Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Infrastruktur di setiap negara merupakan hal yang sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan rakyat, begitu pula di Indonesia, sebagai contoh: tersedianya jalan (baik jalan biasa maupun jalan tol) akan sangat membantu berkembangnya masyarakat di suatu wilayah, kegiatan bisnis atau usaha di suatu wilayah akan semakin berkembang seiring dengan semakin baiknya ketersediaan infrastruktur jalan yang merupakan akses ke wilayah tersebut. Begitu pula jenis-jenis infrastruktur lain seperti pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api, infrastruktur tenaga listrik, penyediaan air minum, infrastruktur persampahan, dan juga infrastruktur telekomunikasi. Pentingnya ketersediaan infrastruktur tersebut membuat Pemerintah sebagai pihak yang berwenang untuk menyediakan infrastruktur tersebut membutuhkan suatu dana yang sangat besar untuk mendanai pembangunan infrastruktur yang menyeluruh dan berkesinambungan. Ironisnya bahwa kemampuan pemerintah untuk mnyediakan dana infrastruktur jauh dari kata cukup untuk menyediakan infrastruktur jauh dari kata cukup. Sebagai gambaran Pemerintah memiliki target pembiayaan infrastruktur selama tahun 2009-2014 (untuk memenuhi Millenium Development Goal pada tahun 2015) adalah sebesar kurang lebih 1400 triliun rupiah, sementara kemampuan pendanaan Pemerintah sendiri melalui APBN selama 5 tahun diprediksikan hanya mencapai sekitar 400 triliun rupiah. Seharusnya di Indonesia tidak hanya menjamin ketersediaan infrastruktur jalan saja, tapi juga perlu diperhatikan apakah jalan-jalan yang ada di Indonesia sudah berguna sesuai dengan fungsi dari jalan tersebut atau belum. Selain itu juga perlu memperhatikan pentingnya menciptakan keselamatan dan ketertiban bagi para pengguna jalan raya baik pengendara motor,mobil, ataupun pejalan kaki. Sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia dan juga dapat secara otomatis meningkatkan ketertiban berlalu lintas

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 1

1.2

RUMUSAN MASALAH 1.2.1 Bagaimana cara mewujudkan peran penting jalan agar tercipta keselamatan jalan? 1.2.2 Apa saja syarat untuk jalan yang aman dan nyaman?

1.3

TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan dari paper ini adalah 1.3.1 Untuk mengetahui cara mewujudkan peran penting jalan agar tercipta keselamatan jalan. 1.3.2 Untuk mengetahui syarat untuk jalan yang aman dan nyaman.

1.3

MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat dari praktikum pemetaan ini adalah Untuk menghasilkan kondisi geometrik jalan yang mampu memberikan pelayanan lalu lintas secara optimum serta mewujudkan keamanan, keselamatan dan kenyamanan dalan berlalu lintas bagi pemakai jalan.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 2

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Geometri Jalan Perencanaan geometrik jalan adalah perencanaan dari suatu ruas jalan secara lengkap, meliputi beberapa elemen yang disesuaikan dengan kelengkapan dan data dasar yang ada atau tersedia dari hasil survey lapangan dan telah dianalisis dengan suatu standar perencanaan. 2.1.1 Definisi Jalan Jalan adalah. prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006). Jalan raya adalah jalur - jalur tanah di atas permukaan bumi yang dibuat oleh manusia dengan bentuk, ukuran - ukuran dan jenis konstruksinya sehingga dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang mengangkut barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan mudah dan cepat (Clarkson H.Oglesby,1999). Dalam Pasal 5 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, disebutkan bahwa jalan mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara sehingga akan mendorong pengembangan semua sarana wilayah, pengembangan dalam usaha mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang semakin merata. Artinya infrastruktur jalan merupakan urat nadi perekonomian suatu wilayah, hal ini disebabkan perannya dalam menghubungkan serta meningkatkan pergerakan manusia, dan barang. Jalan raya adalah jalan utama yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan yang lain. Biasanya jalan besar ini mempunyai ciri-ciri berikut: Digunakan untuk kendaraan bermotor, Digunakan oleh masyarakat umum, Dibiayai oleh perusahaan

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 3

Negara, Penggunaannya diatur oleh undang-undang pengangkutan (Wikipedia Indonesia, 2011) 2.1.2 Konsep Jalan di Indonesia Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakatnya. Transportasi darat yang didukung oleh jaringan jalan, berfungsi sebagai fasilitas fisik infrastruktur bagi kepentingan masyarakatnya.

