Anda di halaman 1dari 12

Keadaan Politik Menjelang Keruntuhan

Politik di sini dibagi jadi dua. Pertama politik dalam negeri, yang maksudnya ialah penerapan hukum Islam
di wilayahnya; mengatur mu'amalat, menegakkan hudud dan sanksi hukum, menjaga akhlak, mengurus urusan
rakyat sesuai hukum Islam, menjamin pelaksanaan syi'ar dan ibadah. Semua ini dilaksanakan dengan tatacara
Islam[4]. Arti kedua adalah politik luar negeri, (belum selesai)[sunting] Politik dalam negeriAda 2 faktor yang
membuat khilafah Turki Utsmani mundur:Pertama, buruknya pemahaman Islam. Kedua, salah menerapkan Islam.
Sebetulnya, kedua hal di atas bisa diatasi saat kekholifahan dipegang orang kuat dan keimanannya tinggi, tapi
kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Suleiman II-yang dijuluki al-Qonun, karena jasanya mengadopsi
UU sebagai sistem khilafah, yang saat itu merupakan khilafah terkuat-malah menyusun UU menurut mazhab
tertentu, yakni mazhab Hanafi, dengan kitab Pertemuan Berbagai Lautan-nya yang ditulis Ibrohimul Halabi
(1549). Padahal khilafah Islam bukan negara mazhab, jadi semua mazhab Islam memiliki tempat dalam 1 negara
dan bukan hanya 1 mazhab.Dengan tak dimanfaatkannya kesempatan emas ini untuk perbaikan, 2 hal tadi tak
diperbaiki. Contoh: dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan
kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun,
yang jadi khalifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-
1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687), Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-
1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa
III (1757-1773), dan Abdul Hamid I (1773-1788)[5]. Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan
Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826)[6], sehingga mereka dibubarkan (1785). Selain itu,
majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para
pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma'ni[7].Ini yang
membuat politik luar negeri khilafah-dakwah dan jihad-berhenti sejak abad ke-17, sehingga Yennisari membesar,
lebih dari pasukan dan peawai pemerintah biasa, sementara pemasukan negara merosot. Ini membuat khilafah
terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan
penumpuk harta. Ditambah dengan menurunnya pajak dari Timur Jauh yang melintasi wilayah khilafah, setelah
ditemukannya jalur utama yang aman, sehingga bisa langsung ke Eropa. Ini membuat mata uang khilafah tertekan,
sementara sumber pendapatan negara seperti tambang, tak bisa menutupi kebutuhan uang yang terus
meningkat.Paruh kedua abad ke-16, terjadilah krisis moneter saat emas dan perak diusung ke negeri Laut Putih
Tengah dari Dunia Baru lewat kolonial Spanyol. Mata uang khilafah saat itu terpuruk; infasi hebat. Mata uang
Baroh diluncurkan khilafah tahun 1620 tetap gagal mengatasi inflasi. Lalu keluarlah mata uang Qisry di abad ke-
17[8]. Inilah yang membuat pasukan Utsmaniah di Yaman memberontak pada paruh kedua abad ke-16 [9]. Akibat
adanya korupsi negara harus menanggung utang 300 juta lira[10].Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang
Islami-dakwah dan jihad-pemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari
benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-
Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788). Sultanpun
meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca kitab itu tiap hari[11].Sejak
jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16
saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-
1572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik
ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah
kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini
dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria,
Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan
Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan
tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah
melakukan reformasi (abad ke-17, dst). Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat
itu khilafah tak bisa membedakan IPTek dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru
dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat
yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi
lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin
kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang
(1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan
kewenangan kholifah.[sunting] Konspirasi Menghancurkan Khilafah

Gerakan misionaris

Di dalam negara, ahlu dzimmah-khususnya orang Kristen-yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II,
akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi
provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khilafah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535),
dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini
dimanfaatkan misionaris-yang mulai menjalankan gerakan sejak abad ke-16. Malta dipilih sebagai pusat
gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773. Di tengah mundurnya
intelektualitas Dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Pusat kajian ini
kebanyakan milik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang digunakan Barat untuk mengemban kepemimpinan
intelektualnya di Dunia Islam, disertai serangan mereka terhadap pemikiran Islam. Serangan ini sudah lama
dipersiapkan orientalis Barat, yang mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad ke-14.Gerakan misionaris dan
orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di Dunia Islam. Untuk menguasainya -
meminjam istilah Imam al-Ghozali - Islam sebagai asas harus hancur, dan khilafah Islam harus runtuh. Untuk
meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan
untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang
Sakit. Agar kekuatan khilafah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif
untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di
Dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz. Sejak
pertengahan abad ke-18 gerakan ini dimanfaatkan Inggris - melalui agennya Ibn Sa'ud - untuk menyulut
pemberontakan di beberapa wilayah Hijaz dsk, yang sebelumnya gagal dilakukan Inggris lewat gerakan kesukuan.
Walau begitu, akhirnya gerakan ini bisa dibendung di beberapa wilayah oleh khilafah lewat Mehmed Ali Pasha,
Gubernur Mesir yang-ternyata agen Prancis-didukung Prancis. Di Eropa, wilayah yang dikuasai khilafah
diprovokasi agar memberontak (abad 19-20), seperti kasus Serbia, Yunani, Bulgaria, Armenia dan terakhir Krisis
Balkan, sehingga khilafah Turki Utsmani kehilangan banyak wilayahnya, dan yang tersisa hanya Turki.

