Anda di halaman 1dari 11

Kemunduran Tiga Kerajaan Besar

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Zainal Arifin M,Ag

disusun oleh:
Muhammad Ilyas NIM: 207040
Erma Naela Zulfa NIM: 2070

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS


JURUSAN SYARI'AH/AS
2008

Kemunduran Tiga Kerajaan Besar


I. Pendahuluan
Kerajaan Turki Usmani

Pendiri kerajaan ini adalah Usman I, ia adalah kabilah Oghuz, yang tinggal di Mongol
dan daerah utara negara Cina. Atas dasar membantu berperang melawan Bizantium, oleh
Sultan Alauddin II mereka diberi tanah di Asia Kecil, atas kemenangannya kemudian oleh
Usman didirikan sebagai kerajaan Turki Usmani (1290 M – 1326 M) hingga akhirnya
mengadakan perluasan daerah dan menaklukkan kota-kota lain seperti Abdrianopel yang
kemudian dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan yang baru. Turki Usmani sangat terkenal
dengan kemiliterannya sehingga mampu mengadakan ekspansi sampai Eropa. Kerajaan Turki
Usmani bermadhab sunny, mengalami kejayaan pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni.

2. Kerajaan Safawi di Persia

Kerajaan Safawi berasal dari tarekat Safawiyah yang berdiri di Ardabil, Azerbaijan
dan didirikan oleh Safi al-Din (1252–1334 M). Kerajaan Safawi menetapkan Syi’ah sebagai
madzhab negara. Kerajaan ini di anggap sebagai peletak dasar terbentuknya negara Iran.
Puncak kejayaan pada masa Abbas I, karena mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang
mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah di rebut oleh
kerajaan lain pada masa raja sebelumnya.

3. Kerajaan Mughal di India

Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai Ibu Kota, didirikan oleh Zahiruddin
Babur (1482–1530 M). Pada awalnya Babur dimintai bantuan untuk menjatuhkan
pemerintahan Ibrahim di Delhi oleh paman penguasa India (Ibrahim Lodi), dan akhirnya
kemenangan berpihak padanya, tetapi rajanya meninggal dunia. Akhirnya Babur memasuki
kota Delhi karena di sana vacuum of power sehingga ia menegakkan pemerintahannya dan
mendirikan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Mughal terkenal dengan kemiliterannya
sehingga Sultan adalah penguasa diktator. Kerajaan Mughal menetapkan Sunny sebagai
madzhab negara kerajaan Mughal di India hancur pada tahun 1858 M.

II. Pembahasan

1. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi


Diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik
berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani, berdirinya kerjaan Safawi
yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik
antara dua kerajaan tersebut berlangsugn lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika
perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namu tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik
tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan
besar Islam itu.

Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin
kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman,
disamping pecandu berat narkotik, juga menyenangi kehidupan malam beserta harem-
haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan.
Begitu juga sultan Husein.

Penyebab penting lainnnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang


dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. Hal ini
disebabkan kerena pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses
pendidikan rohani seperti yang dialami oleh Qizilbash. Sementara itu, anggota Qizilbash yang
baru tidak memiliki militansi dan semangat yang sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.

Tidak kalah penting dari sebab-sebab diatas adalah seringnya terjadi konflik internal
dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluaraga istana.

2. Masa Kemunduran Kerajaan Mughal

Setelah Aurangzeb meninggal, kerajaan Mughal mengalami masa kemunduran. Faktor


utama dari kemunduran ini adalah disebabkan perebutan kekuasaan sesama putra Aurangzeb.
Masing-masing putranya mempunyai ambisi untuk mengganti kedudukan ayahnya sebagai
raja Mughal. Sebenarnya Aurangzeb sendiri telah meramalkan peristiwa ini, sebagai mana
pengalamannya menjelang dinobatkan menjadi raja Mughal. Untuk mengatasi serta
menghindari perebutan kekuasaan oleh putra-putranya, maka sebelum ia meninggal, ia
berwasiat kepada anak-anaknya untuk bersama-sama memerintah, dengan daerah yang telah
ditentukan. Akan tetapi karena anak-anaknya mempunyai keserakahan yang sama tidak
mengikuti wasiat ayahnya, maka komplik keluarga tidak dapat dihindarkan, sehingga
Muazzam, Azima dan Kam Bakhsh terlibat langsung dalam perang saudara tersebut.

