Anda di halaman 1dari 11

MAJALAH ILMIAH

EFEK PEMBERIAN METIONIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIK HATI PADA TIKUS Sprague Dawley YANG DIPAPAR SECARA SUBKRONIS DENGAN AFLATOKSIN B1 Yunianta,1 N. Kesumaningrum2, Y. P. Kristianingrum2, dan S. Widyarini2 1)Akademi Peternakan Brahmaputra, Yogyakarta. 2) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK Aflatoksin B1 dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus dapat menimbukan kerusakan pada hati. Metionin sebagai prekusor glutathion daharpkan dapat untuk eliminasi aflatoksin B1 dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian metionin terhadap gambaran histopatologik organ hati pada tikus Sprague Dawley yang dipapar secara subkronis dengan aflatoksin B1. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor tikus galur Sprague Dawley berkelamin jantan berumur 60 hari dengan berat 200-300 gram, yang dibagi menjadi 3 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus, yaitu kelompok yang hanya diberi perlakuan pakan basa (Pl), kelompok II diberi perlakuan aflatoksin 500 ppb dan pakan basal, dan kelompok III aflatoksin 500 ppb, metionin dosis 1,5%, dan pakan basal. Aflatoksin dan metionin diberikan peroral bersamaan dengan pakan basal diberikan setiap hari selama 6 minggu. Semua hewan percobaan dieutanasi pada minggu keenam dengan cara anastesi. Hewan percobaan dinekropsi untuk diambil hati dan dimasukkan dalam formalin 10% untuk pemeriksaan histopatologik. Hasil penelitian menunjukkan perubahan histopatologik kelompok II tidak berbeda dengan kelompok III, yaitu kongesti di sinusoid dan degenerasi melemak di hepatosit. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa aflatoksin 500 ppb menyebabkan kerusakan hati tikus dengan metionin dosis 1,5% belum mampu mencegah kerusakan hati akibat pemberian aflatoksin B1. Kata kunci : Aflatoksin B1, hati, metionin, tikus lingkungan diatas 27oC (80oF), kelembaban 62%, dan kadar air pakan diatas 14%. Selain itu, kontaminasi dapat terjadi berdasarkan letak geografis, penyimpanan dan cara pemrosesan(Bahri, 1995; Yanong dan Russo, 2009). Aflatoksikosis terjadi tidak hanya berasal dari produk impor tetapi strain asli Aspergillus flavus yang tumbuh menjadi substrat toksigenik, dan beragam kondisi lingkungan menjadi potensial toksigenik 1182 Volume 17 No. 1 Maret 2012

PENDAHULUAN Sebagai negara tropis kasus aflatoksikosis pada ternak unggas banyak terjadi di Indonesia. Aflatoksikosis adalah keracunan akibat mengkonsumsi pakan yang tercemari aflatoksin. Aflatoksin B1 adalah aflatoksin paling banyak dijumpai dan yang paling toksid. Dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus. Faktorfaktor yang dapat meningkatkan produksi aflatoksin yaitu temperatur

