Anda di halaman 1dari 2

Mengenai SIKAP MENTAL, tentunya kita sudah tidak asing lagi mendengarnya, bukan?

Ya,, dalam perkembangan Zaman seperti sekarang ini hampir setiap kali kita mendengar orang-orang mengatakan si Fulan tuh SIKAP MENTALnya jelek, buruk, urakan, tidak dapat dikendalikan, dan sebagainya.

Atau barangkali kita mendengar ada seorang dewasa yang mengatakan: sebetulnya dia Anak yang pandai, cerdas, punya keahlian, tapi sayang.. SIKAP MENTALnya itu loh... atau bahkan pernah juga anda memiliki pengalaman pribadi, pernah menolak bekerjasama dengan orang lain hanya karena anda menilai SIKAP MENTALnya tidak seperti yang anda syaratkan? Jika itu yang terjadi,, menurut anda apakah sebetulnya yang dimaksud SIKAP MENTAL dan apa yang dapat kita lakukan terhadapnya ? Mari kita simak cerita berikut yang barangkali sering terjadi tidak jauh dari sekitar kita. Siap ? 3.21 **Masihkah kita ingat ada seorang ayah atau ibu marah-marah ketika mendapati anaknya yang pulang dari sekolah dengan wajak ditekuk dan ketakutan membawa nilai ujian jeblok, tidak sesuai yang diharapkan oleh sang Ayah..? Ya,, saat itu saya masih mengingatnya dengan jelas ketika ada seorang Ayah disekitar saya..sang ayah dengan nada tinggi dan menekan mengatakan dengan tegas: Kamu ini, belajar mu malas, nggak pernah becus, nggak pernah bener, sudah dibiayai mahal-mahal masih dapet nilai jelek hardik sang ayah. Ayah capek cari uang buat kamu sekolah tapi malah nilaimu jelek, dasar kamu goblok, bodoh, tolol betul otakmu ini!! tambahnya belum puas dan demikian seterusnya(maaf jika penggunaan bahasa kurang berkenan*hanya untuk mencontohkan). Dari sepenggal cerita di atas, apa yang anda pikirkan dari si Anak? Anak tentu minder, merasa dirinya bodoh, goblok dan lebih tidak berarti daripada teman-temannya yang lain, apalagi dipertegas dengan seringnya sang Ayah marah-marah. Sehingga Ia menjadi tidak pernah pandai dalam pelajaran karena belajar di bawah tekanan, keterpaksaan, bukan kesenangan.
Inilah SIKAP MENTAL, yang dibentuk orang tua, dan orang dewasa disekelilingnya, karena bukan mendorong, memberikan pengertian, memotivasi kesulitan Anak tetapi .., sehingga membebani pikiran sang Anak dalam belajar.

Jika kurang pandai dalam pelajaran misal: Fisika- anak merasa kesulitan dan takut dengan pelajaran tersebut, maka bukankah lebih baik jika sang Anak didampingi belajar, berikan pengertian dan pemahaman dengan suasana tenang dan gaya cerita menyenangkan, dukungan dan memotivasi agar Anak tidak stress dan frustasi dengan pelajaran itu. Dapat juga dengan memberikan rasa dan suasana aman dan nyaman kepada si Anak agar dapat belajar pelajaran dengan tenang, tentram, dan fokus karena hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan SIKAP MENTAL si Anak dan akhirnya berbuah manis seperti yang orang tua harapkan. Masih banyak hal yang terjadi di sekitar kita, seringkali tidak kita sadari melalui tindakan, sikap dan tingkah laku, ucapan, yang mungkin kurang berkenan ditujukan kepada si Anak. Perhatikan juga pengaruh external si Anak seperti-misalnya kondisi masalah dengan guru, rekan sekolah, orang lain yang mengganggu (preman), atau siapa saja yang dapat merusak mentalnya. Mengapa Penting ??

Pentingnya hal tersebut sebab Anak adalah generasi cemerlang, generasi bangsa Indonesia, masa depan kita. Itulah bagian dari tugas kita merawat generasi masa depan agar tidak cacat MENTAL. Salam semangat membangun Bangsa.