Anda di halaman 1dari 219

ANALISIS TINGKAT RISIKO KESELAMATAN KERJA PADA PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX TBK TAHUN 2010

(STUDI KUALITATIF)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

OLEH : WIWIN LISTYOWATI NIM : 106101003362

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Wiwin Listyowati

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Skripsi, September 2010 Wiwin Listyowati, NIM : 106101003362 ANALISIS TINGKAT RISIKO KESELAMATAN KERJA PADA PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX Tbk TAHUN 2010 (STUDI KUALITATIF)

xix + 195 halaman, 38 tabel ,12 gambar, 5 diagram , lampiran.


ABSTRAKSI

PT Unitex Tbk terletak di jalan raya Tajur No.1 Desa Sindang Rasa Kecamatan Ciawi, Bogor Jawa Barat. PT Unitex Tbk merupakan salah satu Industri tekstil yang terdiri dari empat bagian yaitu Spinning, Wieving, Dyeing dan Utility. PT Unitex Tbk memproduksi barang terutama kain jadi untuk kalangan menengah ke atas. Barang hasil produksi yang dihasilkan berupa benang tenun, kain mentah dan kain jadi. Bagian spinning menyimpan risiko keselamatan kerja yang besar, hal ini disebabkan lebih beragamnya proses kerja yang terjadi di bagian spinning. Salah satu proses kerja yang mempunyai risiko keselamatan kerja terbesar di bagian spinning adalah proses winding, karena pada proses spinning menggunakan bejana tekan atau heat setter yang bersuhu 150 celcius. Risiko yang terbesar dalam tahap ini adalah peledakan yang dapat menyebabkan disaster. Di departemen spinning sendiri, tahap proses kerjanya terdiri dari blowing,carding, pre drawing, lap former, combing, drawing 1st, 2nd, 3rd, simplex frame, ring spinning dan winding. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja pada proses spinning di bagian produksi PT. Unitex Tbk, Bogor Jawa Barat. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui tahapan pekerjaan proses spinning, risiko keselamatan, dan faktor tingkat risiko yang terdiri dari konsekuensi, paparan, dan kemungkinan serta tingkat risiko. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan observasi langsung dan wawancara dengan supervisor departemen, operator mesin di bagian pemintalan/spinning, P2K3 departemen spnning dan petugas klinik perusahaan(dokter perusahaan) yang ada didalamnya dengan menggunakan instrumen observasi (kamera digital) dan panduan wawancara. Setelah itu dilakukan penilaian risiko dengan menggunakan metode analisis semi kuantitatif.

Daftar bacaan : 36 (1982 - 2010) ii

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH MAJOR OF OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH Thesis, September 2010 Wiwin Listyowati, NIM : 106101003362 Analysis of the level of occupational safety risk in the spinning process of the production section PT Unitex Tbk Year 2010 (qualitative studies) xxiii+ 195 pages, 38 tables, 12 pictures, 5 diagram, attachments

ABSTRACT

PT Unitex Tbk is located in Tajur Street No.1 Sindang Rasa, Ciawi, Bogor West Java. PT Unitex Tbk is one of the textile companies that consist of four parts, such as spinning, wieving, dyieing and utility. PT Unitex Tbk produced things especially yarn finished for the middle class. The produced good is yarn, yarn dyeing and yarn finished. The spinning department saved a big safety occupational risk, it was caused by more types of working process have been done in spinning department. One of work process which has a biggest safety occupational risk in spinning department is winding process, because of winding process using a pressure vessel or heat setter with temperature more than 1500 Celsius. The biggest risk in this process is blasting that can cause of disaster. Spinning department itself, working process such as blowing, carding, pre drawing, lap former, combing, drawing 1st, 2nd, 3rd, simplex frame, ring spinning and winding. General purpose of this study was to determine the level of safety risk in spinning department of the production section PT Unitex Tbk Bogor West Java. While the aim particular is to know the stages of the process of spinning, safety risk and factors comprising the level of risk consist of consequences, exposure and level of risk. This research is a qualitative research which doing direct observation and interview with supervisor department, machine operator in spinning, P2K3 spinning department and company doctor which inside by observation instrument(digital camera ) and interview guide and then it was done risk assessment through semi quantitative analyze method.

References: 36 (1982 - 2010)

iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi Dengan Judul

ANALISIS TINGKAT RISIKO KESELAMATAN KERJA PADA PROSES PEMINTALAN (SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT. UNITEX TBK TAHUN 2010 (STUDI KUALITATIF)

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 28 September 2010

Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM Pembimbing Skripsi I

Drs.M.Farid Hamzens.M.si Pembimbing Skripsi II

iv

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, 28 September 2010

Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM Ketua

Drs.M.Farid Hamzens.M.si Anggota I

(Rulyenzi Rasyid.MKKK) Anggota II

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Di dalam Daftar Riwayat Hidup ini menerangkan bahwa : Nama No. KTP Tempat/Tgl. Lahir Umur Agama Status Pernikahan Status Kewarganegaraan Alamat : Wiwin Listyowati : 32.77.02.2008/03763/02013288 : Lampung, 25 Agustus 1987 : 23 Tahun : Islam : Belum Menikah : WNI : Jl. Mangga No. 68 Komplek Taman Serua, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Depok, Jawa Barat No.Telp Email/blog PENDIDIKAN FORMAL No Lembaga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan SMAN 1 Lampung MTS Darul Huda. Lampung MI Darul Huda. Lampung Jurusan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Kesehatan Masyarakat Tahun : 081386050638/081906078957 : wiwinlistio@yahoo.com

1 2 3 4

2006 - Sekarang Lulus tahun 2006 Lulus tahun 2003 Lulus tahun 2000

SERTIFIKASI DAN SEMINAR No 1 2 2 3 4 Lembaga Survey Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Tangerang tahun 2009 Training Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 ; 2004 Training Sistem Manajemen K3 OSHA 18001 ; 2007 Debat Refleksi Kesehatan Masyarakat Indonesia Seminar Kesehatan Pencegahan Dini terhadap vi Tahun 2009 2008 2008 2008 2008

5 6

8 9

Osteoporosis Seminar Populer Move Your Body, Your Hearts Healthy Training Jurnalistik Televisi Mempersiapkan Jurnalis Handal dan Professional Menuju Era Informasi Global Sarasehan Mahasiswa Lintas Agama dan Peringatan Hari Perempuan Internasional Kerukunan Umat Beragama Menuju NKRI dan Kekerasan Terhadap Perempuan, Kesehatan Reproduksi, dan Trafficking Dalam Prespektif Gender Menjawab Tantangan Masa Depan Melalui Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Seminar Kesehatan Tahukah Anda Kolesterol dan Resikonya?

2008 2008

2007

2007 2006

ORGANISASI No 1 2 5 6 3 4 7 8 9 10 11 12 Lembaga Ketua Organisasi Seni dan Olah Raga(OSERA) MTS Darul Huda. Lampung Ketua OSIS MTS Darul Huda. Lampung Ketua PMR SMAN I Lampung Angota Seni Tari Daerah SMAN I Lampung Ketua OSIS SMAN I Lampung Ketua KIR(Karya Ilmiah Remaja) SMAN I Lampung PASKIBRAKA SMAN I Lampung Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Pergerakan Anggota Muda IAKMI Dewan Perwakilan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Panitia Penyelenggara Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) I dan II DI Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang Panitia Penyelenggara Seminar Pengembangan Profesi Kesmas Pro Kontra PLTN di Indonesia Anggota Paduan Suara Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Tahun 2000 2001 2002 2003 2003 2004 2003 2004 2004 2005 2004 2006 2004 2008 2008 2009 2008 2009 2009 2008 sekarang

vii

LEMBAR PERSEMBAHAN

Di langit Sore makin menua Cahayanya terus melinsir Menyisakan lembayung pucat di ujung hari Senja meluruh dalam bisu Dan pertempuran kehidupan Baru saja akan di mulai Bersama doa - doa yang berpendar Dari mentari yang bersinar esok pagi
Dedicated to Ayah dan Ibu, kedua kakak dan ketiga adik ku,Mas Alif, Guru-guru ku serta sahabat dekat dan semua yang telah mendukung dalam menempuh studi

viii

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji bagi Allah SWT yang menciptkan dunia dan seisinya dengan beraneka ragam, dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat-NYA, syukur tak pernah henti penulis ucapkan atas ridho-NYA akhirnya laporan magang yang berjudul ANALISIS TINGKAT RISIKO KESELAMATAN KERJA PADA PROSES PEMINTALAN (SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT. UNITEX TBK TAHUN 2010 (STUDI KUALITATIF) telah penulis selesaikan, shalawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada baginda Rasulallah SAW yang membawa umatnya dari jaman gelap gulita ke jaman terang benderang. Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan, bimbingan, petunjuk dan motivasi dari banyak orang, dan tanpa bantuannya penulis belum tentu bisa menyelesaikannya. Dengan kerendahan hati penulis memberikan rasa hormat dan ucapan terimakasih sebanyak - banyaknya kepada: 1. Kedua orang tua penulis tercinta, Ayah juara satu seluruh dunia Bapak Suyitno Sumarjo dan Dewi Sri ku, Bunda Sriatin yang selalu memberikan motivasi dan inventarisasi baik moril maupun materil dari lahir sampai sekarang, selalu mebimbing penulis untuk tetap kuat dan tegar dimanapun dan kapanpun. Kakak-kakakku tersayang Marheni Widiasih dan Darsono.MS, Tutut Marheni Famularsih S.Pd dan Wawan Setiawan.SIP. Adikadikku tercinta, pembangkit semangat dan perjuangan ku Laily Ramadhani, Syaira Afifah Salsabilla, El-Zerrina Ayla Varda dan si Bontot Jagoan ku Arya Pramodya al-Ghifari yang selalu membuat hari- hari ceria tetap semangat. Perjuangan Kakak untuk kalian adik-adikku. 2. Orang tua kedua ku,Dosen pribadi ku, Ir. Suwadi Darmatyas Adipranoto dan Siti Masykuriyah S.ag yang telah memberikan dorongan baik moril dan materil bagi penulis. Serta keponakan ku yang lucu Elmerelllia balqis safira maharsiwi dan Irvan Haq

ix

Zwagery ananta kusuma yang selalu meramaikan suasana dan penghilang duka. Zaaffar Shodieq dan Dini Akmalia. Thankz full untuk suportnya. 3. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Ibu Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM, yang selalu banyak memberikan masukan dan saran, serta meluangkan waktunya dalam membimbing penulis dengan sabar. 6. Ibu Iting shofwati ST, MKKK selaku penanggung jawab peminatan K3 FKIK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 7. Bapak Dr.Arif Sumantri yang selalu member motivasi dan nasehat serta masukan bagi penulis. 8. Bapak Ir. Sukoco. Selaku Manager HRD PT Unitex Tbk. Yang selalu meluangkan waktu untuk membimbing penulis. 9. Ibu Dra.R.Dedeh Hasanah yang dengan sabar membantu dan membimbing bahkan tempat curhat penulis dalam melaksanakan kegiatan magang di PT Unitex Tbk. Hatur Nuhun Bu. 10. Bapak-Bapak kepala bagian yang rela meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam melaksanakan magang. 11. Temen sekamar ku Risma Duma Siregar yang selalu tersnyum setiap saaat. Thankz untuk supportnya sister, semoga rencana 10/10/2010 mu tercapai.

Yuni,yunci.alin,keke,bugen,yosi dan semua temen-temen dekat ku. Thankz berat. 12. Teman-teman kelas K3 yang tidak bisa di sebutkan satu-satu. I Love U all. keluarga besar KOMFAKES, PASIFIK dan Pelatih.

13. Mas Alif yang selalu mensupport dan menemani penulis dalam susah dan senang, terakhir selalu terurai doa yang tulus untuk Alm.Yardiyansyah Kusuma semoga Allah memberikan tempat yang indah di Surga. Miss u always... ever and forever. Terakhir dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT semoga semua amal kebaikan semua pihak dibalas oleh Allah SWT amin. dan semoga laporan magang ini dapat menambah khazanah pengetahuan penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Jakarta, 28 September 2010

Penulis

xi

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1 1.2 Perumusan masalah........................................................................... 6 1.3 Pertanyaan penelitian ........................................................................ 6 1.4 Tujuan penelitian ............................................................................. 7 1.4.1 Tujuan Umum ....................................................................... 7 1.4.2 Tujuan Khusus ...................................................................... 7 1.5 Manfaat ......................................................................................... 8

1.5.1 Bagi peneliti................................................................................... 8 1.5.2 Bagi prodi kesmas .......................................................................... 8 1.5.3 Bagi perusahaan ............................................................................. 9 1.6 Ruang Lingkup penelitian .............................................................. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 2.4 Analisis Risiko ............................................................................. 11 manajemen risiko .......................................................................... 12 Proses manajemen risiko Risiko ................................................... 16 Pemintalan( spinning) ................................................................... 31

xii

BAB III KERANGKA BERFIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3. 1 Kerangka berfikir ............................................................................ 39 3.2. Definisi istilah ................................................................................ 41 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain penelitian ............................................................................ 46 4.2 Lokasi dan waktu penelitian ............................................................. 46 4.3 Informan .......................................................................................... 46 4.4 Instrumen penelitian......................................................................... 47 4.5 Teknik pengumpulan data ................................................................ 47 4.6 Pengolahan data .............................................................................. 51 4.7 Teknik analisis data.......................................................................... 52 4.8 Validitas data ................................................................................... 52

BAB V HASIL 5.1 Gambaran Umum Perusahaan .......................................................... 53 5.2 Gambaran tahapan pekerjaan proses pemintalan (spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk ................................................................... 62 5.3 Identifikasi risiko pada setiap tahapan proses kerja pemintalan (spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk..................................................... 64 5.4 Analisis risiko pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan (spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk ................................... 96 5.5 Evaluasi risiko pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan (spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk ..................................129

xiii

BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan Penelitian ...................................................................144 6.2 Pembahasan Hasil Identifikasi Risiko Pada Setiap Tahapan Pekerjaan Proses Pemintalan/ Spinning di Departemen Spinning Bagian Produksi PT Unitex Tbk .................................................................................................144 6.3 Pembahasan Hasil Analisis Risiko Pada Setiap Tahapan Pekerjaan Proses Pemintalan/ Spinning di Departemen Spinning Bagian Produksi PT Unitex Tbk .......................................................................................................145

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan ..........................................................................................187 7.2 Saran ................................................................................................188

xiv

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel

Halaman

2.1 Tingkat Konsekuensi Metode Analisis Semi Kuantitatif................... 23 2.1 Tingkat Paparan Metode Analisis Semi Kuantitatif .......................... 25 2.3 Tingkat Kemungkinan Metode Analisis Semi Kuantitatif................. 26 2.4 Tingkat Risiko Metode Analisis Semi Kuantitatif............................. 27 2.5 Perbandingan Metode Analisis Risiko .............................................. 28 3.1 Tingkat Konsekuensi Metode Analisis Semi Kuantitatif................... 42 3.2 Tingkat Paparan Metode Analisis Semi Kuantitatif .......................... 43 3.3 Tingkat Kemungkinan Metode Analisis Semi Kuantitatif................. 44 3.4 Tingkat Risiko Metode Analisis Semi Kuantitatif............................. 45 4.1 Tabel Pengumpulan Data Primer ...................................................... 48 5.1 Jumlah Sumber Daya Manusia Di PT Unitex Tbk. .......................... 56 5.2 Hasil identifikasi risiko pada tahap blowing di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010...................................................................... 68 5.3 Hasil identifikasi risiko pada tahap carding di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010...................................................................... 71 5.4 Hasil identifikasi risiko pada tahap pre drawing di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010 ............................................................... 74 5.5 Hasil identifikasi risiko pada tahap Lap former di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010 .............................................................. 77

5.6 Hasil identifikasi risiko pada tahap Combing di departemen spinning PT xv

Unitex Tbk tahun 2010...................................................................... 80 5.7 Hasil identifikasi risiko pada tahap drawing 1st, 2nd, 3rd di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010 ................................................. 83 5.8 Hasil identifikasi risiko pada tahap Simplex frame di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010 ................................................................ 87 5.9 Hasil identifikasi risiko pada tahap ring spinning di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010................................................ 90 5.10 Hasil identifikasi risiko pada tahap winding di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010.................................................................... 94 5.11 Hasil analisis risiko pada tahap blowing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 .................................................................. 99 5.12 Hasil analisis risiko pada tahap Carding di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 .................................................................102 5.13 Hasil analisis risiko pada tahap pre drawing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 ................................................................105 5.14 Hasil analisis risiko pada tahap lap former di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 ................................................................109 5.15 Hasil analisis risiko pada tahap combing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 ................................................................111 5.16 Hasil analisis risiko pada tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010.............................................114 5.17 Hasil analisis risiko pada tahap Simplex frame departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 ................................................................119 5.18 Hasil analisis risiko pada tahap Ring spinning departemen spinning PT

xvi

Unitex Tbk Tahun 2010 .................................................................124 5.19 Hasil analisis risiko pada tahap Winding departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 .................................................................128 5.20 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Blowing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ............................................130 5.21 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Carding Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ............................................132 5.22 Hasil Evaluasi Risiko Tahap pre drawing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 .................................133 5.23 Hasil Evaluasi Risiko Tahap lap former Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ............................................135 5.24 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Combing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ............................................136 5,25 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ............................138 5.26 Hasil Evaluasi Risiko Tahap simplex frame Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 ................................139 5.27 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Ring Spinning Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 .................................141 5.28 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Winding Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 .............................................143

xvii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar

Halaman

2.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999............. 13 2.2 Rincian tahapan manajemen risiko menurut AS / NZS 4360 : 2004 ... 15 3.1 Kerangka Berfikir ............................................................................ 40 5.1 Mesin Blowing ................................................................................ 67 5.2 Mesin Carding ................................................................................ 70 5.3 mesin pre drawing ........................................................................... 73 5.4 Mesin Lap former ............................................................................ 76 5.5 Mesin Combing ................................................................................ 79 5.6 Mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd .............................................................. 83 5.7 Mesin simplex frame ........................................................................ 86 5.8 Mesin ring spinning ......................................................................... 89 5.9 Mesin Winding ................................................................................. 94

xviii

DAFTAR DIAGRAM

Nomor Diagram

Halaman

5.1 Struktur Organisasi PT. Unitex. Tbk ................................................ 55 5.2 Struktur organisasi bagian spinning .................................................. 57 5.3 Struktur organisasi bagian Wieving g................................................ 57 5.4 Struktur organisasi departemen Dyeing ........................................... 58 5.5 Alur Proses produksi bagian pemintalan/ spinning ........................... 63

xix

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Keselamatan kerja merupakan faktor yang sangat diperhatikan dalam dunia

industri modern terutama bagi mereka yang berstandar internasional. Berdasarkan penelitian Calvin dan Joseph (2006) dinyatakan bahwa sistem kerja di industri garmen mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja, meliputi kecelakaan pada jari tangan (terjepit), terbakar, peledakan, dan lainnya. Menurut Cross (1998), risiko adalah kemungkinan suatu kejadian yang akan menimbulkan dampak pada suatu objek. Risiko merupakan suatu ukuran yang meliputi kemungkinan suatu kejadian dan akibat yang terjadi. ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaankecelakaan dan penyakit- penyakit akibat kerja setiap tahun lebih dari US$1.25 triliun atau sama dengan 4% dari Produk Domestik Bruto (GDP). Tingkat kecelakaankecelakaan fatal di negara-negara berkembang empat kali lebih tinggi dibanding negaranegara industri. Di negara-negara berkembang, kebanyakan kecelakaan dan penyakit akibat kerja terjadi di bidang-bidang pertanian, perikanan dan perkayuan, pertambangan dan konstruksi.( ILO, 2004). Sektor tekstil Eropa dan Amerika merupakan produsen terbesar yang memenuhi pangsa pasar dunia, dimana omset yang diperoleh lebih dari EUR 200 miliar. Sektor

