Anda di halaman 1dari 52

LINGKUNGAN KOTA & PERMASALAHANNYA

Presented by
Danny Sulistyo Utomo, ST MT

POKOK BAHASAN
Urbanisasi : Definisi, Konsep dan Kecenderungannya Pertumbuhan Perkotaan : Tantangan dan Implikasinya Urbanisasi dan Pertumbuhan Perkotaan di Indonesia

Urbanisasi : Definisi, Konsep dan Kecenderungannya


Definisi dan Konsep Urbanisasi Urbanisasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Industrialisasi Proses Urbanisasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Urbanisasi Dampak Urbanisasi

Definisi & Konsep Urbanisasi


Dalam bahasa sehari-hari urbanisasi diasosiasikan dengan migrasi desa-kota. Pengkotaan, proses menjadi kota Peningkatan persentase penduduk perkotaan Kota tumbuh meluas, pinggiran yang semula perdesaan menjadi kota

Definisi urbanisasi (De Bruijne, 1987) :


Pertumbuhan persentase penduduk yang bertempat tinggal di perkotaan, baik secara, nasional, maupun regional Berpindahnya peduduk ke kota-kota dari perdesaan Bertambahnya penduduk bermatapencaharian nonagraris di perdesaan Tumbuhnya suatu permukiman menjadi kota Mekarnya atau meluasnya struktur artefaktial-morfologis suatu kota di kawasan sekitarnya Meluasnya pengaruh suasana ekonomi kota ke perdesaan Meluasnya pengaruh suasana sosial, psikologis, dan kultural kota ke perdesaan

Konsep-konsep terkait Urbanisasi :


Urbanization
Formulation of territorial definitions of urban areas Growth or decline of population in the urban areas which is generally attributable to non-urban to urban migration, natural increase and boundary expansion an increase in the numbers of people engaged in nonagricultural occupations Existence of distinctive built environment and organization of cities encourages ways of life which are described as urban, which often differ from the life live in rural area

Urban System the numbers, size and functional features of urban places in a given country Level of urbanization the proportion of people living in urban places in given country or regional unit Functional relationship : Level of urbanization and level economic development

Urbanisasi = Pertumbuhan Perkotaan ?


Pertumbuhan suatu permukiman (desa) menjadi Kota Perpindahan penduduk dari desa ke kota Kenaikan % penduduk perkotaan Urbanisasi = Pertumbuhan perkotaan jika Lpp perkotaan = Lpp perdesaan Jika Lpp perkotaan > Lpp perdesaan Urbanisasi ( % Penduduk perkotaan

Pertumbuhan Kota = Urbanisasi ?


Hauser & Gardner (1985), membedakan batasan pengertian pertumbuhan kota dengan urbanisasi. Urbanisasi adalah suatu proses perubahan proporsi penduduk yang berdiam di daerah perkotaan. Urbanisasi baru dapat terjadi apabila laju pertumbuhan penduduk perkotaan lebih besar daripada laju pertumbuhan penduduk perdesaan. Dengan kata lain apabila laju pertumbuhan keduanya sama urbanisasi dapat dikatakan tidak terjadi. Meskipun demikian, tidak berarti pertumbuhan masingmasing kota tidak berlangsung, karena pertumbuhan kota sendiri berlangsung karena dua hal :
Pertumbuhan alami, sebagai selisih kelahiran dan kematian Reklasifikasi dan migrasi.

Urbanisasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Industrialisasi


Di negara Maju :
Urbanisasi = f (perk. ekonomi) = f (industrialisasi)

Di negara Sedang Berkembang :


Urbanisasi tidak selalu berbarengan dengan industrialisasi (hanya urbanisasi demografis) Kecepatan urbanisasi >> dari negara-negara maju (Oveurbanization; Psedourbanization) Urbanisasi tidak berlangsung merata di semua ukuran kota, tapi hanya di kota-kota besar Fenomena primate city

Peranan Ekonomi Kota


50 60 % GDP digerakkan oleh kegiatan ekonomi di kawasan perkotaan :
industri perdagangan jasa-jasa

