contoh: pemanis, sakarin; perasa dan pengharum, vanili. 7. Pengkilap : memungkinkan berkilaunya tablet tanpa memisahkan dari pekerjaan pengkilapan. Contoh: lilin tawon. 8. Pelarut yang mudah menguap : memungkinkan penyebaran komponenkomponen lain di sekitar tablet sambil mempercepat penguapan agar pekerjaan lebih efektif dan lebih cepat. Contoh: campuran alkohol aseton (Lachman, et.al., 1994).

Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Penyalutan Lapis Tipis

Suatu bahan penyalut lapisan tipis yang ideal harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1. Larut dalam pelarut yang digunakan untuk persiapan penyalutan. 2. Larut dalam keadaan tertentu yang dimaksud, misalnya kelarutan yang mudah dalam air, lambat larut dalam air atau kelarutan yang tergantung pada pH (lapisan enterik). 3. Kemampuan untuk menghasilkan produk yang tampak anggun. 4. Stabilitas dalam keadaan panas, cahaya, kelembapan, udara dan substrat yang akan disalut. Sifat-sifat lapisan tipis harus tidak berubah dengan berlalunya waktu. 5. Tidak memiliki warna, rasa ataupun bau. 6. Serasi dengan aditif larutan penyalut pada umumnya. 7. Tidak toksis, tidak mempunyai kegiatan farmakologis dan mudah dipakai ke partikel atau tablet. 8. Tahan retakan dan dilengkapi dengan pelindung obat terhadap kelembapan, cahaya dan bau bila perlu. 9. Tidak ada jembatan ataupun pengisian permukaan tablet yang tidak ditatah oleh bahan pembentuk lapisan. 10. Prosedur pencetakan huruf/tanda/merk mudah dilakukan pada peralatan berkecepatan tinggi (Saifullah, 2007). Pembentuk Lapisan Tipis a. Bahan Nonenterik, contoh : Hidroksipropil metil selulosa, Metil hidroksietilselulosa, Etilselulosa, Hidroksipropilselulosa, Povidon, Natrium karboksimetilselulosa, Polietilen glikol (Saifullah, 2007).

b. Bahan Enterik

Bahan penyalut enterik dari pil dan tablet yang dicetak sdah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Beberapa alasan penting untuk bahan penyalut enterik adalah sebagai berikut : Untuk melindungi obat-obat yang tidak tahan asam terhadap cairan lambung, misalnya enzim-enzim dan beberapa antibiotik tertentu. Untuk mencegah nyeri pada lambung atau mual karena iritasi dari suatu bahan obat, misalnya Natrium salisilat. Untuk melepaskan obat agar didapat efek local di dalam uus, seperti antiseptik usus dapat melepaskan bentuk obatnya hanya di usus dan menghindari penyerapan sistemik dalam lambung. Untuk melepaskan obat-obat yang diserap secara optimal di dalam usus halus sebagai penyerapan utamanya. Untuk memberikan suatu komponen yang penglepasannya ditunda sebagai aksi ulang dari tablet (Saifullah, 2007). Suatu bahan penyalut enterik yang baik harus memilki sifat-sifat sebagai berikut : 1. Tahan terhadap cairan lambung 2. Rentan terhadap cairan usus dan permeable terhadap cairan usus 3. Dapat bercampur dengan sebagian besar komponen larutan penyalut dan bahan dasar obat 4. Stabil dalam bentuk tunggalnya atau di dalam larutan penyalut. Lapisan tipis ini tidak mudah berubah dalam penyimpanan 5. Membentuk lapisan tipis (terus-menerus) 6. Tidak toksik 7. Biayanya murah 8. Mudah dipakai tanpa harus menggunakan alat khusus 9. Dapat dengan mudah dicetak, atau lapisan tipis dapat digunakan pada tablet yang tidak ditatah (Saifullah, 2007).

Pemeriksaan waktu hancur tablet yang disalut enterik, menurut United State Pharmacopeia (USP), mengharuskan tablet tahan terhadap pengadukan dalam larutan pemeriksaan cairan lambung buatan pada temperatu 37 2
o

C (tanpa lempengan).

Setelah satu jam terpapar dalam cairan lambung batan tersebut, tablet tidak memperhatikan bukti adanya daya hancur, keretakan atau kerapuhan. Kemudian ditambahkan suatu lempengan pada setiap tabung dan pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan cairan usus buatan yang dipertahankan pada temperatur 37 2oC sebagai cairan pencelup, untuk satu metode pemeriksaan selama 2 jam atau dalam batas waktu yang tertera dalam monografinya. Jika seluruh tablet sudah hancur, pemeriksaan tablet sudah selesai. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur secara sempurna, pemeriksaan diulangi dengan menggunakan 12 tablet tambahan. Pemeriksaan daya hancur tablet dinyatakan selesai bila 16 dari 18 tablet dapat dihancurkan (Swarbrick & James, 1991).