tekstil dan pakaian di Eropa dan Amerika berubah sebagai hasil dari pengembangan teknologi dan kondisi ekonomi, dengan restrukturisasi usaha, modernisasi serta beradaptasi dengan perubahan teknologi. Ada kecenderungan bergerak pada produksi massal produk sederhana menuju produk yang lebih luas. Berbagai produk yang dihasilkan bernilai tambah yang tinggi. Teknis dan industri khususnya produk subsektor adalah wilayah di mana produsen Eropa mampu memimpin pangsa pasar dunia. Perkembangan ini juga berdampak pada kerja di sektor ini, dengan perubahan model kerja (misalnya subkontrak), dan sebagai hasil dari teknik yang terlibat, dilakukan penilaian tentang bahaya dan risiko yang mungkin terjadi pada pekerja yang terkena paparan bahan baku untuk mencegah terjadinya kecelakaan.(OSHA Team.europa, 2007) Berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa tentang Keselamatan dan kesehatan kerja di sektor tekstil, mencakup semua bahaya dan risiko di seluruh bagian sektor tekstil, tetapi menyoroti beberapa isu kunci yang terjadi pada pekerja dan bagaimana keselamatan dan kesehatan pekerja dapat dikelola. Untuk itu dilakukan pendekatan untuk pencegahan yaitu dengan penilaian risiko yang diikuti dengan langkah-langkah pencegahan berdasarkan prinsip-prinsip umum pencegahan, diantaranya mengidentifikasi bahaya dan mereka yang beresiko, mengevaluasi dan memprioritaskan risiko, mengambil tindakan, monitoring dan meninjau. (OSHA Team.europa, 2007) Di Asia, khususnya Asia Selatan pernah terjadi kecelakaan di industry tekstil dan garmen. Kejadian kecelakaan di perusahaan textil atau garmen terjadi di Bangladesh yaitu kebakaran pabrik pada tanggal 24 Februari 2006 yang menyebabkan 51 pekerja tewas dan ratusan lainnya mengalami cedera serius. Kejadian tersebut diakibatkan oleh

buruknya standar keamanan yang menyebabkan sering terjadi kecelakaan di pabrikpabrik garmen (Deutsche, 2009). Di Indonesia Kejadian kebakaran di pabrik garmen juga banyak terjadi, seperti contoh kejadian kebakaran di gudang kapas pabrik garmen PT. Bintara Bandung pada tanggal 2 September 2008. Kebakaran ini menyebabkan satu orang terluka, pemicu kebakaran disebabkan oleh ledakan tabung gas yang terdapat pada gudang tersebut (Ramdani,Tempo, 2009). Di Jawa Barat, kejadian kecelakaan di pabrik tekstil juga beberapa kali terjadi, pertama yaitu pada tanggal 11 februari 2009, Pabrik tekstil PT Politek di kawasan Batujajar, Bandung, Jawa Barat hangus terbakar.( Santoso, Liputan6, 2009). Kedua, terbakarnya gudang penyimpanan benang ekspor yang letaknya persis disebelah gedung spinning milik sebuah pabrik tekstil di Sumedang, Jawa Barat pada 12 februari 2010, hingga menimbulkan ledakan.( Anita, MetroTVNews, 2010). Terakhir pada 6 April 2010 kecelakaan kerja terjadi di Pabrik tekstil PT Ever Fhinetex di Cibinong, Bogor, Jawa Barat hingga terjadi peledakan yang menyebabkan delapan karyawan terluka, selain itu ledakan itu merusak bangunan di sekitar pabrik.( Santoso, Liputan6, 2010) Upaya pencegahan kecelakaan akibat kerja dapat direncanakan,dilakukan dan dipantau dengan melakukan studi karakteristik tentang kecelakaan agar upaya pencegahan dan penananggulanganya dapat dipilih melalui pendekatan yang paling tepat. Analisa tentang kecelakaan dan resikonya dilakukan atas dasar pengenalan atau identifikasi bahaya di lingkungan kerja dan pengukuran bahaya di tempat kerja. Secara garis besar ada empat faktor utama yang mempengaruhi kecelakaan yaitu faktor manusia, alat atau mesin, material dan lingkungan.(Sumamur, 1985)

Proses identifikasi bahaya merupakan salah satu bagian dari manajemen resiko. Penilaiaan resiko merupakan proses untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap tingkat resiko kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Proses idenfikasi bahaya bisa dimulai berdasarkan kelompok, seperti: kegiatan, lokasi, aturan-aturan, dan fungsi atau proses produksi. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan guna mengidentifikasi bahaya di lingkungan kerja, misalnya melalui inspeksi, informasi mengenai data kecelakaan kerja, penyakit dan absensi, laporan dari tim K3, P2K3, supervisor dan keluhan pekerja, pengetahuan tentang industri, lembar data keselamatan bahan dan lain-lain.(Depnaker, 1991) PT Unitex Tbk merupakan perusahaan besar pengekspor tektil yang telah disertifikasi oleh ISO 9001:2000, sehingga di akui di pasar internasional dan memberikan jaminan bahwa produk yang di keluarkan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. PT Unitex Tbk dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Produksi yang terdiri dari spinning, wieving dan dyeing serta bagian non produksi yaitu utility. (Annual report PT Unitex Tbk.2008) Disamping itu, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir laporan P2K3 mencatat kejadian kecelakaan di departemen spinning yang diketahui dari tahun 2007 jumlah kejadian kecelakaan mulai dari departemen spinning berjumlah 2 kasus, wieving 2 kasus dan dyeing 4 kasus. Tahun berikutnya, yaitu tahun 2008 jumlah kejadian kecelakaan mulai dari departemen spinning berjumlah 1 kasus, wieving 4 kasus dan dyeing 2 kasus. Terakhir tahun 2009, jumlah kejadian kecelakaan yang tercatat mulai dari departemen spinning berjumlah 2 kasus, wieving 4 kasus dan dyeing tidak terdapat kasus kecelakaan atau 0 (Nol) kasus. Secara rinci terdapat dalam table sebagai berikut:

Table 1.1 Data kejadian kecelakaan PT Unitex Tbk tahun 2007 s/d 2009

*sumber: lap P2K3 PT Unitex Tbk.2009 Dari penjelasan di atas, riwayat kejadian kecelakaan di bagian produksi PT Unitex Tbk menunjukkan fluktuasi jumlah kecelakaan kerja. Dari keempat department tersebut, departemen spinning adalah satu-satunya department yang mengalami peningkatan pada tahun terakhir. Meskipun wieving tercatat mengalami kasus kecelakaan lebih besar dari spinning namun tidak menjadi prioritas, karena jumlah pekerja di wieving tiga kali lipat lebih banyak dibanding spinning. Dalam persentase dapat digambarkan jumlah kasus di wieving 0.85% sedangkan spinning 1.05%. Hal itu mengindikasikan adanya risiko keselamatan kerja di pemintalan(spinning) lebih besar di banding wieving. Meskipun PT Unitex Tbk memiliki program K3 yang di sebut KYT (Kiken Yochi Training) dimana program ini identifikasi bahaya di lakukan setiap departemen dan terfokus setelah terjadi kecelakaan kerja dalam bentuk pelatihan untuk melakukan identifikasi bahaya, namun program tersebut belum dapat mewakili aspekaspek dalam melakukan identifikasi bahaya dan melihat beberapa bahaya dari tiap masing-masing tahapan proses kerja. Untuk itu, diperlukan analisis risiko keselamatan

kerja

untuk

mengetahui

tingkat

risiko

keselamatan

kerja

pada

proses

pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 1.2 PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan penelitian Calvin dan Joseph (2006) dinyatakan bahwa sistem kerja di industri garmen/tekstil mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Kecelakan tersebut di antaranya kecelakaan pada jari tangan (terjepit), terbakar, peledakan, dan lainnya. Meskipun telah menganut prinsip Zero Accident, Berdasarkan laporan kecelakaan pada jam kerja yang tercatat oleh P2K3 PT Unitex Tbk, periode bulan Januari 2009 - Desember 2009 tercatat masih terjadi 8 kasus kecelakaan kerja dan 1 kasus kebakaran yang tejadi di ruang Ring Spinning. Dari ketiga department yang ada di bagian produksi PT Unitex departement spinning adalah department yang mengalami peningkatan kejadian kecelakaan dari 1 kasus menjadi 2 kasus kecelakaan ditambah dengan 1 kasus kebakaran di ring spinning. Spinning merupakan permulaan atau awal dari rangkaian proses produksi, kecelakaan yang terjadi bisa berdampak pada penurunan produktivitas kerja dan menyebabkan keterlambatan proses produksi di departemen selanjutnya yaitu wieving dan dyeing yang akhirnya menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Adanya kasus kecelakaan kerja tersebut juga menunjukkan perlu adanya perlindungan yang lebih serius terhadap pekerja. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis risiko keselamatan kerja dengan terlebih dahulu melihat dan menilai proses kerja, jenis risiko,konsekuensi, paparan dan kemungkinan sehingga diketahui tingkat risiko keselamatan kerja pada proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010.

1.3

PERTANYAAN PENELITIAN 1. Bagaimana gambaran struktur organisasi dan tahapan proses kerja di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010? 2. Bagaimana gambaran identifikasi risiko keselamatan kerja (meliputi kejadian kecelakaan yang pernah terjadi dan yang berpotensi untuk terjadi kecelakaan), penyebab dan upaya pengendalian yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010? 3. Bagaimana gambaran konsekuensi (consequence), paparan (exposure), kemungkinan (likelihood) keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010? 4. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan kerja pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010? 5. Bagaimana gambaran tingkat risiko keselamatan kerja pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010?

1.4

TUJUAN PENELITIAN 1.4.1 TUJUAN UMUM Diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja pada proses

pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010.

1.4.2 TUJUAN KHUSUS 1. Diketahuinya gambaran struktur organisasi dan tahapan proses kerja di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 2. Diketahuinya gambaran identifikasi risiko keselamatan kerja (meliputi kejadian kecelakaan yang pernah terjadi dan yang berpotensi untuk terjadi kecelakaan), penyebab dan upaya pengendalian yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 3. Diketahuinya gambaran konsekuensi (consequence), paparan (exposure), kemungkinan (likelihood) keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 4. Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan kerja pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 5. Diketahuinya gambaran tingkat risiko keselamatan kerja pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk tahun 2010. 1.5 MANFAAT PENELITIAN 1.5.1 BAGI PENELITI Memberikan manfaat bagi peneliti untuk memperdalam pengetahuan tentang analisis risiko. Terutama mengenai analisis risiko keselamatan kerja pada tahapan pekerjaan proses spinning di bagian produksi perusahaan tekstil.

1.5.2 BAGI PRODI KESMAS Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi tambahan bagi civitas akademik Prodi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terutama mengenai analisis risiko keselamatan kerja pada setiap tahapan pekerjaan proses spinning di bagian produksi perusahaan tekstil.

1.5.3 BAGI PERUSAHAAN Penelitian tentang kaitan analisis risiko dengan tingkat risiko ini dapat menjadi bahan pertimbangan atas masukan-masukan tentang potensi bahaya yang terdapat di departemen spinning dan cara pengendalianya.

1.6

RUANG LINGKUP PENELITIAN Penelitian ini berjudul Analisis risiko keselamatan kerja pada proses spinning

di bagian produksi PT Unitex Tbk Bogor Jawa Barat tahun 2010. Penelitian ini di lakukan di PT Unitex Tbk Jl Raya Tajur No.1, Bogor Jawa Barat khususnya di departemen spinning, bagian produksi pada bulan Agustus - September 2010 karena di department spinning, data kecelakaan menunjukkan adanya peningkatan dari tahun 2008 terjadi 1 kasus kemudian tahun 2009 terjadi 2 kasus kecelakaan di bagian spinning, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa bagian spinning juga mengandung risiko keselamatan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sasaran pekerja departemen spnning PT Unitex Tbk. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis semi kuantitatif untuk mengetahui tingkat konsekuensi, paparan, dan kemungkinan risiko keselamatan pada

10

proses spinning untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja berdasarkan Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder, data sekunder dengan telaah dokumen yang ada di P2K3 perusahaan dan data primer dilakukan dengan wawancara kepada manajemen departemen(manager departemen), supervisor departemen, operator mesin di bagian pemintalan/spinning, P2K3 departemen spinning dan petugas klinik

perusahaan(dokter perusahaan). Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa semester VIII peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

ANALISIS RISIKO 2.1.1 PENGERTIAN RISIKO Risiko adalah kemungkinan terjadinya kerugian atau keuntungan. Juga, suatu takaran dari potensi kerugian yang mempertimbangkan besarnya kerugian dan kemungkinan terjadinya.(Bird.1996) Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004, risiko adalah kemungkinan atau peluang terjadinya sesuatu yang dapat menimbulkan suatu dampak dari suatu sasaran, risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus atau konsekuensi yang dapat ditimbulkannya. Menurut Kolluru (1996) ada 5 macam tipe risiko, yaitu : 1. Risiko Keselamatan Risiko keselamatan memiliki probabilitas rendah, tingkat paparan dan konsekuensi tinggi, bersifat akut, dan jika terjadi kontak akan langsung terlihat efeknya. Penyebab risiko keselamatan lebih dapat diketahui serta lebih berfokus pada keselamatan manusia dan pencegahan kecelakaan di tempat kerja.

2. Risiko Kesehatan

11

12

Risiko kesehatan memiliki probabilitas tinggi, tingkat paparan dan konsekuensi rendah, dan bersifat kronis. Penyebab risiko kesehatan sulit diketahui serta lebih berfokus pada kesehatan manusia. 3. Risiko Lingkungan dan Ekologi Risiko lingkungan dan ekologi melibatkan interaksi yang beragam antara populasi, komunitas. Fokus risiko lingkungan dan ekologi lebih kepada dampak yang ditimbulkan terhadap habitat dan ekosistem yang jauh dari sumber risiko. 4. Risiko Finansial Risiko finansial memiliki risiko jangka panjang dan jangka pendek dari kerugian properti terkait dengan perhitungan asuransi dan pengembalian asuransi. Fokus risiko finansial lebih kepada kemudahan pengoperasian dan aspek keuangan. 5. Risiko Terhadap Masyarakat Risiko terhadap masyarakat memperhatikan pandangan masyarakat terhadap kinerja organisasi dan produksi, semua hal pada risiko terhadap masyarakat terfokus pada penilaian dan persepsi masyarakat.

2.2

MANAJEMEN RISIKO Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999, manajemen

risiko adalah pemeliharaan, proses, dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan.

13

Menurut Kolluru (1996), manajemen risiko merupakan sebuah proses evaluasi dan jika dibutuhkan dapat digunakan untuk mengendalikan sumber paparan dan risiko. Manajemen risiko adalah pendeskripsian sejumlah prosedur yang berhubungan dengan identifikasi risiko, penilaian risiko, upaya pengendalian, dan peninjauan kembali hasil pengendalian. Gambar 2.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 ESTABLISH CONTEXT
MONITOR AND REVIEW RISKS ASSESMENT

COMMUNICATE AND CONSULT

IDENTIFY RISKS

ANALYSE RISKS

EVALUATE RISKS

TREAT RISKS

Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999, yaitu : 1. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. 2. Melaksanakan identifikasi risiko. 3. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. 4. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada.

14

5. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. 6. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. 7. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal.

2.2.1 Tujuan Manajemen Risiko Tujuan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999, yaitu : 1. Membantu meminimalisasi meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. 2. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian. 3. Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian. 4. Melakukan peningkatan pengambilan keputusan pada semua level. 5. Menyusun program yang tepat untuk meminimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan. 6. Menciptakan manajemen yang bersifat proaktif bukan bersifat reaktif.

15

Establish context The strategic context The organizational context Develop criteria Decide the structure Identify Risk How can happen? How can it happen?

Communicate and consult

Analyse risk Determine exizting controls Determine likelihood Determine consequences

Estimate level of

Evaluate risks Compare against criteria Set risk properties

Accept risks No Treat risks Identify treatment options Evaluate treatment options Select treatment options Prepare treatment plans

Yes

Gambar 2.2 rincian tahapan manajemen risiko berdasarkan AS/NZS 4369/2004

Monitor and review

16

2.2.2 Manfaat Manajemen Risiko Manfaat manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004, yaitu : 1. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. 2. Meningkatkan produktivitas kerja. 3. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif, lingkungan kerja, produksi, dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik. 4. Mendapat keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset. 5. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

2.3

PROSES MANAJEMEN RISIKO 2.3.1 Identifikasi Risiko Sebelum identifikasi resiko terlebih dahulu dilakukan penentuan ruang lingkup merupakan parameter dasar proses manajemen risiko. Ruang lingkup tersebut mencakup 3 komponen, yaitu ruang lingkup eksternal, internal, dan manajemen risiko di mana proses manajemen risiko akan diterapkan ( AS / NZS 4360 : 1999). Identifikasi risiko merupakan suatu tahapan yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi hal-hal tertentu (hazard) dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan sebuah risiko terjadi (Kolluru, 1996). Menurut Australian

17

Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004, identifikasi risiko adalah langkah dalam proses manajemen risiko untuk mengidentifikasi apa penyebab atau kemungkinan terjadinya kegagalan dan bagaimana skenario dari kegagalan tersebut terjadi. Identifikasi risiko dimulai dengan melakukan identifikasi semua sumber bahaya pada area konsekuensi atau dampak. Dalam melakukan sebuah identifikasi dibutuhkan metode yang logis dan terstruktur untuk memastikan bahwa tidak ada area lain yang terlewatkan. Struktur tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menanyakan pertanyaan dengan cara yang imajinatif tentang apa yang mungkin terjadi dan bagaimana hal itu dapat terjadi (Cross, 1998). Berdasarkan menurut PERMENAKER No: PER.05/ MEN/ 1996 standar tentang identifikasi resiko, antara lain: Identifikasi kondisi yang ada dibandingkan dengan ketentuan pedoman ini. Identifikasi sumber bahaya yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan. Penilaian tingkat pengetahuan, pemenuhan peraturan perundangan dan standar K3. Meninjau sebab dan akibat kejadian yang membahayakan, kompensasi dan gangguan serta hasil penilaian sebelumnya yang berkaitan dengan K3. Beberapa contoh metode identifikasi tersebut, yaitu : 1. Preliminary Hazard Analysis (PHA) Preliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan sebagai analisis awal (Budiono, 2003). Preliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem (Colling, 1990).

18

2. Hazard and Operability Study (HAZOPS) Hazard and Operability Study adalah suatu metode analisis yang lebih detail pada desain dan operasi (Budiono, 2003). Hazard and Operability Study digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety dan bahaya pada lingkungan, serta memproses masalah yang dapat berdampak pada efisisensi operasi (Kolluru, 1996). 3. Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) Failure Modes and Effects Analysis adalah suatu metode analisis yang mendalam sebagai akibat kegagalan peralatan dan pengaruhnya (Budiono, 2003). Failure Modes and Effects Analysis secara sistematis menilai komponen dari suatu sistem tentang bagaimana sistem tersebut dapat mengalami kegagalan, kemudian mengevaluasi efek yang terjadi dari kegagalan tersebut dan tingkat bahaya yang dihasilkan akibat kegagalan sistem, serta bagaimana kegagalan tersebut dapat dicegah atau diminimalisasi (Colling, 1990). 4. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis adalah suatu model analisis desain, prosedur, dan

kesalahan pada faktor manusia (Budiono, 2003). Fault Tree Analysis dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau alat investigasi setelah terjadinya kecelakaan (Geotsch, 1996).

19

5. Job Safety Analysis (JSA) Menurut Soeripto (1997), Job Safety Analysis adalah suatu cara yang digunakan untuk memeriksa metode kerja dan menentukan bahaya yang sebelumnya telah diabaikan dalam merencanakan pabrik atau gedung dan di dalam rancang bangun masin-mesin, alat-alat kerja, material, lingkungan tempat kerja, dan proses kerja. Terdapat 4 langkah dalam membuat Job Safety Analysis : a. Memilih (menyeleksi) pekerjaan yang akan dianalisa. Pekerjaan tidak dapat dipilih secara acak, pekerjaan dengan pengalaman kecelakaan terburuk seharusnya di analisis terlebih dahulu. Dalam memilih pekerjaan untuk di analisis dan dalam menyusun tata cara analisis, pengawasan utama yang harus diikuti adalah : Banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam sebuah pekerjaan. Kecelakaan yang menghasilkan luka berat. Kecelakaan yang menghasilkan luka cacat. Pekerjaan baru dengan perubahan di dalam peralatan kerja atau proses.

b. Membagi pekerjaan ke dalam beberapa langkah atau kegiatan. Sebelum penelitian terhadap bahaya dimulai, pekerjaan harus di bagi ke dalam beberapa langkah yang menggambarkan apa yang telah selesai dikerjakan. Untuk menghindari 2 kesalahan umum, yaitu : Membagi pekerjaan menjadi terlalu rinci yang seharusnya tidak perlu menghasilkan sejumlah banyak langkah.

