Anda di halaman 1dari 16

BAB I 1.

1 Latar Belakang Sosiologi tidak hanya dipelajari bidang ilmu sosial saja tetapi juga di bidang ilmu yang lain. Itu terkait dengan pernyataan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan harus atau memerlukan orang lain. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sosiologi di bidang pertanian. Ini sangat penting karena kita harus dan akan mengetahui mengenai tentang interkasi hubungan antara pelaku-pelaku kegiatan pertanian. Dari mulai petani, pasar, pabrik sampai kepada kita sebagai masyarakat. Banyak sekali hal yang dapat kita perhatikan, salah satunya adalah kelembagaan dan masyarakat di pertanian. Kelembagaan dan masyarakat merupakan hal yang utama di sosiologi pertanian. Di dalamnya terdapat lembaga sosial yang merupakan norma atau kebiasaan dalam masyarakat di dalam suatu wilayah. Lembaga ini dapat berfungsi untuk memperthankan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam sektor pertanian dan mengatasi berbagai masalah yang ada sangkut pautnya dengan pertanian. Di dalam sosiologi pertanian tentunya ada masalah-masalah. Masalah ini timbul karena ulah pelaku-pelaku sosiologi pertanian juga dan kita harus mampu memecahkan masalah tersebut. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai contoh kasusu yang berkaitan dengan sosiologi pertanian khususnya di kelembagaan dan masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana proses pelembagaan dalam masyartakat pertanian atau desa?

1.3 Tujuan Mengetahui proses pelembagaan dalam masyarakat pertanian atau desa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian : Lembaga sosial (social institution) adalah kompleks norma-norma atau kebiasaan-kebiasaan untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipandang sangat penting dalam masyarakat (Rahardjo, 199; 157). Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan dari pada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat (Kontjaraningrat, 1964, 133). Kelembagaan pertanian adalah himpunan norma-norma segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok manusia akan bidang pertanian dan memiliki peran yang sangat penting. Peran lembaga pertanian : Memberi pedoman pada masyarakat bagaimana harus berbuat dalam menghadapi permasalahan di masyarakat terutama yang menyangkut kebutuhan pokok manusia. Menjaga keutuhan manusia. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control) yang merupakan pengawasan masyarakat terhadap perilaku anggotanya.

2.2 Proses pelembagaan dalam masyarakat pertanian atau desa : Proses pelembagaan adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi pada sistem lembaga atau terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan sesuatu. Secara lebih ringkas, Simanjuntak menyebutkan beberapa langkah yang dilakukan dalam proses institusionalisasi atau pelembagaan, yaitu : a. Norma dan perilaku baru dikembangkan dan disepakati bersama; b. Norma dan perilaku baru tersebut diperkenalkan dan diuji-cobakan; c. Jika norma dan perilaku baru tersebut dirasakan bermanfaat, akan memperoleh pengakuan (legitimasi) dari warga;