Gerakan nasionalisme dan separatisme

Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan
Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan
separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah
khilafah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, KeduBes Inggris dan Prancis di
Istambul dan daerah-daerah basis khilafah-seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah-telah menjadi
pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas
memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem
Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istambul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul
telak khilafah.KeduBes negara Eropapun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk
Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul 'Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum harfiah dibentuk.
Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913,
para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di
Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan
Prancis.Di Markas Istambul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan
universitas lewat propaganda. Mereka ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah
sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai
dilakukan Rasyid Pasha, MenLu zaman Sultan Abdul Mejid II (1839). Tahun itu juga, Naskah
Terhormat(Kholkhonah)-yang dijiplak dari UU di Eropa-diperkenalkan. Tahun 1855, negara-negara Eropa-
khususnya Inggris-memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun
(11 Februari 1855). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September
1876). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan
Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port-pun enggan
melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari'at. Midhat Pashapun dipecat dari kedudukan perdana
menteri. Turki Muda yang berpusat di Salonika-pusat komunitas Yahudi Dunamah-memberontak (1908). Kholifah
dipaksanya-yang menjalankan keputusan Konferensi Berlin-mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di
Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam khilafah Turki Utsmani (17 November 1908). Bekerja
sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu
sistem pemerintahan Islam berakhir.Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan khilafah Turki Utsmani secara
total. Perang Dunia I (1914) dimanfaatkan Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah
kampanye Dardanella yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan
untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha-yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang
Ana Forta (1915). Ia-agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika-melakukan agenda Inggris, yakni
melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khilafah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas
dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari
penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dll mendeklarasikan
konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-
Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama
bangsanya, bukan atas nama umat Islam.

Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani

Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah
menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan
menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi
di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini
dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional - dan ia menobatkan diri
sebagai ketuanya - sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan
Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha tetap tak berani
membubarkan khilafah. Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah
dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak.
Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai
kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar
mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis
ini.Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah
dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih
parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi
terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Mejid II, serta berusaha mengembalikan
kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal Pasha. Malahan, ia menyerang balik dengan
taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia
melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing
yang harus dienyahkan.Setelah suasana negara kondusif, Mustafa Kemal Pasha mengadakan sidang Dewan
Perwakilan Nasional. Tepat 3 Maret 1924 M, ia memecat kholifah, membubarkan sistem khilafah, dan
menghapuskan sistem Islam dari negara. Hal ini dianggap sebagai titik klimaks revolusi Mustafa Kemal Pasha.

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan
kerajaan Usmani. Agi kerajaan Usmani, berdirinya kerjaan Safawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman
langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsugn lama, meskipun
pernah berhenti sejenak ketika perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namu tak lama kemudian Abbas meneruskan
konflik tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar Islam
itu.Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Ini turut
mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman, disamping pecandu berat narkotik, juga menyenangi
kehidupan malam beserta harem-haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani
pemerintahan. Begitu juga sultan Husein.Penyebab penting lainnnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak)
yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. Hal ini disebabkan
kerena pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani seperti yang
dialami oleh Qizilbash. Sementara itu, anggota Qizilbash yang baru tidak memiliki militansi dan semangat yang
sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.Tidak kalah penting dari sebab-sebab diatas adalah seringnya terjadi
konflik internal dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluaraga istana.

