Anda di halaman 1dari 121

ANATOMI GEH

APPARATUS DIGESTIVUS
Dr. YUSNAM SYARIEF PAK

SUBTOPIK BAHASAN :

DINDING PERUT & ISINYA


1. CAVUM ORIS 2. PHARYNX 3. OESOPHAGUS

4. GASTER
5. INTESTINUM 6. PANCREAS 7. HEPAR 8. LIEN

PENYAKIT PADA GEH


1. PENYAKIT REFLUKS GASTROESOFAGUS (GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE = GERD) 2. K O N S T I P A S I 3. PENYAKIT DIVERTIKEL KOLON (PDK) 4. Pankreatitis a. PANKREATITIS AKUT b. PANKREATITIS KRONIK 5. PERDARAHAN SALURAN CERNA 6. PENYEBAB VIRUS HEPATITIS A (VHA), B (VHB), C (VHC),D (VHD),E (VHE), G (VHG),TT (VH-TT).

PENYAKIT PADA GEH


7. SIROSIS HATI 8. TUMOR HATI 9. ASITES 10. HEPATOSELULER - HIPERPLASIA NODULER - ADENOMA 11. KOLANGIOSELULER 14. HEMANGIOMA 15 FIBROMA, LIPOMA 16. LEIOMIOMA 17. HIPERTENSI PORTAL 18. KOLESISTITIS 19. PANKREATITIS 20. KANKER HATI

CAVITAS ORIS
BAGIAN-BAGIAN : PALATUM DURUM : BAGIAN KERAS PALATUM MOLLE : BAGIAN YG LUNAK UVULA PLICA PALATOPHARYNGEALIS EPIGLOTIS PLICA GLOSO EPIGLOTICA MEDIAN DAN LATERALIS VALICULUS EPIGLOTICUS TONSILA PALATINUS LINGUA ( LIDAH ) : PELAJARI BAGIAN-2 DARI LIDAH

GIGI SUSU ( ANAK )


INCICIVUS CANINUS

PREMOLAR PADA BELUM ADA MOLAR

GIGI PERMANEN

GIGI DEWASA

Gigi Dicidui = 20 buah GIGI TERDIRI DARI : Gigi Permanen = 28 ~ 32 buah

Waktu Erupsi Gigi I =I1 II = I 2 III = C IV = M 1 V =M2


kulgilut-2.ppt

( Dicidui ) RA 7 bl 9 bl 18 bl 14 bl 24 bl RB 6 bl 7 bl 16 bl 12 bl 20 bl

Waktu Erupsi
6 12 Tahun Gigi I 1 1 2. I
3. C
2

( Permanen )

Periode Gigi Bercampur RA RB 7 8 th 6 7 th 8 9 th


11 12 th

7 8 th
9 10 th

4. P
5. P

10 11 th
10 12 th
1

10 12 th
11 12 th

6. M
7. M 8. M

6 7 th
12 13 th 17 th

6 7 th
11 13 th 17 th

2 3

PERBEDAAN GIGI DICIDUI & PERMANEN


Gigi Dicidui Gigi Permanen

1. Warna putih abu-abu 2an


2. Ukuran corona gigi kecil pendek

1. Warna Ke Kuning-

2. Ukuran > Besar

3. Akar gigi Molar > divergen divergen


4. Mdh Malami abrasi & karies 5. Akar gigi Malami resobsi goyang 6. Tdk Malami pbtk dentin sekunder Sek

3. Akar gigi tdk

4. Tdk Mudah 5. Tdk resobsi . 6. M alami -> dentin

FUNGSI GIGI :

1. MENGGIGIT, MEMOTONG, MENGUNYAH MAKANAN.


2. MEMBENTUK SUARA.. 3. ESTHETIK.

ZIGMONDY
GIGI DICIDUI. : 20 .

NOMENKLATUR GIGI.

