Anda di halaman 1dari 19

LAUT TERITORIAL

Ayub Torry Satriyo Kusumo

PENDAHULUAN
Kebutuhan untuk menyusun suatu teori hukum tentang status antar negara terhadap laut menyebabkan ahli-ahli hukum Romawi yang disebut Post-Glossator mencari penyelesaian hukumnya didasarkan atas asas-asas dan konsepsi-konsepsi hukum Romawi. Bartolus meletakkan dasar bagi pembagian atas laut yang berada di bawah kekuasaan kedaulatan negara pantai (Laut Teritorial) dan di luar itu berupa bagian laut yang bebas dari kekuasaan dan kedaulatan siapapun (Laut Lepas).

KONSEP LAUT TERBUKA (MARE LIBERIUM)


Argumentasi Teori Grotius : menyatakan bahwa pemilikan (termasuk laut) hanya bisa terjadi melalui Possession. Possession hanya dapat terjadi melalui okupasi, dan okupasi hanya bisa terjadi terhadap barang-barang yang dipegang teguh. Untuk dapat dipegang teguh harus ada batasnya. Laut merupakan barang cair sehingga tidak ada batasnya dan tidak dapat diokupasi.

membedakan pengertian imperium (sovereignty) dan dominium (ownership), suatu negara berdaulat pada bagian-bagian tertentu dari laut tertentu, tetapi umumnya tidak dapat memiliki laut.

KESIMPULAN MARE LIBERUM


Tuntutan penguasan dan kepemilikan atas laut berdasar penemuan, penguasaan tidak dapat diterima Anak-anak laut, sungai-sungai (meskipun cair) dapat dimiliki dikarenakan ada batas-batas di tepinya sehingga dianggap sesuatu yang padat

Monday, September 30, 2013

MARE LIBERIUM VS MARE CLAUSUM

John Selden (Inggris)


1.
2.

3.

memandang bahwa bagian-bagian laut tertentu dapat dimiliki negara pantai. Occupation merupakan unsur penting dalam possession, meskipun sejarah menunjukkan beberapa negara mempraktekkan penguasaan atas laut John Selden berpendapat laut adalah Mare Clausum.

KONSEP AWAL LAUT TERITORIAL


John Selden mempuyai dasar bahwa sungai dan perairan yang cair di sepanjang pantai dapat diakui dan dapat dimiliki. Sejarah membuktikan masing-masing konsepsi (Mare Clausum dan Mare Liberium) tidak dapat saling bertahan secara konsekuen. Sehingga terdapat kompromi bahwa laut dapat dikuasai oleh negara pantai sepanjang negara pantai dapat menguasai, dan mengakui hak negara lain untuk memiliki wilayah laut dan mengakui hak lintas damai. Hal ini merupakan cikal bakal konsep Laut Teritorial.

PONTANUS (ILMUWAN BELANDA)


Salah satu teori yang merupakan kompromi antara teori mare clausum dan mare liberum membagi laut menjadi dua bagian yaitu laut yang berdekatan dengan pantai (yang berada di bawah pemilikan atau kedaulatan negara pantai/Adjacent Sea) dan lautan yang bersifat bebas.

LANJUTAN

Menurut teori yang merupakan penyempurnaan dari teori Bartolus ini, laut yang berdekatan dengan pantai dijadikan bagian dari wilayah negara pantai sehingga lenyaplah perbedaan antara imperium (kedaulatan) dan dominium (kepemilikan) yang dibuat oleh Grotius.

KONSEP AWAL LEBAR LAUT TERITORIAL

Cornelius van Bynkershoek (Belanda) menulis buku De Dominio Maris Dissertatio yang menolak dalil John Selden yang mengklaim bagian-bagian laut yang luas bagi negara pantai, dengan menyarankan suatu jalur tertentu (dengan ukuran lebar yang tidak terlalu besar) di bawah kedaulatan negara pantai.

