Anda di halaman 1dari 17

Fifty Shades of Grey Bab 2

Hatiku berdebar-debar. Lift tiba di lantai pertama, dan aku bergegas keluar dengan cepat ketika pintu terbuka, tersandung sekali, tapi untungnya tidak terkapar ke lantai batu pasir yang rapi. aku berlari ke pintu kaca lebar, dan aku bebas di udara terbuka, segar dan lembab dari kota Seattle. Mengangkat wajahku, aku menyambut hujan dingin menyegarkan. Aku memejamkan mata dan menarik napas yang dalam, mencoba untuk memulihkan apa yang tersisa pada keseimbanganku. Tidak ada orang yang pernah mempengaruhiku seperti Christian Grey, dan aku tidak dapat memahami mengapa. Apakah penampilannya? Kesopanannya? Kekayaan? Kekuasaan? aku tidak mengerti reaksi irasionalku. Aku menarik napas mendesah lega. Demi Tuhan sebenarnya apaan ini? Bersandar salah satu pilar baja bangunan, aku dengan gagah berani mencoba untuk tenang dan mengumpulkan pikiranku. Aku menggelengkan kepala. Apakah itu? Hatiku memantapkan irama teratur, dan aku bisa bernapas normal lagi. Aku berjalan menuju mobil. Saat aku meninggalkan batas kota di belakang, aku mulai merasa bodoh dan malu saat aku memutar ulang wawancara di pikiranku. Tentu, aku bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang imajiner. Oke, jadi dia sangat menarik, percaya diri, berkuasa, merasa nyaman dengan dirinya sendiri tetapi di sisi lain, dia sombong, dan untuk semua sikap sempurnanya, ia adalah otokratis dan dingin. Paling tidak dipermukaan. Sebuah getaran tanpa sengaja mengalir ke bagian tulang belakangku. Dia mungkin arogan, tapi kemudian ia memiliki hak untuk itu - dia telah melakukan pencapaian begitu tinggi di usia mudanya. Dia tidak mengalami kegagalan dengan senang hati, tapi mengapa dia harus? Sekali lagi, aku kesal karena Kate tidak memberi aku biografi singkatnya. Sambil meluncur di sepanjang I-5, pikiranku terus mengembara. Aku benarbenar bingung tentang apa yang membuat seseorang sangat terdorong untuk sukses. Beberapa jawabannya begitu samar - seolah-olah ia memiliki agenda tersembunyi. Dan pertanyaan Kate - ugh! Adopsi dan bertanya apakah dia gay! Aku bergidik. Aku tidak percaya aku mengatakan itu. Bumi, telan aku sekarang! Setiap kali aku memikirkan pertanyaan itu di masa depan, aku akan merasa ngeri karena malu. Sial Katherine Kavanagh! aku cek speedometer. Aku mengemudi lebih hati-hati dari yang aku lakukan

pada saat yang lain. Dan aku tahu itu karena teringat dua mata abu-abu tajam menatapku, dan dengan suara tegas mengatakan untuk menyetir dengan hati-hati. Menggelengkan kepalaku, aku menyadari bahwa Grey lebih seperti seorang pria berumur dua kali lipat usianya. Lupakan, Ana, aku memarahi diriku sendiri. aku memutuskan bahwa secara keseluruhan, ini adalah pengalaman yang sangat menarik, tapi aku tidak harus memikirkan hal itu. Tinggalkan dibelakangmu. Aku tidak perlu melihat dia lagi. Aku langsung bersorak oleh pikiran itu. aku beralih pada MP3 player dan keraskan volumenya, duduk, dan mendengarkan dentuman musik rock indie saat aku menekan pedal gas. Ketika aku sampai I-5, aku menyadari bahwa aku bisa menyetir secepat yang aku inginkan. Kita tinggal di apartemen duplex kecil di Vancouver, Washington, dekat dengan kampus Vancouver dari WSU. Aku beruntung - orang tua Kate membeli tempat itu untuknya, dan aku membayar sangat murah untuk sewanya. Apartemen itu sudah menjadi rumah selama empat tahun sekarang. Saat aku berhenti di luar, aku tahu Kate akan memintaku menceritakan sampai sedetail-detailnya, dan dia adalah orang yang ulet. Yah, setidaknya dia memiliki mini-disk. Mudah-mudahan aku tidak perlu menguraikan lebih jauh apa yang dikatakan selama wawancara. "Ana! Kau kembali". Kate duduk di ruang tamu kita, dikelilingi oleh buku. Dia jelas telah belajar untuk ujian - meskipun dia masih memakai piyama flanel pinknya yang dihiasi dengan kelinci kecil yang lucu, satu yang ia simpan setelah putus dengan pacar, untuk berbagai macam penyakit, dan untuk depresi murung biasa. Dia meraihku dan memelukku keras. "Aku mulai khawatir. Aku berharap kau kembali lebih cepat." "Oh, aku pikir aku tepat waktu mengingat wawancara berlangsung lebih lama." Aku melambaikan perekam mini disc padanya. "Ana, terima kasih banyak untuk melakukan hal ini. Aku berutang padamu, aku tahu. Bagaimana? Seperti apa dia?" Oh tidak - ini dia, Inkuisisi Katherine Kavanagh. aku berjuang untuk menjawab pertanyaannya. Apa yang bisa aku katakan? "Aku senang sudah berakhir, dan aku tidak perlu melihatnya lagi. Dia agak menakutkan, kau tahu." Aku Mengangkat bahu. "Dia sangat fokus, bahkan intens - dan muda. Benar-benar muda. "