ISSN : 0853 0122

MAJALAH ILMIAH
(Hofstad et al, 1984). Aflatoksin adalah kelompok toksin, mutagenik, dan karsinogenik yang merupakan produk metabolik sekunder Aspergilus flavus dan Aspergilus parasiticus. Toksin yang paling penting adalah aflatoksin B1 (AFB1), aflatoksin B2 (AFB2), G1 (AFG1), dan G2 (AFG2). Aflatoksin secara alami berpotensi menyebabkan karsinogenik dan dikategorikan oleh International Agency Of Research On Cancer (IARC) sebagai karsinogenik Grup 1 (Rohman dkk., 2008). Aflatoksin B1 dengan kadar 1,0 ppm atau lebih dapat menimbulkan sejumlah morbiditas dan mortalitas. Jika kadar aflatoksin B1 mencapai 500-1000 ppb maka dapat menimbulkan hambatan pertumbuhan dan penurunan efisiensi pakan dan jika kadar bahan tersebut di antara 200-500 ppb, maka akan terjadi efek immunosupresif pada unggas (Tabbu, 2002). Sedang, pada tikus pemberian AFB1 dengan dosis 25 g menyebabkan karsioma hepatoseluler (Hort et al, 1982). Histopatologik organ hewan yang menderita aflatoksikosis, dengan pewarnaan Hemotoksilin-Eosin terlihat sel parenkim hati membengkak, sitoplasma eosinofilik homogenous, dan kadang vakuola pada sitoplasma. Pelebaran nuklei marginal, nekrosis difus yang berdekatan dengan region perisinusoidal ditandai sel debris, karioreksis, kariolisis, dan hiperplasia epitel saluran empedu. Pada organ ginjal ditemukan perubahan yang signifikan pada glomeruli dan tubulus konvolotus proximal. Terjadi penebalan kapilari di membran basal ISSN : 0853 0122 pada glomerulus. Epitelium tubulus konvolutus proximal membengkak (Hofstad et al, 1984). Histopatologik pada tikus menunjukkan degenerasi sel hati, karsinoma hepatoseluler dengan pola trabekular (Hort et al, 1982), infiltrasi limfosit dan sel Kupffer, degenerasi melemak, dan fokal nekrosis (Anuja et al, 2010). Metionin dilaporkan dapat melindungi terhadap dari efek merugikan AFB1 via glutation (Cofey et al, 1989). Metionin akan diubah menjadi sistein melalui sistinasi, bersama glutamat dan glisin akan membentuk tripeptidaglutathion (glutami-cysteinyl-glycine). Glutation adalah tripeptida yang disintesis dari sistin, glutamin, dan glisin (Cofey et al, 1989; Yunianta 2010). Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh AFB1 pada pakan yang mendapat dosis metionin tinggi, terutama perubahan yang terjadi dalam sel hati tikus Sprague Dawley yang dipapar secara subkronis. MATERI DAN METODE Hewan percobaan Pada penelitian ini digunakan 12 ekor tikus putih Sprague Dawley (SD) berjenis kelamin jantan berumur 60 hari dengan berat badan 200-300 gram yang diperoleh dari peternak tikus di Yogyakarta. Tikus diadaptasikan selama 3 hari di Laboratorium Practical Animal Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Pakan berupa pakan ayam pedaging BR-2 (Japfa Comfeed), serta diberi air minum ad libitum. 1183 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH
suhu kamar selama 15 hari didalam tabung erlenmeyer 200 ml. Pada hari ke-15 dipanen produk aflatoksin kasar dan dianalisa kandungan aflatoksin dengan metode ELISA (Yunianta, 2010). Tabel 2. Produksi Aflatoksin dari Isolat Jagung Putih dan Akar Dahlia Sampel Kode isolat JP1 (jagung putih) (kadar ppb) 1. 2. 3. 4. Rerata 3.500 3.715 6.576 2.350 4.035 Kode isolat : 6122 (akar dahlia) (kadar ppb) 10.126 6.350 7.893 8.167 8.134

Alat dan Bahan Kandang yang digunakan 12 buah dengan penutup dari kawat, tempat pakan, botol minum dari plastik dan kaca, dan alas kandang menggunakan sekam. Peralatan yang digunakan antara lain timbangan. Unit nekropsi meliputi meja operasi, kapas, gunting, pinset, pisau operasi, tabung plastik untuk tempat organ. Unit pembuat preparat histologi meliputi kaca penutup, gelas objek, dan foto mikroskopik. Pelaksanaan penelitian 12 ekor tikus dikelompokkan dalam 4 perlakuan,masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Setiap ulangan digunakan 1 ekor tikus. Perlakuan pakan menggunakan pakan basal tanpa Aflatoksin dan tanpa penambahan metionin (P1) . Pakan Basal dan Aflatoksin (P2), Pakan Basal dan aflatoksin ditambah metionin 1% (P3). Setiap 2 hari sekali tikus diberi aflatoksin kasar secara oral dengan dosis 500 ppb. Pada akhir penelitian, tikus dilakukan nekropsi untuk dianalisis fungsi hati yang meliputi, morfologi hati dan preparat histopatologi. Asam amino metionin diberikan pada kelompok P3 dengan dosis 1,0%. Sehingga dosis metionin total dalam pakan 1,5 %. Analisis kuantitatif terhadap kandungan asam amino dalam pakan basal dihitung dengan metode HPLC. Aflatoksin diperoleh dari hasil isolat akar dahlia yang dibiakkan dalam media agar selama 5 hari dalam suhu kamar. Aspergillus flavus yang telah tumbuh kemudian dipanen dan ditaburkan dalam substrat yaitu jagung dan kacang. Substrat ini diinkubasikan dalam ISSN : 0853 0122