Gambar 1. Struktur Lapisan Perkerasan Jalan Sumber: Departemen PU dan Japan International Cooperation Agency, 2005

2.2 Sistem jaringan jalan Jaringan jalan merupakan suatu sistem yang mengikat dan menghubungkan pusatpusat pertumbuhan dengan wilayah yang berbeda dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hirarki. Menurut peran pelayanan jasa distribusinya, sistem jaringan jalan terdiri dari: 2.2.1 Sistem jaringan jalan Primer Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota. Jalan Arteri Primer Jalan Kolektor Primer Jalan Lokal Primer

2.2.2 Sistem jaringan jalan sekunder Sistem jaringan jalan dengan peranan yang menghubungkan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam Kota.
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 4

Jalan Arteri Sekunder Jalan Kolektor Sekunder Jalan Lokal Sekunder

2.3 Klasifikasi Jalan Jalan raya pada umumnya dapat digolongkan dalam 4 klasifikasi yaitu: klasifikasi menurut fungsi jalan, klasifkasi menurut kelas jalan, klasifikasi menurut medan jalan dan klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan (Bina Marga 1997). 2.3.1 Klasifikasi menurut fungsi jalan Klasifikasi menurut fungsi jalan terdiri atas 3 golongan yaitu: 1) Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien. 2) Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciriciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi. 3) Jalan lokal yaitu Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. 2.3.2 Klasifikasi menurut kelas jalan Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton. FUNGSI ARTERI KELAS I II IIIA KOLEKTOR IIIA IIIB MUATAN SUMBU TERBERAT/MST(ton) >10 8 8 8 8

Tabel.1 Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Ditjen Bina Marga, 1997.
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 5

2.3.3 Klasifikasi menurut medan jalan Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut. NO 1. 2. 3. JENIS MEDIAN Datar Berbukit Pegunungan NOTASI D B G Tabel.2 Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Ditjen Bina Marga 1997 2.3.4 Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan Wewenang pengelolaan jaringan jalan dapat dikelompokkan menurut: 1) Jalan Nasional adalah Menteri Pekerjaan Umum (dulu Menteri Kimpraswil) atau pejabat yang ditunjuk. 2) Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah atau instansi yang ditunjuk. 3) Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Kabupaten atau instansi yang ditunjuk. 4) Jalan Kota adalah Pemerintah Daerah Kota atau instansi yang ditunjuk. 5) Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan. 6) Jalan Khusus adalah pejabat atau orang yang ditunjuk. KEMIRINGAN MEDAN % <3 3 25 >25

2.4 Perencanaan Geometrik Jalan Raya 2.4.1 Standar Perencanaan Standar perencanaan adalah ketentuan yang memberikan batasan-batasan dan metode perhitungan agar dihasilkan produk yang memenuhi persyaratan. Standar perencanaan geometrik untuk ruas jalan di Indonesia biasanya menggunakan peraturan resmi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga tentang perencanaan geometrik jalan
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 6

raya. Peraturan yang dipakai dalam studi ini adalah Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga dengan terbitan resmi No. 038 T/BM/1997 dan American Association of State Highway and Transportation Officials. 2001 (AASHTO 2001).

2.5 Elemen Perencanaan Geometrik Jalan 2.5.1 Penampang Melintang Jalan Penampang melintang jalan adalah potongan suatu jalan secara melintang tegak lurus sumbu jalan (Sukirman, 1994).