20

Membuat rincian kerja yang terlalu umum, sehingga langkah dasar tidak tertulis.

c. Melakukan identifikasi terhadap bahaya dan kecelakaan yang potensial. d. Mengembangkan prosedur kerja yang aman untuk menghilangkan bahaya dan mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Mengembangkan suatu prosedur kerja yang aman untuk : Mencegah timbulnya kecelakaan. Mencari data baru untuk melakukan pekerjaan itu. Merubah kondisi fisik yang menimbulkan risiko. Mehilangkan bahaya yang masih ada dan mengganti prosedur. Mengurangi frekuensi melaksanakan tugas. Menurut Diberardinis (1999), beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metode Job Safety Analysis adalah : a. Pendekatan Job Safety Analysis sangat mudah dipahami dan tidak membutuhkan suatu tahapan training, serta dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu yang berpengalaman. b. Proses pada Job Safety Analysis dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali atau memberikan pengetahuan mengenai operasi. c. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang dapat digunakan untuk melatih pekerja baru. d. Dokumentasi Job Safety Analysis juga dapat digunakan sebagai bahan audit.

21

Menurut Colling (1990), Job Safety Analysis berisikan beberapa informasi yang berkaitan dengan suatu proses pekerjaan, yaitu : a. Job (Pekerjaan), berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan dalam unit produksi untuk diidentifikasi risikonya. b. Task (Rincian Kegiatan), berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. c. Hazard (Bahaya), untuk mengetahui jenis bahaya apa yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. d. Probability (Kemungkinan), berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan pekerjaan. e. Consequency (Konsekuensi), berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan kerja.

2.3.2

Proses Analisis Risiko Analisis resiko adalah mengidentifikasi bahaya yang dapat

mempengaruhi durasi atau sumber daya pembiayaan pengembangan tersebut. Yang dikatakan bahaya disini adalah suatu keadaan yang dapat dan akan terjadi , dan jika keadaan muncul, dapat menciptakan suatu problem terhadap keberhasilan penyelesaian pengembangan.(SI.ITS.2008) Analisis risiko adalah sebuah bentuk sistematika dalam penggunaan informasi yang telah tersedia untuk mengidentifikasi bahaya (hazard) dan untuk

22

memperkirakan suatu risiko terhadap individu, populasi, bangunan, dan lingkungan (Kolluru, 1996) Tujuan melakukan analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko. Terdapat 3 metode dalam melakukan analisis risiko, yaitu : 1. Analisis Kualitatif Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk menjelaskan seberapa besar kondisi potensial dari kemungkinan yang akan di ukur. Pada umumnya analisis kualitatif digunakan untuk menentukan prioritas tingkat risiko yang lebih dahulu harus diselesaikan (AS / NZS 4360 : 1999). 2. Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif menggunakan hasil perhitungan numerik untuk tiap konsekuensi dan tingkat probabilitas dengan menggunakan data variasi, seperti catatan kejadian, literatur, dan eksperimen. Dengan adanya sumber data tersebut, hasil analisis memiliki keakuratan lebih tinggi dibandingkan dengan analisis risiko yang lain (Kolluru, 1996). 3. Analisis Semi Kuantitatif Analisis semi kuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif maupun analisis kualitatif. Analisis semi kuantitatif menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif karena risiko di bagi menjadi beberapa kategori.

23

Metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan metode analisis kualitatif, perbedannya terletak pada uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semi kuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999, analisis semi kuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen, yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi. Terdapat hubungan yang sangat kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko. Dalam metode analisis semi kuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan, yaitu : a. Konsekuensi (Consequence) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Tingkat konsekuensi metode analisis semi kuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori, yaitu : Catastropic, Disaster, Very Serious, Serious, Important, dan Noticeable (AS / NZS 4360 : 1999). Dibawah ini merupakan table penentuan konsekuensi dengan metode semi kuantitatif. Table.2.1 Tingkat Konsekuensi Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Catastropic Deskripsi Kerusakan yang sangat parah, terhentinya aktifitas, 100 kerusakan besar, dan menetap terhadap lingkungan. Rating

24

Disaster

Kematian, kerusakan setempat, dan menetap 50 terhadap lingkungan.

Very Serious Serious

Cacat atau penyakit yang menetap dan kerusakan 25 sementara terhadap lingkungan. Cedera atau penyakit yang serius tetapi sementara 15 dan efeknya merugikan terhadap lingkungan.

Important

Butuh penanganan medis & efek tidak terlalu 5 merugikan.

Noticeable

Luka ringan, memar, atau penyakit yang ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. 1

Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 (Modifikasi) b. Paparan (Exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja dan menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan. Tingkat frekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat paparan yang mempunyai nilai rating yang berbeda, yaitu : Continously, Frequently, Occasionally, Infrequent, Rare, dan Very Rare (AS / NZS 4360 : 1999). Dibawah ini merupakan table penentuan tingkat paparan dengan metode semi kuantitatif:

25

Tabel 2.2 Tingkat Paparan Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Continously Frequently Occasionally Deskripsi Terjadi secara terus menerus setiap hari. Terjadi sekali setiap hari. Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan. Infrequent Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun. Rare Pernah terjadi tetapi jarang, diketahui kapan terjadinya. Very Rare Sangat jarang, tidak diketahui kapan terjadinya. Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 c. Kemungkinan (Likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan 0,5 1 2 Rating 10 6 3

kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai nilai rating yang berbeda, yaitu : Almost Certain, Likely, Unusual, Remotely Possible, Conceivable, dan Practically Impossible (AS / NZS 4360 : 1999).

26

Table 2.3 Tingkat Kemungkinan Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Almost Certain Likely Unusual Remotely Possible Deskripsi Akibat yang paling mungkin timbul 10 apabila kejadian tersebut terjadi. Kemungkinan terjadi 50 50. Mungkin saja terjadi tetapi jarang. Kejadian yang sangat kecil 1 kemungkinannya untuk terjadi. 6 3 Rating

Conceivable Mungkin saja terjadi, tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun tahun. Practically Impossible Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak 0,1 mungkin terjadi 0,5

Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 Tingkat risiko pada analisis semi kuantitatif merupakan hasil perkalian nilai variabel konsekuensi, paparan, dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan. Tingkat risiko metode analisis semi kuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori, yaitu : Very High, Priority 1, Substansial, Priority 3, dan Acceptable (AS / NZS 4360 : 1999).

27

Tabel 2.4 Tingkat Risiko Metode Analisis Semi Kuantitatif Tingkat Risiko > 350 Very High Aktifitas dihentikan sampai risiko bisa dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. 180 350 70 180 20 70 Priority 3 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. < 20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin. Kategori Tindakan

dikurangi seminimal mungkin. Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 Menurut Cross (1998) masing-masing metode analisis risiko yang telah dijelaskan di atas mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan di antara satu sama lain. Berikut tabel perbandingan antara 3 metode analisis tersebut :

28

Tabel 2.5 Perbandingan Metode Analisis Risiko (Menurut Cross, 1998) No Metode Analisis 1. Kualitatif Lebih Mudah Lebih Cepat Hasil akurat dengan analisis jika hasil Kurang dibanding analisis Kelebihan Kekurangan

metode yang lain. 2. Kuantitatif Lebih Akurat Lebih Sulit dibandingkan Sumber Analisis lainnya Representatif 3. Semi Kuantitatif Lebih Akurat dibanding Analisis Kualitatif Lebih Mudah & Lebih Cepat dibanding Analisis Skala yang dipakai harus tepat untuk menentukan tingkat risiko Kurang Akurat dibanding Analisis Kuantitatif Data harus Waktu Lebih Lama

29

Kuantitatif Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999

2.3.3 Evaluasi Risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004, evaluasi risiko merupakan suatu proses membandingkan estimasi nilai risiko dengan kriteria yang telah disusun terlebih dahulu dan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat potensial dan hasil yang tidak menguntungkan. Selanjutnya akan dilakukan proses menilai dan menentukan prioritas pengendalian risiko berdasarkan kriteria yang ditetapkan mengenai batasan risiko mana yang bisa diterima, risiko mana yang harus dikurangi, atau risiko mana yang bisa dikendalikan dengan cara yang lain. 2.3.4 Pengendalian Risiko Menurut PERMENAKER No. 05 / MEN / 1996, pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja dilakukan dengan berbagai macam metode, yaitu : a. Pengendalian teknis atau rekayasa yang meliputi eliminasi, subtitusi, isolasi, ventilasi, higiene, dan sanitasi (engineering control). b. Pendidikan dan pelatihan. c. Pembangunan kesadaran dan motivasi yang meliputi sistem bonus, insentif, penghargaan, dan motivasi diri. d. Evaluasi melalui internal audit, penyelidikan dan etiologi. e. Penegakan hukum.

30

Menurut Suardi (2005), dalam melakukan langkah-langkah untuk mengatasi risiko yang timbul, dibutuhkan suatu skala prioritas yang dapat membantu dalam pemilihan pengendalian yang disebut dengan hierarki pengendalian. Urutan prioritas atau hierarki tersebut, yaitu : a. Eliminasi adalah langkah ideal yang dapat dilakukan dan harus menjadi pilihan pertama dalam melakukan pengendalian risiko. Eliminasi berarti menghilangkan peralatan yang dapat menimbulkan bahaya. b. Substitusi, prinsip dari alat kendali ini adalah mengendalikan sumber risiko dengan sarana atau peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah atau tidak ada. c. Rekayasa Engineering dilakukan dengan mengubah desain tempat kerja, peralatan, atau proses kerja untuk mengurangi tingkat risiko. Ciri khusus dari tahap ini adalah melibatkan pemikiran yang lebih mendalam bagaimana membuat lokasi kerja yang lebih aman dengan melakukan pengaturan ulang lokasi kerja, memodifikasi peralatan, melakukan kombinasi kegiatan, perubahan prosedur, dan mengurangi frekuensi dalam melakukan kegiatan berbahaya. d. Pengendalian Administrasi, dalam tahap ini menggunakan prosedur, standar operasi kerja, atau panduan sebagai langkah untuk mengurangi risiko. Akan tetapi banyak kasus yang ada, pengendalian administrasi tetap membutuhkan sarana pengendalian risiko lainnya. e. Alat Pelindung Diri (APD) adalah pilihan terakhir yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan bahaya pada pekerja. Penggunaan APD ini

31

disarankan hanya digunakan bersamaan dengan penggunaan alat pengendali lainnya. Dengan demikian perlindungan keamanan dan kesehatan personel akan lebih efektif. 2.3.5 Pemantauan dan Tinjauan Ulang Menurut Mulya (2008), pemantauan bertujuan untuk melakukan survey rutin terhadap hasil yang dicapai, kemudian dibandingkan dengan hasil yang diharapkan atau target yang telah di buat. Sedangkan tinjauan ulang bertujuan melakukan investigasi secara berkala terhadap situasi terkini. Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004, pemantauan dan tinjauan ulang perlu dilakukan untuk memonitor efektifitas seluruh tahapan proses manajemen risiko. Hal ini penting untuk perbaikan berkelanjutan. Risiko dan efektifitas pengendalian risiko perlu dimonitor untuk meyakinkan bahwa perubahan situasi tidak mengubah prioritas risiko.

2.4

PEMINTALAN(SPINNING) 2.4.1 Pengertian Pemintalan Industri Spinning (pemintalan) termasuk sebagai industri intermediate dari industri tekstil. Industri spinning adalah memproses bahan baku berupa kapas, rayon fiber, acrylic dan polyester staple fiber menjadi benang. Industri spinning menghasilkan out put berupa benang yang berbeda-beda jenisnya berdasarkan bahan bakunya. Output berupa benang dikonsumsi oleh industri weaving untuk ditenun menjadi kain (facbric) dan ada juga yang dikonsumsi oleh industri knitting untuk dirajut menjadi kain rajut.

32

Pada industri spinning terdapat beberapa mesin yang melakukan proses pemintalan yaitu blowing, carding, pre drawing, lap former, combing, drawing, speed, ring spinning, winding. a. Blowing dan Carding Merupakan proses dalam pembuatan benang, dimana bahan baku kapas atau polyester dimasukkan dalam mesin Blowing untuk diuraikan gumpalangumpalan seratnya, dibersihkan kotoran-kotorannya, dan diaduk sehingga terjadi pencampuran yang merata antara beberapa jenis kapas. Dari proses ini dihasilkan Lap yang selanjutnya diproses dalam mesin Carding dan menghasilkan "Sliver". b. Combing, Drawing dan Finishing Proses ini merupakan kelanjutan dari proses blowing dan carding yang berfungsi meluruskan dan mensejajarkan serat, memperbaiki kerataan serat dan membuat sliver dengan berat persatuan panjang tertentu. Tugas seksi ini juga membuat campuran antara polyester dengan kapas melalui proses Drawing. c. Ring Spinning dan Finishing Bagian ini menyiapkan benang dari hasil pemintalan dalam bentuk "Cones" dengan mesin Mach Conner. (ICN, 2009).

2.4.2 HAZARD DALAM INDUSTRI TEKSTIL Frekuensi klaim terbanyak dalam industri tekstil berasal dari proses produksi yang sering menimbulkan kerugian berupa kebakaran.

33

Disamping

prosesnya,

material

dan

cairan

yang

digunakan

bersifat combustible seperti dyes, coating, glues, dan films. Serat tekstil sebagai bahan baku sangat mudah terbakar dan juga sangat mudah rusak karena air. Terlebih lagi proses produksi tekstil menghasilkan sisa kain atau bahan yang terakumulasi selama proses yang bersifat combustible atau mudah terbakar. Stok bahan baku dan bahan jadi seharusnya disimpan dengan sebaik-baiknya terpisah dari aktifitas atau operasi yang bisa membuat stok tersebut terbakar. Secara umum, kondisi instalasi kabel ( wiring) harus diperhatikan karena pada umumnya pabrik tekstil menggunakan beban tenaga listrik yang tinggi yang tentunya kabel akan dialiri arus listrik yang tinggi. Bila keadaan kabel kurang baik karena sudah tua atau kabel yang dipakai tidak layak, risiko kebakaran akan sangat tinggi karena akan timbul akumulasi panas pada kabel yang ditimbulkan oleh arus listrik tadi yang akan memicu kebakaran jika didekatnya terdapat bahan yang mudah terbakar. 2.4.2.1 Hazard pada proses spinning Tahapan produksi yang sangat berisiko adalah proses pemintalan (spinning), khususnya untuk bahan kapas (cotton). Serat kapas sangat mudah dan cepat terbakar. Debu yang berasal dari proses pemintalan bisa menjadi bahan risiko kebakaran yang sangat tinggi bila terkonsentrasi pada tingkat tertentu. Kebakaran dapat diawali oleh kesalahan sistem kelistrikan, kerusakan mekanik mesin, atau percik api yang timbul karena adanya benda asing dalam fibre conveying system. Risiko kerusakan pada sistem kelistrikan secara umum yaitu berupa kerusakan pada motor,

34

masalah pada kabel, lampu, dan kotak saklar. Potensi kebakaran bisa ditimbulkan juga pada proses pemintalan dimana benang-benang tersebut diputar pada kecepatan yang lumayan tinggi yang bisa menyebabkan sumbu pemutarnya panas.( lippo insurance. 2009) 2.4.2.2 Proses Pemintalan Pada permulaannya, spinning muncul dengan memintal serat menggunakan tangan. Sekarang kayu yang dipanggil spindle digunakan untuk mencampurkan pintalan dan memegang serat yang dipintal. Pada kebiasaannya lingkaran atau berat menstabilkan spindle. Spindle ialah span dan memusingkan serat sehingga serat menjadi seutas benang (yarn). Spindle boleh mengantung dan membantu. Kemudian spinning wheel berkembang dimana yarn dihasilkan secara cepat dan berterusan. Spinning wheel berkemungkinan menggunakan kaki, tangan dan kuasa elektrik. Spinning wheel menggunakan tangan dipanggil charkha tersebar luas di India dan digunakan oleh Gandhi dan pengikut-pengikutnya. 2.4.2.3 Perkembangan Industri Tekstil Bidang tekstil sering dikatakan sebagai sunset industry, terutama di masa-masa terjadinya kenaikan cost, seperti cost tenaga dan biaya tenaga kerja. Faktanya, cost tenaga industri tekstil sekarang ini hanyalah sebahagian kecil dari jumlah cost produksi. Begitu juga dengan cost tenaga kerjanya tidak lebih 10% dari jumlah cost produksi. Maksudnya bukan disebabkan komponen-komponen tersebut industri ini jatuh.

Kenaikan harga minyak dan kenaikan upah buruh untuk industri tekstil

35

berlaku di seluruh dunia di sepanjang 12 bulan akhir-akhir ini. Semua negara penghasil tekstil di Asia berhadapan dengan masalah yang sama, termasuk negara-negara penghasil utama, seperti Republik Rakyat Cina (RRC), Indonesia, Vietnam, India, dan Bangladesh. Kilang kapas pertama di Amerika Syarikat telah dibina di Beverly, Massachusetts pada 1787 oleh seorang usahawan John Cabot bersaudara dan pelabur-pelabur Amerika di kilang kain yaitu Thomas Somers dan James Leonard. Kilang ini berlainan dengan kilang lain kerana menggunakan kuasa kuda (horse power). Pembangunan komersial cotton-spinning pertama berjaya dengan sebuah kilang yang

menggunakan sistem jentera kuasa air sepenuhnya di Amerika Syarikat pada 1790 oleh Samuel Slater di Blackstone River, Pawtucket, Rhode Island. Pada 1813, Boston Manufacturing Company telah dibina di Charles River di Waltham, Massachusetts The Boston Associates. Pemiliknya ialah Francis Cabot Lowell, yang mengkaji sistem kilang dan pembinaan di Manchester, England. Pusat perindustrian di Lowell, Massachusetts di Merrimack Manchester, New Hampshire digabungkan pada 1831 dengan Amoskeag Manufacturing Company, yang wujud sepanjang abad ke-19 menjadi kilang tekstil (kapas) terbesar di dunia, dengan 30 kilang-kilang dan sehingga 17,000 pekerja-pekerja. Sejak dahulu, pembatasan kuota akan dihapuskan mulai 1 Januari 2005. Semua berpendapat bahawa persaingan akan semakin ketat. Namun

36

begitu hanya sebilangan pengusaha tekstil yang mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan masalah tersebut. Pengusaha Yayasan German Garment Center melihat sejarah perkembangan industri tekstil di Asia sejak tahun 1959. Pada mulanya, Jepun menjadi pengeksport pakaian. Hingga suatu ketika, pada tahun 1960, fabrik mereka dipindahkan ke Hong Kong yang muncul menjadi the biggest tailor shop. Pada 1970 produksi di Hong Kong meningkat dengan cepat, produksi itu kemudiannya dipindahkan ke Taiwan, Korea, dan Republik Rakyat Cina. Industri tekstil di Republik Rakyat Cina semakin kuat. Sebaliknya, Taiwan dan Korea, lebih memilih bisnis-bisnis berteknologi tinggi dan tidak lagi memilih untuk menjadi pengeluar pakaian. (ICN, 2009). 2.4.2.4 Mesin Spinning Terdahulu Mesin Spinning Baghal di Quarry Bank Mill, UK. Mesin ini berkuasa moden, pada asalnya menggunakan air atau tenaga steam tetapi sekarang menggunakan kuasa elektrik dimana ia lebih cepat dari menggunakan hand-spinning. Teknik-teknik baru termasuk Open End Spinning atau Rotor Spinning boleh menghasilkan yarn pada kadar lebih dari 40 meter setiap saat setiap spinning head. Tukang skala spinners benang mereka yang tersendiri digunakan untuk mengawal sifatsifat benang dan benang yang terhasil tidak boleh didapati secara meluas, tetapi boleh didapati di kedai-kedai benang tempatan. (ICN, 2009).

