Anda di halaman 1dari 24

1

PENGGUNAAN METODE BERCERITA UNTUK MENINGKARAAN MINAT BELAJAR (Penelitian Tindakan Kelas di Kelompok A RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasana, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan.dirinya masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sebagai suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan akan melibatkan dan mengikutsertakan bermacam-macam komponen dalam rangka mencapai tujuan yanmg diharapkan. Pendidikan dilakukan sumur hidup sejak usia dini sampai akhir hayat, pentingnya akhir hayat, pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat di dalam Undang-undang KeMendiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa : Pendidikan Anak Usia Dini yang selanjutnya disebut PAUD, adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan RA merupakan salah satu bentuk pendidikan formal,

pendidikan anak usia dini di dalam Undang-undang SiMIiknas Nomor 20

Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 7 dijelaskan : Taman kanak-kanak yang selanjutnya disingkat RA adalah salah atau bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia empat tahun sampai enam tahun. Pada masa RA, selain bermain sebagai bentuk kehidupan dalam dapat

kecakapan memperolah keterampilannnya, anak-anak juga sudah

menerima berbagai pengetahuan dalam pembelajaran secara akademis untuk persiapan mereka memasuki pendidikan dasar selanjutnya. Pada masa ini, anak-anak mengalami masa peka merupakan masa terjadinya pematangan funhsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Hal ini dinyatakan pula oleh Piere Duquet (JASNI, 20007) bahwa a children who does not drwa is an anomally, and particulary so in the years between 6 an 0, which is outstandingy the golden age of creative expression/ Pada rentang usia lahir sampai enam tahun, anak mulai peka untuk menerima berbagai upaya perkembangan potensi yang dimilikinya. Pembelajaran pendidikan di RA bertujuan membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan, daya cipta dan menyiapkan anak memasuki pendidikan dasar dengan mengembangkan nilainilai agama (moral), fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosi, dan seni. Anak mulai dapat mendengarkan cerita biasanya terjadi pada akhur usia tiga thaun. Pada usia ini anak mampu mendengarkan dengan baik dan cermat cerita pendek yang sesuai untuknya. Sebagian cerita itu ada yang

mengandung unsur-unsur negatif. Sekolah diharapkan bisa menyaring cerita-

cerita tradisional itu sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi perkembangan anak. Tingkat RA atau MI menjadi tempat pertama anak-anak memperoleh pendidikan dan menjadi dasar bagi pendidikan yang lain, Di tempat ini anak lebih cepat mendapat pengaruh dan lebih mudah dibentuk pribadinya. Dalam cerita terdapat ide, tujuan, imajinasi, bahasa dan gaya bahasa. Unsur-unsur terebut berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Penetapan pelajaran bercerita pada masa awal sekolah dasar adalah pendidikan. Ketika anak berada pada tahun pertama RA dan MI, ia belum mampu membaca cerita sendiri dengan baik dan benar. Sebagai gantinya maka tugas gurulah untuk menceritakannya. Usaha siswa untuk menyampaikan kembali cerita yang telah didenganrnya dari guru atau menjawab soal yang diajukan kepadanya adalah latihan untuk mengungkapkan bahasanya sendiri. Dari uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah judul : Penerapan Metode ide-idenya dengan bagian terpenting dari

Bercerita dalam MeningkaRAan Minat Belajar (Penelitian Tindakan Kelas di RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto .

B. Identifikasi Masalah dan Pertanyaan Penelitian Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah 1. Metode bercerita yang digunakan dalam pembelajaran tidak sesuai

2. Masih rendahnya minat belajar anak. Adapun pertanyaan penelitian yang diakjukan adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana penggunaan metode bercerita Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto 2. Bagaimana minat belajar anak di RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto ? 3. Bagaimana pengaruh pertanyaan metode bercerita dalam meningkatkan minat belajar anak di RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto. dalam pembelajaran di RA Al

C. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 1. Variabel bebas adalah variable yang mempengaruhi variabel lain. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini yaitu penggunaan metode bercerita (variabel X). 2. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain.

Adapun variabel terikat dalam peneltian ini adalah minat belajar (variabel Y)

D. Tujuan Penelitian Adapun pertanyaan penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui penggunaan metode bercerita dalam pembelajaran RA Al Ikhlas

2. Untuk mengetahui minat belajar anak RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto. 3. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode bercerita dalam meningkatkan minat belajar anak di RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto.

