Anda di halaman 1dari 56

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

JURNAL PENELITIAN KESEHATAN SUARA FORIKES


Diterbitkan oleh: FORUM ILMIAH KESEHATAN (FORIKES) Penanggungjawab: Heru Santoso Wahito Nugroho, S.Kep, Ns, M.M.Kes (Ketua Forikes) Pemimpin Redaksi: Subagyo, S.Pd, M.M.Kes Anggota Dewan Redaksi: Budi Joko Santosa, S.K.M, M.Kes H. Trimawan Heru Wijono, S.K.M, S.Ag, M.Kes H. Sukardi, S.S.T, M.Pd Agus Suryono, S.Kep, Ns, M.M.Kes (MARS) Hj. Rudiati, A.P.P, S.Pd, M.M.Kes Drs. Dwi Setiyadi, M.M Koekoeh Hardjito, S.Kep, Ns, M.Kes Heru Santoso Wahito Nugroho, S.Kep, Ns, M.M.Kes (Ketua Forikes) Redaksi Pelaksana: Sunarto, S.Kep, Ns, M.M.Kes Handoyo, S.S.T Suparji, S.S.T, M.Pd Tutiek Herlina, S.K.M, M.M.Kes Sekretariat: Hery Koesmantoro, S.T, M.T Ayesha Hendriana Ngestiningrum, S.S.T Sri Martini, A.Md Alamat: Jl. Cemara RT 01 RW 02 Ds./Kec. Sukorejo Ponorogo 63453 Telepon 081335251726 Jl. Raya Danyang-Sukorejo RT 05 RW 01 Serangan, Sukorejo Ponorogo 63453 Telepon 081335718040 E-mail dan Website: Suara Forikes: suaraforikes@gmail.com dan www.suaraforikes.webs.com Penerbitan perdana bulan Januari 2010, selanjutnya diterbitkan setiap tiga bulan Harga per-eksemplar Rp. 25.000,00

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III

Nomor 1

Halaman 1 - 52

Januari 2012

ISSN 2086-3098

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL


Redaksi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes menerima artikel ilmiah dalam bidang kesehatan berupa hasil penelitian atau tinjauan hasil penelitian. Artikel yang diterima adalah artikel orisinil yang belum pernah dimuat dalam media publikasi ilmiah manapun. Diharapkan artikel dilampiri dengan: 1) surat ijin atau halaman pengesahan, 2) kesepakatan urutan peneliti yang ditandatangani oleh seluruh peneliti (jika ada 2 peneliti atau lebih). Artikel yang masuk akan dinilai oleh Dewan Redaksi yang berwenang penuh untuk menerima atau menolak artikel yang telah dinilai, dan artikel yang diterima maupun ditolak tidak akan dikembalikan kepada pengirim. Dewan Redaksi berwenang pula untuk mengubah artikel yang diterima sebatas tidak akan mengubah makna dari artikel tersebut. Artikel berupa tugas akhir mahasiswa (karya tulis ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi) harus menampilkan mahasiswa sebagai peneliti. Artikel yang dikirim ke Dewan Redaksi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Diketik dengan bentuk dan ukuran huruf Arial Narrow 14 pada kertas HVS A4 dengan margin atas dan bawah: 2,5 cm, kiri dan kanan: 2 cm. 2. Seluruh artikel maksimal berjumlah 10 halaman, berbentuk softcopy (CD, DVD atau e-mail). Isi dari artikel harus memenuhi sistematika sebagai berikut: 1. Judul ditulis dengan ringkas dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris tidak lebih dari 14 kata, menggunakan huruf kapital dan dicetak tebal pada bagian tengah. 2. Nama lengkap penulis tanpa gelar ditulis di bawah judul, dicetak tebal pada bagian tengah. 3. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dicetak miring. Judul abstrak menggunakan huruf kapital di tengah dan isi abstrak dicetak rata kiri dan kanan dengan awal paragraf masuk 1 cm. Di bawah isi abstrak harus ditambahkan kata kunci, dan di bawahnya lagi dicantumkan institusi asal penulis. 4. Pendahuluan ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan dan paragraf masuk 1 cm. 5. Bahan dan Metode ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Isi bagian ini disesuaikan dengan bahan dan metode penelitian yang diterapkan. 6. Hasil Penelitian dan Pembahasan ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Kalau perlu, bagian ini dapat dilengkapi dengan tabel maupun gambar (foto, diagram, gambar ilustrasi dan bentuk sajian lainnya). Judul tabel berada di atas tabel dengan posisi di tengah, sedangkan judul gambar berada di bawah gambar dengan posisi di tengah. 7. Simpulan dan Saran ditulis dalam Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf masuk 1 cm. Simpulan dan saran disajikan secara naratif. 8. Daftar Pustaka ditulis dalam Bahasa Indonesia, bentuk paragraf menggantung (baris kedua dan seterusnya masuk 1 cm) rata kanan dan kiri. Daftar Pustaka mengacu pada Sistem Harvard, yaitu: penulis, tahun, judul buku, kota dan penerbit (untuk buku) dan penulis, tahun, judul artikel, nama jurnal (untuk jurnal).

Redaksi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

EDITORIAL
Salam dari Redaksi Puji syukur Alhamdulillah sudah menjadi keharusan untuk kita panjatkan kehadirat Yang Maha Kuasa bahwa Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes telah menapaki tahun ketiga ditandai dengan penerbitan Volume III Nomor 1 ini. Terimakasih kami sampaikan kepada para peneliti yang selama ini telah berperan aktif mempublikasikan hasil-hasil penelitian melalui jurnal ini. Nomor pertama di tahun 2012 ini menyajikan sepuluh hasil penelitian dalam bidang kesehatan masyarakat, pendidikan kesehatan, kebidanan, dan keperawatan. Kami berharap para peneliti dan para pembaca turut menyebarluaskan keberadaan media publikasi ini demi perkembangan kegiatan ilmiah dalam bidang kesehatan. Seperti biasanya kami mengajak Para Pembaca untuk mengunjungi isi jurnal ini melalui website www.suaraforikes.webs.com atau melihat versi ringkasnya pada website resmi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), www.isjd.pdii.lipi.go.id. Selamat membaca dan sampai jumpa kembali pada volume dan nomor berikutnya. Redaksi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

DAFTAR ISI
HUBUNGAN KADAR HB PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI BPS NY S KOTA MALANG Erni Dwi Widyana, Naimah PENGARUH BIMBINGAN KLINIK DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN MENOLONG PERSALINAN NORMAL N. Surtinah HUBUNGAN ANTARA TEKNIK MENYUSUI DENGAN KEBERHASILAN LAKTASI PADA IBU NIFAS PRIMIPARA DI WILAYAH PUSKESMAS KAIBON KABUPATEN MADIUN Rumpiati PENGARUH STATUS GIZI TERHADAP TERJADINYA MENARCHE PADA SISWI KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 5 PUCANG SURABAYA Badriyah, Sulastri ANALISIS FAKTOR-FAKTOR DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI OLEH BIDAN PRAKTEK SWASTA DI KABUPATEN MAGETAN Tinuk Esti Handayani, Martha Irena Kartasurya, Putri Asmita Wigati PENGARUH PERSALINAN SEKSIO SESAREA TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RSUD dr. SAYIDIMAN MAGETAN Agung Suharto, N. Surtinah, Mei Linda P GAMBARAN PHBS TATANAN RUMAH TANGGA DI DESA SUKOREJO KECAMATAN KEBONSARI KABUPATEN MADIUN Heru Santoso Wahito Nugroho, Isnatun, Sunarto RISIKO RIWAYAT SEKSIO SESAREA TERHADAP KEJADIAN RETENSIO PLASENTA DI RSUD KOTA MADIUN Sunarto, Dwi Fitriani 1-4

5-9

10-15

16-22

23-30

31-37

38-46

47-52

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN KADAR HB PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI BPS NY S KOTA MALANG Erni Dwi Widyana*, Naimah* ABSTRACT Hemoglobin is a widely used parameter to determine the levels of anemia.The function of hemoglobin in the blood to transport nutrients and oxygen to the fetus so the baby's nutritional needs are met. Reduced hemoglobin levels affect the metabolic processes that affect fetus growth. This study aims to determine the relationship between Hemoglobin Levels in Aterm Pregnancy and Infants Birth Weight in Private Maternity Ward Mrs S Malang City. Associative analytic research design, cross-sectional approach, with population of 36 pregnant women, and the purposive sampling technique. Measuring used is secondary data obtained from a register of mothers and babies, then the data are analyzed by Chi Square (X2). The study showed 29 pregnant women (80.6%) in the category did not anemia have babies with low birth weight by 1 (2.7%) while 7 respondents (19.4%) in the category anemic have babies with low birth weight as much as 6 (16.6%). Analysis X2 with significance level = 0.05, obtained results of -CALCULATIONS = 24.39 -TABLE = 3.841, so that H0 rejected, which means there is a relation between Hb levels in aterm pregnancy with birth weight. Pregnant woman sugestion to maintain Hb levels within normal limits, because anemia are at risk to low birth weight. Key Word: Hb level, Aterm pregnancy, birth weight *= Prodi Kebidanan Malang, Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Undang-Undang Pokok Kesehatan Bab I Pasal 1 menyatakan bahwa "tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam usaha kesehatan". Terkait hal tersebut ibu, keluarga, dan masyarakat harus diikutsertakan dalam usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Pada Pasal 9 No. 2 telah dinyatakan bahwa tujuan pokok undang-undang dimaksud adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak sampai usia 6 tahun, menjaga dan mencegah jangan sampai ketiga subyek ini tergolong dalam "Vulneable Group dan golongan bahaya (Dainur, 2002). Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin. Bila status gizi ibu baik, kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan lahir normal, sehingga kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil (Soetjiningsih, 2001). Status gizi ibu hamil diketahui dengan pengukuran kadar hemoglobin darah, bila hasilnya kurang dari 11 gr% maka ibu hamil tersebut menderita anemia. Secara fisiologis, penurunan kadar Hb selama kehamilan terjadi karena ketidakseimbangan jumlah sel darah merah dan plasma darah. Ketidakseimbangan ini akan terlihat dalam bentuk penurunan kadar Hb. Faktor lain mempengaruhi adalah peningkatan jumlah eritrosit menyebabkan peningkatan kebutuhan zat besi selama kehamilan sekaligus untuk pertumbuhan janin (Varney, 2006).
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 1

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Prevalensi anemia ibu hamil di Indonesia cukup tinggi (67%) dari semua ibu hamil, variasi tergantung pada daerah masing-masing, 10-15% tergolong anemia berat. Prevalensi tertinggi di Kalimantan Barat 87,6% dan terendah di Yogyakarta 57,5% (Manuaba, 1998). Anemia berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan janin antara lain abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas, partus lama, resiko perdarahan setelah melahirkan, berat badan lahir bayi rendah, dan mudah terjadi infeksi (Surasmi, 2003). Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara kadar Hb pada kehamilan aterm dengan berat badan lahir bayi. METODE PENELITIAN Penelitian cross sectional ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2011. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil trimester III yang menjalani pemeriksaan kadar Hb di BPS Ny S Kota Malang berjumlah 60. Sampel 36 orang diambil secara purposive sampling, berdasarkan data sekunder ibu hamil kehamilan trimester III yang menjalani pemeriksaan kadar Hb. Variabel independent adalah kadar Hb sedangkan variabel dependent adalah berat badan lahir bayi. Data diperoleh melalui studi dokumentasi pada buku register kohort ibu dan bayi dengan alat bantu check list. Dari data bulan Januari- Agustus 2011 didapatkan 60 ibu hamil dan 36 ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi. Untuk menguji hubungan antara kadar Hb dengan berat badan lahir bayi digunakan Uji Chi Kuadrat (X2) dengan =0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kadar Hb pada Kehamilan Aterm di BPS Ny S Kota Malang
Kadar Hb Tidak Anemi Anemi Total Frekuensi 29 7 36 Persentase (%) 80,6 19,4 100,0

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berat Badan Lahir Bayi di BPS Ny S di Kota Malang
Berat Badan Lahir Normal BBLR Total Frekuensi 29 7 36 Persentase (%) 80.6 19.4 100.0

Tabel 3: Distribusi Frekuensi Berat Badan Lahir Menurut Kadar Hb pada Kehamilan Aterm di BPS Ny S Kota Malang
Kadar Hemoglobin Tidak Anemia Anemia Total Berat Badan Lahir Normal BBLR n % n % 28 96.6 1 3.4 1 14.3 6 85.7 29 80.6 7 19.4 Total n % 29 100 7 100 36 100 2

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Dari Tabel 1 diketahui bahwa 19.4% ibu hamil mengalami anemia, dan 80,6% tidak anemia. Tabel 2 menyajikan bahwa 19,4% bayi lahir dengan BBLR, dan 80,6% tidak BBLR. Dari Tabel 3 diketahui bahwa 85.7% bayi dengan berat badan lahir rendah dilahirkan oleh ibu dengan anemia, hanya 14.3% yang dilahirkan oleh ibu yang tidak anemia. Pembahasan Tabel 1 menunjukkan bahwa 80.6% ibu hamil tidak mengalami anemia, selebihnya (19.4%) dengan anemi. Anemia kehamilan disebabkan oleh hemodilusi karena peningkatan volume plasma darah sehingga konsentrasi hemoglobin rendah. Prawirohardjo (2008) menyatakan bahwa volume darah semakin meningkat, jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada hamil 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 2530% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Berdasarkan Tabel 2, 80.6% ibu hamil aterm melahirkan bayi dengan berat badan lahir normal, sisanya (19.4%) melahirkan bayi BBLR. Status gizi ibu pada saat konsepsi dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam rahim. Pemantauan status gizi pada ibu hamil selain dengan pengukuran kadar Hb adalah dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA) dan pemantauan kenaikan berat badan ibu hamil. Dari Tabel 3 didapatkan 85.7% bayi dengan berat badan lahir rendah dilahirkan dari ibu yang memiliki kadar Hb anemi dan hanya 14.3% yang dilahirkan dari ibu dengan kadar Hb pada kehamilan aterm dalam kategori tidak anemia. Hasil uji analisis statistic dengan X2 dengan =0.05, didapatkan X2 hitung = 24.39 X2 tabel= 3.841, yang berarti ada hubungan kadar Hb pada kehamilan aterm dengan berat badan lahir bayi. Pertumbuhan janin intra uterin merupakan hasil interaksi antara potensi genetic dan lingkungan intra uterin. Factor lain yang bisa mempengaruhi berat badan lahir adalah sakit berat, komplikasi kehamilan, kurang gizi, keadaan stres pada ibu hamil, dapat mempengaruhi pertumbuhan janin melalui efek buruk pada ibu, atau juga plasenta dan transpor nutrisi ke janin. Soetjiningsih (2001) menyatakan bahwa ibu hamil yang kondisi kesehatannya baik, tidak menderita sakit dan tidak ada gangguan gizi pada pra-hamil maupun saat hamil akan menghasilkan bayi dengan berat lahir yang lebih besar dibandingkan dengan ibu yang terjadi gangguan gizi. Pendapat Manuaba (1998) bahwa ibu dengan gangguan gizi selama kehamilan akan meningkatkan resiko terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR). Anemia defisiensi besi merupakan salah satu permasalahan gizi pada ibu hamil. Kemungkinan penyebab dari kondisi ini adalah terkait dengan kurangnya asupan nutrisi. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatif seperti sitokrom dan flavoprotein. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk kedalam sel-sel otot. Sitokrom, flavoprotein, dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya, memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin Tri Phosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. Kadar Hb ibu hamil aterm dikatakan anemia jika kurang dari 11 gr%. Salah satu upaya untuk mengetahui status gizi ibu hamil adalah mengukur kadar Hb. Hb berperan penting dalam metabolism tingkat sel. Kadar hemoglobin pada eritrosit memiliki fungsi utama
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 3

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

mengikat oksigen yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme makanan yang sebagian besar ditransfer dari ibu ke janin. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 2 bayi BBLR dilahirkan dari ibu hamil dengan paritas 5 dan 6. Menurut Manuaba (1998), paritas yang tinggi juga merupakan resiko untuk terjadi BBLR yang dimungkinkan karena jarak kehamilan yang terlalu dekat sehingga kondisi ibu belum siap untuk hamil kembali atau didalam masyarakat ada kecenderungan enggan memeriksakan kehamilannya karena malu sehingga tidak mendapatkan pemantauan kehamilan dari petugas kesehatan. Ibu hamil dengan paritas 6, walaupun kadar Hb tidak terkategorikan anemia namun berusia 41 tahun juga melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Hal ini bisa terjadi karena pada pada usia 40 tahun terdapat kecenderungan untuk terjadinya kenaikan tekanan darah ibu yang akan berakibat menurunnya sirkulasi uteroplasenter yang pada akhirnya berdampak pada berat badan lahir bayi rendah. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: 1) didapatkan 80.6% ibu hamil dengan anemia, 2) 80.6% bayi berada dalam kategori berat bayi lahir rendah, 3) ada hubungan antara kadar Hb pada kehamilan aterm dengan berat badan lahir bayi. Ibu dengan anemia selama kehamilan aterm beresiko untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Saran yang diajukan adalah diharapkan: 1) masyarakat khususnya ibu hamil mempertahankan kadar Hb dalam batas normal untuk mencegah resiko untuk terjadinya berat badan lahir rendah, 2) petugas kesehatan meningkatkan promosi kesehatan tentang bahaya Hb yang rendah pada masa reproduksi (terutama masa kehamilan) dan cara mencegah agar tidak terjadi anemia melalui kegiatan dalam gedung maupun dalam tingkat komunitas. DAFTAR PUSTAKA Abidin, ABZ. (2011). Hemoglobin. Tersedia dari repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/21400/ .../Chapter%20II.pdf. Diakses Tanggal 23 September 2011. Almatsier,Sunita. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Cunningham, GF. dkk (2006), Obstretri Williams Edisi 21, Jakarta: EGC Dahlan, MS (2004). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. Fraser DM,Cooper MA.(2009). Myles.Buku Ajar Bidan. Jakarta: EGC Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC Moore, H.(2001). Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:EGC Notoadmodjo (2002), Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta:Rineka Cipta Prawirohadjo, Sarwono (2005), Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC Stright BR.(2004). Keperawatan Ibu dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC Supariasa IDN, Fajar I dan Bachri B. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC Surasmi A, Handayani S, Kusuma HN.(2003). Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Varney H, Kriebs JM,Gegor C. (2006), Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 4