Kerajaan Turki Usmani

Pendiri kerajaan ini adalah Usman I, ia adalah kabilah Oghuz, yang tinggal di Mongol dan daerah utara
negara Cina. Atas dasar membantu berperang melawan Bizantium, oleh Sultan Alauddin II mereka diberi tanah di
Asia Kecil, atas kemenangannya kemudian oleh Usman didirikan sebagai kerajaan Turki Usmani (1290 M – 1326
M) hingga akhirnya mengadakan perluasan daerah dan menaklukkan kota-kota lain seperti Abdrianopel yang
kemudian dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan yang baru. Turki Usmani sangat terkenal dengan kemiliterannya
sehingga mampu mengadakan ekspansi sampai Eropa. Kerajaan Turki Usmani bermadhab sunny, mengalami
kejayaan pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni.

Penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani, 1) Wilayah kekuasaan yang sangat luas 2) Heterogenitas
penduduk 3) Kelemahan para penguasa 4) Budaya Pungli 5) Pemberontakan tentara jenis sari 6) Merosotnya
ekonomi 7) Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.

B. Kerajaan Safawi di Persia

Kerajaan Safawi berasal dari tarekat Safawiyah yang berdiri di Ardabil, Azerbaijan dan didirikan oleh Safi
al-Din (1252–1334 M). Kerajaan Safawi menetapkan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan ini di anggap
sebagai peletak dasar terbentuknya negara Iran. Puncak kejayaan pada masa Abbas I, karena mampu mengatasi
kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah di
rebut oleh kerajaan lain pada masa raja sebelumnya.Penyebab kemunduran kerajaan Safawi di Persia 1) Konflik
berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani2) Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan
Safawi 3) Gagalnya pembentukan pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I 4) Sering terjadi
konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.

C. Kerajaan Mughal di India

Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai Ibu Kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482–1530 M).
Pada awalnya Babur dimintai bantuan untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim di Delhi oleh paman penguasa
India (Ibrahim Lodi), dan akhirnya kemenangan berpihak padanya, tetapi rajanya meninggal dunia. Akhirnya
Babur memasuki kota Delhi karena di sana vacuum of power sehingga ia menegakkan pemerintahannya dan
mendirikan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Mughal terkenal dengan kemiliterannya sehingga Sultan adalah
penguasa diktator. Kerajaan Mughal menetapkan Sunny sebagai madzhab negara kerajaan Mughal di India hancur
pada tahun 1858 M.Penyebab hancurnya kerajaan Mughal di India 1) Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan
militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan
maritime mughal. 2) Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan
pemborosan dalam penggunaan uang negara. 3) Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan
ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan
sesudahnya. 4) Semua pewaris tahta adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.1 Suatu pertanyaan
yang selalu membenak di hati, mengapa tiga kerajaan di atas disebut sebagai kerajaan besar? Kalau kita tengok ke
belakang awal mula berdirinya tiga kerajaan tersebut adalah berdiri dengan sendiri secara mandiri tanpa
meneruskan kekuasaan pemerintahan nenek moyangnya, dengan kemandiriannya dalam membentuk suatu
pemerintahan tiga kerajaan besar itu mampu berkembang hingga mencapai kejayaan yang gemilang dengan
memperluas kekuasaan di sekitarnya hingga mampu membangun peradaban-peradaban Islam yang dapat kita
ketahui sampai sekarang. Walaupun secara kualitasnya masa keemasan tiga kerajaan besar tersebut lebih jauh
gemilang dengan kerajaan (dinasti-dinasti) Islam pada masa klasik, yang mendahulukan ilmu pengetahuan dari
pada kemiliteran yang berfungsi sebagai peperangan untuk melakukan ekspansi seperti yang dilakukan oleh tiga
kerajaan besar ini.EMBAHASAN

Sejarah Singkat Kerajaan (Usmani, Mughal Dan Safawi)Kerajaan Usmani.

Pendiri kerajaan ini adalah dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara Cina.

1 Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 111-128 dan Ira M. Lapidus, Sejarah
Sosial Umat Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 427-496)
Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk
Islam sekitar abad ke sembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan
serangan-serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat
pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka orang-orang Turki Saljuk, di dataran tinggi Asia kecil. Di
sana, di bawah pimpinan Erthogrul, mereka mengabdikan diri ke Sultan Alaudin II, Sultan Saljuk yang kebetulan
sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alaudin mendapat kemenangan. Berkat jasa
baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu
mereka terus membina wilayah barunya dengan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.1Ertoghrul meninggal dunia
tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra Ertoghrul inilah yang dianggap pendiri
Kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya ia banyak berjasa
kepada Sultan Aliuddin II dengan keberhasilannya ia menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan
dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk dan sultan Alauddin
terbunuh. Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa Kerajaan kecil. Usman pun menyatakan
kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan
berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.Setelah Usman I mengumumkan
dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak
wilayah kerajaan dapat di perluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa
tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota Kerajaan. Pada masa pemerintahan
Orkhan (726 H/ 1326 M-761 H/ 1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun
1327 M, Thawasyanli (1330M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M) daerah ini adalah
bagian benua Eropa yang pertama kali di duduki Kerajaan Usmani.2