IV

III

II

II

III

IV

IV

III

II

II

III

IV

GIGI PERMANENT ; 28 ATAU 32. 8 8 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 8 8

Atas kanan

Contoh : Gigi molar satu bawah kanan :


Gigi caninus atas kiri : 3

Atas kiri Bawah kiri Bawah kanan

Nomenklatur GiGi
MENURUT F.D.I = FEDERATION DENTAIRE INTERNATIONALE Elemen Gigi Cara penulisan : Atas Kanan Gigi Permanen Bawah kanan 1.8 1.7 1.6 1.5 1.4 1.3 1.2 1.1 4.8 4.7 4.6 4.5 4.4 4.3 4.2 4.1 1 4 2 3 Bawah kiri 2.1 2.2 .2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 Atas kiri 1 8 gigi permanent / gigi susu

Contoh : Gigi Caninus tetap atas kanan Gigi Molar 1 tetap bawah kiri Quadrant no :1 Quadrant no :2 Quadrant no :3 Quadrant no :4 Atas kanan

1.3 3.6

Atas kiri Bawah kiri


Bawah kanan

CARA PENULISAN
Gigi susu / Dicidui
Atas kanan 5 8 6 7 Atas kiri

Bawah kana

Bawah kiri

5.5 5.4 5.3 5.2 5.1 8.5 8.4 8.3 8.2 8.1

6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5

Contoh : Gigi caninus susu / dicidui atas kanan Gigi Molar I susu / dicidui Bawah kiri

5.3 7.5

STRUKTUR JARINGAN KERAS GIGI


TERDIRI DARI : ENAMEL DENTIN PULPA CEMENTUM

ENAMEL
- Bagian paling keras gigi - Letak pada permukaan gigi - Komposisi 95% in organik. ( garam kalsium phospat ) Ca 10 (PO4) 6OH2

4% air
1 % organik - Warna tranlucent . - Asal ectodermal. (lipid, carbo hidrat,collagen,mucoprotein )

Cementum

Periodontal membrane Nerve & blood suplay

FUNGSI ENAMEL : - Menerima daya kunyah. - Melindungi jaringan dibawahnya. - Menahan abrasi . DENTIN : - Antara Enamel dan Cementum.

- Lebih lunak dari enamel.


- 70 % In organik, sisanya organik - Mrpk . Jar. Keras terbanyak pada crown gigi dan akar gigi . - Banyak dentin tubulus. - warna kekuningan.

- Asal : Ectomesenchymal.

PULPA GIGI. - Pembuluh darah - Pembuluh lymphe.

F UNGSI PULPA : - Formative - Nutrisional - Sensory - Defence.

- Syaraf

CEMENTUM

JAR. KERAS GIGI JAR. PERIODONTIUM

* Menghubungkan gigi dan tulang. * Periodontal fiber yg termasuk dlm cementum dan alveolar bone disebut:

SHARPEY FIBER .

JARINGAN PERIODONTIUM
GINGIVA MEMBRANA PERIODONTAL. PROCESUS ALVEOLARIS CEMENTUM. FREE GINGIVA GINGIVA. ATTACHED GINGIVA INTERDENTAL PAPIL GINGIVA : MUKOSA YANG MELIPUTI PROC. ALV DAN MENGELILINGI GIGI.

GINGIVA NORMAL :
WARNA BENTUK PERMUKAAN CONSISTENSI SULKUS GINGIVA : PALE PINK. : TERGANT. PD HUB.ANT GIGI DAN POSISI DLM. LENGK.RHG. : STIPLING + SEP. KLT JERUK : PADAT DAN KENYAL. : BTK. V 0-2 mm.

FREE GINGIVA :
BAG. GINGIVA YG.MENGELILINGI GIGI TAPI TDK. MELEKAT PD GIGI. MARGINAL GINGIVA = UNATTACHED GINGIVA. YAITU:

BAGIAN DARI FREE GINGIVA YG TERLETAK


DI BAG. LABIAL / BUCCAL / LINGUAL / PALATAL.

ATTACHED GINGIVA :
BAG. GINGIVA YANG MELEKAT ERAT DG. P ROC. ALV. DAN CEMENTUM. LEBAR : 1 - 9 mm. STIPPLING +

INTER DENTAL PAPIL :


BAG.GINGIVA YG MENGISI INTER PROKSIMAL SPACE.( RUANG DIBAWAH TITIK KONTAK GIGI ). TERDIRI DARI ATTACHED GINGIVA DAN MARGINAL GINGIVA. PADA KONDISI DIASTEMA PADA PROC. ALVEOLARIS. I.D.P HILANG ATAU MELEKAT

PARAMETER GINGIVA SEHAT DAN GINGIVA SAKIT.


NO 1. 2. WARNA GINGIVA BENTUK GINGIVA GINGIVA SHT CORAL PINK UJUNG MARGIN RUNCING MENGISI INTER PROKSMAL GINGIVA SKT MERAH BIRU BENGKAK / ODEM.