E. Manfafat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain : 1. Bagi anak, dapat meningkatkan minat belajar dengan adanya penerapan metode bercerita. 2. Sebagai bahan masukan bagi guru khusunya tentang pentingnya metode bercerita dalam pembelajaran guna meningkatkan minat belajar anak. 3. Sebagai bahan masukan dalam pembanding bagi peneliti lainnya yang akan meneliti ulang kajian yang sama.

F. Batasan Istilah Agar permasalahan yang ada dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan karena adanya salah penafsiran atas isitilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka penulis memberikan batasan istilah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui penggunaan metode bercerita RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto. dalam pembelajaran di

2.

Untuk mengetahui minat belajar anak di RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto

3. Untuk mnegetahui pengaruh penggunaan metode bercerita

dalam

meningkatkan minat belajar anak RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto.

G. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain : 1. Bagi anak, dapat meningkatkan minat belajar dengan adanya penerapan metode bercerita. 2. Sebagai bahan masukan bagi guru khususnya tentang pentingnya metode bercerita dalam pembelajaran guna meningkatkann minat belajar anak. 3. Sebagai bahan masukan dan pembanding bagi peneliti lainnya yang akan meneliti ulang kajian yang sama.

H. Batasan Istilah Agar permasalahan yang ada dalam peneltian ini tidak menyimpang dari tujuan karena adanya salah penafsiran atas istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka penulis memberikan batasan istilah sebagai berikut : 1. Penggunaan Penggunaan adalah tindakan pelaksanaan atau pemanfaatan pengetahuan baru untuk suatu kegunaan atau tujuan khusus. suatu

2. Metode bercerita Pengertian metode bercerita dikutif dari Moeslichatoen (2004 : 157)

adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang biasa dilakukan secara lisan atau tertulis. Cara penuturan cerita tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga. Minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajara itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisifasi dan keaktifan dalam belajar (Arianto Syam, 2008 : 25)

I. Asumsi (anggapan dasar) dan Hpotesis Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Kegiatan bercerita memberikan nilai pembelajaran yang banyak bagi proses belajar dan perkembangan anak serta dapat menumbuhkan minat dan kegemaran membaca. Jensen (Sholehudin, 2009 : 91) membacakan cerita dengan nyaring kepada anak secara substansial dapat berkontribusi terhadap pengetahuan cerita anak dan kesadarannya tentang membaca.

2. Memberikan pengalaman belajar dengan menggunakan metode bercerita memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik maisng-masing anak. 3. Menumbuhkan minat belajar anak sebetulnya tidak terlalu sulit. Kenali apa yang disukai dan ajak dia melakukan hal tersebut. Niscaya minat belajarpun meningkat. Kuncinya adalah mengetahui apa yang dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun kebawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri. Adapun rumusan hipotesisnya adalah penerapan metode bercerita dapat meningkaRAan minat belajar anak

J. Tinjauan Teoritis Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami, sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan. Sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik Oemar : 2001). Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu propses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Karena

belajar merupakan

suatu perubahan tingkah laku. maka diperlukan

pembelajaran yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa. Jadi yang dimaksud dengan minat belajar adalah pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dari kemauannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungan. Perubahan kelakukan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif, Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada dilingkungan secara berkelompok. Ditinjau dari aspek psikologi, minat belajar ditunjukkan dalam beberapa cirri seperti : gairah, keinginan , perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar (Arianto Sam, 2008 : 10). Bercerita atau yang biasa disebut mendongeng merupakan seni atau teknik budaya kuno untuk menyampaikan suatu peristiwa yang dianggap penting, melalui kata-kata, imaji dan suara-suara (Ismoerdijahwati K, 2007) Dongeng atau cerita telah ada dalam banyak kebudayaan dan daerah sebagai hiburan, pendidikan, pelestarian kebuadayaan dan mneyimpan pengetahuan serta nilai-nilai moral. Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat peraga atau tanpa alat

