Anda di halaman 1dari 14

Risalah

Seminar

Nasional

Pengawetan

Makanan

Dengan

Iradiasi,

Jakarta,

6

-

8 Juni

1983

PEMANFAATAN

TEKNOLOGI

RADIASI

UNTUK

PENGAWETAN

MAKANAN

Mohammad

Ridwan *

ABSTRAK

-

ABSTRACT

Pemanfaatan

teknologi

radiasi untuk

pengawetan

makanan.

Dengan mulai dicapainya

sa-

saran swasembada pangan di Indonesia, maka langkah-Iangkah penyelamatan pangan dari ke- rusakan selama penyimpanan perlu mendapat penekanan yang lebih besar. Masalah pengawetan pangan dalam arti yang sangat luas, dari keinginan untuk menyimpan makanan yang berlebih, yang telah dikenal sejak zaman purba, sampai keinginan untuk menyelamatkan makanan dari

berbagai

teknologi pengawetan pangan, yang telah kita kenai dewasa ini dan telah banyak dimanfaatkan

masyarakat luas. Teknologi radiasi yang telah diintroduksikan ke dunia industri dan masyarakat

seperempat

memberikan keuntungan bermilyar-milyar rupiah. Proses pengawetan panganpun telah lama

memanfaatkannya

syarakat luas seperti berbagai jenis buah-buahan, berbagai jenis sayuran, berbagai jenis rempah- rempah dan bumbu masak, berbagai jenis hasil laut, berbagai jenis daging, masakan jadi, gandum dan kentang. Dalam era dengan .;adangan energi yang harus selalu diperhitungkan, maka teknologi radiasi sebagai suatu teknologi modern yang hemat energi makin digemari. Dibandingkan dengan pasteurisasi panas misalnya, teknologi radiasi menghemat praktis 99%

ke ma-

kerusakan karena faktor-faktor

luar, telah membuat

para ahli untuk

mengembangkan

abad yang silam kini telah dimanfaatkan

untuk

berbagai

bahan

pangan

secara luas dalam berbagai industri dengan

dan makanan

dan telah dilepaskan

energi

yang

dipakai

oleh

cara panas

tersebut.

Keuntungan

lain

dari teknologi

radiasi ialah

mudah

dikontrol,

daiat

dipakai

dalam keadaan

sudah terbungkus,

menghemat

bahan-bahan,

prod uk dengan kualitas lebih baik (nilai tambah) dan mengurangi pencemaran. Biaya radiasi banyak ditentukan oleh kapasitas iradiator yang akan dibangun dan dosis iradiasi yang akan

digunakan.

dengan kapasitas iradiasi 8 ton bahan tiap jam dengan dosis 30

krad (0,3 kGy) dan dengan operasi 8.000 jam tiap tahun kg bahan.

Untuk

iradiator

maka biaya iradiasi sekitar Rp. 4,-/

The application

field of food

in the

of radiation technology

in Indonesia is beginning to be accomplished, steps to secure food from

for food preservation.

As the aim for self-support

spoilage during storage should receive more attention. The problems of food preservation in a . broad sense, ranging from the desire to preserve excessive food supply known from ancient times, to the need of saving food from spoilage due to extraneous factors, cause expertsJo de- velop v3fious food preservation techniques which are now known and widely applied by the people. Radiation technology which was first introduced to the industry and society a quarter

of a century

ago, is now widely utilized

by various industries

with profits amounting

trillions

of rupiah. Food preservation

had for a long time been touched also by this radiation

technolo-

on various food

commodities

fruits, vegetables, spices, marine products, meat, prepared food, wheat and potatoes. In an era where energy supply should be always taken into consideration, radiation as a modern, low

energy

practically

gives many other benefits, i.e., it is easier to be

and foods, which have then been released to be consumed by the society, such as

gy, and many countries

of five continents

have already utilized this technique

Compared

with

heat

pasteurization,

technology

is gaining attention.

this technology

saves 99% of energy. The technology

controled, it can be applied when the commodity is already packed, does not need extensive

material" and gives a better quality of products (higher value), while on the other hand mini-

mized pollution.