Kate menatap polos padaku. Aku mengerutkan kening padanya. "Jangan kau pura-pura tidak tau. Kenapa kau tidak memberiku biografinya? Dia membuat aku merasa seperti idiot karena tidak melakukan penelitian dasar" Kate menutup mulut dengan tangannya. "Ya ampun, Ana, aku minta maaf - aku tidak berpikir." Aku gusar. "Kebanyakan dia sopan, formal, sedikit kaku - seperti dia tua sebelum waktunya. Dia tidak bicara seperti orang dengan umur dua puluhan. Berapa umur dia sih?" "Dua puluh tujuh. Astaga, Ana, maafkan aku. Aku seharusnya menjelaskan padamu, tapi aku sedemikian panik. Berikan mini-disc ku, dan aku akan mulai menyalin wawancaranya." "Kau tampak lebih baik. Apa kau makan supmu?" aku bertanya, Ingin mengganti topik pembicaraan. "Ya, dan itu lezat seperti biasa. Aku merasa jauh lebih baik" Dia tersenyum padaku dengan rasa syukur. Aku memeriksa arlojiku. "Aku harus bergegas. Aku masih bisa masuk siftku di Clayton. " "Ana, kau akan kelelahan." "Aku akan baik-baik saja. Sampai bertemu nanti. " aku telah bekerja di Clayton sejak aku mulai di WSU. Ini adalah toko perabot independen terbesar di daerah Portland, dan selama empat tahun aku bekerja di sini, Aku mulai tahu sedikit tentang segala sesuatu yang kita jual - meskipun ironisnya, aku tidak bagus pada setiap DIY. aku meninggalkan semua itu untuk ayahku. aku lebih mirip cewek yang suka meringkuk di kursi malas dekat perapian. Aku senang aku bisa masuk siftku karena memberikanku sesuatu untuk fokus pada yang bukan Christian Grey. Kami sedang sibuk - itu awal musim panas, dan orang-orang yang mendekorasi ulang rumah mereka. Mrs. Clayton senang melihatku. "Ana! aku pikir kau tidak akan datang hari ini. " "Wawancaraku tidak memakan waktu selama yang aku pikir. aku bisa

melakukannya beberapa jam." "aku benar-benar senang melihatmu." Dia memintaku ke gudang untuk memulai menyetok ulang rak, dan aku segera tenggelam dalam tugas. Ketika aku tiba di rumah, Katherine mengenakan headphone dan bekerja pada laptopnya. Hidungnya masih merah muda, tapi dia sudah tenggelam ke dalam cerita, jadi dia berkonsentrasi dan mengetik dengan cepat. aku benar-benar kelelahan - lelah menyetir jarak jauh, wawancara yang melelahkan, dan dengan bergegas ke rumah Clayton. Aku merosot ke sofa, memikirkan esaiku yang harus diselesaikan dan segala sesuatu yang harusnya aku pelajari tapi tidak kulakukan karena aku berurusan dengan ... dia. "kau punya beberapa hal yang baik di sini, Ana. Bagus. Aku tidak percaya kau tidak menerima tawarannya untuk melihat-lihat kantornya. Dia jelas ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu." Dia memberiku pandangan bertanya sekilas. Aku memerah, dan detak jantungku tiba-tiba meningkat. Itu bukan alasannya, kan? Dia hanya ingin menunjukkan lingkungan sekitar sehingga aku bisa melihat bahwa dia adalah tuan dari semua yang disurvei. Aku sadar aku menggigit bibirku, dan aku berharap Kate tidak memperhatikan. Tapi dia tampaknya tenggelam dalam transkripsinya "aku mendengar apa yang kau maksud tentang formal. Apakah kau membuat catatan?" tanyanya. "Um ... tidak, aku tidak mencatat." "Tak apa. Aku masih bisa membuat artikel yang baik dengan ini. Sayang kita tidak memiliki beberapa foto asli. Bajingan yang tampan, bukan?" Aku memerah. "aku rasa begitu." aku berusaha keras untuk terdengar tidak tertarik, dan aku pikir aku berhasil. "Oh, ayolah, Ana - bahkan kau tidak bisa kebal terhadap penampilannya." Dia melengkungkan alis sempurnanya padaku. Sialan! Aku mengalihkan perhatian dengan sanjungan, Itu selalu jadi cara

