Anda di halaman 1dari 20

EDS/MSPD Sebagai Komponen Utama SPMP dalam Implementasi MBS: Upaya Peningkatan Budaya Mutu Pendidikan di Tingkat Sekolah

Kistono AR *)
(Koordinator Klaster 2 Program Peningkatan Kapasitas Internal LPMP/BDK seIndonesia) Oleh:

Pendahuluan
Mutu pendidikan di Indonesia masih cukup memprihatinkan. Di luar berbagai prestasi akademis yang dicapai siswa-siswa Indonesia di berbagai lomba ilmiah tingkat dunia, kita masih harus mengakui bahwa masih sangat banyak sekolah yang kondisi sarana prasarana dan proses pembelajarannya masih jauh dari memuaskan. Untuk itu, peningkatan mutu pendidikan masih merupakan salah satu program utama yang menjadi fokus perhatian Kementerian Pendidikan Nasional dan menjadi pekerjaan rumah Pemerintah. Sesungguhnya sudah cukup banyak yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, khususnya pendidikan tingkat dasar dan menengah. Salah satu upaya adalah mengimplementasikan desentralisasi pendidikan secara bertahap. Desentralisasi, atau juga sering disebut otonomi, pendidikan ini awalnya (sekitar akhir tahun 1990-an) dimulai dengan sektor pendanaan sekolah/madrasah melalui pemberian matching-grant atau hibah bersyarat, di mana sekolah/madrasah (satuan pendidikan) menyediakan dana peningkatan mutunya sebesar 10% dan pemerintah (melalui pinjaman Bank Dunia) memberikan hibah dana 90% dari kebutuhan yang yang diperlukan, misalnya untuk menambah ruang kelas baru. Kemudian, pola matching-grant ditingkatkan menjadi block-grant (hibah murni/penuh) dan sudah dilaksanakan sampai saat ini dalam berbagai bentuk, misalnya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dan BOS Buku. Dalam otonomi bidang organisasi, sekolah kemudian diminta untuk mengganti asosiasi orang tua murid, yang dulu dikenal dengan nama BP3 (Badan Pembantu Pelaksana Pendidikan) dengan tugas utamanya sebagai pengumpul dana sumbangan dari orang tua murid untuk sekolah, menjadi Komite Sekolah/Madrasah dengan berbagai tugas yang tidak sekedar menjadi kasir, tapi juga ikut memikirkan, merancang, mengawasi, dan bila perlu ikut melaksanakan, serta mengevaluasi berbagai program peningkatan mutu sekolah. Haryadi, Y. (dkk) (2006) menyatakan bahwa peran Komite Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut (1) sebagai advisory agency, (2) supporting agency, (3) controlling agency, dan (4) mediator agency.

Di tingkat kota/kabupaten dan provinsi dibentuk Dewan Pendidikan tingkat Kota/Kabupaten dan Dewan Pendidikan tingkat Provinsi yang tugas utamanya adalah untuk mendorong terjadinya percepatan peningkatan mutu pendidikan. Jadi, secara organisatoris, peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat menjadi suatu proses yang bottom-up, yang berbasis pada akuntabilitas publik, BUKAN akuntabilitas yang hanya kepada pejabat birokrat atasan sekolah. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa bila akuntabilitas sekolah kepada publik/masyarakat baik, maka akuntabilitas kepada atasan juga akan baik, namun tidak sebaliknya. Dalam implementasi otonomi manajemen, sejak akhir 1990-an, sekolah diminta untuk melaksanakan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), suatu pola manajemen yang memberikan ruang gerak dan otonomi yang cukup bagi sekolah untuk dapat menentukan dan melaksanakan sendiri program-program peningkatan mutu dengan dasar akuntabilitas publik. Pola manajemen ini diharapkan menjadi suatu budaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Selanjutnya, budaya peningkatan mutu pendidikan akan dapat dilaksanakan dengan baik bila sekolah terbiasa melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) dalam implementasi MBSnya. Dan, instrumen utama dalam pelaksanaan SPMP adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Dalam implementasinya, EDS akan ditindaklanjuti dengan program Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) yang dilaksanakan oleh para Pengawas Pendidikan. MSPD merupakan instrumen utama Evaluasi Diri Kota/Kabupaten (EDK) sebagai dasar penyusunan program peningkatan mutu pendidikan di wilayah tersebut. Dengan demikian, SPMP, yang diimplementasikan dalam kegiatan EDS, akan menjadi komponen utama dalam lingkup implementasi MBS sebagai upaya pembudayaan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Terlaksananya MBS sangat ditentukan oleh 3 (tiga) pilar utama, yaitu (1) transparansi dan akuntabilitas publik, (2) peran serta masyarakat, dan (3) PAKEM, pembelajaran yang berorientasi pada upaya bagaimana siswa aktif sebagai subyek (bukan objek) pembelajaran dan senang belajar. Yang menjadi pertanyaan krusial saat ini adalah bagaimana upaya sekolah agar terjadi akuntabilitas publik yang sehat sehingga peningkatan mutu pendidikan dapat membudaya di dalam aktivitas keseharian sekolah. Untuk menjawab pertanyaan di atas, artikel ini ditulis untuk mendiskusikan implementasi pilar utama implementasi MBS yaitu pilar ke 1 dan 2 yang terkait dengan transparansi/akuntabilitas publik dan peran serta masyarakat dalam bentuk implementasi SPMP melalui EDS dan MSPD.