3.
4. 5.

KEPADATAN GINGIVA
PROBING PD . CERVIK SUB GINGIVAL PLAK.

KERAS, PADAT, KENYAL.


PERDARAHAN DAN EXUDAT TDK ADA

SPONGY

/ LEMBEK.

BERDARAH DAN EXUDAT + ADA

6.
7. 8. 9. 10.

SUB GINGIVAL CALKULUS


DALAM POCKET SULKUS GINGIVA PERIODONTAL ATTACHMENT STIPLING

T DK ADA
TDK ADA PERUBAHAN 1 2 mm

ADA
DALAM LEBIH HILANG DALM BBRP WAKTU. -

TDK ADA PERUBAHAN DLM BBRP WAKTU. +

PERIODONTAL LIGAMENT.
YI : JAR.IKAT YANG MELEKATKAN GIGI DENGAN TULANG.

TERDIRI DARI :

* SEL-SEL DAN SERAT JAR. IKAT. * PEMB. DARAH

* PEMB. LYMPH
* PEMB.SYARAF * SISA EPITEL MALASSEZ

FUNGSI :
* PEMEGANG GIGI KE TULANG. * MEMBERI NUTRISI PD.CEMENT, TLG. ,GINGIVA. * SBG. SENSORI. * MENERUSKAN DAYA KUNYAH KE TULANG. * ME-ABSORPSI TEK. DR. LUAR. * MENJAGA KERUSAKAN P.D & SY. DARI TEKANAN. * MENJAGA GINGIVA PADA TEMPAT YANG NORMAL. .

PROSESUS ALVEOLARIS :
YI : BAGIAN DARI TULANG MAXILLA / MANDIBULA DIMANA GIGI TERTANAM. ALVEOLAR BONE DALAM ISTILAH RONTGEN DSB : LAMINA DURA BAGIAN DARI PROS.ALV YG MEMBENTUK SOCKET DIMANA GIGI TERTANAM RAHANG. DALAM

LIDAH ( LINGUA )

BAGIAN-BAGIAN LINGUA :
DORSUM LINGUA CORPUS LINGUA SULCUS TERMINALIS FORAMEN COECUM

RADIX LINGUA TONSILLA LINGUA

APEX LINGUA

PAPILLA LINGUA : PAPILLA FILIFORMIS PAPILLA LENTICULARIS PAPILLA FUNGIFORMIS PAPILLA CONICAE PAPILLA VALATAE PAPILLA FOLIATA

PADA POTONGAN TRANSVERSA LINGUA ( UNTUK MELIHAT OTOT-2 INTRINSIK ), TAMPAK : M. LONGITUDINALIS SUPERIOR M. TRANSVERSA LINGUAE M. LONGITUDINALIS INFERIOR

M. VERTICALIS LINGUA
SEPTUM LINGUAE A. PROFUNDA LINGUAE

PADA POTONGAN SAGITAL LINGUE : M. LONGITUDINALIS SUPERIOR M. TRANSVERSUS LINGUAE M. LONGITUDINALIS INFERIOR M. GENIOGLOSUS M. GENIOHYOIDEUS M. MYLOHYOIDEUS EPIGLOTIS

FASCIES INFERIOR LINGUAE DAN REGIO SUBLINGUALIS

MARGO LATERALIS LINGUAE PLICA FIMBRIATA FRENULUM LINGUAE PLICA SUBLINGUALIS CARUNCULAE SUBLINGUALIS GLANDULA LINGUALIS ANTERIOR GLANDULA SUBLINGUALIS DUCTUS SUBLINGUALIS MAYOR N. LINGUALIS, V. LINGUALOS , A. PROFUNDA LINGUAE

PHARYNX
SUATU SALURAN OTOT DAN SELAPUT DENGAN KEDUDUKAN TEGAK LURUS , ANTARA BASIS CRANII DAN V.C VI ATAU PINGGIR CAUDAL CART. CRICOIDEA KEARAH CAUDAL LANJUT SEBAGAI OESOPHAGUS SALURAN MAKANAN YANG SEBENARNYA ( SEJATI ) YAITU

VENTRAL BERHUBUNGAN DENGAN RONGGA HIDUNG , RONGGA MULUT DAN LARYNX

PHARYNX DIBEDAKAN DALAM 3 BAGIAN :

