Anda di halaman 1dari 15

BAB VIII MESIN BUBUT

1. Pengantar : Pelajaran ini adalah untuk memahami macam-macam mesin bubut, dapat menggunakan mesin bubut,dapat memasang pahat bubut dan dapat mengatur putaran mesin. Fungsi Mesin Bubut 2. Mesin bubut mempunyai sumbu dengan gerak utama berputar. Pada ujung sumbu utama dipasang cekam sebagai alat untuk menjepit benda kerja, sedangkan pahat bubut digunakan sebagai alat potong yang dapat digerakkan oleh eretan ke arah melintang yaitu maju mundur dan arah horizontal di sepanjang bed mesin yaitu ke arah kiri atau kanan. Pada proses pembubutan berlangsung, benda kerja berputar dan pahat disentuhkan pada benda kerja sehingga terjadi goresan dan penyayatan. Penyayatan dapat dilaksanakan ke arah kiri atau kanan, sehingga menghasilkan benda kerja yang berbentuk silinder. Jika penyayatan dilaksanakan ke depan atau ke arah melintang maka akan menghasilkan bentuk alur, pemotongan, atau permukaan yang disebut facing (membubut muka). Selain dapat dilakukan ke arah samping dan ke arah melintang, penyayatan dapat juga diarahkan ke arah miring dengan cara memutarkan eretan atas sehingga menghasilkan benda kerja yang berbentuk konis/tirus. 3. Penyayatan yang beralur dengan kecepatan dan putaran tertentu, dapat menghasilkan alur yang teratur seperti terdapat pada membubut ulir. Penyayatan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Penyayatan yang dilakukan dari luar disebut membubut luar, sedangkan penyayatan yang dilakukan di bagian dalam atau pada lubang disebut membubut dalam. Bubut dalam berupa rongga, alurdalam, ulir-dalam, lubang tembus, atau lubang tidak tembus. Posisi penjepitan benda kerja akan berpengaruh terhadap hasil bubutan. Misalnya: penjepitan yang tidak terletak pada sumbu utama, akan menghasilkan benda kerja yang eksentrik, seperti yang terjadi pada membubut poros-engkol. Adapun posisi kepala-lepas yang tidak pada sumbunya atau sengaja digeser pada jarak tertentu terhadap sumbunya, akan menghasilkan benda yang konis atau tirus. 4. Mesin bubut banyak digunakan di bengkelbengkel teknik untuk memproduksi atau memperbaiki peralatan-peralatan teknik yang berbentuk sillinder. Misalnya: as/poros-lurus, poros bertingkat, poros-engkol, pen, batang ulir, pully atau roda ban, flens, dan semacamnya. Macam-macam Mesin Bubut 5. Mesin bubut termasuk mesin perkakas dengan gerak utama berputar. Ditinjau dari daya penggerak dan ukurannya, mesin bubut dikelompokkan menjadi: a. mesin bubut ringan b. mesin bubut sedang; c. mesin bubut standar d. mesin bubut khusus.

Proses Produksi Majoring Aeronautika

69

a. Mesin bubut ringan. Mesin bubut ringan adalah mesin bubut dei3gan daya dan ukuran serta bobot yang ringan. Mesin bubut ringan biasanya diletakkan di atas meja atau bangku, sehingga disebut mesin bubut.bangku. Di samping itu, ada pula mesin bubut ringan dengan kaki yang dipasang di atas lantai, sehingga disebut mesin bubut lantai.

Gambar 8.1 Mesin bubut ringan b. Mesin bubut sedang. Mesin bubut sedang adalah mesin bubut yang mempunyai daya dan kapasitas serta ukuran sedang. Mesin bubut sedang ini, digunakan untuk memperbaiki atau memproduksi peralatanperalatan teknik yang mempunyai ukuran panjang yang sedang. Sebagaimana pada mesin bubut ringan, mesin bubut sedang terdiri atas mesin bubut bangku dan mesin bubut lantai. Pada mesin bubut sedang, dimungkinkan untuk membubut produk yang mempunyai benda kerja dengan bentuk yang lebih bervariasi. Misalnya: bentuk ulir atau bentuk lain yang tidak dapat dilaksanakan pada mesin bubut ringan, maka dapat dikerjakan pada mesin bubut sedang ini.