yang baik. "kau mungkin akan mendapat lebih banyak dari dia." "aku ragu, Ana. Ayolah - dia praktis menawarkan pekerjaan padamu. Mengingat bahwa aku memberikan padamu menit terakhir, kamu telah melakukannya dengan sangat baik" Dia melirik ke arahku dengan spekulatif. Aku segera terburu-buru ke dapur. "Jadi apa sebenarnya pendapatmu tentang dia?" Sial, dia ingin tahu. Mengapa dia tidak bisa membiarkan ini? Pikirkan sesuatu - cepat. "Dia sangat kuat, mengontrol, angkuh - benar-benar menakutkan, tapi sangat karismatik. aku bisa memahami daya tariknya" tambahku jujur, karena aku mengintip di pintu padanya berharap ini akan membungkamnya sama sekali. "kau, terpesona oleh seorang pria? Itu pertama kali "dia mendengus. aku mulai mengumpulkan bahan-bahan membuat sandwich sehingga dia tidak bisa melihat wajahku. "Mengapa kau ingin tahu apakah dia gay? Kebetulan, itu pertanyaan yang paling memalukan. Aku sangat malu, dan ia juga marah ditanya seperti itu" Aku jengkel mengingatnya. "Setiap kali dia ada di acara, ia tidak pernah membawa teman kencan." "Itu memalukan. Semuanya adalah memalukan. Aku senang aku tidak akan pernah melihat dirinya lagi." "Oh, Ana, itu tidak akan jadi seburuk itu. aku pikir dia kedengarannya cukup tertarik padamu." Tertarik padaku? Sekarang Kate jadi konyol. "Apakah kau mau sandwich?" "Ya." Kami tidak membicarakan Christian Grey lagi malam itu, itu membuatku sedikit lega. Setelah kami makan, aku bisa duduk di meja makan dengan Kate dan, sementara ia bekerja pada artikelnya, aku mengerjakan esaiku tentang Tess of the D'Urbervilles. Sialan, tapi wanita itu di tempat yang

salah pada waktu yang salah pada abad yang salah. Pada saat aku selesai, tengah malam itu, dan Kate sudah lama pergi tidur. Aku berjalan ke kamarku, lelah, tapi senang bahwa aku telah menyelesaikan banyak hal untuk hari Senin. Aku meringkuk di tempat tidur besi putihku, membungkus selimut ibuku di tubuhku, memejamkan mata, dan aku langsung tertidur. Malam itu aku bermimpi berada di tempat gelap, lantai dingin putih suram, dan mata abuabu. Untuk sisa minggu ini, aku memfokuskan diri pada kuliah dan pekerjaanku di rumah Clayton. Kate sibuk juga, mengkompilasi edisi terakhirnya majalah mahasiswa sebelum ia harus melepaskan ke editor baru yang ia juga sibuk untuk ujian akhirnya. Rabu, dia jauh lebih baik, dan aku tidak lagi harus melihat dia dengan piyama flanel warna pink dengan terlalu banyak gambar kelinci. aku menelepon ibuku di Georgia untuk tanya kabar, tapi juga agar dia bisa mendoakanku untuk ujian akhirku. Dia melanjutkan dengan bercerita tentang usaha terbarunya tentang pembuatan lilin - ibuku adalah segala usaha bisnis baru. Pada dasarnya dia bosan dan ingin sesuatu untuk mengisi waktunya, tapi dia memiliki rentang perhatian seperti ikan mas. Ini akan tertarik hal baru minggu depan. Dia membuatku khawatir. aku berharap dia tidak menggadaikan rumah untuk membiayai rencana terbarunya. Dan aku berharap bahwa Bob suaminya yang relatif baru tetapi jauh lebih tua - mengawasi dia sekarang karena aku tidak ada disana lagi. Bob tampaknya lebih membumi dari mantan suami nomor tiganya. "Bagaimana kabarmu, Ana?" Untuk sesaat, aku ragu, dan aku mendapat perhatian penuh dari Ibuku. "Aku baik." "Ana? Apakah kau bertemu seseorang?" Wow ... bagaimana ia melakukan itu? Kegembiraan dalam suaranya bisa diraba. "Tidak, Bu, bukan apa-apa. kau akan menjadi yang pertama tahu." "Ana, kau benar-benar harus keluar lebih sering, sayang. kau membuatku khawatir." "Bu, aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Bob" Seperti biasa?, Mengalihkan perhatian adalah kebijakan terbaik.