2. Kerajaan Safawi di Persia

Kerajaan safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi
nama tarekat Safawiyah, di dirikan pda waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan usmani. Nama
Safawiyah diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama safawi itu rerus dipertahankan
sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu dilestarikan setelah gerakan ini mendirikan kerajaan.3

Safi Al-Din berasal dari keturunan orang yang berbeda dan memilih sufi sebaga jalan hidupnya. Ia
keturunan dari iman syi’ah yang ke enam. Musa Al-Kazim. Gurunya bernama syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi
(1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din
mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus meertuanya yang wafat tahun 1301 M.
Pengikut torekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan
memerangi oran-orang ingkar.4Kerajaan Mughal di IndiaKerajaan mughal berdiri seperempat abad sesudah
berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda.
Kerajaan mughal bukanlah kerajaan Islam pertama anak benua India. Awal kekuasaan islam di wilayah india terjadi
pada masa kalifah Al-Walid, dari Dinasti Bani Umayah, penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani
Umayah di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim.5 Kerajaan Mughal atau Mogul di India diasaskan oleh Babur
pada tahun 1526, apabila dia mengalahkan Ibrahim Lodi, sultan terakhir dalam kesultanan Delhi dalam
Pertempuran pertama Panipat. Kebanyakannya telah ditawan oleh Sher Shah semasa pemerintahan Humayun,
tetapi di bawah Akbar, ia berkembang dengan lebih luas, dan terus berkembang sehingga akhir pemerintahan
Aurangzeb. Selepas kemangkatan Aurangzeb pada tahun 1707, kerajaan Mughal semakin lemah, walaupun ia
kekal sebagai kuasa memerintah di benua India selama 150 tahun berikutnya. Dalam tahun 1739 ia dikalahkan oleh
tentera Persia di bawah pemerintahan Nadir Shah. Pada tahun 1756 tentera Ahmad Shah merompak Delhi sekali
lagi. Kekalahan terakhir ditangan Empire British pada tahun 1857, walaupun ia telahpun menjadi gelaran
kehormatan sahaja, tanpa kuasa pemerintahan sebenar.6

KEMUNDURAN TIGA KERAJAAN BESAR (1700-1800 M)

1. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut-turut Diperintah oleh enam raja, yaitu safi mirza (1628-1642
M), abas II (1642-1667 M), sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan
abas III (1733-1736) pada masa raja-raja tersebut kerajaan safawi tidak menunjukan grafik naik dan berkembang,
tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.Sebab-sebab kemunduran
Kerajaan Safawi, antara lain:

Para Pemimpin yang lemah, Safi Mirza, cucu abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat
kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang pernah dicapai oleh
abbas I segera menurun. Kota Qondahar (sekarang termasuk wilayah afganistan ) lepas dari kekuasaan kerajaan
safawi, diduduki oleh kerajaan mughal yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan, sementara baghdad
direbut oleh kerajaan Usmani.

Para Pemimpin suka minum-minuman keras, Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras
sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wajir-wajirnya, pada masa kota
Qandahar dapat direbut kembali. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam
terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya, rakyat bersifat masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti
oleh Shah Husein yang alim. Pengganti sulaiman ini meberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang
sering memaksakan pendapatnya terhadapa penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan
sunni Afhganistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.7adanya dekadensi
moral yang melanda sebagian pemimpin. Hal ini juga turut mempercepat proses kehancuran kerajaan
Safawi.konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani yang beraliran Syi’ah.8 karena pasukan ghulam
(pasukan budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.9
adanya konflik internal kerajaan, dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.10

2. Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti mughal berada dipuncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak
sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke 18 M kerajaan
ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekutan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat jpusat
menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu semakin lama semakin mengancam. Sememntara itu pedagang
inggris untuk pertamakalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di india, dengan didukung oleh kekutan
bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul tapi dapat diatasi.
Pemberontakan ini bermula dari tindakan aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran Puritanismenya.
Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata ia lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.
Ada bebrapa faktor juga yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal mundur pada satu setengah abad
terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M, yaitu : Kemerosotan moral dan hidup mewah
dikalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.Pendekatan Aurangzeb
yang terlampau ”kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh
sultan sesudahnya.Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang
kepemimpinan Terjadi stagnasi dalam pembinaan militer sehingga oprasi militer inggris di wilayah-milayah pantai
tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.11