Gambar 8.2 Mesin bubut sedang c. Mesin bubut standar. Konstruksi mesin bubut standar mempunyai ukuran lebih besar dan mempunyai peralatan yang lebih lengkap dibandingkan dengan mesin bubut ringan maupun mesin bubut sedang. Mesin bubut standar digunakan untuk membuat produk atau memperbaiki peralatan-peralatan teknik dengan tingkat kekasaran yang standar. Ditinjau dari transmisi dan daya penggerak sumbu utamanya, mesin bubut standar terdiri atas: 1) mesin bubut standar dengan transmisi roda sabuk; 2) mesin bubut standar dengan transmisi roda rantai; 3) mesin bubut standar dengan transmisi roda 1) mesin bubut standar dengan transmisi roda sabuk. Mesin bubut standar dengan transmisi roda sabuk adalah mesin bubut

Proses Produksi Majoring Aeronautika

70 standar yang hubungan antara putaran dari motor penggerak ke sumbu utamanya menggunakan sabuk sebagai alat transmisinya.

Gambar 8.3 Mesin bubut standarGambar 8.4 Transmisi roda rantai 2) mesin bubut standar dengan transmisi roda rantai . bubut standar dengan transmisi roda rantai adalah mesin standar yang hubungan putaran dari motor penggerak ke utamanya menggunakan alat transmisi rantai dan roda sebagaimana terlihat pada gambar 4.4 berikut. Mesin bubut poros rantai

3) Transmisi roda gigi. Mesin bubut dengan transmisi roda gigi adalah mesin bubut standar yang hubungan putaran dari motor penggerak ke sumbu utamanya diatur dengan roda gigi yang terpasang pada kotak roda gigi transmisi sebagaimana terlihat pada gambar 4.5 berikut.

Gambar 8.5 Transmisi roda gigi d. Mesin bubut khusus. Mesin bubut khusus adalah mesin bubut yang dapat digunakan untuk membuat atau memperbaiki alat-alat teknik yang tidak dapat dikerjakan pada mesin bubut standar. Mesin bubut khusus terdiriatas: 1) mesin bubut beralas panjang 2) mesin bubut carrousel 3) mesin bubut revolver 4) mesin bubut poros engkol 5) mesin bubut copy. Konstruksi Mesin Bubut 6. Konstruksi dan bagian utama mesin bubut terdiri atas:
Proses Produksi Majoring Aeronautika

71 a. b. c. d. e. f. g. h. bed mesin kepala tetap dengan sumbu berputar eretan kepala lepas batang ulir transmisi dan batang pengantar; kotak atau lemari transmisi; motor penggerak; maki mesin.

Susunan dan bagian-bagian mesin bubut tersebut dapat dilihat pada gambar 8.6 di atas.

Gambar 8.6 Konstruksi mesin bubut dan bagian-bagiannya a. Bed mesin. Bed mesin atau alas mesin mempunyai bentuk profil memanjang yang berfungsi untuk menempatkan kedudukan eretan kepala-lepas dan bril atau penyangga. Bed mesin harus dalam keadaan terlumasi supaya eretan dapat digeserkan ke kiri atau ke kanan dengan lancar dan terhindar dari korosi. Alur yang mempunyai bentuk profil, digunakan sebagai jalan atau alas dari eretan dan kepala lepas seperti terlihat pada gambar 4.14 berikut. b. Kepala tetap. Kepala tetap mesin bubut mempunyai sumbu utama dengan gerak utama berputar. Sumbu utama merupakan poros transmisi dengan pully bertingkat atau roda gigi bertingkat, sehingga pada kepala tetap mesin bubut terdapat lemari roda gigi dengan handel-handel pengatur putaran sumbu utamanya. Pengaturan putaran dapat dilakukan menggunakan pully bertingkat yang dihubungkan dengan motor penggerak dzn roda gigi bertingkat yang berada pada lemari roda gigi. c. Eretan. Eretan pada mesin bubut adalah bagian mesin bubut yang dapat digunakan untuk penyetelan, pemindahan posisi pahat ke arah memanjang, yang dapat dilakukan dengan gerakan ke kiri atau ke kanan secara manual maupun otomatis. Eretan ditempatkan di atas bed mesin yang dilengkapi dengan cara manual dan otomatis berupa handel-handel atau roda pemutar. Eretan terdiri atas: 1) eretan memanjang 2) eretan melintang 3) eretan atas d. Kepala lepas mesin bubut. Kepala lapas mesin bubut adalah bagian rnesin bubut yang berfungsi untuk menempatkan senter kepala lepas, bor, senter bor, tap atau reamer. Untuk membubut benda kerja yang

