Anda di halaman 1dari 8

Fazlur Rahman: Islam dan Modernitas

I.

Pendahuluan Diskursus seputar Islam dan modernitas setidaknya berangkat dari dua postulat, yaitu Islam sebagai agama universal di satu sisi dan perubahan sosial di sisi lain. Pertama, Islam sebagai agama universal dipahami sebagai agama yang melengkapi ajaran-ajaran agama samawi sebelumnya dan relevan hingga akhir zaman. Kedua, perubahan sosial terkait perubahan yang telah terjadi di masyarakat sebagai tanggapan terhadap kebutuhankebutuhan sosial.1 Pada tataran ini, keuniversalitas Islam, sebagai pandangan sekaligus ajaran hidup, dihadapkan pada realitas sejarah berupa kemunduran yang dialami oleh dunia Islam di era pra-modern dan modern. Realitas ini menggambarkan bahwa dalam perkembangan terakhir etos Islam gagal diinternalisasi oleh masyarakat muslim dan pada gilirannnya menempatkan mereka pada posisi statis dalam realitas sejarah yang dinamis kemunduran dunia Islam sebagai konsekwensinya. Kemunduran dunia Islam di satu sisi dan kemajuan dunia modern, yang direpresentasikan oleh Barat, di sisi lain menjadi cambuk sekaligus peringatan bagi dunia muslim. Ironi ini pada gilirannya melahirkan respon akan kebangkitan dari dunia Islam terhadap realitas modern. Respon ini mengambil bentuk yang beragam berdasarkan pemaknaan terhadap Islam dan modernitas itu sendiri. Pemahaman atas keuniversalitasan Islam secara harfiah melahirkan gerakan revivalis-apologetis dan pada gilirannya anti terhadap barat yang merepresentasikan modernitas. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Wahabiah yang dipimpin Ibn Abd al-Wahhab pada abad ke-18 di Arab. Sedangkan daerah berada di bawah dampak kultural dan intelektual Barat, seperti Turki, Mesir, dan India, cendrung menampilkan pemahaman dan gerakan yang relatif terbuka terhadap modernitas. Kelompok kedua dikenal dengan kelompok modernis (modernis klasik).2 Dalam perkembangannya, kelompok revivalis cenderung membenturkan pemahaman keIslaman mereka vis a vis modernitas sedangkan kelompok modernis terbuka terhadap modernitas namun tidak memiliki pemahaman keIslaman yang sistematis. Berbeda dengan dua corak respon di atas, Fazlur Rahman3 mencoba merespon modernitas dengan sistematis-holistik. Respon ini dilakukan dengan membangun kembali

kesadaran umat Islam akan tanggung jawab sejarahnya dengan fondasi moral yang kokoh. Fondasi ini hanyalah mungkin diciptakan bila al-Quran sebagai sumber ajaran moral yang sempurna difahami secara utuh dah padu. Dalam konteks ini, modernitas dilihat secara objektif sebagai realitas sejarah dan perlunya pembaharuan pemikiran Islam yang sistematis untuk merospon realitas tersebut. Untuk menyokong respon yang holistik terhadap modernitas tersebut, Rahman menekankan pentingnya pembaruan pemikiran Islam, terutama aspek pendidikan, sebagaimana akan diulas berikuttermasuk didalamnya pembahasan tentang faktor-faktor kemunduran Islam dan prospek pembaruan ke depan. II. Transformasi Intelektual: antara Idealitas dan Realitas Sebagaimana telah disinggung di atas, disebutkan bahwa Rahman menekankan (transformasi) pendidikan Islam, melalui pembaruan yang sistematis-holistik, dalam merespon modernitas. Adapun pendidikan Islam yang dimaksud bukanlah perlengkapan dan peralatan-peralatan fisik atau kuasi-fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, tetapi adalah apa yang disebut dengan intelektualisme Islam; karena inilah esensi pendidikan tinggi Islam. Intelektualisme Islam sendiri adalah pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan Islam.4 Transformasi Intelektual ini sendiri harus berangkat dari pemahaman yang utuh dan padu terhadap Al-Quran dan sumber Islam otentik lainnya guna menangkap spririt yang murni dari Islam. Dengan berangkat dari sumber otentik Islam ini diharapkan transformasi inteletual Islam terhadap modernitas lebih Islami dan relevanaspek ini menjadi pembeda yang jelas dengan dua respon lainnya, baik revivalis maupun modernis. Sebelum diketengahkan mengelaborasikan terlebih dahulu transformasi intelektual tentang dari Rahman, perlu