3. Kemunduran Kerajaan Usmani

Setelah Sultan Al-Qanuni wafat ( 1566 M) kerajaan turki usmani mulai mengalami fase kemundurannya.
Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan
Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M). Dimasa pemerintahannya terjadi pertempuran antara
armada laut kerajaan usmani dengan armada laut Bundukia , angkatan sri paus, dan sebagian kapal para pendeta
Malta yang dipimpin Don Juan dari sepanyol. Pertempuran ini, Turki usmani mengalami kekalahan yang
mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa sultan berikutnya, Sultan Murad III pada tahun
1575 M tunisia dapat direbut kembali.Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami
kemundruan, diantaran adalah :

1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas. Administrasi pemerintahan yang sangat luas wilayahnya sangat rumit
dan kompleks, sementara administrasi kerajaan Usmani tidak beres.12 Heterogenitas penduduk. Dengan
luasnya wilayah secara otomatis terdapat perbedaan bangsa dan agama dari berbagai wilayah. Oleh karena
itu, perbedaan bangsa dan agama sering kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.

2. Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, Kerajaan Usmani dipimpin oleh sultan-sultan
yang lemah, baik dalam kepribadian maupun kepemimpinannya, akibatnya pemerintah menjadi kacau dan
tidak kondusif. Budaya pungli atau kalau penulis boleh katakan dengan istilah “korupsi sudah
membudaya”. Setiap jabatan yang hendak diraih seseorang, maka harus “dibayar” dengan sogokan kepada
orang yang berhak memberikan jabatan tersebut.13Pemberontakan tentara Jenissari. Jernissari adalah tentara
kerajaan Usmani yang bertugas dalam ekspansi militer dalam memperluas wilayahnya. Akan tetapi, tentara
Jenissari sendiri melakukan pemberontakan. Bahkan pemberontakan dilakukan sebanyak empat kali, yaitu
pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826.14Merosotnya ekonomi. Hal ini dikarenakan perang yang
tak pernah berhenti, sehingga anggaran digunakan untuk kepentingan perang, sedangkan pendapatan
berkurang dan belanja negara banyak. Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi. Hal ini
dikarenakan kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, dan hanya
mementingkan pengembangan kekuatan militer.Demikian beberapa faktor kemunduran atau kehancuran
kerajaan Usmani, yang pada waktu bersamaan pula, menjadi awal dari kekuatan-kekuatan Eropa untuk
menduduki wilayah-wilayah yang pernah diduduki oleh kerajaan Usmani. Kemajuan Eropa (Barat)
Bersama waktunya dengan kemunduran tigakerajaan Islam di periode pertengahan sejarah Islam, Eropa
Barat (biasa disebut dengan ”Barat” saja). Sedangkan mengalami kemajuan dengan pusat. Hal ini
berbanding terbalik dengan masa klasik sejarah Islam. Ketika itu, perabadan Islam dapat dikatakan paling
maju, memamncarkan sinarnya ke seluruh dunia, sementara Eropa sedang berada dalam kebodohan dan
keterbelakangan. Kemajuan Eropa (Barat) memang bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan metode
berpikir Islam yang rasional. Di antara saluran masuknya peradaban Islam ke Eropa itu adalah perang Salib,
Sacilia, dan yang penting adalah Spanyol Islam. Ketika islam mengalami kejayaan di Spanyol, banyak
orang eropa yang belajar ke sana kemudian menerjemahkan karya – karya ilmiah umat islam. Hal ini
dimulai sejak abad ke-12 M. Setelah mereka pulang ke negeri masing-masing, mereka mendirikan
universitas dengan meniru pola islam dan mengejarkan ilmu yang dipelajari di universitas-universitas islam
itu. Dalam perkembangan selanjutnya keadaan ini melahirkan renaissance, repormasi, dan rasionalisme di
Eropa.Gerakan-gerakan renaisans melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah dunia. Abad ke -16
dan 17 merupakan abad yang paling penting bagi Eropa, sementara pada akhir abad ke-17 itu pula, dunia
islam mulai mengalami kemunduran. Dengan lahirnya renaisans, eropa bangkit kembali untuk mengejar
ketinggalan mereka pada masa kebodohan dan kegelapan. Dengan organisasi dan persenjatan moderen
pasukan perang Eropa mampu melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan islam, seperti
ketika kerajaan usmani berhadapan dengan kekuatan-kekuatan eropa dan kerajaan mughal berhadapan
dengan inggris. Daerah-daerah kekuasaan islam lainnya mulai berjatuhan ketangan eropa, seperti asia
tenggara, bahkan mesir, salah satu pusat peradaban islam terpenting diduduki Napoleon Bonaparte dari
Prancis pada tahun 1798 M. Benturan-benturan antara kerajaan Islam dengan kekuatan eropa itu
menyadarkan umat islam bahwa mereka memang sudah jauh tertinggal dari Eropa. Kesadaran itulah yang
menyebabkan umat islam terpaksa harus banyak belajar dari Eropa. Perimbangan kekuatan umat islam dan
eropa berubah dengan cepat. Di antara kemajuan Eropa dan kemunduran islam terbentang jurang yang
sangat lebar dan dalam. Dalam perkembangan berikutnya, daerah-daerah Islam hampir seluruhnya berada
di bawah kekuasaan bangsa Eropa. semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang
lemah dalam bidang kepemimpinan;