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

PENGARUH BIMBINGAN KLINIK DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN MENOLONG PERSALINAN NORMAL N. Surtinah* ABSTRAK Hasil penelitian membuktikan bahwa bimbingan berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan mahasiswa dalam praktik (Sunarto dkk., 2002). Bimbingan klinik adalah segala bantuan dan tindakan edukatif yang dilaksanakan oleh pembimbing klinik untuk memberikan pengalaman nyata dalam menolong persalinan normal. Penelitian eksperimental dengan rancangan faktorial 2x2, menggunakan 1 kelompok perlakuan (bimbingan) dan 1 kelompok kontrol (latihan mandiri). Populasi penelitian adalah 60 Mahasiswa Tingkat II Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Surabaya, dengan sampel 52 mahasiswa yang diambil dengan teknik simple random sampling. Data metode bimbingan diperoleh melalui eksperimen pada kedua kelompok, dengan instrumen baku checklist asuhan persalinan dasar dari WHO 2002. Data motivasi berprestasi diperoleh melalui pengisian kuesioner motivasi berprestasi dari Sauman Mohammad (2002). Data kemampuan menolong persalinan normal dikumpulkan melalui observasi dengan checklist asuhan persalinan dasar dari Depkes (2000). Analisis data secara multivariat diterapkan untuk menguji hipotesis. Uji yang digunakan adalah Anova multivariat. Ada perbedaan rerata kemampuan menolong persalinan normal antara mahasiswa yang dibimbing dan mandiri. Namun melihat hasil uji Anova pada kelompok dibimbing p=0,012 dan pada kelompok mandiri p=0,027 sama-sama <0,05. Ada perbedaan kemampuan menolong persalinan normal antara mahasiswa bermotivasi tinggi dan rendah. Pengaruh motivasi sangat dominan pada mahasiswa yang dibimbing. Ada interaksi antara motivasi belajar terhadap kemampuan mahasiswa dalam menolong persalinan normal. Kedua variabel saling mempengaruhi (berinteraksi) dalam pencapaian kemampuan menolong persalinan normal. Simpulan penelitian adalah ada perbedaan kemampuan mahasiswa dalam menolong persalinan normal antara yang mendapat bimbingan dan tidak, antara mahasiswa yang bermotivasi tinggi dan bermotivasi rendah, serta ada interaksi antara bimbingan dan motivasi terhadap kemampuan menolong persalinan normal. Disarankan agar motivasi belajar digunakan sebagai faktor input pengajar dalam menerapkan metode untuk memperbaiki respons emosional belajar mahasiswa, menetapkan dosis bimbingan pembelajaran laboratorium sesuai beban SKS, mengembangkan model pengajaran training yang berdosis, dan melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh dosis bimbingan terhadap kemampuan dalam menolong persalinan normal. Kata kunci: bimbingan, latihan mandiri, motivasi berprestasi, persalinan normal *= Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Untuk menyiapkan tenaga kesehatan profesional dibutuhkan suatu usaha yang benarbenar baik dan terarah terutama proses pembelajaran. Mahasiswa yang nantinya akan terjun
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 5

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

di masyarakat sangat perlu memperoleh bekal ilmu dan keterampilan yang memadai. Salah satu upaya untuk membekali mereka adalah memberikan pembelajaran dengan metode bedside teaching atau pengajaran di samping pasien. Metode ini memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa secara nyata, mahasiswa akan melihat secara nyata dan kontak langsung secara fisik dan psikologis. Berdasarkan hasil pertemuan pembahasan kurikulum nasional di Jakarta ditetapkan target menolong persalinan normal untuk mahasiswa D3 kebidanan adalah 50 kali, sedangkan pada kenyataannya target tersebut mendapatkan kesulitan kareja jumlah persalinan semakin sedikit karena keberhasilan program KB, sehingga waktu efektif pembelajaran sangat kurang bahkan diwisuda dengan target persalinan belum mencapai 50. Hasil penelitian membuktikan bahwa bimbingan berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan mahasiswa dalam praktik (Sunarto dkk., 2002). Bimbingan klinik adalah segala bantuan dan tindakan edukatif yang dilaksanakan oleh pembimbing klinik untuk memberikan pengalaman nyata dalam menolong persalinan normal. Hipotesis 1. Ada perbedaan kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal antara yang mendapat bimbingan klinik dan tidak mendapat bimbingan klinik. 2. Ada perbedaan kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal antara mahasiswa yang bermotivasi tinggi dan bermotivasi rendah. 3. Ada interaksi antara bimbingan dan motivasi belajar terhadap kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan faktorial 2x2, dengan 1 kelompok perlakuan yang diberi bimbingan langsung dan 1 kelompok kontrol yang latihan mandiri. Populasi penelitian adalah 60 Mahasiswa Tingkat II Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Surabaya. Besar sampel sampel adalah 52 mahasiswa yang diambil dengan teknik simple random sampling. Data variabel bebas metode bimbingan berupa bimbingan langsung yang diperoleh melalui eksperimen pada kedua kelompok, dengan instrumen baku berupa teknik pertolongan persalinan normal (checklist asuhan persalinan dasar dari WHO 2002). Data variabel bebas motivasi berprestasi diperoleh melalui pengisian kuesioner motivasi berprestasi dari Sauman Mohammad (2002). Sedangkan data hasil belajar menolong persalinan normal dikumpulkan dengan cara observasi menggunakan checklist asuhan persalinan dasar dari Depkes (2000). Analisis data secara multivariat diterapkan untuk menguji hipotesis. Uji yang digunakan adalah Anova multivariat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian Deskripsi hasil penelitian ditampilkan pada Tabel 1. Hasil uji One Sample KolmogorovSmirnov adalah p=0,854 untuk kelompok perlakuan dan p=0,817 untuk kelompok kontrol.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 6

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Keduanya lebih besar dari 0,05, maka disimpulkan bahwa data kedua kelompok berdistribusi normal. Levenes test menghasilkan nilai p=0,258 untuk kelompok perlakuan dan p=0,481 untuk kelompok kontrol. Keduanya lebih besar dari 0,05, maka disimpulkan bahwa data kedua kelompok memiliki varians homogen. Selanjutnya normalitas distribusi dan homogenitas varians telah memenuhi persyaratan untuk uji Anova multivariat. Tabel 1. Data Hasil Penelitian
Variabel Perlakuan (Bimbingan) Kontrol (Mandiri) Motivasi Rendah Motivasi Tinggi Perlakuan (Bimbingan, Motivasi Tinggi) Perlakuan (Bimbingan, Motivasi Rendah) Kontrol (Mandiri, Motivasi Tinggi) Kontrol (Mandiri, Motivasi Rendah) Mean 78,27 68,92 100,9 130,6 82,31 74,23 72,23 65,62 Simpangan Baku 8,48 7,77 5,23 3,93 6,32 8,64 7,95 6,23 Varians 71,96 60,31 27,42 15,47 39,94 74,64 63,20 38,81

Ringkasan hasil uji Anova disajikan pada Tabel 2. Dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara motivasi belajar terhadap kemampuan menolong persalinan. Karena Ho ditolak, untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar masing-masing kelompok dilakukan Uji T antar kelompok. Hasil Uji T pada kelompok perlakuan adalah p=0,012 dan pada kelompok kontrol p=0,027. Dari hasil perbandingan kedua kelompok maka pengaruh motivasi sangat dominan pada kelompok perlakuan. Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Anova Rancangan Rambang Lugas Interaksi Variabel Motivasi Belajar Terhadap Kedua Kelompok
Sumber Varians Jumlah Kuadrat Antar Kolom Bimbingan 424,038 Mandiri 284,462 Antar Baris Bimbingan 159277,885 Mandiri 123510,154 Interaksi Bimb. x Mot. 424,038 Man. X Mot. 284,462 Kesalahan Bimbingan 1375,077 Mandiri 1223,385 Total Koreksi Bimbingan 1799,115 Mandiri 1507,846 df 1 1 1 1 1 1 24 24 25 25 Rerata Jumlah Kuadrat 424,038 284,462 159277,885 123510,154 424,038 284,462 57,295 50,974 FRATIO 7,401 5,580 2779,968 2422,986 7,401 5,580 0,012 0,027 p

Pembahasan Berdasarkan nilai rerata diketahui bahwa ada perbedaan kemampuan menolong persalinan normal antara mahasiswa yang dibimbing dan latihan mandiri. Namun melihat hasil
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 7

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

uji Anova pada kelompok dibimbing p=0,012 dan pada kelompok mandiri p=0,027 sama-sama <0,05. Tidak adanya perbedaan kemaknaan ini dipandang bahwa mahasiswa sudah mampu beradaptasi dengan kondisi stimulasi yang sama sesuai penetapan dosis perlakuan. Teori adaptasi ini memang menjadi tujuan dari conditioning theory, yakni hasil akhir adalah terbentuknya memori terhadap stimulasi berulang-ulang. Maka, titik temu dari masalah ini adalah pada dosis bimbingan. Berdasarkan nilai rerata diketahui bahwa ada perbedaan kemampuan menolong persalinan normal antara mahasiswa bermotivasi tinggi dan rendah. Pengaruh motivasi sangat dominan pada mahasiswa yang dibimbing. Hasil ini mendukung teori bahwa motivasi adalah suatu kekuatan atau tenaga atau daya yang timbul dan tumbuh kembang dengan jalan datang dari dalam maupun dari lingkungan. Pengaruh lingkungan inilah yang diyakini dalam penelitian ini berupa stimulasi yang berulang sehingga memberikan keyakinan tumbuhnya motivasi. Menurut Notoatmodjo (1985), perilaku manusia pada hakekatnya merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi bahwa ia makhluk hidup. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan sebagaimana urutan pola mekanisme terbentuknya perilaku. Pertama diawali dari adanya kebutuhan, kemudian menimbulkan motivasi (dorongan) untuk melakukan aktivitas sehingga tujuan yang ingin dicapai berhasil. Menurut Green dalam Sarwono Lolita (1998), perilaku seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu perilaku perilaku dan non perilaku. Faktor perilaku dipengaruhi oleh: 1) faktor predisposisi, seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai-nilai dalam diri seseorang, 2) faktor pendukung, berupa ketersediaan fisik, dan 3) faktor penguat, yaitu sikap dan perilaku orang lain (dalam hal ini pembimbing). Perilaku mahasiswa dalam wujud aktivitas kemampuan dalam menolong persalinan normal diyakini sangat ditentukan oleh pengetahuan, kepercayaan, tradisi, dan faktor pembimbing sendiri. Maka, untuk mempertajam penelitian semua faktor ini harus masuk dalam variabel kendali. Ada interaksi antara motivasi belajar terhadap kemampuan mahasiswa dalam menolong persalinan normal. Kedua variabel saling mempengaruhi (berinteraksi) dalam pencapaian kemampuan menolong persalinan normal. Ada dua fenomena perbedaan hasil yang dicapai oleh kedua kelompok mahasiswa yang telah belajar teknik pertolongan persalinan normal. Kelompok yang telah mendapatkan manfaat bimbingan setelah belajar di klinik dapat menumbuhkan respon emosional yang efektif dan positif dalam belajar. Sebaliknya bagi kelompok yang tidak memperoleh manfaat bimbingan klinik berupa teknik pertolongan persalinan normal yang benar dan langsung, akan menjadikannya sebagai stressor, sehingga apa yang dilakukan meskipun didasari motivasi yang tinggi dapat dikatakan gagal beradaptasi dan dapat menumbuhkan respon yang maladaptif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Ada perbedaan kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal antara yang mendapat bimbingan klinik dan tidak mendapat bimbingan klinik. 2. Ada perbedaan kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal antara mahasiswa yang bermotivasi tinggi dan bermotivasi rendah.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 8

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

3. Ada interaksi antara bimbingan dan motivasi belajar terhadap kemampuan mahasiswa semester IV dalam menolong persalinan normal. Saran 1. Motivasi belajar dapat digunakan sebagai faktor input pengajar dalam menerapkan metode untuk memperbaiki respons emosional belajar mahasiswa 2. Perlu penetapan dosis bimbingan pembelajaran laboratorium sesuai beban SKS agar pencapaian target kompetensi sesuai dengan kemampuan awal mahasiswa 3. Dipandang perlu pengembangan model pengajaran training yang berdosis (ada intensitas, interval, bentuk, dan frekuensi). 4. Perlu penelitian lanjutan untuk mengkaji pengaruh dosis bimbingan terhadap kemampuan mahasiswa dalam menolong persalinan, dengan memperbanyak variabel dan memperbesar sampel DAFTAR PUSTAKA Depkes dan Kesos RI. 2000. Himpunan Perundang-Undangan Bidang Pendidikan Tenaga Kesehatan Buku I. Jakarta: Depkes RI --------. 2000. Himpunan Perundang-Undangan Bidang Pendidikan Tenaga Kesehatan Buku I. Jakarta: Depkes RI Depkes RI. 2002. Kurikulum Nasional Pendidikan Diploma III Kebidanan. Jakarta: Depkes RI --------. 2000. Asuhan Persalinan Bersih dan Aman. Jakarta: Depkes RI --------. 1996. Pedoman Pengajaran Klinik Bagi Instruktur Klinik PPB. Jakarta: Depkes RI Green LW. 1980. Health Education Plan A Diagnostic Approach. The Hopkins University, Mayfield Publishing Co. Nana Sudjana. 1998. Model-Model Pengajaran CBSA. Bandung: Sinar Baru Nursalam dan Pariani Siti. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.Jakarta: Sagung Seto Mandriawati Gusti Ayu. 1999. Cara Menyusun Proposal Penelitian. Denpasar: PT BP Ngalim Purwanto. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Moedjiono. 1992. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Saifudin Azwar. 2000. Test prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Saifudian BA. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP Sarwono Prawirohardjo. Sardiman AM. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press Sarwono Solita. 1998. Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta: Gadjahmada University Press. Sukartawi. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Jakarta: Pustaka Jaya Sudjana. 1995. Metode Statistik. Bandung: PT Tarsito Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Soekijo Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Sugiyono. 2000. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Wahyu Sumidjo. 1995. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghlia Winkel WS. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 9

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN ANTARA TEKNIK MENYUSUI DENGAN KEBERHASILAN LAKTASI PADA IBU NIFAS PRIMIPARA DI WILAYAH PUSKESMAS KAIBON KABUPATEN MADIUN Rumpiati * ABSTRAK Latar Belakang: Laktasi adalah pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Proses pengeluaran ASI dipengaruhi berbagai faktor diantaranya teknik menyusui meliputi: hisapan bayi, cara, lama dan frekuensi menyusui. Salah satu keberhasilan laktasi pada ibu yang memberikan ASI eksklusif dapat dinilai dari terpenuhinya kecukupan kebutuhan bayi. Sedangkan tercukupinya kebutuhan bayi dapat dinilai dengan melihat berapa kali bayi kencing dalam 1 hari. Dalam 1 hari bayi harus kencing 6 kali atau lebih. Berdasarkan data Puskesmas Kaibon Kabupaten Madiun 2 tahun terakhir tercatat 246 kunjungan ibu bersalin primipara yang belum menerapkan cara/teknik menyusui yang benar. Hal ini ditunjukkan dengan ibu cenderung memberi susu formula/botol dan setelah mendapatkan penyuluhan teknik menyusui yang baik belum semua ibu memahaminya dengan baik. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi pada ibu nifas primipara. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini analitik observasional menggunakan desain cross sectional dengan populasi semua ibu nifas mempunyai bayi umur 0-40 hari di desa Sangen. Besar sampel sebanyak 75 responden secara purposive sampling..Variabel penelitian ialah independent yaitu: teknik menyusui (hisapan, cara, lama dan frekuensi menyusui) dan variabel dependent adalah keberhasilan laktasi. Metode pengumpulan data menggunakan kuisioner, penyajian data untuk mengidentifikasi teknik menyusui dan keberhasilan laktasi menggunakan distribusi frekuensi dalam bentuk diagram batang. Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan p 0, 05. Hasil penelitian: Sebanyak 68% responden menunjukkan teknik menyusui baik dan 60% responden berhasil laktasinya. Hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi menunjukkan hubungan signifikan dengan P < atau 0,027 < 0,05, berarti Ho ditolak dan Hi diterima. Artinya hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi. Kesimpulan: Rata-rata responden menunjukkan teknik menyusui yang baik dan berhasil melakukan laktasi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi diantaranya proses laktasi, kondisi ibu dan bayi, psikologi ibu, sosial budaya, pendidikan, umur, pekerjaan, perlu diteliti sehingga hasilnya lebih sempurna dan signifikan. Kata kunci: teknik menyusui, laktasi *= Akademi Kebidanan Muhammadiyah Madiun PENDAHULUAN Proses pengeluaran ASI dipengaruhi barbagai faktor diantaranya teknik menusui yang meliputi kekuatan hisapan bayi, cara, lama dan frekuensi menyusui pada waktu bayi
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 10

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

menghisap payudara sehingga terjadi rangsangan pada ujung syaraf putting susu.(1) Cara menyusui yang benar akan membantu bayi dalam menyusu sehingga proses pengeluaran air susu akan berjalan dengan baik.(2) Menyusui merupakan suatu proses yang alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini. Oleh karena teknik menyusui yang tidak benar dapat menimbulkan kegagalan laktasi.(1) Semakin dikenalnya teknologi modern dan diserapnya gaya hidup baru, maka yang melekat dalam praktek kebiasaan menyusui menunjukkan penurunan nyata dalam masyarakat. Namun tanpa disadari pelayanan kesehatan sering berperan dalam penurunan tersebut, baik kegagalan upaya mendukung dan mendorong ibu untuk menyusui maupun memperkenalkan cara-cara yang mengganggu kelancaran dimulainya dan dimantapkannya menyusui.(3) Air susu diberikan pada bayi mulai umur 0-4 bulan tanpa makanan tambahan (ASI eksklusif) merupakan makanan paling baik untuk bayi karena ASI mengandung zat gizi ideal dan mencukupi.(4) Salah satu keberhasilan laktasi pada ibu memberikan ASI eksklusif dapat dinilai dari terpenuhinya kebutuhan bayi dilihat dengan berapa kali bayi kencing dalam 1 hari minimal 6 kali atau lebih.(5) Di Indonesia persentase menyusui masih rendah yaitu 36% dan jumlah ibu yang memberikan ASI pada usia 0-3 bulan 47% di perkotaan dan 53% di pedesaan.(6) Berdasarkan data Puskesmas Kaibon Kabupaten Madiun 2 tahun terakhir tercatat 246 kunjungan ibu bersalin primipara belum menerapkan cara menyusui yang benar, hal ini ditunjukkan ibu cenderung memberikan susu botol dan setelah mendapatkan penyuluhan teknik menyusui baik belum semua memahaminya dengan baik. Keberhasilan menyusui memerlukan dukungan aktif selama hamil dan selanjutnya setelah melahirkan. Dukungan tersebut bukan hanya dari keluarganya dan masyarakat, melainkan seluruh sistem pelayanan kesehatan. Semua petugas kesehatan memberi pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan diwajibkan meningkatkan pemberian ASI dan memberikan penyuluhan yang benar dengan memperagakan pengetahuan praktis dalam pelaksanaan menyusui.(3, 7) Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi pada ibu nifas primipara. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini analitik observasional menggunakan desain cross sectional.(8) Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kaibon Kabupaten Madiun dilaksanakan tanggal 1-30 Agustus 2004. Populasi adalah semua ibu nifas atau menyusui di desa Sangen yang mempunyai bayi berusia 0-40 hari dan tercatat pada buku regester kohort ibu dan bayi Puskesmas Kaibon pada bulan Juni 2004 sejumlah 92 orang.(9) Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang akan di teliti dan di anggap mewakili semua populasi, maka jumlah sampel dalam penelitian ini 75 responden. Teknik pengambilan sampel adalah sampling pusposive. Kriteria inklusi adalah ibu nifas menyusui bayinya (memberikan ASI saja), bayinya umur 3-40 hari, melahirkan anak pertama, berkunjung ke Puskesmas Kaibon Kabupaten Madiun dalam waktu penelitian, mempunyai bayi normal, dan bersedia diteliti. Kriteria eksklusi ialah ibu nifas tidak menyusui bayinya, bayinya umur > 40 hari, melahirkan lebih dari 1 kali, dan tidak bersedia diteliti. Dalam penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu: independen ialah teknik menyusui(10) dan variabel dependen adalah keberhasilan laktasi.(9)
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 11

