Anda di halaman 1dari 28

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberkati kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah kami gunakan sebagai data informasi dan fakta pada makalah kami ini. Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal, oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna, begitu pula dengan makalah yang telah kami selesaikan ini. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan dan juga kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah kami di masa datang. Sehingga semoga karya tulis berikutnya dan makalah lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik. Dengan menyelesaikan makalah ini kami mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari karya ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat membangun rasa nasionalisme dan kesadaran hukum di Indonesia.

Penyusun

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................. 2 Analisis Laporan KEuangan Daerah ................................................................ 2 Pendapatan dan Belanja .................................................................................... 8 Persediaan dan Investasi ................................................................................... 16 Analisis Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian ............................................. 17 Lampiran Data .................................................................................................. 22 BAB III PENUTUP KESIMPULAN ................................................................................................ 25 SARAN ............................................................................................................ 25 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 26

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

BAB I PENDAHULUAN

Dalam literatur akuntansi, keuangan, dan pemeriksaan akuntan, kalau kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor public dan sektor bisnis, terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit. Lebih jauh lagi, kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis laporan keuangan sektor publik, maka akan sangat sulit kita memperolehnya atau bahkan tidak akan mendapatkannya, karena memang sampai saat ini belum ada. Tentang analisis laporan keuangan, memang telah lama banyak dilakukan oleh pengguna laporan keuangan, tetapi terbatas pada sektor bisnis. Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, seperti investor, kreditor, analis keuangan, telah banyak menerapkan metode-metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Jadi, pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat. Di sisi lain, analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hamper tidak pernah dilakukan. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui

pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah, itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang terbatas. Misalnya, bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan daerah, kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/ anggarannya, atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. Untuk menilai pelaksanaan belanja modal misalnya, kita dapat membandingkan realisasi belanja modal dengan pagunya, atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi total belanja. Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi, yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundangundangan dalam bidang keuangan negara/daerah, maka dengan sendirinya terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah.

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran, tetapi juga meliputi Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. Dengan bertambahnya komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut, seyogyanya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah, agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah, yang pada akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang.

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

BAB II PEMBAHASAN

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DAERAH Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar. Sedangkan pada sektor publik, khususnya pada lingkungan pemerintah daerah, adalah sebaliknya. Penggunaannya masih sangat terbatas, dengan fokus pada laporan realisasi anggaran, karena memang belum didukung dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang memadai. Oleh karena itu, belum ada nama dan kaidah pengukuran yang seragam. Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan pada pemerintah daerah, khususnya analisis perbandingan atau rasio, bila dibandingkan dengan sektor bisnis, Widodo (2007) mengemukakan penyebabnya adalah: Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000), yaitu besarnya masing-masing komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). Karena disusun dengan pendekatan secara incremental, maka sering kali mengabaikan rasio keuangan dalam APBD, seperti adanya prinsip yang penting pendapatan naik meskipun untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien. Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban

pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target, sehingga

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi ataupun struktur APBD-nya.

A. Pengertian Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan suatu entitas tertentu. Untuk itu, seseorang yang melakukan analisis atas laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan keuangan. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata, ketidakpastian, pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. Bahkan melalui analisis laporan keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses akuntansi. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya menjadi lebih akurat.

Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas seperti di bawah ini. Fokus pada laporan keuangan utama Sesuai pembahasan dalam modul ini, maka fokusnya adalah pada Laporan Realisasi APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Memuat analisis hubungan Dalam hal ini, analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos dalam satu laporan keuangan, hubungan pos-pos antar laporan keuangan, serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut. Memuat implikasi dan prediksi

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek keuangan di masa mendatang. Dipengaruhi oleh kemampuan analis Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama, kemungkinan masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda, tergantung pada kemampuan atau ketajaman masingmasing analis.

Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan di atas, maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. Dengan demikian, akurasi hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. Oleh karena itu, hasil analisis laporan keuangan akan lebih baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah daerah yang sudah berjalan dengan baik, dan laporan keuangan tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

B. Tujuan dan Manfaat Telah kita bahas di bab sebelumnya, bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum, yang berarti bahwa laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua kelompok pengguna laporan keuangan. Oleh sebab itu, jika pengguna laporan keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang tersedia, maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut. Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya, tidak ada informasi yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat kemampuan pemda membayar kewajibannya, maka kita perlu

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

melakukan analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut. Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari suatu entitas. Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk hal-hal berikut ini. Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahanperubahannya Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan programprogramnya. Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita formulasikan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan, antara lain sebagai berikut: Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang memang sudah tersedia pada laporan keuangan. Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam laporan keuangan Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan. Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar laporan, yang dapat digunakan untuk prediksi, rating, dan lain sebagainya.

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang. Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu, saat ini, dan perkiraan di masa yang akan datang. Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas, sehingga dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas.

Pada sub bab terakhir ini, yang sekaligus merupakan sub topik terakhir dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan), akan dikemukakan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga, yang merupakan bagian terakhir dari modul ini. Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

a.

Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar pos, baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. Tujuan analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angkaangka laporan keuangan yang disajikan. Misalnya, adanya belanja modal di laporan realisasi APBD, semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. Untuk itu, harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan.

b. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode. Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. Tujuan analisis ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah daerah. Misalnya, rasio realisasi pajak daerah, diperoleh dari perhitungan

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

atau

perbandingan

antara

realisasi

pajak

daerah

dengan

anggarannya atau target pajak daerah. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka lebih besar dari 1, berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik. Semakin besar angka rasionya, maka semakin baik pula kinerja dari pencapaian pajak daerah tersebut.

c.

Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang sama untuk periode lebih dari dua tahun, sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang akan datang, diperkirakan berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai saat dilakukannya analisis kecenderungan.

C. Pendapatan dan Belanja

Tabel 1.1. APBD dan LRA Kabupaten Pemalang 2009 2011

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

a. Analisis Hubungan / Kualitatif

Tabel 1.2. Hubungan Pos Belanja dan Pembiayaan Kabupaten Pemalang 2009 2011

Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos didalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu dengan lainnya. Contoh sederhana, jumlah ekuitas dana lancar, di dalam neraca, harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Demikian halnya, beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai kaitan satu dengan lainnya, misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. Contoh lain, jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas, harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi anggaran. Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan. Oleh karena itu, jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas, dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud, dikatakan ia / mereka melakukan analisis rasio keuangan.

Hubungan antar pos APBD dan LRA antara lain sebagai berikut: i. Bila anggaran direncanakan defisit (negatif), maka jumlah pembiayaan neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan
Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan. ii. Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya

diijinkan bila anggaran direncanakan surplus, dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. Jumlah pembiayaan neto negative berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan.

b. Analisis Komparatif / Kualitatif Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan. Oleh karena itu, jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas, dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud, dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan. Aggaran vs. Realisasi

Tabel 1.3. Rasio Realisasi

Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing (kolom 1). Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat realisasi tahunan,

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan dan semesteran.

i.

Realisasi Pendapatan
Rasio Realisasi Pendapatan 140% 120% 100% 80% 2009 2010 2011 104% 117% 125%

Harus dicermati bahwa target pendapatan T.A. 2010 (setelah perubahan anggaran) idealnya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T.A. 2009.

ii.

Realisasi Belanja

150% 100% 50% 0%

Rasio Realisasi Belanja dan Transfer


117% 94% 126%

2009

2010

2011

Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya. Analisis rasio realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%, hal ini

menunjukkan ketaatan pada peraturan. Sementara rata-rata tingkat penyerapan adalah lebih dari 90%, hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang optimal. Harus dicermati bahwa persentase tingkat

penyerapan dana idealnya selaras dengan tingkat

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan). Sebagai contoh, realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal) adalah 100%, akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%. Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya kenapa hal tersebut terjadi. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%, berarti terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya.

iii.