3. http://suryaningsih.wordpress.com/2007/10/01/khilafah-bani-umayyah-masa-kemajuan-islam/
4. http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/10/1/pustaka
3. Masa Kemunduran Kerajaan Mughal

Setelah Aurangzeb meninggal, kerajaan Mughal mengalami masa kemunduran. Faktor utama dari
kemunduran ini adalah disebabkan perebutan kekuasaan sesama putra Aurangzeb. Masing-masing putranya
mempunyai ambisi untuk mengganti kedudukan ayahnya sebagai raja Mughal. Sebenarnya Aurangzeb sendiri telah
meramalkan peristiwa ini, sebagai mana pengalamannya menjelang dinobatkan menjadi raja Mughal. Untuk
mengatasi serta menghindari perebutan kekuasaan oleh putra-putranya, maka sebelum ia meninggal, ia berwasiat
kepada anak-anaknya untuk bersama-sama memerintah, dengan daerah yang telah ditentukan. Akan tetapi karena
anak-anaknya mempunyai keserakahan yang sama tidak mengikuti wasiat ayahnya, maka komplik keluarga tidak
dapat dihindarkan, sehingga Muazzam, Azima dan Kam Bakhsh terlibat langsung dalam perang saudara tersebut.
Putra-putra Aurangzeb menunjukkan sikap keras, tidak mengenal musyawarah dalam menyelesaikan persoalan
mereka, jalan yang mereka tempuh adalah menumbangkan kekuatan saudara-saudaranya dengan kekuatan
bersenjata dan penumpahan darah, merekatidak melihat bahwa dibelakang mereka sudah menunggu tangan-tangan
jahil yang akan menghancurkan kerajaan Mughal. Pikiran sempit inilah yang melatar belakangi Muazzam untuk
menghimpun kekuatan dengan jumlah besar, merebut kekuasaan dari saudaranya Azima dan Kam Bakhsh dan
menobatkan dirinya sebagai penguasa Mughal dengan nama Bahadur Syah. Bahadur Syah menjalankan roda
pemerintahan selama lima tahun, dalam masa pemerintahannya gejolak politik semakin tajam, baik dari lingkungan
keluarga istana, maupun dari lapisan masyarakat luas, namun persoalan ini masih dapat ia atasi dengan bantuan
para panglimanya, dimana putra-putranya terlibat pula dalam perebutan kekuasaan yang ditinggalkannya. Dalam
persaingan ini, Jendral Zulfiqar Khan turut memainkan rol penting, atas bantuan Zilfiqar putranya yang terlemah
Jahandar Syah dinobatkan menjadi raja, akan tetapi Jahandar Syah mendapat tantangan dari kemenakannya
Muhammad Farrukhsiyar. Dalam pertempuran yang terjadi di tahun 1713 M, Jahandar Syah mengalami kekalahan
dan Muhammad Farrukhsiyar memperoleh kemenangan dan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja
Mughal sampai tahun 1719 M. Farukhsiyar mati dibunuh oleh komplotan Sayyid Husain Ali dan Sayyid Hasan
Ali, dua bersaudara yang pada hakekatnya mempunyai kekuasaan di istana Delhi, sebagai gantinya mereka angkat
Muhammad Syah (1719-1748 M). Perebutan kekuasaan yang selalu terjadi inilah yang menyebabkan orang dari
luar keluarga istana ikut mencampuri urusan-urusan pewarisan kerajaan, bahkan mereka dapat menentukan siapa
orang yang disenanginnya dan orang yang harus dijatuhkan, kedaan politik seperti ini, kurang menguntungkan bagi
kerajaan Mughal, karena kerajaan diangkat kemudian dijatuhkan, oleh Harun Nasution dikatakan sesudah
Aurangzeb terdapat sultan-sultan lemah yang tidak dapat mempertahankan kelanjutan kerajaan Mughal. Dalam
keadaan serupa ini, tidaklah mengherankan kalau golongan-golongan Hindu yang ingin melepaskan diri dari