I. MBS sebagai Implementasi Otonomi Pendidikan


MBS pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholders) yang terkait dengan sekolah secara langsung, khususnya Komite

Sekolah/Madrasah, dalam proses pengambilan keputusan secara partisipatif untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Departemen Pendidikan Nasional, 2005). Dahulu, dalam era sentralisasi pendidikan (yang mungkin karakternya juga masih berlangsung di banyak tempat sampai saat ini?) pertanggungjawaban (akuntabilitas) sekolah utamanya ditujukan kepada pejabat birokrasi yang merupakan atasan langsung (kepala) sekolah, yaitu Kepala Dinas Pendidikan bagi satuan pendidikan negeri, dan Ketua Yayasan bagi satuan pendidikan swasta. Dalam praktiknya, pola manajemen yang menafikan peran penting masyarakat, dan bersifat top-down ini, ternyata hanya memberikan akuntabilitas asal bapak senang (ABS). Kepemimpinan otoriter kepala sekolah menjadi ciri utama pola manajemen sekolah. Sehingga, biasanya apa yang sesungguhnya terjadi di sekolah/madrasah sangat berbeda dengan apa yang dilaporkan. Sekolah/madrasah seolah-olah hanya dianggap milik pemerintah atau yayasan semata, bukan milik masyarakat. Pemangku kepentingan utama pendidikan, yaitu siswa, guru, orang tua murid, dan masyarakat kurang/tidak diberi tempat yang layak dalam implementasi program pendidikan di sekolah/madrasah. Pola manajemen seperti ini ternyata tidak mampu membawa budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan di sekolah/madrasah. Pola sentralistik pendidikan ini sudah seharusnya ditinggalkan dengan cara lebih memberdayakan dan melibatkan berbagai stakeholders (pemangku kepentingan) utama sekolah atau madrasah, yaitu siswa, guru, orang tua siswa, dan anggota masyarakat yang peduli pada peningkatan mutu sekolah (bukan hanya pejabat atasan sekolah saja) dalam berbagai kegiatan pengambilan keputusan yang partisipatif, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan pertanggungjawaban (akuntabilitas) berbagai program peningkatan mutu pendidikan pada setiap tahun ajaran. Pelibatan dan pemberdayaan berbagai pemangku kepentingan di atas, yang kemudian diwadahi dalam Komite Sekolah/Madrasah, adalah ciri utama otonomi sekolah/madrasah. Kepala Sekolah seharusnya tidak perlu lagi merasa alergi bila Komite Sekolah/Madrasah ikut serta merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan tentu saja mempertanggungjawabkan segala program sekolah; yang juga meliputi pertanggungjawaban keuangan sekolah. Justru dalam nuansa otonomi seperti ini, Kepala Sekolah akan sangat terbantu karena bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas segala prestasi sekolah, meskipun mungkin prestasi tersebut tidak terlalu menggembirakan. Hanya dengan melaksanakan MBS, sebagai bentuk otonomi pendidikan secara murni, peningkatan mutu sekolah akan secara akseleratif dapat dilaksanakan. Para pejabat birokrasi yang merupakan atasan langsung sekolah harus menyadari pentingnya otonomi pendidikan di sekolah dengan memberi keleluasaan sekolah melaksanakan MBS. Justru, para pejabat atasan sekolah harus bisa mendorong terjadinya pelaksanaan MBS yang sehat di sekolah. Tidak