Setelah itu, aku telpon Ray, ayah tiriku, mantan suami ibu nomor dua, pria itu aku anggap sebagai ayahku, dan orang yang sama dengan nama belakangku. Ini adalah percakapan singkat. Bahkan, itu tidak seperti percakapan kecuali percakapan satu pihak dan ia menjawabdengan suara tak jelas dalam menanggapi bujukan lembutku. Ray tidak banyak bicara. Tapi dia masih hidup, dia masih menonton sepak bola di TV, dan pergi bowling dan memancing atau membuat furniture saat dia tidak mengerjakan sesuatu. Ray adalah seorang tukang kayu yang terampil dan alasan mengapa aku tahu perbedaan antara elang dan gergaji tangan. Dia tampaknya baik-baik saja. Jumat malam, Kate dan aku memperdebatkan apa yang harus dilakukan malam ini bersama - kami ingin terlepas dari rutinitas kuliah kita, pekerjaan kita, dan dari koran mahasiswa - ketika bel pintu berbunyi. Berdiri di depan pintu kita Jos teman baikku, memegang sebotol sampanye. "Jos! senang melihatmu!" aku pelukannya dengan singkat. "Masuklah" Jos adalah orang pertama yang aku temui ketika aku tiba di WSU, tampak tersesat dan kesepian yang sepertinya nasibnya sama denganku. Kami mengenali roh dalam diri kita masing-masing hari itu, dan kami jadi berteman sejak itu. Kita tidak hanya berbagi rasa humor, tetapi kami menemukan bahwa Ray dan Jos Senior berdua berada di unit tentara yang sama ketika mereka bertugas. Akibatnya, ayah kita juga menjadi sahabat baik. Jos sedang mempelajari teknik dan ia yang pertama di keluarganya yang masuk ke perguruan tinggi. Dia cukup cerdas, tetapi hobi nyatanya adalah fotografi. Jos memiliki mata yang bagus untuk gambar yang bagus. "Aku punya berita." Dia menyeringai, mata gelapnya berkilat. "Jangan bilang - kau berhasil untuk tidak dikeluarkan minggu minggu depan" godaku, dan dia pura-pura cemberut padaku. "Galeri Portland akan memamerkan foto-fotoku bulan depan." "Itu luar biasa - selamat" Senang untuk keberhasilannya, Aku memeluknya lagi. Kate juga ikut senang.

"Jos! aku harus menempatkan ini di koran. Tidak ada perubahan editorial terbaru pada menit terakhir pada malam Jumat" Ia tersenyum lebar. "Mari kita rayakan. aku ingin kau datang ke pembukaan" Jos terlihat tajam padaku. Aku memerah. "Kalian berdua, tentu saja," tambahnya sambil melirik cemas pada Kate. Jos dan aku adalah teman baik, tapi aku tahu jauh di dalam hati, ia ingin lebih. Dia cakep dan lucu, tapi dia bukan untukku. Dia lebih seperti saudara yang tidak pernah aku punya. Katherine sering menggodaku bahwa aku tidak punya 'gen butuh pacar', tetapi kenyataannya adalah - aku hanya belum bertemu orang yang ..., yang membuatku tertarik, meskipun sebagian dari diriku merindukan sesuatu yang membuat lututku gemetar, hati dimulutku, kupu-kupu diperutku, malam tanpa tidur. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apa ada sesuatu yang salah denganku. Mungkin aku telah menghabiskan terlalu lama ditemani sastra romantisku, dan akibatnya ideal dan harapanku yang terlalu tinggi. Namun pada kenyataannya, tidak ada yang pernah membuatku merasa seperti itu. 'Sampai beberapa waktu yang lalu', suara tak diinginkan lirih berbisik dibawah sadarku. TIDAK! aku menghalau pikiran itu segera. aku tidak akan menuju kesana, tidak setelah wawancara menyakitkan itu. Apakah kau gay, Mr. Grey? Aku meringis saat mengingatnya. Aku tahu aku bermimpi tentang dia hampir setiap malam sejak saat itu, tapi itu hanya untuk membersihkan pengalaman mengerikan dari sistemku, khan? Aku mengamati Jos membuka sebotol sampanye. Dia tinggi, dan dengan jins dan t-shirt dia semuanya adalah bahu dan otot, kulit kecokelatan, rambut gelap dan mata gelap membara. Ya, Jos cukup panas, tapi aku pikir dia akhirnya mendapatkan pesan: kita hanya berteman. Gabus penutup botol membuat suara keras, dan Jos mendongak dan tersenyum. Hari sabtu di toko adalah mimpi buruk. Kami dikepung oleh pelanngan yang ingin merapikan rumah mereka. Mr. dan Mrs. Clayton, John dan Patrick dua orang pegawai lain paruh waktu. - Dan kita semua bergegas menjalankan pekerjaan kita dengan cepat. Tapi ada jeda sekitar waktu makan siang, dan Mrs. Clayton memintaku untuk memeriksa beberapa pesanan sambil duduk di belakang meja di kasir diam-