37

2.4.2.5 Cara Pemprosesan Benang a. Bales ke lap Kapas mentah yang dihantar ke kilang biasanya dalam bentuk bales. Bales tersebut akan dihantar ke mesin blendomet untuk proses pembuangan kotoran atau bendasing yang terdapat pada kapas-kapas tersebut. Kapas mungkin tidak konsisten dalam kualitas dari bales dan contoh bagi setiap bales akan diambil. Pada bahagian ini kapas akan dicampurkan dan dibersihkan dari kotoran seperti habuk, kapas dalam bentuk bales juga akan dibuka kepada bentuk lapisan. Kemudian akan disedut oleh mesin Blendomet BDT 019. Setelah kapas yang berbeda kualitasnya akan dicampurkan dalam mesin Multipel Mixer MM6 235. Seterusnya akan dihantar kepada mesin carding melalui saluran perpipaan bumbung udara ( SPBU ). (ICN, 2009). b. Lap ke Sliver Terdapat dua proses yiaitu Carding dan Drawing Carding Kapas yang telah dibersihkan akan dihantar ke mesin carding melalui aliran angin, ini dinamakan chute feeding yiaitu penyambungan terus saluran dari proses blowing ke carding. Di carding proses membuat spun yarn (sliver) apabila serat-serat pendek atau staple yarn di buka dan dibersihkan serta diselarikan kepada benang berterusan yang tidak berpintal disebut sliver. Prinsip carding ialah memisah, membuka dan

38

menyusun serat-serat pendek menjadi selari. Ia juga memindahkan serat dari satu permukaan kepada permukaan lain. Drawing Prinsip drawing ialah penggabungan beberapa serat sliver yang menyerupai ukuran dan berat per unit asal. Percampuran berlaku semasa jumlah sliver yarn digandakan dan dimasukkan serentak pada mesin seterusnya. c. Sliver ke Roving Proses roving (simplex) ialah proses mengurangkan saiz berat per unit panjang sliver. Selepas drafting utas-utas roving akan menjadi lemah dan lembut. Oleh itu, sedikit twist diperlukan untuk menahan tekanan pada proses seterusnya. Mesin yang biasa digunakan ialah Simplex Frame, Speed Frame dan Roving Frame. d. Roving ke Yarn (Spinning) Proses spinning adalah untuk menguatkan yarn dengan memberi twist serat-serat yang telah didraf pada roller hadapan serta melilit yarn pada bobbin menghasilkan cop yang bersesuaian untuk penyimpanan, penghantaran dan proses penyimpanan. e. Winding Proses winding ialah untuk memeriksa yarn dan membuang kecacatan-kecacatan yang terdapat pada yarn seperti bahagian nipis, bahagian tebal, bulu dan neps. (ICN, 2009).

BAB III KERANGKA BERFIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

3.1

KERANGKA BERFIKIR Kerangka konsep ini berdasarkan kepada teori tahapan manajemen risiko yang

ditetapkan Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko pada proses pemintalan di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk. Kerangka berpikir tersebut di gambarkan pada table 3.1. Peneliti ini dimulai dengan melakukan wawancara dengan informan bersangkutan untuk menentukan batasan ruang lingkup dan tahapan proses kerja yang ada di departemen spinning. Kemudian di lanjutkan dengan identifikasi risiko pada setiap tahapan proses spinning. Setelah itu baru dilakukan analisis risiko dengan menilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan berdasarkan standar yang ditetapkan Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Selanjutnya mengevaluasi hasil analisis tersebut dengan membandingkan estimasi nilai risiko dengan kriteria yang terdapat dalam standar. Dari tahap tersebut di dapat kategori tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan di departemen spinning dan dilakukan kajian mendalam mengenai tingkat risiko kecelakaan kerja secara kualitatif.

39

40

Gambar 3.1 Kerangka Berfikir

Menentukan Ruang Lingkup Struktur Organisasi dan Tahapan Pekerjaan pada proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk Bogor Jawa Barat

Identifikasi Risiko Job Safety Analysis (Risiko, Penyebab, dan Upaya Pengendalian) pada tahapan proses pemintalan di dept spinning

Analisis Risiko Konsekuensi(Concequency) Paparan (Exposure) Kemungkinan (Likelihood)

Evaluasi Risiko Nilai Risiko = Konsekuensi x Paparan x Kemungkinan

Tingkat Risiko

41

3.2 DEFINISI ISTILAH 1. Menentukan Ruang Lingkup Merupakan sebuah proses penentuan ruang lingkup internal, ruang lingkup eksternal, dan ruang lingkup manajemen risiko di mana proses manajemen risiko akan diterapkan (AS / NZS 4360 : 1999). Cara ukur Alat ukur Hasil ukur : Wawancara dan observasi. : Pedoman wawancara, lembar observasi dan kamera : Struktur organisasi dan tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi PT Unitex Tbk Bogor Jawa Barat. 2. Identifikasi Risiko Merupakan kegiatan dengan melakukan identifikasi terhadap setiap tahapan pekerjaan dengan mencari risiko baik yang berpotensi untuk terjadinya kecelakaan dan yang pernah terjadi kecelakaan, penyebab, dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pada proses pemintalan(spinning) di bagian produksi.(AS / NZS 4360 : 1999). Cara Ukur Alat ukur : Wawancara dan observasi. : Tabel identifikasi risiko Job Safety Analysis(JSA), lembar Observasi dan kamera Hasil Ukur : Diketahuinya Risiko yang telah terjadi dan berpotensi terjadi kecelakaan, Penyebab, dan Upaya Pengendalian yang telah dilakukan pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi.

42

3. Analisis Risiko Merupakan suatu proses ilmiah untuk menentukan tingkat konsekuensi, paparan, dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja secara sistematik dengan menggunakan informasi seberapa sering suatu kejadian dapat terjadi dan besarnya tingkat kerugian yang dihasilkan, bertujuan untuk memisahkan risiko yang dapat diterima dan risiko yang memerlukan penanganan yang terdapat di setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi. Pada penelitian ini analisis risiko yang dilakukan menggunakan metode semi kuantitatif berdasarkan AS / NZS 4360 : 1999. a. Konsekuensi (Consequence) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek suatu kejadian yang dapat menimbulkan kerugian, injury, atau keadaan yang merugikan yang ditimbulkan oleh risiko pada setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi. Cara Ukur Alat ukur Hasil Ukur : Wawancara dan Observasi. : Pedoman wawancara, lembar observasi dan kamera : Berbagai kategori dan rating tingkat konsekuensi pada table 3.1 Tabel 3.1 Tingkat Konsekuensi Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Deskripsi Rating Catastropic Kerusakan yang sangat parah, terhentinya aktifitas, kerusakan besar, dan menetap 100 terhadap lingkungan. Disaster Kematian, kerusakan setempat, dan 50 menetap terhadap lingkungan. Very Serious Cacat atau penyakit yang menetap dan 25 kerusakan sementara terhadap lingkungan.

43

Cedera atau penyakit yang serius tetapi sementara dan efeknya merugikan terhadap lingkungan. Important Butuh penanganan medis & efek tidak terlalu merugikan. Noticeable Luka ringan, memar, atau penyakit yang ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 (Modifikasi)

Serious

15 5 1

b. Paparan (Exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi yang merupakan pengukuran kemungkinan kejadian dari suatu peristiwa yang digunakan sebagai jumlah kejadian yang terjadi suatu waktu karena adanya interaksi antara risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja proses pemintalan(spinning) di bagian produksi. Cara Ukur Alat ukur Hasil Ukur : Wawancara dan Observasi. : Pedoman wawancara, lembar observasi dan kamera : Berbagai kategori dan rating tingkat konsekuensi pada table 3.2 Tabel 3.2 Tingkat Paparan Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Deskripsi Continously Terjadi secara terus menerus setiap hari. Frequently Terjadi sekali setiap hari. Occasionally Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan. Infrequent Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun. Rare Pernah terjadi tetapi jarang, diketahui kapan terjadinya. Very Rare Sangat jarang, tidak diketahui kapan terjadinya. Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999

Rating 10 6 3 2 1 0,5

44

Kemungkinan (Likelihood) Kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang spesifik atau outcome yang diukur dengan rasio dari suatu kejadian dan jumlah total kemungkinan terjadinya suatu kejadian pada setiap tahapan pekerjaan proses

pemintalan(spinning) di bagian produksi. Cara Ukur Alat ukur Hasil Ukur : Wawancara dan Observasi. : Pedoman wawancara, lembar observasi dan kamera : Berbagai kategori dan rating tingkat konsekuensi pada table 3.3 Tabel 3.3 Tingkat Kemungkinan Metode Analisis Semi Kuantitatif Kategori Deskripsi Almost Certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi. Likely Kemungkinan terjadi 50 50. Unusual Mungkin saja terjadi tetapi jarang. Remotely Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya Possible untuk terjadi. Conceivable Mungkin saja terjadi, tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun tahun. Practically Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin Impossible terjadi Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999

Rating 10 6 3 1 0,5 0,1

4. Evaluasi Risiko Evaluasi risiko yaitu membandingkan nilai risiko yang di temukan selama proses analisis dengan kriteria risiko yang telah di tentukan untuk menilai dan menentukan prioritas pengendalian risiko berdasarkan kriteria yang ditetapkan mengenai batasan risiko mana yang bisa diterima, risiko mana yang harus dikurangi atau dikendalikan dengan cara yang lain (AS / NZS 4360 : 1999).

45

a. Nilai Risiko Nilai risiko adalah hasil perkalian nilai variabel konsekuensi, paparan, dan likelihood dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan proses proses pemintalan(spinning) di bagian produksi dengan menggunakan rumus berdasarkan AS / NZS 4360 : 1999. Cara Ukur Alat ukur Hasil Ukur b. Tingkat Risiko Kategori tingkat risiko ditentukan berdasarkan hasil perhitungan nilai risiko pada tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning) di bagian produksi. Cara Ukur Alat ukur Hasil Ukur : Membandingkan Nilai Risiko dengan Tingkat Risiko. : Tabel kategori tingkat risiko : Berbagai kategori dan rating tingkat konsekuensi pada table 3.4 Tabel 3.4 Tingkat Risiko Metode Analisis Semi Kuantitatif Tingkat Risiko Kategori Tindakan > 350 Very High Aktifitas dihentikan sampai risiko bisa dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. 180 350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin. 70 180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. 20 70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. < 20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Sumber : Risk Management AS / NZS 4360 : 1999 : Nilai Risiko = Konsekuensi x Paparan x Kemungkinan. : Tabel analisis risiko : Nilai Risiko

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1

DESAIN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pengamatan diawali

dengan mendefinisikan ruang lingkup untuk membatasi sejauh mana penelitian dilakukan dilanjutkan dengan mengidentifikasi risiko pada proses kerja pemintalan sehingga di dapatkan rincian pekerjaan, bahaya, risiko dan pengendalian yang dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan analisis risiko untuk mengetahui konsekuensi, paparan dan kemungkinan, selanjutnya evaluasi dengan menghitung nilai risiko sehingga di dapat tingkat risiko yang ada di tempat penelitian dan membandingkan dengan kriteria

dimana risiko tersebut dapat di terima atau membuat perlakuan khusus untuk meminimalisasikan risiko tersebut.

4.2

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk,

Bogor, Jawa Barat pada bulan Agustus September 2010.

4.3

INFORMAN Pemilihan informan untuk penelitian kualitatif ini dilakukan secara purpossive

yaitu peneliti mempunyai pertimbangan dan kriteria tertentu dalam pengambilan informan sesuai dengan tujuan penelitian.

46

47

Kriteria informan dalam penelitian ini adalah pekerja yang terlibat dalam pekerjaan pemintalan di departemen spinning diantaranya: supervisor departemen, operator mesin di bagian pemintalan/spinning, P2K3 departemen spnning dan petugas klinik perusahaan(dokter perusahaan).

4.4

INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Table identifikasi JSA untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya yang ada pada proses pemintalan(spinning) PT Unitex Tbk b. Pedoman wawancara dan lembar observasi c. Table metode analisis risiko AS/NZS 4369:1999 untuk mengetahui tingkat konsekuensi, paparan, dan kemungkinan proses pemintalan.

4.5

TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan

data primer dan data sekunder.

4.5.1 Data Primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) metode, yaitu observasi dan wawancara. Secara rinci dapat di lihat pada table berikut:

48

Table 4.1 Tabel Pengumpulan Data Primer

No.

Kerangka Berpikir

Data

Metode

Instrumen

Hasil

1
Menentukan ruang lingkup

Struktur organisasi PT Unitex Tbk Struktur organisasi dept spinning Tahapan proses kerja dept spinning Alur kerja dlm setiap tahap proses spinning Wawancara Pedoman wawancara/ recorder

Transkrip

Bagan struktur organisai PT Unitex Tbk Bagan Struktur organisasi dept spinning Bagan alur Tahapan proses kerja dept spinning Observasi Lembar observasi/ kamera digital Form check list/ foto

46

49
Bagan Alur kerja dlm setiap tahap proses spinning

Risiko(yg pernah terjadi/ berpotensi untuk terjadi), penyebab dan pengendalian yg telah dan akan dilakukan Wawancara Pedoman wawancara/ recorder Transkrip

Tahapan pekerjaan/ jenis pekerjaan & rincian pekerjaaan Pedoman wawancara/ recorder & Lembar observasi/ kamera digital Pedoman wawancara/ recorder & Lembar observasi/ kamera digital

Identifikasi risiko

Alur proses kerja Risiko yg ada dan potensinya Pengendalian yg telah dilakukan

Wawancara & Observasi

Transkrip & Form check list/ foto

Analisis risiko

Keparahan yg menyebabkan kerugian, injuri yg di timbulakan oleh risiko pd Wawancara & Observasi

3
Konsekuensi

setiap tahapan proses kerja

Transkrip & Form check list/ foto

Paparan

Seberapa sering kejadian kecelakaan tersebut terjadi

Wawancara &

Pedoman wawancara/

Transkrip &

50
& Lembar observasi/ kamera digital Pedoman wawancara/ recorder & Lembar observasi/ kamera digital Pedoman wawancara/ recorder & Lembar observasi/ kamera digital list/ foto

Kemungkinan

Bagaimana kemungkinan terjadi suatu kejadian yang spesifik

Wawancara & Observasi

Transkrip & Form check list/ foto

Evaluasi risiko

Peristiwa/ kejadian kecelakaan yang pernah terjadi

Kejadian kecelakaan

Rincian kejadian Pengendalian/penanganan yang dilakukan perusahaan

Wawancara & Observasi

Transkrip & Form check list/ foto

51

4.5.2 Data Sekunder a. Profil perusahaan PT Unitex Tbk, yang meliputi struktur organisasi, urutan proses produksi, dan data-data lain yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. b. Data kejadian kecelakaan dari bagian P2K3 perusahaan. c. Standard Operating Procedure (SOP) setiap tahapan pekerjaan proses pemintalan(spinning). d. Literatur work instruction(WI)

4.6

PENGOLAHAN DATA Pengolahan data dalam penelitian diawali dengan mencari tingkat risiko

keselamatan kerja, dengan metode analisis risiko AS/NZS Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Pertama menentukan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi dan tahapan proses kerja pemintalan/ spinning di bagian produksi PT Unitex Tbk. Selanjutnya dilakukan identifikasi risiko dengan menggunakan Job Safety Analysis (JSA) untuk mengatahui risiko kecelakaan kerja, penyebab, upaya pengendalian yang telah dilakukan. Kemudian dilakukan proses analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semi kuantitatif berdasarkan Australian Standart / New Zealand Standart 4360 tahun 1999, untuk menentukan konsekuensi (consequences), paparan (exposure), dan kemungkinan (likelihood), yang kemudian dari estimasi ketiga nilai tersebut ditentukan nilai risiko menggunakan rumus : Nilai Risiko = Consequences x Exposure x Likelihood

52

4.7

TEKNIK ANALISIS DATA Analisa data di mulai dengan menghitung nilai risiko yang diperoleh dari pe-

ratingan konsekuensi, paparan dan kemungkinan untuk memisahkan risiko yang dapat di terima atau yang memerlukan pengendalian lanjutan. Langkah selanjutnya yaitu menghitung nilai risiko yang diperoleh dari hasil rating konsekuensi, paparan dan kemungkinan berdasarkan analisis semi kuantitatif, sehingga diperoleh nilai risiko untuk pembanding dalam tahap penilaian tingkat risiko dalam bentuk skor. Selanjutnya skor yang di peroleh di bandungkan dengan standar yang ada untuk melihat apakah nilai tersebut masih bisa di terima atau tidak dan apakah perlu penanganan lain untuk mengurangi risiko tersebut sampai pada batas yang bisa di terima pekerja.

4.8 Validitas Data Berdasarkan pengambilan informan dalam penelitian kualitatif yang dilakukan secara langsung dan jumlahnya sedikit, maka untuk menjaga validitas data, dilakukan metode triangulasi, yaitu : 1. Triangulasi Sumber, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam dari sumber atau informan yang berbeda. 2. Triangulasi Metode, yaitu dengan melalui metode wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Triangulasi sumber dilakukan karena informan yang di pilih berbeda-beda sesuai dengan tahapan proses kerja yang ada di tempat penelitia namun memiliki kriteria yang sama. Triangulasi metode dilakukan untuk memperdalam kajian dan kaitan antara sumber data primer, sekunder dan hasil observasi yang di lakukan ditempat penelitian.

BAB V HASIL

5.1

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1.1 Sejarah Perusahaan dan Kebijakan Perusahaan PT Unitex Tbk menjadi perusahaan Go Public tanggal 12 Mei 1982 dan merupakan perusahaan ke-11 yang memasuki Bursa Efek Indonesia. Pada tanggal 26 Maret 1997 Perseroan telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya (BES) sebanyak 1.584.360 atau 43,20 % dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh. Pada tahun 1995 PT Unitex Tbk mendapatkan predikat hijau dari kementrian lingkungan hidup atas keberhasilanya dalam mengelola lingkungan hidup. Pada tahun 2003 perusahaan telah berhasil mendapatkan sertifikasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 sebagai tanda bahwa proses manajemen mutu yang ada telah sesuai dengan standar internasional. Lokasi kantor pemasaran dan pabrik PT Unitex Tbk terletak di jalan raya Tajur No.1 Desa Sindang Rasa Kecamatan Ciawi, Bogor Jawa Barat. Visi perusahaan dikenal secara internasional sebagai perusahaan tekstil yang terintegrasi dimana memproduksi produk yang berkualias tinggi. Misi perusahaan adalah meningkatkan nilai bagi stakeholders melaui operasi yang efisien, meningkatkan kepuasan pelanggan dengan harga bersaing dan pelayanan tepat. Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, dalam menjalankan proses produksinya didukung dengan kebijakan perusahaan yang di kenal dengan lima pilar penyangga, yaitu: 1. Mengutamakan keselamatan kerja

53

54

2. Produk yang bermutu tinggi dan konsisten 3. Pengiriman yang tepat waktu 4. Biaya yang rendah 5. Peningkatan kualitas sumber daya manusia Dan dilandasi dengan tiga pondasi, yaitu: 1. Disiplin 2. 5-R (Ringkas,Rapih, Resik, Rawat,Rajin) 3. Kerjasama

5.1.2 Struktur Organisasi PT Unitex Tbk dipimpin oleh seorang presiden direktur yang membawahi empat direktur dan satu orang penanggung jawab mutu. Keempat direktur tersebut adalah direktur umum, marketing, pabrik dan adsministrasi. Antara direktur marketing dan direktur pabrik terdapat biro koordinasi pusat (BKP) yang berfungsi mengontrol produksi dengan order yang diterima oleh perusahaan. Khusus untuk pengelolaan administrasi Bogor Office berada di bawah tanggung jawab Direktur Administrasi yang membawahi tiga Departemen, yaitu Departemen Personalia, Departemen Umum dan Departemen Keuangan.

55

Diagram.5.1 Struktur Organisasi PT. Unitex. Tbk Marketing Director Marketing Depart

Spinning Control Coord Beureu Weaving Dyeing Finishing Presiden Director Factory Director Yarn Dyeing

Technical Production Guarantee of Quality Utilty Administrarion Director GA & Personal Accounting

5.1.3 Ketenaga Kerjaan (SDM) Di dalam ketenaga kerjaan, PT Unitex Tbk. Melibatkan warga negara asing di dalamnya khususnya warga negara yang berasal dari jepang, hal ini karena PT Unitex Tbk. Merupakan perusahaan kerjasama antara Indonesia Jepang. Secara lengkap komposisi pembagian tenaga kerja di PT Unitex Tbk. dapat dilihat dalam table 5.1

56

Tabel 5.1 Jumlah Sumber Daya Manusia Di PT Unitex Tbk.