kekuasaan Mughal mengambil sikap menentang, terhadap sultan-sultan Mughal. Pada masa Aurangzeb yang
masih kuatpun, mereka telah menunjukkan sikap menentang, dengan melakukan pemberontakan dibawah
kepemimpinan Guru Tegh Bahadur dan kemudian Guru Gobind Singh dari golongan Sikh. Kemudian dari
golongan Rajput berontak di bawah pimpinan raja Undaipur. Kaum Mahratas dipimpin oleh Sivaji serta putranya
Simbaji. Pemberontakan orang Hindu pada masa Aurangzeb tidak begitu kuat, sehingga dengan mudah dapat di
tumpaskan oleh pasukan-pasukan Mughal.Pemberontakan dari golongan Hindu berulang kembali pada masa
Bahadur Syah, ia mendapat tantangan dari golongan Sikh dibawah pimpinan Banda, dan mereka berhasil
merampas kota Sadhaura di sebelah utara Delhi. Kemudian mereka berusaha merebut kota Sirhin, sebelum sampai
kekota ini mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap penduduk yang beragama Islam. Golongan
Maratha dibawah pimpinan Baji Rao dapat merampas sebahagian daerah Gujarat di tahun 1732 M, dan pada tahun
1737 M, malahan dapat menyerang sampai keperbatasan Ibu kota, tetapi setelah mereka mengetahui pasukan
Mughal bergerak menuju Delhi, mereka mundur kembali ke Gujarat. Serangan terhadap Delhi bukan hanya datang
dari dalam saja, tetapi juga datang dari luar India. Seketika Nadir Syah naik tahta di Persia, ia mengirimkan
dutanya untuk Delhi, tetapi raja Mughal Mahmud Syah pada waktu itu, tidak mau menerima duta yang dikirimnya.
Keputusan Mahmud Syah ini membuat Nadir Syah mengambil suatu keputusan untuk menyerang Delhi. Dalam
penyerangannya ke daerah yang terletak diperbatasan, pasukan Persia seakan-akan tidak mendapat perlawanan dari
tentara Mughal, sehingga dengan mudah dapat menaklukkan Pesyawar dan Lahore tahun 1739 M, kemudian
mereka meneruskan penyerbuan ke ibu kota kerajaan, disini terjadi kontak senjata dengan tentara Mughal, namun
perlawanan yang diberikan oleh Mughal tidak sebanding dengan pasukan Persia, akhirnya mereka menderita
kekalahan. Serangan Persia yang sangat memukulkan kerajaan Mughal adalah seketika pasukan Nadir Syah
menyerang Delhi, sewaktu ia memasuki kota ini, pasukan Persia mendapat perlawanan dari rakyat, namun
perlawanan ini tidak dapat membendung gerak majunya pasukan Persia, sebagai hukuman kepada kerajaan
Mughal, Nadir Syah mengizinkan pasukannya untuk melakukan pembunuhan dan perampasan besar-besaran.
Kerajaan Mughal diwajibkan membayar upeti dan daerah yang terletak di sebelah barat sungai Indus ia gabungkan
dengan Persia. Mahmud Syah ia tinggalkan tetap sebagai raja Mughal di Delhi, tetapi prestise kerajaan Mughal
telah mengalami kemunduran. Setelah mendapat pukulan berat dari Persia, kerajaan Mughal mengalami keadaan
yang tidak stabil, karena sebahagian wilayahnya telah melepaskan diri dari kekuasaan Mughal. Disamping itu
terjadi pula peralihan kekuasaan dari Mahmud Syah ke Alam Syah. Dimasa pemerintahan Alam Syah, kerajaan
Mughal mendapat serangan dari Afganistan di bawah pimpinan Ahmad Khan Durrani. Serangan Afganistan tahun
1761 M, ini memaksa pemerintahan Muhal untuk mengakui kerajaan Afganistan, sedangkan Alam Syah diberikan
izin sebagai Gubernur di Delhi, yang tunduk kepada kekuasaan kerajaan Afganistan.
4. Masa Kehancuran Kerajaan Mughal