diam makan bagelku. Aku asyik dalam tugas, memeriksa nomor katalog terhadap barang yang kami butuhkan dan barang yang kami sudah pesan, mata berpindah-pindah dari buku ke layar komputer dan kembali ketika aku cek kesesuaian entri. Kemudian, entah sebab apa, aku melihat ke atas ... dan menemukan diriku terkunci dalam pandangan abu-abu berani Christian Grey yang sedang berdiri di konter, menatapku tajam. Gagal jantung. "Miss Steele. Kejutan yang menyenangkan" Pandangannya Tak tergoyahkan dan intens. Ya ampun. Apa yang dia lakukan di sini dengan rambut kusut dan pakaian luar ruangan sweater rajutan krim, celana jeans, dan sepatu bot? aku pikir mulutku melongo, dan aku tidak dapat menemukan pikiran atau suaraku. "Mr. Grey, "bisikku, karena hanya itu yang aku dapat keluarkan. Ada hantu senyum di bibir dan matanya menyala dengan humor, seolah-olah dia menikmati lelucon pribadinya. "aku berada di daerah sekitar sini" katanya menjelaskan. "Aku perlu untuk menambah persediaan beberapa barang." "Senang bertemu denganmu lagi, Miss Steele" Suaranya hangat dan serak seperti karamel cokelat ... atau semacam itu. Aku menggoyangkan kepala untuk mengumpulkan akalku. Hatiku berdebar panik, dan untuk beberapa alasan aku merona merah dibawah tatapan mantapnya. aku benar-benar syok melihat dia berdiri di hadapanku. Kenanganku tentang dia tidak begitu adil. Dia tidak hanya tampan - dia adalah lambang keindahan pria, memukau, dan dia ada di sini. Di sini, di toko peralatan Clayton. Akhirnya fungsi kognitifku berfungsi lagi dan menghubungkan kembali dengan seluruh tubuhku. "Ana. Namaku Ana," gumamku. "Apa yang bisa aku bantu, Mr. Grey?" Dia tersenyum, dan sekali lagi itu seperti dia mengetahui rahasia-rahasia besar. Hal ini sangat membingungkan. Mengambil napas dalam-dalam, aku memakai sisi profesionalku untuk menunjukkan bahwa aku sudah bekerja disini bertahun-tahun. Aku bisa melakukan ini. "Ada beberapa item yang aku butuhkan. pertama, aku butuh beberapa pengikat kabel," bisiknya, mata abu-abunya dingin tapi juga geli.

Pengikat kabel? "Kami punya beberapa jenis menurut panjangnya. Mau aku tunjukkan?" gumamku, dengan suara lembut dan bergelombang. Sadarlah, Steele. Sebuah kerutan kecil muncul di alisnya yang agak indah. "Silakan. Tunjukkan jalan, Miss Steele," katanya. aku mencoba untuk tak acuh saat aku keluar dari belakang meja, tapi benar-benar aku sedang berkonsentrasi dengan keras untuk tidak jatuh oleh kakiku sendiri - kakiku tiba-tiba seperti jelly. Aku senang aku memutuskan memakai jins terbaikku pagi ini. "Barangnya ada dalam bagian barang listrik, gang delapan." Suaraku sedikit terlalu terang. Aku melirik dia dan menyesal segera. Sial, dia tampan. Aku tersipu. "Silakan," bisiknya, menunjuk dengan jari panjangnya, tangan indah terawat. With jantung hampir mencekikku - karena sepertinya ada di tenggorokanku mencoba meloloskan diri dari mulutku - aku menuju ke salah satu lorong ke bagian listrik. Mengapa dia di Portland? Mengapa ia di sini di rumah Clayton? Dan dari bagian sangat kecil dari otakku yang kurang dimanfaatkan - mungkin terletak di dasar medulla oblongata-ku di mana alam bawah sadarku berdiam - datang pikiran itu: dia ingin bertemu kau. Tidak mungkin! aku menolaknya dengan segera. Mengapa pria yang indah, berkuasa, sopan ingin melihatku? Ide itu tidak masuk akal, dan aku menendang keluar dari kepalaku. "Apakah kau di Portland untuk bisnis?" aku bertanya, dan suaraku terlalu tinggi, seperti jariku terjepit pintu atau semacamnya. Sialan! Cobalah untuk menjadi tenang Ana! "aku mengunjungi divisi pertanian WSU. Ini berpusat di Vancouver. Aku saat ini mendanai beberapa penelitian tentang rotasi tanaman dan ilmu tanah," katanya blak-blakan. Lihat? Tidak di sini untuk menemukanmu sama sekali, bawah sadarku menyeringai padaku, keras, bangga, dan cemberut. Aku malu pada pikiran bodohku. "Semua bagian dari rencanamu memberi makan dunia?" Godaku. "Semacam itulah," dia mengakui, dan bibirnya terangkat keatas setengah tersenyum.