Gambar 2.Penampang Melintang Jalan Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Ditjen Bina Marga 1997.

a) DAMAJA (Daerah Manfaat Jalan), adalah daerah yang dibatasi oleh batas ambang pengaman konstruksi jalan di kedua sisi jalan, tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, dan kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah muka jalan.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 7

b) DAMIJA (Daerah Milik Jalan), adalah daerah yang dibatasi oleh lebar yang sama dengan Damaja ditambah ambang pengaman konstruksi jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 meter. c) DAWASJA (Ruang Daerah Pengawasan Jalan), adalah ruang sepanjang jalan di luar DAMAJA yang dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari sumbu jalan sebagai berikut: a) jalan Arteri minimum 20 meter b) jalan Kolektor minimum 15 meter c) jalan Lokal minimum 10 meter *Untuk keselamatan pemakai jalan, DAWASJA di daerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang bebas. Bagian-bagian penampang melintang jalan yang terpenting dapat dibagi menjadi : 1) Jalur lalu lintas Jalur lalu lintas adalah keseluruhan bagian perkerasan jalan yang diperuntukan untuk lalu lintas kendaraan (Sukirman ,1994). Jalur lalu lintas dapat terdiri atas beberapa lajur dengan type anatara lain: 2) Lajur Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan, memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana. Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana (Jotin Khisty, 2003). 3) Bahu jalan Bahu jalan atau tepian jalan adalah bagian jalan yang terletak di antara tepi jalan lalu lintas dengan tepi saluran, parit, kreb atau lereng tepi (Clarkson H.Oglesby,1999). AASHTO menetapkan agar bahu jalan yang dapat digunakan harus dilapisi perkerasan atau permukaan lainyang cukup kuat untuk dilalui kendaraan dan menyarankan bahwa apabila jalur jalan dan bahu jalan dilapisi dengan bahan aspal, warna dan teksturnya harus dibedakan.
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

1 jalur-2 lajur-2 arah (2/2 TB) 1 jalur-2 lajur-l arah (2/1 TB) 2 jalur-4 1ajur-2 arah (4/2 B) 2 jalur-n lajur-2 arah (n/2 B)

Page 8

Gambar .3 Bahu Jalan

4) Median Median adalah bagian bangunan jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalu lintas yang berlawanan arah (Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2004). Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25-0,50 meter dan bangunan pemisah jalur. 5) Fasilitas pejalan kaki Pejalan kaki adalah istilah dalam transportasi yang digunakan untuk menjelaskan orang yang berjalan di lintasan pejalan kaki baik dipinggir jalan, trotoar, lintasan khusus bagi pejalan kaki ataupun menyeberang jalan. Untuk melindungi pejalan kaki dalam berlalu lintas, pejalan kaki wajib berjalan pada bagian jalan dan menyeberang pada tempat penyeberangan yang telah disediakan bagi pejalan kaki. Fasilitas pejalan kaki berfungsi memisahkan pejalan kaki dari jalur lalu lintas kendaraan guna menjamin keselamatan pejalan kaki dan kelancaran lalu lintas.Perlengkapan bagi para pejalan kaki sebagaimana pada kendaraan bermotor sangat penting terutama di daerah perkotaan dan untuk jalan masuk ke atau keluar dari tempat tinggal (Clarkson H.Oglesby,1999).

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 9

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Peran Penting Jalan Dalam Mewujudkan Keselamatan Jalan Keberadaan infrastruktur jalan yang baik serta lancar untuk dilalui penting perannya dalam mengalirkan pergerakan komoditas yang selanjutnya akan mampu menggerakkan perkembangan peri kehidupan sosial dan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat. Peran dari pentingnya sarana jalan tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan yang diatur dalam Bab II Pasal 3 ayat 2 disebutkan bahwa: Pengadaan jalan diarahkan untuk memperkokoh kesatuan wilayah nasional sehingga menjangkau daerah terpencil. Berdasarkan isi pasal tersebut diartikan bahwa pembangunan jalan diarahkan serta dimaksudkan untuk membebaskan daerah tertentu dari keterisoliran, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pergerakan manusia, barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya. Kondisi jalan yang lancar merupakan ukuran yang dapat menggambarkan baik buruknya operasional lalu lintas berupa kecepatan, waktu tempuh (efisiensi waktu), kebebasan bermanuver, kenyamanan, pandangan bebas, keamanan dan keselamatan jalan. Selain itu, keselamatan di Jalan atau Road Safety dapat diciptakan dengan satu proses yang saling bersinergi satu sama lainnya. Tidak cukup hanya mengandalkan para penegak hukum untuk mengambil peran terhadap keselamatan di jalan, tidak kalah penting peran dari pengguna jalannya sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam proses terciptanya Keselamatan di Jalan. Menurut Indonesia Higway Capacity Manual (IHCM Part-II Road) tingkat kelancaran dan keselamatan lalu lintas tersebut dipengaruhi oleh berapa faktor yaitu: (1) kondisi kegiatan penduduk dan pola penggunaan lahan sekitar ruas jalan, (2) kondisi persimpangan sepanjang jalan, (3) kondisi trase jalan, (4) kondisi volume lalu lintas (5) kondisi kecepatan kenderaan (Sofyan, 2004). Menurut salah satu sumber di internert menjelaskan ada 4 (empat) faktor utama yang berpengaruh terhadap terciptanya Keselamatan di Jalan (ROAD SAFETY) yakni :
(1) Kebutuhan Transportasi
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 10