Pada hari ke-30 setelah perlakuan diambil satu hewan dari masing-masing perlakuan dinekropsi setelah terlebih dahulu dieuthanasi dengan cara dislokasi cervikalis. Secara makroskopis organ hati diamati untuk melihat adanya perubahan terutama berat dan warna hati. Setelah itu organ hati dipotong dengan ketebalan 1 cm3 lalu dimasukkan ke dalam pot yang sudah berisi buffer formalin 10 %. Kemudian diproses dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin eosin sesuai dengan prosedur yang dilakukan Balai Besar Veteriner Wates untuk dibuat preparat histopatologi. Pemeriksaan histopatologi hati tikus dilakukan di Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

1184 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH
Zat-zat toksik seperti aflatoksin menyebabkan peningkatan tekanan vena oleh darah dan aliran darah di dalam venula menjadi lambat, kongesti akan terjadi di dalam kapiler. Keseimbangan cairan normal akan terganggu. Sebagai akibat aliran darah yang lambat maka daerah tersebut akan dipenuhi darah, tetapi hal ini mengurangi proses oksigenasi dari sel (hiperemi pasif). Hiperemi pasif yang cepat terjadi di wilayah sentra lobulus menyebabkan vena sentralis membesar, kemudian dilatasi sinusoid disekitar vena sentralis. Penurunan aliran darah akan mengurangi pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan, dan juga mengganggu pengeluaran produk buangan. Hal ini mengawali perubahan pada lingkungan internal sel. Jika terjadi kongesti berat atau lama sel akan mati dan lisis (Runnells, 1956). Hasil metabolit aflatoksin berikatan dengan guanin DNA menyebabkan peningkatan peroksida lipid di membran sel. Pada lisosom lipid peroksida menyebabkan kebengkakan, pada retikulum endoplasma mengganggu sintesis protein, sekresi lipoprotein berkurang menyebabkan terjadinya akumulasi lemak dalam membran dan sering disebut degenerasi melemak (Zimmerman, 1978). Jaringan hati yang mengalami degenerasi melemak menciri dengan sel yang membesar dan terbentuk vakuola dalam sitoplasma. Degenerasi melemak terjadi karena terganggunya antara kecepatan sintesis dan kecepatan pelepasan trigliserida oleh sel-sel parenkim yang masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Terhambatnya 1185 Volume 17 No. 1 Maret 2012

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada kelompok kontrol negatif (P1) tikus diberi ransum tanpa aflatoksin dan tanpa penambahan metionin, tidak menunjukkan perubahan histopatologik pada organ hati yaitu memperlihatkan segitiga porta terbentuk dari duktus biliverus interlobularis, arteri hepatika dan vena porta disebut juga dengan portal triad memuat syaraf, pembuluh limfe kecil dan kanalis portalis. Hepatosit tersusun dalam bentuk lempengan, dengan pola radial yang berpusat pada vena sentralis sesuai dengan yang dilaporkan pada penelitian sebelumnya (Banks, 1993). Terlihat juga hepatosit normal berbentuk polihedral yang terbatas jelas, intinya terletak ditengah, nukleus berjumlah satu atau lebih, sering tampak adanya dua inti sebagai hasil pembagian tidak sempurna dari sitoplasma setelah terjadinya pembelahan inti (Dellman dan Brown, 1992) dan nukeolus dikelilingi oleh sitoplasma asidofilik yang mengandung material basofilik (Banks, 1993). Pada kelompok P2 tikus diberi ransum dengan aflatoksin 500 ppb dan metionin standar (0,501%), menunjukkan perubahan histologi yaitu adanya kongesti di sinusoid dan degenerasi melemak. Berdasarkan penelitian dilakukan Anuja (2010) terhadap tikus yang dipapar aflatoksin, histopatologi hati menunjukkan degenerasi sel hati, karsinoma hepatoseluler dengan pola trabekular (Hort et al, 1982), infiltrasi limfosit dan sel Kupffer, degenerasi melemak, dan fokal nekrosis. ISSN : 0853 0122

