Anda di halaman 1dari 6

Nama : Melati Nur Annisa NPM : 260110110159 Kelas : B A.

ANTIBODI MONOKLONAL

I.

Pengertian

Antibodi monoklonal adalah antibodi yang homogen atau mempunyai sifat yang spesifik karena dapat mengikat 1 epitop antigen dan dapat dibuat dalam jumlah tidak terbatas. Antibodi monoklonal dibuat dengan cara penggabungan atau fusi dua jenis sel yaitu sel limfosit B yg memproduksi antibodi dengan sel kanker (sel mieloma) yang dapat hidup dan membelah terus menerus. Hasil fusi antara sel B dengan sel kanker secara in vitro disebut dengan Hibridoma. II. Produksi Produksi dari antibody monoclonal dilakukan pertama kali oleh Georges Kohler dan Cesar Milstein pada tahun 1975. Mereka memperkenalkan cara baru untuk membuat antibodi dengan mengimunisasi hewan percobaan kemudian sel limfositnya difusikan dengan sel mieloma,sehingga sel hibrid dapat dibiakan terus menerus (immortal) dan membuat antibodi yang homogen yang diproduksi oleh satu klon sel hybrid. Produksi Sel Hibridoma a. Imunisasi Mencit Antigen berupa protein atau polisakarida yang berasal dari bakteri atau virus, disuntikkan secara subkutan pada beberapa tempat atau secara intra peritoneal. Setelah 23 minggu disusul suntikan antigen sekali atau beberapa kali suntikan. Mencit dengan kekebalan terbaik dipilih. Kemudian limfa tikus dikeluarkan dari dalam tubuh tikus dan dibuat sebuah suspensi. Pembuatan suspense ini untuk memisahkan sel B yang mengandung antibody. b. Fusi sel limpa kebal dan sel mieloma Sel limfa kemudian dicampurkan dengan sel myeloma yang dapat terus menerus hidup dalam kultur namun kemampuan untuk memproduksi antibodinya hilang karena kekurangan HGPRT (hipoksantin-guaninphosphoribosyl transferase). Sebagian produksi

antibody pada limfa dan sel myeloma kemudian berfusi menjadi bentuk sel hybrid. Penambahan polietilen glikol (PEG) dan dimetilsulfoksida (DMSO) dapat menaikkan efisiensi fusi sel. Sel hybrid ini kemudian dapat terus hidup pada kultur sambil memproduksi antibody dan ditempatkan di media yang tepat agar sel ini tetap hidup. Sel hybrid kemudian berproliferasi menjadi klon yang disebut sel hibridoma. c. Eliminasi Sel Induk yang Tidak Berfusi Frekuensi terjadinya hibrid sel limpa-sel mieloma biasanya rendah, karena itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi yang jumlahnya lebih banyak agar sel hibrid mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan cara membiakkan sel hibrid dalam media selektif yang mengandung hypoxanthine, aminopterin, dan thymidine (HAT). d. Isolasi dan Pemilihan Klon Hibridoma Sel hibrid dikembangbiakkan sedemikian rupa, sehingga tiap sel hibrid akan membentuk koloni homogen yang disebut hibridoma. Tiap koloni kemudian dipelihara terpisah satu sama lain. Hibridoma yang tumbuh diharapkan mensekresi antibodi ke dalam medium, sehingga antibodi yang terbentuk bisa diisolasi. Umumnya penentuan antibodi yang diinginkan dilakukan dengan cara enzyme linked immunosorbent assay (EL1SA) atau radioimmunoassay (RIA). Pemilihan klon hibridoma dilakukan dua kali, pertama adalah dilakukan untuk memperoleh hibridoma yang dapat menghasilkan antibodi; dan yang kedua adalah memilih sel hibridoma penghasil antibodi monoklonal yang potensial menghasilkan antibodi monoklonal yang tinggi dan stabil. III. Tipe Antibodi Monoklonal Dua jenis antibodi monoklonal yang digunakan dalam pengobatan kanker: Naked mAbs adalah antibodi yang bekerja sendiri. Terdapat obat atau bahan radioaktif yang melekat pada mereka. Ini adalah mAbs yang paling umum digunakan saat ini. Conjugated mAbs adalah orang-orang yang bergabung dengan obat kemoterapi, partikel radioaktif atau racun (zat yang racun sel). MAbs ini bekerja, setidaknya sebagian, dengan bertindak sebagai menembakan perangkat untuk membawa zat ini langsung ke sel-sel kanker. Aplikasi Terapi dari Antibodi Monoklonal Induksi imunisasi pasif Diagnostik imaging. Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk melihat protein tertentu dalam tubuh, misal antibodi monoklonal dikonjugasikan dengan logam inert pasien yang dirontgen. Dari hasil rontgen tersebut dapat dikenali protein tertentu yang terlibat dalam penyakit. Cara ini juga diterapkan dalam melihat metastasis sel kanker. Diagnostik molekular. Antibodi monoklonal dapat diaplikasikan untuk identifikasi penyakit yang lebih dikenal dengan imunologikal diagnostik. Di mana deteksi imunologik merupakan deteksi imunologik merupakan sistem deteksi yang sensitif, spesifik, dan sederhana. Misal: membedakan DHF dan tifus.