boleh ada lagi berita di media massa yang berisi pertikaian Kepala Sekolah/Madrasah dengan para pengurus Komite Sekolah/Madrasah hanya karena masalah pengelolaan dana operasional dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah tersebut. MBS, sebagi implementasi otonomi pendidikan tingkat sekolah, harus juga dapat diterjemahkan sebagai pendelegasian penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Ini adalah area yang sangat sensitif dalam pelaksanaan MBS. Sesungguhnya MBS harus diimplementasikan dalam bentuk pengambilan keputusan yang partisipatif oleh semua stakeholders sekolah, bukan hanya individual kepala sekolah, sehingga pemanfaatan dana operasional sekolah benar-benar dapat dipergunakan secara efektif dan efisien oleh berbagai pihak terkait di tingkat sekolah, dan semata-mata ditujukan demi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa, sebagai stakeholders utama sekolah.

II. SPMP dalam Konteks Implementasi MBS


Pengambilan keputusan secara partispatif oleh semua stakeholders sekolah adalah inti dari pelaksanaan MBS atau otonomi pendidikan di tingkat sekolah. Oleh sebab itu, pelibatan dan pemberdayaan berbagai stakeholders sekolah dalam berbagai tingkat pelaksanaan manajemen sekolah adalah menjadi keniscayaan; mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan pertanggungjawabannya hasil pendidikan di sekolah. Tujuan dari pola manajemen ini semata-mata adalah demi peningkatan mutu pendidikan di tingkat sekolah/madrasah secara terukur dan berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan ini wajib hukumnya bagi sekolah, dalam konteks implementasi MBS, untuk melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) (Inpres No. 1 Tahun 2010 tentang tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 dalam program Peningkatan Kualitas Pengelolaan Dan Layanan Pendidikan, PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Permendiknas Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan dalam Pasal 40 s.d. 42). Hanya dengan mengimplementasikan SPMP secara konsisten dan berkelanjutan dalam program MBS, budaya peningkatan mutu pendidikan di tingkat sekolah dapat dicapai secara. Sesungguhnya keberhasilan implementasi SPMP sangat bergantung pada motivasi intrinsik/internal sekolah, bukan karena segala peraturan yang ditentukan oleh pihak luar, i.e. pemerintah.
Quality assurance should be internally driven, institutionalized within each organizations standard procedure, and could also involve external parties. However, since quality is also a concern of all stakeholders, quality improvement should aim at producing quality outputs and outcomes as part of public accountability, (Pranata, S. 2010)

Secara singkat, implementasi SPMP terdiri dari rangkaian proses/tahapan yang secara siklik dimulai dari (1) pengumpulan data, (2) analisis data, (3) pelaporan/pemetaan, (4) penyusunan rekomendasi, dan (5) upaya pelaksanaan rekomendasi dalam bentuk program peningkatan mutu pendidikan. Tahapan-tahapan proses SPMP ini merupakan suatu siklus yang

saling terkait dan berlangsung secara sustainable (berkelanjutan) (Short, 2009). Pelaksanaan tahapan-tahapan di atas perlu dilaksanakan secara kolaboratif oleh berbagai stakeholders sekolah sesuai dengan amanat MBS (PP No. 19 Tahun 2005). Sekolah perlu membentuk Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri dari berbagai unsur stakeholders yaitu perwakilan guru, komite sekolah, orang tua, dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat yang memang dipandang layak untuk diikutsertakan karena kepedulian yang tinggi pada sekolah. Dalam melaksanakan SPMP, Pengawas Pendidikan yang bertugas sebagai pembina sekolah juga harus dilibatkan dalam TPS, sebagai wakil dari pemerintah. SPMP tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa pelibatan dan pemberdayaan berbagai stakeholders sekolah, termasuk wakil pemerintah. Melalui SPMP, sekolah dapat melaksanakan program manajemen yang berbasis data. Pola manajemen ini pada kenyataannya masih belum dilakukan olehbanyak sekolah sebagai suatu budaya kerja. Data yang valid, secara empirik dan akurat, akan selalu menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan dan penyusunan berbagai rencana peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah. Dengan demikian, 5 (lima) rangkaian tahapan SPMP yang berbasis data ini akan menjadi bagian vital dan utama dalam proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Implementasi tahapan-tahapan SPMP ini kemudian diharapkan menjadi budaya peningkatan mutu di sekolah/madrasah. Dari berbagai data valid yang dapat dikumpulkan sekolah (data dari hasil akreditasi sekolah, sertifikasi guru, ujian nasional, profil sekolah, dan lain-lain), Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan salah satu instrumen implementasi SPMP yang wajib dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan sebagai salah satu program akseleratif dalam peningkatan kualitas pengelolaan dan layanan pendidikan (Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010; Prioritas Nomor 2. Pendidikan)

