Anda di halaman 1dari 7

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (FI III, 1979). Emulsi berasal dari kata emulgo yang artinya menyerupai susu, dan warna emulsi memang putih seperti susu. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengndung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, protein bertindak sebagai emulgator dari campuran lemak atau minyak dengan air yang terdapat dalam biji-bijian (Syamsuni 2006). Emulsi adalah sediaan yang mengandung dua zat yang tidak bercampur, biasanya air dengan minyak, dimana cairan yang saat terdispersi menjadi butirbutir yang kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah. Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsi yang stabil. Emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) di sekeliling butirbutir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu emulsi tipe m/a dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe a/m dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak. II.1.1 Tipe-Tipe Emulsi Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air. Berdasarkan fasa terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu (Syamsuni, 2006). 1. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air) adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar

atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. 2. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minyak) adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi kedala minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.

II.I.2

Bahan- bahan Pengemulsi (Emulgator) Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator

merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan (Syamsuni, 2006). Berdasarkan sumbernya, terdapat dua jenis emulgator, yaitu emulgator alam dan emulgator sintetis (buatan) (Syamsuni, 2006). 1. Emulgator alam. Emulgator alam, yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga

penggolongan, yaitu: a. Dari tumbuh-tumbuhan. Pada umumnya, termasuk golongan karbohidrat dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi, dan dapat dirusak oleh bakteri. Oleh karena itu, pembuatan emulsi dengan emulgator ini haru selalu menambahkan bahan pengawet. b. Emulgator hewani Kuning telur Kuning telur mengandung lesitin (golongan protein atau asam amino) dan kolesterol, yang kesemuanya itu dapat berfungsi sebagai emulgator. Lesitin adalh emulgator tipe o/w, sedangkan kolesterol adalah tipe w/o; kemampuan

lesitin lebih besar dari pada kolesterol sehingga total kunig telur merupakan emulgator tipe o/w. lesitin ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali bobotnya dan minyak menguap dua kali bobotnya. Adeps lanae Zat ini banyak mengandung kolesterol, merupaka

emulgator tipe w/o dan banyak digunakan untuk pemakaian luar. Penambahan emulgator ini akan

menambah kemampuan minyak untuk meenyerap air. Dalam keadaan kering dapat menyerap air dua kali bobotnya (Syamsuni, 2006). c. Emulgator dari mineral Magnesium aluminium silikat (veegum) Merupakan senyawa anorganik yang terdiri atas garamgaram magnesium dan aluminium. Dengan emulgator ini, emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w, sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1%. Emulsi ini khusus untuk pemakaina luar. Bentonit Tanah liat terdiri atas alumminium silikat yang dapat mengabsorpsikan sejumlah air sehingga membentuk massa seperti partikel gel. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5%. 1. Emulgator sintetis a. Sabun. Emulgator tipe ini banyak dipakai untuk tujuan luar, sangat peka terhadap elektrolit. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o, tergantung pada valensinya. Sabung bervalensi satu, misalnya sabun kalium, merupakan emulgator tipe o/w, sedangkan sabung

bervalensi dua, misalknya sabun kalsium, merupakan emulgator tipe w/o b. Tween 20, 40, 60, 80 c. Span 20, 40, 60, 80 Emulgator dapat dikelompokkan menjadi (Syamsuni, 2006): 1. Anionic 2. Kationik 3. Nonionic 4. Amfoter : sabun alkali, Na-lauri sulfat : senyawa ammonium kuartener : tween san span : protein, lesitin

Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator lebih dikenal dengan surfaktan. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya (Ansel, 1989). II.I.3. Sistem HLB Umumnya masing-masing zat pengemulsi mempunyai suatu bagian hidrofilik dan suatu bagian lipofilik dengan salah satu diantaranya lebih atau kurang dominan dalam mempengaruhi untuk membentuk tipe emulsi. Suatu metode telah difikirkan dimana zat pengemulsi dan zat aktif permukaan dapat digolongkan susunan kimianya sebagai keseimbangan hidrofil-lipofil atau HLBnya. Dengan metode ini tiap zat mempunyai harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut. Walaupun angka tersebut telah ditentukan sampai kira-kira 40, kisaran lazimnya antara 1 dan 20. Bahan-bahan yang sangat polar atau hidrofilik angkanya lebih besar daripada bahan-bahan yang kurang polar dan lebih lipofilik. Umumnya zat aktif permukaan mempunyai harga HLB yang telah

ditetapkan antara 3 sampai 6 dan menghasilkan emulsi air dalam minyak. Sedangkan zat-zat yang mempunyai harga HLB 8 sampai 18 menghasilkan emulsi minyak dalam air (Ansel, 2008). Dalam suatu sistem HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang seperti minyak. Dengan

menggunakan dasar HLB dalam penyiapan suatu emulsi, seseorang dapat memilih zat pengemulsi yang mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari emulsi yang dimaksud (Ansel, 2008). Sebagian besar emulsi yang biasa dalam bidang farmasi mempunyai ukuran partikel yang telah terdispersi dengan diameter dari 0,1 sampai 100 um. Emulsi adalah termodinamik tidak stabil sebagai akibat dari kelebihan energi bebas yang diperoleh dari permukaan tetesan. Tetesan ini terdispersi berusaha menggabung dan mengurangi daerah permukaan.

II.2 Uraian Bahan 1. Air Suling (Dirjen POM, 1979) Nama Resmi Sinonim RM/BM : Aqua Destillata : Air Suling, Aquadest : H2O/18,02 H

Rumus Struktur : H

O Pemerian berbau. Kelarutan Penyimpanan Khasiat Kegunaan : : Dalam wadah tertutup baik : : Sebagai emulgator fase cair : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak

2.

Span 80 (Dirjen POM, 1979 ; Dirjen POM, 1995) Nama resmi Sinonim : Sorbitan monooleat : Sorbitan Palmitate; Laurate; Sorbitan Oleate; Sorbitan

Sorbitan Stearate; Sorbitan Trioleate;

Sorbitan Sesquioleate RM/BM : C3O6H27Cl17/ 363

Rumus Struktur :

Bobot Jenis Pemerian

: 1,01 : Larutan berminyak, tidak berwarna, bau karakteristik dari asam lemak.

Kelarutan

: Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat bercampur dengan alkohol sedikit larut dalam minyak biji kapas.

Kegunaan Penyimpanan HLB Butuh 3.

: Sebagai emulgator dalam fase minyak. : Dalam wadah tertutup rapat : 4,3

Tween 80 (Dirjen POM, 1979 ; Dirjen POM, 1995) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Polysorbatum 80 : Polisorbat 80, tween : ( C11H23) COO/ 130 : Cairan kental, transparan, tidak berwarna, hampir tidak mempunyai rasa. Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)P dalam etil asetat P dan dalam methanol P, sukar larut dalam parafin cair P dan dalam biji kapas P Kegunaan Penyimpanan : Sebagai emulgator fase air : Dalam wadah tertutup rapat

HLB Butuh 4.

: 15

Parafin cair (Dirjen POM, 1979 ; Dirjen POM, 1995) Nama resmi Nama lain Sinonim Bobot Jenis Pemerian : Parafin cair : Paraffinum : Paraffinum durum; paraffinum solidum : 0.840.89 g/cm3 at 20oC : Hablur tembus cahaya atau agak buram; tidak berwarna atau putih, tidak berbau, tidak berasa, agak berminyak. Mineral yang sangat halus putih.