d. Pengakuan atas manfaat norma dan perilaku itu akan mengundang penghargaan dari warga. Penghargaan dalam hal ini dipahami sebagai adanya upaya warga untuk melindungi dari perilaku menyimpang dan tindakan pelanggaran, sehingga selalu ditaati secara swakarsa; dan e. Norma dan perilaku tersebut dihayati, mendarah-daging oleh warga. Sementara menurut Johnson, proses pelembagaan atau institusionalisasi suatu nilai atau norma dalam suatu sistem sosial paling tidak harus memenuhi tiga syarat, yaitu : 1. Bagian terbesar warga sistem sosial menerima norma tersebut. 2. Norma-norma tersebut telah menjiwai bagian terbesar dari warga-warga sistem sosial tersebut. 3. Norma tersebut bersanksi. Proses dan kelembagaan dalam sistem agribisnis : Kelembagaan sarana produksi Kelembagaan sarana produksi merupakan kelembagaan ekonomi yang bergerak di bidang produksi, penyediaan dan penyaluran sarana produksi. Adapun kelembagaan dalam sarana produksi, yaitu produsen saprodi, asosiasi, dan distributor (penyalur saprodi). Kelembagaan agribisnis yang bergerak di bidang usaha tani/produksi meliputi : 1) Rumah Tangga petani sebagai unit usaha terkecil di bidang tanaman pangan dan holtikultura; 2) Kelembagaan tani dalam bentuk kelompok tani, dan; 3) Kelembagaan usaha dalam bentuk perusahaan budidaya tanaman pangan dan holtikultura. Kelembagaan pasca panen dan pengolahan hasil Kelembagaan yang terkait dengan pasca panen dan pengolahan hasil ini dapat dibedakan antara lain : 1. Kelembagaan yang melakukan usaha di bidang pasca panen. 2. Kelembagaan usaha di bidang pengolahan (agroindustri). 3. Kelembagaan lumbung desa yang berperan untuk mengatasi masalah pangan.

Kelembagaan pemasaran hasil Kelembagaan pemasaran dalam sistem agribisnis menempati posisi yang sangat penting, karena melalui kelembagaan ini arus komoditi atau barang berupa hasil pertanian dari produsen disampaikan kepada konsumen. Kelembagaan jasa layanan pendukung Kelembagaan ini sangat menentukan keberhasilan kelembagaan agribisnis dalam mencapai tujuannya. Di antara banyak kelembagaan jasa layanan pendukung ada beberapa yang dianggap penting, antara lain : 1. Kelembagaan di bidang permodalan. 2. Kelembagaan di bidang penyediaan alsintan. 3. Kelembagaan aparatur. Kelembagaan sosial dalam masyarakat pertanian : Macam-macam kelembagaan masyarakat pertanian adalah sebagai berikut : 1. Kelembagaan penyediaan input usaha tani, 2. Kelembagaan penyediaan permodalan, 3. Kelembagaan pemenuhan tenaga kerja, 4. Kelembagaan penyediaan lahan dan air irigasi, 5. Kelembagaan aktivitas usaha tani/usaha ternak, 6. Kelembagaan pengolahan hasil pertanian, 7. Kelembagaan pemasaran hasil pertanian, dan 8. Kelembagaan penyediaan informasi (teknologi, pasar, dll). Kaitan antara lembaga dan kelembagaan sosial dengan pengolahan usaha pertanian : Lembaga dan kelembagaan dapat melakukan peranannya dengan baik di bidang pengolahan hasil pertanian, yaitu apabila performance atau keragaan dari lembaga maupun kelembagaan tersebut juga baik. Kurniati (2007) dalam penelitiannya tentang peranan dari suatu kelembagaan pemuda, ternyata dipengaruhi oleh keragaan atau performance dari kelembagaan tersebut. Keragaan kelembagaan dapat berpengaruh terhadap beberapa hal, seperti : a. b. c. Akses masyarakat terhadap kelembagaan. Jenis kegiatan ekonomi yang dilakukan. Pengembangan kelembagaan.

d. e. f. g.

Kepemimpinan. Keanggotaan. Masalah yang dihadapi. Prestasi yang pernah diraih kelembagaan tersebut.

Menurut Dimyati (2007), permasalahan yang masih melekat pada sosok petani dan kelembagaan petani di Indonesia adalah : 1. Masih minimnya wawasan dan pengetahuan petani terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran. 2. Belum terlibatnya secara utuh petani dalam kegiatan agribisnis. Aktivitas petani masih terfokus pada kegiatan produksi (on farm). 3. Peran dan fungsi kelembagaan petani sebagai wadah organisasi petani, belum berjalan secara optimal. Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu melakukan upaya pengembangan, pemberdayaan dan penguatan kelembagaan petani (seperti : kelompok tani, lembaga tenaga kerja, kelembagaan penyedia input, kelembagaan output, kelembagaan penyuluh, dan kelembagaan permodalan), dan diharapkan dapat melindungi petani. Masalah mendasar bagi mayoritas petani di Indonesia adalah ketidakberdayaan dalam melakukan negosiasi harga hasil produksinya. Posisi tawar petani pada saat ini umumnya lemah, hal ini merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan pendapatan petani. Menurut Branson dan Douglas (1983), lemahnya posisi tawar petani umumnya disebabkan petani kurang