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner tertentu dengan menggunakan bentuk pilihan sebagai berikut: untuk jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0. Hasil jawaban responden telah diberi bobot dijumlahkan dan dibandingkan dengan jumlah tertinggi, lalu dikalikan 100%. Hasil dari persentase tiap variabel di interpretasikan dengan menggunakan skala kualitatif.(11) Sedangkan untuk keberhasilan laktasi dikatagorikan berhasil bila frekuensi kencing bayi 6 kali perhari. Untuk menguji hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi digunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan p 0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Desa Sangen terdiri dari 5 (lima) Posyandu masing-masing dengan 2-3 kader, setiap bulan kegiatan posyandu dilaksanakan. Besar populasi ibu nifas yang mempunyai bayi umur 0-40 hari di desa Sangen tercatat pada buku register Kohort ibu dan bayi Puskesmas Kaibon pada bulan Juni 2004 sebanyak 92 orang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan dan sampel yang diambil sebanyak 75 orang.
80 60 40 20 0 10 20 30 40 50 60 kurang 20 tahun 20-30 tahun

Gambar 1. Distribusi Umur Ibu Nifas di Desa Sangen


50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Tidak Sekolah SD SMP SMA 8 17

5 5

10

15

20

25

30

35

40

45 45

Gambar 2. Distribusi Pendidikan Ibu Nifas di Desa Sangen


Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 12

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

35 30 25 20 15 10 5 0 Buruh Petani PNS Swasta Tidak Bekerja 3 4 16 23 5 10 15 20 25 30 30 35

Gambar 3. Distribusi Pekerjaan Ibu Nifas di Desa Sangen Gambar 1 menunjukkan bahwa 84% responden berumur 20-30 tahun, sedangkan 16% umur < 20 tahun. Dari Gambar 2 sebanyak 60% responden berpendidikan SD dan 10,7% berpendidikan SMA. Gambar 3 menunjukkan bahwa sebagian responden (41,3%) mempunyai pekerjaan sebagai buruh tani dan sangat sedikit responden (4%) pekerja sebagai PNS. Tabel 1. Hubungan Antara Teknik Menyusui dengan Keberhasilan Laktasi Teknik Menyusui Baik Cukup Kurang Jumlah Keberhasilan Laktasi Jumlah Tidak Berhasil Berhasil n % n % N % 16 31,37 35 68,63 51 100 7 46,67 8 53,33 15 100 7 77,78 2 22,22 9 100 30 40,00 45 60,00 75 100 Pearson Chi Square= 7,211 Sig.= 0,027

Tabel 1 menunjukkan bahwa semakin baik teknik menyusui, persentase keberhasilan laktasi menjadi semakin besar (masing-masing 22,22; 53,33; dan 68,63). Dari analisis Chi Square didapatkan nilai p < atau 0,027 < 0,05 berarti Ho ditolak, berarti ada hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi. Pembahasan Sebagian besar ibu nifas memiliki teknik menyusui yang baik. Hal ini disebabkan banyaknya ibu primipara sebelum mereka melahirkan, mendapatkan penyuluhan tentang teknik menyusui yang benar di pelayanan kesehatan yang mereka kunjungi, dengan kondisi tersebut memungkinkan ibu mempraktekkan teknik menyusui yang benar dirumah setelah
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 13

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

mereka melahirkan. Hal ini akan menguntungkan karena mengurangi biaya pembelian susu formula yang relatif tinggi. Sebagian responden (41,3%) status pekerjaannya sebagai buruh dan 20% tidak bekerja serta sangat sedikit responden (12%) menunjukkan teknik menyusui yang kurang. Hal ini didukung dengan 6,7% responden tidak mengenyam bangku sekolah, walaupun ibu telah mendapatkan penyuluhan teknik menyusui yang benar, belum dapat memahaminya dengan baik. Ibu nifas yang telah melakukan teknik menyusui yang baik berhasil laktasi. Hasil ini didukung dengan pendapat bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan laktasi adalah teknik menyusui meliputi hisapan bayi waktu menghisap payudara sehingga terjadi rangsangan pada ujung syaraf puting susu.(1) Cara menyusui yang benar akan membantu bayi waktu menyusu, sehingga proses pengeluaran ASI akan berjalan baik, sedangkan cara menyusui yang tidak baik menyebabkan bayi tidak nyaman.(2) Sedangkan lama dan frekuensi menyusui yang sering tanpa jadwal (ondemand) akan membantu air susu keluar dengan lancar dengan demikian laktasi akan berhasil. Hasil uji Chi Square membuktikan adanya hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi. Ibu nifas telah menunjukkan teknik menyusui baik, masih terdapat beberapa responden mengalami kegagalan laktasi. Kegagalan laktasi tersebut dapat dilihat dengan menanyakan frekuensi kencing bayi < 6 kali/hari. Hal tersebut didukung dengan penelitian bahwa keberhasilan laktasi dapat dilihat dari tercukupinya kebutuhan bayi akan ASI, sedangkan tercukupinya kebutuhan bayi akan ASI dapat dilihat dari frekuensi kencing bayi 6 kali/hari.(5) Keberhasilan laktasi selain ditentukan dari teknik menyusui juga dipengaruhi oleh faktor diantaranya proses laktasi (Anatomi payudara reflek yang berperan) besar kecil dan bentuk payudara tidak mempengaruhi produksi ASI.(1) Tidak ada jaminan bahwa peyudara yang besar akan mengahsilkan lebih banyak ASI. Puting harus disiapkan agar lentur, menjulur sehingga mudah ditangkap oleh mulut bayi, dengan puting yang baik tidak mudah lecet, reflek menghisap lebih baik maka produksi ASI lebih baik pula.(7) Kondisi ibu dimana keadaan gizi (status gizi) ibu mempengaruhi volume ASI yang diproduksi tetapi tidak mempengaruhi kualitasnya dapat pula dikatakan bahwa produksi ASI tidak semata-mata dipengaruhi oleh makanan dalam diet ibu, tetapi juga oleh cadangan dalam tubuh. Status emosi (psikologis) ibu dimana ganngguan emosional, stres, kecemasan akan mempengaruhi produksi ASI, suasana keluarga yag tenang, bahagia akan menunjang keberhasilan menyusui. Dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi selain faktor di atas, dijelaskan pula tentang karakteristik responden, hampir seluruhnya dari responden (84%) berumur 20-30 tahun, hampir seluruhnya mengenyam bagku sekolah dan sebagian kecil dari responden (20%) yang tidak bekerja. Responden yang memiliki pendidikan yang cukup akan mempengaruhi pengetahuan responden. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat bahwa apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.(12) Tidak adanya pengalaman sama sekali dalam satu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut, maka berdasarkan pendapat itu dapat diasumsikan bahwa ibu menyusui yang memiliki pengalaman cukup cenderung memiliki teknik menyusui baik sangat mendukung keberhasilan laktasi.(5)
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 14

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi pada ibu nifas primipara, maka dapat diuraikan kesimpulan dan saran sebagai berikut: Sebagian besar dari responden (68%) menunjukkan teknik menyusui yang baik dan 60% berhasil laktasi. Terdapat hubungan yang signifikan antara teknik menyusui dengan keberhasilan laktasi dengan nilai p < atau 0,027 < 0,05. Perlu adanya penyuluhan teknik menyusui yang baik secara intensif melalui program PPKIA di Posyandu, pelayanan KIA di Puskesmas dengan menggunakan lembar balik, poster atau media lainnya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi diantaranya proses laktasi, kondisi ibu dan bayi, psikologi ibu, sosial budaya, pendidikan, umur, pekerjaan perlu diteliti sehingga hasilnya lebih sempurna dan signifikan. DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. Modul Manajemen Laktasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medik; 1994. 2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Air Susu Ibu Ditinjau Dari Beberapa Aspek. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1992. 3. Perinasia. Melindungi, meningkatkan dan mendukung menyusui. Cetakan Pertama ed. Geneva: WHO; 1990. 4. Riordan J, Auerbach KG. Buku Saku Menyusui & Laktasi. Jakarta: EGC; 2000. 5. King SKF. Menolong Ibu Menyusui, Pedoman Praktis Bagi Para Ibu dan Petugas Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Utama; 1993. 6. BPS, ORC Macro. Survei Demografi dan kesehatan Indonesia Calverton, Maryland, USA: ORC Macro1991. 7. Llewellyn-Jones D, Bahar DP. Setiap Wanita: Buku Panduan Lengkap Tentang Kesehatan, Kebidanan dan Kandungan. Jakarta: Pustaka Delapratasa; 1997. 8. Sugiono. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta; 2002. 9. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian. Cetakan Pertama ed. Jakarta: Sagung Seto; 1993. 10. Nursalam. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika; 2003. 11. Arikunto S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta; 2002. 12. Fishbein M, Azjen I. Understanding Attitudes and Predicting Social Behaviour. New Jersey: Prentice Hall Inc; 1980.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

15

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

PENGARUH STATUS GIZI TERHADAP TERJADINYA MENARCHE PADA SISWI KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 5 PUCANG SURABAYA Badriyah*, Sulastri* ABSTRAK Usia menarche saat ini cenderung lebih awal dibandingkan dengan generasi sebelumnya, berdasarkan data dari SD Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya didapatkan hasil bahwa dari 20 siswi kelas 6 SD tersebut sudah mengalami menstruasi, 70% (14 siswi) mengalami menarche dini dan 30% (6 siswi) mengalami menarche normal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain cross sectional. Variabel independen adalah status gizi dan variabel dependen adalah terjadinya menarche.Populasinya adalah semua siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada tanggal 11 Juni 2011 sebesar 116 siswi dan besar sampel 90 siswi dengan desain sampling menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan data primer. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman dengan =0,05. Hasil penelitian didapatkan siswi dengan status gizi gemuk sebanyak 44,44%, 42,22% normal dan 13,33% kurus. Siswi yang mengalami menarche cepat sebanyak 41,11%, 40% normal dan 18,89% lambat. Hasil uji statistik Spearman diperoleh nilai signifikan 0,000, karena = 0,000 < = 0,05 sehingga H0 ditolak. Disimpulkan ada pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche. Diharapkan sekolah bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada siswi dengan status gizi kurus tentang diet makanan seimbang agar gizinya baik sehingga mempengaruhi peningkatan hormon dan menarche akan sesuai dengan usia normalnya. Kata kunci: status gizi, kejadian menarche. *= Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Bangkalan PENDAHULUAN Latar Belakang Menarche didefinisikan sebagai pertama kali menstruasi, yaitu keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Remaja putri mulai dewasa ditandai dengan menarche. Usia menarche saat ini cenderung lebih awal dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Karena status gizi dan kesehatan yang baik, perkembangan seksual termasuk menarche mengalami percepatan. Biasanya perasaan bingung, gelisah, dan tidak nyaman selalu menyelimuti perasaan seorang wanita yang mengalami menstruasi untuk pertama kali. Sudah lebih dari setengah abad rata-rata usia menarche mengalami perubahan, dari usia 17 tahun, menjadi 13 tahun, secara normal menstruasi awal terjadi pada usia 12-14 tahun (Sutrisno, 2007). Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara dengan 20 siswi kelas 6 SD Muhammadiyah Pucang Surabaya didapatkan hasil bahwa dari 20 siswi kelas 6 SD tersebut sudah mengalami menstruasi, 70% (14 siswi) mengalami menarche dini dan 30% (6 siswi) mengalami menarche normal.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 16

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Ada kecenderungan anak perempuan mendapatkan menstruasi pertama kali usianya semakin lebih muda. Ada 2 faktor yang menyebabkan terjadinya menstruasi lebih dini, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terjadi karena aspek psikologis, kesuburan, dan hormon. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor budaya, lingkungan sosial, status gizi, dan status ekonomi. Aspek psikologi biasanya timbul akibat tekanan batin dari orang tua maupun teman sebaya. Sedangkan faktor kesuburan setiap wanita itu berbedabeda. Wanita yang mengalami hal ini biasanya berpengaruh juga terhadap tingkat fertilitas sehingga bisa mengalami menarche lebih awal. Faktor hormon juga mempengaruhi percepatan menarche kerena adanya sistem endokrin yang berpengaruh besar terhadap perubahan hormon. Faktor budaya dan lingkungan soasial juga sangat berpengaruh dengan kejadian menarche. Biasanya remaja yang hidup di kota dengan budaya yang bermacam macam lebih cepat mengalami menarche dibandingkan remaja yang hidup di pedalaman. Status ekonomi berpengaruh terhadap menarche, biasanya orang tua dengan status ekonomi tinggi. Status gizi yang baik juga akan mempengaruhi terhadap kejadian menarche karena pengaruh dai zat zat yang dikonsumsi setiap hari, terutama karbohidrat dan protein. Gizi mempengaruhi kematangan seksual. Gadis dengan menstruasi pertama lebih dini, mereka cenderung lebih berat dan lebih tinggi pada saat menstruasi pertama dibandingkan dengan mereka yang belum menstruasi pada usia yang sama. Sebaliknya pada gadis yang menstruasinya terlambat, beratnya lebih ringan daripada yang sudah menstruasi pada usia yang sama meskipun tinggi badan mereka sama (Soetjiningsih, 2010: 23). Status gizi wanita sangat mempengaruhi terjadinya menarche terutama dari faktor usia terjadinya menarche. Secara psikologi wanita remaja yang pertama sekali mengalami haid akan mengeluh rasa nyeri, kurang nyaman, dan perut terasa begah. Tetapi pada beberapa remaja keluhan-keluhan tersebut tidak dirasakan, ini dipengaruhi oleh nutrisi yang adekuat yang dikonsumsi. Gizi kurang atau terbatas selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi organ tubuh, juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi (Heryati, 2005: 69). Pada remaja wanita mengalami menarche, muncul gejala yang sangat mencolok antara lain: kecemasan yang tidak riil serta perasaan bersalah dan berdosa, munculnya gambaran fantasi yang anehaneh, munculnya anggapan yang keliru bahwa menstruasi itu merupakan hal yang kotor, najis dan menjijikkan, timbulnya rasa malu, merasa diri tidak suci atau tidak bersih, merasa diri kotor dan bernoda, serta diikuti emosiemosi yang negatif lainnya. Tindakan yang dilakukan yaitu dengan memberikan penyuluhan pada remaja putri tentang kesehatan reproduksi remaja terutama mengenai menarche dan dampak dari menarche sehingga remaja putri siap untuk menerima terjadinya menarche pada dirinya. Selain itu, kita harus memberikan penyuluhan kepada orang tua serta guru agar mereka bisa memberi penjelasan pada putrinya bahwa menarche merupakan suatu hal yang fisiologis Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi status gizi siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. 2. Mengidentifikasi usia menarche siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. 3. Menganalisis pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 17

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah metode analitik, sedangkan dilihat dari waktu penelitian, rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya tahun 2011 dengan sebanyak 116 siswi. Besar sampel adalah 90 siswi yang diambil dengan teknik probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengetahui tingkat status gizi pada remaja (kurus, normal dan gemuk) dan wawancara untuk mengetahui terjadinya menarche pada remaja. Data yang terkumpul, diolah dengan tahap-tahap editing, coding, tabulasi, kemudian dilakukan analisa data berupa analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau korelasi. Untuk memudahkan analisis menggunakan tabulasi silang, dengan persentase menurut variabel bebas. Kemudian dilakukan uji korelasi menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikan 0,05. Penelitian dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya yang dimulai pada bulan November 2010 sampai bulan Agustus 2011 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 1. Distribusi Usia Siswi Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada Bulan Juni 2011
Usia <12tahun 12-14 tahun >14 tahun TOTAL Frekuensi 0 67 23 90 Persen 0 74.44 25.56 100.00

Tabel 2. Distribusi Pekerjaan Orang Tua Siswi Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada Bulan Juni 2011
Pekerjaan Pegawai Negeri TNI/POLRI Swasta Total Frekuensi 51 27 12 90 Persen 56,67 30 13,33 100,00

Setelah dilakukan analisis data didapatkan bahwa dari 90 responden usia responden yang paling banyak adalah usia antara 12 14 tahun yaitu sebanyak 67 siswi (74,44%). Didapatkan pula bahwa dari 90 responden orang tuanya yang bekerja sebagai pegawai negeri sebanyak 51 orang (56,67 %).
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 18

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Gizi Siswi Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada Bulan Juni 2011
Status Gizi Kurus Normal Gemuk Total Frekuensi 12 38 40 90 Persen 13,33 42,22 44,44 100,00

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Usia Menarche Siswi Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada Bulan Juni 2011
Usia Menarche Cepat Normal Lambat Total Frekuensi 37 36 17 90 Persen 41,11 40 18,89 100,00

Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mengalami status gizi gemuk sebanyak 40 siswi (44,45%). Sedangkan Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mengalami menarche cepat sebanyak 37 siswi (41,11%). Tabel 5. Distribusi Usia Menarche Menurut Status Gizi Siswi Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya pada Bulan Juni 2011
Status Gizi Kurus Normal Gemuk Total = 0,000 Usia Menarche Cepat Normal F % f % 2 16,67 4 33,33 5 13,16 25 65,79 30 75 7 17,5 37 41,11 36 40 = 0,05 Lambat F % 6 50 8 21,05 3 7,5 17 18,89 Jml 12 38 40 90 % 100 100 100 100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan status gizi gemuk yaitu 30 siswi (75%) mengalami menarche cepat, sedangkan responden dengan status gizi normal yaitu 25 siswi (65,79%) mengalami menarche normal. Dari hasil analisis menggunakan uji korelasi Spearman diperoleh nilai signifikan 0,000, karena = 0,000 < = 0,05 maka Ho ditolak yang berarti ada pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche. Pembahasan Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dari 90 siswi kelas VIII didapatkan sebanyak 40 siswi (44,4 %) mengalami status gizi gemuk, 38 siswi (42,22%) mengalami status gizi normal dan 12 siswi (13,33%) mengalami status gizi kurus. Data di atas menunjukkan bahwa rata-rata siswi mengalami status gizi gemuk dan normal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pekerjaan orang tua. Dengan status ekonomi yang baik maka akan mempengaruhi tingkat status gizi yang baik pula sehingga makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang banyak mengandung vitamin yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan fungsi organ reproduksi.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 19

