Anda di halaman 1dari 4

1.

Indeks kovats Retensi indeks kovats merupakan suatu konsep yang digunakan pada gas kromatografi untuk mengubah waktu retensi menjadi suatu sistem yang tetap. Dengan mengambil hubungan antara sederetan senyawa homologi bahwa logaritma waktu retensi yang disesuaikan (log tR) dalam kolom yang diberikan pada temperatur yang telah ditetapkan (isotermal) adalah linier, maka Kovats dapat menyatakan semua senyawa tanpa memandang sifat kimianya seolah-olah sebagai n-paraffin. Skala arbitary 100 unit di pakai sebagai perbedaan antara dua paraffin yang berbeda satu nomor karbon. Paraffin heksana, heptana, oktana dan nonana dengan jumlah karbon 6, 7, 8,dan 9 beturut-turut dialokasikan pada nilai 600, 700, 800 dan 900 pada sistem indeks retensi. Indeks suatu senyawa dapat dihitung . Untuk menghitung Indeks suatu senyawa, maka senyawa tersebut harus terletak di antara dua paraffin yang dipisahkan oleh satu jumlah karbon. Waktu retensi yang disesuaikan dari senyawa tersebut dan dua standar paraffin harus ditentukan. Untuk kolom yang dioperasikan secara isothermal :

2. ektraksi dan fraksinasi fluida superkritis 2.1 ekstraksi fluida superkritis Ektraksi karbon dioksida (CO2) superkritis merupakan suatu metode baru yang dipelajari untuk pengolahan minyak pada biji-bijian. Meskipun fluida superkritis ditemukan lebih dari 100 tahun yang lalu, tetapi sekitar tahun 1970an baru digunakan secara komersial untuk mengekstrak kafein pada kopi. Fluida superkritis merupakan suatu zat yang mengalamai perubahan fasa yang berada pada kondisi titik kritis suhu dan tekanan. Fluida superkritis memliki sifat fisik yang berada antara fasa gas dan cairan. Fluida superkritis dikarakterisasikan dengan densitas tinggi, viskositas rendah, dan diffusivitas menengah antara gas dan cairan (Rizvi et al.,1986). Properti yang tidak biasa ini, justru menjadikan fluida superkritis sebagai pelarut yang ideal dan potensial. Kelarutan komponen dalam fluida superkritis tergantung pada densitas dari pelarut, juga affinitas

psiko-kimia dari zat terlarut terhadap pelarut. Berdasarkan sifat fisiknya ini, penggunaan fluida superkritis menjadi pelarut khususnya pada proses sintesis menjadi sangat penting karena kondisi reaksi bisa di ubah secara akurat dibandingkan dengan pelarut organic seperti kloroform atau diklorometana. Selain itu, beberapa pelarut organik sedang dihapus penggunaannya karena mempunyai efek merusak lingkungan dan kesehatan. Tabel 1. Sifat fisik dari gas, cairan, dan fluida superkritis

Karena sifat fisiknya, fluida superkritis hanya mampu melarutkan senyawa yang bersifat non-polar. Untuk senyawa yang polar, biayasanya ditambahkan suatu pelarut tambhan seperti aseton untuk meningkatkan kepolarannya. Dari tabel 1, terlihat bahwa gas memiliki difusivitas paling besar, sehingga laju transfer massanya juga terbesar. Dengan densitas terkecil, kekuatan gas sebagai pelarut kurang. Fluida superkritis memiliki densitas dan kekuatan pelarut yang hampir sebanding dengan cairan. Viskositas yang lebih rendah dari cairan, menyebabkan fluida superkritis memiliki kemampuan untuk penetrasi matriks inert dan solut ekstrak yang lebih baik. Keunggulan utama fluida superkritis dibandingkan dengan cairan adalah diffusivitas yang lebih besar. Meskipun tidak sebesar gas, difusivitas fluida superkritis yang 1000 kali lebih besar dari difusivitas cairan, menghasilkan laju transfer massa yang lebih besar. Pengaturan tekanan dan temperatur selama proses ekstraksi berlangsung, selain mengubah densitas CO2, juga berpengaruh terhadap kelarutan dan selektivitas dari solut ekstrak. Semakin tinggi tekanan dan kelarutan, total hasil ekstraksi akan semakin tinggi. Fraksinasi dan hasil ekstraksi fluida superkritis dapat diatur dengan mengelola tekanan dan temperatur ekstraksi, juga tekanan evaporasi produk bawah (down stream) selama proses pemisahan. Ekstraksi fluida superkritis adalah suatu proses ekstraksi menggunakan fluida superkritis sebagai pelarut. Teknologi ekstraksi ini, mengeksploitasi kekuatan pelarut dan sifat fisik tambahan dari komponen murni atau campuran pada temperatur dan tekanan kritisnya dalam kesetimbangan fasa (Palmer, 1995).