III. Peran EDS/MSPD dalam Implementasi SPMP


Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sebenarnya sudah beberapa tahun ini kita kenal, sejak pelaksanaan program Akreditasi Sekolah. Namun yang kita diskusikan di artikel ini adalah EDS sebagai instrumen utama dalam implementasi SPMP. EDS yang bersifat developmental ini secara khusus ditujukan untuk membantu unit pendidikan dalam memotret dan memetakan kondisi objektif dirinya secara berkala (tahunan) sebagai dasar penyusunan program peningkatan mutu. Peta hasil EDS akan dapat memberikan data yang valid tentang tingkat capaian sekolah/madrasah terhadap Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan atau Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam pendidikan, yang sudah dituangkan dalam Permendiknas Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar. Di beberapa negara maju, misalnya Inggris, EDS, yang disana disebut dengan SSSE (Supported School Self-Evaluation), sudah cukup lama dilaksanakan

sebagai instrumen utama untuk dasar penyusunan program peningkatan mutu pendidikan. Pengisian instrumen ini dilaksanakan secara berkala oleh Kepala Sekolah bersama Komite Sekolah dengan diverifikasi oleh Pengawas Sekolah yang bertugas membina sekolah tersebut. SSSE ini benar-benar dapat mendorong peningkatan capaian standar pendidikan di sekolah tersebut, seperti yang dinyatakan oleh Rudd, P dan Davies, Deborah (peneliti pada National Association for Educational Research , Inggris) (2000): School self-evaluation

now sits alongside, and has been embraced by, external inspection as a major mechanism for monitoring and raising standards of achievement in schools. (versi Bahasa Indonesia secara bebas: EDS yang sekarang dilaksanakan dan telah dikolaborasikan dengan pengawas(an) eksternal telah menjadi mekanisme utama dalam monitoring dan peningkatan capaian standar pendidikan di sekolah).

Dalam praktiknya di Indonesia, Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sesungguhnya tidak semata-mata dilaksanakan oleh sekolah bersama Komite Sekolahnya saja dalam Tim Pengembang Sekolah (TPS), namun juga didukung oleh kehadiran Pengawas Sekolah yang lebih berfungsi sebagai verifikator dan validator terhadap hasil penilaian yang dilakukan oleh sekolah bersama komitenya. Pengawas juga merupakan salah satu anggota TPS. Dengan keikutsertaan Pengawas Sekolah, diharapkan hasil pengumpulan data EDS dapat benar-benar secara valid memotret/memetakan kondisi capaian sekolah terhadap SNP atau SPM seobjektif mungkin. Keterlibatan Pengawas tidak dimaksudkan sebagai inspektur yang hanya mencari kesalahan sekolah saja, namun lebih difungsikan sebagai pembina yang juga ikut bertanggung jawab untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut melalui pengisian instrumen EDS. Jadi, sama halnya dengan implementasi SSSE di Inggris, EDS di Indonesia juga sesungguhnya merupakan supported-EDS. Dengan pola supported-EDS, hubungan kerja sama antara sekolah
dengan Pengawas Sekolah menjadi benar-benar bermakna yang semata-mata ditujukan demi peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Rudd, P dan Davies, Deborah (2000), School self-evaluation processes help to facilitate the development of positive working relationships between LEAs and their schools. (catatan: LEA=Local Education Authority, sama dengan dinas pendidikan tingkat kota/kabupaten di Indonesia, di mana Pengawas Sekolah bekerja). Kerja sama dan kolaborasi yang kuat antara sekolah, Komite Sekolah, dan Pengawas Sekolah dalam melaksanakan EDS merupakan fondasi yang kuat bagi program peningkatan mutu pendidikan di sekolah dalam konteks implementasi Manajemen Berbasis sekolah (MBS).