mendapatkan/memiliki akses pasar, informasi pasar dan permodalan yang kurang memadai. Petani kesulitan menjual hasil panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri, akibatnya petani menggunakan sistem tebang jual. Dengan sistem ini sebanyak 40% dari hasil penjualan panenan menjadi milik tengkulak. Menurut Akhmad (2007), usaha yang harus dilakukan petani untuk menaikkan posisi tawar petani adalah dengan : a. Konsolidasi petani dalam satu wadah untuk menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian, dari pra produksi sampai pemasaran. b. Kolektifikasi produksi, yaitu perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola, jenis, kuantitas dan siklus produksi secara kolektif.

c. Kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian.

2.3 Kelembagaan petani : Petani jika berusaha-tani secara individu terus akan berada di pihak yang lemah, karena petani secara individu akan mengelola usaha tani dengan luas garapan kecil dan terpencar, serta kepemilikan modal yang rendah. Sehingga pemerintah perlu memperhatikan penguatan kelembagaan lewat kelompok tani, karena dengan berkelompok maka petani tersebut akan lebih kuat, baik dari segi kelembagaannya maupun permodalannya. Kelembagaan petani di desa umumnya tidak berjalan dengan baik ini disebabkan (Zuraida dan Rizal, 1993; Agustian, dkk ,2003; Syahyuti, 2003; Purwanto, dkk , 2007). 1. Kelompoktani pada umumnya dibentuk berdasarkankepentingan teknis untuk memudahkan pengkoordinasianapabila ada kegiatan atau program pemerintah, sehingga lebihbersifat orientasi program, dan kurang menjamin kemandiriankelompok dan keberlanjutan kelompok. 2. Partisipasi dan kekompakan anggota kelompok dalamkegiatan kelompok masih relatif rendah, ini tercermin daritingkat kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok rendah(hanya mencapai 50%). 3. Pengelolaan kegiatan produktif anggota kelompok bersifatindividu. 4. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkankonsep cetak biru (blue print approach) yang seragam.Introduksi kelembagaan dari luar kurang memperhatikanstruktur dan jaringan kelembagaan lokal yang telah ada, sertakekhasan ekonomi, sosial, dan politik yang berjalan. 5. Pembentukan dan pengembangan kelembagaanmenyebabkan tidak

tumbuhnya partisipasi masyarakat. 6. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanyauntuk memperkuat ikatan horizontal, bukan ikatan vertikal. 7. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namunpembinaan yang dijalankan cenderung individual, yaitu hanyakepada pengurus Permasalahan yang dihadapi petani pada umumnya adalahlemah dalam hal permodalan. Akibatnya tingkat penggunaansaprodi rendah, inefisien skala usaha karena umumnyaberlahan sempit, dan karena terdesak masalah keuangan

posisitawar ketika panen lemah. Selain itu produk yang dihasilkanpetani relatif berkualitas rendah, karena umumnya budayapetani di pedesaan dalam melakukan praktek pertanian masihberorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga (subsisten),dan belum berorientasi pasar. Selain masalah internal petanitersebut, ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur,lembaga ekonomi pedesaan, intensitas penyuluhan, dankebijakan pemerintah sangat diperlukan, guna mendorongusahatani dan meningkatkan akses petani terhadap pasar (Saragih, 2002). Petani harus sadar berkomunitas/ kelompoksebagai dasar kebutuhan, bukan paksaan dandorongan proyekproyek tertentu. Tujuannya untuk