Proses Produksi Majoring Aeronautika

72 panjang, biasanya benda kerja ini dipasang di antara dua senter kepala tetap dan senter kepala lepas. Kepala lepas juga berfungsi untuk mendukung benda kerja yang panjang agar dapat berputar tetap pada sumbunya. e. Penyangga. Penyangga tidak selamanya terpasang pada mesin, bahkan tidak tampak pada mesin, hal ini dikarenakan dilepas. Penggunaannya bersifat temporer, yaitu untuk menjepit benda kerja yang mempunyai ukuran panj ang dengan diameter yang kecil. Penyangga digunakan pada saat membubut batang ulir yang panjang, yaitu untuk mendukung benda kerja supaya tidak terjadi pelengkungan pada saat pahat menekan benda kerja, atau dapat juga berfungsi sebagai penahan gaya sentrifugal akibat putaran yang tinggi. f. Batang transportur dan batang pengantar. Batang transportur dan batang pengantar berfungsi untuk menggerakkan eretan secara otomatis ke kiri atau ke kanan saat oprasi pembubutan berlangsung. Batang transportur tidak berulir tetapi mempunyai alur pasak, berfungsi, untuk memutarkan roda gigi yang berada pada eretan, sehingga eretan dapat bergerak ke kiri atau ke kanan dengan teratur. Putaran poros pada poros transportur ini dapat diatur sesuai dengan posisi putaran pada lemari roda gigi yang tersedia, sehingga speed atau kecepatan sayatnya dapat diatur sesuai dengan tingkat kehalusan atau kekasaran dari benda kerja yang diinginkannya. g. Penjepit pahat. Penjepit pahat ,yaitu rumah pahat bubut yang dipasang di atas eretan-atas. Penjepit pahat berfungsi untuk menjepit pahat bubut agar posisi mata pahat berada tetap kuat sejajar dengan sumbu benda kerja. Penjepit pahat ada yang mempunyai tempat pahat lebih dari satu, sehingga untuk pembubutan tertentu, dapat dipasang beberapa macam pahat sekaligus pada penjepit pahat tersebut dan digunakan sesuai urutan operasi pernbubutannya. Pahat Bubut 7. Pahat bubut adalah penyayat yang digunakan pada mesin bubut. Benda kerja bergerak berputar, disayat dengan pahat yang dapat digerakkan ke kiri, kanan, atau ke depan sesuai dengan gerakan penyayatan yang diperlukan.Macam-macam pahat bubut dapat ditinjau antara lain dari: a. bahannya; b. bentuk pahatnya; c. sudut mata pahat. a. Bahan pahat bubut. Bahan pahat bubut dapat dipilih dan disesuaikan dengan benda kerja yang akan dibubut. Sifat-sifat yang harus diperhatikan untuk pahat bubut yaitu: 1) tahan terhadap suhu tinggi 2) koefisien gesek rendah 3) mempunyai kekuatan geser yang tinggi 4) tidak mudah retak atau pecah.
Proses Produksi Majoring Aeronautika

73

Bahan yang yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6)

memenuhi persyaratan untuk membuat pahat bubut di atas baja karbon tinggi; baja kecepatan tinggi (HSS); paduan cor bukan besi; karbida; intan; keramik.