pandangan

Rahman

faktor

kemunduran

intelektualisme Islam dan kendala yang menghambat transformasi intelektual itu sendiri dalam merespon modernitas. Pertama, kemunduran intelektualisme Islam disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: 1) Kemandekan pemikiran Islam yang berhubungan dengan pertumbuhan hadits yang subur dan mengakibatkan terhentinya suatu pertumbuhan yang tertib dalam pemikiran hukum khususnya dan pemikiran keagamaan pada umumnya.5 Fenomena ini bisa dilihat

dalam kasus penolakan hukum kausalitas dan kemerdekaan manusia dalam teologi Asyariyyah; 2) Perubahan institusional Islam zaman pertengahan yang memisahkan antara ajaran integral al-Quran di satu sisi dengan konteks sosio-moral ajarannya sehingga ajaran al-Quran, dalam beberapa aspek, tidak kontekstual; 3) Dikhotomi antara pendidikan agama dan sains-sains rasional yang berhubungan erat dengan gejala masyarakat muslim yang memprioritaskan pendidikan agama atas sains-sains rasional, penyebaran sufisme yang memandang negatif sains rasional, lapangan kerja yang minim bagi para pengembang sains rasional, dan penentangan dari beberapa tokoh terhadap filsafat dan sains rasional; dan 4) Berkembangnya budaya penulisan komentar-komentar terhdap karya pemikiran terdahulu.6 Fenomena ini berimplikasi pada merosotnya orisinalitas dan perkembangan pemikiran dalam Islam. Kedua, kendala-kendala yang menghambat pembaruan pemikiran Islam dalam merespon modernitas sangat beragam namun setidaknya ada beberapa kendala yang dikemukakan oleh Rahman, di antaranya: 1) Berkembangnya gerakan neorevavilisme yang sinis melihat modernitas dan pada gilirannya tidak menjawab permasalahan melainkan menjadi hambatan transformasi intelektual itu sendiri; 2) Respon pembaruan relatif terlalu menyederhanakan permasalahan sehingga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya; dan 3) Hubungan yang ganjil antara agama dengan politik. Relasi yang ganjil ini kerap menempatkan kepentingan politik di atas agama sehingga kepentingan politik sering mengatas-namakan agama. 4). Penjajahan yang menimpa sebagian besar dunia Islam menambahkan kendala pembaruan pemikiran Islam karena masyarakat Islam berada dalam tekanan yang refresif. Baik politik, ekomani dan intelektual. Sebagai catatan atas penyebab dan kendala pembaruan pemikiran Islam dalam merespon modernitas, perlu perhatian khusus terhadap realitas penjajahan atas dunia Islam yang juga melakukan dominasi atas pemikiran intelektual Islam. Realitas ini di satu sisi semakin menguburkan kemunduran intelektualisme Islam yang tengah merosot dan di sisi lain menambah persoalan dengan dominasi intelektualisme (pemikiran) Islam itu sendiri. Sehingga umat Islam yang tengah berada di titik nadir pengembangan pemikiran semakin tercerabut dari ethos historis dan nilai-nilanya di bawah dominasi penjajah yang memiliki paradigma modernitas Barat.

Berangakat dari faktor-faktor yang melatar-belakangi kemunduran intelektualisme Islam dan kendala-kendala yang menghambat upaya transformasi dan pembaruan intelektualisme Islam di atas, Rahman mencanangkan gagasan seputar bagaimana relasi dan tujuan yang perlu diupayakan dalam merespon modernitas. III. Transformasi Intelektual sebagai Respon terhadap Modernitas Ketika dihadapkan dengan modernitas yang diperankan oleh Barat, Rahman menyerukan orang-orang Muslim untuk mempelajari dunia Barat dan gagasan-gagasannya secara objektif agar dapat menentukan bagaimana Islam harus bereaksi terhadap tekanan seperti itu.7 Dalam aktivitas intelektual Barat (dunia modern) terdapat pencapaian kreatif yang baik dan ada juga yang buruk. Pada tataran ini, sikap yang objektif terhadap modernitas Barat mampu membuat umat Islam untuk bergerak jauh dan menjadi panglima dunia modern di kemudian hari. Pencapan ini bisa diwujudkan jika umat Islam mampu menyerap pencapaian positif dari modernitas Barat dan mampu mengisi celah kekurangan modernitas Barat, seperti moralitas religious, dengan mengembangkan metodologi yang relevan untuk mengkaji Al-Quran guna memperoleh arah yang tepat bagi masa depannya. Untuk mengawali langkah tersebut, Rahman memberikan dua catatan yaitu ijtihad merupakan keniscayaan atas realitas sejarah yang dinamis dan langkah ijtihad harus diformulasikan secara sistematis dan holistik untuk menghindari ijtihad yang sewenangwenang dan liar. Untuk menangkap urgensitas pemahaman Islam yang holistik, Rahman berpendapat, sebagaimana dikutip oleh Nurcholis Majid, bahwa banyak gerakan pundamentalisme anti-Westernisme didasarkan pada pemahaman Islam yang dangkal.8 Sedangkan pemahaman terhadap warisan Islam yang sewenang-wenang tidak

