Anda di halaman 1dari 2

Sementara justice nampak prima facienya pada (berubah menjadi atau dalam keadaan) konteks membahas hak orang

lain se lain diri pasien itu sendiri. Hak orang lain ini khususnya mereka yang sama atau setara dalam mengalami gangguan kesehatan. di luar diri pasien, serta membahas hak-hak sosial masyarakat atau komunitas sekitar pasien. 1. Keadilan Treat similar cases in a similar way = justice within morality.1 Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) 2 yakni : a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya)3 b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat)4, khususnya : yang-hak dan yang-baik5 Jenis keadilan : a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) 6 b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama 7 , dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada8 : Setiap orang andil yang sama Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya Setiap orang sesuai upayanya. Setiap orang sesuai kontribusinya
1

Ketidakadilan = memperlakukan berbeda (satu baik, satu buruk) pada orang dengan situasi-kondisi yang mirip sama. Keadilan = kewajiban prima facie untuk memberi perlakuan sama terhadap orang lain, khususnya dengan memperhatikan kemampuan dan kebutuhan orang lain tersebut dalam mencapai harkat kebahagiaan dirinya. Ketidakadilan hanya dibenarkan bila berdasarkan beneficence atau jangka panjang secara utilitarian menghasilkan keadilan yang lebih besar. EU, hal. 104 - 105. 2 John Locke menyebut the just society sebagai jaminan bahwa tak ada individu dibawahkan dan terpuruk (subordination or subjection). Aspek fairness ialah penyama-rataan, kesetaraan (equality, the just person is one who treats all person as equal), accessibility to health care. Ian Kerriidge, Michael Lowe & Hohn McPhee. Ethics and Law for the Health Professions. Social Science Press, Australia, 2003, hal. 77. 3 Keadilan = tidak menuntut semua orang sama-sama bahagia, namun menciptakan syarat-syarat (situasikondisi) agar orang lain dapat bahagia. Contoh : syarat penghentian alat Bantu napas/jantung untuk mencegah futility (kesia-siaan medik) 4 Manusia satu-satunya mahluk berakal budi, bukan mesin biologis atau suatu shell berisi penuh artificial intelligent. Berakal budi artinya otonom, berkehendak bebas secara sadar, tanpa tekanan apapun. 5 Keadilan hanya berlaku bagi manusia sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), beda dengan beneficence yang berlaku terhadap apa saja (termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda). Keadilan dan beneficence merupakan dua sejoli yang saling komplementer dan saling membatasi dalam fungsinya (bila satu muncul, yang lain menjadi syaratnya). EU, hal. 106 107. 6 Kebutuhan penerima dianggap petunjuk imparsial. Keadilan bukan atas dasar selera (favouritism) atau diskriminasi. Disini jelas tidak adanya penyamarataan buta. Contoh : triage dalam kegawatan, dimana orang yang gawat karena kebutuhannya untuk diselamatkan nyawanya atau dihindarkan cacatnya, walau datangnya belakangan, toh ditolong lebih dahulu (tidak urut nomor/sesuai kaidah fairness semata-mata, karena ini menjadi penyamarataan buta). 7 Mempertimbangkan cost benefit ratio pengobatan = membagikan yang-baik dan yang-buruk = berlaku adil. 8 PBE, hal 330.

Setiap orang sesuai jasanya Setiap orang sesuai bursa pasar bebas c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama9 : Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan 10 nikmat/keuntungan bagi pasien. Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).11 Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu12 Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan).13 d. Hukum (umum) : Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum.14

Melatarbelakangi teori pendukung keadilan distributive, PBE , hal 324 Contoh : menetapkan alokasi anggaran kesehatan dengan prioritas tertentu seperti QALY (quality adjusted life-years), berdasarkan usia, dll. Contoh lain : penetapan perlakuan pasien pada kelangkaan sumber-sumber (meliputi tahap-tahap standar substansi dan aturan prosedural, skrining awal resipien potensial, factor konstituen, prospek sukses, seleksi final pasien, pemanfaatan medik, mekanisme impersonal kesempatan dan antri, kemanfaatan social dll). 11 Pokok utama adalah kebebasan memilih (individual) dan privatisasi (kepemilikan) melalui jaminan berlangsungnya prosedur adil (dalam pemerolehan, pemindahan dan pembayaran ganti rugi). Lihar Robert Nozick, PBE, 336 337. 12 Mementingkan nilai dan standar tradisional yang-baik masyarakat, pluralitas dan solidaritas (kebajikan kepedulian individual bersama moralitas sosial). 13 Adalah rasional dan dipilih oleh siapapun, bahwa adil = prinsip memaksimalkan batas (plafon) minimum nikmat primer demi menjamin kepentingan vital pada situasi yang memburuk. Implikasi teori John Rawls. Kesamaan fair terhadap peluang sehat namun mengatasi ketidaksamaan genetis/kodrati. Misal alokasi dana puskesmas lebih besar untuk menyehatkan masyarakat miskin/paling tertinggal supaya sama peluang sehatnya dengan masyarakat kaya = adil. Kepemilikan utama primer seperti jender, ras, IQ, keturunan, asal muasal kebangsaan, status social tak bias menjadi factor alas an pembagi. Kepada setiap orang sesuai dengan jenis kelaminnya , jelas tidak adil. PBE, hal. 340 341. 14 Criminal justice (penjatuhan sanksi pidana bagi terpidana) dan rectificatory justice (pemberian kompensasi pelanggaran transaksi/kontrak, melalui hokum perdata). PBE , hal 327.
9 10