built and the irradiation dose to· be applied. For an irradiator with

commodity/hour, and a dose of 30 krad (0,3 kGy) and an operation time of 8,000 hours/year, the radiation cost is approximately Rp 4,-/kg commodity.

by the capacity of the irradiator to be

the capacity of 8 tons of

Irradiation

cost is largely determined

Badan Tenaga Atom Nasional

59

PENDAHULUAN

Menjelang akhir abad keduapuluh ini empat masalah utama dihadapi dunia yaitu masalah kependudukan, masalah lingkungan dan pemukiman, masalah energi dan masalah pangan. Untuk bidang yang terakhir ini telah dikembangkan berbagai teknologi untuk meningkatkan pengadaan pangan dan begitu pula berbagai tekno- logi telah dikembangkan untuk mengawetkan dan menyimpan bahan pangan dan makanan. Dewasa ini dikenal berbagai teknologi pengawetan, dari teknologi yang paling kuno, yaitu pengeringan sampai ke teknologi yang paling mutakhir, yaitu fumigasi. Beberapa teknologi pengawetan, seperti teknologi dengan penggunaan bahan pengawet dan teknologi fumigasi, memberikan dampak negatif terhadap pe- makai maupun lingkungan. Teknologi radiasi yang mulai diintroduksikan ke dunia industri dan masyarakat luas seperempat abad yang lalu (1), telah menunjukkan kenaikan kurang lebih 20% tiap tahun, dengan nilai keuntungan beberapa milyar rupiah. Industri pemakai teknologi radiasi ini antara lain ialah:

I.

Sterilisasi alat-alat kedokteran dan bahan-bahan farmasi.

2.

Pelapisan permukaan produk kayu, kertas maupun logam.

3.

Pengikatan sHang (cross-linking) isolasi kabel dan kawat untuk memperbaiki sifat-sifat ketahanan terhadap panas.

4.

Pengikatan silang ballan-bahan plastik pembungkus.

5.

Pembuatan plastik busa.

6.

Komposit kayu plastik. Keuntungan-keuntungan penggunaan teknologi radiasi antara lain ialah:

I.

Penghematan energi

2.

Penghematan

bahan

3.

Mudah dikontrol

4.

Dapat dilakukan

dalam keadaan terbungkus

rapi

5.

Tidak menimbulkan

residu dan mengurangi pencemaran

6. Didapatkan

produk

dengan kualitas lebih (nilai tambah).

Sebagai contoh misalnya, sterilisasi radiasi memerlukan energi sebesar 6,3 kWh/

ton, sedang sterilisasi panas memerlukan energi sebesar 310 kWh/ton. Suatu peng- hematan energi sebesar 98%. Contoh lain pasteurisasi radiasi memerlukan energi sebesar 0,76 kWh/ton sedang pasteurisasi panas memerlukan energi sebesar 230

kWh/ton.

tahun teknologi radiasi telah juga mulai dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan peng-

awetan pangan.

Di sini terjadi

penghematan

energi

hampir

100%

(2). Sejak beberapa

TEKNIK

RADIASI

sumber ra-

diasi sinar gamma, yaitu 60Co atau 137 Cs dan dapat pula berupa sinar elektron,

yang dihasilkan oleh akselerator

radiasi dengan materi, dapat terjadi berbagai proses kimia yang

diantaranya dapat menghambat sintesa DNA dalam sel hid up yang selanjutnya ber-

akibat proses pembelahan

Dalam

Akibat

teknologi

interaksi

radiasi

sumber radiasi yang dipakai dapat

elektron.

berupa

sel terganggu.