Departemen BKP Spinning Weaving Dyeing Yarn dyeing Technical Production Guarantee of Quality Utility General & Personel Accounting Marketing Total Male 12 171 346 80 33 28 28 54 56 5 8 821 Female 2 26 125 5 0 2 24 2 15 2 7 210 14 197 471 85 33 30 52 56 71 7 15 1031 Total

*Sumber: Annual Report PT Unitex Tbk, 2009

5.1.4 Waktu Kerja PT Unitex Tbk. Memiliki waktu operasi selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu dengan sistem pembagian kerjanya di bagi dalam 3 (tiga) shift dan 1 (satu) non shift, pola shift kerjanya adalah sebagai berikut: Shift 1 dari pukul 06.00 14.00 Shift 2 dari pukul 14.00 22.00 Shift 3 dari pukul 22.00 06.00 Dan non shift dari pukul 08.00 14.00

57

5.1.5 Unit Produksi 5.1.5.1 Bagian Spinning Bagian Spinning (pemintalan) adalah bagian yang memproses bahan baku kapas dan polyester menjadi benang. Diagram.5.2 Struktur organisasi bagian spinning

5.1.5.5 Bagian Weaving Bagian Weaving (pertenunan) adalah bagian yang memproses benang menjadi kain. Proses ini diawali dari mempersiapkan benang dalam seksi persiapan hingga terbentuk anyaman benang tate yang siap masuk mesin tenun, selanjutnya diproses dalam mesin tenun. Diagram.5.3 Struktur organisasi bagian Wieving

58

5.1.5.6 Biro Koordinasi Pusat (BKP) Bagian ini berfungsi untuk mengontrol produksi sesuai dengan order yang diterima. BKP menerima order dari kantor Jakarta yang berasal baik dalam maupun luar negeri, kemudian dipelajari untuk menentukan jenis dan cara pembuatan kain tersebut. BKP mengatur perencanaan proses produksi mulai dari persiapan bahan baku, persiapan proses sampai dengan proses pengeluaran barang jadi dari gudang untuk dikirim kepada customer 5.1.5.7 Bagian Dyeing Departemen Dyeing adalah bagian pemolesan kain terhadap warna, penampilan dan pegangan (handling). Departemen ini merupakan bagian pemrosesan kain yang terakhir mulai dari bahan baku kapas dan polyester sampai pada produk kain yang siap dipasarkan. Bagian dyeing terdiri dari beberapa seksi diantaranya: Diagram.5.4 Struktur organisasi departemen Dyeing

5.1.5.8. Bagian Celup Benang Bagian ini pada dasarnya merupakan bagian yang berdiri sendiri dalam departemen dyeing. Seluruh aktifitas mulai dari persiapan sampai dengan pengeringan

59

dilakukan dalam seksi ini dan tidak terkait secara langsung dengan seksi-seksi lain. Pada bagian celup benang ini terdapat dua seksi yaitu seksi celup benang sendiri dan seksi soft winder. 5.1.5.9 Bagian Garansi Mutu Departemen garansi mutu adalah bagian yang berfungsi untuk melakukan pengontrolan mengenai kualitas hasil produksi, baik kualitas produksi kain grey (kain mentah), kualitas kain finish (kain jadi) maupun kualitas produksi benang. Bagian garansi mutu ini merupakan penggabungan proses quality control dari bagian produksi sebelumnya yaitu bagian spinning (quality benang), seksi shiage (bagian

weaving/pertenunan) dan seksi make-up (bagian dyeing/pencelupan).

5.1.6

Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (P2K3) PT Unitex Tbk PT Unitex Tbk membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(P2K3) yang terdiri dari pemimpin dan pengurus akan dibantu oleh petugas K3 yang merupakan karyawan pada perusahaan tersebut setelah di tunjuk oleh pemimpin perusahaan setelah diberi pengetahuan dan pelatihan sehingga memiliki keahlian dibidang K3. Hal ini dalam rangka mengarahkan dan mewujudkan masyarakat dan lingkungan kerja yang sehat, aman, produktif dan sejahtera. Adapun pelaksanaan penanggung jawab dari keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan perusahaan adalah panitia pembina keselamatan kerja atau P2K3. Struktur organisasi P2K3 PT Unitex Tbk terdiri dari direktur pabrik sebagai ketua yang dibantu oleh penasehat, pengawas dan anggota komite. Pengawas memegang seluruh pekerjaan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dalam pabrik dan bertanggung jawab

60

terhadap direktur pabrik dan panitia K3 lainya. Pengawas juga dapat menerima laporan mengenai kegiatan K3 di bagian masing-masing. Penasehat dapat memberikan nasehat mengenai isi kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja dibantu oleh kepala seksi dan departemen. Peran serta dan juga partisipasi organisasi P2K3 sangat diharapkan dalam menciptakan dan melaksanakan usaha peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan serta penyakit akibat kerja, sehingga tercipta tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Tercapainya sasaran tersebut akan sejalan dengan tujuan pembangunan untuk memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya. Tujuan pelaksanaan K3 adalah agar tenaga kerja yang berada ditempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat, agar sumber-sumber produksi dapat digunakan secara efisien dan proses produksi berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Agar terdapat keseragaman dalam pelaksanaan maka P2K3 mempunyai tugas sebagai berikut: Mengetahui dan melaksanakan ketentuan pemakaian alat perlengkapan dan pelindung kerja di setiap bagian. Menggalakkan cara hidup sehat dirumah dan ditempat kerja. Menciptakan suatu sistem untuk menetapkan karyawan yang bertangung jawab terhadap keselamatan kerja. Mempromosikan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja melalui pembentukan suatu sistem untuk merayakan dan memberikan pengahargaan kepada karyawan dari departemen yang berjasa terhadap keselamatan kerja.

61

Memberikan bimbingan spesifik dan terarah kepada karyawan yang bekerja di bagian pengangkutan dan gudang untuk mencegah kecelakaan sewaktu menjalankan kendaraan dan pekerjaan bongkar muat.

Melanjutkan dan meningkatkan kegiatan dan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja. Program K3 perusahaan yang secara garis besar adalah sebagai berikut: 1. Agenda tahunan 2. Rapat K3 3. Pengelolaan lingkungan kerja 4. Perawatan alat 5. KYT (Kiken Yochi Training) 6. Patrol bagian dan patrol malam 7. Evaluasi 8. Pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja 9. Reward dan punishment 10. Ergomoni 11. Penangulangan kebakaran 12. SOP (Standar Operasional Prosedur) 13. Pelayanan kesehatan 14. Klinik perusahaan 15. Program bantuan pengobatan 16. Perawatan kesehatan 17. Jaminan sosial tenaga kerja(Jamsostek) 18. Pertolongan pertama pada kecelakaan(P3K) dan Gizi kerja

62

5.2

GAMBARAN TAHAPAN PEKERJAAN PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX Tbk Bagian Spinning (pemintalan) adalah bagian yang memproses bahan baku kapas dan

polyester menjadi benang dan siap untuk di lanjutkan ke tahap pertenunan di departemen wieving 4.5.1 Seksi Blowing dan Carding Tugas seksi ini merupakan proses dalam pembuatan benang, dimana bahan baku kapas atau polyester dimasukkan dalam mesin Blowing untuk diuraikan gumpalangumpalan seratnya, dibersihkan kotoran-kotorannya, dan diaduk sehingga terjadi pencampuran yang merata antara beberapa jenis kapas. Dari proses ini dihasilkan Lap yang selanjutnya diproses dalam mesin Carding dan menghasilkan "Sliver". 4.5.2 Seksi Combing, Drawing dan Finishing Tugas seksi ini adalah melanjutkan seksi sebelumnya yaitu melalui proses Pre Drawing yang berfungsi meluruskan dan mensejajarkan serat, memperbaiki kerataan serat dan membuat sliver dengan berat persatuan panjang tertentu. Tugas seksi ini juga membuat campuran antara polyester dengan kapas melalui proses Drawing. 4.5.3 Seksi Ring Spinning dan Finishing Tugas dari seksi ini adalah menyiapkan benang dari hasil pemintalan dalam bentuk "Cones" dengan mesin Mach Conner dan benang siap di kirim ke bagian pertenunan untuk di proses menjadi kain mentah. Secara umum proses produksi di pabrik di mulai dari proses pemintalan pada bagian spinning. Pada bagian pemintalan ini terdapat 3 (tiga) buah mesin blowing. Mesin blowing 1 dan 2 dipersiapkan untuk membuat benang campuran polyester /kapas sedangkan mesin 3 khusus membuat benang kapas 100%.

63

Secara garis besar proses produksi di bagian pemintalan adalah sebagai berikut: Diagram 5. 5 (Alur Proses produksi bagian pemintalan/ spinning) Pemintalan 1 Polyester
Blowing

Pemintalan 2 Kapas
Blowing

Kapas
Blowing

Carding

Carding

Carding

Pre Drawing

Pre Drawing

Lap Former

Lap Former

Combing

Combing

Drawing 1 ,2 ,3
st nd rd

Drawing 1 ,2 ,3
st nd rd

Simplex frame

Simplex frame

Ring spinning

Ring spinning

Winding

Winding

Benang Poliester/ kapas

Benang Tenun

Benang tenun

64

Selain itu, fungsi dari mesin blowing adalah membuka

gumpalan serat,

mencampur serat dan membersihkan serat. Setelah dari mesin blowing kemudian bahan kapas/campuranya dikerjakan dalam mesin carding yang berfungsi untuk

membersihkan kembali serat, memisahkan serat pendek dan panjang serta membentuk sliver. Setelah dari mesin carding, kemudian serat masuk ke mesin pre-darwing, mesin lap former dan mesin combing yang berfungsi untuk mensejajarkan serat ke arah sliver , menyisir serat dan memisahkan serat pendek dan kotoran serat. Setelah dari mesin combing kemudian serat yang berbentuk sliver masuk ke dalam mesin drawing yang pertama,kedua, ketiga yang berfungsi untuk meluruskan dan mensejajarkan serat kea arah sumbu sliver. Dari mesin drawing kemudian sliver masuk ke dalam mesin simplex frame yang berfungsi meregangkan sliver menjadi bentuk roving dengan sedikit twist dan menggulung benang dalam bobbin tegak. Selesai dari mesin simplex frame kemudian serat yang sudah berbentuk benang roving di proses dalam mesin spinning dan mesin winding, yang berfungsi memberikan peregangan lebih lanjut, menggulung pada bobbin miring dan menggulung benang pada bentuk cones.

5.3

IDENTIFIKASI RISIKO PADA SETIAP TAHAPAN PEKERJAAN PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX Tbk Hasil identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses produksi Spinning dilakukan dengan menggunakan metode JSA (Job Safety Analysis) dan membagi proses tersebut menjadi sembilan tahapan sesuai dengan tahapan pada proses kerjanya, yaitu

65

blowing,carding, pre drawing, lap former, combing, drawing 1st, 2nd, 3rd, simplex frame, ring spinning, winding. Penggolongan jenis risikonya berdasarkan jenis bahaya keselamatan kerja yaitu mechanical hazard, physical hazard dan electric hazard. Proses kerja pemintalan atau spinning di dukung dengan penggunaan mesin blowing, mesin carding, mesin Lap Former, mesin Mach Conner dan Dust Mechine. 4.6.1 Tahap Blowing Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pekerja di bagian ini, tahap proses kerja blowing terdiri dari mencampur serat baik dari polyester atau campuran kapas dan kapas murni. Kemudian membuka gumpalan serat dan membersihkan serat. a. Proses blowing pada tahap membuka gumpalan serat padat, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu tertimpa gumpalan serat padat, yang mengakibatkan kaki luka/lebam karena tertimpa atau kejatuhan gumpalan serat padat yang berukuran cukup besar, dengan gumpalan serat berbentuk kotak/persegi yang memiliki berat kurang lebih 50 kg/ gumpalan serat. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah Bekerja sesuai dengan SOP,menggunakan safety shoes dan bekeja hati-hati b. Proses blowing pada tahap membersihkan serat di mesin blowing dan mengurai serat padat di mesin Blowing , terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari tangan terjepit mesin Blowing, yang mengakibatkan jari tangan terluka/ memar karena terjepit mesin Blowing. Pada tahap ini tidak terdapat potensi risiko jari terputus, karena gerak mesin searah atau parallel (ritasi ganda).

66

Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati c. Proses blowing pada tahap mencampur serat pada mesin Blowing mencampurnya agar homogen, terdapat dan

potensi bahaya yang akan

menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu telapak tangan terjepit mesin Blowing, yang mengakibatkan telapak tangan terluka/ memar karena terjepit mesin Blowing. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekerja hati-hati d. Proses blowing pada tahap memindahkan serat kapas yang telah

digulung/sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan bekeja hati-hati e. Proses Blowing pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

67

Gambar 5.1 Mesin Blowing

68

Table 5.2 Hasil identifikasi risiko pada tahap blowing di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010
No 1 Pekerjaan Proses blowing (pencampuran serat) membersihkan mesin blowing Mencampur mesin Blowing serat pada serat di Rincian Pekerjaan Membuka gumpalan serat padat Skenario Membuka gumpalan serat padat dan meletakkan di mesin blowing Membersihkan dan Risiko Kaki tertimpa gumpalan serat padat Jari tangan terjepit/ jari memar telapak tangan terjepit / jari memar Bekerja hati-hati Bekerja sesuai dengan SOP Pengendalian PT Unitex Tbk Menggunakan safety shoes Bekerja sesuai SOP Bekerja hati-hati Bekerja hati-hati

mengurai serat padat agar lebih mengembang Mencampur serat yang sudah di urai agar

homogeny Serat kapas yang telah di gulung/sliver dipindahkan ke mesin carding Memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli Menyalakan mematikan mesin dan Menyalakan dan Tersengat kesetrum listrik/ Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel Kaki terlindas roli Menggunakan safety shoes Bekerja dengan hati-hati

mematikan mesin blowing dalam basah keadaan tangan

Sumber:

Hasil

Observasi

dan

Wawancara

dengan

Supervisor

dan

Pekerja

Dept

Spinning

PT.

Unitex

Tbk,

2010

69

4.6.2

Carding Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahui bahwa tahap proses kerja Carding adalah membersihkan serat, memisahkan serat pendek dan membentuk sliver. a. Proses Carding pada tahap merangkap sliver dan meletakkan dalam mesin untuk di gabung dengan sliver yang lain, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari terluka atau remuk terjepit double silinder yang berputar berlawanan arah pada mesin Carding. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati b. Proses Carding pada tahap memisahkan serat pendek dan panjang serta membersihkan serat di mesin Carding , terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari tangan tergores putaran sisir mesin Carding. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati c. Proses Carding pada tahap memindahkan sliver ke mesin pre drawing dengan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki luka /lebam tertimpa sliver dan jari kaki luka/remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah

menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman.

70

d. Proses Carding pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP. Gambar 5.2 Mesin Carding

71

Table 5.3 Hasil identifikasi risiko pada tahap carding di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010
No 2 Pekerjaan Proses carding Rincian Pekerjaan Merangkap sliver Skenario Meletakkan sliver untuk di rangkap dengan sliver yg lain Memisahkan membersihkan serat dan Memisahkan serat pendek dan panjang serat serta di membersihkan mesin Carding Mengirim sliver ke Memindahkan sliver ke Jari kaki luka /lebam tertimpa sliver Jari kaki luka/remuk terlindas roli Menyalakan mematikan mesin dan Menyalakan dalam basah Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Pekerja Dept Spinning PT. Unitex Tbk, 2010 keadaan dan tangan Tersengat listrik/ kesetrum Bekerja sesuai SOP Menyediakan washtaffel lap kering di Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman Risiko luka jari atau remuk Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja hati-hati Bekerja sesuai dengan SOP

terjepit double silinder yang berputar berlawanan arah mesin Carding Jari tangan tergores -

Bekerja hati-hati Bekerja sesuai dengan SOP

mesin pre drawing

mesin pre drawing dengan roli

mematikan mesin carding

72

4.6.3

Pre Drawing Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Pre Drawing adalah mensejajarkan serat kea rah sliver dan merangkap sliver. a. Proses Pre Drawing pada tahap mensejajarkan serat pada mesin Pre Drawing, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka gores di jari atau remuk terjepit silinder mesin Pre Drawing. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati b. Proses Pre Drawing pada tahap peletakkan sliver satu dan yang lain pada mesin Pre Drawing, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari atau remuk terjepit mesin Pre Drawing . Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati c. Proses Pre Drawing pada tahap memindahkan sliver ke mesin lap former dengan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. d. Proses Pre Drawing pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

73

Gambar 5.3 mesin pre drawing

74

Table 5.4 Hasil identifikasi risiko pada tahap pre drawing di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010

No 3

Pekerjaan Proses drawing

Rincian Pekerjaan

Skenario

Risiko

Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

pre Mensejajarkan serat Ketika mensejajarkan serat luka gores di jari pada mesin Pre ke arah sliver kurang hati- atau remuk terjepit hati/ salah sliver mesin Pre Drawing

Drawing Merangkap sliver

Peletakkan sliver satu dan luka jari atau remuk yang lain pada mesin Pre Terjepit mesin Pre Drawing tidak tepat Drawing ke Jari kaki remuk -

Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

Mengirim sliver ke Memindahkan mesin lap former

sliver

Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman

mesin lap former roli

dengan terlindas roli

Menyalakan

dan Menyalakan dan mematikan Tersengat mesin pre drawing dalam kesetrum keadaan tangan basah

listrik/ -

Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel

mematikan mesin

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Pekerja Dept Spinning PT. Unitex Tbk, 2010

75

4.6.4

Lap Former Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Lap Former adalah mempersiapkan bahan untuk di proses pada mesin Combing. a. Proses lap former pada tahap penyisiran sliver yang kurang tepat/kurang hati-hati pada mesin Lap Former, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari atau remuk terjepit mesin lap former. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati b. Proses lap former pada tahap membuang serat pendek yang menempel pada sliver, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka gores tergesek gigi-gigi mesin lap former. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah Bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati c. Proses lap former pada tahap memindahkan sliver ke mesin Combing dengan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. d. Proses lap former pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

76

Gambar 5.4 Mesin Lap former

77

Table 5.5 Hasil identifikasi risiko pada tahap Lap former di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010

No 4

Pekerjaan Prose lap former

Rincian Pekerjaan Peneyisiran dari kotoran

Skenario kurang Luka

Risiko jari atau -

Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

sliver Penyisiran

tepat/kurang hati-hati remuk pada Former mesin

Terjepit -

Lap mesin Lap Former

Membuang pendek

serat Membuang pendek

serat Luka

gores -

Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

yang tergesek gigi-gigi -

menempel pada sliver mesin lap former Mengirim sliver ke Memindahkan sliver Jari kaki remuk mesin combing ke mesin combing terlindas roli Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman

menggunakan roli Menyalakan dan Menyalakan dan Tersengat listrik/ Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel

mematikan mesin

mematikan mesin pre kesetrum drawing dalam

keadaan tangan basah


Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Pekerja Dept Spinning PT. Unitex Tbk, 2010

78

4.6.5

Combing Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Combing adalah penyisiran serat, memisahkan serat pendek dan kotoran, meluruskan serat untuk di proses pada mesin Combing. a. Proses Combing pada tahap meluruskan serat searah sliver pada mesin Combing karena kurang hati-hati/ meleset, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari tangan atau remuk terjepit mesin

Combing. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah Bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati b. Proses Combing pada tahap memindahkan sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. c. Proses Combing pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

79

Gambar 5.5 Mesin Combing

80

Table 5.6 Hasil identifikasi risiko pada tahap Combing di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010

No 5

Pekerjaan Proses Combing

Rincian Pekerjaan

Skenario serat luka

Risiko jari tangan -

Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

meluruskan serat di Meluruskan mesin Combing

searah sliver pada atau remuk terjepit mesin kurang meleset Combing mesin Combing hati-hati/

Mengirim sliver ke Memindahkan mesin Drawing 1st, sliver 2nd, 3rd ke Drawing 1st, 2nd, 3rd menggunakan roli Menyalakan dan Menyalakan mematikan

Jari

kaki

remuk -

Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman

mesin terlindas roli

dan Tersengat mesin kesetrum

listrik/ -

Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel

mematikan mesin

pre drawing dalam keadaan basah tangan

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Pekerja Dept Spinning PT. Unitex Tbk, 2010

81

4.6.6

Drawing 1st, 2nd, 3rd Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Drawing 1st, 2nd, 3rd adalah meluruskan, mensejejajarkan serat dalam sliver ke arah sumbu, memperbaiki kerataan: berat/panjang, campuran dengan perangkapan dan menyesuaikan berat sliver untuk di proses pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd. a. Proses Drawing 1st, 2nd, 3rd pada tahap meluruskan, mensejajarkan serat dalam sumbu sliver kea rah sumbu pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd serta peletakkan serat dalam sliver kurang hati-hati pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari tangan atau remuk terjepit mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah Bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati. b. Proses Drawing 1st, 2nd, 3rd pada tahap memperbaiki kerataan: berat/panjang, campuran dengan perangkapan dan menyesuaikan berat sliver Drawing, karena peletakkan perangkapan dan menyesuaikan berat kurang hati-hati Drawing 1st, 2nd, 3rd, terdapat potensi bahaya yang akan

pada mesin

menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu tangan tergores dan luka jari atau remuk terjepit mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP, bekerja hatihati dan menggunakan hand gloves. c. Proses Combing pada tahap memindahkan sliver ke mesin Simplex frame menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko

82

keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. d. Proses Combing pada saat menyalakan dan mematikan mesin pada saat

produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

Gambar 5.6 Mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd

83

Table 5.7 Hasil identifikasi risiko pada tahap drawing 1st, 2nd, 3rd di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010
No 6
nd

Pekerjaan Proses drawing 1 , 2 ,3


rd st

Rincian Pekerjaan Meluruskan, mensejejajarkan serat

Skenario Meluruskan, mensejajarkan serat dalam sumbu sliver kea rah sumbu pada mesin Drawing, peletakkan serat dalam sliver kurang hati-hati pada mesin Drawing Memperbaiki kerataan:

Risiko Luka jari tangan atau remuk Drawing terjepit mesin -

Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

dalam sliver ke arah sumbu Drawing Memperbaiki kerataan, berat dan panjang, dengan pada mesin

Tangan tergores dan luka jari atau remuk terjepit mesin Drawing -

Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati Menggunakan hand gloves

berat/panjang, campuran dengan perangkapan dan menyesuaikan berat sliver Drawing, perangkapan karena dan

campuran perangkapan

peletakkan

menyesuaikan berat kurang hatihati pada mesin Drawing

Menyalakan mematikan mesin

dan

Menyalakan dan mematikan mesin pre drawing dalam keadaan tangan basah

Tersengat kesetrum

listrik/ -

Bekerja sesuai SOP Menyediakan washtaffel lap kering di

Mengirim

sliver

ke

Memindahkan sliver ke mesin Simplex Frame menggunakan roli

Jari kaki remuk terlindas roli -

Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman

mesin Simplex Frame

Sumber:

Hasil

Observasi

dan

Wawancara

dengan

Supervisor

dan

Pekerja

Dept

Spinning

PT.