1) baja karbon tinggi. Baja karbon tinggi adalah baja yang mem punyai kandungan karbon 0,8% sampai dengan 12%. Pahat bubut ini digunakan untuk membubut bahan atau benda kerj a yang lunak. 2) Baja kecepatan tinggi atau HSS . Baja kecepatan tinggi atau HSS (High Speed Steel) yaitu baja paduan yang terdiri atas: a) paduan wolfram 18%, chrome 4%, dan vanadium 1%. Sesuai dengan kandungannnya, baja ini disebut juga HSS 18-4-1; b) paduan wolfram 6%, molibden 6%, chrome 4%, dan vanadium 2% (HSS 6-6-4-2); c) paduan wolfarm 20%, chrom 4%, vanadium 2%, dan cobalt 12%. Bahan pahat dengan paduan tersebut adalah jenis pahat dengan kecepatan yang sangat tinggi, digunakan untuk membubut bahan yang berat dengan tekanan dan suhu yang tinggi. 3) Paduan cor bukan besi. Bahan pahat dengan cor bukan besi adalah paduan wolfram 12-15%, cobalt 40-50%, chrome 1535%, ditambah karbon 1-4% 4) Karbida. Pahat bubut karbida adalah bahan yang mengandung wolfarm-carbida dan cobalt dengan persentase berkisar 94% wolfram-karbida dan 6% cobalt. Pahat dengan bahan karbida ini cocok digunakan untuk membubut besi cor. 5) Keramik. Bahan pahat ini dicampur dengan serbuk aluminium-oksida, titanium, magnesium dan chrome dengan pengikat keramik. Bahan ini mempunyai kekuatan tekanan tinggi tetapi agak rapuh. b. Bentuk mata pahat bubut. Bentuk mata pahat bubut harus disesuaikan dengan fungsi operasi pengerjaannya. Bentukentuk mata pahat bubut tersebut antara lain: 6) pahat bengkok kanan 1) pahat potong 7) pahat sisi kiri 2) pahat alur 8) pahat sisi kanan 3) pahat lurus kanan 9) pahat bubut dalam 10) pahat kerong Proses Produksi 11) pahat profil.Majoring Aeronautika

74 4) 5) pahat lurus kiri pahat bengkok kiri

Macam-macam pahat bubut dapat dilihat padaGambar 8.7 berikut.

1) P. potong bgkok kanan

2) P. alur

3) P. lurus kanan

4) P. lurus kiri 5) P.

6) P. bengkok kiri 7) P. sisi kanan

8) P. sisi kiri

Gambar 8.7 macam-macam pahat c. Sudut mata pahat bubut. Pahat bubut dalam perdagangan dapat berupa batangan dengan penampang bujur sangkar, segi empat, bulat, atau bentuk-bentuk lain yang sudah dibentuk. Pada saat mengasah pahat bubut, kita harus memperhatikan sudut mata pahat yaitu: 1) sudut tatal; 2) sudut bebas sisi; 3) sudut bebas muka; 4) sudut bebas mata potong. d. Alat pemegang pahat. Untuk pahat bubut dalam, pahat dijepit pada batang pemegang yang mempunyai bentuk silinder-pejal dengan ujung pengikat baut dan batang silinder dijepit pada batang penjepit utama

Gambar 8.8 Macam-macam penjepit pahat

Pemeliharaan pahat.

Proses Produksi Majoring Aeronautika

75 8. Pahat bubut merupakan perkakas potong yang cukup mahal dan perlu pemeliharaan, baik dalam penyimpanan, penyetelan atau pemasangan, peng asahan, maupun saat penggunaan pahat itu sendiri. Supaya pahat tetap awet dan siap pakai dengan kondisi yang cukup baik, perlu diperhatikan beberapa faktor berikut. a. Bentuk mata pahat b. Pemilihan jenis bahan c. Pemasangan dan kecepatan potong d. Pendinginan e. Patah atau retak f. Menyimpan dengan perkakas lain g. Penyimpanan 9. Jika pahat tidak digunakan, pahat harus terlindungi dari oksida atau perkaratan. Oleh karena itu, pahat harus disimpan dalam keadaan terlapisi stemplet atau oli. a. Bentuk mata pahat. Pahat yang baru, harus dibuat mata pahatnya dengan cara menggerinda dengan memperhatikan sudut-sudut mata pahatnya. Penggerindaan mata pahat dengan sudut yang tepat, akan memperlancar pembubutan dan keawetan mata pahat itu sendiri. h. Pemilihan jenis bahan. Pemilihan jenis pahat, baik bentuk maupun bahan pahat, merupakan langkah-langkah awal yang tepat dalam proses pembubutan. Ketepatan pemilihan jenis pahat, akan menjamin mata pahat tidak mudah tumpul dan tidak sering diasah, sehingga proses produksi menjadi efektif dan efisien. c. Pemasangan Pahat. Pemasangan pahat pada pemegang pahat, hendaknya tidak terlalu panjang menjulur keluar sehingga pahat terhindar dari getaran dan patah pada waktu digunakan. d. Pendinginan. Pemakaian pahat dapat dilakukan dengan menggunakan cairan pendingin, sehingga akan mengurangi gesekan dan menghasilkan bubutan yang baik. Di samping itu, cairan pendingin juga akan mengawetkan pahat itu sendiri. e. Kedalaman dan kecepatan potong . Kedalaman dan kecepatan potong yang seimbang antara bahan pahat, ukuran dan bahan yang dibubut akan mempengaruhi keawetan mata pahat itu sendiri. g. Patah/retak . Jika selesai proses pembubutan, lepaskan pahat bubut dari rumah-pahat dan usahakan pahat bubut tidak sampai jatuh, agar mata pahatnya tidak menjadi retak atau patah! h. Menyusun dengan perkakas lain . Jangan menyimpan perkakas potong atau pahat bubut di atas perkakas potong lainnya (menumpuk)! Penyimpanan pahat bubut yang disatukan dengan alat-alat ukur, dapat menyebabkan alat ukur menjadi cacat atau mata pahat menjadi rusak.