60

radiasi

untuk mengawetkan makanan dapat dibagi at as berbagai tujuan seperti tertera pada

Tabel1

Bergantung

(3).

pada dosis iradiasi yang dipakai maka penggunaan teknologi

STATUS

DEW ASA

INI

Sejak Uni Soviet di tahun 1958 melepaskan ke masyarakat makanan yang dia- wetkan dengan iradiasi, maka kemudian banyak negara te1ah mengikuti 1angkahnya. Berbagai negara kemudian melepaskan makanan yang diiradiasi ke masyarakat se-

perti yang tertera

pada Tabel 2.

bahwa sebanyak 39 jenis makanan yang diiradiasi

telah diizinkan untuk dilepaskan ke masyarakat oleh sebanyak 22 negara. Setelah

makin yakin, bahwa teknologi radiasi ini memberikan keuntungan-keuntungan, ter- masuk juga keuntungan ekonomis, beberapa negara kini sedang merencanakan, me-

iradiasi seperti yang tertera pada Tabel 3

me san dan membangun berbagai fasilitas

(3).

Dari Tabel 2 terse but terlihat

BIA Y A PROSES

RADIASI

jenis

Biaya proses radiasi tiap satuan berat dengan dosis iradiasi tertentu untuk suatu

dapat dihitung dengan mengetahui faktor-faktor yang ikut

bahan

tertentu

menentukan

yaitu (4)

1. Total investasi

2. Biaya operasi yang· terdiri dari harga operasi langsung (gaji pegawai dan pe- meliharaan), harga operasi tak langsung ("overhead", dan lain sebagainya), dan biaya operasi tetap (depresiasi, pajak dan asuransi).

3. Modal kerja dan

4. Keuntungan yang diperkirakan.

Sebagai ilustrasi dapat dilihat perhitungan berikut ini, berdasarkan penga1aman pembangunaan dan operasi iradiator di BATAN, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi. Sebuah iradiator yang akan dibangun, dan direncanakan untuk dosis disinfes- tasi serangga 0,3 kGy, dan iradiator itu hams mempunyai kapasitas iradiasi sebesar 8 ton/jam, dengan faktor efisiensi 60Co yang direncanakan 80% (efisiensi ada1ah perbandingan energi terserap dan energi terpancar) maka besarnya iradiator yang perlu dibangun ialah (5 - 7):

W =

~1O

x 6 x

103 X~x

~,3 x 67.480 Ci

w=

~lOX8X103X%txd,3

x67.480Ci

150.000

Ci

Dengan menggunakan

perhitungan

sebagai berikut:

1. Total investasi:

harga sekarang

60Co = 0,97 US $/Ci maka didapatkan

a. Harga 60Co (CIF)

Rp.

225 juta

b. Perala tan mekanik

Rp.

273 juta

c. Gedung dan tanah

Rp.

400 juta

 

61

Q.

On~mlo[~l

U~.

10jub

e. "Direct plant cost" (25% dari a

+ b

+ C + d)

Rp.

227 juta

f. Tak terduga

(10% dari a + b + C + d + e)

Rp.

113 juta

Jumlah total investasi

2. Biaya operasi (terdiri dari gaji karyawan,

supervisi,

3.

perawatan,

Modal kerja

depresiasi, asuransi, pajak dan overhead)

:

Rp. 1.248 juta Rp. 122 juta

Rp.

30 juta

Dengan data tersebut

maka

dapat

dihitung

biaya proses radiasi, dengan asumsi

bahwa

selama setahun

iradiator

beroperasi

8.000 jam,

seperti

yang terlihat

pada

Tabel4.

Perhitungan ini diambil dari harga-harga yang dipakai da1am pembangunan

dan di-

harapkan mulai beroperasi pada tanggal1 Agustus 1983. Sebagai perbandingan, dapat dilihat data dari iradiator 60Co yang dibangun di PAIR tahun 1978 sebesar 75.000 Ci, dengan asumsi tingkat inflasi 10% tiap tahun. Dengan mempergunakan formula seperti yang ada di halaman terdahu1u, dapat dihitung bahwa iradiator ini mempunyai kapasitas iradiasi 3,3 ton/jam untuk dosis iradiasi 0,3 kGy. Mengingat sistemnya yang lebih sederhana, maka biaya investasi total hanya akan mencapai Rp. 750 juta. Dengan inenggunakan perhitungan yang sarna didapatkan biaya proses radiasi sebesar Rp. 7,5-/kg bahan untuk dosis radiasi disinfestasi sebesar 0,3 kGy. Dengan melihat data pada tabel terse but terlihat bahwa biaya proses radiasi sangat murah dan masih akan lebih murah jika biaya investasi dapat ditekan. Seperti halnya untuk pembangunan fasilitas-fasilitas nuklir lainnya, maka biaya investasi di sinipun cukup tinggi. Tentunya tidak perlu setiap perusahaan mendiri· kan iradiator sendiri-sendiri (in plant), tapi sebuah perusahaan layanan Gasa) bisa saja mendirikan sebuah iradiator (out plant) dan memberikan jasa iradiasi.