IV. 1. 2.

3.

4. 5. 6. 7.

Monitoring terapi obat (untuk live-saving drug) Sistem penghantaran obat (Drug delivery system/DDS) Isolasi dan atau purifikasi obat baru Terapi kanker. Para ahli bisa membuat antibodi monoklonal yang mampu bereaksi dengan antigen spesifik berbagai jenis sel kanker. Dengan ditemukannya lebih banyak lagi antigen kanker, berarti akan semakin banyak antibodi monoklonal yang bisa digunakan untuk terapi berbagai jenis kanker.Bila antibodi berikatan dengan antigen tumor spesifik yang terdapat di permukaan sel, maka ia juga bisa menginduksi sel mengalami apoptosis.

B. I.

ANTIBODI POLIKLONAL Pengertian

Antibodi poliklonal adalah adalah campuran antibodi heterogen yang berikatan terhadap berbagai epitopes dari antigen sama. Antibodi ini dihasilkan oleh klon sel B yang berbeda dari hewan sehingga memiliki sifat kimia imun yang berbeda. Antibodi poliklonal campuran dapat memiliki sedikit perbedaan pada spesifitas dan afinitasnya. Antibodi poliklonal paling sering diproduksi di kelinci tetapi juga dibuat dalam mamalia lainnya termasuk kambing, babi, babi guinea dan sapi. Kelinci putih Selandia Baru sering dijadikan pilihan dalam produksi antibodi poliklonal karena kemudahan dalam pemeliharaan dan menunjukkan respon imun yang optimal. Selain itu, antibodi kelinci memicu protein manusia atas kelebihan antibodi atau antigen yang lebih luas. . II. Produksi Antibodi poliklonal diproduksi pada kelinci dengan cara mengimunisasi kelinci dengan antigen (juga dikenal sebagai immunogen) menggunakan dosis yang berkisar 10 ug-200 ug. Imunisasi biasanya dilakukan secara intradermal atau subkutan, tetapi juga dapat dibuat ke dalam telapak kaki, intamuskular atau intaperitonial. Antigen dapat disiapkan dengan atau tanpa adjuvant lengkap seperti Freund`s atau Incomplete adjuvant yang dapat meningkatkan respon imun. Untuk immunogenic protein atau peptide yang lebih kecil, immunogen juga dapat digabungkan ke pembawa protein seperti keyhole limpet hemocyanin (KLH), bovine serum albumin (BSa), ovalbumin (oVa)

dan protein murni turunan dari tuberculin (PPd). Periode imunisasi bertahan 3 sampai 8 bulan dan hewan biasanya dibantu dengan suntikan immunogen dua kali seminggu. Darah dikumpulkan dari telinga kelinci, (vena jugularis) atau dari jantung kelinci tersebut (Boenisch ,2009). Serum disiapkan dengan memisahkan sel-sel dari darah melalui sentrifugasi dan persiapan antibodi poliklonal dapat digunakan dalam bentuk antisera yang distabilkan atau lebih lanjut dimurnikan. Pemurnian immunoglobulin; untuk menghilangkan serum protein lain dan dapat dilakukan melalui pengendapan amonium sulfat dan kromatografi pertukaran ion, juga dengan isolasi afinitas atau pemurnian Protein A atau G.