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Masa remaja sangat memerlukan gizi yang banyak, apabila gizinya kurang maka tingkat pertumbuhan dan perkembangan pun akan terhambat. Menurut Markum (2001) Status ekonomi seseorang sangat menentukan dalam penyediaan pangan dan kualitas gizi. Apabila tingkat perekonomian seseorang baik maka status gizinya akan baik. Golongan ekonomi yang rendah lebih banyak menderita gizi kurang dibandingkan golongan menengah ke atas. Gizi yang kurang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak,khususnya pada remaja yang mengalami masa peralihan dimana mereka memerlukan banyak makanan yang mengandung banyak vitamin. Menurut teori Soetjiningsih (2010) bahwa remaja membutuhkan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhannya ketika mereka berada pada masa anak-anak. Pola konsumsi remaja putri yang terlalu sering diet dan mengkonsumsi makanan olahan atau cepat saji dapat menyebabkan gizi kurang. Remaja membutuhkan energi dan nutrien untuk melakukan deposisi jaringan. Peristiwa ini merupakan suatu fenomena pertumbuhan tercepat yang terjadi kedua kali setelah yang pertama dialami pada tahun pertama kehidupannya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 37 siswi (41,11 %) mengalami menarche cepat, 36 siswi (40%) mengalami menarche normal, 17 siswi (18,89%) mengalami menarche lambat. Fenomena di atas menunjukkan bahwa rata-rata siswi mengalami menarche cepat. Hal ini mungkin disebabkan karena pengaruh psikososial yang ada dilingkungan sekitarnya, remaja lebih sering melihat hal hal yang membuat rangsangan psikologisnya bekerja sehingga hal tersebut bisa berdampak pada tingkat kesuburan dan kematangan hormon yang terdapat dalam tubuh remaja tersebut sehingga remaja akan mengalami kematangan seksual yang lebih cepat sehingga perubahan fisik pun berkembang secara cepat dan itu juga akan berdampak pada proses terjadinya menarche. Menurut Sanjatmiko (2004) tiga lingkungan psikososial bekerja secara simultan menjadi pendukung percepatan usia menarche remaja, yaitu lingkungan rumah tangga; lingkungan pendidikanformal dan lingkungan peer group. Dalam lingkungan rumah tangga, faktor dominan yangmenentukan seperti pola konsumsi nutrisi, media komunikasi dan proses sosialisasi, dalam lingkungan pendidikan formal yaitu proses sosialisasi pengetahuan formal sekolah dan nonformal, sementara itu dalam lingkungan peer group pola konsumsi nutrisi, media komunikasi serta sosialisasi dalam lingkungun peer group merupakan faktor- faktor yang mendukung kearah percepatan usia menarche remaja. Menurut Soetjiningsih (2010) ciri-ciri perkembangan seksual pada masa ini antara lain ialah perkembangan fisik yang masih tidak banyak beda dengan sebelumnya. Andai kata ada perubahan fisik maka perubahan tersebut masih amat sedikit dan tidak mencolok. Pada masa pra remaja ini, mereka sudah mulai senang mencari tahu informasi tentang seks dan mitos seks baik dari teman sekolah, keluarga, atau dari sumber lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswi dengan status gizi gemuk yaitu 30 siswi (75%) mengalami menarche cepat, sedangkan siswi dengan status gizi normal yaitu 25 siswi (65,79%) mengalami menarche normal. Dari hasil analisis menggunakan uji korelasi Spearman diperoleh nilai 0,567 dan nilai signifikan 0,000, karena = 0,000 < = 0,05 maka Ho ditolak yang berarti ada pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche. Data di atas menunjukkan bahwa semakin gemuk status gizi maka semakin cepat kejadian menarche yang dialami siswi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena makanan yang dikonsumsi
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 20

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

mengandung banyak lemak yang akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan organ reproduksi. Apabila status gizi buruk maka akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi sehingga menarche pun akan terganggu. Zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi seseorang akan mempengaruhi pertumbuhannya. Kekurangan gizi atau keadaan gizi buruk pada masa bayi dan anak-anak terutama pada umur kurang dari lima tahun dapat berakibat lebih parah. karena pertumbuhan jasmani dan kecerdasan akan terganggu, pada tahap selanjutnya akan berpengaruh pada perkembangan dan kematangan organ reproduksi (Sutrisno ,2007). Status gizi dikatakan baik apabila nutrisi yang diperlukan baik protein, lemak, karbihidrat, mineral, vitamin maupun air digunakan oleh tubuh sesuai kebutuhan. Bila asupan gizi optimal maka pertumbuhan dan perkembangan kematangan seks akan optimal namun bila gizi kurang selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi organ tubuh juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi sehingga remaja putri dapat mengalami menarche lambat (Paath,2005). Usia saat seorang anak perempuan mulai mendapat menstruasi sangat bervariasi. Terdapat kecenderungan bahwa saat ini anak mendapat menstruasi pertama pada usia yang lebih muda. Menarche bisa datang pada anak usia 12 tahun, tapi ada juga yang 8 tahun sudah memulai siklusnya. Menarche normal terjadi pada usia 12-14 tahun (Sutrisno, 2007). Menurut Sukarman (2003) munculnya menarche terjadi di tengah-tengah masa pubertas, yaitu masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Yang mempengaruhi munculnya menarche salah satunya disebabkan karena makanan yang dikonsumsi banyak mengandung hormon estrogen misalnya kacang kacangan. Seorang gadis pertama kali memproduksi estrogen pada usia antara 8 sampai 13 tahun. Hal ini merupakan tanda dimulainya masa pubertas. Estrogen mengakibatkan rahim (uterus), vagina, tubai Fallopii (saluran dari indung telur atau ovarium ke rahim) berkembang. Pada saat itu rambut di ketiak dan kemaluan mulai tumbuh serta memacu tumpukan lemak di bagian bawah tubuh (pantat, paha) dan yang pasti membuat payudara kita tumbuh. Pada saat estrogen mencapai level yang cukup tinggi, ovulasi pun terjadi pertama kali. Ketika itu sel telur yang telah masak lepas dari ovarium dan mulailah siklus menstruasi. Oleh karena itu, remaja harus mengerti makanan dengan gizi seimbang agar kejadian menarche sesuai dengan usia normalnya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Siswi kelas VIII mengalami status gizi gemuk yaitu rata rata 40 siswi (44,44%) di SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. 2. Siswi kelas VIII mengalami usia menarche cepat yaitu rata rata 37 siswi (41,11%) di SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. 3. Ada pengaruh status gizi terhadap terjadinya menarche pada siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya. Saran Bagi Sekolah SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya, diharapkan pihak sekolah bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada siswi dengan status gizi kurus tentang diet makanan seimbang agar gizinya bertambah baik sehingga akan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 21

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

mempengaruhi pada peningkatan hormon dan menarche akan terjadi sesuai dengan usia normalnya. DAFTAR PUSTAKA Akhmadi. (2009). Gangguan Psikologi pada Remaja. Yogyakarta: Nuha Medika Andira, Dita. (2010). Seluk Beluk Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogyakarta: Aplus Books Heryati. (2005). Indahnya Ketika Menarche. Yogyakarta: Nuha Medika Paath, Erna Francin, dkk.( 2005). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC Proverawati, Atikah dan Siti Asfuah. (2009). Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika Proverawati, Atikah dan Siti Misaroh. (2009).Menarche Menstruasi Pertama penuh Makna. Yogyakarta: Nuha Medika Soetjiningsih. (2010). Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: CV. Sagung Seto Supariasa, Dewa Nyoman, dkk.(2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC Sutrisno. (2007). Kejadian Menarche pada Anak Usia 12 Tahun [Internet]. Bersumber dari: http://www.technologyindonesia.com. [diakses tanggal 19 Februari 2011

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

22

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI OLEH BIDAN PRAKTEK SWASTA DI KABUPATEN MAGETAN Tinuk Esti Handayani*, Martha Irena Kartasurya**, Putri Asmita Wigati** ABSTRAK Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Magetan tahun 2009 adalah 50,8%, tahun 2010 turun 40,6. Hasil wawancara pada bidan BPS tentang pelaksanaan manajemen laktasi: 4 bidan melaksanakan manajemen laktasi masa antenatal, 2 bidan melaksanakan manajemen laktasi intra natal, 2 bidan melaksanakan manajemen laktasi masa postnatal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor faktor apa saja yang berhubungan dengan pelaksanaan manajemen laktasi oleh Bidan Praktek Swasta. Jenis penelitian ini studi kuantitatif dengan metode observasional, dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur dan lembar observasi. Populasi penelitian adalah bidan praktek swasta, dengan jumlah sampel sebanyak 76 responden yang diambil secara total populasi. Hasil penelitian,(65,5%)berpengetahuan kurang, menpuyai motivasi baik, sikap baik dan kepuasan kerja baik dengan pelaksanaan manajemen laktasi intranatal (53,9%) baik ,manajemen laktasi masa intranatal (47,4%) kurang, manajemen laktasi masa postnatal (61,8%) kurang. Secara bivariat menunjukan variabel yang berhubungan dengan pelaksanaan manajemen laktasi adalah pengetahuan, motivasi, sikap, kepuasaan kerja. Secara multivariat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap variabel pelaksanaan manajemen laktasi adalah variabel pengetahuan dan variabel kepuasan yang paling berpengaruh adalah pengetahuan. Disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten mengalokasikan dana untuk pelatihan program manajemen laktasi bagi ibu hamil maupun bidan BPS,peyediaan sarana KIE kepada masyarakat, pemberian punishment bagi bidan yang tidak melaksanakan manajemen laktasi tindak lanjut Kepmenkes RI/ No. 48/2008. Kata kunci : Faktor-faktor dalam pelaksanaan manajemen laktasi, Bidan BPS. * = Jurusan Kebidanan Poltekes Kemenkes Surabaya **= Universitas Diponegoro Semarang PENDAHULUAN Latar Belakang Angka Kematian Bayi (AKB) relatif tinggi yaitu 35 kematian per 1000 kelahiran hidup di Jawa Timur tahun 2009 sebanyak 25,7 per 1000 kelahiran hidup. Di kabupaten Magetan Angka Kematian Bayi tahun 2009 14,1 % dan kematian balita 15,6 % per 1000 kelahiran hidup.( Dinkes Jatim 2010,dinkes Magetan 2009). Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk secara nasional sebesar 4,9%, menurun 0,5% dibanding hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 5,4%, sedangkan gizi kurang tetap 13%. Prevalensi gizi buruk berdasar (data Profil) di Kabupaten Magetan tahun 2008 dan 2009 sebanyak 0,8%, sedangkan jumlah gizi kurang meningkat dari 5% tahun 2008, menjadi 6,6% tahun 2009. Salah satu penyebab dari gizi buruk dan kurang tersebut oleh karena
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 23

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

rendahnya pemberian ASI yang disebabkan belum terlaksananya manajemen laktasi. Manajemen laktasi adalah tata laksana ang diperlukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah melahirkan dan pada masa menyusui selanjutnya( Depkes RI 2005). United Nations Childrens Fund (UNICEF) menyatakan, dengan pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran dapat mencegah kematian sekitar 1,3 juta bayi diseluruh dunia tiap tahun ( Edmond KM,2006) Berdasarkan hasil (Riskesdas) tahun 2010 bayi yang diberikan ASI eksklusif sampai 5 bulan hanya 15,3 %. Di Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan cakupan ASI Eksklusif tahun 2009 adalah 50,8% , tahun 2010 turun menjadi 40,6% jauh dari target nasional 80%. Menurut Rosli peningkatan pemberian ASI eksklusif kepada bayi-bayi di Indonesia akan mengurangi masalah gizi dan kesehatan pada Balita. Serta dengan pemberian ASI akan melindungi bayi dan balita dari berbagai penyakit infeksi dan bayi yang mendapat ASI Eksklusif akan memiliki IQ lebih tinggi dari bayi yang diberi susu formula ( Rosli.U,2010). Usaha-usaha peningkatan pemberian ASI eksklusif di Indonesia terus ditingkatkan. Terbukti dengan ditetapkannya "Pekan ASI Sedunia", yang ketetapannya dikeluarkan oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) atau Asosiasi ASI Sedunia, di samping itu rekomendasi dari WHO dan UNICEF (2002) dibuat untuk peningkatan cakupan ASI Eksklusif. Dukungan politis dari pemerintah antara lain: UU Kesehatan No: 36 /2009 Yaitu: Pasal 128 berisi:(1) Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.450 / Menkes / IV / 2004 tentang pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di Indonesia, yang memuat sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui. Juga keputusan bersama antara Memteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan nomor : 48/Men. PP/XII/2008, Nomor PER.27/Men/XII/2008 serta Nomor : 177/ Menkes /XII /2008, berisi tentang : Peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) selama waktu kerja di tempat kerja (DepKes RI, 2008) Berdasarkan keterangan 10 bidan dengan wawancara tentang pelaksanaan manajemen laktasi, diperoleh hasil. Masa antenatal, 6 bidan tidak memberikan informasi tentang ASI, 5 bidan tidak melakukan pemeriksaan payudara/putting,masa intranatal hanya 1 bidan melakukan IMD. Masa post natal 8 bidan memberi susu formula dalam 24 jam pertama persalinan. Berdasarkan permasalahan di atas dibuktikan bahwa pelaksanaan manajemen laktasi belum terlaksana sesuai harapan. Manajemen laktasi membutuhkan perubahan perilaku bidan dalam pemberian pelayanan baik pada ibu hamil bersalin dan menyusui. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: a). mendeskripsikan pengetahuan, motivasi bidan, kepuasan kerja bidan, sikap bidan dalam pelaksanaan manajemen b). mendeskripsikan pelaksanaan manajemen laktasi c). menganalisis hubungan pengetahuan bidan dengan pelaksanaan manajemen laktasi d). mengetahui hubungan motivasi bidan dengan pelaksanaan manajemen laktasi oleh bidan e). mengetahui hubungan sikap bidan dengan pelaksanaan manajemen laktasi oleh bidan f). mengetahui hubungan kepuasan kerja bidan dengan pelaksanaan manajemen laktasi g). mengetahui pengaruh bersama-sama antara faktor pengetahuan, motivasi, sikap, kepuasan kerja, dengan pelaksanaan manajemen laktasi.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 24

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan metode observasional yang dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas (pengetahuan, motivasi, kepuasan kerja, sikap) dan variabel terikat (pelaksanaan manajemen laktasi). Pendekatan yang diterapkan adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh bidan BPS yang di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan sebanyak 76 bidan. Teknik pengambilan sampel adalah total populasi berdasarkan kriteria :1) Bidan yang melaksanakan pelayanan kebidanan dan melaksanakan praktek mandiri/berijin praktek, 2) Berpendidikan minimal DIII Kebidanan. Pengolahan dan analisa data yang terkumpul yaitu secara deskriptif dan analisis statistik. Setelah dilakukan tabulasi data selanjutnya dianalisis secara univariat dalam bentuk persentase,dan analisis bivariat digunakan adalah parametrik dengan uji korelasi Pearson Product Moment, bila berdistribusi normal. Bila tidak memenuhi normalitas digunakan uji korelasi Rank Spearman. Uji hipotesis menggunakan uji dua arah (twotailed) dengan batas kepercayaan pada alpha: 0,05. Hubungan antara varibel bebas dan variabel terikat dikatakan bermakna bila p= 0,05. Analisa multivariat : menggunakan uji Regresi Linier Ganda, bertujuan melihat besarnya pengaruh variabel bebas (pengetahuan, motivasi, sikap, kepuasan kerja) secara keseluruhan terhadap variabel terikat (pelaksanaan manajemen laktasi), setelah dilakukan kontrol variabel pengganggu (umur, masa kerja). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Manajemen Laktasi Masa Antenatal Oleh Bidan Praktek Swasta di Kabupaten Magetan Tahun 2011. No Manajemen Laktasi Masa Antenatal 1 Baik 2. Cukup 3. Kurang Total Frekuensi 41 11 24 76 Persentase 53,9 14,5 31,6 100,0

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Manajemen Laktasi Masa Intranatal Oleh Bidan Praktek Swasta di Kabupaten Magetan Tahun 2011 No 1 2. 3. Manajemen Laktasi Masa Intranatal Baik Cukup Kurang total Frekuensi 19 21 36 76 Persentase 25 27,6 47,3 100,0

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Manajemen Laktasi Masa Postnatal Oleh Bidan Praktek Swasta di Kabupaten Magetan Tahun 2011 No 1 2. 3. Manajemen Laktasi Masa Postnatal Baik Cukup Kurang Total Frekuensi 12 17 47 76 Persentase 15,8 22,4 61,8 100,0 25

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Tabel 4. Hasil Analisis Uji Statistik Hubungan Antara Variabel bebas Dengan Variabel Pelaksanaan Manajemen Laktasi No 1 2 3 4 5 6 Variabel Bebas Pengetahuan Motivasi Sikap Kepuasan kerja umur Masa kerja NIlai r .645 .396 .451 .334 -.169 -.077 Nilai p 0,000 0,000 0,000 0,003 0,144 0,510 Hasil Berhubungan Berhubungan Berhubungan Berhubungan Tidak Berhubungan Tidak berhubungan

Hasil analisis uji statistik pada variabel pengetahuan, motivasi, sikap dan kepuasan kerja berhubungan dengan pelaksanaan manajemen laktasi, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna / signifikan ( nilai p= < 0,05). Berdasarkan penelitian ini hubungan yang paling kuat yaitu variabel pengetahuan (r= 0,645 ) dan sikap (r=0,541).
Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat (Metode enter 1) Model (Constant) Pengetahuan Motivasi Sikap Kepuasan Beta -12.158 1.552 -,090 .180 .243 Sig .007 .000 .407 .085 .028 Adjusted R Square

46,7 %

Variabel pengetahuan memiliki signifikasi 0,000 (<0.05) kemudian variabel kepuasan p=0,028 (<0,05), berarti pengetahuan dan kepuasan berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Variabel motivasi memiliki signifikasi sebesar 0,407(> 0.05), berarti motivasi tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Variabel sikap memiliki signifikasi sebesar 0,085 (>0.05), berarti sikap tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Angka Adjusted R square atau koefisien determinans adalah 0,467. Hal ini berarti bahwa 46,7% pelaksanaan manajemen laktasi dapat dijelaskan oleh variasi dari dua variabel pengetahuan dan kepuasan sedangkan sisanya 53,3% dijelaskan oleh sebab-sebab lain.
Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat (Metode enter ll) Model (Constant) Pengetahuan sikap Kepuasan Beta -12.771 1.472 .146 .216 Sig .004 .000 .127 .040 Adjusted R Square

46,9 %

Variabel pengetahuan memiliki signifikasi sebesar 0,000(<0.05) kemudian variabel kepuasan p = 0,040 (<0,05) . Variabel sikap memiliki signifikasi sebesar 0,127 (>0.05) hal ini berarti sikap tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Angka Adjusted R square atau koefisien determinans adalah 0,469. Hal ini berarti bahwa 46,9% pelaksanaan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 26