Pertumbuhan kota perubahan/pergeseran struktur ekonomi :


Pertanian/primer Industri (sekunder) Industri Jasa (tersier)

PROSES URBANISASI

Proses Urbanisasi (1)


Aspek Demografik : 1. Pertumbuhan penduduk perkotaan:
pertumbuhan alami migrasi desa-kota migrasi internasional perluasan batas administrasi (boundary expansion)

2. Pergeseran dalam hirarki kota-kota (Urban hierarchy)


Kota besar Kota sedang Kota kecil

3. Komposisi umur dan gender penduduk perkotaan 4. Perubahan Angkatan kerja 5. Keterkaitan desa-kota : penduduk, komoditas, kapital, informasi

Proses Urbanisasi (2)


Aspek Ekonomi Keterkaitan pertumbuhan ekonomi dengan urbanisasi :
pertumbuhan ekonomi (industrialisasi) derajat urbanisasi

TEORI KLASIK/NEO KLASIK URBANISASI


Teori-teori demografis tentang urbanisasi dan migrasi
Teori dominan : model faktor pendorong-penarik (kota sebagai faktor penarik; desa pendorong) Sifat : deskriptif-analistis, terbatas pada kerangka demografis.

Teori-teori mengenai sistem kota (al. Kajian tentang hirarki kota dan tempat sentral) Teori-teori kultural kota
Fokus al. budaya kemiskinan, petani di perkotaan, kesadaran sosial dan perubahan citra riang di kota.

Teori-teori tentang diferensiasi ruang dan sosial serta segregasi di perkotaan Teori-teori neo-dualis
Teori urbanisasi dependen (Milton Santos) Teori ekonomi bazaar / sektor informal (T. McGee)

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju urbanisasi (Hauser & Gardner, 1982 ) :


Perubahan teknologi yang lebih pesat di bidang pertanian Kegiatan produksi ekspor terpusat di perkotaan Pertumbuhan penduduk alami yang tinggi di perdesaan Susunan kelembagaan yang membatasi daya serap perdesaan Layanan pemerintah yang lebih berat pada perkotaan Kelembaman (intertia, faktor negatif) yang menahan penduduk tetap tinggal di perdesaan Kebijaksanaan perpindahan penduduk oleh pemerintah dengan tujuan mengurangi arus penduduk dari perdesaan ke perkotaan

Dampak Urbanisasi
Dampak urbanisasi di negara maju berbeda dibandingkan dengan di negara berkembang. Bedanya adalah di negara berkembang secara fisik kota akan tumbuh menjadi besar dan luas dengan tingkat teknologi dan kualitas kehidupan kota yang kurang memadai, misalnya permukiman miskin (squatter), saranaprarasana yang kurang memadai. Sebaliknya di negara maju perubahan fisik kota berkembang dengan permukiman elite di pinggiran kota yang ditunjang teknologi maju.

Meskipun di beberapa negara sedang berkembang di Asia Tenggara nampak adanya korelasi antara perkembangan ekonomi dan tingkat urbanisasi, tetapi Gunnar Myrdal (1968) menunjukkan bahwa urbanisasi merupakan aspek belaka dari kemiskinan. Kemiskinan sebagai reaksi terhadap kurangnya perkembangan ekonomi. Dari penelitian yang dilakukan, secara umum yang mendorong penduduk perdesaan pindah ke kota adalah kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan gangguan keamanan.

FENOMENA URBANISASI

Tanggapan terhadap urbanisasi


Tanggapan negatif : Munculnya unsur-unsur marginal (PKL, rumah liar, gepeng), kemacetan lalulintas, pengguran, narkotika, dsb. Tanggapan positif : Kota sebagai tempat modal, keahlian, daya kreasi, dan segala fasilitas yang mutlak bagi pembangunan. Negara sedang berkembang membutuhkan pelabuhan, bank, pasar, infrastruktur untuk menunjang aktivitas perdagangan, koleksi, jasa transportasi, industri pengolahan; semuanya itu kotalah yang melayaninya.