III.

Aplikasi Antibodi Poliklonal Dalam pengobatan penggunaan paling umum dari antibodi poliklonal adalah pemberian kekebalan pasif terhadap penyakit tertentu. Pada pengobatan Ebola, misalnya, adalah transfusi serum antibodi yang berasal dari manusia. Dalam penyakit seperti Ebola ini efektif karena virus mengalikan dan bertindak begitu cepat dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh tidak punya waktu untuk meningkatkan pertahanan sendiri. Ketika seseorang terinfeksi virus Ebola, dia meninggal jauh sebelum sistem kekebalan tubuh dapat memerangi virus. Oleh karena itu pengobatan hanya efektif diberikan oleh antiserum dari seseorang yang mengalami infeksi sebelumnya. Penggunaan medis lain untuk antiserum adalah sebagai antitoksin atau antivenin. Persiapan ini berisi antibodi spesifik untuk racun dari reptil beracun, arakhnida dan serangga. Mereka digunakan untuk mengobati orang-orang yang telah digigit atau disengat oleh hewan-hewan ini. karena racun bertindak terlalu cepat dalam tubuh sistem kekebalan tubuh tidak punya waktu untuk meningkatkan pertahanan sendiri.
IV. Perbedaan Antibodi Monoklonal Dan Antibodi Poliklonal

Antibodi Poliklonal Tidak mahal dalam produksinya Tidak butuh teknologi yang terlalu canggih Waktu produksi relatif singkat

Antibodi Monoklonal Mahal dalam produksinya Membutuhkan teknologi yang sangat canggih Waktu produksi lama karena harus membentuk hibridoma Menghasilkan antibodi spesifik dalam jumlah banyak Hanya mengenal satu epitop pada antigen

Menghasilkan antibodi nonspesifik dalam jumlah banyak Mengenal beberapa epitop pada antigen

Kumpulan yang terbentuk bervariasi

Setelah hibridoma dibuat konstan dan sumber yang terbarukan dan semua kumpulan akan sama

V.

Kerugian Antibodi Monoklonal dan Antibodi Poliklonal


Antibodi Poliklonal Antibodi Monoklonal

Kumpulan yang terbentuk bervariasi Memproduksi antibody non spesifik dalam jumlah yang besar yang sewaktu-waktu dapat memberikan efek samping pada beberapa aplikasi. Beberapa epitopes membuatnya penting untuk memeriksa immunogen urutan untuk setiap cross-reactivity. Memproduksi antibody spesifik dalam jumlah yang besar tetapi sifatnya bisa menjadi terlalu Lebih rentan terhadap hilangnya Epitop melalui perawatan kimia antigen daripada antibodi poliklonal

DAFTAR PUSTAKA Boenisch , Thomas. 2009. Chapter 1 Antibodies. Tersedia di

http://www.dako.com/08002_03aug09_ihc_guidebook_5th_edition_chapter_1.pdf. (diakses tanggal 1 Juni 2013). Efendi, Kriana ,M.Farm., Apt. 2012. Antibody Monoklonal. Tersedia di

.http://id.scribd.com/doc/79070293/11-Antibodi-Monoklonal tanggal 1 Juni 2013). Leach, Corinne. 2013. Immunotherapy.

2012.

(diakses

Tersedia

di

http://www.cancer.org/treatment/treatmentsandsideeffects/treatmenttypes/immunote rapy/immunotherapy-monoclonal-antibodies (diakses tanggal 1 Juni 2013). Liddell,E . 1995 . Antibody Technology . BIOS Scientific Publishers Ltd: UK. Milner, Jonathan. Polyclonal And Monoclonal: A Comparison. Tersedia di

http://www.abcam.com/index.html?pageconfig=resource&rid=11269&pid=11287 (diakses tanggal 1 Juni 2013). Radji, Maksum. 2010. Imunologi &Virologi. Penerbitan PT ISFI; Jakarta. Riechmann L, Clark M, Waldmann H, Winter G. 1988. Reshaping Human Antibodies for Therapy. Nature; Hal 332.