menyelesaikan permasalahan sekaligus tidak memberikan sumbangsih Islam yang universal terhadap permasalahan modernitas itu sendiri. Untuk itu, Rahman memformulasikan bagaimana memahami Quran dengan metode yang tepat untuk mengungkap kandungan Quran, karena dalam kenyataannya, Al -Quran itu laksana puncak sebuah gunung es yang terapung, sembilan persepuluh darinya di bawah lautan sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak di permukaan. Karena itulah, untuk memahami Al-Quran, orang harus mengetahui sejarah Nabi dan perjuangannya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Selain itu juga perlu memahami situasi dan

kondisi bangsa Arab pada awal Islam, kebiasaan, pranata-pranata dan pandangan hidup orang Arab.9 Dalam pandangan Rahman, Quran muncul dalam sinaran sejarah dan berhadapan dengan latar belakang sosio-historis. Al-Quran adalah sebuah respon terhadap situasi yang sebagian besarnya merupakan pernyataan-pernyataan moral, religius dan sosial yang menanggapi berbagai persoalan spesifik dalam situasi kongkrit. Kadang-kadang Al-Quran memberikan jawaban bagi situasi pertanyaan atau masalah khusus, tetapi kadang-kadang juga menjelaskan hukum-hukum yang bersifat umum.10 Menurut Rahman, untuk membuat Islam selalu relevan dengan lingkungan spesifik pada saat sekarang ini, orang-orang muslim harus mengatasi penafsiran Al-Quran tradisional dan harfiyah serta beralih ke pemahaman akan spirit Al-Quran.11 Mereka harus mengkaji untuk menemukan esensi pewahyuan. Kemudian, ia haru mengkaji lingkungan spesifik di mana ayat itu diturunkan hingga mereka dapat menerapkan prinsip-prinsip umum yang bersumber dari wahyu itu di saat sekarang ini. Berbagai upaya harus dilakukan tidak hanya untuk memahami agama Arab praIslam, tetapi juga pranata-pranata sosial, kehidupan ekonomis dan hubungan-hubungan politik. Peran penting suku Quraisy dan pengaruh kekuasaan religio-ekonomisnya di kalangan orang-orang Arab juga harus dipahami. Tanpa memahami semua itu, adalah tidak mungkin memahami pesan Al-Quran secara utuh. Ini disebabkan karena Al-Quran

memiliki sebuah latar belakang historis, sehingga jika misalnya, ada orang yang menemukan Al-Quran di Kutub Utara dan ia ingin memahaminya walaupun ia mengetahui bahasa Arab, maka sekali-kali ia tidak akan berhasil memahami kitab suci itu secara utuh. Karena itu, Quran harus dipahami dalam konteksnya, yaitu konteks dan latar belakang perjuangan Nabi di Mekkah dan Madinah. Upaya di atas setidaknya diarahkan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan berikut sebagai syarat bagi transformasi intelektualisme Islam itu sendiri, di antaranya: 1. Menjerinhkan pemahaman atas Islam dengan melakukan pembedaan yang jelas antara Islam normatif dan Islam historis;