NASOPHARYNX = EPIPHARYNX = CAVUM PHARYNGO NASALE = PARS NASALIS PHARYNX


OROPHARYNX = MESOPHARYNX = PARS ORALIS PHARYNX LARYNGO-PHARYNX = HYPOPHARYNX = PARS LARYNGEA PHARINGIS DINDING PHARYNX TERDIRI DARI 4 LAPIS : SELAPUT LENDIR MEMBRANA FIBROSA LAMINA MUSCULARIS JARINGAN AREOLAR

PERDARAHAN : DILAKUKAN OLEH A. PHARYNGEA ASCENDENS , DARI A.CAROTIS EXTERNA DAN A. PHARYNGEA SUPREMA ( A. MAXILLARIS INTERNA )
PERSARAFAN :

PLEXUS PHARYNGEUS DG SERABUT-2 DARI TRUNCUS SYMPHATICUS, N. GLOSSOPHARYNGEUS


N. GLOSSOPHARYNGEUS ( N. IX ), N. VAGUS ( N. X ) DISEKITAR PHARYNX ADA FASCIES YAITU : SPATIUM PARAPHARYNGEALIS DAN SPATIUM RETROPHARYNGEUS

DINDING PHARYNX :
LAMINA MUSCULARIS : ADA 2 GOLONGAN OTOT YAITU : 1. OTOT-2 MELINGKAR : TERDIRI LAGI ATAS , SUSUNAN OTOT SATU SAMA LAIN SEPERTI GENTENG : - M. CONSTRICTOR PHARYNGEA SUPERIOR * M. BUCCOPHARYNGEUS * M. PTERYGOPHARYNGEUS * M. MYLOPHRYNGEUS * M. GLOSSOPHARYNGEUS - M. CONSTRICTOR PHARYNGEUS MEDIUS

- M. CONSTRICTOR PHARYNGEUS INFERIOR

2. OTOT-2 MEMBUJUR :
a. M. STYLOPHARYNGEUS b. M. PALATOPHARYNGEUS BAGIAN DARI PHARYNX YANG HARUS DIPELAJARI :

ISTHMUS FAOCIUM PLICA PHARYNGOEPIGLOTICA RECESSUS PIRIFORMIS PLICA ARYEPIGLOTICA ADITUS LARYNGEIS OROPHARYNX

LARYNGOPHARYNX N. LARYNGEUS RECURENS

DASAR MULUT :
M. DIGASTRICUS VENTER ANTERIOR M. MYLOHYOIDEUS

M. GENIOHYOIDEUS M. GENIOGLOSSUS M. HYPOGLOSSUS

ALAT-ALAT PHARYNX LAINNYA : CORNU MAYUS OS. HYOID M. STYLOGLOSSUS STYLOHYOID M. STYLOPHARYNGEUS DUCTUS GL. SUBMANDIBULARIS ( WHARTONI ) GLD. SUBLINGUALIS A./ N. LINGUALIS N. HYPOGLOSSUS A. FACILAIS ( A. MAXILLARIS EXTERNA )

OESOPHAGUS :
BERJALAN DARI CRANIAL DI DEPAN FASCIA VERTEBRALIS, TERLETAK DI LINEA MEDIANA DIBELAKANG TRACHEA.

PADA SAAT TRACHEA BERCABANG MENJADI BIFURCATIO TRACHEA, OESOPHAGUS BERJALAN SEBELAH AGAK KIRI.

SEHINGGA SEDIKIT DI SEBELAH KIRI AORTA , KEMUDIAN TERUS KE BAWAH MENEMBUS DIAPHRAGMA MELALUI HIATUS OESOPHAGUS ( SETINGGI V.TH. 10 ) , BERSAMA N. VAGUS.

PERDARAHAN OESOPHAGUS :

DARAH ARTERI : a. R. OESOPHAGUS A. THYROIDEA INFERIOR UNTUK BAGIAN ATAS b. R. OESOPHAGUS AORTA THORACALIS UNTUK BAGIAN TENGAH c. R. OESOPHAGUS A. GASTRICA SINISTRA UNTUK BAGIAN DISTAL

FUNGSI OESOPHAGUS :

SEBAGAI ALAT MENGANGKUT MAKANAN DARI PHARYNX KE

GASTER.
BILA BOLUS MAKANAN TIDAK ADA YANG DIANGKUT MAKA OESOPHAGUS BENTUKNYA PIPIH, DENGAN BENTUK LUMEN KECIL DAN TIDAK TERATUR, DIAMETER 1 cm DI SEBELAH ORAL DAN 2 - 3 cm DI SEBELAH DISTAL.