Proses Produksi Majoring Aeronautika

76

Putaran Mesin Bubut 10. Sebelum menjalankan mesin, kita perlu mengatur dan menentukan putaran mesin yang akan kita gunakan. Putaran mesin ini harus disesuaikan dengan kecepatan sayat dan diameter benda kerja yang akan dibubut. a. Kecepatan sayat. Pada saat proses berlangsung, pahat bubut memotong benda kerja yang sedang berputar dan menghasilkan sayatan besi atau potongan besi yang menyerupai kawat spiral, serpihan, atau dapat juga berupa serbuk besi yang disebut tatal. Panjang tatal yang dihasilkan setiap menit disebut kecepatan potong atau kecepatan sayat, kecepatan potong diberi simbol Cs (Cutting speed) dengan satuan meter/menit atau feet/menit. Jika benda kerja mempunyai ukuran diameter d (mm) dibubut dengan putaran n putaran tiap menit, maka kecepatan sayatnya dapat dihitung menggunakan persamaan 4.1 berikut.
Cs =

.d .n
1000

...................... m/menit

Keterangan: CS = kecepatan potong (cutting speed), dalam satuan m/menit n = putaran sumbu utama mesin bubut, dalam satuan putaran/menit d= diameter benda kerja dalam satuan mm 1/1000 = diperoleh dari 1 mm = 1/1000 m Jika benda kerja mempunyai satuan inchi, kecepatan potong mempunyai satuan feet/menit, dan putaran dalam satuan rpm, maka persamaan kecepatan potong menjadi
Cs =

.d .n
12

....................................... feet/menit

CS = kecepatan potong (cutting speed), dalam satuan feet/menit n = putaran sumbu utama mesin bubut, dalam satuan putaran/menit d= diameter benda kerja dalam satuan inchi 1/12 = diperoleh dari 1 feet = 12 inchi Dari persamaan di atas, putaran dapat dihitung dengan persamaan :
n= 12.C s C C = 3.8197 s = 4 s 3.14 d d

........dalam satuan rpm

Jika dibulatkan : 4.C s n= d

.....rpm

Proses Produksi Majoring Aeronautika

77

Gambar 8.9 Putaran poros utama Contoh 8.1 Suatu benda kerja mempunyai ukuran diameter D = 40 mm, akan dibubut dengan kecepatan sayat 31,4 rneter/menit. Berapakah putaran poros utama yang digunakannya? Penyelesaian: Diketahui: Diameter benda kerja ....... D = 40 mm Kecepatan sayat ..... C S = 31,4 m/menit Ditanyakan: Putaran poros utama (n) Jawab:
Cs =

.d .n
12

feet/menit

atau

n=

1000.C s 1000 x3.14 = = 250rpm .d 3.14 x 40

Contoh 8.2 Benda kerja bubut mempunyai ukuran D =1,5 inchi, dibubut dengan kecepatan sayat C S = 90 feet/menit. Tentukan putaran mesin yang digunakan! Penyelesaian: Diketahui: Diameter benda kerja ..... D =1,5 inchi Kecepatan sayat ..... C S = 90 feet/menit Ditanyakan: Putaran pada poros utama (rpm) Jawaban: lihat persamaan 4.2 dan 4.3! n= 4.Cs 4 x90 = = 240rpm d 1.5

Contoh 8.3 Benda kerja mempunyai ukuran D = 50,8 mm, dibubut dengan kecepatan sayat C S = 40 feet/menit. Tentukan putaran mesin yang digunakan!