A. Implementasi dan Implikasi EDS


Seperti yang sudah di jelaskan dalam Bagian II di atas, EDS adalah instrumen utama dalam implementasi tahapan SPMP. Dalam implementasi Tahap 1 SPMP, EDS menjadi alat untuk pengumpulan data tentang capaian 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP) oleh sekolah. Jadi, secara garis besar, EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai dengan masing-masing SNP. Namun, dalam 4 (empat) tingkatan capaian yang ditentukan dalam EDS, Tingkat 1 dan 2 masih mengukur

capaian sekolah/madrasah untuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan, seperti yang ditentukan dalam Permendiknas Nomor 15 Tahun 2010, bagi sekolah/madrasah yang masih belum mampu mencapai SNP. Tingkat 3 ditujukan untuk mengukur capaian SNP, dan tingkat yang paling tinggi, Tingkat 4, mengukur capaian sekolah/madrasah yang sudah melampai SNP; misalnya pada sekolah-sekolah yang sudah menjadi (Rintisan)Sekolah Bertaraf Internasional (R/SBI) (lihat contoh instrumen EDS dalam Lampiran). Selain menilai capaian sekolah secara kuantitatif terhadap 8 (delapan) SNP ke dalam 4 (empat) hirarki/tingkatan sesuai dengan berbagai bukti fisik yang dapat ditunjukkan oleh sekolah, instrumen EDS juga memberi ruang bagi sekolah untuk melakukan evaluasi secara kualitatif sebagai penguat hasil EDS yang bersifat hirarkis kuantitatif di atas. Proses penilaian kualitatif ini sesungguhnya merupakan proses merangkum hasil penilaian hirakis kuantitatif, dan sebagai bentuk kegiatan analisis data sesuai dengan Tahap 2 implementasi SPMP. Hasil dari tahap ini akan merupakan suatu laporan bagi semua stakeholders sekolah tentang peta capaian mutu sekolah terhadap SNP/SPM. Inilah realisasi Tahap 3 SPMP, yaitu tahap pelaporan atau pemetaan. Selanjutnya, dalam Tahap 4, berdasarkan hasil analisis data secara kuantitatif dan kualitatif yang benar-benar valid dan terukur sebagai peta capaian mutu pendidikan di sekolah tersebut, TPS (Tim Pengembang Sekolah) diharapkan dapat merumuskan rekomendasi yang tepat bagi program peningkatan mutu sekolah mendatang agar tingkatan capaian SNP/SPM menjadi lebih baik. Rekomendasi inilah yang kemudian harus dituangkan dalam penyusunan RPS (Rencana pengembangan Sekolah) dan RAPBS (Rencana Anggaran dan Pendapatan Sekolah) yang dilaksanakan pada tahun ajaran berikutnya (Tahap 5). Jadi, melalui penggunaan instrumen EDS yang berbasis data ini, sekolah/madrasah benar-benar dapat menyusun dan melaksanakan program peningkatan mutu secara bertahap, valid, dan terukur capaiannya di setiap tahunnya. Dengan berdasarkan pada motivasi internal karena kebutuhan dan secara konsistensi melaksanakan SPMP melalui pemanfaatan instrumen EDS, MBS sebagai manajemen peningkatan mutu pendidikan akan membudaya di sekolah/madrasah dan dapat mengantarkan sekolah menjadi salah satu pusat pendidikan dan pembelajaran yang bermutu serta menyenangkan bagi anak didik.

B. Implementasi dan Implikasi MSPD


Dalam konteks kebutuhan daerah (kabupaten/kota) dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di wilayahnya, hasil EDS perlu ditransfer dan diterjemahkan dalam instrumen Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) oleh Pengawas Sekolah, yang sebelumnya sudah tergabung dalam TPS (Tim Pengembang Sekolah) (baca Bagian II di atas).