Putra-putra Aurangzeb menunjukkan sikap keras, tidak mengenal musyawarah dalam


menyelesaikan persoalan mereka, jalan yang mereka tempuh adalah menumbangkan kekuatan
saudara-saudaranya dengan kekuatan bersenjata dan penumpahan darah, merekatidak melihat
bahwa dibelakang mereka sudah menunggu tangan-tangan jahil yang akan menghancurkan
kerajaan Mughal. Pikiran sempit inilah yang melatar belakangi Muazzam untuk menghimpun
kekuatan dengan jumlah besar, merebut kekuasaan dari saudaranya Azima dan Kam Bakhsh
dan menobatkan dirinya sebagai penguasa Mughal dengan nama Bahadur Syah.

Bahadur Syah menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun, dalam masa
pemerintahannya gejolak politik semakin tajam, baik dari lingkungan keluarga istana, maupun
dari lapisan masyarakat luas, namun persoalan ini masih dapat ia atasi dengan bantuan para
panglimanya, dimana putra-putranya terlibat pula dalam perebutan kekuasaan yang
ditinggalkannya. Dalam persaingan ini, Jendral Zulfiqar Khan turut memainkan rol penting,
atas bantuan Zilfiqar putranya yang terlemah Jahandar Syah dinobatkan menjadi raja, akan
tetapi Jahandar Syah mendapat tantangan dari kemenakannya Muhammad Farrukhsiyar.
Dalam pertempuran yang terjadi di tahun 1713 M, Jahandar Syah mengalami kekalahan dan
Muhammad Farrukhsiyar memperoleh kemenangan dan dapat mempertahankan
kedudukannya sebagai raja Mughal sampai tahun 1719 M. Farukhsiyar mati dibunuh oleh
komplotan Sayyid Husain Ali dan Sayyid Hasan Ali, dua bersaudara yang pada hakekatnya
mempunyai kekuasaan di istana Delhi, sebagai gantinya mereka angkat Muhammad Syah
(1719-1748 M).

Perebutan kekuasaan yang selalu terjadi inilah yang menyebabkan orang dari luar
keluarga istana ikut mencampuri urusan-urusan pewarisan kerajaan, bahkan mereka dapat
menentukan siapa orang yang disenanginnya dan orang yang harus dijatuhkan, kedaan politik
seperti ini, kurang menguntungkan bagi kerajaan Mughal, karena kerajaan diangkat kemudian
dijatuhkan, oleh Harun Nasution dikatakan sesudah Aurangzeb terdapat sultan-sultan lemah
yang tidak dapat mempertahankan kelanjutan kerajaan Mughal.

Dalam keadaan serupa ini, tidaklah mengherankan kalau golongan-golongan Hindu


yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mughal mengambil sikap menentang, terhadap
sultan-sultan Mughal. Pada masa Aurangzeb yang masih kuatpun, mereka telah menunjukkan
sikap menentang, dengan melakukan pemberontakan dibawah kepemimpinan Guru Tegh
Bahadur dan kemudian Guru Gobind Singh dari golongan Sikh. Kemudian dari golongan
Rajput berontak di bawah pimpinan raja Undaipur. Kaum Mahratas dipimpin oleh Sivaji serta
putranya Simbaji. Pemberontakan orang Hindu pada masa Aurangzeb tidak begitu kuat,
sehingga dengan mudah dapat di tumpaskan oleh pasukan-pasukan Mughal.

Pemberontakan dari golongan Hindu berulang kembali pada masa Bahadur Syah, ia
mendapat tantangan dari golongan Sikh dibawah pimpinan Banda, dan mereka berhasil
merampas kota Sadhaura di sebelah utara Delhi. Kemudian mereka berusaha merebut kota
Sirhin, sebelum sampai kekota ini mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap
penduduk yang beragama Islam. Golongan Maratha dibawah pimpinan Baji Rao dapat
merampas sebahagian daerah Gujarat di tahun 1732 M, dan pada tahun 1737 M, malahan
dapat menyerang sampai keperbatasan Ibu kota, tetapi setelah mereka mengetahui pasukan
Mughal bergerak menuju Delhi, mereka mundur kembali ke Gujarat.

Serangan terhadap Delhi bukan hanya datang dari dalam saja, tetapi juga datang dari
luar India. Seketika Nadir Syah naik tahta di Persia, ia mengirimkan dutanya untuk Delhi,
tetapi raja Mughal Mahmud Syah pada waktu itu, tidak mau menerima duta yang dikirimnya.
Keputusan Mahmud Syah ini membuat Nadir Syah mengambil suatu keputusan untuk
menyerang Delhi. Dalam penyerangannya ke daerah yang terletak diperbatasan, pasukan
Persia seakan-akan tidak mendapat perlawanan dari tentara Mughal, sehingga dengan mudah
dapat menaklukkan Pesyawar dan Lahore tahun 1739 M, kemudian mereka meneruskan
penyerbuan ke ibu kota kerajaan, disini terjadi kontak senjata dengan tentara Mughal, namun
perlawanan yang diberikan oleh Mughal tidak sebanding dengan pasukan Persia, akhirnya
mereka menderita kekalahan.