MAJALAH ILMIAH
sekresi trigliserida hepatik masuk dalam plasma, secara normal trigliserida hepatika dilepaskan ke dalam plasma tidak dalam bentuk bebas tetapi membentuk lipoprotein. Tidak sempurnya sintesis/sekresi lipoprotein dapat membawa akibat penumpukkan trigliserida dalam parenkim hati (Junqueria dan Carneiro, 1993). Pada kelompok perlakuan (P3) tikus diberi aflatoksin 500 ppb dan metionin 1,5 % dalam pakan basal selama 6 minggu, menunjukkan perubahan histopatologik organ hati, yaitu kongesti pada sinusoid, nekrosis dan degenerasi melemak pada hepatosit. Nekrosis hati secara umum ditujukan dengan perubahan morfologi yang diikuti dengan kematian sel pada jaringan hidup. Sel nekrotik dimana inti sel yang mati akan menyusut (piknotik), menjadi padat, batasnya tidak teratur dan berwarna gelap. Selanjutnya inti sel hancur dan meninggalkan pecahan-pecahan zat kromatin yang tersebar di dalam sel disebut karioreksis. Kemudian inti sel yang mati akan menghilang (kariolisis) (Ariens dkk, 1978). Metionin diharapkan dapat melindungi terhadap dari efek merugikan AFB1 melalui pembentukan glutation namun dalam penelitian ini tetap terjadi nekrosis dan degenerasi melemak pada hepatosit. Diduga metionin dengan dosis 1.5 % terlalu banyak untuk tikus dewasa, sehingga sintesis metionin dan protein lainnya terganggu. Meningkatkan pemberian metionin sebenarnya diharapkan dapat ISSN : 0853 0122 meningkatkan glutation dalam liver sehingga mengkonjugasi aflatoksin sehingga membuatnya tidak toksin yang kemudian di ekskresikan (Coffey et al, 1994). Kecukupan protein dalam pakan penting untuk mengoptimalkan sintesis glutation dan berefek luas terhadap kandungan asam amino sulfur (Bray and Smith, 1992). Asam amino berefek menghambat sintesis aflatoksin-epoxide (Sachan and Ayub, 1997). Epoksid (metabolisme aktif aflatoksin) dapat dieliminasi apabila berkonjugasi dengan glutation (GSH). Konjugat glutation yang terbentuk ini oleh enzim yang ada pada ginjal, dipecah menjadi turunan sistein, selanjutnya terasetilkan menjadi N-asetilsisteina (asam merkapturat) yang segera diekskresikan ke dalam urine (Yunianta dkk, 2010). Menurut Yunianta, dkk. (2010), penggunaan metionin yang berlebihan justru bersifat toksik yang akan merugikan. Sehingga masih diperlukan penelitian lanjut mengenai hal ini. Menurut Watford dan Wu (2011), beberapa protein atau asam amino dapat bersifat toksik apabila sudah melewati batas toleransi di dalam tubuh. Data toksisitas yang tidak cukup dan jarang sehingga belum diketahui dampak selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa metionin dosis tinggi dapat menyebabkan toksik bagi tubuh dan terjadi kerusakan sel hati.

1186 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH
Pengantar Second Edition. Diterjemahkan oleh Wattimena, Y.R., Mathilda, Widianto, B., Sukandar, E.Y., 1993, Gadjah Mada University Press. Banks, W. J. 1993. Applied Veterinary Histology. Third Edition. Mosby Year Book, Inc. 11830 Westline Industrial Drive, St. Louis, Missouri. Bahri, Ohim, dan Maryam. 1995. Residu Aflatoksin M1 Pada Air Susu Sapi dan Hubungannya Dengan Keberadaan Aflatoksin B1 Pada Pakan Sapi. Jurnal Nasional. Perhimpunan Mikologi Kedokteran Manusia dan Hewan Indonesia I. Bogor. PMKI Pusat, Balai Penerbit FK UI. Jakarta : 269-275. Bray, T.M. and Smith, T.K. 1992. Effect of Dietary Cysteine Supplements On Canola Meal Toxicity And Altered Hepatic Glutathione Metabolisme In The Rat. Journal of animal science :70:2510-2515 Cofey, M.T., Hagler, W.M., Cullen, Jr and J.M. 1989. Influence of Dietary Protein, Fat or Asam Acids On The Respone of Weanling Swine to Aflatoxin B1. Journal animal science 67:469-471 Coffey, M.T., Heugten, E.Van., Kegley, E.B., Qureshi, M.A., and Spears, J.W. 1994. The Effect of Methionine and Aflatoxin on Immune Function in Weanling Pigs. Journal of Animal Science 72: 663 Dellmann, H. D. And Brown, E. M. 1992. Textbook of Veterinary Histology. Alih Bahasa R. Hartono. Edisi ke-3. UIPress. Jakarta. Hal. 375-378, 392-404.