gedung iradiator 6°(0

300.000

Ci di BATAN-PAIR, yang sedang berjalan

PROSPEK PENGA WETAN PANGAN DENGAN RADIASI DI INDONESIA

dapat dilegalisasi pelepasannya

Secara hukum

makanan

yang diiradiasi

ke ma·

syarakat,

bahwa makanan

jika

dari

penelitian-penelitian

yang

telah

dilakukan

dapat

terse but am an untuk

dikonsumsi

manusia. Penelitian

dibuktikan

untuk

mem-

buktikan

bahwa makanan

itu aman untuk

dikonsumsi

I("wholesomeness

test") di-

lakukan terhadap

binatang.

Penelitian

ini cukup

banyak

makan

waktu

dan maha!.

Karena itu pada tahun

someness" di Karlsruhe, Jerman Barat yang bertugas melakukan penelitian dan me-

ngumpulkan

penelitian,

bahwa semua bahan pangan dan

makanan

(8).

1971 dibentuk

tentang

suatu proyek penelitian

yang diiradiasi.

internasional

"whole-

berbagai

informasi

makanan

Dari hasil-hasil

maka komisi gabungilll para ahli F AO/WHO/IAEA pada bulan November

dan merekomendasikan

dengan dosis tidak

melebihi

10 kGy aman untuk

dimakan

1980 telah menyimpulkan

yang diiradiasi

Penelitian

dan pengembangan

yang dilakukan

di Indonesia selama ini terhadap

berbagai

komoditi

seperti

hasil laut

(9

-

18), beras

(19),

gandum

(20), rempah-

62

rempah (21, 22) dan makanan ternak (23) memberikan gambaran tentang telah di- kuasainya teknologi pengawetan dengan iradiasi ini dengan prospek ekonomi yang

dapat diperhitungkan. Komoditi ekspor hasil pertanian dan perkebunan (komoditi non-migas) yang digalakkan dewasa ini oleh Pemerintah dapat menggunakan tekno- logi radiasi ini untuk memperbaiki mutu dan mengurangi kerusakan karena pe- nyimpanan dan pengiriman yang makan waktu lama. Komoditi lainpun dapat meng- gunakannya dalam rangka penyimpanan dan pengawetan untuk memenuhi penye- diaan pangan jangka panjang di Indonesia, dengan mematikan serangga perusak, kapang, mencegah pertunasan dan lain sebagainya. Karantina buah-buahan: mau-

pun

radiasi ini.

pencegahan

pembusukan

dapat pula diarahkan untuk menggunakan teknologi

dan pengembangan pengawetan makanan dengan

radiasi yang selama ini dilakukan di Indonesia, penelitian "wholesomeness" tidak

Dalam

perjalanan

penelitian

pernah

dilakukan,

mengingat

jangka

waktu

yang panjang

dan biaya

yang cukup

mahal,

dan

selama ini diikuti

pula

oleh negara-negara

berkembang

dan beberapa

negara maju yang hanya berorientasi pada hasil-hasil penelitian yang dikeluarkan oleh proyek penelitian internasional "wholesomeness" di Karlsruhe Jerman Barat atau negara-negara maju lainnya. Dengan segala macam pertimbangan ini, kini tinggal terserah pada masyarakat dan pihak yang berwewenang untuk mempertimbangkan pemanfaatannya bagi ke-

sejahteraan

masyarakat

Indonesia.

llmuwan

dengan

beroreintasi

pada

perkembangan

ilmu pengetahuan

dan tek-

nologi yang dialaminya selalu mencari konsep-konsep, metode-metode dan tekno- logi-teknologi baru yang lebih menguntungkan manusia dalam rangka memanfaat- kan alam sekitar.

ada dan memaksi-

malkan

Ilmuwan

meminimalkan

risiko at au dampak yang mungkin

dari konsep, metode

keuntungan/benefit

dan teknologi yang dihasilkannya.

