Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN KASUS KEMATIAN

KRONOLOGIS Pasien tetanus dari UGD oleh dokter jaga langsung dirawat di ruang perawatan Damar dalam keadaan kejang tanggal 16 Juli 2009 pukul 15.00 wib. Pasien di therapy antibiotik tanpa diberikan anti kejang. Dr. P. Arief, Sp.B visite pukul 16.30 wib dan direncanakan tindakan debridement (cito) dan pasien masuk ICU. Dr. Imam, Sp.S visite diberikan therapy anti kejang. Debridement dilakukan pada jam 22.00 wib pada tanggal 16 Juli 2009. Pada tanggal 17 Juli 2009 pukul 10.30 wib Dr. Imam Sp.S visite memberikan advis therapy dilanjutkan. Pukul 13.45 wib Dr. P. Arief, Sp.B visite therapy lanjutkan dan pasang NGT. Vital sign hasil pasien sadar, kejang (+), Tensi 110/70 mmHg, nadi : 96 kali permenit, respiratori : 20 kali permenit, temp : 37C. Pukul 22.30 wib pasien sesak nafas, tensi : 80/pp mmHg, nadi 60 kali permenit, respiratori 10 kali permenit, temp : 36C. Selanjutnya perawat jaga melaporkan keadaan pasien ke Dr. P. Arif, Sp.B, advis : hubungin Dr. Imam, Sp.S. Kemudian perawat jaga melaporkan keadaan klien ke Dr. Imam, Sp.S lalu mendapat advis hubungin Dr. Eka, SpAn untuk memasang ventilator. Perawat melaporkan ke Dr. Eka, SpAn untuk tindakan pemasangan ventilator. Dr. Eka, SpAn mengatakan belum perlu pasang ventilator. Pada tanggal 18 Juni 2009 pukul 00.00 wib Tensi 110/70 mmHg, respiratori : 20 kali permenit, nadi : 96 kali permenit, temp : 36,5C. Pukul 09.40 wib pasien kejang dan apnoe lalu perawat melakukan tindakan resusitasi kepada klien. Pukul 10.55 wib pasien dinyatakan meninggal dihadapan dokter dan perawat jaga. Penyebab kematian gagal nafas diduga akibat spasme laring dan aspirasi.

EVALUASI : Dokter jaga UGD tidak melaporkan pasien tetanus ini ke dokter spesialis sebelum masuk ke ruang perawatan. Pasien masuk perawatan belum mendapatkan terapy definitif dari dokter spesialis. Tidak dilakukan pemasangan ventilator terhadap pasien dengan tetanus dengan ancaman gagal nafas karena kejang dan obstruksi jalan nafas dan aspirasi. Perawat kurang memonitor secara berkala kondisi jalan nafas pasien yang dapat terganggu akibat spasme laring karena kejang dan obstruksi jalan nafas dan aspirasi akibat adanya secret dijalan nafas. TINDAK LANJUT : Setiap dokter jaga wajib melaporkan pasien tetanus ke dokter spesialis (dokter bedah umum/ dokter spesialis saraf). Pasien tetanus masuk ruang perawatan harus sudah mendapatkan terapy definitif dari dokter bedah umum. Perlu evaluasi SPO pada kasus tetanus dengan ancaman gagal nafas. Setiap perawat jaga harus secara berkala melakukan perluasan jalan nafas pasien dengan melakukan suction dan memonitor respiratory rate dan saturasi oksigen.

LAMPIRAN