Disaat kerajaan Mughal berada dalam masa kemunduran, beberapa bangsa Eropa, datang ke India untuk
menjalin hubungan dagang. Diantara bangsa Eropa yang pertama kali mengadakan hubungan dagang dengan India
adalah Portugis, Belanda, Prancis dan Inggeris. Dengan alasan berdagang inilah bangsa Eropah memperoleh izin
untuk menetap di pinggiran pantai selatan India. Dari sesama bangsa Eropa juga terjadi persaingan yang ketat
dalam dunia perdagangan, dari persaingan ini Inggeris dapat mengalahkan reval-revalnya. Kemudian Inggeris
berusaha untuk mendapatkan izin menetap di Bengal India Timur (tahun 1610 M), setelah mendapat izin dari
kerajaan Mughal, kemudian mereka membentuk perserikatan dagang India Timur (The East India Company)
dengan maksud untuk menguasai sumber komoditi India. Setelah inggeris berhasil mengendalikan sumber
komodeti India mereka berusaha pula mendirikan pabrik-pabrik di Bengal di India Timur. Untuk membendungi
arus lalulintas perdagangan serta pabrik-pabrik dari serangan golongan ekstrim India, mereka mendatangkan
pasukan Inggeris. Sementara itu kerajaan Mughal berada dalam situasi politik yang tidak stabil, akibat menghadapi
pemberontakan dari golongan Hindu yang sejak lama ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mughal. Melihat
kondisi Mughal sudah terlalu lemah dan tidak dapat menguasai keadaan, maka Inggeris mulai penasaran untuk ikut
serta memainkan rol politik India melalui The East India Compeny. Inggris tidak merasa puas memainkan politik
dibalik The East India Compeny, mereka ingin terlibat langsung, jika perlu dapat menguasai negeri India. Sejak itu
mereka milai menggunakan kekuatan bersenjata untuk memperluaskan wilayah kekuasaannya. Daerah yang
pertama yang mereka serang adalah Benggala 1757 M, kemudian mereka menyerang daerah Pesisir Timur India.
Kemudian di tahun 1799 M, pasukan Inggeris di bawah pimpinan Willesly melanjutkan serangan terhadap wilayah
Mysore, dan mereka berhasil mengalahkan pasukan Tippo dan Tippo penguasa Mysore dapat mereka bunuh.
Semenjak itu pasukan Inggeris terus menjarah daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Mughal, sengga
tahun 1857 M, semua daerah yang dikuasai Mughal dan daerah yang telah melepaskan diri dari Mughal berada di
bawah kekuasan Inggeris. Raja Mughal Bahadur Syah kehilangan sebahagian besar daerahnya, akibat perluasan
kekuasaan Inggeris di India. Utntuk merebut daerah itu kembali dari tangan Inggeris, Bahadur Syah bekerja sama
dengan gerakan Mujahiddin yang dipimpin Sayyid Ahmad serta golongan Hindu. Mereka semua sepakat
menentang penjajahan Inggeris, serta mengembalikan Bahadur Syah ke tahta kerajaan Mughal dan menjadi raja
India. Tindakan selanjutnya dari gerakan menentang Inggris, adalah terjadinya suatu penyerangan dari pasukan
Hindu tanggal 10 Mei 1857 M, terhadap posisi pasukan Inggeris di Meerut 60 Km, sebelah utara Delhi. Dalam
penyerangan itu banyak perwira Inggeris yang terbunuh. Pasukan Hindu meneruskan penyerangannya ke Delhi,
dan mereaka berhasil menguasai kota ini serta mengangkat Bahadur Syah sebagai raja India. Golongan Mujahiddin
turut mengambil bahgian dalam pemberontakan 1857 tersebut, antara mereka dengan golongan Hindu bekerja
sama untuk membebaskan India dari kekuasaan Inggeris, Inggeris tidak memperkirakan adanya penyerangan
terhadap Delhi maka untuk mengambil kembali ibu kota Delhi, Inggeris mengerahkan pasukannya dengan jumlah
yang besar, sehingga mereka berhasil memukul mundur pasukan Hindu serta gerakan Mujahiddin. Pemimpin dari
gerakan Mujahiddin serta pemimpin dari pasukan Hindu ditangkap dan dibuang dari India. Meskipun golongan
Hindu yang memulai pemberontakan, namun yang disalahkan sebagai penggerak pemberontakan adalah golongan
Muslim, dengan menunjukkan terlibatnya Bahadur Syah dalam pemberontakan tersebut. Sebagai hukuman
pemberontakkan tersebut, Inggeris mengusir penduduk Delhi, serta menghancurkan gedung gedung kerajaan
Mughal, sehingga yang tinggal hanyalah puing-puing yang berantakan. Sikap Inggeris yang kasar ini diakhirinya
dengan merenggut nafas kerajaan Mughal yang telah berusia hampir dua abad. Dan dengan menarik nafas terakhir
kerajaan Mughal lenyap dari daratan India.