Surplus (Defisit)
Rasio Realisasi Surplus / Defisit 200% 150% 100% 50% 0% 15% 2009 2010 2011 143% 186%

Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda yang surplus, karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda yang surplus. Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran, tetapi perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja. Dengan demikian, tidak ada larangan atau bukan hal yang salah bila realisasi defisit melebihi karena 100% dari yang realisasi

direncanakan

(misal

anjloknya

pendapatan pajak dari yang ditargetkan), sepanjang


Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut. iv. Realisasi Pembiayaan
150% 100% 50% 0% 2009 2010 2011 Rasio Realisasi Pembiayaan 121% 99% 78% 48% 129% 85%
PENERIMA AN PEMBIAYA AN DAERAH
PENGELUAR AN PEMBIAYAA N DAERAH

Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati. Sedangkan anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui, sepanjang tidak ada peraturan khusus yang melarangnya.

Realisasi Sekarang vs. Tahun Lalu


Rasio Realisasi Pembiayaan 200% 150% 100% 50% 0% -50% -100% 2009 (Tahun Dasar) 2010 2011 -49% 100% 100% 117% 117% 48% 46%
BELANJA

29%

PENDAPAT AN

Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio pertumbuhan. Sebagai contoh pendapatan daerah TA. 2011 tumbuh 17% (117%-100%). Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung naik dan jumlahnya signifikan

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

seperti pajak daerah, retribusi daerah, dana alokasi umum (DAU). Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini turun signifikan, misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian), maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.

c. Analisis Kecenderungan / Tren Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang Analisis Tren dengan Tahun Dasar Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk

mengetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut.

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

300% 250% 200% 150% 100% 50% 0% 2009 (Tahun Dasar)

Analisis Tren Tahun Dasar 266%

100%

143% 117% 117%

148%

146%

PENDAP ATAN BELANJ A

29% 2010

51% 2011

Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun ke tahun dengan membandingkan kecenderungan

(persentase dari tahun dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Analisis Tren dengan Tahun Bergerak Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas atau dengan bantuan penggaris. Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-perubahan yang terjadi dalam

beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang. Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah: Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan keuangan. Membutuhkan time series data selama beberapa tahun. Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan)

angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan.
Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Analisis kecenderungan sederhana, baik dengan tahun dasar maupun dengan bergerak, membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Sedangkan analisis kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik.

D. Persediaan dan Investasi

1. Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana
Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah.

2. Aset Lancar Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan.

3. Aset Non-Lancar Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang, dan asset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, asset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.

4. Investasi Jangka Panjang Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Investasi

E. Analisis Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.

Pendapatan (a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/ Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. (b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. (c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. (d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari: Pendapatan Asli Daerah: Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, Lain-lain PAD yang Sah. Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan: Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Lain-lain Pendapatan yang Sah: Dana Darurat, Hibah

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Belanja (a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancer dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. (b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. (c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari: Belanja Operasi: Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Modal: Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Belanja Tak Terduga

Pembiayaan (a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. (b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari:

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Penerimaan Pembiayaan: Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Penerimaan Pembayaran Piutang Pengeluaran Pembiayaan: Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman Pemberian Pinjaman

Pengukuran Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1) Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Bila tidak, dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. 2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Oleh karena itu, total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total asset dengan kewajiban. 3) Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di kurangi kewajiban jangka pendek. 4) Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen, askes, PPh dan PPn). 5) Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan: Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan. Oleh karena itu, jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Penyajian Laporan Neraca Saldo

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

LAMPIRAN

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kabupaten Pemalang masih perlu meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari APBD untuk membangun kabupaten tersebut agar dapat mengimbangi kabupaten tetangganya yaitu Tegal dan Pekalongan. Sekalipun data grafik meunjukkan peningkatan pendapatan dan belanja Pemerintah Daerah, tapi efek secara nyatanya tidak begitu terasa.Investasi pada sektor riil perlu ditingkatkan seperti UKM Batik khas Pemalang. Pembangunan infrastuktur yang lambat sangat disayangkan mengingat tidak sedikit yang dianggarkan.

B. Saran Investasi di bidang parawisata perlu ditingkatkan. Perlu diadakan transparansi laporan keuangan.

Page ii

Akuntansi Pemerintah

Analisis Laporan Kuangan Kabupaten Pemalang T/A 2009 2011

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta. Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Keuangan Daerah, edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik. 2007. Analisis Laporan Keuangan Daerah. Jakarta : STAN.

Page ii