OESOPHAGUS MEMPUNYAI TUNICA MUSCULARIS TEBAL DARI PADA TRACT. DIGEST YANG LAIN.

PANGKAL OESOPHAGUS TERDIRI OTOT SERAN LINTANG


TAK TERATUR KE DISTAL MULAI TERPISAH OLEH LAPIS DALAM , OTOT LINGKAR DAN OTOT INI MAKIN KE DISTAL MAKIN MENGHILANG, SEDANG DOMINAN. OTOT POLOS MAKIN

ANTARA OTOT LINGKAR DAN OTOT MEMANJANG TERRDAPAT


NEURON SERABUT PARASYMPHATIS YANG MENGADAKAN

SYNOPSIS UNTUK MEMBERIKAN SERABUT POSTGANGLIONER.

SEL SARAF PARASYMPHATIS ITU TERLETAK DI DALAM PLEXUS


MYENTERICUS GANGLIONER (AURBACH) , SERABUT EFFERENT PRE-

PARASYMPHATIS N. VAGUS BERGANTI NEURON

DISANA , UNTUK MENSARAFI OESOPHAGUS

PADA OESOPHAGUS TERDAPAT :


DUA OTOT SPINCTER YAITU :

1. Pada pangkal oseophagus : dimana selalu


waktu menelan, sendawa dan muntah.

tertutup, kecuali

Bolus makanan pada oesophagus menyebabkan terjadinya kontraksi peristaltic, sehingga dalam waktu 5 - 6 detik akan mencapai cardia Gaster

2. Pada sambungan antara oesphagus dengan gaster : dimana otot spincter disini selalu tertutup, dia akan terbuka bila bolus makanan sudah sampai disini.

ASPEK KLINIK :
1. Varices oesophagia : Pada submucosa osephagus terdapat

plexus venosus oesophagia yang berhubungan dengan v.


azygos dan v. hemiazygos dimana bermuara ke v. cava superior, sedang pihak lain dia berhubungan dengan cabang dari v.gastrica sinistra (yang merupakan cabang dari v. porate ).

Kalau terjadi hypertensi pada system portae , maka darah bisa membalik ke arah plexus venosus oesophagia, dengan akibat timbulnya varices. Varices ini bisa pecah pada waktu : makan, muntah, memasukkan alat periksa ( sonde, gastroskopi ).

Sehingga bisa timbul perdarahan. Yang terlihat dengan klinis


terjadi : Muntah darah ( hematemesis ) yang hebat..

Salah satu terjadinya hipertensi portae ini adalah cirrhosis


hepatis, dimana hampir 50 % menimbulkan kematian

2. Reflux ( alir balik ) :


Cairan gaster membalik ke oesophagus, cairan gaster terlalu asam maka bila sampai di oseophagus akan menyebabkan kerusakan mucosa oesophagus, yang menimbulkan rasa seperti terbakar di ulu hati, dikenala sebagai : Hearburn reflux.

bila ini terjadi berulang ulang menyebabkan terjadinya oesphagitis, bila terus menerus menimbulkan tukak

oesophagitis, akibatnya rasa sakit waktu menelan, pada stadium


lanjut terjadi hematemisis

3. Achlasia ( cardiospasm)

Keadaan dimana terjadi kejang otot spincter cardia , akibat dari gangguan jalannya serabut parasymphatis. Tandatandanya : dysphagia dan pelebaran progresif oesophagus.