Terpulang

pada

manusia

jugalah

untuk

mengkaji

dan

memanfaatkannya.

63

1.

UNDP-IAEA, Dokumen RAS/79/063/C/OI/18, "Revised Proposal", Part I (1980) ll-12.

2.

MOH. RIDWAN, "Radiasi dalam proses industri", Almanak Nubika 1982, PUSNUBIKA AD (1982) 301-310.

3.

MUNSIAH MAHA, Prospek penggunaan tenaga nuklir dalam bidang teknologi pangan, -

Bulletin

BATAN

3 2 (1982)

19

28.

3.

MOH.

RIDW AN,

Co-60

plant

for

radiation

vulcanization

of natural rubber latex, Makalah

untuk

Technology

Transfer

Meeting,

Jakarta,

November

1982.

 

5.

MOH.

RIDWAN,

Irradiator

sinar

gamma,

akselerator

elektron

dan

biaya

proses

radiasi

serta penggunaannya

dalam

industri.

Makalah

untuk

Seminar

Penggunaan

Isotop

dan

Ra-

diasi

Dalam

Industri,

Jakarta,

Maret

1977.

6.

BRYNJOLFSON, A., "Faktor influencing Economic Evaluation of Irradiation Processing"

in

Factor

Influencing

the

Economical

Application

of

Food

Irradiation,

Proceeding

of

A.

Panel,

IAEA,

Vienna

(1973)

13

-

35.

7.

BRYNJOLFSON,

A.,

"Machine

irradiation

sources

and

irradiation

technology",

in Che-

mical

and

Food

Application

of

Radiation,

Nuclear Engineering, part XIX, American Insti-

tute

of Chemical

Engineers

(1968)

71

-

86.

8.

-----

Wholesomeness

of

Irradiated

Food,

Report

of

Joint

FAO/IAEAfWHO

Expert

Committee,

Technical

Report

Series

659,

WHO,

Geneva

(1981).

 

9.

MARTOJUDO,

l.W.,

Mikroorganisme

patogen

pada

ikan

laut

sebelum

dan

sesudah

radiasi,

BAT AN , PPPJ/T.25/74.

10.

MUNSIAH MAHA, SOEDARMAN,

 

H.,

SIAGlAN,

E.G.,

CHOSDU,

R., Combined

gamma

irradiation and potassium sorbate

treatment

to

extend

the

shelf-life

of pre cooked

chub

mackerel

(Rastrelliger

sp), BAT AN, PPPJ /G.38/1978.

 

II.

ROCHESTRI SOFY AN,

Pengaruh

radiasi

sinar

gamma

dan

"blanching"

pada

beberapa

sifat protein dan aktivitas enzi'1la proteolitik ikan, BATAN, PPPJ/PA/1979.

12.

MUNSIAH MAHA, SOEDARMAN, H., CHOSDU, R., SIAGIAN, E.G., NASRAN, S.,

Pengawetan

bandeng

asap

dengan

perIakuan

kombinasi

k&licm

sorbat

dan

iradiasi,

BA-

TAN,

PPPJ/P.8/1979.

13.

MUNSIAH

MAHA,

SOEDARMAN,

 

H.,

CHOSDU,

 

R.,

SIAGIAN,

E.G.,'NASRAN,

S.,

Combination

of

potassium

sorb ate

and

irradiation

treatments

to

extend

the

shelf-life

of

cured fish products, BATAN, PAIR/P.24/1980.

 

14.

MUNSIAH MAHA, PURWANTO,

Z.I.,

KICKY,

L.T.K.,

Studies

on

bulk

packaging

of

ir·

radiated dried fish, BATAN, PAIR/PAO/1981.

 

IS.

ROCHESTRI SOFY AN, Pengaruh radiasi sinar gamma pada Iipida ikan, BATAN, PAIR/G.