Serangan Persia yang sangat memukulkan kerajaan Mughal adalah seketika pasukan
Nadir Syah menyerang Delhi, sewaktu ia memasuki kota ini, pasukan Persia mendapat
perlawanan dari rakyat, namun perlawanan ini tidak dapat membendung gerak majunya
pasukan Persia, sebagai hukuman kepada kerajaan Mughal, Nadir Syah mengizinkan
pasukannya untuk melakukan pembunuhan dan perampasan besar-besaran. Kerajaan Mughal
diwajibkan membayar upeti dan daerah yang terletak di sebelah barat sungai Indus ia
gabungkan dengan Persia. Mahmud Syah ia tinggalkan tetap sebagai raja Mughal di Delhi,
tetapi prestise kerajaan Mughal telah mengalami kemunduran.

Setelah mendapat pukulan berat dari Persia, kerajaan Mughal mengalami keadaan
yang tidak stabil, karena sebahagian wilayahnya telah melepaskan diri dari kekuasaan
Mughal. Disamping itu terjadi pula peralihan kekuasaan dari Mahmud Syah ke Alam Syah.
Dimasa pemerintahan Alam Syah, kerajaan Mughal mendapat serangan dari Afganistan di
bawah pimpinan Ahmad Khan Durrani. Serangan Afganistan tahun 1761 M, ini memaksa
pemerintahan Muhal untuk mengakui kerajaan Afganistan, sedangkan Alam Syah diberikan
izin sebagai Gubernur di Delhi, yang tunduk kepada kekuasaan kerajaan Afganistan.

3. Masa Kehancuran Kerajaan Mughal


Disaat kerajaan Mughal berada dalam masa kemunduran, beberapa bangsa Eropa,
datang ke India untuk menjalin hubungan dagang. Diantara bangsa Eropa yang pertama kali
mengadakan hubungan dagang dengan India adalah Portugis, Belanda, Prancis dan Inggeris.
Dengan alasan berdagang inilah bangsa Eropah memperoleh izin untuk menetap di pinggiran
pantai selatan India. Dari sesama bangsa Eropa juga terjadi persaingan yang ketat dalam
dunia perdagangan, dari persaingan ini Inggeris dapat mengalahkan reval-revalnya.
Kemudian Inggeris berusaha untuk mendapatkan izin menetap di Bengal India Timur (tahun
1610 M), setelah mendapat izin dari kerajaan Mughal, kemudian mereka membentuk
perserikatan dagang India Timur (The East India Company) dengan maksud untuk menguasai
sumber komoditi India.

Setelah inggeris berhasil mengendalikan sumber komodeti India mereka berusaha


pula mendirikan pabrik-pabrik di Bengal di India Timur. Untuk membendungi arus lalulintas
perdagangan serta pabrik-pabrik dari serangan golongan ekstrim India, mereka mendatangkan
pasukan Inggeris. Sementara itu kerajaan Mughal berada dalam situasi politik yang tidak
stabil, akibat menghadapi pemberontakan dari golongan Hindu yang sejak lama ingin
melepaskan diri dari kekuasaan Mughal. Melihat kondisi Mughal sudah terlalu lemah dan
tidak dapat menguasai keadaan, maka Inggeris mulai penasaran untuk ikut serta memainkan
rol politik India melalui The East India Compeny.

Inggeris tidak merasa puas memainkan politik dibalik The East India Compeny,
mereka ingin terlibat langsung, jika perlu dapat menguasai negeri India. Sejak itu mereka
milai menggunakan kekuatan bersenjata untuk memperluaskan wilayah kekuasaannya.
Daerah yang pertama yang mereka serang adalah Benggala 1757 M, kemudian mereka
menyerang daerah Pesisir Timur India. Kemudian di tahun 1799 M, pasukan Inggeris di
bawah pimpinan Willesly melanjutkan serangan terhadap wilayah Mysore, dan mereka
berhasil mengalahkan pasukan Tippo dan Tippo penguasa Mysore dapat mereka bunuh.
Semenjak itu pasukan Inggeris terus menjarah daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan
Mughal, sengga tahun 1857 M, semua daerah yang dikuasai Mughal dan daerah yang telah
melepaskan diri dari Mughal berada di bawah kekuasan Inggeris. Raja Mughal Bahadur Syah
kehilangan sebahagian besar daerahnya, akibat perluasan kekuasaan Inggeris di India. Utntuk
merebut daerah itu kembali dari tangan Inggeris, Bahadur Syah bekerja sama dengan gerakan
Mujahiddin yang dipimpin Sayyid Ahmad serta golongan Hindu. Mereka semua sepakat
menentang penjajahan Inggeris, serta mengembalikan Bahadur Syah ke tahta kerajaan Mughal
dan menjadi raja India.