10

peraga tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan. Oleh karena itu orang yang menyajikan cerita tersebut harus menyampaikannya dengan menarik (Dhiel et al, 2005 : 6.3). Berdasarkan pengertian di atas, maka cerita anak dapat didefiniskan tuturan lisan, karya bentuk tulis atau pementasan tentang suatu kejadian, peristiwa, dan sebagainya yang terjadi di seputar dunia anak (Musfiroh et al, 2005 ; 59). Sedangkan Depdiknas (2004 : 12) mendefinisikan bahwa metode bercerita adalah cara bertutur kata dalam penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada anak secara lisan, dalam upaya memperkenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada anak. Sebagai suatu metode, bercerita tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan (Rosetiyah NK, 2008 : 145). Kelebihan dari metode bercerita di antaranya : 1. 2. Guru mudah menguasai kelas Guru dapat meningkatkan konsentrasi siswa dalam waktu yang relatif lama 3. 4. 5. Mudah menyiapkannya Mudah melaksanakannya Dapat diikuti oleh siswa dalam jumlah banyak

Adapun kekurangan dari metode-metode bercerita, di antaranya adalah :

11

1. Siswa terkadang terbuai dengan jalannya cerita sehingga tidak dapat mengambil intisarinya. 2. Hanya guru yang pandai bermain kata-kata atau kalimat 3. Menyebabkan siswa pasif karena guru aktif 4. Siswa lebih cenderung hafal isi cerita daipada sari cerita yang dituturkan

K. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitaif dan kualitatif, dengan analisisnya menggunakan metode studi deskriptif, yaitu metode yang diarahkan untuk memecahkan masalah dengan cara memaparkan atau menggambarkan apa adanya hasil penelitian. Ketetapan penentuan metode ini juga didasarkan pada pendapat Winarno Surachmad (1982 : 139), bahwa aplikasi metode ini dimaksudkan untuk penyelidikan yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Pemilihan metode deskriptif dalam penelitian ini juga karena masalah yang sedang diteliti merupakan masalah yang sedang berlangsung di masyarakat. 2. Teknik Pengumpulan Data

12

Untuk dapat memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu : a. Angket Angket adalah suatu alat pengumpuli informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis pula olah responden (S. Margono, 2003 : 167) Angket digunakan untuk mengungkap data tentang penerapan metode bercerita dalam meningkatkan minat belajar. Angket digunakan karena bersifat praktis, ekonomis, dan responden dapat memilih dengan pilihan yang jelas. b. Observasi Obesrvasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis

fenomena yang diteliti (Suharsimi, 1998 : 128). Metode ini penulis gunakan untuk mengamati, mendengarkan dan mencatat langsung terhadap penerapan metode bercerita, letak geografis, sarana dan prasarana, fak,or pendukung dan penghambat dalam penerapan metode bercerita. c. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan (Moloeng, 2007 : 186). Metode

13

ini digunakan untuk mendapatkan informasi tentang penerapan metode bercerita untuk meningkatkan minat belajar. d. Dokumentasi Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leeger, agenda (Suharsimi, 198\98 : 159). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto, struktur organisasi,

keadaan guru dan keadaan peserta didik.

e. Studi Pustaka Studi pustaka adalah pengkajian sumber-sumber buku atau sejenis buku, yang digunakan untuk mendapaRAan teori-teori, konsep-

konsep sebagai bahan pembanding, penguat, atau penolak terhadap temuan hasil penelitian untuk menarik kesimpulan. Kajian buku-buku dalam penelitian ini tentu yang menjujung terhadap kajian penelitian. 3. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di RA Al Ikhlas tepatnya di Perum

Tamansari Indah Kec. Kawalu Karangdiyeng Kutorejo Mojokerto dipilih untuk dijadikan lokasi penelitian karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal peneliti, tempat peneliti mengajar, dan masalah ditemukan disana. 4. Populasi dan Sampel

14

Populasi dan keseluruhan subyek penelitian . Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 1998 : 102 104). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa RA Al Ikhlas Kelompok B yang berjumlah 34 orang. Dikarenakan jumlah populasi kurang dari 100, maka tidak diperlukan sampel. Jadi, penelitian ini termasuk penelitian populasi. 5. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian

tindakan kelas (PRA), yang terdiri dari 2 (dua) siklus. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mngadopsi model yang dikembangkan oleh Kurt Lewis, Kemmis dan Mac Taggart. Adapun komponen-komponen pokok yang dijadikan sebagai langkah dalam penelitian ini adalah: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflection). Siklus prosedur penelitian ini dapat divisualisasikan sebagai berikut :