Overurbanisasi & Urbanisasi Subsisten


Overurbanisasi Terlampau besar persentase penduduk secara nasional atau regional terkonsentrasi di kota-kota yang menyebabkan perbandingan yang pincang antara pencari kerja dan lapangan kerja Urbanisasi subsisten Urbanisasi dimana penduk biasa hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk bertahan hidup di lingkungan perkotaan. Hal ini menunjukkan rendahnya kemakmuran dan kesejahteraan di kalangan penduduk kota sebagai akibat dari overurbanisasi ekonomis. (urbanisasi patologis, urbanisasi disproporsional).

Urbanisasi Global
4 Jenis Transformasi Global (Perlman, 1993) : Rural to Urban North to South Formal to Informal Cities to Mega Cities

Pertumbuhan Perkotaan : Tantangan dan Implikasinya


Pertumbuhan kota yang sangat pesat Implikasi pertumbuhan kota terhadap kebutuhan prasarana dan sarana perkotaan Mengapa pertumbuhan kota-kota terus berlanjut ? Apakah pertumbuhan kota-kota sesuatu yang baik atau buruk ? Dapatkah pertumbuhan perkotaan dikendalikan ? Apa dan bagaimana pemerintah melakukan intervensi dalam pembangunan perkotaan ?
(Devas & Rakodi, 1992)

Pertumbuhan Kota (Urban Growth) Perubahan ukuran/besaran perkotaan, baik ditinjau dari aspek demografis maupun fisik. Perkembangan Kota (Urban Development) Perubahan yang disebabkan kemajuan kinerja kehidupan, kegiatan usaha dan taraf ekonomi penduduk

PROPORSI PENDUDUK PERKOTAAN

PERTUMBUHAN PENDUDUK PERKOTAAN

MODEL PERTUMBUHAN KOTA MADRAS (1960)


Tahun 1960, jumlah penduduk 2 juta jiwa. Diperkirakan volume barang kebutuhan pokok sebagi fungsi dari pertumbuhan penduduk. Tahun 2000 JP 32 juta, Kota Madras akan :
Kekurangan air minum Mobil harus dihapuskan, sepeda akan lebih tepat Pangan harus diproduksi dalam kota itu sendiri Pembangunan rumah harus dilakukan secara individual Lingkungan hidup akan hancur pada waktu JP 60-80 jt Ruang fisik untuk perluasan kota tidak ada lagi Kerusuhan antar-suku dan kerusukan politik yang genting Keruntuhan dan kekacauan akan tiba sebelum penduduk mencapai titik stabil dan lpp nol tercapai.
Laquian, 1982

Perkembangan perkotaan yang sangat pesat

Implikasi pertumbuhan kota : Kebutuhan prasarana dan sarana Kegagalan untuk memperluas sistem penyediaan air minum, sanitasi, perumahan, dan transportasi Kemiskinan perkotaan

Mengapa kota-kota terus tumbuh ?


Pertumbuhan perkotaan yang pesat terutama disebabkan oleh migrasi (migrasi >> pertumbuhan alami) Teori bright lights (dan cerita city streets paved with gold) Motivasi utama migrasi : ekonomi : meningkatkan pendapatan Pola urbanisasi yang dipengaruhi oleh sistem ekonomi serta bagaimana suatu negara berinteraksi dengan ekonomi global Kota : memiliki kondisi yang menguntungkan bagi kapital sehingga mendorong konsentrasi finansial, kekuatan komersial dan industrial, serta perluasan pasar yang dilakukan dengan diseminasi selera konsumen.

Apakah pertumbuhan kota kota-kota sesuatu yang baik atau buruk ?