80/1981.

16.

MUNSIAH

MAHA,

HARSOYO,

Penggunaan

iradiasi

untuk

mencegah

gangguan

'kapang

pada ikan asap kering, BATAN, PAIR/P.55/1982.

 

17.

HARIY ADI, R.S., MUNSIAH, M., Disinfestasi serangga ikan asap dengan iradiasi, BAT AN

PAIR/P.70/1982.

18.

MUNSIAH

MAHA,

PURWANTO,

Z.I., NASRAN,

S., Transportation

 

and

consumer

accep-

tance

studies

of irradiated

dried

fish,

BA TAN,

PAIR/P.

78/1983.

 

19.

SOEGIARTO,

C.l., Hubungan an tara peningkatan jumlah serangga hama beras dan susut

beras

dalam

penyimpanan,

BATAN,

PPPJ/G.35/1977.

 

'

20.

RAHA YU

CHOSDU,

MUNSIAH,

M.,

'Pengaruh

radiasi

disinfestasi

pada

beberapa

sifat

fisik

dan

kimia

tepung

gandum,

BAT AN, PAIR/G.63/1980.

 

21.

SAPUTRA,

T.S.,

SOEDARMAN,.H.,

Gamma

irradiation

of

spices,

BATAN,

PAIR/P.

74/

1982.

22.

SAPUTRA,

T.S.,

MAHA,

M.,

PURW ANTO,

Z.I.,

Quality

changes

of

irradiated

spices

stored

in various

packaging

materials,

BATAN,

PAIR/P.

77/1983.

 

23.

SIAGIAN,

E.G.,

SUSIANA.,

Radiasi

Makanan

Ternak,

BAT AN, PAIR/P.66/1982.

 

64

Tabell.

Besarnya dosis iradiasi untuk

berbagai tujuan pengawetan

(3).

MenghambatMenundaMenghilangkanDisinfestasi1,25 kematanganseranggapertunasanparasit buah-buahandalam ada

kandungan

MenghiIangkanMembunuh semuamikrobamikrobapatogenyang

Menurunkan

mikroba

daging No. Tujuan segar pengawetan

10,00

25,003,00 -- 60,0010,00

0,800,12

3,00

0,50

- -

0,200,100,05 ---

0,10

Besarnya dosis (KGy)

Tabel 2. Jenis

makanan

yang diiradiasi yang dilepaskan

pelepasnya

serta tahun pelepasannya

(3).

ke masyarakat

Nama produk

Negara

pemberian

pemakai

izin

serta

dan negara

tahun

Kentang

Bawang Bombay

Bawang Putih

Rusia (1958), Kanada (1960), Amerika Serikat (1964), Israel (1967), Hongaria (1969), Spa- nyol (1969), Denmark (1970), Uruguai (1970), Belanda (1970), Bulgaria (1972), Peran- cis (1972), Philipina (1972), Jepang (1972), Italia (1973), Chili (1974), Jerman (1974), Cekoslowakia (1976), Afrika Selatan (1977) dan Belgia

(1980).

Kanada (1965), Rusia (1967/ 1973), Israel (1968), Belanda (1971/1975), Bulgaria (1972) Hongaria (1973), Thailand (1973), Italia (1973), Spanyol (1975), Cekoslowakia (1976), Perancis (1977), Afrika Selatan (1978) dan Jepang (1980). Bulgaria (1972), Italia (1973), Perancis (1977) dan Afrika Se- latan (1978).

65

Lanjutan

Tabel 2

Nama produk

Buah-buahan

kering

Buah-buahan

dan sayuran segar

Jamur merang

Asparagus

Arbei

Mangga

Biji coklat

Sayuran pengisi kroket

Tepung campuran

Andevi Rempah-rempah dan sambal

adonan

Bebijian

Negara

pemberian

pemakai

izin

serta

tahun

Rusia

(1964)

dan

Bulgaria

(1972).