Planning

Acting

Observing

Reflecting

a. Siklus I 1) Tahap Perencanaan Dalam tahap ini dilakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar permasalahan, kemudian

15

menetapkan tindakan pemecahannya. Kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mempersiapkan

silabus, mempersiapkan media yang digunakan, dan membuat alat pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk

wawancara dengan guru pengamat (observer) 2) Tahap Tindakan Tahap ini merupakan tahapan pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses pembelajaran. Dengan menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan.

3) Tahap Pengamatan Dalam tahap ini dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dan terhadap

kelangsungan proses pembelajaran melalui terhadap guru. 4) Tahap Refleksi

lembar pengamatan

Dalam tahapan ini dilakukan evaluasi terhadap tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan merefleksi perencanaan serta proses pembelajaran dan hasil belajar. Dalam refleksi ini dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT, yakni analisis strengthen (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang), dan treathen (ancaman). Hasil analisis

16

tersebut digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan siklus II, yakni untuk mengetahui hal mana yang perlu mendapat perbaikan. b. Siklus II 1. Tahap Perencanaan Dalam tahap ini dilakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar permasalahan berdasarkan hasil refleksi siklus I, kemudian menentukan langkah konkrit untuk memecahkan permasalahan tersebut. Kegiatan selanjutnya peneliti membuat skenario pembelajaran, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran, mempersiapkan silabus, dan segala sesuatu yang akan dilaksanakan pada tahapan tindakan. 2. Tahap Tindakan Tahap ini merupakan tahapan pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses pembelajaran. Dengan menggunakan

langkah-langkah yang telah ditetapkan 3. Tahap Pengamatan Dalam tahap ini dilakukan pengamatan dan terhadap kelangsungan

proses pembelajaran melalui lembar pengamatan terhadap guru. 4. Tahap Refleksi Dalam tahapan ini dilakukan evaluasi terhadap tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan merefleksi perencanaan serta proses pembelajaran dan hasil belajar. Dalam refleksi ini dianalisis SWOT, yakni analisis. Dalam refleksi ini dianalisis dengan menggunakan

17

analisis SWOT, yakni analisis strengthen (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang), dan treathen (ancaman). Hasil analisis tersebut digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan siklus III jika memang itu diperlukan, yakni untuk mengetahui hal mana yang perlu mendapat perbaikan. Apabila siklus II dirasa cukup dan

menunjukkan hasil yang baik, maka siklus II tidak diperlukan.

L. Sistematika Penulisan Sistematika penulisanini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah dan Pertanyaan Penelitian C. Variabel Penelitian D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Penelitian F. Batasan Istilah G. Asumsi dan Hipotesis H. Ringkasan Tinjauan Teoritis I. Metode Penelitian

18

J. Sistematika Penulisan K. Agenda Kegiatan Penelitian BAB II KERANGKA TEORITIS A. Kajian tentang Metode Bercerita B. Kajian tentang Minat Belajar BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian B. Teknik Pengumpulan Data C. Instrumen Penelitian D. Lokasi, populasi dan Sampel E. Teknik Pengolahan Data F. Dsain Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian B. Pembahasan BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran

19

L. Agenda Kegiatan penelitian Agenda kegiatan penelitian yang dilaksanakan. Disajikan sebagai berikut : No 1 2 3 Kegiatan Perencanaan Menyusun konsep pelaksanaan Menyusun instrument Pelaksanaan Melakukan tindakan siklus I Melakukan tindakan siklus II Menyusun konsep laporan Menyempurnakan draft laporan 1 2 Minggu Ke 3 4 5 6 7 8

M. Biaya Penelitian Dana anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan rencana kegiatan penelitian ini menjadi tanggungjawab peneliti. Adapun rencana kegiatan dan anggaran yang diperlukan adalah sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 Kegiatan Photo copy Kertas folio HVS A4 80 gram Penjilidan Lain-lain Jumlah Volume 100 lbr 1 pak 1 rim A buah Besar Anggaran 150,00 20.000,00 35.000,00 10.000,00 Jumlah 15.000,00 20.000,00 35.000,00 10.000,00 20.000,00 100.000,00