Ekstraksi fluida superkritis memberikan keuntungan lebih jika dibandingkan dengan proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik tradisional. Contoh, pada ekstraksi menggunakan pelarut tradisional sisa pelarut tidak dapat dihindari dalam setiap proses ekstraksi dan selalu terukur secara kuantitatif, sedangkan dalam ekstraksi fluida superkritis tidak akan ditemui sisa pelarut, karena adanya pengurangan pada tahap proses lanjutan. CO2 secara umum telah diakui aman dan dicantumkan dalam US Food and Drug Administration sebagai bahan tambahan pangan manusia. Selain itu, proses ekstraksi dengan teknologi fluida superkritis, menghasilkan ekstrak dengan aroma dan rasa alami, karena pelarut CO2 memerlukan temperatur rendah, sehingga mampu menahan komponen yang memiliki kontribusi terbesar terhadap rasa dan aroma yang sensitif terhadap panas. Dalam proses tidak dihasilkan oksigen, sehingga proses oksidasi dari ekstrak dapat dikurangi secara signifikan. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada proses ekstraksi minyak atsiri dengan distilasi air maupun dengan pelarut organik lainnya, antara lain : jumlah ekstrak yang dihasilkan sedikit, kehilangan komponen yang mudah menguap, waktu ekstraksi yang panjang, sisa pelarut yang bersifat toksik, degradasi komponen tidak jenuh dan wangi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan karena adanya pengaruh panas, tidak terjadi pada ekstraksi dengan fluida superkritis (Ebrahimzadeh et al., 2003, Szokonya and Then, 2000). Bahan yang akan diekstrak umumnya daun, bunga, akar, buah, kulit buah, biji dan bagian tanaman lain yang mengandung minyak atsiri. Umumnya sampel dalam keadaan kering. Sebelum proses ekstraksi berlangsung, ada perlakuan pengeringan dengan : a. freeze-drying b. oven pada temperatur 45oC hingga didapatkan berat yang konstan c. vacuum rotary evaporator pada 35oC hingga didapatkan berat yang konstan Sampel kering digiling, sampai ukuran tertentu, disimpan dalam wadah tertutup kemudian dimasukkan ke dalam refrigerator atau inkubator, sampai akan digunakan. Seperti sudah diuraikan sebelumnya, CO2 superkritis dengan kemurnian tinggi, digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi ini.

Penambahan pelarut lain (co-solvent) juga dilakukan dalam beberapa penelitian, dengan tujuan untuk menambah polaritas pelarut. Keunggulan penggunaan CO2 sebagai pelarut, antara lain : tidak mudah terbakar, tidak beracun, lebih murah dibandingkan dengan pelarut cair setingkat pereaksi, tersedia dengan tingkat kemurnian tinggi, dapat dibuang ke atmosfir atau digunakan ulang tanpa menyebabkan keracunan. Komponen dasar dari ekstrakor fluida superkritis ini adalah : 1. Persediaan CO2 2. Kompressor gas atau pompa 3. Zona pemanasan atau oven 4. Tangki ekstraksi 5. Restriktor pengeluaran atau valve 6. Akumulator ekstrak atau kolektor. 2.2 fraksinasi fluida superkritis Ekstraksi fluida superkritis dari fase cair dapat dilaksanakan dengan menggunakan kolom vertikal. Proses ini juga disebut sebagai fraksinasi fluida superkritis (SFF). Fasa cair mungkin campuran cairan, atau larutan yang mengandung zat terlarut. Proses ini dapat dilakukan dalam mode semikontinu atau kontinu. Secara umum dua fraksi dikumpulkan, salah satu dari puncak kolom (ekstrak dan / atau fase cahaya) dan fraksi kedua dari bawah kolom (raffinate dan / atau berat fase) selama proses fraksinasi. Keuntungan dari SFF adalah bahwa hal itu dapat digunakan sebagai proses yang berkesinambungan, yang cenderung lebih efisien dari pada proses batch jika dirancang dengan benar.