Proses Produksi Majoring Aeronautika

78

Penyelesaian: Diketahui: Diameter benda kerja D = 50,8 mm Kecepatan sayat: C S = 40 feet/menit Ditanyakan: Putaran mesin (n) Jawaban: Menggunakan persamaan 4.3 n= 4.Cs d diameter dalamsatuan inchi, jika dikonversikan = 50,8/25,4 = 2 inchi
4 x 40 = 80rpm 2

50,8 mm
n=

Jika menggunakan persamaan 4.1, maka yang dikonversikan kecepatan potongannya yaitu:
Cs = 40 x12 x 25,4 = 12,232m / menit 1000

Cs =

.d .n
1000

atau

n=

1000.Cs 1000 x12.232 = = 80rpm .d 3.14 x50,8

b. Nilai kecepatan potong. Besarnya kecepatan ditentukan berdasarkan faktor-faktor berikut: 1) bahan yang akan dibubut; 2) bahan pahat yang akan digunakan; 3) kualitas pekerjaan bubutan yang diinginkan.

potong

1) Bahan yang akan dibubut . Untuk membubut bahan yang keras, misalnya membubut baja dan baja nikel, maka nilai kecepatan potongnya berbeda dengan membubut bahan yang lunak seperti aluminium, tembaga, dan semacamnya. 2) Bahan pahat yang akan digunakan . Bahan pahat bubut biasanya terbuat dari HSS (high speed steel) dan carbida. Jika pahat yang digunakan mempunyai umur pemakaian yang sama maka kecepatan potong yang digunakannya harus berbeda, sesuai dengan kondisi bahan pahatnya. 3) Kualitas bubutan. Hasil bubutan tergantung pada kekasaran yang diinginkannya, misalnya halus atau kasar. Jika kedalaman pemotongan mempunyai ukuran yang kecil dengan jarak antara speed relatif pendek maka akan menghasilkan bubutan yang halus, sebaliknya jika kedalaman pemotongan

Proses Produksi Majoring Aeronautika

79 yang berukuran besar dengan speed yang panjang maka akan menghasilkan bubutan yang kasar. Tabel kecepatan potong C s (meter/menit) Pahat HSS Bahan yang dibubut Halus Kasar Baja Perkakas Baja karbon Baja menengah Baja cor kelabu Kuningan Aluminium 75 - 100 70 - 90 60 - 85 40 - 45 85 - 110 70 - 110 25 - 45 25 - 40 20 -40 25 - 30 45 - 70 30 - 45

Pahat Carbida Halus 185-230 170-215 140-185 110-140 185-215 140-215 Kasar 110-140 90-120 75-110 60-75 120-150

Hubungan antara ketiga factor di atas yaitu bahan yang dibubut, bahan pahat bubut, dan kualitas pekerjaan, dapat dilihat pada table di atas. Faktor Potong 11. Untuk membubut benda kerja yang mempunyai ukuran diameter D 1 menjadi ukuran D 2 , diperlukan kedalaman pemotongan sebesar a (mm). Kedalaman pemotongan ini kita pilih berdasarkan kualitas pengerjaan yang kita inginkan. Untuk pemotongan yang halus, kedalaman pemotongan dipilih antara 0,38 mm sampai 2,39 mm dengan speed antara 0,13 mm/putaran sampai dengan 0,38 mm/putaran. Untuk pembubutan yang kasar, kedalaman pemotongan antara 4,75 mm sampai dengan 9,53 dengan speed 0,75 mm/ putaran sampai 1,27 mm/putaran. Pemotongan ke arah memanjang dapat dilakukan beberapa kali, yaitu: 1 kali pemotongan, ukuran diameter berkurang menjadi D 2 = D 1- 2a; dua kali pemotongan, ukuran diameter berkurang menjadi D 2= D 12(2a); (i) kali pemotongan, ukuran diameter berkurang menjadi D Z = D l i(2a). Dapat dinyatakan dengan persamaan: D2 = D 1 - i(2a) mm ..................................... (4.4) Dari persamaan 4.4 di atas, dapat diperoleh:
i= D1 D2 (kali) 2a