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

manajemen laktasi dijelaskan oleh variasi dari dua varibel pengetahuan dan kepuasan sedangkan sisanya 53,1% di jelaskan oleh sebab-sebab lain.
Tabel 7. Model Regresi Linier Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Manajemen Laktasi oleh Bidan BPS Di Kabupaten Magetan Tahun 2011(metode enter II ) Model (Constant) Pengetahuan (X1) Kepuasan (X2) Beta -10.013 1.617 .217 Sig .013 .000 .007 Adjusted R Square 45,9 %

variabel pengetahuan memiliki signifikasi sebesar 0,000 (<0.05), kemudian variabel kepuasan memiliki signifikasi sebesar 0,007(<0.05) hal ini berarti pengetahuan berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Sedangkan angka Adjusted R square atau koefisien determinas adalah 0,459. Hal ini berarti bahwa 45,9% variabel pelaksanaan manajemen laktasi dapat dijelaskan oleh variasi dari kedua variabel bebas yaitu pengetahuan dan kepuasan kerja dan sisanya 45,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Pembahasan Pelaksanaan manajemen laktasi masa antenatal dengan kategori baik mempunyai persentase paling banyak (53,9%), Pelaksanaan manajemen laktasi masa antenatal bila terlaksana dengan baik maka berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif oleh karena dengan melaksanakan manajemen laktasi sejak kehamilan lebih menpersiapkan ibu dalam menyusui nantinya. Pelaksanaan manajemen laktasi masa intranatal dengan kategori kurang mempuyai persentase paling banyak (47,30). Pelaksanaan manajemen laktasi masa intranatal bila tidak terlaksana dengan baik maka berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena pelaksanakan manajemen laktasi sejak masa persalinan dengan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini selama 1-2 jam akan lebih berhasil dalam pemberian ASI eksklusif. Pelaksanaan manajemen laktasi masa postnatal dengan kategori kurang mempuyai persentase paling banyak (51,8%). Kegagalan pelaksanaan manajemen laktasi masa postnatal berarti kegagalan pemberian ASI eksklusif yang beresiko terjadinya kurang gizi dan penyakit infeksi pada bayi dan balita. Menurut Rosli, dengan peningkatan pemberian ASI eksklusif kepada bayi-bayi akan mengurangi masalah gizi dan kesehatan (penyakit infeksi) pada Balita. Hasil uji statistik pada variabel pengetahuan, motivasi, sikap dan kepuasan berhubungan dengan pelaksanaan manajemen laktasi menunjukkan adanya hubungan yang bermakna. Berdasarkan penelitian ini, hubungan yang paling kuat yaitu variabel pengetahuan (r= 0,645 ) dan sikap (r=0,541). Sedangkan variabel umur dan masa kerja tidak ada hubungan dengan pelaksanaan manajemen laktasi sehingga bukan merupakan variabel counfonding. Menurut Nelson dan Quick (1997) dalam Suryani mendefinisikan belajar sebagai proses yang menghasilkan perubahan pengetahuan atau perilaku yang bersifat permanen yang bersumberkan dari pengalaman. Kemampuan diri untuk mengembangkan aktivitas dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh usaha belajar, maka belajar merupakan sebuah upaya ingin mengetahui dan bagaimana harus berbuat terhadap apa yang akan dikerjakan(Tatik S ,2008) .Hasil penelitian ini menguatkan teori Gibson dan Bernardin mengenai beberapa faktor yang
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 27

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

berhubungan dengan kinerja seseorang , diantaranya pengetahuan, motivasi, kepuasan kerja, sikap, persepsi kepemimpinan, insentif,sehingga dalam upaya untuk meningkatkan kinerja bidan dalam pelaksanaan manajemen laktasi dapat dilakukan dengan upaya-upaya antara lain: untuk meningkatkan pengetahuan bidan maka bidan diharuskan mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan dan seminar yang berkaitan dengan kegiatan manajemen laktasi serta meningkatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk menambah ilmu dan wawasan serta penyegaran.Dalam upaya untuk meningkatkan sikap, motivasi serta kepuasan kerja maka organisasi IBI serta pihak dinas kesehatan perlu meningkatkan pengawasan/evaluasi dan pemantauan dalam meningkatkan pelaksanaan manajemen laktasi melalui pertemuan untuk membahas dan sharing pelaksanaan manajemen laktasi tentang kesulitan maupun keberhasilan kegiatan manajemen laktasi. Variabel pengetahuan memiliki signifikasi sebesar 0,000 (<0.05) hal ini berarti pengetahuan berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi, kemudian variabel kepuasan memiliki signifikasi sebesar 0,007(<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan, dan kepuasan kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Dari hasil uji Statistik regresi linier variabel independen yang paling berpengaruh pada variabel dependen adalah variabel pengetahuan, kemudian variabel kepuasan.Variabel yang digunakan untuk memprediksi pelaksanaan manajemen laktasi oleh bidan BPS adalah variabel pengetahuan dengan korelasi sebesar 1,617 sedangkan variabel kepuasan kerja dengan korelasi sebesar 0,271. Rumus persamaan regresi dapat digunakan memprediksi pelaksanaan manajemen laktasi adalah y = -10.013 + 1.617(X1) + 0.271 (X2) Sedangkan angka Adjusted R square atau koefisien determinas adalah 0,459. Hal ini berarti bahwa 45,9% variabel pelaksanaan manajemen laktasi dapat dijelaskan oleh variasi dari kedua variabel bebas yaitu pengetahuan dan kepuasan kerja dan sisanya 45,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka untuk lebih meningkatkan kinerja bidan BPS dalam pelaksanaan manajemen laktasi antara lain: peningkatan pengetahuan dan kemampuan bidan BPS melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang semula masih pendidikan D1 kebidanan menjadi pendidikan D3 kebidanan dan selanjutnya D4, menambah ketrampilan bagi bidan BPS dengan mengikutkan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan tugas dan wewenang bidan dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan bayi dan balita serta menbantu menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan balita. Organisasi IBI hendaknya dijadikan sarana untuk pengembangan potensi anggotanya dalam rangka penerapan standar manajemen laktasi melalui seminar, work shop dan kegiatan sejenisnya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Mayoritas umur responden dengan median 38,5 tahun dan umur min 28 dan max 67 yang merupakan kelompok usia matang dalam periode pengembangan potensi diri. Masa kerja sebagai bidan dengan median 17,0 tahun dengan masa kerja min 5 dan max 45. 2. Mayoritas responden berpengetahuan kurang, dengan motivasi dan sikap baik serta kepuasan kerja kurang, sedangkan pelaksanaan manajemen laktasi masa antenatal baik dan pelaksanaan manajemen laktasi masa intranatal maupun postnatal kurang.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 28

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

3. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, motivasi, sikap, dan kepuasan dengan pelaksanaan manajemen laktasi. 4. Secara bersama-sama pengetahuan dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap pelaksanaan manajemen laktasi 5. Pengetahuan merupakan variabel yang berpengaruh paling kuat diantara faktor faktor lain terhadap pelaksanaan manajemen laktasi. Saran 1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan a. Melaksanakan program peningkatan pengetahuan dan ketrampilan bidan BPS terkait dengan tugas dan fungsi bidan yang bersifat tambahan melalui pelatihan, terutama tentang manajemen laktasi terutama masa intranatal dan postnatal perlu ditingkatkan. b. Perlu monitoring secara rutin ke BPS untuk memantau pelaksanakan manajemen laktasi (antenatal, intranatal, postnatal ) peyediaan sarana untuk KIE kepada masyarakat seperti pemeriksaan payudara, poster/ gambar tentang manajemen laktasi, serta aturan dan saksi yang jelas bagi yang tidak melaksakan manajemen laktasi atau pemberian reward bila melaksanakan sebagai tindak lanjut UU Kesehatan No : 36 /2009. 2. Bagi Organisasi IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Organisasi IBI hendaknya memotivasi anggotanya untuk mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai persyaratan praktik bidan, dan mengikutkan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan terkait manajemen laktasi, serta mengintensifkan kegiatan supervisi pada anggotanya/ditempat bidan praktek swasta untuk memastikan apakah bidan sudah menerapkan standar pelaksanaan manajemen laktasi. 3. Bagi Bidan Peran bidan perlu ditingkatkan baik dalam pengetahuan ketrampilan dalam pelaksanaan manajemen laktasi dimulai pada anak dan remaja (menanamkan nilainilai moral tanggung-jawab sebagai ibu dengan menyusui secara eksklusif) masa antenatal (menjelaskan manfaat menyusui bagi keluarga, kerugian dari susu formula, tidak mempromosikan susu formula, merawat putting susu ibu), masa intranatal (melakukan IMD, mengajarkan cara menyusui secara eksklusif, tidak memberi dot serta memberikan kapsul vit A), masa postnatal ( Memberi informasi cara meningkatkan ASI, mengajarkan keluarga membantu ibu menyusui, mengajarkan ibu cara menyimpan ASI dan cara pemberian ASI yang di simpan, melakukan rujukan bila ada masalah menyusui, memberitahu waktu yang tepat bayi mendapat makanan pendamping) DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI, Panduan Pelaksanaan Strategi Making Pregnancy Safer dan Child Survival, Depkes, Jakarta, 2008 2. Roesli.U. (2010)Inisiasi Menyusu Dini Plus Asi Eksklusif. Pustaka Bunda. Jakarta. 3. Dinkes Prop Jatim, Profil Kesehatan Propinsi JawaTimur, Surabaya, 2009. 4. Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. Profil Kesehatan Kabupaten Magetan, Dinkes Kabupaten Magetan, 2008, 2009
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 29

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

5. Dep Kes RI. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan, Jakarta . 2010. 6. Depkes RI, Manajemen Laktasi: Buku Panduan Bagi Bidan & Petugas Kesehatan di PusKesmas, Ditjen Binkesmas, Direktorat Gizi Masyarakat, Jakarta. 2005. 7. Edmond KM,Zandoh C, Quigley MA, Amega _ etego S, Owusu-Agyei S and Kirkwood BR.Delayed breastfee/beding initiation increase risk of neonatal mortality.Pediatrics 2006,117 : 380-386. Available at:hptt://www.pediatrics.org/cgi/content/full/117/3/e380. 8. Jane Chumble, Menyusui, ,Penerbit Erlangga, Jakarta, 2003. 9. IBI. Kompetensi Bidan Indonesia. Pusdiknakes, DepKes RI Jakarta 2006. 10. Soetjiningsih, ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan, EGC. Jakarta. 1997 11. Siregar A. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Asi Oleh Ibu Melahirkan. Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan. USU. 2004. 12. Depkes RI, 2008. Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu ibu ,jakarta, Depkes, departemen dalam negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, World Health Orgazation, Jakarta. 13. Robbin, S. Organizational Behavior, Alih Bahasa Tims Indeks, Gramedia: Jakarta, 2006. 14. Gibson, et al, Organisasi : Perilaku Struktur Proses, Binarupa Aksara, Jakarta, 2010 15. Sudarmanto. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 2009. 16. Wirawan. Evaluasi Kinerja SDM. Jakarta. 2009. 17. Soeroso,S. Manajemen Sumber Daya Manusia Di Rumah Sakit, EGC. Jakarta .2002. 18. Kuswadi, Cara Mengukur Kepuasan Karyawan , Gramedia, Jakarta, 2005 19. Siagian, Sondang P. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Penerbit Rineke Cipta. Jakarta. 2004. 20. Notoatmodjo, Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta, 2003. 21. Tatik S, Perilaku Konsumen Implikasi Pada Strategi Pemasaran, Graha Ilmu. Yogyakarta. 2008. 22. Sadilli. S. Manajemen Sumber Daya Manusia, CV Pustaka Setia. Bandung . 2006. 23. Nursalam. Manajemen Keperawatan. Penerbit EGC. Jakarta, 2003. 24. Widayatun, Tri Rusmi, Ilmu Perilaku, Sagung Seto. Jakarta. 1999 25. Azwar. A, Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta. 1996. 26. Dewi .IJ, Maximun Motivation Konsep dan Implikasi Manajerial dalam Memotivasi Karyawan, Penerbit Santusta, cetakan Pertama. 2006. Purwanto, N. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya, Yogyakarta, 1993 27. Suradi R. dan Kristina P. Tobing H. Manajemen Laktasi, Perinasia, Jakarta. 2007. 28. Menkes RI, Keputusan Menteri Kesehatan tentang Standart Profesi Bidan, Depkes RI. Jakarta . 2007. 29. Depkes RI, Standart Profesi Bidan dan Registrasi Praktek Bidan, Jakarta, 2002. 30. Notoadmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka Cipta,Jakarta. 2005. 31. Ghojali, Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS, Semarang: BP UNDIP. 2005. 32. Santosa. Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2000. 33. Sugiyono. Statistika untuk penelitian, Alfabeta, Bandung. 2007.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 30

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

PENGARUH PERSALINAN SEKSIO SESAREA TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RSUD dr. SAYIDIMAN MAGETAN Agung Suharto*, N. Surtinah *, Mei Linda P** ABSTRAK Persalinan seksio sesarea adalah tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Dimana salah satu dampak dari persalinan seksio sesarea itu sendiri adalah depresif pernapasan yang akan berakibat bayi yang dilahirkan mengalami asfiksia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan rancangan penelitian ex post facto dengan total populasi sebanyak 87 persalinan seksio sesarea dengan bayi baru lahir mengalami asfiksia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independent yaitu persalinan seksio sesarea yang meliputi indikasi dari persalinan seksio sesarea dan variabel dependent yaitu asfiksia bayi baru lahir. Instrumen penelitian ini menggunkan lembar observasi. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik regresi linier sederhana dengan p = 0,05. Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan nilai p = 0,027< (p=0,05) dengan nilai Fhitung =5,052 untuk indikasi persalinan seksio sesarea sedangkan Ftabel= 3,96. Dari analisis ini menunjukkan Fhitung lebih besar Ftabel sehingga Ho ditolak yang artinya ada pengaruh indikasi persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Simpulan ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Mengingat resiko dari persalinan seksio sesarea disarankan bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan dini dan teratur dalam masa kehamilan sehingga dapat mempersiapkan proses melahirkan yang aman dan nyaman bagi sang ibu. Kata kunci : seksio sesarea, asfiksia * = Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan Kampus Magetan **= Alumnus Prodi DIII Kebidanan Kampus Magetan, Poltekkes Kemenkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Jenis persalinan ada 2 yaitu persalinan secara pervaginam dan persalinan perabdominal dengan teknik seksio sesarea. Persalinan seksio sesarea sendiri adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Wiknjosastro, 2005 : 863). Persalinan seksio sesarea dilakukan dipengaruhi oleh beberapa indikasi diantaranya indikasi ibu dan indikasi janin. Indikasi ibu antara lain disproporsi kepala panggul/CPD/FDP, disfungsi uterus, distosia jaringan lunak dan plasenta previa. Sedangkan indikasi janin antara lain janin besar, gawat janin dan letak lintang (Saifuddin, 2006 : 536). Asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur (Waspodo dkk, 2007:107). Beberapa faktor penyebab asfiksia pada bayi di antaranya faktor
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 31

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

ibu, faktor janin, faktor bayi, faktor tali pusat. Faktor ibu antara lain pre eklampsia dan eklampsia, pendarahan (plasenta previa atau solusio plasenta), partus lama atau partus macet, demam selama persalinan,infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV), kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu) (Hernawati dkk, 2007 : 2), sedangkan faktor janin antara lain gangguan aliran darah dalam tali pusat, depresi pernapasan karena obat-obat anestesi yang diberikan pada ibu, perdarahan intracranial, atresia saluran pernapasan dan kelainan bawaan (Wiknjosastro, 2005 : 710), faktor bayi antara lain bayi premature, persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep ), kelainan bawaan, air ketuban bercampur mekonium, faktor tali pusat antara lain lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus tali pusat (Hernawati dkk, 2007 : 2). Risiko yang dialami bayi baru lahir terkait persalinan dengan seksio sesarea adalah 3,5 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal (Andon Hestiantoro, 1998), dari departemen Obstetri dan Gynekologi FKUI/RSCM. Menurut Hansen dan koleganya mempublikasikan British Medical Journal Online11 Desember 2007, meneliti lebih dari 34.000 kelahiran di Denmark menemukan hampir 4 kali peningkatan resiko kesulitan bernafas pada bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea. Persalinan seksio sesarea berdampak pada ibu dan janin. Dampak pada ibu diantaranya infeksi puerperal, perdarahan, komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru dan komplikasi yang baru kemudian tampak yaitu kurang kuatnya parut pada dinding uterus, kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri (Wikjnosastro, 2005 : 870). Sedangkan dampak pada bayi diantaranya gangguan pernapasan, rendahnya system kekebalan tubuh, rentan alergi, emosi cenderung rapuh, pengaruh anestesi dan minim untuk dilakukan IMD (Erick Fransisco Kan, 2010). Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi kejadian persalinan seksio sesarea berdasarkan indikasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan 2. Mengidentifikasi kejadian asfiksia bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan 3. Mengidentifikasi kejadian indikasi seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan 4. Menganalisis pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah survei analitik, dengan rancangan ex post facto, yang . hendak meneliti hubungan antara persalinan seksio sesarea dengan kejadian asfiksia bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan Tanuh 2010. Populasi penelitian ini adalah kasus persalinan seksio sesarea dengan kriteria Apgar Score dari Rekam Medik Ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan dari tanggal 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2010. Besar populasi adalah 87 persalinan seksio sesarea dengan bayi baru lahir mengalami asfiksia. Sampel penelitian adalah total populasi. Teknik dan instrumen pengumpulan data
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 32

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi. Data diperoleh dari Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan dalam periode 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2010. Langkah awal pengumpulan data adalah meminta ijin ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan, selanjutnya melakukan pencatatan data dari rekam medik. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan dan analisa data secara deskriptif yaitu distribusi frekuensi kejadian asfiksia dan persalinan seksio sesarea. Dilanjutkan dengan uji statistik (regresi linier sederhana) untuk membuktikan pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir, dengan = 0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan data yang diperoleh kejadian persalinan seksio sesarea di RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2010 sebanyak 87 yang disebabkan oleh beberapa indikasi diantaranya letak sungsang 15 (17,2%), serotinus 13 (14,9%), PEB 17 (19,5%), CPD 10 (11,5%), fetal distress 7 (8%), partus lama 6 (6,9%), gemelli 3 (3,4%), APB 4 (4,6%), letak lintang 2 (2,3%), BSC 2 (2,3%), KPD 8 (9,2%). Secara rinci disajikan pada Gambar 4.1.
15 13 17 10 7 8 6 3 4 2 2

Gambar 1. Kejadian Persalinan Seksio Sesarea Berdasarkan Indikasi di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010 Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa dari 87 persalinan secara seksio sesarea, 64 (73,6%) bayi mengalami asfiksia sedang-ringan, 23 (26,4%) bayi mengalami asfiksia berat
26,4% Asfiksia sedang-ringan Asfiksia berat 73.6%

Gambar 2. Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010 .
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 33

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Berdasarkan data yang diperoleh dari 87 persalinan seksio sesarea didapatkan hasil indikasi letak sungsang terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan sebanyak 11 bayi (12,6%), asfiksia berat sebanyak 4 bayi (4,6%), indikasi serotinus terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan sebanyak 12 bayi (13,8%), asfiksia berat sebanyak 1 bayi (1,1%), indikasi PEB terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan seabnyak 13 bayi (14,9%), asfiksia berat sebanyak 4 bayi (4,6%), indikasi CPD terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan sebanyak 7 bayi (8,0%), asfiksia berat sebanyak 3 bayi (3,4%), indikasi fetal distress terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan sebanyak 6 bayi (6,9%), asfiksia berat sebanyak 1 bayi (1,1%), indikasi partus lama terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang ringan sebanyak 4 bayi (4,6%), asfiksia berat sebanyak 2 bayi (2,3%), indikasi gemelli terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedangringan sebanyak 3 bayi (3,4%), indikasi APB terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang ringan sebanyak 2 bayi (2,3%), asfiksia berat sebanyak 2 bayi (2,3%), indikasi letak lintang terhadap kejadian asfiksia bayi baru sedang ringan sebanyak 2 bayi (2,3%), indikasi BSC terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir sedang-ringan sebanyak 2 bayi (2,3%), indikasi KPD terhadap kejadian asfiksia sedang-ringan sebanyak 2 bayi (2,3%), asfiksia berat sebanyak 6 bayi (6,9%). Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir Menurut Indikasi Seksio Sesarea di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010 Indikasi seksio sesarea Letsu Serotinus PEB CPD Fetal distress Partus lama Gemelli APB Letak lintang BSC KPD Total Asfiksia Sedang-ringan F % F 11 12,6 4 12 13,8 1 13 14,9 4 7 8 3 6 6,9 1 4 4,6 2 3 3,4 0 2 2,3 2 2 2,3 0 2 2,3 0 2 2,3 6 64 73,6 23 Berat % 4,6 1,1 4,6 3,4 1,1 2,3 0 2,3 0 0 6,9 26,4 F 15 13 17 10 7 6 3 4 2 2 8 87 Total % 17,2 14,9 19,5 11,5 8 6,9 3,4 4,6 2,3 2,3 9,2 100