Rusia

(1964)

dan

Bulgaria

(1972)

Belanda (1969)

dan

Cekoslo-

wakia (1976). Belanda (1969) Belanda (1969), Hongaria (1973), Afrika Selatan (1978) dan Belgia (1980). Afrika Selatan (1978). Belanda (1969). Belanda (1974). Belanda (1974) Belanda (1975). Belanda (1971) dan Hongaria

(1974)

Rusia

Bulgaria

(1959)

dan

 

(1972).

Gandum dan tepung gandum

Amerika

Serikat

(1963)

dan

Kanada (1969).

 

Daging setengah masak

Rusia (1964)

Daging ayam

Rusia (1964), Belanda (1971/

1976),

Kanada

(1973)

dan

Masakan daging Udang Daging ikan "cod".dan

"haddock".

Afrika Selatan (1978). Rusia (1967). Belanda (1970). Kanada (1973) dan Belanda

(1976).

Masakan pekatan

kering

Rusia (1966) dan Bulgaria

 

(1972).

Makanan untuk

pasien rumah sakit

Inggris (1969).

Makanan beku untuk rumah sakit

Makanan cair segar yang dikalengkan Bawang merah

Belanda

(1969)

dan

Jerman

(1972).

Belanda (1972)

 

Perancis

(1977)

dan

Belgia

 

(1980).

Bumbu campuran

Hongaria (1974).

Campuran bumbu kering untuk

daging

cincang kaleng

Hongaria (1978).

66

Lanjutan

Tabel 2

pemberian

dan "plaice"

izin Nama Produk

Negara

pemakai

Belanda (1976).

BelandaAustraliaAfrikaAfrikaBelandaAfrikaBelandaBelandaSelatanSelatanSelatan(1979).(1977).(1976).(1978).(1978).(1977).(1978).(1977).

Belanda (1980).

serta

tahun

67

tor industri

n )~ n

i

0)

(100)

(100)

Tabel 3. Pembangunan

. sayuran("mobile") (150) Negara

68

untuk

irradiator

Co-60 di berbagai negara (3).

Penelitian

Gammaster

Pilot industri

Iradiator

Iradiator

Pilot

Industri sedang dipertimbangkan

Iradiatorsedangsedangberja1andirancang/1980dirancang/1980

IndustriJS 9000sedang(100)(300)dirancang/1981

IrradiatorGamma-cellsedangsedanguntuk500dipesan/1981dirancangbawang(30)

Pilot (USAsedangsedang3)dipesandipesan .

Pilot (50)sedang dibangun

Pilot (20)sedang dibangun

lradiatorPilot (100)sedangberja1andibangun

Jenis sumberStatus/tahun(kCi Co-60)penggunaan

Munich

IndustriNovemberRT 4101

Gammaster1982 Ede

Industri (500)

Semi-industrisedangsedang

.sedang dirancang

(60)

untuk

dan Pe- 1980

untuk bawang

sayuran

1980

sedang dibangun

1981

sedang dibangun / 1983

sedang dirancang/1980/1982.

dipesan/1983(100)dipesan

sedang dirancang

sedang dirancang

Tabel 4. Perhitungan Ci, kapasitas

biaya proses radiasi untuk

iradiator

dengan aktivitas

150.000

8 ton/jam

untuk

dosis 0,3 kGy dengan faktor

efisiensi 30%.

!

25%20%10%15%

Rencana investasi keuntungan + modal

kerja dari total

3,94,95,9 6,9

Harga Dosis(Rp.) 0.3 radiasi/kg kGy bahan

69

DISKUSI

P. LOAHARANU:

Indonesia

irradiated spices for consumption.

industry by treating commercial quantities of spices?

is a major exporter

of spices and more countries in Europe have approved

Is BATAN ready to serve the need of the spice

MOH. RIDWAN:

Yes, BATAN is ready now. For small amount

BATAN can offer radiation

services

just

now.

For

a higher amount,

or for very high amount,

we have to wait a little

bit until 1st August 1983 after commissioning our big irradiation

facility.

NELLY:

Bagaimana orang awam dapat mengetahui bila suatu industri telah mengiradiasi pro- duk-produknya sehingga hargapun lebih tinggi daripada yang tidak diiradiasi bila tidak diberi label Gaminan mutu).