Kebutuhan manusia akan alat transportasi untuk mempermudah dan mempercepat kegiatannya sehari-hari. Alat transportasi apapun, mulai dari sepeda sampai dengan kereta api akan dibutuhkan orang dan masing-masing orang memiliki kepentingan dalam beraktifitas salah satunya agar tujuan perjalanannya dapat cepat tercapai sehingga hal ini berpengaruh terhadap keselamatan di jalan. Pemerintah atau regulator suatu waktu dapat membuat ketentuan mengenai pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor agar jumlah kendaraan tidak meninggalkan jauh pertambahan jumlah jalan. Hal ini pernah menjadi wacana dalam dunia transportasi karena banyaknya kepentingan yang bermain disini termasuk kepentingan bisnis dari para produsen kendaraan bermotor.
(2) Kemampuan Berkendara

Kemampuan manusia untuk mengendarai kendaraan pada transportasi darat sangat mempengaruhi keselamatan di jalan. Bayangkan jika masing-masing pengendara baik itu biker, driver, supir bis, supir angkutan umum sampai dengan masinis tidak memiliki kemampuan berkendara yang cukup, akan banyak terjadi kecelakaan dimana-mana. Perlu adanya pelatihan berkendara yang tidak saja mengajarkan teknik berkendara yang benar dan aman namun yang lebih penting adalah bagaimana menjadi pengendara yang memiliki perilaku atau attitude yang baik dan elegan yang tidak membahayakan dirinya sendiri maupun pengguna jalan lain pada saat berkendara. Selain itu pemahaman terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku juga patut disebarluaskan. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat seperti, sebut saja Road Safety Association, Trotoar sangat dibutuhkan mengambil peran pada porsi ini.
(3) Lingkungan

Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah Lingkungan, lingkungan disini maksudnya adalah infrastruktur jalan lengkap dengan perangkatnya seperti ramburambu lalu lintas, traffic light, jembatan penyeberangan, zebra cross, trotoar, pedestrian sampai dengan lahan parkir kendaraan turut mempengaruhi terciptanya keselamatan jalan.
(4) Penegakan Hukum

Faktor terakhir yang menurut saya sangat-sangat menentukan adalah Law Enforcement atau Penegakan Hukum. Penegakan Hukum sangat menentukan terciptanya Keselamatan di Jalan. Coba bayangkan bila kebutuhan akan
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 11

transportasi sudah terpenuhi, kemampuan berkendara sudah dimiliki oleh setiap orang, dan didukung dengan lingkungan infrastruktur jalan yang sudah lengkap dan baik namun tidak ada hukum yang mengatur itu semua, dan kalaupun ada hukum yang berlaku namun tidak dijalankan secara konsisten dan berkomitmen oleh para penegak hukum? apa yang akan terjadi? ditambah lagi dengan tidak adanya kesadaran dan kepatuhan dari pengguna jalan akan hukum atau peraturan yang berlaku akan menambah sulitnya menciptakan keselamatan di jalan. Keselamatan jalan terwujud karena adanya keamanan jalan. Untuk mewujudkan keamanan jalan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya pemakai jalan, kondisi jalan, kondisi dan perencanaan traffic control, kendaraan , hukum dan peraturan lalu lintas, kondisi lingkungan, pengelolaan sistem lalu lintas.
(1) Pemakai Jalan

Pemakai jalan adalah semua orang yang secara langsung menggunakan fasilitas jalan. Sehingga pemakai jalan memegang peran penting dalam mewujudkan keselamatan jalan. Pemakai jalan yang dimaksud adalah pengemudi, pejalan kaki dan pemakai jalan lain seperti pedagang kaki lima, pekerja galian, dll.
(2) Kondisi Jalan