Hasil uji statistik untuk mengetahui pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir menggunakan uji regresi linier sederhana dengan bantuan komputer, didapatkan p = 0,027 lebih kecil dari p = 0,05 dan Fhitung = 5,052 lebih besar dari Ftabel = 3,96. Artinya Ho ditolak, jadi ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persalinan seksio sesarea di RSUD dr. Sayidiman Magetan disebabkan oleh beberapa indikasi diantaranya letak sungsang 17,2%,
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 34

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

serotinus 14,9%, PEB 19,5%, CPD 11,5%, fetal distress 8%, partus lama 6,9%, gemelli 3,4%, APB 4,6%, letak lintang 2,3%, BSC 2,3%, KPD 9,2%. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori menurut Saifuddin (2006 : 536) persalinan seksio sesarea disebabkan oleh indikasi CPD, disfungsi uterus, distosia jaringan lunak, plasenta previa,. Begitu juga menurut Wiknjosastro (2005 : 134) disebabkan indikasi tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi, stenosis servik/vagina, pernah seksio sesarea, pre eklampsi dan hipertensi, rupture uteri mengancam, partus lama, letak bokong (Rustam, 1998 : 118), KPD (Kasdu, 2003), indikasi janin diantaranya janin besar, gawat janin, letak lintang (Saifuddin, 2006 : 537). Dari beberapa indikasi yang menyebabkan persalinan seksio sesarea yang paling tertinggi disebabkan oleh indikasi PEB. Dimana indikasi PEB pada ibu hamil sangat besar pengaruhnya terhadap ibu sendiri dan juga janin. Akibat dari indikasi PEB terhadap janin diantaranya bayi yang dilahirkan premature dan asfiksia. Dampak terhadap ibu diantaranya pembengkakan otak sehingga timbul kejang dengan penurunan kesadaran, pembengkakan paru-paru yang dapat menyebabkan sesak napas dan bisa berakibat fatal, payah jantung dan terjadi pecahnya sel darah merah dengan penurunan kadar zat pembekuan darah. Melihat dari dampak yang diakibatkan oleh kehamilan dengan pre eklampsi berat tanpa melihat usia kehamilan persalinan harus segera diakhiri dengan tindakan seksio sesarea. Hal itu terjadi karena proses persalinan tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan persalinan secara normal melalui vaginam karena beresiko kepada indikasi medis yang harus dilahirkan secara seksio sesarea. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 87 persalinan seksio sesarea di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010, 73,6% diantaranya bayi baru lahir mengalami asfiksia sedang-ringan, 26,4% diantaranya bayi baru lahir mengalami asfiksia berat. Sesuai dengan pendapat Andon Hestiantoro (1998) bahwa risiko bayi yang dialami bayi baru lahir dengan seksio sesarea adalah 3,5 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal. Menurut Wayan Retayasa dari Wangaya Bali menyatakan angka kematian bayi akibat dari asfiksia di tingkat nasional berkisar 3% dari 100 juta bayi lahir di negara berkembang sehingga perlu penanganan yang benar agar ridak menimbulkan kecacatan bayi dan gangguan tumbuh kembangnya di kemudian hari. Perlu di ingat bagi seorang ibu untuk memilih melakukan tindakan seksio sesarea harus menjadi pilihan terakhir dalam memutuskan proses melahirkan yang akan dilakukan melihat resiko yang diakibatkan persalinan seksio sesarea. Pemeriksaan dini dan teratur dalam masa kehamilan akan sangat membantu dalam mempersiapkan prosesa melahirkan yang aman dan nyaman bagi sang ibu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing dari indikasi seksio sesarea berakibat pada bayi baru lahir mengalami asfikisia. Sesuai dengan pendapat Saifuddin (2006 : 536) yang menyatakan bahwa persalinan seksio sesarea dipengaruhi oleh beberapa indikasi diantaranya CPD, disfungsi uterus, distosia jaringan lunak, plasenta previa, janin besar, gawat janin, letak lintang. Menurut Wiknjosastro (2005 : 134), tumor jalan lahir, stenosis vagina, pernah seksio sesarea. Menurut Rustam (1998 : 118), pre eklampsi dan hipertensi, partus lama, rupur uteri mengancam, letak bokong. Menurut Kasdu (2003) KPD. Hal itu terjadi karena dari masing-masing indikasi persalinan seksio sesarea berpengaruh terhadap pernapasan bayi. CPD yaitu ketidak sesuaian antara ukuran panggul ibu dengan kepala bayi sehingga meninbulkan trauma lahir dan tekanan pada bayi yang menyebabkan gawat janin (fetal distress) begitu juga letak lintang, letak sungsang memiliki resiko terjepitnya
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 35

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

tali pusat yang mengakibatkan suplai oksigen ke bayi berkurang sehingga terjadi asfiksia begitu juga pada bayi gemelli, serotinus memiliki dampak insufisiensi plasenta atau menurunnya fungsi plasenta yang mengakibatkan suplai oksigen ke bayi menurun sehingga mengakibatkan gawat janin, PEB terjadi peningkatan tekanan darah sehingga mengganggu sirkulasi dan suplai darah ibu ke janin secara otomatis mempengaruhi suplai nutrisi dan oksigen, partus lama merupakan keadaan bayi yang lahir lebih dari batas lamanya kala II dimana keadaan umum bayi semakin menurun yang mengakibatkan fetal distress begitu juga indikasi KPD, fetal distress itu terjadi karena penurunan kondisi umum bayi hingga ke keadaan darurat janin yang dapat mengakibatkan bayi yang dilahirkan mengalami asfiksia yang merupakan manifestasi dari fetal distress, APB terjadi karena plasenta letak rendah yang mengakibatkan terlalu banyak suplai darah yang dikeluarkan sehingga suplai darah ibu ke janin menurun begitu juga suplai oksigen ke bayi juga menurun yang dapat menyebabkan gawat janin, BSC tindakan seksio sesarea yang dilakukan dimana sang ibu mempunyai riwayat pernah seksio sesarea atas indikasi medis pada penelitian ini BSC atas indikasi gagal persalinan dengan induksi. Apabila persalinan tersebut tidak dilakukan seksio sesarea akan berakibat pada janin mengalami fetal distress karena pengaruh dari induksi tersebut. Dari hasil uji regresi linier sederhana membuktikan ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Hal ini sesuai teori yang dikemukakan Wiknjosastro (2005 : 856), menyatakan bahwa anestesi pada persalinan seksio sesarea mempunyai pengaruh depresif pada pusat peranapasan janin. Sedangkan hasil penelitian ini adalah ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Pada penelitian ini didapatkan p = 0,027 lebih kecil dari p = 0,05 dan Fhitung = 5,052 lebih besar dari Ftabel = 3,96. Dengan demikian, hipotesa penelitian Ho ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir. Menurut Andon Hestiantoro (1998) menyatakan bahwa risiko yang dialami bayi baru lahir dengan seksio sesarea adalah 3,5 kali lebih besar di bandingkan dengan persalinan normal. Menurut Hansen dan koleganya mempublikasikan British Medical journal Online Desember (2007), meneliti lebih dari 34.000 kelahiran di Denmark menemukan hampir 4 kali peningkatan resiko kesulitan bernafas pada bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Kejadian persalinan seksio sesarea berdasarkan indikasi yang terbanyak adalah PEB. 2. Kejadian asfiksia bayi baru lahir secara seksio sesarea sebagian besar mengalami asfiksia sedang-ringan. 3. Kejadian persalinan seksio sesarea berdasarkan indikasi PEB terhadap asfiksia bayi baru lahir sebagian besar mengalami asfiksia sedang-ringan. 4.Ada pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap asfiksia bayi baru lahir di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2010. Saran 1. Bagi masyarakat Diharapakan dengan hasil penelitian ini masyarakat khususnyan ibu hamil lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC), sehingga kehamilan dengan resiko tinggi dapat
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 36

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

dideteksi dini dan ditangani dengan cepat dan tepat serta disarankan untuk melakukan persalinan di rumah sakit. 2. Bagi institusi pendidikan Diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk pengkajian dan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh persalinan seksio sesarea terhadap kejadian asfiksia bayi baru lahir. DAFTAR PUSTAKA Cunningham, Gary. 2005. Obstetri Williams. Jakarta : EGC Hendra dkk. 2010. Mengenal indikasi, Keuntungan dan Kerugian Seksio Sesarea. http://ummulharist.blogspot.com/2010/08/mengenal -indikasi-keuntungan dan kerugian seksio sesarea diakses tanggal 14 Maret 2011 pukul 10.00 WIB Hernawati dkk. 2007. Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir Untuk Bidan. Jakarta:Depkes RI Hestiantoro, Andon. 2010. KTI Hubungan Persalinan Seksio Sesarea dengan Kejadian Asfiksia neonatorum. http://www.kti-skripsi.com/2010/05/hubungan -sc-denganasfiksia.html diakses tanggal 1 maret pukul 19.35 WIB Hidayat, Aziz Alimul.2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika . 2009. Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita. http://books.google.co.id diakses tanggal 17 Maret 2011 pukul 13.30 Erick, Fransisco Kan. 2010. Risiko Bayi Besar. http://healthpub.net/6-resiko-bayi-besar-3919 diakses tanggal 14 Maret 2011 pukul 10.15 WIB Kasdu. 2003. Indikasi Seksio Sesarea. http://indonesiannursing.com/2008/05/konsep-seksiosesarea/ diakses tanggal 6 April 2011 pukul 21.00 WIB Manuaba dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri.Jakarta : EGC Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Perawatan. Jakarta : Salemba Medika . 2001. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto Ridwan. 2010. Jenis Asfiksia Mekanik. http://www.scribd.com/doc/40188591/ AsfiksiaHandout-Blok16-2009 diakses tanggal 24 Maret pukul 09.15 WIB Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 2. Jakarta : EGC Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YPBSP Sudjana, Nana. 1999. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung : Sinar Baru Algensindo Yuni. 2008. Konsep Dasar Teori sectio Caesarea. http.yuni.rif 87.blogspot.com/2008/06/Konsep Dasar Teori Sectio Caesarea.html

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

37

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

GAMBARAN PHBS TATANAN RUMAH TANGGA DI DESA SUKOREJO KECAMATAN KEBONSARI KABUPATEN MADIUN Heru Santoso Wahito Nugroho*, Isnatun**, Sunarto* ABSTRAK Desa Siaga diharapkan agar masyarakat mau dan mampu berperilaku hidup sehat, sehingga derajat kesehatan dapat meningkat. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran PHBS Tatanan Rumah Tangga di Desa Sukorejo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa peduli masyarakat di Desa Sukorejo terhadap perilaku hidup bersih dan sehat dan gaya hidup sehat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini tidak menggunakan sampel, tetapi penelitian ini merupakan penelitian populasi total. Variabel dalam penelitian ini adalah gambaran PHBS Tatanan Rumah Tangga di Desa Sukorejo. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Untuk mengolah dan menganalisis data dilakukan dengan cara editing, coding, tabulating, dan analizing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PHBS Tatanan Rumah Tangga di Desa Sukorejo telah dilaksanakan oleh 86,78% kepala keluarga di Desa Sukorejo. Sehingga untuk PHBS Desa Sukorejo termasuk dalam klasifikasi sehat. Sedangkan untuk GHS di Desa Sukorejo, memiliki prosentase 36,05% yang terklasifikasi sehat. Hal ini berarti sebanyak 63,95% kepala keluarga tidak memiliki gaya hidup sehat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa PHBS Tatanan Rumah Tangga di Desa Sukorejo sudah dilaksanakan oleh kepala keluarga Desa Sukorejo dengan baik. Sedangkan untuk GHS di Desa Sukorejo perlu adanya pembinaan oleh pihak-pihak kesehatan. Hal ini bertujuan agar PHBS dan GHS Desa Sukorejo meningkat, dan derajat kesehatan juga dapat meningkat. Kata Kunci: PHBS, Desa Siaga * = Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Magetan **= Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo PENDAHULUAN Latar Belakang Pembinaan PHBS di Rumah Tangga merupakan salah satu upaya strategis untuk menggerakkan dan memberdayakan keluarga atau anggota rumah tangga untuk hidup bersih dan sehat. Melalui upaya ini, rumah tangga dapat hidup bersih dan sehat. Sehingga, setiap rumah tangga dapat diberdayakan agar tahu, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan mengupayakan lingkungan yang sehat, mencegah, dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada. Setiap rumah tangga juga digerakkan untuk berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat (Depkes RI, 2006 :1-2). Jika setiap keluarga tahu, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan mengupayakan lingkungan yang sehat, mencegah, dan menanggulangi
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 38

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada maka terwujudnya sebuah desa siaga bukanlah suatu harapan saja. Pembinaan PHBS di Rumah Tangga juga ditujukan untuk mewujudkan Rumah Tangga Sehat sebagai salah satu indikator pembentuk Desa Sehat, Kecamatan Sehat, Propinsi Sehat, dan Indonesia Sehat. Oleh karena itu, berbagai upaya pemberdayaan, bina suasana, advokasi, dan penggalangan kemitraan dilakukan untuk mempercepat tercapainya Rumah Tangga sehat tahun 2010 minimal 65%. Data Survei Sosial Ekonomi Sosial tahun 2004 menunjukkan bahwa pencapaian Rumah Tangga Sehat baru berkisar 24,8% (Depkes RI, 2006:2). Kabupaten Madiun pada tahun 2010 menunjukkan pencapaian PHBS dalam Rumah Tangga 48%. Dari hasil studi pendahuluan di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari di salah satu RT yaitu RT 9 didapatkan hasil bahwa PHBS Tatanan Rumah Tangga 29 %, pencapaian PHBS Tatanan Rumah Tangga klasifikasi PHBS 86%, pencapaian PHBS Tatanan Rumah Tangga klasifikasi GHS 32%. Menurut data di atas masih banyaknya rumah tangga yang belum berperilaku hidup bersih dan sehat, mencerminkan belum tercapainya desa siaga. Padahal desa di Kabupaten Madiun sudah 100% menjadi desa siaga (Dinkes Jatim, 2006). Dari timbulnya masalah kesehatan tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat) untuk mewujudkan masyarakat desa siaga yang dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam tatanan rumah Tangga (individu dan keluarga). Menurut hasil sementara pencapian PHBS di Tatanan Rumah Tangga di Desa Sukorejo, pada kenyataanya kegiatan desa siaga (khususnya dalam ber-PHBS di Tatanan Rumah Tangga) masih rendah atau belum berjalan dengan baik. Desa Sukorejo termasuk proyek desa siaga, karena baru mencapai tahap bina, masih jauh dari harapan menjadi desa siaga. Adanya kebijakan penyelenggaraan PHBS di Rumah Tangga dan dukungan untuk 7 indikator PHBS dan 3 indikator GHS sebagian sudah berjalan, tetapi tindak lanjut kegiatan masih ada kendala. Selain itu kehadiran kader yang telah dilatih PHBS di Rumah Tangga kurang membuat anggota keluarga termotivasi untuk melakukan PHBS. Hal ini dikarenakan selain frekuensi penyuluhan PHBS di Rumah Tangga jarang, juga tidak inovatifnya kader dalam pembinaan PHBS di Rumah Tangga. Masih banyaknya keluarga yang memilih BAB di sungai, merokok di dalam rumah, dan masih rendahnya kesadaran penimbangan bayi, merupakan bukti bahwa keluarga belum memahami dengan benar masalah kesehatan yang dihadapi atau yang mengancam. Dapat dilihat bahwa kegiatan desa siaga melalui ber-PHBS di Tatanan Rumah Tangga di desa Sukorejo belum bisa berjalan dengan baik, oleh karena itu perlu dikaji tentang indikator keluaran (output) PHBS Tatanan Rumah Tangga. Sudah dicanangkannnya desa siaga seharusnya di setiap rumah tangga melaksanakan dan menyadari bahwa berperilaku hidup bersih dan sehat adalah masalah yang serius. Agar setiap keluarga sadar, masyarakat perlu tahu keadaan keluarga dari potensi desanya (PODES). Salah satu potensinya adalah mencakup PHBS, untuk itu perlu identifikasi persentase cakupan PHBS sebelum melihat masalah kesehatan di desa dalam bentuk survei. Desa siaga tidak berfungsi dengan baik akan berakibat: Angka kesakitan tinggi, AKI meningkat, AKB meningkat, CBR meningkat, gizi buruk meningkat, kegawatdaruratan KIA meningkat, KLB meningkat, dan kesadaran masyarakat ber-PHBS rendah khususnya dalam tatanan rumah tangga. apabila desa siaga sudah dapat berjalan dengan baik, maka akan ada
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 39

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

perubahan perilaku hidup sehat, sehingga: Angka kesakitan menurun, AKI menurun, AKB menurun, CBR menurun, gizi buruk menurun, kegawatdaruratan KIA rendah, KLB menurun, dan kesadaran masyarakat ber-PHBS tinggi khususnya dalam tatanan rumah tangga. Tingginya angka kesakitan yang akhir-akhir ini ditandai dengan munculnya kembali berbagai berbagai penyakit lama seperti malaria dan tuberkulosis paru, merebaknya berbagai penyakit baru yang bersifat pandemik seperti HIV/AIDS, SARS, dan flu burung, serta belum hilangnya penyakit-penyakit endemis seperti diare dan demam berdarah merupakan bukti bahwa perilaku hidup bersih dan sehat masih rendah (Depkes RI, 2007:2-5). Selain itu masyarakat dapat diberdayakan menuju Kadarzi dan PHBS, penyehatan lingkungan, serta pelayanan kesehatan dasar (bila diperlukan) (Depkes RI, 2007:18). Kegiatan pokok yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan di atas yaitu strategi advokasi dengan cara mengembangan kebijakan yang mendukung pembangunan kesehatan melalui konsultasi pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain kepada para pengambil keputusan baik dalam kalangan pemerintah, swasta, maupun pemuka masyarakat. Kemudian untuk strategi yang kedua yaitu strategi Bina Suasana yaitu, mengembangan potensi budaya masyarakat dengan mengembangkan kerja sama lintas sektor, termasuk organisasi kemasyarakatan, keagamaan, pemuda, wanita, serta kelompok media massa. Kemudian mengembangkan penyelenggaraan penyuluhan mengembangkan media dan sarana, mengembangkan metode dan teknik, serta hal-hal lain yang mendukung penyelenggaraan penyuluhan. Strategi yang ketiga yaitu strategi gerakan masyarakat dapat dilakukan dengan; 1) pendekatan kepada kelompok sasaran, 2) kegiatan penyuluhan langsung atau melalui media, baik kepada perorangan, kolompok, maupun masyarakat luas, 3) pengkajian masalah di daerah binaan PHBS, 4) pelatihan/orientasi bagi petugas kesehatan LS, LSM, dan kelompok provesi (Depkes, 2000:20). Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi indikator PHBS dalam program PHBS Tatanan Rumah Tangga. 2. Mengidentifikasi indikator GHS dalam program PHBS Tatanan Rumah Tangga. METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif ini dilaksanakan di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun, karena desa Sukorejo merupakan pilot project kegiatan desa siaga, tetapi kegiatan berperilaku hidup bersih dan sehat belum dapat berjalan dengan baik. Penelitian dimulai pada 14 Februari 26 Februari 2011. Pengumpulan data dilaksanakan bulan FebruariMaret 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian populasi total, sehingga tidak menggunakan sampel. Variabel penelitian ini adalah keberhasilan desa siaga Desa Sukorejo berdasarkan pelaksanaan PHBS Tatanan Rumah Tangga. Langkah-langkah pengumpulan data variabel adalah: 1) Izin dari Kesbang Linmas untuk mengadakan penelitian, 2) Mengadakan koordinasi dengan koordinator desa siaga di Puskesmas, 3) Pemberitahuan kepada Kepala Desa, 4) Pemberitahuan kepada pengurus desa siaga, 5) Mengumpulkan catatan dan dokumen desa siaga, 6) Pengisian kuesioner PHBS Tatanan Rumah Tangga. Setelah semua data terkumpul
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 40