GASTER SALURAN PENCERNAAN ANTARA OESOPHAGUS DENGAN

USUS HALUS LETAKNYA SEBAGIAN BESAR DITUTUP OLEH IGA TERMASUK INTRAPERITONEAL FUNGSI : MENYIMPAN MAKAN ( DEWASA 15OO ml ) BENTUK SPT HURUF J DENGAN : - 2 LUBANG : OSTEUM CARDIACUM DAN PYLORICUM - 2 KURFATURA : MAYOR DAN MINOR - 2 PERMUKAAN : ANTERIOR DAN POSTERIOR

BAGIAN-2 DARI GASTER : FUNDUS : SEPERTI KUBAH BERISI GAS CORPUS : DARI OSTIUM CARDIACA S/D INCISURA ANGULARIS ADA CURVATURA MAYOR DAN MINOR ANTRUM PYLORICUM SEPERTI TABUNG DG OTOT YANG TEBAL

SPINCTER PYLORICUM : MENGATUR PENGELUARAN ISI


LAMBUNG KE DUODENUM MEMBRANA MUCOSA : TEBAL, BANYAK PEMBULUH DARAH,

BERLIPAT ( RUGAE )

MUKOSA LAMBUNG : MENGHASILKAN ASAM DAN PEPSIN


YG PENGELUARANNYA DIATUR OLEH SARAF N. X ( VAGUS ) SERTA HORMON GASTRIN

SEKRET ANTRUM DAN PYLORIC : ALKALIN


MUKOSA ANTRUM MENGHASIL HORMON GASTRIN ASPEK KLINIS : BILA ASAM BERLEBIHAN DI SEKRESI TERJADI TUKAK LAMBUNG , UNTUK MENGURANGI BISA DILAKUKAN RESEKSI N. X ( VAGOTOMI ) ATAU PEMBUANGAN MUKOSA ANTRUM. ( GASTROKTOMI PARSIAL )

BATAS GASTER :
ANTERIOR : POSTERIOR : PERDARAHAN : DARI A. COLIACA ( TRIPLE HALLERI ) BERASAL DARI A. ABDOMINALIS CABANGNYA YAITU : 1. A. GASTRICA SINISTRA ( KIRI ATAS )

2. A. LIENALIS ( BAWAH, KIRI )


3. A. HEPATICA COMMUNIS ( KANAN )

INTESTINUM ADA 2 : 1. INTESTINUM TENUE ( USUS HALUS )

2. INTESTINUM CRASUM ( USUS BESAR )


1. INTESTINUM TENUE ( USUS HALUS ) YANGPALING PANJANG , DIBAGI 3 :

A. DUODENUM
B. YEYENUM C. ILEUM

FUNGSI : PENCERNAAN DAN ABSORBSI HASIL PENCERNAAN 1. DUODENUM :

USUS DUABELAS JARI


LANJUTAN DARI GASTER BERBENTUK HURUF C PANJANG 25 CM ( 12 JARI ) BERMUARA SALURAN EMPEDU DAN PANCREAS OMENTUM MINUS MELEKAT DIPINGGIR ATAS OMENTUM MAYUS MELEKAT DIPINGGIR BAWAH ADA DUA LENGKUNG : FISSURA DUODENI SUPERIOR DAN INFERIOR

DUODENUM DIBAGI DALAM TIGA BAGIAN :

1. PARS SUPERIOR DUDENI 2. PARS DESCENDENS DUODENI

3. PARS INFERIOR :
- ADA PARS HORIZONTALIS ( MELINTANG ) - PARS ASCENDENS ( KEATAS ) PERDARAHAN : 1. BAGIAN ATAS : A. PANCREATICO DUODENALIS SUPERIOR ASAL DARI A. GASTRO DUODENALIS

SEPAROH BAGIAN BAWAH : A. PANCREATICO DUDENALIS INFERIOR CAB. A. MESENTERICA SUPERIOR

PERSARAFAN : SIMPATIS DAN PARA SIMPATIS N. X DARI PLEXUS MESENTERICUS SUPERIOR DAN PLEXUS COELIACUS

YEYENUM DAN ILIUM

INTRA PERITONIUM
PANJANG 6 METER, BERPUTAR PUTAR

INTESTINUM CRASUM ( USUS BESAR ) : a. CAECUM b. APPENDIX VERMIFORMIS c. COLON ASCENDENS d. COLON TRANSVERSUM e. COLON DESCENDEN f. COLON SIGMOID g. RECTUM h. ANUS

USUS HALUS :

SIFAT MOBILE / KECUALI DUODENUM


UMUMNYA KECIL PUNYA MESENTERIUM

OTOT LONGITUDINALE MEMBENTUK LAPISAN YG


KONTINU KANTONG LEMAK TIDAK ADA DINDING HALUS PUNYA PLICA CIRCULARIS

VILLI +
JAR. LYMPHOID : +

USUS BESAR :