Keterangan: I = jumlah pemotongan

Proses Produksi Majoring Aeronautika

80 D1 D2 A Contoh 8.4 Benda kerja mula-mula mempunyai ukuran diameter D 1 = 40 mm, dibubut menjadi D 2 = 30 mm dengan kedalaman pemotongan a = 0,5 mm. Berapa kali melakukan pemotongan? Penyelesaian: Diketahui: Diameter awa1= 40 mm Diameter setelah dibubut = 30 mm Kedalaman a = 0,5 Ditanyakan: Jumlah pemotongan? Jawab
i= D1 D2 2a

= diameter awal (mm) = diameter setelah dibubut (mm) = kedalaman pemotongan (mm)

i=

40 30 = 10 kali pemotongan 2 x0,5

Waktu potong adalah waktu yang dibutuhkan selama operasi pembubutan berlangsung. Jika benda kerja mempunyai ukuran panjang L (mm) dibubut dengan putaran n putaran tiap menit dan dibubut dengan i jalan pemotongan, maka waktu yang dibutuhkan adalah:
T = L i (menit) n.s

Keterangan: T = lamanya pembubutan berlangsung, dalam satuan menit L = panjang benda kerja yang dibubut, dalam satuan mm n = putaran poros utama mesin bubut, dalam satuan rpm i = jumlah pembubutan (kali atau jalan) s = speed, dalam satuan mm/putaran

Gambar 8.10 Kedalaman pemotongan Contoh 4.5 Benda kerja mempunyai ukuran diameter awal 40 mm dengan kedalaman pemotongan a = 0,4 mm dan speed s = 0,2 mm/putaran. Panjang yang akan dibubut L = 200 mm dan diameternya dibubut menjadi 32 mm.

Proses Produksi Majoring Aeronautika

81 Berapa kali pemotongan berlangsung? Berapa putaran mesin yang digunakan jika kecepatan potong Cs = 60 m/menit? c. Berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk membubut tersebut? Penyelesaian Diketahui: Diameter awal = 40 mm Diameter akhir = 32 mm Panjang = 200 mm Speed = 0,2 mm Kecepatan potong Cs = 60m/menit Ditanyakan: a. Jumlah pemotongan (i) b. Putaran mesin (n) c. Waktu potong (T) Jawab a. Jumlah pemotongan
i= D1 D2 2a
i= 40 32 8 = = 10 kali 2 x0,4 0,8

a. b.

b.

Putaran (n)
n= 1000.Cs 1000 x60 = = 477,7 dan dibulatkan menjadi 480 rpm .d1 3.14 x 40

c.

Waktu yang dibutuhkan


T = L i n.s
T = 200 x10 = 20,83 480 x 0,2

Waktu yang dibutuhkan T=21 menit (dibulatkan) SOAL SOAL LATIHAN 1. 2. 3. 4. 5. Apa gunanya mesin bubut konvensional? Jelaskan macam-macam produk yang dapat di kerjakan pada mesin bubut tersebut! Jelaskan bagian-bagian penting dari mesin bubut konvensional! Bagaimana memasang benda kerja yang panjang pada mesin bubut? Jelaskan! Apa yang dimaksud dengan kecepatan sayat? Jelaskan! Benda kerja dibubut dengan kecepatan sayat 50 feet/menit. Berapa meter/menit kecepatan sayat tersebut?

Proses Produksi Majoring Aeronautika

82 6. 7. 8. Tuliskan macam-macam pahat rata! Jelaskan! Benda mempunyai ukuran D = 35 mm dibubut dengan putaran 100 rpm. Hitunglah kecepatan sayatnya jika = 22/7 Mesin bubut mempunyai putaran spindal 250 rpm. Hitunglah kecepatan sayatnya (dalam satuan feet/menit) jika benda kerja mempunyai ukuran D = 1,5 inchi Suatu baja mempunyai ukuran 76,2 mm dibubut dengan kecepatan sayat 60 feet/menit. Hitung putaran mesin yang diperlukan Jika pada soal nomor 10 di atas dibubut dengan kedalaman 0,4 mm, speed 0,1 mm/putaran, dan panjang benda kerja yang dibubut 200 mm: a. berapa jalan kita harus membubut? b. berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk pembubutan tersebut?

9. 10.

Proses Produksi Majoring Aeronautika