Unitex

Tbk,

2010

84

4.6.7 Simplex Frame Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Simplex Frame adalah peregangan sliver menjadi roving, memberikan sedikit antihan(twist) dan menggulung benang pada bobbin tegak untuk di proses di mesin simplex frame. a. Proses Simplex Frame pada tahap peregangan sliver menjadi roving kurang tepat/hati-hati di mesin Simplex Frame, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari atau remuk terjepit mesin Simplex Frame. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati. b. Proses Simplex Frame pada tahap memasang Shinomaki pada mesin Simplex Frame, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu kaki atau badan luka/lebam tertimpa shinomaki penuh. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati. c. Proses Simplex Frame pada tahap sebelum di roving, sliver di beri antihan/ twist, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari tangan tergores benang/serat. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hatihati. d. Proses Simplex Frame pada tahap mengulung benang pada bobbin tegak sebelum di roving, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu kaki luka atau lebam kejatuhan bobbin yang beratnya

85

mencapai 5 s/d 8 kg. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP, mengunakan safety shoes dan bekeja hati-hati. e. Proses Simplex Frame pada tahap memperbaiki Bobbin dan arah gulungan, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari tangan tergores atau lecet terkena mesin gulung simplex frame. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekerja hati-hati. f. Proses Simplex frame pada tahap memindahkan Bobbin ke mesin Ring

spinning menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. g. Proses Simplex frame pada saat menyalakan dan mematikan mesin saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP.

86

Gambar 5.7 Mesin simplex frame

87

Table 5.8 Hasil identifikasi risiko pada tahap Simplex frame di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010
No 7 Pekerjaan Proses simplex frame Rincian Pekerjaan Peregangan lanjut dan pada Frame mesin Simplex Skenario Peregangan sliver menjadi roving kurang tepat/hati-hati di mesin Risiko tergores dan luka jari atau remuk terjepit mesin Simplex Frame Memasang Shinomaki Memasang Shinomaki pada mesin Simplex Frame Kaki atau badan tertimpa Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati luka/lebam shinomki penuh Memberikan antihan/twist Menggulung benang Sebelum di roving, sliver di beri antihan/ twist Menggulung benang pada bobbin tegak kurang hati-hati sehingga Jari tangan tergores Tertimpa/ Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati Menggunakan safety shoes Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati Pengendalian PT Unitex Tbk Bekerja sesuai dengan SOP Bekerja hati-hati

Simplex Frame

benang/serat Kaki kejatuhan

pada Bobbin tegak

kejatuhan Bobbin saat melakukan penggulungan Memperbaiki gulungan Bobbin dan arah

Bobbin/ memar atau luka lebam Jari atau frame tangan lecet tergores terkenan

mesin gulung simplex Mengirim Bobbin ke mesin Ring Spinning Menyalakan mematikan mesin dan Memindahkan Bobbin ke mesin Ring Spinning menggunakan roli Menyalakan dan mematikan mesin pre drawing dalam keadaan tangan basah Jari kaki remuk listrik/ Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel

terlindas roli Tersengat kesetrum

88

4.6.8

Ring Spinning Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan

pekerja di bagian ini, dapat diketahui bahwa tahap proses kerja Ring Spinning adalah peregangan lanjut, antihan lebih lanjut dan menggulung pada bobbin miring untuk di proses di mesin Ring Spinning. a. Proses Ring Spinning pada tahap peregangan dan antihan lanjut pada mesin Ring Spinning, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu luka jari, tergores atau remuk terjepit silinder

horizontal mesin Ring Spinning. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati. b. Proses Ring Spinning pada tahap menggulung benang pada Bobbin miring pada mesin Ring Spinning, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu kaki memar atau luka lebam karena tertimpa/ kejatuhan Bobbin. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan menggunakan safety shoes. c. Proses Ring Spinning pada tahap menggulung Bobbin pada posisi miring dan menjaga kerataannya, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu tergores benang atau luka tergesek Bobbin saat melakukan penggulungan karena kurang hati-hati. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP dan bekeja hati-hati. d. Proses Ring Spinning pada tahap memindahkan Bobbin ke mesin Winding menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko

89

keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman. e. Proses Ring Spinning pada saat menyalakan dan mematikan mesin Ring

spinning saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP. Gambar 5.8 Mesin ring spinning

90

Table 5.9 Hasil identifikasi risiko pada tahap ring spinning di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010

No 8

Pekerjaan Proses spinning

Rincian Pekerjaan ring Peregangan antihan lanjut dan Cara

Skenario antihan untuk Terjepit

Risiko mesin

Pengendalian PT Unitex Tbk Ring Bekerja sesuai SOP Bekerja hati-hati

pada peregangan

tingkat Spinning / tergores dan -

mesin Ring Spinning

lanjut kurang tepat/hati- luka jari tangan atau hati di mesin Ring remuk

Spinning Menggulung benang Meletakkan bobbin pada Kaki Tertimpa/ Bobbin/ Bekerja sesuai dengan SOP Menggunakan safety shoes

pada Bobbin miring mesin simplex frame dg kejatuhan pada mesin Ring posisi miring

memar atau luka lebam

Spinning Menggulung Bobbin Tangan tergores Bobbin saat Bekerja sesuai SOP Bekerja hati-hati

pada posisi miring dan tergesek menjaga kerataanya melakukan

penggulungan kurang hati-hati

karena

91

Mengirim Bobbin ke Memindahkan mesin Winding ke mesin

Bobbin Jari

kaki

remuk -

Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman

Winding terlindas roli

menggunakan roli

Menyalakan mematikan mesin

dan Menyalakan

dan Tersengat

listrik/ -

Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di washtaffel

mematikan mesin pre kesetrum drawing dalam keadaan tangan basah

Sumber:

Hasil

Observasi

dan

Wawancara

dengan

Supervisor

dan

Pekerja

Dept

Spinning

PT.

Unitex

Tbk,

2010

92

4.6.9 Winding Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sub-departemen dan pekerja di bagian ini, dapat diketahu bahwa tahap proses kerja Winding adalah menggulung benang pada Cones untuk di proses di mesin Winding. a. Proses Winding pada tahap Menggulung benang pada Cones di mesin

Winding, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu. Kaki kejatuhan Cones/ memar atau luka lebam. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah bekerja sesuai dengan SOP, training sebelum bekerja dan menggunakan safety shoes. b. Proses Winding pada tahap Cones dipindahkan ke mesin heat setter untuk di uap agar kekuatan benang bertambah, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu Wajah atau badan terkena uap panas. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah Bekerja sesuai dengan SOP, bekerja hati-hati dan menggunakan masker. c. Proses Winding pada saat menyalakan dan mematikan mesin Winding/heat setter saat produksi sedang berjalan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkan risiko tersengat listrik/ kesetrum karena kondisi tangan dalam keadaan basah. Pengendalian yang telah dilakukan adalah menyiapkan lap kering di washtaffel dan bekerja sesuai dengan SOP. d. Proses Winding pada tahap mengambil Cones yang sudah di uap untuk di kemas atau di pindahkan ke departemen wieving untuk di tenun, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu kaki kejatuhan Cones/ memar atau luka lebam. Upaya pengendalian yang telah

93

dilakukan oleh perusahaan adalah training sebelum bekerja, bekerja sesuai dengan SOP dan bekerja hati-hati. e. Proses Winding pada tahap memindahkan Cones ke departemen wieving

untuk di tenun dengan menggunakan roli, terdapat potensi bahaya yang akan menimbulkan risiko keselamatan kerja yaitu jari kaki remuk terlindas roli. Upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan safety shoes dan mengatur jarak aman.

Gambar 5.9 Mesin Winding

94

Table 5.10 Hasil identifikasi risiko pada tahap winding di departemen spinning PT Unitex Tbk tahun 2010

No 9

Pekerjaan Proses winding

Rincian Pekerjaan

Skenario

Risiko

Pengendalian PT Unitex Tbk Training sebelum bekerja Bekerja sesuai dengan SOP Menggunakan safety shoes

kejatuhan Kaki kejatuhan Cones/ pada Cones di mesin Cones saat melakukan memar atau luka Winding penggulungan karena lebam Menggulung benang Tertimpa/ kurang hati-hati Memindahkan cones Cones dipindahkan ke Wajah ke mesin heat setter mesin heat atau badan -

Menggunakan masker Bekerja hati-hati Bekerja sesuai SOP

setter terkena uap panas

untuk di uap agar kekuatan bertambah Melakukan penguapan heat setter proses Cones dimasukkan ke Peledakan dengan dalam mesin heat benang

Bekerja sesuai SOP Penyediaan alat pemadam Bekerja hati-hati

setter untuk di lakukan penguapan waktu tertentu dalam

Menyalakan mematikan mesin

dan Menyalakan mematikan

dan Tersengat mesin kesetrum

listrik/ -

Bekerja sesuai SOP Menyediakan lap kering di

95

Winding(heat

setter)

washtaffel

dalam keadaan tangan basah Membongkar Cones Mengambil dari penguapan Cones Kaki kejatuhan Cones/ mesin yang sudah di uap memar atau luka untuk di kemas atau di lebam pindahkan departemen untuk di tenun Mengirim cones ke Memindahkan Cones Jari departemen wieving kaki remuk Menggunakan safety shoes Mengatur jarak aman ke wieving Training sebelum bekerja Bekerja sesuai dengan SOP Menggunakan safety shoes

ke departemen wieving terlindas roli untuk di tenundengan menggunakan roli

Sumber:

Hasil

Observasi

dan

Wawancara

dengan

Supervisor

dan

Pekerja

Dept

Spinning

PT.

Unitex

Tbk,

2010

96

5.4

ANALISIS

RISIKO

PADA

SETIAP

TAHAPAN

PEKERJAAN

PROSES

PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX Tbk. Setelah dilakukan identifikasi risiko, tahap selanjutnya adalah melakukan analisis risiko dari setiap tahapan pekerjaan proses spinning. Analisis risiko dalam penelitian ini menggunakan metode analisis semi kuantitatif berdasarkan AS / NZS 4360 : 1999. 5.4.1 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap blowing a. Membuka gumpalan serat padat 1. Tertimpa gumpalan serat padat Pada saat membuka gumpalan serat padat, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari kaki terluka atau lebam akibat tertimpa gumpalan serat padat yang memiliki berat kurang lebih 50 kg, namun permukaannya tidak tajam, sehingga nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan dilakukan sekali dalam sehari yaitu dengan nilai paparan 6 dengan kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 18 dengan kategori Acceptable.

97

b. Membersihkan serat di mesin blowing 1. Jari tangan terjepit mesin blowing Pada saat membersihkan serat di mesin blowing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan terjepit atau jari memar akibat terjepit antara roller pencampur di mesin blowing yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3. c. Memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding 1. Kaki terlindas roli Pada saat memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently,

98

sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. d. Menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringan/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan

kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable.

99

Tabel 5.11 Hasil analisis risiko pada tahap blowing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010
Uraian Pekerjaan Membuka gumpalan serat padat Risiko Konsekuensi (C) 1 (Noticeable) Paparan (E) 6 (Frequently) Kemungkinan (L) 3 (Unusual) Nilai Risiko 18

Jari kaki terluka / lebam tertimpa gumpalan serat

membersihkan serat di mesin blowing

Jari tangan terjepit/ jari memar

1 (Noticeable)

10 (continuously)

3 (Unusual)

30

Memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli Menyalakan dan mematikan mesin

Kaki luka/ terlindas roli 5 (Important) 6 (Frequently) 3 (Unusual)

90

Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently)

0.5 (Conceivable)

15

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

100

5.4.2 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap carding a. Merangkap sliver


1. Jari tangan terjepit mesin Carding

Pada saat merangkap sliver di mesin Carding, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Carding yang

memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam
sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan

untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. b. Memisahkan dan membersihkan serat 1. Jari tangan tergores Pada saat memisahkan dan membersihkan serat di mesin Carding, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena gesekan silinder mesin Carding yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori

Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi

101

peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3. c. Mengirim sliver ke mesin pre drawing 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim sliver ke mesin pre drawing dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. d. Menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Carding ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh

102

penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable. Tabel 5.12 Hasil analisis risiko pada tahap Carding di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Merangkap sliver Risiko Konsekuensi (C) 5 (important) Paparan (E) 6 (Frequently) Kemungkinan (L) 3 (Unusual) Nilai Risiko 90

luka jari atau remuk terjepit mesin Carding

Memisahkan dan membersihkan serat Mengirim sliver ke mesin pre drawing

Jari tangan tergores

1 (Noticeable)

10 (continuously)

3 (Unusual)

30

kaki luka/remuk terlindas roli 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual)

90

103

Menyalakan dan mematikan mesin

Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently)

0.5 (Conceivable)

15

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

5.4.3 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap pre drawing a. Mensejajarkan serat pada mesin Pre Drawing 1. Jari tangan tergores Pada saat mensejajarkan serat pada mesin pre drawing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena gesekan silinder mesin pre drawing yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3.

104

b. Merangkap sliver
1. Jari tangan terjepit mesin pre drawing

Pada saat merangkap sliver di mesin pre drawing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin pre drawing yang memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori Remotely possible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 50 dengan kategori Priority 3. c. Mengirim sliver ke mesin Lap former 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim sliver ke mesin Lap former dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang

105

diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. d. Menyalakan dan mematikan mesin pre drawing ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin pre drawing ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable Tabel 5.13 Hasil analisis risiko pada tahap pre drawing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Mensejajarkan Risiko luka gores di Konsekuensi (C) 1 (Noticeable) Paparan (E) 10 (continuously ) Kemungkinan (L) 3 (Unusual) Nilai Risiko 30

serat pada mesin jari tergesek Pre Drawing silinder mesin Pre Drawing

106

Merangkap sliver

luka jari atau remuk Terjepit mesin Pre Drawing

5 (important)

10 (continuously )

1 (Remotely possible)

50

Mengirim sliver ke mesin lap former

Jari kaki remuk terlindas roli 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 90

Menyalakan dan mematikan mesin Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently)

0.5 (Conceivable)

15

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010 5.4.4 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap lap former a. Peneyisiran sliver dari kotoran di mesin lap Former
1. Jari tangan terjepit mesin Lap former

Pada saat peneyisiran sliver dari kotoran di mesin lap former, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Lap former yang memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori Remotely possible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui

107

tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 50 dengan kategori Priority 3. b. Membuang serat pendek 1. Jari tangan tergores Pada saat mensejajarkan serat pada mesin Lap former, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena luka gores tergesek gigigigi mesin lap former yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3. c. Mengirim sliver ke mesin Combing 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim sliver ke mesin Combing dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu

108

merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. d. Menyalakan dan mematikan mesin lap former ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Lap former ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable.

109

Tabel 5.14 Hasil analisis risiko pada tahap lap former di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Penyisiran sliver dari kotoran Risiko Luka jari atau remuk Terjepit mesin Lap Former Membuang serat pendek Luka gores tergesek gigigigi mesin lap former Mengirim sliver ke mesin combing Menyalakan dan mematikan mesin Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently) 0.5 (Conceivable) 15 Jari kaki remuk terlindas roli 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 90 1 (Noticeable) 10 (continuously) 3 (Unusual) 30 5 (important) Konsekuensi (C) Paparan Kemungkinan (E) (L) 10 (continuously) 1 (Remotely possible ) Nilai Risiko 50

5.4.5 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap combing a. Meluruskan serat di mesin Combing
1. Jari tangan terjepit mesin Combing

Pada saat meluruskan serat di mesin Combing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Combing yang

memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal

110

tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. b. Mengirim sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. c. Menyalakan dan mematikan mesin Combing ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Combing ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum

111

karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable. Tabel 5.15 Hasil analisis risiko pada tahap combing di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010

Uraian Pekerjaan meluruskan serat di mesin Combing

Risiko luka jari atau remuk terjepit mesin Combing

Konsekuensi (C) 5 (important)

Paparan (E) 6 (Frequently)

Kemungkinan (L) 3 (Unusual)

Nilai Risiko 90

Mengirim sliver 1st, 2nd, 3rd Menyalakan dan mematikan mesin

Jari kaki remuk 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual)

90

ke mesin Drawing terlindas roli

Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently) 0.5 (Conceivable)

15

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

112

5.4.6 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd a. meluruskan, mensejejajarkan serat dalam sliver ke arah sumbu pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd
1. Jari tangan terjepit mesin Drawing 1 , 2 , 3
st nd rd

Pada saat meluruskan, mensejejajarkan serat dalam sliver ke arah sumbu pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd yang memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. b. Memperbaiki kerataan, berat dan panjang, campuran dengan perangkapan 1. Jari tangan tergores Pada saat memperbaiki kerataan, berat dan panjang, campuran dengan perangkapan pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena tergesek gigi-gigi mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat

113

pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 18 dengan kategori Acceptable. c. Menyalakan dan mematikan mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai

konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable.

114

c. Mengirim sliver ke mesin Simplex Frame 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim sliver ke mesin Simplex Frame dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. Tabel 5.16 Hasil analisis risiko pada tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd di departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Meluruskan, mensejejajarkan Risiko luka jari atau remuk terjepit 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 90 Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko

serat dalam sliver mesin ke pada Drawing arah sumbu Drawing mesin

115

Memperbaiki kerataan, dan

Jari

tangan

berat tergores panjang, serat/benang 1 (Noticeable) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 18

campuran dengan perangkapan Menyalakan dan mematikan mesin Tersengat listrik/ kesetrum Mengirim sliver Jari kaki

5 (important) 5 (important)

6 (Frequently) 6 (Frequently)

0.5 (Conceivable) 3 (Unusual)

15 90

ke mesin Simplex terlindas roli Frame

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010 5.4.7 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap simplex frame a. Peregangan lanjut di mesin simplex frame
1. Jari tangan terjepit mesin Simplex frame

Pada saat peregangan lanjut di mesin simplex frame, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Lap former yang memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori Remotely possible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko

116

yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 50 dengan kategori Priority 3. b. Memasang Shinomaki 1. Jari tangan tergores Pada saat Memasang Shinomaki, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki atau pundak/punggung luka/lebam tertimpa shinomki penuh yang beratnya bsa mencapai 10 kg, sehingga nilai nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan terjadinya, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori Remotely possible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 50 dengan kategori Priority 3. c. Memberikan antihan/twist 1. Jari tangan tergores Pada saat memberikan antihan/twist di mesin simplex frame, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benag twist yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk

117

dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3. d. Menggulung benang pada Bobbin tegak 1. Kaki tertimpa Bobbin Pada saat menggulung benang pada Bobbin tegak , risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam tertimapa Bobbin yang memiliki nilai konsekuensi 5 (important), karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori Remotely possible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 50 dengan kategori Priority 3. e. Memperbaiki Bobbin dan arah gulungan 1. Jari tangan tergores Pada saat memperbaiki Bobbin dan arah gulungan di mesin simplex frame, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benang yang sedang diluruskan, sehingga memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori

118

Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 30 dengan kategori Priority 3. f. Mengirim Bobbin ke mesin Ring spinning 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim Bobbin ke mesin Ring spinning dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial.