Tindakan selanjutnya dari gerakan menentang Inggeris, adalah terjadinya suatu


penyerangan dari pasukan Hindu tanggal 10 Mei 1857 M, terhadap posisi pasukan Inggeris di
Meerut 60 Km, sebelah utara Delhi. Dalam penyerangan itu banyak perwira Inggeris yang
terbunuh. Pasukan Hindu meneruskan penyerangannya ke Delhi, dan mereaka berhasil
menguasai kota ini serta mengangkat Bahadur Syah sebagai raja India.

Golongan Mujahiddin turut mengambil bahgian dalam pemberontakan 1857 tersebut,


antara mereka dengan golongan Hindu bekerja sama untuk membebaskan India dari
kekuasaan Inggeris, Inggeris tidak memperkirakan adanya penyerangan terhadap Delhi maka
untuk mengambil kembali ibu kota Delhi, Inggeris mengerahkan pasukannya dengan jumlah
yang besar, sehingga mereka berhasil memukul mundur pasukan Hindu serta gerakan
Mujahiddin. Pemimpin dari gerakan Mujahiddin serta pemimpin dari pasukan Hindu
ditangkap dan dibuang dari India.

Meskipun golongan Hindu yang memulai pemberontakan, namun yang disalahkan


sebagai penggerak pemberontakan adalah golongan Muslim, dengan menunjukkan terlibatnya
Bahadur Syah dalam pemberontakan tersebut. Sebagai hukuman pemberontakkan tersebut,
Inggeris mengusir penduduk Delhi, serta menghancurkan gedung gedung kerajaan Mughal,
sehingga yang tinggal hanyalah puing-puing yang berantakan. Sikap Inggeris yang kasar ini
diakhirinya dengan merenggut nafas kerajaan Mughal yang telah berusia hampir dua abad.
Dan dengan menarik nafas terakhir kerajaan Mughal lenyap dari daratan India.

4. Kemunduran Kerajaan Usmani

Setelah Sultan Al-Qanuni wafat ( 1566 M) kerajaan turki usmani mulai mengalami fase
kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat,
kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Salim II
(1566-1573 M). Dimasa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut kerajaan
usmani dengan armada laut Bundukia , angkatan sri paus, dan sebagian kapal para pendeta
Malta yang dipimpin Don Juan dari sepanyol. Pertempuran ini, Turki usmani mengalami
kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa sultan
berikutnya, Sultan Murad III pada tahun 1575 M tunisia dapat direbut kembali.

Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemundruan, diantaran
adalah :

1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas. Administrasi pemerintahan yang sangat luas
wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi kerajaan Usmani tidak
beres.

2. Heterogenitas penduduk. Dengan luasnya wilayah secara otomatis terdapat perbedaan


bangsa dan agama dari berbagai wilayah. Oleh karena itu, perbedaan bangsa dan
agama sering kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.

3. Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, Kerajaan Usmani


dipimpin oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian maupun
kepemimpinannya, akibatnya pemerintah menjadi kacau dan tidak kondusif.

4. Budaya pungli atau kalau penulis boleh katakan dengan istilah “korupsi sudah
membudaya”. Setiap jabatan yang hendak diraih seseorang, maka harus “dibayar”
dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut.

5. Pemberontakan tentara Jenissari. Jernissari adalah tentara kerajaan Usmani yang


bertugas dalam ekspansi militer dalam memperluas wilayahnya. Akan tetapi, tentara
Jenissari sendiri melakukan pemberontakan. Bahkan pemberontakan dilakukan
sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826.

6. Merosotnya ekonomi. Hal ini dikarenakan perang yang tak pernah berhenti, sehingga
anggaran digunakan untuk kepentingan perang, sedangkan pendapatan berkurang dan
belanja negara banyak.

7. Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi. Hal ini dikarenakan kerajaan
Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, dan hanya
mementingkan pengembangan kekuatan militer.