Instrumen MSPD ini pada dasarnya adalah rekapitulasi dan rangkuman hasil EDS versi Pengawas Sekolah, yang kemudian akan menjadi laporan yang sangat berharga bagi pejabat daerah. MSPD akan dapat memberikan masukkan data yang sangat akurat kepada para pejabat terkait yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan sebagai dasar perencanaan peningkatan mutu pendidikan di daerah. Hasil agregasi instrumen MSPD yang dikumpulkan dari semua sekolah/madrasah akan dapat disimpulkan menjadi suatu peta prestasi dan tingkat capaian mutu pendidikan di daerah menurut Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan atau Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan. Peta mutu ini juga selanjutnya perlu dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi berbagai program peningkatan mutu pendidikan yang perlu dilaksanakan untuk tahun-tahun mendatang, baik secara kebijakan makro di tingkat daerah, maupun secara mikro untuk sekolah-sekolah tertentu yang memang sangat membutuhkan prioritas peningkatan mutunya dalam kesempatan pertama agar tidak tertinggal jauh dengan sekolahsekolah yang lain. Pada hakekatnya, rangkaian proses pelaksanaan MSPD tidak berbeda dengan rangkaian proses EDS, yaitu berdasarkan pada 5 (lima ) tahapan dalam implementasi SPMP (Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan). Tahapan-tahap ini selanjutnya dapat dikatakan sebagai tahapan Evaluasi Diri Kota/Kabupaten (EDK). Secara khusus, melalui aktivitas penyusunan MSPD ini, kinerja para Pengawas Sekolah dapat terukur dengan baik dan sangat bermakna. Kehadiran dan eksistensi Pengawas akan benar-benar terasa manfaatnya bagi sekolah dan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Hasil kerja setiap Pengawas akan konkret dan dinanti oleh setiap komponen yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pendidikan; tidak hanya di tingkat sekolah dan daerah saja, tapi juga pada akhirnya oleh tingkat pusat, Kementrian Pendidikan Nasional. Pengawas akan dicintai dan dirindukan oleh sekolah karena kehadirannya akan sangat membantu sekolah dalam mempertajam hasil analisis EDS. Sekolah tidak akan sinis lagi terhadap kedatangan Pengawas karena dinilai hanya sekedar untuk amplop (maaf kepada para Pengawas Pendidikan kalau pernyataan ini sekarang sudah tidak terjadi lagi. Sekali lagi penulis minta maaf!!).

C. Tindak Lanjut dan Implikasi Tingkat Provinsi dan Pusat

Hasil

EDS/MSPD

di

Pada tingkat provinsi, Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama termasuk Balai Diklat Keagamaan (BDK), yang bertanggung jawab terhadap Madrasah, serta Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) akan sangat berkepentingan untuk menyusun peta mutu pendidikan yang menunjukkan tingkat capaian 8 (delapan) SNP dan atau SPM. Sesudah

dianalisis, agregasi hasil EDS/MSPD dari seluruh kabupaten/kota akan dapat menghasilkan masukkan data yang sangat valid, akurat, dan terukur sebagai dasar penyusunan rekomendasi peningkatan mutu pendidikan tingkat provinsi. Tentu saja, baik di tingkat kota/kabupaten dan provinsi, rekomendasi ini seharusnya sangat mengikat bagi pihak eksekutif maupun legislatif untuk ditindaklanjuti menjadi APBD dan dilaksanakan secara konsekuen. Pada akhirnya hasil agregasi EDS/MSPD dari seluruh wilayah Indonesia perlu dilaporkan dan akan menjadi masukkan bagi pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Dengan melakukan agregasi hasil EDS/MSPD secara nasional Kemendiknas akan dapat menyusun peta mutu yang sangat valid dengan akurasi yang sangat tinggi tentang tingkat capaian mutu SNP dan SPM di seluruh wilayah Indonesia. Sama halnya dengan proses di tingkat sekolah, kota/kabupaten, dan provinsi, di tingkat pusat Kemendiknas pada akhirnya dapat menyusun rekomendasi program peningkatan mutu pendidikan nasional yang perlu dilaksanakan, baik dalam program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang sesuai dengan rencana strategis yang sudah disusun. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa bila cascade system (sistem berjenjang dan bertahap) implementasi EDS/MSPD dalam konteks SPMP, mulai dari tingkat sekolah, kota/kabupaten, provinsi, dan akhirnya tingkat pusat, dapat secara konsekuen dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait, maka, secara pasti dan bertahap serta terukur secara akurat, impian kita tentang peningkatan mutu pendidikan di Indonesia akan benar-benar tercapai, sehinga dapat menghantarkan pendidikan Indonesia untuk tidak lagi tertinggal dengan negara-negara maju di dunia, khususnya negara-negara tetangga terdekat (baca: Malaysia dan Singapura). Tanpa konsekuensi dan konsistensi semua pihak: Kepala Sekolah dan Guru, masyarakat dan Komite Sekolah, Pengawas Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan/Kepala Kantor Kemenag, Kepala LPMP/BDK, Bupati/Walikota, gubernur, Menteri Pendidikan Nasional, dan pada akhirnya anggota DPRD dan DPR untuk merealisasikan rekomendasi hasil EDS/MSPD, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) tidak akan ada artinya bagi bangsa dan negara dalam mewujudkan cita-cita luhur UUD 1945, yaitu mencerdaskan segenap anak bangsa tanpa perkecualian.