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

selanjutnya dilakukan pengolahan data (editing, coding, dan tabulating), kemudian diakhiri dengan analisa data secara deskriptif berupa distribusi frekuensi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Tabel 1. Keberhasilan Pelaksanaan 10 Indikator PHBS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indikator Persalinan (ditolong nakes) ASI eksklusif (mendapat ASI saja pada usia 0-6 bulan) Menimbang bayi atau balita Mencuci tangan dengan air bersih Penggunaan air bersih Penggunaan jamban sehat Pemberantasan jentik nyamuk Makan sayur dan buah setiap hari Melakukan aktifitas fisik setiap hari Tidak merokok di dalam rumah Kesimpulan 100,00 (sehat) 93,67% (sehat) 98,8% (sehat) 96,00% (sehat) 99,22% (sehat) 93,55% (sehat) 97,38% (sehat) 84,80% (sehat) 93,55% (sehat) 42,66% (tidak sehat)

Pelaksanaan 10 Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga Berdasarkan Indikator Output (Tabel 1), tampak bahwa pada lima indikator tertinggi, angka sempurna (100%) yaitu persalinan. Begitu juga penggunaan air bersih cukup sempurna yaitu 99,22%. Sedangkan indikator menimbang, PSN, dan cuci tangan memiliki persentase 98,8%, 97,38%, dan 96%. Sedangkan untuk 5 indikator terbawah tetapi memiliki persentase cukup tinggi yaitu indikator ASI Eksklusif (93,6%), penggunaan jamban sehat (93,55%), dan aktifitas fisik (93,55%). Untuk hasil yang perlu peningkatan adalah indikator mengenai makan sayur dan buah (84,8%), juga ada yang perlu perhatian khusus yaitu tidak merokok (hanya 42,66%). Hal ini harus ditangani secara berkesinambungan agar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga dapat meningkat.
Tabel 2. Keberhasilan Pelaksanaan Indikator Komposit PHBS dan GHS No Indikator 1 PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat): indikator 1-7 2 GHS (Gerakan hidup sehat): indikator 8-10 Kesimpulan 86,78% (sehat) 36,05 (tidak sehat)

Pelaksanaan Indikator Komposit PHBS dan GHS Tatanan Rumah Tangga Berdasarkan Indikator Gabungan (Tabel 2), menunjukkan bahwa Desa Sukorejo diklasifikasikan sehat dalam indikator komposit PHBS (gabungan 1-7), karena memiliki persentase yang tinggi. Sebaliknya untuk indikator GHS (gabungan 8-10) diklasifikasikan tidak sehat. Pembahasan Keberhasilan desa siaga di Desa Sukorejo berdasarkan indikator output, diukur dari pelaksanaan 10 indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga. Pelaksanaan kesepuluh indikator secara umum sudah dijalankan anggota keluarga dengan baik. Ini dapat dilihat dari persentase masing-masing indikator dengan rata-rata 86,78%. Untuk indikator persalinan, dari 197 ibu bersalin, 100% telah ditolong oleh tenaga kesehatan. Ini menggambarkan bahwa anggota rumah tangga khususnya ibu hamil mengerti
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 41

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

pentingnya proses persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. Dari target pencapaian indikator Indonesia Sehat 2010, pencapaian persentase persalinan harus mencapai 90%, maka dapat disimpulkan bahwa indikator persalinan telah tercapai, maka persalinan di Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hasil sempurna ini wajib untuk dipertahankan agar desa lain dapat mencontoh, supaya angka kematian bayi dan ibu bisa diturunkan. Untuk indikator penggunaan air bersih, dari 1226 KK, ada 7 KK yang tidak menggunakan air bersih (0,57%) dan sekitar 1219 KK (99,43%) sudah menggunakan air bersih. Ini menggambarkan bahwa ada beberapa anggota rumah tangga belum mengerti pentingnya penggunaan air bersih dalam aktifitas sehari-hari. Padahal jika anggota rumah tangga masih menggunakan air kali yang masih kotor untuk mencuci, untuk mandi, atau bahkan untuk minum, hal tersebut akan membahayakan anggota rumah tangga tersebut. Penyakit tidak dapat dihindarkan pastinya, seperti penyakit kulit. Jika meminumnya meskipun sudah dimasak terlebih dulu karena tidak jernih bisa saja akan sakit perut. Hal tersebut akan menimbulkan masalah kesehatan bagi rumah tangga. Dengan banyaknya KK yang sudah sadar, Desa Sukorejo masuk dalam kelompok sehat. Klasifikasi tersebut mengacu pada target pencapaian indikator Indonesia Sehat 2010 bahwa pencapaian persentase penggunaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari adalah 85%. Hasil baik ini perlu dipertahankan agar anggota rumah tangga yang belum menggunakan air bersih mulai sadar untuk menggunakan air bersih. Bertujuan agar penyakit yang timbul akibat tidak menggunakan air bersih dapat berkurang bahkan bisa dihindari. Menurut Depkes RI (2006:7) desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Persentase yang tinggi ini sebagai bukti bahwa rumah tangga di Desa Sukorejo mau dan mampu hidup sehat (dalam hal penggunaan air bersih). Untuk indikator penimbangan bayi atau balita, dari 198 ibu bayi atau balita, hampir semua telah melakukan penimbangan di posyandu (98,98%). Ini menggambarkan bahwa ibu bayi atau balita tersebut tahu dan mengerti bahwa menimbang bayi atau balita penting untuk mengontrol berat badan bayi atau balita mereka. Agar nantinya tidak ada bayi/balita yang memiliki penyakit obesitas atau kekurangan gizi. Dari target pencapaian indikator Indonesia Sehat 2010 bahwa pencapaian persentase menimbang bayi atau balita adalah 80%, maka Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil yang sempurna dan wajib untuk dipertahankan agar ibu-ibu di desa lain dapat mencontoh dengan tujuan supaya pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita dapat dipantau dengan baik. Untuk indikator pemberantasan jentik nyamuk, dari 1226 KK, 1194 KK telah sadar untuk memberantas jentik nyamuk. Ini menggambarkan bahwa 97,38% KK mengerti pentingnya pemberantasan jentik nyamuk. Nyamuk yang akhir-akhir ini menimbulkan banyak masalah, akan berakibat serius jika KK tidak memberantas jentik nyamuk. Dari penyakit malaria, demam berdarah, dan cikungunya, yang semuanya akibat nyamuk. Penyakit-penyakit tersebut dapat dihindari atau diperkecil persentasenya jika pemberantasan jentik nyamuk rutin dilakukan oleh anggota rumah tangga khususnya. Seperti yang dinyatakan oleh Depkes RI (2007:53) bahwa PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau, dan mampu mempraktekkan PHBS untuk memelihara dan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 42

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam penggerakkan dan kesehatan masyarakat. Apabila tiap rumah tangga sadar, mau, dan mampu memberdayakan anggota rumah tangga untuk memberantas nyamuk khususnya, maka penyakit-penyakit yang dapat diakibatkan nyamuk di atas dapat dicegah dan dapat dihindari. Sejalan dengan banyaknya KK yang sudah sadar dan mau memberantas nyamuk, Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Kondisi ini layak dipertahankan agar desa lain atau masyarakat Indonesia umumnya dapat terhindar dari penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk. Untuk indikator penggunaan air bersih dan sabun untuk mencuci tangan, dari 1226 KK, 43 KK (4%) yang tidak menggunakan air bersih dan sabun. Hasil tersebut menggambarkan bahwa ada beberapa anggota rumah tangga belum mengerti pentingnya penggunaan air bersih dan penggunaan dalam mencuci tangan. Padahal jika anggota rumah tangga masih menggunakan yang masih kotor dan tidak menggunakan sabun untuk mencuci tangan hal tersebut akan membahayakan anggota rumah tangga tersebut. Penyakit tidak dapat dihindarkan pastinya, apalagi jika sebelum makan dan setelah BAB tidak menggunakan air bersih dan sabun. Kuman dari kuku dan tangan akan bebas masuk mulut jika tidak menggunakan sabun dan air bersih untuk mencuci tangan. Hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi anggota rumah tangga. Sejalan dengan banyaknya KK yang sudah sadar dan mau menggunakan air bersih dan sabun untuk mencuci tangan yaitu sebanyak 96% Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil yang mendekati sempurna dan baiknya dipertahankan agar anggota rumah tangga yang belum menggunakan air bersih dan sabun dalam mencuci tangan mulai sadar untuk menggunakan air bersih dan sabun. Bertujuan agar anggota rumah tangga terhindar dari penyakit yang ditimbulkan oleh tangan yang kotor. Pelaksanaan pemberian ASI eksklusif adalah 93,6%. Hasil tersebut menggambarkan bahwa ibu bayi sudah mengerti pentingnya ASI pada usia 0-6 bulan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa dalam indikator ASI Eksklusif, dari 79 ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Dari target pencapaian indikator Indonesia Sehat 2010 bahwa pencapaian persentase ASI eksklusif harus mencapai 100%. Mengacu pada target tersebut, maka ASI eksklusif di Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil yang sempurna dan wajib untuk dilaksanakan oleh ibu seluruh Indonesia umumnya, agar pertumbuhan dan perkembangan bayi tidak terganggu. Selain itu daya tahan bayi terhadap penyakit lebih tinggi, sehingga bayi tidak mudah sakit dan akan lebih aktif. Mengenai penggunaan jamban sehat, dari 1226 KK, 1147 KK (93,55%) belum menggunakan jamban sehat. Ini menggambarkan bahwa ada 79 KK (6,45%) belum mengerti pentingnya penggunaan jamban sehat. Padahal jika anggota rumah tangga masih memilih menggunakan sungai untuk BAB akan membahayakan penduduk sekitar atau pengguna air sungai. Bebagai penyakit tidak dapat dihindarkan jika kebiasaan BAB sembarangan masih sering dilakukan. Hal ini akibat dari kuman kotoran dari BAB yang akan menyebar. Ada beberapa anggota rumah tangga yang masih BAB di sungai beralasan bahwa sudah terbiasa, jika tidak di sungai tidak nyaman. Selain itu karena masalah ekonomi, ada beberapa rumah yang tidak memiliki jamban sehat karena tidak memiliki biaya untuk membangun jamban
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 43

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

sehat. Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat kesehatan adalah hal yang sangat penting. Sejalan dengan banyaknya KK yang sudah sadar dan mau menggunakan jamban sehat yaitu sebanyak 93,55% Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil yang mendekati sempurna dan baiknya ditingkatkan agar anggota rumah tangga yang belum menggunakan jamban sehat mulai sadar untuk menggunakan jamban. Anggota rumah tangga di Desa Sukorejo yang melakukan aktfvitas fisik setiap harinya termasuk besar yaitu 1147 KK (93,55%). Ini menunjukkan bahwa masyarakat mengerti pentingnya olahraga atau aktifitas fisik setiap hari, baik aktifitas ringan, sedang, maupun berat. Setidaknya aktifitas fisik tersebut rutin dilakukan oleh anggota rumah tangga, agar kesehatan anggota rumah tangga terjaga. Mungkin sebagai langkah untuk meningkatkan minat dalam melakukan aktifitas fisik, beberapa bulan sekali di posyandu setempat melakukan senam bersama atau jalan santai tiap minggunya. Sehingga masyarakat merasa termotivasi untuk melakukan olahraga atau aktifitas fisik setiap harinya. Sejalan dengan banyaknya KK yang sudah sadar beraktifitas fisik, maka Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil cukup baik dan ada baiknya ditingkatkan agar kesehatan anggota rumah tangga khususnya di Desa Sukorejo dapat terjaga. Tentang konsumsi sayur dan buah setiap hari, dari 1226 KK, 1040 KK belum rutin mengonsumsi sayur dan buah setiap hari. Ini menggambarkan bahwa 84,8% KK mengerti pentingnya konsumsi sayur dan buah untuk tubuh dalam kesehariannya. Ada berbagai alasan KK belum rutin untuk mengonsumsi sayur dan buah, salah satunya yaitu kurang tahu pentingnya sayur dan buah dalam proses metabolisme tubuh, kandungan zat-zat yang ada dalam sayuran dan buah-buahan sangat dibutuhkan tubuh untuk aktivitas setiap hari. Selain itu masalah harga buah-buahan cenderung mahal yang membuat anggota rumah tangga jarang mengosumsi buah-buahan khususnya. Sejalan dengan banyaknya KK yang sudah sadar dan mau mengosumsi sayur dan buah, maka Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat. Hal ini merupakan hasil yang cukup baik dan sebaiknya ditingkatkan agar nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh dapat terpenuhi setiap hari. Di lingkungan keluarga Desa Sukorejo, untuk aktivitas merokok, dari 1226 KK, hanya 523 KK yang sadar akan bahaya asap rokok terhadap anggota keluarga lainnya. Hasil tersebut menggambarkan bahwa 42,65% KK belum mengerti bahaya asap rokok dan bahaya rokok itu sendiri, padahal 90% perokok pasif-lah yang menerima akibat jika berdekatan dengan perokok aktif. Ini sangat membahayakan anggota keluarga lain jika kegiatan merokok masih dilakukan di dalam rumah, karena rumah memiliki ruang-ruang terbatas sehingga asap dari rokok tidak akan keluar. Akibatnya anggota rumah tangga lain yang tidak merokok dapat menghirup asap rokok tersebut, terlebih lagi jika ada bayi atau balita di dalam rumah tersebut. Terkait dengan hal tersebut, perlu sosialisasi dari petugas kesehatan dan kesadaran dari perokok itu sendiri bahwa merokok dan merokok di dalam rumah adalah aktivitas yang dapat mengancam kesehatan anggota rumah tangga dan kesehatan perokok itu sendiri. Meskipun akibat merokok tidak dapat langsung dirasakan, hal ini seharusnya dapat menjadikan perokok sadar. Menurut Dinkes RI (2006:6) pengeluaran biaya rumah tangga dapat dialihkan untuk pemenuhan gizi keluarga, biaya pendidikan, dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. Seperti halnya kegiatan merokok yang tidak memiliki manfaat, sebaiknya biaya untuk merokok digunakan untuk usaha peningkatan kesehatan keluarga.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 44

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Penilaian indikator komposit PHBS (gabungan 1- 7) cukup tinggi (97,07%), sehingga Desa Sukorejo diklasifikasikan sehat. Hal ini dapat dilihat dari masing-masing persentase dari persalinan, pemberian ASI eksklusif, menimbang, cuci tangan dengan air bersih, penggunaan jamban sehat, dan pemberantasan jentik nyamuk. Persentase tersebut mendekati sempurna, sehingga dapat dikategorikan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat Desa Sukorejo sangat tinggi. Seperti yang disampaikan Depkes RI (2006:7) bahwa desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Dari target pencapaian indikator Indonesia Sehat 2010 bahwa pencapaian persentase indikator komposit PHBS harus mencapai 65%. Mengacu pada target tersebut, maka indikator komposit PHBS di Desa Sukorejo diklasifikasikan dalam kelompok sehat.Sehingga dengan hasil persentase PHBS yang tinggi di Desa Sukorejo yaitu 86,7%, penduduk desa tersebut memiliki kesiapan sumber daya (terutama sumber daya manusia) yang siap dan sadar mengatasi masalah kesehatan. Kesadaran penduduk yang tinggi ini menjadi modal besar untuk peningkatan kesehatan masyarakat. Penilaian indikator komposit GHS (gabungan 8-10) ternyata rendah. Jika tidak ada penyuluhan secara rutin, ada kemungkinan anggota rumah tangga semakin tak peduli dengan kesehatan dan bahaya dari asap rokok khususnya. Padahal menurut Depkes RI (2009:3) manfaat gaya hidup sehat adalah kondisi tubuh menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, aktivitas sehari-hari jadi lebih lancar dan tampil lebih menarik, lebih produktif, dan dapat terhindar dari berbagai macam penyakit tidak menular seperti jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, paru kronis, dan keropos tulang. Begitu pentingnya gaya hidup sehat, harusnya membuat masyarakat khususnya kepala keluarga sadar. Agar kedepannya tingkat gaya hidup sehat di Desa Sukorejo (khususnya) dapat menjadi baik. SIMPULAN DAN SARAN 1. 2. 1. Simpulan penelitian ini adalah: Berdasar indikator output PHBS Tatanan Rumah Tangga, ada 5 indikator dengan persentase tertinggi yaitu persalinan, penggunaan air bersih, menimbang bayi dan balita, pemberantasan jentik nyamuk, dan mencuci tangan. Berdasarkan indikator komposit, indikator PHBS dikategorikan sehat dan indikator GHS dikategorikan tidak sehat. Selanjutnta diajukan saran sebagai berikut: Berdasar indikator output PHBS Tatanan Rumah Tangga, indikator-indikator yang termasuk 5 terbawah menjadi data sebagai bahan koreksi untuk menjalankan program-program peningkatan pada indikator yang masih memiliki persentase rendah. Bertujuan agar, derajat kesehatan semua kepala keluarga Desa Sukorejo meningkat. Berdasarkan hasil data mengenai indikator komposit PHBS, persentase yang tinggi baiknya tidak membuat tenaga kesehatan lantas diam begitu saja tetapi tetap memberikan pembinaan rutin terhadap masyarakat dan anggota rumah tangga agar perilaku hidup bersih dan sehat dapat ditingkatkan. Selain hal itu disarankan agar semua kepala keluarga dapat mempertahankan serta meningkatkan PHBS mereka.
45