Persepsi umum : buruk ! (kawasan kumuh, dst....) Sebaliknya pertumbuhan kota juga dipandang sebagai simbol kesejahteraan dan peradaban : kota sebagai engines of economic growth

Pandangan positif terhadap pertumbuhan kota


Secara historis kota telah tumbuh sebagai pusat perdagangan. Adanya konsentrasi berbagai aktivitas memungkinkan terjadinya spesialisasi dan pertukaran : proses yang paling esensial dalam pertumbuhan ekonomi Perdagangan dan industri berlokasi di kota karena adanya exrenal economies of scale : terpusatnya tenaga kerja berkualitas, akses terhadap kapital, ketersediaan informasi, pelayanan umum, pasar bagi produk yang dihasilkan, serta sumber input. Di banyak negara yang sudah berkembang, pertumbuhan industri merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi. (elastisitas permintaan terhadap produk industri karena peningkatan pendapatan lebih besar dari pada terhadap produk pertanian, Teori Lewis)

Pandangan negatif terhadap pertumbuhan kota (1)


Pertumbuhan kota sangat tidak diinginkan, kota dipandang sebagai parasit yang mengembil surplus dari sektor pertanian Teori Lipton : kota dikelola untuk mengekstraksi sebagian besar sumberdaya dari kawasan perdesaan, dan menghabiskannya pada tingkat konsumsi perkotaan yang lebih tinggi (meskipun terjadi juga aliran sebaliknya kota menghasilkan produk sebagai input untuk pertanian, para migran mengirimkan remiten ke desanya Para anti-urbanist memandang adanya sifat yang sangat distorsif dari proses urbanisasi di negara-negara sedang berkembang : ketergantungan yang tinggi terhadap modal asing, industri yg bersifat capital-intensive dan diproteksi.

Pandangan negatif terhadap pertumbuhan kota (2)


Akibatnya adalah :

masalah pengangguran dan setengah pengangguran besarnya sektor informal, kebutuhan makanan yang murah, biaya yang makin besar untuk penyediaan perumahan dan prasarana perkotaan, kesenjangan dalam pola pendapatan, pemborosan sumberdaya publik pada penyediaan fasilitas berstandar tinggi bagi elite perkotaan, masalah kemacetan yang serius, pencemaran dan degradasi lingkungan, hilangnya nilai-nilai kultural, spritual dan tradisional dalam urban melting-pot

Proses urbanisasi menjadi masalah di negaranegara sedang berkembang karena gagalnya menanggulangi dampaknya :
kegagalan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan lahan, permukiman dan prasarana

Jadi, bukan pertumbuhan perkotaan itu sendiri yang menjadi masalah, tapi : Laju pertumbuhan yang pesat di luar kapasitas institusional, administratif dan finansial untuk menanggulanginya.

Impilikasi Pertumbuhan Kota Masalah Perkotaan (overview)


Excesive size Overcrowding Shortage of urban services Slums and squatter settlements Traffic congestion Lack of social responsibility Unemployment & underemployment Racial & social issues Westernization vs modernization Environmental degradation Urban expansion and loss of agricultural land Administrative organization

Masalah Perkotaan (Kongres Metropolis Sedunia, 1990)


Pertumbuhan penduduk perkotaan yang tidak terkendali Perumahan rakyat dan sarana fisik dan sosial yang semakin tidak memadai Lingkungan hidup dan kesehatan yang semakin merosot Ekonomi kota dan kesempatan kerja yang makin tidak seimbang Lalulintas dan transportasi Organisasi dan manajemen perkotaan yang makin tidak mampu

Dapatkah pertumbuhan perkotaan dikendalikan ?


Banyak pemerintah berpandangan mereka membutuhkan untuk mengendalikan proses pertumbuhan perkotaan. Mereka mengadopsi kebijakan-kebijakan spesifik, dan sebagian besar berhasil. Kebijakan yang dapat diarahkan untuk mempengaruhi pola distribusi penduduk (UN, 1988) :
pengendalian lokasi industri insentif pinjaman dan perpajakan bagi investasi di kawasan perdesaan subsidi kesempatan kerja pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru

Apa dan bagaimana pemerintah melakukan intervensi dalam pembangunan perkotaan ?