20

1. Honorarium Pelaksana Waktu Pelaksana 5 orang guru Bulan 2 Minggu 8 Jam Minggu 4 Tarif Minggu (Rp) 5.000,00 Total (Rp) 160.000.00

2. Biaya operasional Kegiatan Pembuatyan dan penggandaan instrumen Sewa komputer PTK Pengolahan data 3. Biaya habis pakai Pembuatan media pembelajaran Rp. 200.000,00 4. Biaya Manajemen 1. 2. 3. Tes Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 150.000,00 Jumlah 100.000,00 200.000,00 120.000,00 150.000,00

Pemberkasan Pengiriman usulan

REKAPITULASI BIAYA Nama Kegiatan Honorarium Pelaksana Biaya Operasional Total Biaya (Rp) 160.000,00 570.000,00

21

Biaya Habis Pakai Biaya Manajemen Pembuatan Laporan Jumlah DAFTAR PUSTAKA

200.000,00 350.000,00 350.000,00 1.630.000,00

Arianto Sam. 2008. Tinjauan Tentang Minat Belajar Siswa (online) . Tersedia: http://sobatbaru.blogspot.com/2008/10/tinjauan-tentang-minatbelajarsiswa.html. Arikunto, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. ..2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Dhieni N et al. 2005. Metode Pegembangan Bahasa. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Ismoerdijahwati. 2007. Pergelaran Bayangan Wayang Kulit Purwa dalam Kajian Metode Bercerita dengan Gambar Gerak. Disertasi Magister, Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung. Jasni Herlani, 2008. Pengaruh Metode Bercerita Terhadap Seni Lukis Anak di RA Bumi Limas. Skripsi PGRA UPI Bandung. Miles, M.B. dan M. Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : Penerbit UI Press. Moleong, Lexi J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja RoMIa. Musfiroh T. 2005, Cerita untuk Perkembangan Anak. Yogyakarta : Navila Roestiyah N.K. 2008, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta Solehuddin M. 2000. Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: Fakultas Ilmu Penndidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Sudjana, 1996. Metoda Statiska. Bandung: Tarsito. Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta. Sutrisno Hadi, 1998. Metodologi Research. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM

22

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

PENELITIAN TINDAKAMN KELAS PENGGUNAAN METODE BERCERITA UNTUK MENINGKARAAN MINAT BELAJAR DI KELOMPOK A RA AL IKHLAS KARANGDIYENG KECAMATAN KUTOREJO MOJOKERTO

Disusun oleh . UMI HANIK Guru Kelas RA AL IKHLAS KARANGDIYENG KUTOREJO MOJOKERTO

23

DI LAKSANAKAN DI RA AL IKHLAS KARANGDIYENG KUTOREJO MOJOKERTO JAWA TIMUR 2013


KATA PENGANTAR Segala puji hanyalah bagi Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua makhluk-Nya yang telah menunjukkan ilmu kepada penulis dan dengan kuasa-Nya pun penulis dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini dengan judul Penggunaan Teknik Objek Langsung dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca pada Anak Kelompok A RA Al Ikhlas Karangdiyeng Kecamatan Kutorejo MojokertoTahun Pelajaran 2013-2014. Selama penulisan PTK ini, penulis banyak mendapat kesulitan dan hambatan, namun karena niat dan tekad yang kuat serta motivasi dari berbagai pihak, Alhamdulilah PTK ini dapat penulis selesaikan. Karena itu, sudah selayaknya pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendorong penulis sampai terwujudnya ini., yaitu : 1. Ibu Siti Mufidah,S.Pd.I. 2. Semua guru-guru RA yang telah ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan penulisan PTK ini. 3. Bapak dan Ibu Pengawas Satuan Pendidikan MI dan RA Kec.Kutorejo 4. Semua guru RA Kecamatan Kutorejo, 5. dan keluarga yangvtelah mendukung dan memberikan doa kepada penulis. Penulis menyadari ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, penulis mohon kritik dan saran dari berbagai pihak untuk lebih menyempurnakan PTK ini. Semoga PRA ini bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi semua pembaca yang memerlukannya. Amin. Mojokerto, Oktober 2013

Penulis

24