2.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

3. Berdasarkan data Indikator Komposit GHS, kesadaran untuk bergaya hidup sehat kepala keluarga Desa Sukorejo masih rendah. Hal ini menjadi koreksi dan semangat untuk kader dan institusi kesehatan lebih rutin mengadakan pembinaan dan pelatihan PHBS di Rumah Tangga. Tidak hanya sekedar pembinaan lewat lisan saja, diharapkan tenaga kesehatan dapat menyebarkan brosur atau spanduk tentang pentingnya gaya hidup sehat. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2006. Panduan Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga Melalui Tim Penggerak PKK. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Depkes RI. 2007. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten Sehat. Jakarta: Departemen Kesehatan. Depkes RI. 2009. Lakukan Gaya Hidup Sehat Mulai Sekarang. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Depkes RI. 2009. Panduan Peneningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga Bagi Petugas Puskesmas. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Dinkes Provinsi Jatim. 2008. Buku Pedoman Pengembangan Desa Siaga Bagi Kader. Dinkes Provinsi Jatim. 2007. Pedoman Pengembangan Desa Siaga. Hati. 2008. Pengaruh Stategi Promosi Kesehatan Terhadap Tingkat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Tatanan Rumah Tangga. http//pengaruh-strategi-promosi. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 16.45. Narbuko. dan A. Achmadi. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Malkiwi, dkk. 2000. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Untuk Petugas Puskesmas. Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

46

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

RISIKO RIWAYAT SEKSIO SESAREA TERHADAP KEJADIAN RETENSIO PLASENTA DI RSUD KOTA MADIUN Sunarto*, Dwi Fitriani** ABSTRAK Hampir separuh plasenta pada wanita dengan riwayat seksio sesarea memperlihatkan perlekatan serat-serat miometrium secara mikroskopis dan terdapat peningkatan implantasi plasenta diluar area insisi terdahulu yang dapat meningkatkan kejadian retensio plasenta pada persalinan yang akan datang. Ibu dengan riwayat seksio sesarea, sebaiknya melahirkan secara seksio sesarea pada persalinan berikutnya, karena selain untuk menghindari terjadinya ruptur uteri, ibu juga dapat terhindar dari resiko terjadinya retensio plasenta. Penelitian case control ini berlokasi di RSUD Kota Madiun, dengan sampel kasus total populasi 43 orang dan besar sampel kontrol sama yang diambil dengan teknik simple random sampling. Data sekunder diambil dari buku register persalinan dan rekam medik RSUD Kota Madiun tahun 2009-2010. Data yang telah ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan besar persentase kasus dan kontrol dihitung dengan odd ratio. Hasil penelitian adalah: 1) ibu bersalin dengan riwayat seksio sesarea: 14 (16,28%), sedangkan yang tidak beriwayat seksio sesarea: 72 (83,72%), 2) ibu bersalin dengan retensio plasenta: 43 (50%) dan yang tak mengalami retensio plasenta: 43 subyek (50%), 3) ibu bersalin dengan retensio plasenta: 11 (25,58%) terjadi pada ibu dengan riwayat seksio sesarea, dan yang tidak mengalami retensio plasenta tetapi berasal dari riwayat seksio sesarea sebanyak 3 orang (7%), sedangkan ibu bersalin tanpa riwayat seksio sesarea yang mengalami retensio plasenta sebanyak 32 orang (74,42%), dan yang tidak mengalami retensio plasenta sebanyak 40 orang (93%), 4) Hasil odd ratio: kejadian retensio plasenta 4,58 kali lebih besar dibandingkan yang tidak retensio plasenta terhadap paparan seksio sesarea. Simpulan penelitian adalah 1) proporsi kejadian retensio plasenta di RSUD Kota Madiun sebanyak 43 orang (50%) dari 86 orang, di mana 11 orang (25,58%) diantaranya dari pajanan riwayat seksio sesarea, 2) ibu bersalin dengan riwayat seksio sesarea adalah 16,28%, 3) kejadian retensio plasenta 4,58 kali lebih besar dibandingkan yang tidak retensio plasenta terhadap paparan seksio sesarea. Selanjutnya disarankan: tindakan-tindakan preventif terhadap retensio plasenta dengan riwayat seksio sesarea, seperti meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, mengoptimalkan pelaksanaan program pemerintah yaitu KB dan meningkatkan penerimaan KB, melakukan pengawasan seksama pada kehamilan dengan riwayat seksio sesarea melalui ANC minimal 4 kali. Kata kunci: seksio sesarea, retensio plasenta *= Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Magetan **= Alumnus dari Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Magetan PENDAHULUAN Latar Belakang Target Millenium Development Goals (MDGs) untuk kesehatan ibu tahun 2015 adalah menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) dari 125 kematian per 100.000 kelahiran hidup
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 47

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

menjadi 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Di kawasan negara Asia Tenggara, Indonesia mempunyai angka kematian ibu yang paling tinggi (Saifuddin Abdul Bari, 2001). Penyebab kematian ibu di negara berkembang termasuk Indonesia sebagian besar adalah perdarahan, sepsis, eklampsia, dan sebagian kecil karena faktor lain pada saat kehamilan, persalinan, dan nifas. Dari ketiga penyebab tersebut, perdarahan merupakan penyebab utama kematian ibu. Menurut hasil penelitian Bonnar (2000) dalam Cunningham (2005) bahwa separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh proses post partum. Etiologi yang spesifik, seperti atonia uteri, retensio plasenta termasuk plasenta akreta dan variannya, serta laserasi traktus genetalia, merupakan penyebab sebagian besar kasus perdarahan post partum. Sedangkan dalam penelitian Zelop, dkk (1993) dalam Cunningham (2005) memberikan gambaran bahwa dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta yang merupakan salah satu penyebab terjadinya retensio plasenta, telah menduduki peringkat kedua setelah atonia uteri sebagai penyebab tersering perdarahan post partum. Insiden plasenta akreta, inkreta, dan perkreta tersebut telah meningkat karena meningkatnya angka seksio sesarea (Cunnigham, 2005). Hordordottir, dkk (1996) dalam Cunningham (2005) mengamati bahwa hampir separuh plasenta pada wanita dengan riwayat seksio sesarea memperlihatkan perlekatan serat-serat miometrium secara mikroskopis dan terdapat peningkatan implantasi plasenta diluar area insisi terdahulu yang dapat meningkatkan kejadian retensio plasenta pada persalinan yang akan datang. Dengan melihat berbagai fakta tersebut, diharapkan ibu dengan riwayat seksio sesarea, sebaiknya melahirkan secara seksio sesarea pada persalinan berikutnya, karena selain untuk menghindari terjadinya ruptur uteri, ibu juga dapat terhindar dari resiko terjadinya retensio plasenta. Perdarahan pasca salin merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu dalam persalinan. Angka kejadian kasus perdarahan yang dilaporkan di negara berkembang berkisar antara 10%-15% yaitu 4% setelah persalinan pervaginam, 6%-8% setelah persalinan dengan bedah sesar (Norwitz,2007). Berdasarkan penyebab perdarahan diperoleh sebaran sebagai berikut, atonia uteri 50%-60%, retensio plasenta 16%-17%, sisa plasenta 23%-24%, laserasi jalan lahir 4%-5%, kelainan darah 0,5%-0,8% (Mochtar, 1998). Waspodoo Djoko, dkk (2002) melaporkan bahwa 25% dari seluruh kematian maternal di negara berkembang disebabkan karena perdarahan pasca salin. Menurut AAFP (2000/2001) dalam Chapman Vicky ((2006) bahwa insiden retensio plasenta terjadi pada 3% kelahiran pervaginam. Disebutkan pula bahwa 22% kematian obstetrik langsung di Indonesia disebabkan oleh perdarahan pasca salin, dengan retensio plasenta sebagai penyebab perdarahan pasca salin tersebut (Manuaba, 1998). Dari data buku register persalinan dan rekam medik RSUD Kota Madiun tahun 20092010 didapatkan 43 (13,83%) ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta. AAFP (2000/2001) dalam Chapman Vicky (2006) menjelaskan bahwa retensio plasenta dan manajemennya (pengangkatan manual) bisa memberikan efek negatif pada kualitas kontak ibu dan bayi yang baru dilahirkan maupun kesehatan postpartumnya. Retensio plasenta dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk berdekatan, menyusui, dan berkenalan dengan bayi barunya serta dalam jangka panjang bisa menyebabkan ibu anemis dan nyeri. Pada kasus berat menyebabkan perdarahan akut, infeksi, perdarahan postpartum sekunder, histerektomi, dan bahkan kematian maternal. Plasenta yang terlalu melekat, walaupun jarang dijumpai, memiliki makna klinis yang cukup penting karena morbiditas dan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 48

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

mortalitas yang ditimbulkan oleh perdarahan berat dan perforasi uterus (Cunningham,2005). Dalam penelitian ini peneliti tidak berupaya untuk menurunkan angka kejadian retensio plasenta, tetapi untuk mengetahui seberapa besar resiko riwayat seksio sesarea terhadap kejadian retensio plasenta. Salah satu konsep solusi yang digunakan untuk menurunkan angka kejadian retensio plasenta adalah perlu adanya upaya preventif retensio plasenta oleh bidan atau tenaga kesehatan antara lain meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, melakukan konsep penatalaksanaan menajemen kala III secara cermat, hati-hati dan teliti yaitu tidak melakukan masase pada saat melakukan pertolongan persalinan kala III, karena masase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim dan mengganggu pelepasan plasenta. Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi kejadian retensio plasenta 2. Mengidentifikasi riwayat seksio sesarea pada persalinan sebelumnya 3. Menganalisis besarnya resiko riwayat seksio sesarea terhadap kejadian retensio plasenta METODE PENELITIAN Penelitian analitik observasional dengan rancangan case control ini berlokasi di RSUD Kota Madiun. Sampel kasus dalam penelitian ini adalah total populasi sebesar 43 orang dan sampel kontrol disamakan dengan jumlah kasus, diambil dengan teknik simple random sampling sebesar 43 orang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan mengamati data tentang kejadian retensio plasenta dan riwayat seksio sesarea yang diambil dari buku register persalinan dan rekam medik RSUD Kota Madiun tahun 2009-2010. Data yang telah ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan besar persentase kasus dan kontrol dihitung dengan odd ratio. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Dari data yang terkumpul yaitu sebanyak 86 subyek, didapatkan bahwa jumlah ibu bersalin dengan riwayat seksio sesarea sebanyak 14 subyek (16,28%), sedangkan ibu bersalin yang tidak mempunyai riwayat seksio sesarea sebanyak 72 subyek (83,72%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin Berdasarkan Riwayat Seksio Sesarea Di RSUD Kota Madiun Tahun 2009-2010 No. Riwayat SC 1. Mempunyai riwayat SC 2. Tidak mempunyai riwayat SC JUMLAH Frekuensi 14 72 86 Persentase 16,28% 83,72% 100%

Dari 86 subyek diperoleh data bahwa, ibu bersalin yang melahirkan dengan retensio plasenta sebanyak 43 subyek (50%) dan ibu bersalin yang tidak mengalami retensio plasenta sebanyak 43 subyek (50%).
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 49

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kejadian Retensio Plasenta di RSUD Kota Madiun Tahun 2009-2010 No. 1. 2. Kejadian Retensio Plasenta Retensio Plasenta Tidak Retensio Plasenta JUMLAH Frekuensi 43 43 86 Persentase 50% 50% 100%

Hasil pengumpulan data yang kami lakukan dari 86 subyek, didapatkan ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta sebanyak 11 orang (25,58%) terjadi pada ibu dengan riwayat seksio sesarea, dan yang tidak mengalami retensio plasenta tetapi berasal dari riwayat seksio sesarea sebanyak 3 orang (7%), sedangkan ibu bersalin tanpa riwayat seksio sesarea yang mengalami retensio plasenta sebanyak 32 orang (74,42%), dan yang tidak mengalami retensio plasenta sebanyak 40 orang (93%). Berdasarkan hasil perhitungan odd ratio diketahui bahwa kejadian retensio plasenta 4,58 kali lebih besar dibandingkan yang tidak retensio plasenta terhadap paparan seksio sesarea. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kejadian Retensio Plasenta Menurut Riwayat Seksio Sesarea No. 1. 2. Riwayat Seksio Sesarea Ya Tidak JUMLAH Kejadian Retensio Plasenta Ya Tidak 11 (25,58%) 3 (7%) 32 (74,42%) 40 (93%) 43 (100%) 43 (100%) Jumlah 14 72 86

Pembahasan Pada penelitian ini ibu bersalin normal yang diteliti sebagian kecil mempunyai riwayat seksio sesarea, yaitu sebanyak 14 orang (16,28%), dan sebagian besar tidak mempunyai riwayat seksio sesarea, yaitu sebanyak 72 orang (83,72%), dengan demikian sebagian besar ibu bersalin pada penelitian ini sebelumnya dapat bersalin dengan normal tanpa ada penyulit, selain itu karena kebanyakan ibu bersalin adalah primigravida. Berdasarkan data ke 86 ibu bersalin normal yang diteliti, didapatkan hasil bahwa ibu yang mengalami retensio plasenta sebanyak 43 orang (50%), sedangkan ibu yang tidak mengalami retensio plasenta sebanyak 43 orang (50%) juga. Prevalensi kasus retensio plasenta di RSUD Kota Madiun selama tahun 2009-2010 dikategorikan tinggi bila dibandingkan dengan angka kejadian nasional sebesar 16-17%. Proporsi kejadian retensio plasenta dari risk faktor riwayat seksio sesarea berdasarkan hasil penelitian sebesar 25,58% (Proporsi/P=0,25). Proporsi persalinan yang tidak diikuti retensio plasenta tetapi berasal dari riwayat seksio sesarea sebesar P=7% (Proporsi/P=0,07). Hasil penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan proporsi antara kejadian retensio plasenta dan bukan retensio plasenta yang berasal dari riwayat seksio sesarea. Populasi kasus memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan populasi kontrol. Secara teoritis penyebab retensio plasenta dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain 1). Faktor maternal, yaitu pada gravida yang berusia lanjut dan multiparitas, 2). Faktor uterus, yaitu pada uterus dengan bekas seksio sesarea, bekas pembedahan uterus, bekas curretage
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 50

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

uterus yang terutama dilakukan setelah kehamilan atau abortus, bekas pengeluaran plasenta secara manual, bekas endometritis, 3). Faktor plasenta, yaitu pada plasenta previa dan implantasi cornual (Oxorn Harry, 1990). Menurut penelitian Zelop, dkk (1993) dalam Cunningham (2005) memberikan gambaran bahwa dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta yang merupakan salah satu penyebab terjadinya retensio plasenta, telah menduduki peringkat kedua setelah atonia uteri sebagai penyebab tersering perdarahan post partum yang keparahannya mengharuskan dilakukannya histerektomi. Insiden plasenta akreta, inkreta, dan perkreta tersebut telah meningkat karena meningkatnya angka seksio sesarea (Cunnigham, 2005). Penelitian Yayuk Sri Rohaya (2008) yang berjudul Hubungan Anemia Ibu Hamil Trimester III Terhadap Kejadian Retensio Plasenta di wilayah Puskesmas Punung, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan menunjukkan bahwa sebesar 83,33% anemia ringan akan mengalami retensio plasenta dan anemia berat terjadi retensio plasenta 100%. Sementara dari hasil penelitian yang telah diuraikan dapat dilihat bahwa ibu melahirkan yang mangalami retensio plasenta di RSUD Kota Madiun dalam kurun waktu Januari 2009 sampai Desember 2010 sebanyak 11 orang (25,58%) terjadi pada ibu yang mempunyai riwayat seksio sesarea, sedangkan ibu yang tidak mengalami retensio plasenta tetapi mempunyai riwayat seksio sesarea sebanyak 3 orang (7%). Hal ini menunjukkan bahwa selain anemia, ternyata riwayat seksio sesarea juga dapat menyebabkan retensio plasenta, ini terjadi apabila plasenta terletak pada dinding depan rahim atau pada jaringan parut bekas operasi. Menurut penelitian Hordordottir, dkk (1996) dalam Cunningham (2005) mengamati bahwa perlekatan plasenta yang abnormal terjadi apabila pembentukan desidua terganggu, keadaan-keadaan terkait mencakup implantasi di segmen bawah uterus, implantasi di atas jaringan parut seksio sesarea, atau setelah kuretase. Karena hampir separuh plasenta pada wanita dengan riwayat seksio sesarea memperlihatkan perlekatan serat-serat miometrium secara mikroskopis dan terdapat peningkatan implantasi plasenta diluar area insisi terdahulu yang dapat meningkatkan kejadian retensio plasenta pada persalinan yang akan datang. Dari beberapa faktor penyebab retensio plasenta, plasenta previa dan bekas seksio sesarea merupakan dua faktor yang paling sering menimbulkan retensio plasenta (Oxorn Harry, 1990). Teori ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Kota Madiun yang menunjukkan bahwa sebanyak 78,57% ibu yang mempunyai riwayat seksio sesarea mengalami retensio plasenta, ini lebih besar dari ibu yang tidak mempunyai riwayat seksio sesarea yaitu hanya 44,44%, tetapi hasil penelitian ini tidak dikuatkan dengan adanya faktor penyebab pasti retensio plasenta yaitu plasenta previa. Dari data ke 86 ibu bersalin normal yang diteliti, dapat dilihat bahwa ibu yang mempunyai riwayat seksio sesarea 4,58 kali lebih beresiko untuk mengalami retensio plasenta dibandingkan dengan ibu yang tidak mempunyai riwayat seksio sesarea. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Cunningham (2005) yang menyatakan bahwa faktor etiologi retensio plasenta adalah plasenta previa yang diidentifikasi terjadi pada sepertiga kehamilan yang terkena, seperempat ibu yang pernah menjalani seksio sesarea, seperempat ibu yang pernah menjalani kuretase, dan seperempatnya adalah pada gravida 6 atau lebih.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 51

Volume III Nomor 1, Januari 2012

ISSN: 2086-3098

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Simpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Proporsi kejadian retensio plasenta di RSUD Kota Madiun sebanyak 43 orang (50%) dari 86 orang, dimana 11 orang (25,58%) diantaranya dari pajanan riwayat seksio sesarea. 2. Jumlah ibu bersalin dengan riwayat seksio sesarea sebanyak 14 subyek (16,28%) dari 86 subyek. 3. Kejadian retensio plasenta 4,58 kali lebih besar dibandingkan yang tidak retensio plasenta terhadap paparan seksio sesarea. Saran Mengacu pada hasil penelitian maka dapat disarankan tindakan-tindakan preventif yang dapat menekan kejadian retensio plasenta pada ibu dengan riwayat seksio sesarea, seperti meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, mengoptimalkan pelaksanaan program pemerintah yaitu Keluarga Berencana dan meningkatkan penerimaan Keluarga Berencana, melakukan pengawasan seksama pada kehamilan dengan riwayat seksio sesarea melalui ANC minimal 4 kali selama hamil. DAFTAR PUSTAKA Abdul Bari, Saifuddin. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Chapman, Vicky. 2006. Ilmu Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. Jakarta: EGC Cunningham, F.Gary. 2005. Obstetri Williami. Jakarta: EGC Gallegher, Chrissie. 2005. Pemulihan Pascaoperasi Caesar. Jakarta: Erlangga Hadi dan Haryono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 2. Jakarta: EGC Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Norwitz, Errol. 2007. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Erlangga Nursalam, dan S. Pariani. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Oxorn Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan Essentia Medica Rohaya, Yayuk Sri. 2008. Hubungan Anemia Ibu Hamil Trimester III Terhadap Kejadian Retensio Plasenta di Wilayah Puskesmas Punung Kec. Punung Kab. Pacitan. Karya Tulis Ilmiah Program Studi Kebidanan Magetan Poltekkes Surabaya, Magetan Sastroasmoro, S, dan Sofyan Ismael. 2008. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Binarupa Aksara Varney, Helen. 2001. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC Waspodo Djoko dkk. 2002. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Tridasa Printer Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 52