Kondisi jalan dipengaruhi oleh desain geometrik jalan dan kondisi perkerasan jalan serta semua kondisi pendukung pada jalan seperti kondisi bahu jalan, penerangan, pagar pemisah dan lain-lain yang dapat mencegah dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
(3) Kondisi dan perencanaan rambu-rambu dan tanda pengatur lalu lintas

Kondisi ini yang dimaksud adalah sistem pengatur lalu lintas meliputi marka jalan, rambu-rambu jalan dan lampu pengatur lalu lintas. Dengan sistem pengaturan yang baik maka kondisi lalu lintas akan teratur tanpa adanya pelanggaran dari pemakai jalan.
(4) Kendaraan

Agar pemakai jalan terjamin keselamatannya dalam berkendara hendaknya diperhatikan kondisi kendaraan tersebut layak jalan atau tidak.
(5) Hukum dan peraturan lalu lintas

Hukum dan peraturan lalu lintas dibuat dengan tujuan memberikan efek jera kepada pengguna jalan agar dapat mematuhi peraturan berlalu lintas.
(6) Kondisi
Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 12

Kondisi lingkungan berperan untuk membentuk suasana aman dan nyaman dalam berkendara maupun sebaliknya.
(7) Pengelolaan sistem lalu lintas

Sistem lalu lintas hendaknya dikelola dengan baik dengan menggabungkan hal-hal yang disebutkan sebelumnya untuk mewujudkan sistem lalu lintas yang aman, nyaman, dan lancar.

3.2 Kriteria Jalan Yang Memenuhi Standart Keselamatan Jalan Dengan dasar begitu pentingnya peran jalan dalam keberlangsungan kegiatan masyarakat pada umumnya, tingkat keamanan dan keselamatan pengguna menjadi tolak ukur utama yang dijadikan bahan pertimbangan dalam pembuatan jalan itu sendiri. Kriteriakriteria yang memenuhi standar pun harus dipenuhi agar terwujud keselamatan di jalan serta kenyamanan bagi pengguna. Kriteria tersebut diantaranya:
(1) Kondisi struktur jalan sesuai dengan kapasitas dan berat beban yang akan ditumpu.

Struktur tersebut meliputi: Badan Jalan, adalah bagian jalan yang meliputi seluruh jalur lalu lintas, trotoar, median, dan bahu jalan, serta talud/lereng badan jalan yang merupakan satu kesatuan untuk mendukung beban lalu lintas yang diatas permukaan jalan. Ambang Pengaman, lajur terluar damaja, dimaksudkan untuk mengamankan bangunan konstruksi jalan, terhadap struktur lain, untuk masuk kawasan jalan. Perkerasan Jalan, adalah lapisan konstruksi yang dipasang langsung diatas tanah dasar bahan jalan, pada jalur lalu lintas, yang bertujuan untuk menerima dan menahan beban langsung dari lalu lintas. Tanah dasar (subgrade), adalah lapisan tanah asli/tidak asli yang disiapkan/ diperbaiki kondisinya, untuk meletakkan perkerasan jalan.
(2) Perencanaan Geometrik Jalan harus memenuhi parameter yang dijadikan standar,

seperti: Kecepatan Rencana (Design Speed), adalah kecepatan maksimumyang aman dan bisa tetap dipertahankan pada suatu ruas jalan.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 13

Kendaraan Rencana (Design Vehicle), adalah kendaraan dengan berat, dimensi dan karakteristik operasi tertentuyang digunakan untuk perencanaan jalan, agar dapat menampung kendaraan dari tipe yang direncanakan.

Volume Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) Volume Jam Rencana (VJR), adalah volume lalu lintas perjam. Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR), adalah prakiraan volume lalu lintas harian, untuk masa yang akan datang Satuan Mobil Penumpang (SMP), adalah jumlah penumpang yang digantikan tempatnya oleh kendaraan jenis lain dalam kondisi jalan, lalu lintas dan pengawasan yang berlaku.