Demikian beberapa faktor kemunduran atau kehancuran kerajaan Usmani, yang pada
waktu bersamaan pula, menjadi awal dari kekuatan-kekuatan Eropa untuk menduduki
wilayah-wilayah yang pernah diduduki oleh kerajaan Usmani

5 Kemajuan Eropa (Barat)

Bersama waktunya dengan kemunduran tiga kerajaan Islam di periode


pertengahansejarah Islam, Eropa Barat (biasa disebut dengan ”Barat” saja). Sedangkan
mengalami kemajuan dengan pusat. Hal ini berbanding terbalik dengan masa klasik sejarah
Islam. Ketika itu, perabadan Islam dapat dikatakan paling maju, memamncarkan sinarnya ke
seluruh dunia, sementara Eropa sedang berada dalam kebodohan dan keterbelakangan.

Kemajuan Eropa (Barat) memang bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan
metode berpikir Islam yang rasional. Di antara saluran masuknya peradaban Islam ke Eropa
itu adalah perang Salib, Sacilia, dan yang penting adalah Spanyol Islam. Ketika islam
mengalami kejayaan di Spanyol, banyak orang eropa yang belajar ke sana kemudian
menerjemahkan karya – karya ilmiah umat islam. Hal ini dimulai sejak abad ke-12 M. Setelah
mereka pulang ke negeri masing-masing, mereka mendirikan universitas dengan meniru pola
islam dan mengejarkan ilmu yang dipelajari di universitas-universitas islam itu. Dalam
perkembangan selanjutnya keadaan ini melahirkan renaissance, repormasi, dan rasionalisme
di Eropa.

Gerakan-gerakan renaisans melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah


dunia. Abad ke -16 dan 17 merupakan abad yang paling penting bagi Eropa, sementara pada
akhir abad ke-17 itu pula, dunia islam mulai mengalami kemunduran. Dengan lahirnya
renaisans, eropa bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan mereka pada masa kebodohan
dan kegelapan.

Dengan organisasi dan persenjatan moderen pasukan perang Eropa mampu


melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan islam, seperti ketika kerajaan
usmani berhadapan dengan kekuatan-kekuatan eropa dan kerajaan mughal berhadapan dengan
inggris. Daerah-daerah kekuasaan islam lainnya mulai berjatuhan ketangan eropa, seperti asia
tenggara, bahkan mesir, salah satu pusat peradaban islam terpenting diduduki Napoleon
Bonaparte dari Prancis pada tahun 1798 M.

Benturan-benturan antara kerajaan Islam dengan kekuatan eropa itu menyadarkan


umat islam bahwa mereka memang sudah jauh tertinggal dari Eropa. Kesadaran itulah yang
menyebabkan umat islam terpaksa harus banyak belajar dari Eropa. Perimbangan kekuatan
umat islam dan eropa berubah dengan cepat. Di antara kemajuan Eropa dan kemunduran
islam terbentang jurang yang sangat lebar dan dalam. Dalam perkembangan berikutnya,
daerah-daerah Islam hampir seluruhnya berada di bawah kekuasaan bangsa Eropa.

III. Kesimpulan

Penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani


< Wilayah kekuasaan yang sangat luas
< Heterogenitas enitas penduduk
< Kelemahan para penguasa
< Budaya Pungli
< Pemberontakan tentara jenis sari
< Merosotnya ekonomi
< Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.
Penyebab kemunduran kerajaan Safawi di Persia
< Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani
< Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi
< Gagalnya pembentukan pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas
I
< Sering terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan
keluarga istana.

Penyebab hancurnya kerajaan Mughal di India

< Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer
Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan
maritime mughal.

< Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang
mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.

< Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan
dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi
oleh sultan-sultan sesudahnya.

< Semua pewaris tahta adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan

IV. Penutup

Dari uraian singkat diatas semoga kita bias meniru dan mencontoh semangat para
pejuang muslim sehingga dapat mengibarkan bendera islam pada masa itu. Kemudian penulis
menyakini bhwa tidak ada manusia yang sempurna oleh sebabitu kiranyateman-teman
menemukan banyak kesalahan dalam penulisan makalah sudilah kiranya saran dan kritik
disampaikan kepada ami sehingga bias lebih baik di masa yang akan datang.
V. Referensi

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, PT, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2004

Dr.Badri Yatim, M,A, Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2007

http//. Nasirsalo, blogspot.com/2008/kerajaan mughol

http//. saefjaza. blogspot.com

www.kebunhikmah.com