TERFIXIR
BESAR TDK PUNYA MESENTERIUM

OTOT LONGITUDINALE BERGABUNG : - LIBERA, OMENTALIS,


MESOCOLICA ADA KANTONG LEMAK SAKULAR TIDAK ADA PLICA CICULARIS

VILLI TIDAK ADA


JAR. LYMPHOID : TIDAK ADA

PERDARAHAN : A. A. COLIACA B. A. MESENTERICA SUPERIOR C. A. MESENTERICA INFERIOR

LIEN ( LIMPA ) MASA LUNAK , RAPUH DARI JAR. LIMFOTIK

LETAK : - ANTARA V.TH 9 12, PROYEKSI KIRI DEPAN


IGA 5-8 BENTUK : -POLUS CRANIAL DAN CAUDAL

CARA PENGUKURAN : ARCUS COSTAE SINSITRA

UMBILUCUS

SIAS

GARIS SCHUFFNER

PANCREAS : KEL. EKSOKRIN : ENZIM YG DAPAT MENGHIDROLISIS

PROTEIN, LEMAK DAN K.H


KEL. ENDOKRIN : PULAU LANGERHANS MENGHASILKAN HORMON INSULIN DAN GULKAGON UNTUK METABOLISME

K.H
ORGAN LUNAK, BERLOBUS DI DINDING POSTERIOR ABDOMEN DIBELAKANG PERITONIUM

BENTUK ANATOMIS :
- CAPUT : RETROPERITONEAL - COLLUM : BAGIAN YG MENGECIL

- CORPUS : MENYILANG GARIS TENGAH


- CAUDA : INTRAPERITONEAL ( SATU-SATUNYA ) SALURAN KELENJAR PANCREAS : 1. DUCTUS PANCREATICUS MAYOR ( WIRSUNGI )

2. DUCTUS PANCREATICUS MONIR ( SANTORINI )

PERDARAHAN :
A. LIENALIS A. PANCREATICO DUODENALIS SUPERIOR

A. PANCREATICO DUODENALIS INFERIOR


VENA-VENA SENAMA YG NANTINYA MASUK KE SISTEM PORTAL PEMBULUH LYMPHE : MELALUI PEMBULUH LIMPHE SEPANJANG ARTERI KE Lnn. COELIACUS MESENTERICUS SUPERIOR PERSYARAFAN : N. X ( VAGUS ) SIMPATIS DAN PARA SIMPATIS

KLINIS : PANCREAS MASUK KE BURSA OMENTALIS ( ANTERIOR ) EFUSI CAIRAN PERITONEAL BILA TERJADI PENIMBUNAN CAIRAN DLM BURSA OMENTALIS TERJADI CYSTA YG DISEBUT PSEUDO-CYSTO PANCREAS BILA ADA SUMBATAN PD DUCTUS CHOLEDOCUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN CAPUT BISA TERJADI KANKER DAN SUMBATAN MAKA TERJADI IKTERUS OBSTRUKTIF

HEPAR
KELENJAR TERBESAR ORGAN PALING BESAR, INTRAPERITONIUM

MELEKAT PADA DIAPHRAGMA , PADA PARS AFIXA HEPATIS PADA HYPOCHONDRIUM KANAN DAN EPIGASTRIUM PROJEKSI :
DIAPHRAGMA THORACIS MEMP. 2 CUPULA KANAN DAN KIRI , DIMANA YG KANAN LEBIH TINGGI .

TITIK TERTINGGI DI LINEA MEDIANA CLAVICULA KANAN PD


SELA IGA 4, SEDANG SEBELAH KIRI SELA IGA KE 5

TENGAH : MELEWATI XYPHISTERNALIS SEBAGAI PROYEKSI TEPI ATAS

TEPI BAWAH : NORMALNYA TIDAK MELIWATI ARCUS COSTARUM PD INSPIRASI DALAM TERABA, NAFAS BIASA TIDAK TERABA MENYILANG ARCUS COSTARUM KANAN PD IGA 8 DAN 9 MARGO INFERIORNYA MENYILANG DI TENGAH PD ANGULUS INFERIOR STERNALIS TIDAK TERLINDUNG OLEH IGA ATAU TULANG TEPI ATAS KIRI : IGA 5