Penutup
Sebagai penutup artikel ini, dapat disimpulkan bahwa manajemen peningkatan mutu pendidikan di segala tingkatan pelaksanaan mulai dari sekolah sampai tingkat pusat, akan dapat dilaksanakan dengan baik melaui EDS/MSPD sebagai bagian utama implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) sudah ditekankan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Inpres No. 1 Tahun 2010.

Dengan melaksanakan EDS/MSPD semua pihak terkait akan sangat menghargai pentingnya data yang akurat, valid, dan reliabel (yang bukan ABS, Asal Bos Senang) sebagai dasar utama penyusunan program peningkatan mutu pendidikan nasional. Tentu saja kejujuran akan menjadi persyaratan pertama dan utama dalam manajemen data seperti ini, meskipun mungkin resikonya akan membuat kita prihatin. Tapi, dengan semangat dan motivasi intrinsik untuk melaksanakan SPMP, cepat atau lambat semua pihak terkait akan menjadi terbudaya untuk menjadi manusia dan pejabat yang jujur. Bukankah kejujuran ini pada hakikatnya adalah makna yang terdalam dan tujuan akhir pendidikan? Dengan melaksanakan SPMP melalui EDS/MSPD yang berbasis pada kejujuran, peningkatan mutu pendidikan akan dapat dilaksanakan secara pasti dan sangat terukur. Milestones (tingkatan-tingkatan) pencapaian akan dapat disusun secara akurat sehingga hasil peningkatan mutu ini akan secara pasti dan bertahap dapat dirasakan oleh segenap bangsa Indonesia. Implementasi SPMP ini tampaknya masih perlu perjuangan yang sangat keras dan waktu yang panjang bagi siapa saja yang terkait, terutama para pejabat pelaksana pendidikan, karena tantangannya yang sangat besar. Dari berbagai tantangan, baik yang bersifat material maupun nonmaterial. Tantangan yang paling besar adalah kesedian kita secara konsisten untuk jujur dan sangat menghargai data yang akurat, meskipun data itu menunjukkan kebobrokan wajah pendidikan kita. Bangsa Indonesia masih belum mempunyai budaya menghargai dan jujur terhadap data. Namun, penulis sangat yakin dan dengan ridho Alloh SWT dan semangat nasionalisme yang tinggi dari segenap bangsa Indonesia, terutama para pejabatnya, di masa mendatang kejayaan pendidikan bangsa Indonesia dapat tercapai melalui implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) melalui Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD). InsyaAlloh!. BRAVO SPMP. BRAVO EDS/MSPD.

Rujukan:
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Paket Pelatihan 1. Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah, Peran Serta masyarakat, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Permendiknas Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Haryadi, Yadi. (dkk). 2006. Pemberdayaan Komite Sekolah. Modul 2: Peningkatan kemampuan Organisasional Komite Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Permendiknas Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar.

Presiden Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Presiden Republik Indonesia. 2010. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Rudd, Peter and Deborah Davies. (2000). Evaluating School Self-Evaluation. Paper presented at the British Educational Research Association Conference, Cardiff University, 7-10 September 2000. Short, John. 2009. Paparan Powerpoint tentang SPMP dalam berbagai kegiatan ICB dan workshop sosialisai SPMP di beberapa LPMP/BDK di Indonesia. Surapranata, Sumarna. 2010. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP). Paparan powerpoint Direktur Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan (Dit. Bindiklat) dalam berbagai kegiatan pembinaan di lingkungan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).
*) Penulis adalah Widyaiswara LPMP Jawa Timur yang saat ini sedang ditugaskan oleh Ditjen PMPTK menjadi Koordinator Klaster 2 yang berkedudukan di LPMP Jawa Barat untuk mengkoordinasikan program Peningkatan Kapasitas Internal LPMP dan BDK di provinsi Jawa Barat, Banten, Lampung, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu dalam mengimplementasikan SPMP.