119

g. Menyalakan dan mematikan mesin Simplex Frame ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Simplex Frame ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko dengan kategori Acceptable. Tabel 5.17 Hasil analisis risiko pada tahap Simplex frame departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Peregangan Risiko Konsekuensi (C) dan 5 (important) Paparan (E) 10 (continuously) Kemungkinan (L) 1 (Remotely possible) Nilai Risik o 50

tergores

lanjut dan pada luka jari atau mesin Frame Simplex remuk terjepit mesin

Simplex Frame

120

Memasang Shinomaki

Kaki atau badan luka/lebam tertimpa shinomki penuh

5 (important)

10 (continuously)

1 Remotely posible

50

Memberikan antihan/twist

Jari tergores

tangan

1 (noticeable)

10 (Continously)

3 (Unusual)

30

benang/serat Menggulung benang Kaki Tertimpa/ pada kejatuhan Bobbin/ memar atau luka lebam Memperbaiki Jari tangan 5 (important) 10 (continuously) 1 Remotely posible 50

Bobbin tegak

Bobbin dan arah tergores atau gulungan lecet terkenan mesin gulung simplex frame Mengirim Bobbin ke mesin Ring Spinning Menyalakan dan mematikan mesin Tersengat listrik/ kesetrum 5 (important) 6 (Frequently) 0.5 (Conceivable) 15 Jari kaki remuk terlindas roli 5 (important) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 90 1 (Noticeable) 10 (continuously) 3 (Unusual) 30

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

121

5.4.8 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap Ring Spinning a. Peregangan lanjut di mesin Ring Spinning
1. Jari tangan terjepit mesin Ring Spinning

Pada saat peregangan lanjut di mesin Ring Spinning, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Ring Spinning yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 18 dengan kategori Acceptable. b. Menggulung benang pada Bobbin miring 1. Kaki tertimpa Bobbin Pada saat menggulung benang pada Bobbin miring pada mesin Ring Spinning, risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam tertimpa Bobbin yang memiliki nilai nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently,

122

sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable. c. Meratakan gulungan Bobbin miring 1. Jari tangan tergores Pada saat meratakan gulungan bobbin miring, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benang yang sedang diratakan, sehingga memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. d. Mengirim Bobbin ke mesin Winding 1. Kaki terlindas roli Pada saat mengirim Bobbin ke mesin Winding dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang

123

memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar jarak aman roli, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. e. Menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi,

124

paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 15 dengan kategori Acceptable. Tabel 5.18 Hasil analisis risiko pada tahap Ring spinning departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010
Uraian Pekerjaan Peregangan Risiko mesin 1 (Noticeable) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 18 Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko

dan Terjepit

antihan lanjut pada Ring Spinning / mesin Spinning Ring tergores luka remuk Menggulung benang Bobbin Kaki Tertimpa/ pada kejatuhan miring Bobbin/ memar dan

jari atau

5 (Important)

6 (Frequently)

0.5 (Conceivable)

15

pada mesin Ring atau luka lebam Spinning Menggulung Tergores 5 (Important) saat 6 (Frequently) 3 (Unusual) 90

Bobbin pada posisi tergesek miring menjaga kerataanya dan Bobbin melakukan penggulungan karena hati-hati Mengirim Bobbin Jari kaki remuk ke mesin Winding terlindas roli kurang

5 (Important)

6 (Frequently)

3 (Unusual)

90

Menyalakan

dan Tersengat listrik/ kesetrum

mematikan mesin

5 (Important)

10 (Continously)

0.5 (Conceivable)

25

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

125

5.4.9 Hasil Analisis Risiko Pada Tahap Winding a. Menggulung benang pada Cones di mesin Winding 1. Kaki kejatuhan Cones Pada saat Menggulung benang pada Cones di mesin Winding, risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam karena tertimpa Cones benang seberat 4 kg atau lebih yang memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 18 dengan kategori Acceptable. b. Memindahkan cones ke mesin heat setter 1. Kaki terlindas creell Pada saat memindahkan Cones ke mesin heat setter dengan menggunakan creell, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas creell yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat

126

kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar jarak aman roli, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. c. Proses penguapan dengan heat setter 1. Pada saat proses penguapan dengan heat setter, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah peledakan akibat tekanan uap atau kesalahan penutupan bejana penguapan, hal ini memiliki konsekuensi 50 (Disaster), karena pada risiko tersebut dapat menimbulkan kematian, kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut merupakan kejadian yang kemungknan terjadinya sangat kecil, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori remotely pssible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 300 dengan kategori very high. d. Menyalakan dan mematikan mesin Winding ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Pada saat menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh

127

penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dengan nilai paparan 10 dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga di beri nilai 0.5 dengan kategori Conceivable. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 25 dengan kategori Priority 3. e. Membongkar Cones dari mesin penguapan(Heat setter) 1. Pada saat membongkar Cones dari mesin penguapan(Heat setter), risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam karena tertimpa Cones benang seberat 4 kg atau lebih penguapan, peristiwa ini yang baru dikeluarkan dari mesin

memiliki nilai konsekuensi 1 dengan kategori

Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut merupakan kejadian yang kemungknan terjadinya sangat kecil, sehingga di beri nilai 1 dengan kategori remotely pssible. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 6 dengan kategori Acceptable.

128

f. Mengirim cones ke departemen Wieving 1. Pada saat mengirim cones ke departemen Wieving dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli yang memiliki nilai konsekuensi 5 dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar jarak aman roli, sehingga di beri nilai 3 dengan kategori unusual. Dari ketiga hal tersebut, maka dapat diketahui tingkat risiko yang diperoleh dengan mengalikan nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan, sehingga diperoleh nilai tingkat risiko 90 dengan kategori Substansial. Tabel 5.19 Hasil analisis risiko pada tahap Winding departemen spinning PT Unitex Tbk Tahun 2010
Uraian Pekerjaan Menggulung Risiko Kaki kejatuhan 1 (Noticeable) 6 (Frequently) 3 (Unusual) 18 Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko

benang pada Cones Cones/ memar di mesin Winding atau lebam Memindahkan cones ke Wajah atau luka

mesin badan terkena uap panas Peledakan

5 (Important)

6 (Frequently)

3 (Unusual)

90

heat setter Melakukan proses penguapan dengan heat setter

50 (Disaster)

6 (Frequently)

1 (Remotely possible)

300

129 Menyalakan dan Tersengat listrik/ kesetrum Membongkar Kaki kejatuhan 1 (noticeable) 6 (Frequently) 1 (Remotely possible) 6 5 (Important) 10 (Continously) 0.5 (Conceivable) 25

mematikan mesin

Cones dari mesin Cones/ memar penguapan atau lebam Mengirim cones ke Jari kaki remuk departemen wieving terlindas roli luka

5 (Important)

6 (Frequently)

3 (Unusual)

90

Sumber: Hasil Observasi dan Wawancara dengan Supervisor dan Operator Dept spinning PT. Unitex Tbk, 2010

5.5

EVALUASI RISIKO PADA SETIAP TAHAPAN PEKERJAAN PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX Tbk. Setelah dilakukan analisis risiko di departemen spinning mulai dari tahap Blowing,

Carding, Pre Drawing, Lap Former, Combing, Drawing 1st, 2nd, 3rd , Simplex Frame, Ring Spinning dan Winding. Tahapan selanjutnya adalah melakukan evaluasi risiko dari setiap

tahapan proses kerja di departemen spinning. Pada tahap ini, evaluasi risiko di tentukan oleh hasil estimasi ketiga komponen yaitu nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan. Maka tingkat risiko yang dihasilkan dari tiap risiko keselamatan memiliki nilai tingkat risiko yang berbedabeda satu sama lain, namun dengan kategori tingkat yang hampir sama dengan yang lainya. Evaluasi risiko dalam penelitian ini merujuk pada analisis semi kuantitatif AS/NZS 4360:1999.

130

5.5.1 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap Blowing Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Blowing kaki tertimpa gumpalan serat dan risiko tersengat listrik atau kesetrum, memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Selanjutnya risiko jari tangan terjepit dan memar memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk risiko jari kaki terlindas lori memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah memastikan gumpala serat dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, menjaga housekeeping lingkungan kerja, warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap Blowing secara rinci dapat dilihat pada table 5.20 Table 5.20 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Blowing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Risiko Nilai Tingkat Risiko Rekomendasi Risiko Membuka Jari kaki Memastikan gumpala serat gumpalan serat terluka / 18 Acceptable dalam posisi seimbang dan padat lebam tertimpa sesuai dengan kemampuan gumpalan Komunikasi antar pekerja serat membersihkan serat di mesin blowing Jari tangan terjepit/ jari memar 30 Priority 3 Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk aman

131

Komunikasi antar pekerja

Memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli Menyalakan dan mematikan mesin

Kaki luka/ terlindas roli

90

Substansial

Mengikuti lintasan roli pada saat menggunakan roli Menjaga posisi roli pada sat menggunakan roli Menjaga Housekeeping

lingkungan kerja Tersengat listrik/ kesetrum 15 Acceptable Warning sign adanya

bahaya listrik Safety Talk

5.5.2 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap Carding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Carding jari tangan tergores memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Selanjutnya risiko tersengat listrik/ kesetrum memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk luka jari tangan atau remuk terjepit mesin Carding dan Jari kaki luka /lebam tertimpa sliver memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja, melakukan safety talk

sebelum memulai pekerjaan, mengatur jarak aman dengan mesin yan sedang dalam posisi on, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, menjaga housekeeping lingkungan kerja, warning sign untuk menunjukkan adanya

132

bahaya listrik dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap Carding secara rinci dapat dilihat pada table 5.2

Table 5.21 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Carding Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Risiko Nilai Tingkat Risiko Rekomendasi Pekerjaan Risiko 90 Substansial Mengatur jarak aman Merangkap sliver luka jari atau dengan mesin remuk terjepit mesin Carding Memisahkan dan membersihkan serat Mengirim sliver ke mesin pre drawing Jari kaki luka /lebam tertimpa sliver 90 Substansial Jari tangan tergores 30 Acceptable Safety Talk Komunikasi antar pekerja Mengatur jarak aman dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves Memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan Menggunakan roli Komunikasi antar pekerja Menyalakan dan Tersengat 15 Priority 3 Warning sign adanya

mematikan mesin listrik/ kesetrum

bahaya listrik Safety Talk

5.5.3 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap pre drawing Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Pre drawing tersengat listrik/ kesetrum memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Selanjutnya risiko luka gores di jari tergesek silinder mesin Pre Drawing dan luka jari atau remuk terjepit mesin Pre Drawing

133

memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk jari kaki remuk terlindas roli memiliki tingkat risiko

substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, mengatur jarak aman dengan mesin yan sedang dalam posisi on, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja,warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap pre drawing secara rinci dapat dilihat pada table 5.22 Table 5.22 Hasil Evaluasi Risiko Tahap pre drawing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Mensejajarka n serat pada mesin Pre Drawing Merangkap sliver luka jari atau remuk Terjepit mesin Pre Drawing 50 Priority 3 Risiko luka gores di jari tergesek silinder mesin Pre Drawing Nilai Risiko 30 Tingkat Risiko Priority 3 Rekomendasi Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves Mengatur jarak aman dengan mesin Safety Talk Komunikasi antar pekerja Memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan aman

Mengirim sliver ke mesin lap

Jari kaki remuk terlindas roli 90

Substansial

134

former

Menggunakan roli Komunikasi antar pekerja

Menyalakan dan mematikan mesin

Tersengat listrik/ kesetrum

15

Acceptable

Warning

sign

adanya

bahaya listrik Safety Talk

5.5.4 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap lap former Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap lap former tersengat listrik/ kesetrum memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Selanjutnya risiko luka gores di jari tangan tergesek silinder mesin lap former dan luka jari tangan atau remuk terjepit mesin lap former memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk jari kaki remuk terlindas roli memiliki tingkat risiko

substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja, warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap lap former secara rinci dapat dilihat pada table 5.23

135

Table 5.23 Hasil Evaluasi Risiko Tahap lap former Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Peneyisiran sliver dari kotoran Risiko Luka jari atau remuk Terjepit mesin Lap Former Membuang serat pendek Luka gores tergesek gigi-gigi mesin lap former Mengirim sliver ke mesin combing Jari kaki remuk terlindas roli 90 Substansial 30 Priority 3 Nilai Risiko 50 Tingkat Risiko Priority 3 Rekomendasi Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Komunikasi antar pekerja Mengatur jarak aman dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves Memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan Menggunakan roli Komunikasi antar pekerja Menyalakan dan mematikan mesin Safety Talk Tersengat listrik/ kesetrum 15 Acceptable Warning sign adanya aman

bahaya listrik

5.5.5 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap combing Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Combing tersengat listrik/ kesetrum memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.kemudian luka jari tangan atau remuk terjepit mesin lap former memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Sedangkan untuk jari kaki remuk terlindas roli memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis.

136

Tindakan yang perlu dilakukan adalah warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik, mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap lap former secara rinci dapat dilihat pada table 5.24 Table 5.24 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Combing Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Risiko Nilai Tingkat Risiko Rekomendasi Pekerjaan Risiko meluruskan serat Luka jari atau 90 Substansial Mengatur jarak aman dengan mesin di mesin remuk terjepit Combing mesin Combing Komunikasi antar pekerja Mengirim sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd Jari kaki remuk terlindas roli 90 Substansial Memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan Menggunakan roli Komunikasi antar pekerja Menyalakan dan Tersengat 15 Acceptable Warning sign adanya Safety Talk

mematikan mesin listrik/ kesetrum

bahaya listrik Safety Talk

137

5.5.6 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap drawing 1st, 2nd, 3rd Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd Jari tangan

tergores serat/benang dan risiko tersengat listrik atau kesetrum memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Sedangkan untuk risiko jari kaki terlindas lori dan luka jari atau remuk terjepit mesin Drawing memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik, mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap Winding secara rinci dapat dilihat pada table 5.25 Table 5.25 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Risiko Nilai Tingkat Risiko Rekomendasi Risiko Meluruskan, luka jari Mengatur jarak aman dengan mesin mensejejajarkan atau remuk serat dalam sliver terjepit ke arah sumbu pada mesin mesin Drawing Drawing 90 Substansial Safety Talk Komunikasi antar pekerja

138

Memperbaiki

Jari tangan

kerataan, berat dan tergores panjang, campuran serat/benang dengan perangkapan Menyalakan dan mematikan mesin Tersengat listrik/ kesetrum Mengirim sliver ke Jari mesin Frame kaki 90 Substansial 15 Acceptable 18 Acceptable

Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves Warning sign

aman

adanya

bahaya listrik Safety Talk Memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan Menggunakan roli Komunikasi antar pekerja

Simplex terlindas roli

5.5.7 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap simplex frame Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap simplex frame risiko tersengat listrik atau kesetrum memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Kemudian jari tangan tergores benang/serat dan jari tangan tergores atau lecet terkenan mesin gulung simplex frame memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk risiko tergores dan luka jari atau remuk terjepit mesin Simplex Frame, kaki atau badan luka/lebam tertimpa shinomki penuh, Kaki Tertimpa/ kejatuhan Bobbin/ memar atau luka lebam dan Jari kaki remuk terlindas roli memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis.

139

Tindakan yang perlu dilakukan adalah warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik, mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan sliver dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja dan menggunakan APD (gloves) untuk melindungi tangan dari goresan serta menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap Winding secara rinci dapat dilihat pada table 5.26 Table 5.26 Hasil Evaluasi Risiko Tahap simplex frame Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Peregangan Risiko tergores dan Nilai Risiko 50 Tingkat Risiko Substansial Rekomendasi Mengatur jarak dengan mesin aman

lanjut dan pada luka jari atau mesin Frame Simplex remuk terjepit mesin Simplex Frame

Safety Talk

Menggunakan gloves Memasang Shinomaki Kaki badan luka/lebam tertimpa shinomki penuh Memberikan antihan/twist Jari tergores benang/serat tangan 30 Priority 3 Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves aman atau 50 Substansial Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Komunikasi antar pekerja aman

140

Menggulung benang

Kaki Tertimpa/ pada kejatuhan Bobbin/ memar luka lebam atau

50

Substansial

Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk

aman

Bobbin tegak

Komunikasi antar pekerja 30 Priority 3 Menjaga jarak aman dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves 90 Substansial Mengikuti lintasan roli pada saat menggunakan roli Menjaga posisi roli pada saat menggunakan roli Menjaga Housekeeping

Memperbaiki

Jari tangan

Bobbin dan arah tergores atau gulungan lecet terkenan mesin gulung simplex frame Mengirim Bobbin ke mesin Ring Spinning Jari kaki remuk terlindas roli

lingkungan kerja Menyalakan dan Tersengat 15 Acceptable Warning sign adanya

mematikan mesin listrik/ kesetrum

bahaya listrik

Safety Talk

5.5.8 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap ring spinning Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap simplex frame risiko terjepit mesin Ring Spinning / tergores, kaki Tertimpa/ kejatuhan Bobbin/ memar atau luka lebam memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Sedangkan tersengat listrik/ kesetrum memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan.

141

Kemudian untuk risiko tergores tergesek Bobbin saat melakukan penggulungan karena kurang hati-hati dan Jari kaki remuk terlindas roli memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik, mengatur jarak aman dengan mesin yang sedang dalam posisi on, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan roli pada saat menggunakan roli, memastikan Bobbin dalam posisi seimbang dan sesuai dengan kemampuan, komunikasi antar pekerja dan menggunakan APD (gloves) untuk melindungi tangan dari goresan serta menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Table 5.27 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Ring Spinning Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Risiko Pekerjaan Peregangan dan Terjepit mesin antihan lanjut Ring Spinning / Nilai Risiko 18 Tingkat Risiko Acceptable Rekomendasi Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Menggunakan gloves 15 Acceptable Mengatur jarak dengan mesin Safety Talk Komunikasi antar pekerja 90 Substansial Mengatur jarak dengan mesin aman aman aman

pada mesin Ring tergores dan luka Spinning jari atau remuk

Menggulung benang Bobbin

Kaki

Tertimpa/

pada kejatuhan Bobbin/ miring memar atau luka

pada mesin Ring lebam Spinning Menggulung Bobbin posisi Tergores tergesek saat

pada Bobbin miring melakukan

Safety Talk

142

dan

menjaga penggulungan karena hati-hati kurang Komunikasi antar pekerja 90 Substansial Mengikuti lintasan roli pada saat menggunakan roli Menjaga posisi roli pada sat menggunakan roli Menjaga Housekeeping

kerataanya

Mengirim Bobbin

Jari kaki remuk ke terlindas roli

mesin Winding

lingkungan kerja Menyalakan dan Tersengat mematikan mesin kesetrum listrik/ 25 Priority 3 Warning sign adanya

bahaya listrik Safety Talk

5.5.9 Hasil Evaluasi Risiko Pada Tahap winding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap Winding kaki kejatuhan Cones, luka memar atau luka lebam memiliki tingkat risiko Acceptable yang berarti intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Selanjutnya risiko tersengat listrik atau kesetrum memiliki tingkat risiko priority 3 yang memerlukan pengawasan dan perhatian secara berkesinambungan. Sedangkan untuk risiko jari kaki terlindas lori

memiliki tingkat risiko substansial yang berarti mengharuskan adanya perbaikan secara teknis. Kemudian untuk risiko peledakan pada proses penguapan memiliki tingkat risiko very high yang berarti iktifitas dihentikan sampai risiko bisa dikurangi hingga mencapai baas yang dibolehkan atau diterima. Tindakan yang perlu dilakukan adalah Memastikan Cones dalam posisi seimbang saat menggulung benang pada Cones, melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, Mengatur jarak aman dengan mesin yan sedang dalam posisi on, Menggunakan

143

pelindung wajah( face shield) untuk menghindari risiko pada wajah, maintenance secara teratur peralatan dan mesin, Bekerja sesuai S.O.P untuk menjaga proses kerja dalam keadaan aman. Hasil evaluasi risiko keselamatan kerja pada tahap Winding secara rinci dapat dilihat pada table 5.28 Table 5.28 Hasil Evaluasi Risiko Tahap Winding Pada Proses Spinning di Bagian Produksi PT. Unitex Tbk Tahun 2010 Uraian Pekerjaan Risiko Nilai Tingkat Rekomendasi Risiko Risiko Menggulung Kaki kejatuhan Memastikan Cones dalam 18 Acceptable posisi seimbang benang pada Cones Cones/ memar di mesin Winding Memindahkan atau luka lebam Wajah atau terkena 90 Substansial Safety Talk Mengatur jarak aman dengan mesin Safety Talk Menggunakan pelindung wajah( face shield) maintenance secara teratur Safety Talk Bekerja sesuai S.O.P dan Tersengat listrik/ kesetrum 25 Priority 3 Warning sign adanya bahaya listrik Safety Talk Membongkar Kaki kejatuhan memar 6 Acceptable Memastikan Cones dalam posisi seimbang Safety Talk 90 Substansial Mengikuti lintasan roli pada saat menggunakan roli Menjaga posisi roli pada sat menggunakan roli Housekeeping lingkungan

cones ke mesin heat badan setter Melakukan

uap panas proses Peledakan 150 Substansial

penguapan dengan heat setter Menyalakan

mematikan mesin

Cones dari mesin Cones/ penguapan

atau luka lebam

Mengirim cones ke Jari kaki remuk departemen wieving terlindas roli

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini, penulis melakukan observasi dan wawancara pada proses pemintalan di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk. Proses observasi yang dilakukan hanya dengan melakukan pengamatan terhadap setiap tahapan yang ada pada proses spinning. Identifikasi dan analisis yang dilakukan pada proses di departemen spinning bagian produksi PT Unitex Tbk hanya terbatas pada risiko keselamatan kerja saja, hal ini karena keterbatasan waktu penelitian.