Intervensi pemerintah :
langsung (sistem perencanaan dan manajemen kota) tidak langsung (intervensi terhadap sistem ekonomi yang lebih luas yang mempengaruhi pembangunan kota)

Pertimbangan esensial perlunya intevensi pemerintah : kegagalan mekanisme pasar untuk memberikan suatu hasil yang memuaskan masyarakat secara keseluruhan Alasannya :
pasar tidak bersifat kompetitif, sehingga kekuatan pasar berada pada segelintir orang adanya eksternalitas (negatif dan positif) kesenjangan dalam distribusi pendapatan/kesejahteraan

Urbanisasi & Pertumbuhan Perkotaan di Indonesia


Pertumbuhan Penduduk Perkotaan Kecenderungan Pertumbuhan Kota/Perkotaan
Eksternal Internal

Dampak Pertumbuhan Perkotaan

PERTUMBUHAN PENDUDUK PERKOTAAN DI INDONESIA Tahun 1971 1980 1990 1993 1998 2000 2018
Jumlah Penduduk Perkotaan (Juta Jiwa)

Persentase Penduduk Perkotaan 17 22 31 35 41 42 59

20,5 32,8 55,4 65,9 84,4 85 152,2

Pertumbuhan Penduduk di Indonesia (1980 1990)


Perkotaan Perdesaan Indonesia : 5,5 % / tahun : 0,8 % / tahun : 2,0 % / tahun

Berarti :
Setiap tahun penduduk perkotaan bertambah dengan 3,5 juta orang (sebesar Surabaya) Setiap tahun kawasan terbangun/perkotaan bertambah 30.000 Ha (hampir 2 kali Kota Bandung)

Distribusi Spasial Penduduk Perkotaan di Indonesia % Penduduk Perkotaan Ukuran Kota


Kota Raya, > 1 Juta Kota Besar, 500.000 1 Juta Kota Sedang, 100.000 500.000 Kota Kecil, < 100.000

1980

1990

34
11 23 32

42
8 23 27

Kecenderungan Pertumbuhan Kota di Indonesia (1)


Eksternal (perkembangan wilayah) Pergeseran kegiatan manufaktur dan industri dari wilayah kota Berkembangnya permukiman skala besar sebagai kota baru di dalam kota dan di wilayah sekitar kota Perkembangan kota-kota kecil dan menengah di wilayah metropolitan Peningkatan kebutuhan akan prasarana dan sarama perhubungan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk dan produk Beberapa kota besar berkembang menjadi pusat kegiatan yang bersifat global

Kecenderungan Pertumbuhan Kota di Indonesia (2)


Internal : Berkembangnya fungsi kota dalam sector kegiatan jasa local, regional dan internasional Pergeseran pusat-pusat permukiman di dalam kota Efesiensi pemanfaatan lahan kota yang nilai dan harganya semakin meningkat menyebabkan berkembangnya pemanfaatan lahan yang sangat intensif Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi menuntut dikembangkannya prasarana perhubungan dan utilitas umum dengan teknologi pembangunan kota yang maju Sektor informal dan permukiman penduduk berpendapat rendah masih terdapat di dalam kota besar.

Dampak Pertumbuhan Perkotaan


Peningkatan kebutuhan lahan Peningkatan kebutuhan sarana prasarana kota Perubahan pola pemanfaatan lahan Terlampauinya ambang daya dukung lahan Perkembangan teknologi pembangunan kota Pemanfaatan berbagai sumberdaya alam secara berlebihan

Dampak Perkembangan Fisik Kota


Kewenangan hukum daerah untuk mengatasi tata ruang yang sangat luas Sumber pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan sarana kota Pembangunan sarana kota untuk menjawab kebutuhan perumahan, pengangkutan dan sarana sosial Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kota untuk mengatasi masalah yang berlangsung dalam masyarakat. Rahardjo, 1985

Pertumbuhan kota vs Perencanaan Kota Perencanaan kota merupakan intervensi terhadap kecenderungan pertumbuhan kota Perencanaan kota : lebih bersifat antisipatif dari pada reaktif terhadap masalah perkotaan

TERIMAKASIH