HEPAR : TERDIRI DARI 2 LOBUS


BENTUK SEPERTI PIRAMID 4 SISI

BENTUK : BAGIAN ATAS DAN LATERAL KANAN : FASCIES SUPERIOR HEPATIS DEPAN : FASCIES ANTERIOR BELAKANG FASCIES POSTERIOR BAWAH : FASCIES INFERIOR / FASCIES VISCERALIS , MERUPAKAN DATARAN MENUJU KEDALAM PERUT

TEPI : MARGO ANTERIOR : MEMISAHKAN FASCIES SUPERIOR DENGAN FASCIES VISCERALIS MARGO POSTERIOR : MEMISAHKAN FASCIES POSTERIOR DAN VISCERALIS
FASCIES VISCERALIS :

BAGUNAN BERBENTUK HURUF H DG KAKI


MEMANJANG DIKANAN DAN KIRI ADA CEKUNGAN DISEBUT : FISSURA SAGITALIS DEXTRA DAN SINISTRA ADA PORTA HEPATIS

BAGIAN YG PERLU DIKETAHUI : FISSURA SAGITALIS DEXTRA : DEPAN ADA KANTONG EMPEDU ( VESICA FELLEA ) BELAKANG : V.CAVA. INFERIOR

FISSURA SAGITALIS SINISTRA :


DEPAN : LIG. TERES HEPATIS BELAKANG : LIG VENOSUS ARANTII

1. DUCTUS CHOLEDOCUS BERUPA SALURAN EMPEDU DARI DUCTUS HEPATIS KANAN DAN KIRI , DARI DUCTUS KELUAR KE PORTA HEPATIS BERGABUNG DG DUCTUS CYSTICUS ( SALURAN EMPEDU DARI VESICA FELLEA ) 2. VENA PORTAE MENYALURKAN 70 % DARAH KE HATI ( BAGIAN BAWAH OESOPHAGUS SAMPAI PERTENGAHAN ATAS ANUS

SEMUA PERDARAHAN BALIK DARI PERUT KECUALI GINJAL DAN SUPRARENALIS BERGABUNG KE V. PORTAE DAN MASUK KE HEPAR

BERCABANG DUA RAMUS SINISTRA DAN DEXTRA PANJANG 5 cm

DIBENTUK OLEH V. MESENTERICA SUPERIOR DAN V. LIENALIS

3. A. HEPATIS PROPRIA CABANG A. HEPATIS COMMUNIS AORTA ABDOMINALIS FISSURA SAGITALIS DEXTRA : A. COELIACA

MEMBAGI HEPAR MENJADI 2 LOBUS YAITU LOBUS DEXTRA DAN SINISTRA


LOBUS SINISTRA HEPAR : ADA 2 LOBI KECIL 1. LOBUS QUADRATUS 2. LOBUS CAUDATUS

FASCIES SUPERIOR HEPATIS :


LIGAMENTUM TERES HEPATIS LIG FALCIFORME HEPATIS FUNGSI HEPAR : 1. PEMBENTUKAN SEKRESI EMPEDU DUODENUM

2. METEBOLISME KH, LEMAK DAN PROTEIN


3. MENYARING DARAH / PROTEKSI TERHADAP BENDA ASING DAN BAKTERI

VESICA FELLEA
BENTUK : BUAH ALPUKAT TERBAGI : FUNDUS, CORPUS DAN COLLUM

SALURAN KE KELUARNYA
DUCTUS CHOLEDOCUS

KE DUCTUS CYSTICUS
DUODENUM PARS DESCENDEN

GABUNGAN DG DUCTUS HEPATIS COMMUNIS ADA LIPATAN : VALVULA SPIRALIS SEBAGAI RESERVOAR DARI EMPEDU

PD HEPATITIS ( OLEH RADANG / VIRUS ) HEPAR TIDAK


BERKERJA MEMBENTUK BILLUS

BATAS :

ANTERIOR : - DINDING ABDOMEN


- PERMUKAAN VISCERAL HEPAR POSTERIOR : - COLON TRANSVERSUM

- DUODENUM KLINK :
LEMAK MERANGSANG HORMON HOLISITOKININ DARI MUKOSA DUODENUM DAERAH KANDUNG EMPEDU AKAN BERKONTRAKSI, OTOT DI DISTAL DUCTUS CHOLEDOCUS DAN AMPULA RELAKSASI EMPEDU MASUK KE DUODENUM UNTUK EMULSIFIKASI LEMAK DI USUS HALUS DAN ABSORBSI LEMAK