Macam-macam Penyalutan Penyalutan tablet dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Tablet bersalut gula (sugar coating) Tablet ini sering disebut dragee. Penyalutan dilakukan dengan larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan panci untuk mengkilapkan tablet diputar dengan motor penggerak yang dilengkapi dengan alat pengisap dan sistem penhembus dengan udara panas (blower). Proses pembuatan tablet bersalut gula adalah sebagai berikut: o Subcoating (penyalutan dasar), yaitu proses pemberian larutan dasar dan pemberian serbuk salut apabila sebagian tablet kering o Smoothing (pelicinan), yaitu proses pembasahan ganti berganti dengan sirop pelicin dan pengeringan dari salut tablet menjadi bulat dan licin.

o Coloring (pewarnaan), dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampurkan pada sirop pelicin. o Finishing, yaitu proses pengeringan salut sirop yang terakhir dengan cara perlahan-lahan sehingga memperoleh hasil akhir yang licin. o Polishing (pengilapan), dilakukan dengan menggunakan lapis tipis lilin yang licin (Aulton, 1988). 2. Tablet bersalut kempa (press coating) Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperti berikut, yaitu granul halus dan kering dikempa di sekitar tablet inti, sering disebut tablet dalam tablet (Aulton, 1988). 3. Tablet bersalut selaput (film coating) Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet. Sebagai zat penyalut digunakan Na CMC, Asetatftalat selulosa, Hidroksi etil selulosa dengan bermacam-macam

perbandingan dalam campuran PEG dan Polivinilpirolidon dalam pelarut alkohol atau terdispersi dalam Isopropanol dengan tambahan Span dan Tween (Aulton, 1988). 4. Tablet bersalut enterik (enteric coating) Adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang relatif tidak larut dalam asam lambung, tetapi larut dalam usus halus. Penyalutan enterik dimaksudkan: a. Agar obat tidak mengiritasi perut b. Dikehendaki agar obat berkhasiat dalam usus seperti antelmintika c. Menghindari obat menjadi inaktif dalam cairan lambung, yaitu karena pH rendah atau dirusak enzim digestif dalam perut. Sebagai bahan salut enterik adalah campuran serbuk lilin karnauba atau asam stearat dan serabut tumbuh-tumbuhan dari agar-agar atau kulit pohon elm. Bila tablet ditelan, serabut tersebut akan menghisap air, mengembang dan terjadi

proses penghancuran. Dengan mengatur ratio serabut tumbuh-tumbuhan dan mengubah tebalnya salut, waktu hancur yang diperlukan dapat dikontrol (Aulton, 1988). Masalah yang Timbul dalam Penyalutan 1. Pengupilan (picking) adalah pelepasan fragmen lapis tipis penyalut dari permukaan tablet yang disalut. Penyebabnya adalah : Pengeringan yang tidak cukup baik Penyemprotan yang dilakukan berlebihan

Pencegahannya : Dengan menurunkan kecepatan penyemprotan Meningkatkan suhu pengeringan, menurunkan konsentrasi larutan penyalut Penambahan gula lebih dari 10% dari bobot polimer dalam larutan.

2. Keretakan : terlihat selama penyalutan atau penyimpanan tablet yang sudah disalut. Penyebabnya : Tegangan di dalam lapisan penyalut lebih besar dari rentang dan adhesi dari larutan penyalut. Pencegahannya : Penambahan plasticizer lebih dari 20% berat HPMC Menggunakan HPMC viskositas tinggi Memperbaiki kerapuhan tablet inti

3. Pembentukan jembatan : hal ini terjadi karena pengaruh adhesi pada permukaan tablet yang bergaris atau ada huruf logo yang terletak pada permukaan. Pencegahan dengan penambahan PEG 6000 dalam jumlah 20-30% dari berat HPMC.

4. Burik (molting) : cacat dimana warna tidak terkontribusi secara homogen pada permukaan tablet. Pencegahannya dengan mendispersikan zat warna secara homogen dalam larutan penyalut. 5. Pengelupasan (orange peel) merupakan tahap lanjut dari tahap pengupilan. Penyebab : Formula larutan penyalut yang tidak sesuai Operasi penyalutan yang tidak baik Terjadi penetesan larutan dari alat penyemprot

Pencegahan : Menurunkan konsentrasi polimer Menurunkan kecepatan penyemprotan

6. Variasi warna antar tablet hal ini terjadi karena variasi antar tablet dari sejumlah tablet yang disalut. Pencegahan : Pengaturan formulasi larutan penyalut Digunakan penyalutan dengan prinsip fluidized bed (Aulton, 1988).

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Penerjemah: Farida Ibrahim. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta. Asmarini. 2007. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker. Available online at http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14469/1/063202003(2).pdf [diakses pada 5 Mei 2013]. Aulton, M, E. 1988. Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design. Churchill Livingstone Inc. New York.

Barkley, A., Levine, S., Signorino, C. 2006. Tablet Coating. Available online at http://online1.ispcorp.com/enUS/Media/Articles/The%20Evolution%20and% 20Evaluation%20of%20Tablet%20Coatings.pdf [diakses pada 5 Mei 2013]. Basri. 2009. Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers) dengan Bahan Penyalut Hidroksipropil Metilselulosa dan Polietilen Glikol 400. Available online at etd.eprints.ums.ac.id/5865/ [diakses pada 5 Mei 2013]. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Lachman, L., Lieberman, H. A., & Joseph, L. K. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga. Penerjemah: Siti Suyatmi. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta. Martin, A., James, S., & Arthur, C. 1993. Farmasi Fisik. UI-Press. Jakarta. Saifullah. 2007. Tablet Salut. Available online at

http://www.akfar.ac.id/index.php?option=com_phocadownload&view=catego ry&id=4:tablet&download=7:tablet-khusus&Itemid=70 [diakses pada 5 Mei 2013]. Swarbrick, J., James, C.B.1991. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Marcel Dekker. USA.