LANJUTAN
Sehingga dikenal suatu azas penguasaan laut dari darat berupa suatu Kaidah Tembakan Meriam, yaitu berbunyi Terrae protestas finitur ubi finitur armorum vis (kedaulatan teritorial berakhir dimana kekuatan senjata berakhir). Dalam sejarahnya ada beberapa ukuran yang dipergunakan untuk menetapkan lebar laut teritorial sebagai jalur yang berada di bawah kedaulatan negara pantai, yaitu:

Ukuran tembakan meriam. Ukuran pandangan mata. Ukuran marine league.

ukuran yg paling banyak diakui adalah lebar laut teritorial tiga mil merupakan asal usul kaidah laut teritorial yg didasarkan pada ukuran tembakan meriam pertama kali muncul dalam sengketa Inggris dan Belanda dlm nota wakil Inggris Gerbier di Brusell kpd rajanya yg menulis : ..... Orang Belanda tdk dpt mengakui Paduka Yang Mulia memiliki kekuasaan di laut yg melampaui jarak tembakan meriam

JARAK TEMBAK MERIAM DAN ASAL USUL KAIDAH LEBAR LAUT TERITORIAL 3 MILL
Usaha untuk mencoba menggambarkan kaidah tembakan meriam dalam ukuran jarak yang konkrit pertama kali dilakukan oleh Galiani (Italia) dengan menghubungkannya dengan suatu jalur netralitas yang lebarnya tiga mil, selanjutnya Domenico Anzuni (Italia) lebih terkenal lagi sebagai orang yang menyamakan kaidah tembakan meriam 3 mil.

LANJUTAN
Penelitian Riesenfeld : abad 19 dan 20 ukuran lebar laut teritorial 3 mil berdasarkan tembakan meriam sudah umum diakui Diundangkannya Territorial Waters Jurisdiction Act (1878) oleh Inggris, memperjelas ukuran tiga mil sebagai kaidah yang berdiri sendiri apalagi saat itu kedudukan armada perang dan niaganya dengan negara-negara Eropa Barat lainnya dan Amerika Serikat yang semuanya menganut kaidah tiga mil, memberikan kesan ini berlaku umum (International Customary Law).

DASAR KAIDAH 3 MIL BERDASARKAN TEMBAKAN MERIAM :


Penguasaan negara atas laut yang berbatasan selebar 3 mil disebabkan karena sejauh itulah jarak tembakan meriam pada waktu itu Menurut Wyndham Walker dan Kent : ukuran ini tidak termasuk pengertian dari jalur laut yg tidak terputuskan sepanjang pantai (a continuous maritime belt along the coast) Dalil tembakan meriam didasarkan atas konsepsi penguasaan pantai oleh senjata meriam yg ada di darat seperti terdapat pd bentang-bentang pada tempat strategis tertentu Dalil tembakan meriam : kepentingan netralitas negara pantai thd pihak ketiga yg bermusuhan

JALUR LAUT YG TERBENTANG SEPANJANG PANTAI :


Konsep jalur laut yg terbentang sepanjang pantai adalah konsepsi laut teritorial negara Skandinavia khususnya Denmark yg menggunakan kata league sbg ukuran lebar (Kent) Didasarkan untuk kepentingan perikanan league : 4 mil sbg jalur laut yg terbentang secara tak terputuskan sepanjang pantai (a continuous maritime belt along the coast) dg lebar 4 mil merupakan yg sejarah tertua dibandingakan dg ukuran tembakan meriam 3 mil

KESIMPULAN :
1.

2.

3.

Konsepsi laut teritorial lahir bersamaan dg laut lepas (high seas) yaitu pembagian dua laut mengakhiri pertentangan penganut doktrin laut tertutup (mare clausum) dan laut bebas (mare liberum) sekaligus lahir hukum laut internasional publik Klaim penguasaan laut yg berbatasan dg pantainya selain alasan keamanan dan netralitas juga untuk pencegahan penyelundupan, kesehatan dan karantina, perlindungan perikanan dll Sampai pd abad 18 : konsepsi laut teritorial, kemudian berkembang menjadi jalur di luar laut teritorial untuk kepentingan-kepentingan tertentu

UPAYA KODIFIKASI HUKUM LAUT INTERNASIONAL


Konferensi Kodifikasi Den Haag (1930) Konferesi Internasioanal pertama yang membahas masalah laut teritorial ialah codification conference (13 Maret 12 April 1930) di Den Haag, dibawah naungan Liga Bangsa Bangsa, dan dihadiri delegasi dari 47 negara. disetujui mempertimbangkan laut teritorial sebagai bagian dari wilayah negara pantai (suatu negara memiliki kedaulatan atas jalur laut), dan perairan di luarnya adalah laut lepas,

Konferensi ini tidak mencapai kata sepakat tentang batas luar dari laut teritorial dan hak menangkap ikan dari negara-negara pantai zona tambahan. Ada yang menginginkan lebar laut teritorial 3 mil (20 negara), 6 mil (12 negara), dan 4 mil.