MOH. RIDWAN:

Tanpa label tidak akan ketahuan bahwa produk-produk tadi telah diiradiasi. Pe- labelan tergantung Ditjen POM/Depkes. Orang sekarang ingin dapat kualitas/mutu yang baik. Jadi kalau harga naik - tapi dapat dipertanggungjawabkan masyarakat tentunya dapat menerima.

HARIY AD! :

Mohon

pitan ruang kerja akibat digunakannya

komentar

tentang

aspek sosial dari penggunaan

teknik ini.

MOH. RIDWAN:

iradiasi, misalnya penyem-

Teknologi ini adalah teknologi komplementer dan lanjutan teknologi proses yang ada. Justrujika sekarang ini diterima, akan memberikan kemungkinan perluasan lapangan kerja.

HUSNAINI:

Apakah suatu produk yang sudah diradiasi dapat diidentifikasi untuk dapat membedakannya dengan yang belum diiradiasi.

MOH. RIDWAN:

Sulit

mungkin.

sekali

bahkan

boleh

dikatakan

dengan

peralatan-peralatan

secara laboratories

sederhana

tidak

SIn

RAHA YU:

Apakah ada alat/cara untuk mendeteksi makanan yang telah diiradiasi dan sehu-

bungan dengan pengawasan

berapa krad? MOH. RIDWAN:

Tidak. Dosis berapa juga sulit dideteksi kalau sudah dilakukan. pelaksana iradiasi, dengan alat ukur atau perhitungan.

oleh

dosis aman apakah dapat diketahui

pula telah diiradiasi

Dosis diketahui

70

SUNARY A:

Bagaimana halnya dengan masalah keresahan pada pembuangan sampah radiasi yang

dikaitkan

pencemaran.

dengan

isi prasaran

yang menyatakan

bahwa

iradiasi akan

mengurangi

MOH. RIDWAN:

Sampah radioaktifjsampah nuklir anan memberikan pencemaran kalau dibuang di sembarang temp at dan susah dikontrol. Dengan proses radiasi tidak akan ada sam-

pah

cemaran.

yang

terbuang,

bahkan

prosesnya

menguntungkan

karena mengurangi pen-

MONANG MANULLANG :

1. Bagaimana pendapat Pak Ridwan tentang kemungkinan bertambahnya dosis ra-

diasi yang diterima yang dikonsumsi an.

tiap orang per hari sebagai bertambah

dengan proses iradiasi ditambah

banyaknya

makanan

dengan radiasi dari lingkung-

2. Sudah adakah penelitian dari BATAN tentang berapa jumlah radiasi yang di-

terima setiap orangjtahun

MOH. RIDWAN:

berasal dari lingkungan di Indonesia.

1. Makanan yang diiradiasi tidak menimbulkan radiasi sarna sekali, sehingga tidak mungkin akan ada pertambahan dosis radiasi yang diterima masyarakat, kecuali dari lingkungan.

2. Radiasi yang diterima setiap orangjtahun di Indonesia tidak diteliti, karena hal ini normal namun data dosis yang diterima para pekerja radiasi di Indonesia di manapun ia bekerja, kecuali DepkesjRumah Sakit ada pada BATAN.

YAY ASAN LEMBAGA KONSUMEN:

1. Melihat keuntungan-keuntungan

dari teknologi

radiasi yang Bapak kemukakan

tadi,

sejauh mana animo dari industri yang sedang berkembang

pesat di Indone-

sia?

2. Dari inventarisasi kemungkinan aplikasi radiasi oleh industri-industri terse but mungkin sudah dapat diperkirakan kapan bisa direalisasi di Indonesia bila sudah ada legalisasi.

MOH. RIDWAN:

1. Seminar ini justru ingin mengundang

respon

dan animo

industri

setelah BA-

TAN, yakin teknologi keamanan.

ini sudah

dikuasai

baik dari segi teknik,

ekonomis,

dan

2. Hari inipun bisa dalam jumlah terbatas. Dalam jumlah besar, menunggu selesai-

nya iradiator

BATAN yang besar, yang akan mulai beroperasi

tanggall

Agustus

1983.

 

71