2. Merekonstruksi sains-sains Islam secara sistematis sehingga kecendrungan untuk mensakralkan normatif Islam bisa diselesaikan dan tidak terjebak pada paradigma dikhotomik yang menghambat. Dengan pemahaman yang holistik ini diharapakan permasalahan intelektualisme Islam mampu melahirkan etos yang positif dalam merespon modernitas dan pada gilirannya kendala-kendala yang menghambat proses transformasi intelektual Islam, sebagai respon terhadap modernitas, bisa diatasi dan pada gilirannya mampu membangkitkan kerpurukan dunia Islamkhususnya intelektualisme Islamdi dunia modern. Namun perlu dicatat bahwa dalam pengembangan intelektualisme Islam ini, Rahman tergolong pesimis dalam melihat integrasi keilmuan, antara ilmu keagamaan dan ilmu non-keagamaan, karena dia memandang usaha dalam mengintegrasikannya tidak menunjukkan hasil. Pandangan ini di satu sisi memang realistis namun di sisi lain menunjukkan bahwa dalam upaya pembaruan intelektuaslisme Islam, khususnya tentang integrasi keilmuan, Rahman terlihat terlalu realistis. Padahal realitas hari ini menunjukkan bahwa usaha untuk mengintegrasikan ilmu menunjukkan tanda yang positif guna mengisi celah paradigma keilmuan modern yang cendrung positivistik. Pada aspek ini, fesimisme Rahman terhadap integrasi ilmu tidak berbanding lurus dengan realitas dan tuntutan hari ini.

IV.

Kesimpulan Demikianlah pembahasan seputar pandangan Rahman dalam melihat relasi Islam dengan modernitas. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Rahman menekankan pembaruan pemikiran Islam yang berangkat dari pemahaman qurani. Pandangan ini menujukkan bahwa Rahman optimis dalam melihat hubungan Islam dengan modernitas ketika Islam dipahami secara sistematis dan holistik. Optimisme ini didasarkan pada keyakinannya bahwa Islam mampu mengisi celah yang kosong dalam dunia modern. Namun dalam merealisasikan pandangannya tentang transformasi intelektual Islam guna merespon modernitas, pada level praktis, Rahman tergolong fesimis dalam melihat upaya integrasi keilmuan. Sikap ini didasarkan pada pandangannya yang terikat dengan konteks pemikirannya waktu itu.

Daftar Pustaka Cecep Ramli Bihar Anwar, Fazlur Rahman Alquran dan Tantangan Modernitas, http://islamlib.com/id/artikel/alquran-dan-tantangan-modernitas, akses 9 April 2012. Mansur, Ali., Ahli Kitab dalam Al-Quran: Model Penafsiran Fazlur Rahman, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002. Masud, Muhammad Khalid., Filsafat Hukum Islam, alih bahasa oleh Ahsin Muhammad, Bandung: PUSTAKA, 1996. Nurcholis Madjid, Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan, cetakan ke-XI, Bandung: Penerbit Mizan, 1998. Rahman, Fazlur., Gerakan Pembaharuan dalam Islam di tengah Tantangan Dewasa Ini: Kontributor dalam buku Perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985. Rahman, Fazlur., Islam dan Modernitas tentang Trasformasi Intelektual, Bandung: Pustaka, 2000. Rahman, Fazlur., Tema Pokok Al-Quran, alih bahasa oleh Anas Mahyudin, Bandung: Pustaka, 1983.

Muhammad Khalid Masud, Filsafat Hukum Islam, alih bahasa oleh Ahsin Muhammad, (Bandung: PUSTAKA, 1996), hlm. 23. Fazlur Rahman, Gerakan Pembaharuan dalam Islam di tengah Tantangan Dewasa Ini: Kontributor dalam buku Perkembangan Modern dalam Islam , (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985), hlm. 20. Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka, yakni India dan Pakistan. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir Islam liberalnya, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ali dan Iqbal. Adapun perkembangan pemikiran Rahman menurut Taufik Adnan Amal, sebagaimana dikutip oleh Cecep Ramli Bihar Anwar, terbagi menjadi tiga periode: (I) periode awal (dekade 50-an); periode Pakistan (dekade 60-an); dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis, pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif), maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. Pada periode awal dan kedua, Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya, setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam, sebagai juru bicara neo-modernis. (Cecep Ramli Bihar Anwar, Fazlur Rahman Alquran dan Tantangan Modernitas, http://islamlib.com/id/artikel/alquran-dan-tantangan-modernitas, akses 9 April 2012).
3 2

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual , alih bahasa oleh Ahsin Mohammad dari Islam & Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition , ( Bandung: Penerbit PUSTAKA, 2000), hlm. 1.
5 6 7 8

Ibid., hlm. 30. Ibid., hlm 44. Fazlur Rahman, Gerakan, hlm. 34.

Nurcholis Madjid, Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan, cetakan ke-XI, (Bandung: Penerbit Mizan, 1998), hlm. 86, Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Quran, alih bahasa oleh Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1983), hlm. 47-49.
10 9

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual, (Bandung: Pustaka,

1995). Ali Mansur, Ahli Kitab dalam Al-Quran: Model Penafsiran Fazlur Rahman , (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), hlm. 48.
11

Anda mungkin juga menyukai