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Paparan aflatoksin 500 ppb pada pakan basal selama 6 minggu pada tikus Spraque Dawley menyebabkan kerusakan atau perubahan pada histopatologik hati berupa kongesti pada sinusoid dan degenerasi melemak pada hepatosit. 2. Pada kelompok tikus diberi aflatoksin 500 ppb dengan metionin 1,5% dalam pakan basal selama 6 minggu, menunjukkan perubahan histopatologik organ hati, yaitu kongesti pada sinusoid, nekrosis dan degenerasi melemak pada hepatosit. 3. Metionin dosis 1,5% belum mampu mengeliminasi aflatoksin dalam tubuh tikus. Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk didapat dosis metionin yang tepat untuk mencegah afatoksikosis pada tikus. Sehingga penanggulangan aflatoksikosis pada ternak lainnyapun dapat dilakukan. DAFTAR PUSTAKA Anuja G.I., Latha P.G., Pradeep S., Rajasekharan S., Shikha P., Shine V.J., Shyamal S., Sini S., and Suja S.R. 2010. Hepatotprotective Effect of Three Herbal Extract on Aflatoxin B1Intoxicated Rat Liver. Singapore Med; 51(4): 326-331. Ariens, E.J., Mutschler, E., dan Simons, A.M. 1978. Toxicology Umum

ISSN : 0853 0122

1187 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH
Hofstad, M. S., Barnes, H. John., Calnek., B. W., Reid., W. M., Yoder, H. W. 1984. Diseases of Poultry 8th Edition. Iowa : Iowa State University Press, pp. 799804. Hort, Waldemar., Boschnakova, Tzanka, and Novi, Anna. 1982. Sequential Morphological Changes in Aflatoxin B1- Induced Liver Tumors During Chronic Administration of Glutathione. Toxicologic Phatology : Vol. 10, No. 2. Juncqueria, L. C dan Carniero, J. 1980. Histologi Dasar dari Judul Asli Basic Histologi, edisi ke 3, Diterjemahkan oelh Adji Dharma, EGC Press, Jakarta, Hal. 342-355, 393-409. Rohman, Abdul., Triwahyudi. 2008. Simultaneous Determination of Aflatoxin B1, B2, G1, and G2 Using HPLC With Photodiode-Array (PDA) Detector in Some Foods Obtained From Yogyakarta, Indonesia. Agritech Majalah Ilmu dan Teknologi Pertanian vol. 28 : 109. Runnells, R.A. 1956. Animal Phatology. Edisi ke-5. The Iowa State University Press, Iowa. 413-417. Sachan DS and Ayub MY. 1997. Dietary Factors Affecting Aflatoxin B1 Carcinogenicity. Mal J Nutr 3:161-179 Tabbu, C. R. 2002. Penyakit Ayam dan penanggulangannya. Penyakit Asal Parasit, Noninfeksius, dan Etiologi Kompleks. Volume 2. Kanisius. Hal. 164-170. Watford, Malcom., and Wu, Guoyao. 2011. Protein. American Society for Nutrition. Adv. Nutr, 2: 63. Yunianta, Yuli Purwandari K., Sitarina Widyarini, 2010. Efisiensi Metionin Untuk Meningkatkan Glutation Sebagai Upaya Menekan Toksisitas Aflatoksin B1 Pada Broiler. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Akademika Peternakan Brahmanaputra, Yogyakarta. Yunong, Roy P. E., Russo, Juli-Anne Royes. 2009. Molds in Fish Feeds and Aflatoxicosis. http://edis.ifas.ufl.edufa/095/ [15 Oktober 2010] Zimmerman, H. J. 1978. Hepatotoxicology. Appleton Century Crofts, NewYork, pp, 47-51; 95-99, 198-209

ISSN : 0853 0122

1188 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH

ISSN : 0853 0122

1189 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH

ISSN : 0853 0122

1190 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH

ISSN : 0853 0122

1191 Volume 17 No. 1 Maret 2012

MAJALAH ILMIAH

ISSN : 0853 0122 2012

1192 Volume 17 No. 1 Maret