Kapasitas, adalah volume lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan Tingkat Pelayanan, adalah tolok ukur untuk menilai kualitas pelayanan jalan. Gaya sentrifugal,adalah gaya yang mendorong kendaraan kearah radial keluar dari lajur jalan. Koefisien Geser Melintang, adalah besarnya gesekan antara ban kendaraan dengan permukaan jalan. Jarak Pandang Henti, adalah jarak minimum yang diperlukan untuk menghentikan kendaraan. Jarak Pandang menyiap, adalah jarak yang memungkinkan kendaraan untuk mendahului kendaraan lain.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 14

BAB V PENUTUP

Dari hasil pembahasan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut: 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pebahasan dapat diambil kesimpulan bahwa dari hasil pengujian didapatkan: 5.1.1 Peran Penting Jalan Dalam Mewujudkan Keselamatan Jalan Menurut Indonesia Higway Capacity Manual (IHCM Part-II Road) tingkat kelancaran dan keselamatan lalu lintas tersebut dipengaruhi oleh berapa faktor yaitu: (1) kondisi kegiatan penduduk dan pola penggunaan lahan sekitar ruas jalan, (2) kondisi persimpangan sepanjang jalan, (3) kondisi trase jalan, (4) kondisi volume lalu lintas (5) kondisi kecepatan kenderaan (Sofyan, 2004). Menurut salah satu sumber di internert menjelaskan ada 4 (empat) faktor utama yang berpengaruh terhadap terciptanya Keselamatan di Jalan (ROAD SAFETY) yakni :
(1) Kebutuhan Transportasi (2) Kemampuan Berkendara (3) Lingkungan (4) Penegakan Hukum

Keselamatan jalan terwujud karena adanya keamanan jalan. Untuk mewujudkan keamanan jalan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya pemakai jalan, kondisi jalan, kondisi dan perencanaan traffic control, kendaraan , hukum dan peraturan lalu lintas, kondisi lingkungan, pengelolaan sistem lalu lintas.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 15

5.1.2

Kriteria Jalan Yang Memenuhi Standart Keselamatan Jalan Kriteria-kriteria yang memenuhi standar pun harus dipenuhi agar terwujud

keselamatan di jalan serta kenyamanan bagi pengguna,diantaranya:


(1) Kondisi struktur jalan sesuai dengan kapasitas dan berat beban yang akan

ditumpu tersebut meliputi : Badan Jalan Ambang Pengaman Perkerasan Jalan Tanah Dasar

(2) Perencanaan Geometrik Jalan harus memenuhi parameter yang dijadikan

standar, seperti : Kecepatan Rencana (Design Speed) Kendaraan Rencana (Design Vehicle) Volume Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) Volume Jam Rencana (VJR) Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR) Satuan Mobil Penumpang (SMP) Kapasitas Tingkat Pelayanan Gaya sentrifugal Koefisien Geser Melintang Jarak Pandang Henti Jarak Pandang menyiap

5.2 Saran Beberapa saran terkait dengan hasil pembahasa yang telah diuraikan adalah: 1. Adanya ketersediaan infrastruktur jalan yang aman, peraturan-peraturan jalan yang mendukung serta batas kecepatan kendaraan yang aman.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 16

2. Kita harus menjaga dan memanfaatkan fasilitas umum sesuai dengan kegunaannya. 3. Menanamkan kesadaran diri akan keselamatan saat berkendara serta selalu mematuhi peraturan lalu lintas di jalan raya 4. Pemerintah menciptakan jalan sesuai dengan kapasitas daya tampung jalan tersebut agar tidak terjadi kemacetan.

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 17

DAFTAR PUSTAKA

Tekmira. 2008. Upaya Meminimalisasi Penumpukan Limbah Hasil Pembakaran Batubara. http://www.tekmira.esdm.go.id/beritaList.asp [18 Maret 2011].

Its.undergraduate.10224.paper.pdf www.SolidPDF.com [15 September 2013]

Endi, Robert Jaweng. 2012. KPPOD- Mewujudkan Pembangunan Ekonomi bagi Kesejahteraan Rakyat.edisi sept-okt 2012 www.kppod.org [15 september 2013]

Saodang, Hamirhan. 2010. Konstruksi Jalan Raya. Nova: Bandung

http://chellybanjarnahor.blogspot.com/2012/05/pembangunan-jalan-raya-merupakanbagian.html [16 september 2013]

Rekayasa Geometri Jalan Raya Kelas C TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JEMBER

Page 18