LAMPIRAN: Lampiran 1. Contoh Draf Sebagian Format EDS

Bagian Ke-1 Sarana dan Prasarana

1. STANDAR SARANA DAN PRASARANA 1.1. Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Spesifikasi Sekolah memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya. Sekolah memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam rombongan belajar Sekolah memenuhi standar terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran Indikator Pencapaian Tingkat ke-4 Sekolah kami memiliki bangunan gedung yang ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam standar Sarpras yang ditetapkan. Jumlah peserta didik di dalam rombongan belajar kami lebih kecil dari yang ditetapkan dalam standar agar dapat lebih meningkatkan proses pembelajaran. Sekolah kami memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang melebihi dari ketetapan Standar Sarpras yang digunakan untuk lebih membantu proses pembelajaran. Tingkat ke-3 Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan. Sekolah kami memenuhi standar dalam hal jumlah peserta didik pada setiap rombongan belajar. Sekolah kami memiliki dan menggunakan sarpras sesuai standar yang ditetapkan. Sekitar 95% calon siswa di kecamatan mendpat akses belajar disekolah kami. Tingkat ke-2 Tingkat ke-1

Sekolah kami memenuhi standar Bangunan sekolah kami terkait dengan sarana dan prasarana. tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau Beberapa kelas di sekolah kami diisi jumlah ruangan. peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar. Sekolah kami menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah, alat peraga dan judul buku pengayaan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sekolah kami belum memiliki semua sarana dan alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi ketetapan dalam standar. Kebanyakan ruang kelas sekolah kami diisi terlalu banyak peserta didik dan kami tidak mampu memenuhi standar. Sarana dan prasarana yang kami miliki amat terbatas dan sebagian besar sudah ketinggalan zaman dan dalam kondisi buruk.

Bukti-bukti fisik sekolah (Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat ya n g di ca pa i

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana Jumlah peserta didik per rombongan belajar Catatan peralatan dan sumber belajar Catatan pengeluaran Kondisi nyata lingkungan sekolah Bukti fisik lainnya (tuliskan)

1.2.

Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik?

Spesifikasi Bangunan Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan memberi kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Indikator Pencapaian Tingkat ke-4 Sekolah kami aman, sehat, nyaman, menyenangkan, menarik dan mendorong terciptanya suasana bekerja dan belajar bagi peserta didik dan warga sekolah lainnya. Lahan, bangunan, dan prasarana termasuk toilet di sekolah kami, dalam keadaan bersih (sehat), dan dipelihara dengan baik secara berkala. Sekolah kami sudah memberikan layanan dan fasilitas pembelajaran yang baik dan sama bagi semua peserta didik termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Bukti-bukti fisik sekolah (Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut) Tingkat ke-3 Perabot beserta alat-alat dan kelengkapan lainnya berada dalam kondisi yang baik dan terpelihara. Sekolah kami memiliki kebijakan untuk membantu menyediakan kemudahan layanan bagi semua peserta didik termasuk yang berkebutuhan khusus. Tingkat ke-2 Sekolah kami membutuhkan pemeliharaan, dan masih berusaha menyediakan lingkungan yang lebih menarik dan memberikan rangsangan kerja dan belajar Sekolah kami akan mempertimbangkan kemudahan pelayanan bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus. Tingkat ke-1 Sebagian prasarana sekolah kami di bawah standar, harus diperbaiki dan dibersihkan atau diganti. Sekolah kami belum mempertimbangkan kemudahan pelayanan bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus. Tingkat y a n g d i c a p a i Catatan pengeluaran Hasil observasi Catatan pendapat peserta didik Catatan tentang pendapat guru

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Daftar kehadiran peserta didik yang berkebutuhan khusus Bukti fisik lainnya (tuliskan)

LAMPIRAN 2. Contoh Draf Sebagian Instrument MSPD

Bagian 1 Sarana dan Prasarana

2. STANDAR SARANA DAN PRASARANA 2.1. Apakah sarana sekolah sudah memadai? Spesifikasi menurut standar sarana dan prasarana Sekolah mematuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana (ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dll) Sekolah mematuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam kelompok belajar Sekolah mematuhi standar terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran Indikator Pencapaian Bukti-bukti prestasi sekolah (Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut) Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti Tingkat ya ng di ca pa i

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana Ukuran kelompok belajar Catatan peralatan dan sumber belajar Catatan pengeluaran Lainnya (mohon jelaskan)

2.2.

Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik?

Spesifikasi dalam standar sarana dan prasarana

Bangunan Bangunan sekolah memenuhi semua ketentuan standar, dalam ukuran dan jumlah Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali Bangunan mudah, aman, dan nyaman untuk semua peserta didik, termasuk penyandang cacat .

Bukti-bukti prestasi sekolah (Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut) Catatan pengeluaran Observasi Pendapat peserta didik Pendapat guru Kehadiran peserta didik yang berkebutuhan khusus
Lain-lain (silahkan jelaskan)

Indikator Pencapaian Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat ya ng di ca pa i