mengorganisasikan kekuatan para petanidalam memperjuangkan hak-haknya, memperoleh posisi tawar dan informasi pasar yangakurat terutama berkaitan dengan harga produkpertanian, berperan dalam negosiasi dan menentukan hargaproduk pertanian yang diproduksi anggotanya(Masmulyadi, 2007). Ada empat kriteria agar asosiasi petani itukuat dan mampu berperan aktif dalammemperjuangkan hak-haknya, yaitu: (1) asosiasi harus tumbuh dari petani sendiri (2) pengurusnya berasal dari para petani dan dipilihsecara berkala (3) memiliki kekuatan kelembagaan formal (4) bersifat partisipatif. Prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh suatu kelembagaanpetani agar tetap eksis dan berkelanjutan adalah: 1. Prinsip otonomi (spesifik lokal). / Pengertian prinsipotonomi disini dapat dibagi kedalam dua bentuk yaitu : a. Otonomi individu. Pada tingkat rendah, makna dariprinsip otonomi adalah mengacu pada individu sebagaiperwujudan dari hasrat untuk bebas yang melekat padadiri manusia sebagai salah satu anugerah paling berhargadari sang pencipta (Basri, 2005). b.Otonomi desa (spesifik lokal). Pengembangan kelembagaan di pedesaan disesuaikan dengan potensidesa itu sendiri (spesifik lokal). Prinsip pemberdayaan.Pemberdayaan mengupayakanbagaiamana individu, kelompok, ataukomunitas berusaha mengontrol kehidupanmereka sendiri dan mengusahakan untukmembentuk masa depan sesuai dengankeinginan mereka. Inti utama pemberdayaanadalah tercapainya kemandirian (Payne,1997). Pada proses

pemberdayaan, ada dua prinsipdasar yang harus dipedomani (Saptana, dkk ,2003) yaitu : a. Menciptakan ruang ataupeluang bagi masyarakat untukmengembangkan dirinya secara mandiri danmenurut cara yang dipilihnya sendiri. b.Mengupayakan agar masyarakat memilikikemampuan untuk

memanfaatkan ruang ataupeluang yang tercipta tersebut. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di pedesaan , meliputi : a. Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas danintensifikasi lahan, perluasan kesempatan kerjadan berusaha yang dapat

memperluaspenghasilan. b. Perbaikan dan penyempurnaanketerbatasan pelayanan sosial (pendidikan, gizi,kesehatan, dan lain-lain). c. Programmemperkuat prasarana kelembagaan danketerampilan mengelola kebutuhan pedesaan. Untuk keberhasilannya diperlukan kerjasama antara :administrasi lokal, pemerintah lokal,kelembagaan/organisasi yang beranggotakan masyarakatlokal, kerjasama usaha, pelayanan dan bisnis swasta (tigapilar kelembagaan) yang dapat diintegrasikan ke dalampasar baik lokal, regional dan global (Uphoff, 1992).Pemberdayaan kelembagaan menuntut perubahan operasional tiga pilar kelembagaan (Elizabeth, 2007a) a.Kelembagaan lokal tradisional yang hidup dan eksisidalam komunitas (voluntary sector). b. Kelembagaanpasar (private sector) yang dijiwai ideologi ekonomiterbuka. c. Kelembagaan sistem politik atau pengambilankeputusan di tingkat publik (public sector). Prinsip kemandirian lokal. Pendekatanpembangunan melalui cara

pandangkemandirian lokal mengisyaratkan bahwasemua tahapan dalam proses pemberdayaanharus dilakukan secara desentralisasi. Upayapemberdayaan yang berbasis pada pendekatandesentralisasi akan menumbuhkan kondisiotonom, dimana setiap komponen akan tetapeksis dengan berbagai keragaman

(diversity)yang dikandungnya (Amien, 2005).