Dia menatap pada berbagai macam ikatan kabel yang kita punya di rumah Clayton. Apa akan dia lakukan dengan benda itu? aku tidak bisa membayangkan dia melakukan pekerjaannya sendiri sama sekali. Jarijarinya menelusuri berbagai barang pajangan, dan untuk beberapa alasan tak bisa dijelaskan, aku harus berpaling. Dia membungkuk dan memilih sebuah paket. "Ini akan cocok," katanya dengan senyum sangat rahasia, dan aku malu. "Apakah ada hal lain?" "aku ingin beberapa selotip." Selotip? "Apakah kau mendekor ulang?" Kata-kataku keluar sebelum aku bisa menghentikannya. Tentunya dia membayar buruh atau staf untuk membantunya menghias? "Tidak, tidak mendekor ulang," katanya cepat kemudian nyengir, dan aku memiliki perasaan luar biasa bahwa dia menertawakanku. Apakah aku itu lucu? berpenampilan lucu? "Lewat sini," gumamku malu. "Selotip di lorong dekorasi." Aku melirik belakangku saat ia mengikuti. "Apakah kau bekerja lama di sini?" Suaranya rendah, dan dia menatapku, mata abu-abunya berkonsentrasi keras. aku tersipu lebih merah lagi. Kenapa dia punya pengaruh seperti ini padaku? aku merasa seperti berumur empat belas tahun - kurang ajar, seperti biasa, dan tidak pada tempatnya. Mata kedepan Steele! "Empat tahun," gumamku ketika kami mencapai tujuan kami. Untuk mengalihkan pikiran, aku meraih dan memilih dua selotip lebar yang kita punya. "Aku akan mengambil yang itu," Grey berkata lembut menunjuk ke selotip yang lebih lebar, yang aku ulurkan kepadanya. Jari-jari kita bersentuhan sangat singkat, dan listrik itu ada lagi, kejutan

listrik melaluiku seperti aku menyentuh kabel terbuka. Aku terkesiap tanpa sengaja saat aku merasakannya, seluruh bagian bawah ke tempat gelap dan belum dijelajahi, jauh di dalam perutku. Putus asa, Aku menggapai sekelilingku untuk mencari keseimbangan. "Ada lagi?" Adalah suara aku serak dan terengah. Matanya melebar sedikit. "Beberapa tali, aku pikir." Suaranya meniru suaraku, serak. "Lewat sini." aku menunduk kepalaku untuk menyembunyikan muka memerahku dan menuju gang. "Jenis apa yang kau cari? Kami memiliki tali filamen sintetis dan alami ... benang ... tali kabel ... "aku berhenti melihat ekspresinya, matanya gelap. Ya ampun. "Aku akan mengambil lima meter dari tali filamen alami." Dengan cepat, dengan jari gemetar, aku mengukur lima meter dengan penggaris permanen, menyadari bahwa tatapan panas abu-abunya padaku. aku tidak berani menatapnya. Astaga, bisakah aku jadi lebih diamati? Mengambil pisau Stanleyku dari saku belakang celana jeansku, aku memotongnya kemudian menggulung dengan rapi sebelum mengikatnya. Ajaibnya, aku berhasil untuk tidak memotong jari dengan pisauku. "Apakah kau seorang pramuka?" Ia bertanya, bibir sensualnya yang seperti terpahat menekuk geli. Jangan melihat mulutnya! "Kegiatan kelompok terorganisir bukanlah kesukaanku, Mr. Grey." Dia melengkungkan alis. "Apa kesukaanmu, Anastasia?" Tanyanya, suaranya lembut dan senyum rahasianya sudah kembali. Aku menatapnya tidak bisa mengekspresikan diri sendiri. Aku berada pada pergeseran lempeng tektonik. Coba dan menjadi tenang, Ana, alam bawah sadarku tersiksa memohon untuk berlutut. "Buku," bisikku, tapi di dalam, alam bawah sadarku berteriak: kau! kau adalah kesukaanku! Aku menamparnya turun seketika, malu bahwa jiwaku punya ide seperti itu. "Jenis buku apa?" Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi. Mengapa dia

