Anda di halaman 1dari 13

KEP.

JIWA II
(Semester 6)

ELEKTRO CONVULSIF THERAPIE (ECT)


Tgl: 190312 Fasilitator:

Rudi Hartono, S.Kep.,Ns

definisi
ECT
adalah

suatu tindakan terapi dengan

menggunakan aliran listrik dan menimbulkan


kejang pada penderita baik tonik maupun klonik

Tindakan ini
yang ditempelkan

adalah bentuk terapi pada klien

dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda

pada

pelipis

klien

untuk

membangkitkan kejang grandmall.

Indikasi ect
1. Klien depresi pada psikosa manik depresi 2. Klien schizofrenia stupor katatonik dan gaduh gelisah katatonik 3. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik

Kontraindikasi
1. Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP).

2. Keguguran pada kehamilan, gangguan sistem


muskuloskeletal (osteoartritis berat, osteoporosis,

fraktur karena kejang grandmal)


3. Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi, aritmia 4. Gangguan sistem pernafasan, asma bronkial. 5. Keadaan lemah.

Komplikasi
a. Dislokasi sendi c. Robekan otot rahang

b. Fraktur vetebra

d. Apnoe

Efek
a. Sakit kepala, mual, nyeri otot b. Amnesia

c. Bingung, agresif, distruktif


d. Demensia

Peran Perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan

tindakan yang akan dilakukan.

Alat-alat yang perlu disiapkan


a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer) b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain c. Kain kasa d. Cairan Nacl secukupnya e. Spuit disposibel f. Obat SA injeksi 1 ampul g. Tensimeter i. Slim suiger h. Stetoskop j. Set konvulsator

Persiapan klien
a. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang akan dilaks. b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontra indikasi ect c. Siapkan surat persetujuan d. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin dipakai klien f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT

Pelaksanaan
1. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan cukup keras. 2. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal, 3. Pakaian dikendorkan seluruh badan di tutup dengan selimut kecuali bagian kepala. 4. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai untuk menghasilkan koma ringan. 5. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari kemungkinan kejang umum.

Lanjut an 6. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan


dengan alkohol untuk tempat elektroda menempel. 7. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi cairan NACL. 8. Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit 9. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi kain.

Lanjut an 10.Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan


selama kejang dengan mengikuti gerak kejang 11. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer berhenti dan dilepas 12.Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan kejang (menahan tidak boleh dengan kuat). 13.Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan diafragma

Lanjut an
14.Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim

siger
15.Kepala dimiringkan

16.Observasi sampai klien sadar


17.Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan

keperawatan

Setelah ECT
1. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi

klien stabil
2. Jaga keamanan

3. Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan


orientasi klien sesuai kebutuhan.

4. Biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30


menit.