Hingga saat ini potert kelembagaan petani diakui masih belum seperti apa yang diharapkan. Salah sat penyebab kondisi demikian adalah kekurang-pedulian terhadap pentingnya menemukan celah masuk (entry-point) kelembagaan, sehingga menimbulkan kebingungan dalam rekayasa kelembagaan yang sesuai dengan tujuan produksi pertanian (Suradisastra 2008). Keadaan ini diperparah dengan upaya mengejar waktu agar suatu program dapat menunjukkan hasil dalam waktu singkat. Evolusi kelembagaan memerlukan waktu lama sehingga dibutuhkan suatu program pembangunan sektor yang bersifat longitudinal (multi years) dan konsisten dalam upaya mencapai tujuannya. Undang Undang Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, mengamanatkan adanya kelembagaan penyuluhan dari pusat sampai ke tingkat desa. Yang lebih operasional mengenai pembinaan kelompok diatur dalam PERMENTAN 2007. Nomor 273 Tahun

Pada kedua kebijakan tersebut, permasalahan kelembagaan tetap

merupakan bagian yang esensial, baik kelembagaan di tingkat makro maupun di tingkat mikro. Di tingkat mikro, akan dibentuk beberapa lembaga baru, misalnya Pos Penyuluhan Desa dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Departemen Pertanian menargetkan akan membentuk satu Gapoktan di setiap desa khususnya yang berbasiskan pertanian. Ini merupakan satu lembaga andalan baru yang diinisiasikan oleh Departemen Pertanian, meskipun semenjak awal 1990-an Gapoktan sesungguhnya telah dikenal. Saat ini, Gapoktan diberi pemaknaan baru, termasuk bentuk dan peran yang baru. Gapoktan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjadi penghubung petani satu desa dengan lembaga-lembaga lain di luarnya. Gapoktan diharapkan berperan untuk fungsi-fungsi pemenuhan permodalan pertanian, pemenuhan sarana produksi, pemasaran produk pertanian, dan termasuk untuk menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan petani. Kelembagaan petani dan pelaku usaha pertanian lainnya adalah organisasi yang anggotanya petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dan dibentuk oleh mereka, baik formal maupun non formal. Kelembagaan pelaku utama

beranggotakan petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah

ikan, serta masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang dibentuk oleh pelaku utama, baik formal maupun nonformal. Dalam sebuah kelompok faktor kepemimpinan sangatlah

penting. Kepemimpinan dalam kelompok informal mencakup dua hal, yakni: (1) Tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok, termasuk apa yang harus dilakukan oleh pemimpin, (2) Hubungan dengan anggota, termasuk karakter yang diperlukan oleh seorang pemimpin. Setiap pemimpin kelompok harus dapat melakukan: a) mengenal kelompoknya, b) membangun struktur kelompok, c) berinisiatif, d) mencapai tujuan, e) melakukan komunikasi, f) menjaga kesatuan kelompok, g) menjaga kesatuan kelompok, h), menciptakan suasana bahagia, i) menciptakan keterpaduan, dan j) menerapkan filosofi. Seorang pemimpin kelompok seogyanya memiliki sifat-sifat: a) empati, b) bijaksana, c) lincah, d) beremosi stabil, e) berkeinginan memimpin, f) berkemampuan, g) cerdas, h) konsisten, i) percaya diri, dan berkemampuan memimpin