begitu tertarik? "Oh, kau tahu. Biasalah. Klasik. Terutama sastra Inggris. " Dia menggosok dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jari yang panjang saat ia merenungkan jawabanku. Atau mungkin dia sangat bosan dan mencoba untuk menyembunyikannya. "Ada hal lain yang kau butuhkan?" aku harus keluar dari subjek ini - jari pada wajahnya begitu mempesona. "aku tidak tahu. Apa lagi yang akan kau rekomendasikan? " Apa yang akan aku rekomendasikan? Aku bahkan tidak tahu apa yang kau lakukan. "Untuk sesuatu yang kau lakukan sendiri?" Dia mengangguk, mata abu-abunya hidup dengan humor aneh. Aku tersipu, dan mataku menyimpang atas kemauannya sendiri kearah jeans nyamannya. "Pakaian kerja terusan," jawabku, dan aku tahu aku tidak menyaring lagi apa yang akan keluar dari mulutku. Dia mengangkat alis, geli, sekali lagi. "kau tidak akan ingin merusak pakaianmu," aku memberi isyarat samarsamar ke arah celana jinsnya. "aku selalu bisa melepasnya." Dia menyeringai. "Mm." aku merasa warna di pipiku memerah lagi. Aku pasti sewarna dengan manifesto komunis. Berhenti bicara. Berhenti bicara SEKARANG. "Aku akan mengambil beberapa pakaian kerja. Aku tidak akan merusak pakaian apapun, "katanya datar. aku mencoba dan mengabaikan gambaran yang tidak diundang dari dirinya tanpa celana jeans. "Apakah kau membutuhkan yang lain?" aku berkata saat aku menyerahkan terusan biru.

Dia mengabaikan pertanyaanku. "Bagaimana artikel itu?" Dia akhirnya memintaku pertanyaan normal, jauh dari semua makna ganda dan pembicaraan yang membingungkan ... pertanyaan yang bisa aku jawab. Aku pegang erat-erat dengan dua tangan seolah-olah itu rakit penyeamat, dan aku pilih untuk jujur. "aku tidak menulis, Katherine yang melakukannya. Nona Kavanagh. Teman sekamarku, dia penulis." Kate sangat senang melakukan itu. Dia adalah editor majalah, dan dia sangat terpukul karena tidak bisa melakukan wawancara secara pribadi" aku merasa seperti aku kekurangan udara - akhirnya, topik percakapan normal. "Satu-satunya kekhawatirannya adalah bahwa dia tidak memiliki foto aslimu." Grey mengangkat alis. "Foto macam apa yang dia mau?" Oke. Aku tidak memperhitungkan respon ini. Aku menggeleng, karena aku tidak tahu. "Yah, aku masih di sekitar sini. Besok, mungkin ... " ia berhenti. "kau bersedia untuk datang pada sesi pemotretan?" Suaraku melengking lagi. Kate akan ada di langit ketujuh jika aku bisa melakukan ini. Dan kau mungkin akan melihat dia lagi besok, tempat yang gelap di dasar otakku berbisik menggoda padaku. aku menolak pemikiran itu - semuanya tolol, konyol ... "Kate akan senang - jika kita dapat menemukan seorang fotografer." Aku sangat senang, aku tersenyum lebar padanya. Bibirnya terbuka, seperti dia mengambil napas tajam, dan ia berkedip. Untuk sepersekian detik, ia tampak hilang pegangan entah bagaimana, dan bumi sedikit bergeser pada porosnya, lempeng tektonik bergeser ke posisi baru. Oh. Christian Grey kehilangan pegangan. "Kabari aku tentang acara besok." merogoh ke dalam saku, ia mengeluarkan dompetnya. "Kartu namaku. Disana ada nomor HPku. kau harus menelepon