BAB III STUDI KASUS

Dengan lebih dari 2 juta pengunjung setiap tahunnya, subak, sistem irigasi sawah khas Bali, terancam keberlanjutannya justru karena rasa kagum yang teramat besar.Lanskap dan tradisi budaya subak sangatlah populer, sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang, dan membuat luas lahan produksi berkurang 1000 hektar setiap tahunnya, kata Steve Lansing, antropolog ekologi yang telah mempelajari subak sejak 1974. Karena subak adalah sebuah system yang terpadu, maka ketika sebagian lahan dijual, beban yang ditanggung oleh persawahan di sekitarnya akan meningkat. Kondisi ini memberikan tekanan yang lebih besar bagi petani untuk menjual sawahnya, yang kemudian mengancam keberlangsungan seluruh sistem. Jika laju hilangnya lahan tetap berlanjut seperti sekarang, maka seluruh lahan subak terancam dan jika tidak ada tindakan yang diambil dalam beberapa tahun keseluruhan sistem akan hancur. Untuk mencegah hal ini, UNESCO mengadopsi model bottom-up yang selama ini telah digunakan subak sebagai rencana perlindungan sistem tersebut. Dalam rencana yang dikembangkan oleh Steve dan rekan-rekannya yang merupakan penduduk Bali, sebuah Dewan Pengurus yang terdiri dari kepala desa dan subak bertugas mengelola wilayah warisan dunia ini. Dewan inilah yang memutuskan aspek mana dari lanskap yang dapat melibatkan pengunjung, menarik biaya kunjungan mereka, dan menggunakan pendapatan ini untuk kepentingan bersama. Subak akan menjadi situs UNESCO pertama di Asia yang dikelola secara lokal, dan bukan oleh pemerintah, ujar Steve dalam Annual Ecosystem Services Partnership (ESP) Conference keenam di Bali. Kami berharap dewan tersebut dapat bertindak cepat untuk mengatasi ancaman terhadap keberadaan subak.Perkembangan penting yang perlu dicatat di sini adalah bagaimana usaha pelestarian tidak hanya dilakukan di lahan persawahan, tapi juga di system pengelolaannya, kata Meine van Noordwijk, kepala peneliti di World Agroforestry Centre yang merangkap sebagai ketua penyelenggara konferensi. Subak mengelola sistem pengairannya sendiri yang terkait erat satu sama lain. Hal ini berbeda dengan situs warisan UNESCO lainnya di Asia, di mana biasanya

dibentuknya sistem pengelolaan dengan pendekatan top-down. Ketahanan subak sebelumnya teruji oleh Revolusi Hijau di tahun 1970-an, ketika pemerintah Indonesia memperkenalkan teknologi-teknologi modern seperti varietas baru padi, pupuk kimia, dan pestisida organik. Saat itu, petani didorong untuk menanam padi sesering mungkin dengan pupuk dan pestisida jenis baru, yang penggunaannya melampaui pola sistem pura air yang terkontrol, yang sebenarnya memberikan pasokan pupuk dan pengendalian hama alami. Steve menjelaskan, Kebijakan ini memiliki hasil yang tidak direncanakan. Jeda antar masa produksi yang tidak berlangsung bersamaan menyebabkan ledakan hama. Peralihan ke teknologi modern mempengaruhi aspek lingkungan lain, contohnya penggunaan pupuk pada air yang telah kaya nutrisi berarti pupuk tersebut akan larut ke sungai dan mengalir ke laut, kemudian memicu pertumbuhan ganggang yang menutupi dan membunuh terumbu karang. Kini, sistem pura air telah kembali digunakan, namun masalah yang disebabkan oleh penggunaan pupuk berlebihan masih terjadi. Di Bali, sistem pura air yang diwariskan nenek moyang memungkinkan subak untuk mengatur kegiatan di sepanjang aliran sungai. Naskah leluhur dari raja-raja Bali di abad kesebelas menyebutkan tentang system subak dan pura air yang sebagian masih berfungsi sampai sekarang. Sistem pengairan dianggap sebagai anugerah dari dewi penguasa danau yang terbentuk dari kawah. Setiap subak memberikan persembahan kepada para dewa dewi di pura air masing-masing. Pura ini juga menjadi tempat bertemu bagi para petani guna memilih pemimpin dan membuat keputusan bersama tentang jadwal pengairan mereka. Kelompok- kelompok subak yang memiliki sumber air yang sama membentuk perkumpulan pura air per wilayah, dimana semua subak menyepakati jadwal tanam di Daerah Aliran Sungai (DAS). Melalui cara ini, setiap pura desa mengendalikan air yang mengalir ke teras sawah terdekat sedangkan pura wilayah mengendalikan air yang mengalir ke daerah yang lebih besar, jelas Steve. Pengaturan air merupakan faktor penting untuk pertumbuhan padi. Ini disebabkan oleh dua hal: pertama, air mengalir melalui bebatuan vulkanis yang kaya akan mineral seperti fosfat dan potasium. Di sini, sawah berfungsi seperti kolam buatan, di mana air yang subur menghasilkan efek seperti akuarium, yaitu proses ketika air membantu pertumbuhan padi melalui penyediaan nutrisi. Kedua, daerah hulu subak

memastikan bahwa air mengalir ke hilir. Ini mencerminkan pola tanam dan panen yang berlangsung bersamaan yang ternyata merupakan sistem pengendalian hama yang sangat baik dan menguntungkan semua pihak. Dengan menyelaraskan jadwal irigasi antar subak yang berdekatan, populasi hama dapat dikendalikan ketika musim panen dan pengairan, yang menghilangkan makanan dan habitat hama. Subak telah mencapai kesuksesan dengan menerapkan skala kerja sama yang tepat melalui suatu sistem pengendalian dan pembagian air yang membentuk sistem pengairan terpadu di Bali, yang telah menjaga keseimbangan lingkungan lahan persawahan selama lebih dari 1000 tahun, kata Steve.

BAB IV PEMBAHASAN

Keberadaan subak sebagai sistem irigasi khas Bali makin terancam menyusul tergerusnya lahan sawah yang diperkirakan mencapai 1.000 hektar pertahun lantaran dijual petani kepada pengembang. Padahal subak sistem irigasi tradisional Bali yang dijaga lebih dari 1.000 tahun, telah dianugerahi status Warisan Dunia untuk kategori lanskap budaya dari UNESCO. Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari dua juta pengunjung setiap tahunnya. Kondisi ini memberikan tekanan yang lebih besar bagi petani untuk menjual sawahnya, yang kemudian mengancam keberlangsungan seluruh sistem. jika laju lahan terus tergerus seperti sekarang, maka seluruh lahan subak terancam dan jika tidak ada tindakan yang diambil dalam beberapa tahun keseluruhan sistem akan hancur. Kerusakan lahan pertanian yang disebabkan tergerus oleh air sungai bahkan ada yang hanya menyisakan lahan warga sebanyak 5 meter dari jumlah sebelumnya seluas 1,5 are. Peristiwa luapan sungai ini belum dilakukan perbaikan. Pembangunan perumahan juga semakin cepat hal ini mengakibatkan lahan pertanian semakin tergerus sejalan dengan cepatnya perkembangan alih fungsi lahan. Lahan-lahan pertanian subak sawah maupun abian (kebun), kini banyak beralih fungsi menjadi gudang maupun lahan permukiman. Bahkan daerah terbuka hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air juga ikut menyempit. Hal inilah yang membuat para petani semakin terpinggirkan. Sawah yang sebelumnya potensial dan mampu memberikan sumber penghasilan tetap mereka, tidak bisa diandalkan lagi. Lahan menjadi tidak produktif dan jalan satu-satunya menjual lahan mereka. Menurutnya harus ada keseriusan pemerintah untuk berpihak terhadap pertanian. Harus ada komitmen kuat untuk menjaga lahan pertanian agar tidak terus beralih fungsi. Kalau ini terus dilakukan dan tidak ada proteksi maka bukan tidak mungkin tidak ada lahan pertanian lagi di Jembrana. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, alih fungsi lahan pertanian sangat tinggi.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

http://www.slideshare.net/IfoOEeT/lembaga-sosial-dan-kelembagaandalammasyarakat-pertanian-atau