sebelum pukul sepuluh pagi." "Oke." Aku tersenyum ke arahnya. Kate akan sangat senang. "ANA!" Paul telah muncul di ujung gang. Dia saudara bungsu Mr. Clayton. Aku pernah mendengar ia pulang dari Princeton, tapi aku tidak menyangka akan menemuinya hari ini. "Emm, maaf sebentar, Mr. Grey." Grey mengerutkan kening karena aku berpaling darinya. Paul selalu menjadi teman, dan di saat yang aneh yang aku memiliki dengan Grey yang kaya, berkuasa, menarik luar biasa dan gila kontrol, itu bagus untuk bicara dengan seseorang yang normal. Paul memeluk keras membuatku terkejut. "Ana, hai, sangat senang bertemu denganmu!" katanya menyembur. "Halo Paul, apa kabar? kau di rumah untuk ulang tahun kakakmu? " "Yah. Kau tampak sehat, Ana, sangat baik" Dia menyeringai saat ia memeriksaku dari dekat. Lalu ia melepaskanku, tapi tetap menaruh lengannya dengan posesif di bahuku. Aku bergeser dari kaki ke kaki, malu. Senang melihat Paul, tapi dia selalu berlebihan akrabnya. Ketika aku melirik Christian Grey, dia mengawasi kami seperti elang, mata abu-abunya menyipit dan spekulatif, mulutnya membuat garis ekspresi keras. Dia berubah dari pelanggan penuh perhatian menjadi orang lain seseorang yang dingin dan jauh. "Paul, aku sedang melayani pelanggan. Seseorang yang kau harus temui," kataku, berusaha meredakan permusuhan yang aku lihat di mata Grey. Aku menyeret Paul ke bertemu dengannya, dan mereka memperhitungkan satu sama lain. Suasana tiba-tiba seperti di kutub. "Ehm, Paul, ini adalah Christian Grey. Mr. Grey, ini adalah Paul Clayton. Saudaranya memiliki tempat ini. "Dan untuk beberapa alasan tidak rasional, aku merasa aku harus menjelaskan lebih banyak. "aku sudah kenal Paul sejak aku bekerja di sini, meskipun kita tidak sering bertemu. Dia kembali dari Princeton mempelajari administrasi bisnis" Aku mengoceh ... Berhenti, sekarang!

"Mr. Clayton" Christian mengulurkan tangannya, wajahnya tidak terbaca. "Mr. Grey," Paul membalas jabatan tangannya. "Tunggu dulu - bukan Christian Grey? Grey dari Enterprises Holdings? Paul dari bermuka masam jadi terpesona dalam waktu kurang dari satu nanodetik. Grey memberinya senyum sopan yang tidak sapai pada matanya. "Wow - apa ada yang bisa aku dapatkan untukmu?" "Anastasia sudah mencarikan semuanya, Mr. Clayton. Dia sangat penuh perhatian" Ekspresinya tanpa emosi, Tapi kata-katanya ... ini seperti dia mengatakan sesuatu yang lain. Ini membingungkan. "Bagus," jawab Paul. "Sampai nanti, Ana." "Tentu, Paul." aku menonton dia menghilang menuju ruang penyimpanan. "Ada lagi, Mr. Grey?" "Hanya barang-barang ini." Nada suaranya terpotong dan dingin. Sial ... apa aku telah menyinggung perasaannya? Mengambil napas dalam-dalam, aku berbalik dan menuju kasir. Apa masalahnya? Aku menghitung tali, baju, selotip, dan pengikat kabel di meja kasir. "Jadi semuanya empat puluh tiga dolar." Aku melirik Grey, dan aku berharap aku tidak melakukannya. Dia mengawasiku dengan cermat, mata abuabunya intens dan berasap. Ini mengerikan. "Apakah kau ingin tas?" Tanyaku sambil mengambil kartu kreditnya. "Ya, Anastasia." Lidahnya membelai namaku, dan hatiku sekali lagi jadi panik. Aku hampir tidak bisa bernapas. Buru-buru, aku menempatkan pembelian di bungkusan plastik. "kau akan meneleponku jika kau ingin aku untuk melakukan pemotretan?" Dia sekali lagi kembali keurusan bisnis lagi. Aku mengangguk, tak bisa berkata-kata lagi, dan menyerahkan kembali kartu kreditnya. "Bagus. Sampai besok mungkin" Dia berbalik untuk pergi, kemudian berhenti. "Oh - dan Anastasia, aku senang Nona Kavanagh tidak bisa melakukan wawancara." Dia tersenyum, kemudian melangkah keluar dari

toko, menggantung kantong plastik di atas bahunya, meninggalkanku dengan hormon wanita yang mengamuk ditubuhku. aku menghabiskan beberapa menit menatap pintu yang tertutup di mana dia pergi sebelum aku kembali ke planet Bumi. Oke - aku menyukainya. Nah, aku sudah mengakui hal itu kepada diriku sendiri. aku tidak dapat bersembunyi dari perasaanku lagi. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. aku menemukan dia menarik, sangat menarik. Tapi itu sia-sia, aku tahu, dan aku mendesah dengan penyesalan yang pahit. Itu hanya kebetulan, dia datang ke sini. Tapi tetap saja, aku dapat mengaguminya dari jauh, kan? Tidak ada salahnya. Dan jika aku menemukan fotografer, aku dapat mengagumi dia dengan serius. Aku menggigit bibir mengantisipasi dan menemukan diriku menyeringai seperti anak sekolahan. aku perlu menelepon Kate dan mengatur sesi foto besok.