6.2 Pembahasan Hasil Identifikasi Risiko Pada Setiap Tahapan Pekerjaan Proses Pemintalan/ Spinning di Departemen Spinning Bagian Produksi PT Unitex Tbk Hasil identifikasi risiko keselamatan di lakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada supervisor departemen, operator mesin di bagian pemintalan/spinning, P2K3 departemen spinning dan petugas klinik perusahaan(dokter perusahaan). Di dapatkan hasil bahwa tahapan proses kerja yang ada di departemen spinning adalah blowing, carding, pre drawing, lap former, combing, drawing 1st, 2nd, 3rd, simplex frame, ring spinning, winding. Dari risiko keselamatan yang telah di identifikasi, risiko keselamatan yang terdapat pada departemen spinning PT Unitex Tbk ini berdasarkan kelompok bahaya keselamatan (safety hazard) yang dibedakan menjadi:

144

145

1. Bahaya mekanik(mechanical hazard) yaitu, jari tangan terjepit mesin, jari tangan tergores benang, jari tangan terjepit atau jari memar terjepit silinder mesin, kaki terlindas roli, terjepit mesin ring spinning atau tergores dan luka jari atau remuk, jari tangan tergores atau lecet terkenan mesin gulung simplex frame, jari kaki luka atau lebam tertimpa sliver, jari kaki luka atau remuk terlindas roli, luka gores tergesek gigi-gigi mesin lap former, kaki atau badan luka atau lebam tertimpa shinomaki penuh, kaki tertimpa atau kejatuhan bobbin, kaki kejatuhan cones menjadi memar atau luka lebam, wajah atau badan terkena uap panas, peledakan, kaki kejatuhan cones atau memar atau luka lebam dan lain-lain. Bahaya - bahaya ini diakibatkan oleh benda-benda atau mesin serta proses yang bergerak. 2. Bahaya elektrik(electrical hazard) yaitu: terkena aliran listrik (kesetrum). Bahaya ini berasal dari arus listrik yang digunakan pada mesin pemintal.

6.3 Pembahasan Hasil Analisis Risiko Pada Setiap Tahapan Pekerjaan Proses Pemintalan/ Spinning di Departemen Spinning Bagian Produksi PT Unitex Tbk 6.3.1 Tahap blowing a. Membuka gumpalan serat padat 1. Tertimpa gumpalan serat padat Pada tahap awal membuka gumpalan serat, pekerja berisiko jari kakinya terluka atau lebam akibat tertimpa gumpalan serat padat yang memiliki berat kurang lebih 50 kg dari satu gulung berat serat tersebut. Namun, serat tersebut memiliki permukaan yang rata dan sedikit licin, sehingga jika gulungan tersebut menimpa pekerja maka hanya dapat meyebabkan luka lebam tanpa perdarahan. Oleh karena itu tahap ini termasuk dalam konsekuensi dengan kategori Noticeable, karena

146

pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan pada kegiatan ini termasuk dalam kategori Frequently karena hanya dilakukan sekali dalam sehari, karena dalam satu hari waktu produksi, penguraian dilakukan sekali sehari sesuai dengan target harian produksi. Sedangkan untuk kemungkinan terjadinya risiko ini, termasuk dalam kategori unusuall yaitu mungkin terjadi tapi jarang, hal tersebut karena pekerja yang sudah cukup terlatih untuk melakukan kegiatan penguraian dan mampu mengatur kapasitas berat gumpalan serat yang akan diurai , dan jika hal tersebut masih terjadi umumnya disebabkan karena kelalaian pekerja atau tidak konsentrasi. Dari ketiga analisis tersebut, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tidak timbul atau terjadi lagi. Dari pembahasan diatas, faktor yang mempengaruhi terjadinya risiko adalah handling material kapas dan penyimpanannya yang mungkin kurang tepat, apalagi bentuk material yang licin dan cukup berat. Menurut Mangkunegara (2002), bahwa indikator penyebab keselamatan kerja adalah Keadaan tempat lingkungan kerja, yang meliputi: Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang diperhitungkan keamanannya, ruang kerja yang terlalu padat dan sesak dan pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya. Meskipun hanya dilakukan sekali dalam sehari, namun hal tersebut akan menimbulkan dampak serius jika perkerja telah melakukan pekerjaan tersebut bertahun-tahun

147

b. Membersihkan serat di mesin blowing 1. Jari tangan terjepit mesin blowing Pada tahap kedua proses blowing, yaitu pada saat membersihkan serat di mesin blowing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan terjepit atau jari memar akibat terjepit antara roller pencampur di mesin blowing yang sedang berputar paralel, sehingga risiko ini termasuk dalam kategori konsekuensi Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan dari risiko tersebut terjadi secara terus - menerus setiap hari sehingga termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, risiko tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mengikuti standar kerja atau SOP yang ditetapkan setiap proses kerja yang sedang dikerjakanya, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dari ketiga analisis tersebut, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategory Priority 3, yaitu risiko atau penyebabnya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko atau hal-hal yang menyebabkan risiko tersebut bisa terjadi dapat di kendalikan sesuai dengan prosedur kerja dan standar keamanan bagi pekerjanya.
Menurut Suardi (2005), dalam melakukan langkah-langkah untuk mengatasi risiko saat membersihkan serat di mesin blowing, dibutuhkan suatu skala prioritas yang dapat membantu dalam pemilihan pengendalian salah satu pengendalian yang mungkin dapat di lakukan diantaranya adalah pengendalian administrasi, dalam tahap ini menggunakan prosedur, standar operasi kerja, atau panduan sebagai langkah untuk mengurangi risiko. Akan tetapi banyak kasus yang ada, pengendalian administrasi tetap membutuhkan sarana pengendalian risiko lainnya. Oleh karena itu, dari tingkat risiko

148 dalam tahap ini penerapan prosedur kerja dan stansar kerja yang tergolong dalam pengendalian administratif dinilai mampu menanggulangi risiko dalam tahap ini.

c. Memindahkan serat kapas yang telah digulung/sliver ke mesin carding 1. Kaki terlindas roli Pada proses ketiga dalam tahap Blowing, yaitu pada saat memindahkan serat kapas yang telah digulung menjadi bentuk sliver ke mesin carding dengan menggunakan roli dengan maksimal kapasitas 250 kg, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli yang

digolongkan dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan, namun harus tetap diperhatikan karena jika keterpaparanya terus meningkat dari waktu ke waktu, hal itu bisa menjadi masalah serius atau bahkan bisa meningkat ke kategori yang lebih serius. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi sekali dalam sehari sehingga termasuk dalam kategori Frequently, hal tersebut terjadi karena sliver yang dihasilkan perharinya di sesuaikan dengan kapasitas produksi dalam satu hari. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mengikuti standar kerja yang aman atau komunikasi dengan pekerja lain kurang optimal, sehingga kegiatan pemindahan sliver hanya dilakukan sendiri yang kemudian berdampak pada ketidakmampuan dalam melakukan pekerjaan secara baik dan benar. Dalam hal ini, risiko tersebut termasuk dalam kategori unusual. Dari ketiga analisis tersebut, maka tingkat risikonya yang mungkin terjadi dalam proses ini tergolong dalam kategori Substansial yaitu mengharuskan

149

adanya perbaikan secara teknis untuk mengurangi potensi terjadinya risiko yang bisa menyebabkan kerugian baik bagi perusahaan dan pekerja pada khususnya. Selain itu, peningkatan komunikasi antar pekerja sehingga tercipta hubungan kerja yang baik memungkinkan untuk menciptakan suasana kerja yang produktif sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko kejadian kecelakaan

dimana pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan pekerja lain atau bekerja dalam tim, terutama pekerjaan memindahkan sliver yang relatif cukup berat. Menurut Agustina(2009) hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana kerja akan menentukan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja di setiap jenis pekerjaan. d. Menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses ke empat dalam tahap blowing ini adalah pada saat menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik/ kesetrum karena tangan basah oleh keringan/air yang masuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan, hal itu terjadi karena aliran listrik yang digunakan untuk mesin ini cukup besar. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently , dimana mesin akan dinyalakan pada saat pekerjaan dimulai, yaitu pukul 08.00 pagi dan dimatikan pada shift terakhir sesuai dengan jadwal shift setiap operator mesin. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal

tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin

150

saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga termasuk dalam kategori Conceivable. Maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori Acceptable intensitas yang menimbulkan risiko tersebut dikurangi seminimal mungkin, apalagi jika pekerja aware dan care terhadap kondisi lingkungan dan fisiknya sendiri, sehinga hal tersebut dapat dihindari. Dari pembahasan di atas, risiko yang mungkin dan berpotensi terjadi pada keempat tahap dalam proses blowing yang pertama adalah jari kaki terluka atau lebam karena kelalaian pekerja dan tidak konsentrasi. Menurut menurut Lucas & Wilson (1989) tidak konsentrasi dan lalai dalam bekerja merupakan gejala dari stress kerja yang tergolong dalam gejala intelektual diantaranya susah konsentrasi, sulit membuat keputusan, mudah lupa, pikiran kacau, daya ingat menurun, melamun, produktivitas atau prestasi kerja menurun, dan mutu kerja rendah. Oleh karena itu, tidak adanya konsentrasi kerja dapat memicu terjadinya risiko yang berakibat pada kejadian kecelakaan kerja di tempat kerja yang berdampak pada produktifitas kerja itu sendiri. Risiko yang berpotensi terjadi pada tahap blowing yaitu jari tangan terjepit atau jari memar akibat terjepit antara roller , hal itu bisa terjadi jika pekerja tidak mengikuti standar kerja (SOP) yang ada karena merasa sudah biasa melakukan sehingga dapat meningkatkan potensi terjadinya risiko dalam proses tersebut. Tidak mengikuti SOP ini umumnya juga terjadi pada saat memindahkan sliver. Menurut Miner(1994) hal tersebut tergolong dalam unsafe behavior dimana hal tersebut merupakan tipe prilaku yang mengarah pada kecelakaan. Demikian pula dengan hasil wawancara dengan pekerja pada tahap blowing umumnya pekerja

151

berpendapat bahwa ia sudah merasa ahli dan terbiasa melakukan pekerjaan tersebut dan belum pernah mengalami kecelakaan. Pekerja berpendapat bahwa selama ini bekerja dengan caranya sendiri(unsafe) tidak terjadi apa-apa, mengapa harus berubah. Pertanyaan tersebut mungkin benar namun tentu saja hal ini merupakan potensi besar untuk terjadinya kecelakaan kerja. Peningkatan disiplin dan komunikasi kerja di rasa cocok untuk mengendalikan hal tersebut di atas supaya dapat mengurangi potensi risiko yang ada diproses blowing dengan kedua masalah yang dominan tersebut. 6.3.2 Tahap Carding a. Merangkap sliver 1. Jari tangan terjepit mesin Carding Proses pertama pada tahap Carding yaitu pada saat merangkap sliver di mesin Carding, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Carding dengan konsekuensi important, karena pada saat membetulkan kerataan serat yang akan di bentuk sliver menggunakan tangan tanpa pelindung dan mesin masih berjalan, jadi jika risiko tersebut terjadi membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari karena umumnya memeperbaiki kerataan benang tersebut dilakukan ketika sliver baru masuk ke dalam mesin, dan dalam proses ini sliver hanya sekali diganti, dengan demikian maka tingkat pemaparanya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, tingkat risiko dalam tahap

152

ini termasuk dalam kategori Substansial yaitu mengharuskan adanya perbaikan secara teknis untuk mengendalikan potensi terjadinya risiko yang lebih tinggi.
Potensi risiko pertama yang muncul pada saat merangkap sliver di proses carding adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin carding karena saat menggunakan tangan tanpa pelindung. Menurut Miner(1994) hal ini termasuk dalam unsafe behavior dimana pekerja melakukan pekerjaan namun dengan menyingkirkan alat-alat keselamatan yang pada proses ini memerlukan sarung tangan atau gloves untuk mencegah timbulnya risiko terjepit.

b. Memisahkan dan membersihkan serat 1. Jari tangan tergores Proses kedua pada tahap Carding adalah pada proses memisahkan dan

membersihkan serat di mesin Carding, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena gesekan silinder mesin Carding, karena biasanya saat menarik serat pendek yang tersangkut, mesin Carding tidak dimatikan, jika pekerja tidak konsentrasi atau hati-hati jari tangan bisa tergesek putaran silinder ,sehingga konsekuensi dalam proses ini termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko dari proses tersebut hanya terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat karena silindernya berukuran kecil dengan diameter kurang lebih 5 sampai 10 cm. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi secara terus menerus setiap hari, karena selama sliver belum habis pekerjaan pemisahan ini dilakukan terus menerus sampai sliver habis, dengan demikian paparan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar

153

kerja yang ada, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dari analisa tersebut maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 yaitu perlunya pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut dapat dikendalikan dan di cegah sedemikian mungkin agar tidak terjadi.
Dalam proses kerja ini, risiko yang berpotensi terjadi disebabkan karena kondisi pekerja yag berkerja pada mesin yang berpitar sentral dan tidak dapat dimatikan ketika ada proses perbaikan serat, namun juga tidak memakai alat pelindung saat bekerja. Menurut Miner(1994) hal ini termasuk dalam unsafe behavior dimana pekerja

melakukan pekerjaan namun dengan menyingkirkan alat-alat keselamatan yang pada proses ini memerlukan sarung tangan atau gloves untuk mencegah timbulnya risiko terjepit.

c. Mengirim sliver ke mesin pre drawing 1. Kaki terlindas roli Proses ketiga dalam tahap Carding adalah mengirim sliver ke mesin pre drawing dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka/remuk terlindas roli dengan kapasitas maksimum 250 kg, yang

memiliki konsekuensi dengan kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan, hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya komunikasi antar pekerja sehingga pemindahan sliver dengan roli yang cukup berat dilakukan sendiri. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi sekali dalam sehari, karena pemindahan sliver hanya dilakukan sekali dalam sehari, maka proses tersebut termasuk dalam kategori Frequently. Untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan menjalin komunikasi yang baik

154

dengan pekerja lain serta memantuhi standar kerja, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, tingkat risiko dalam proses tersebut

termasuk dalam kategori Substansial yaitu mengharuskan adanya perbaikan secara teknis untuk mengatur penggunaan roli baik mengatur jarak aman atau memperbaiki jalur kuning khusus untuk lintasan roli. Pada tahap ini. Pada proses ini, potensi risiko yang muncul sama dengan pada tahap sebelumnya ketika proses pengangkutan dengan rol, seperti yang terdapat pada tahap Blowing yang disebabkan karena kurangnya komunikasi antar pekerja untuk melaksanakan suatu pekerjaan. d. Menyalakan dan mematikan mesin ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya dalam tahap Carding adalah saat menyalakan dan mematikan mesin Carding ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah terkena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air yang konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya akibat terkena aliran listrik yang memiliki voltase cukup tinggi. Tingkat pemaparan

terjadi sekali dalam sehari yaitu pada saat mesin dinyalakan ketika pekerjaan akan dimulai dan mematikan mesin ketika pekerjaan berakhir sesuai dengan shift masing-masing pekerja, sehingga hal tersebut termasuk dalam kategori Frequently. Untuk tingkat kemungkinannya, pekerjaan pada proses ini

(mematikan dan menyalakan mesin Carding) tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi

155

peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikin, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak akan pernah terjadi pada pekerja. Dari urutan pembahasan di atas, potensi risiko pertama yang muncul pada saat merangkap sliver di proses carding adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin carding karena saat menggunakan tangan tanpa pelindung. Hal ini tentunya dapat menimbulkan masalah terhadap keselamatan pekerja itu sendiri yang berakibat pada kegagalan proses kerja. Di tambah dengan hasil wawancara dengan pekerja pada proses ini, masalah yang dapat menimbulkan ririko adalah pekerja merasa tidak perlu menggunakan alat keselamatan karena hanya memperlambat proses kerja mereka, tapi pekerja mau memakai ketika pekerjaanya sudah berjalan normal. Sedangkan menurut manual dalam accident prevention for shop teacher (1993) sebaiknya ketika melakukan pekerjaan seperti pembersihan mesin carding atau pekerjaan apapun yang bersentuhan dengan baja atau logam, pekerja harus menggunakan sarung tangan panjang sampai siku yang terbuat dari kulit untuk melindungi tangan dari lembaran-lembaran logam atau baja yang tajam dan runcing.

Pengendalian ini di rasa cukup efektif untuk mencegah munculnya potensi risiko terjepit atau luka pada saat mengerjakan proses carding. Tahap selanjutnya, potensi risiko yang bisa terjadi lebih di akibatkan karena pekerja tidak konsentrasi dan kurangnya komunikasi antar pekerja, dimana komunikasi yang jelas dengan melibatkan pemberian dan penerimaan informasi

156

juga membutuhkan konsentrasi yang tinggi sehingga komunikasi dan interaksi antara pekerja berjalan baik dan memungkinkan komunikasi yang terbuka tentang keselamatan dan masalah-masalah lain yang terkait dengan pekerjaan. Jadi kedua hal tersebut berkaitan satu sama lainya, jika salah satu atau kedua hal tersebut tidak berjalan dengan baik, tentunya proses kerja yang di lakukan oleh si pekerja juga tidak berjalan mulus atau dalam arti dapat menimbulkan salah komunikasi yang memicu timbulnya risiko kerja karena kesalahan dalam komunikasi antara pekerja satu dengan lainya. Selain itu, pada tahap akhir proses ini terdapat potensi risiko kesetrum atau terkena aliran listrik. Meskipun kemungkinan untuk terjadinya risiko ini sangat kecil, hal ini tetap harus di perhatikan agar proses kerja dapat berjalan dengan aman. Untuk menanggulangi risiko ini, pekerja dapat menggunakan sarung tangan karet dan di sesuaikan dengan voltase yang di gunakan pada mesin yang akan di operasikan. 6.3.3 Tahap pre drawing a. Mensejajarkan serat pada mesin Pre Drawing 1. Jari tangan tergores Proses pertama pada tahap pre drawing adalah mensejajarkan serat pada mesin pre drawing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena gesekan silinder mesin pre drawing dimana ketika pekerja mensejajarkan serat kurang memperhatikan jarak aman dengan mesin, sehingaa konsekuensinya termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang

157

sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi secara terus - menerus setiap hari sepanjang proses pre drawing ini berlangsung, oleh karena itu termasuk dalam kategori continuously. Tingkat

kemungkinan pada proses ini,risikonya mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada dan kurang hati-hati dalam bekerja, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 yaitu perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan agar potensi risiko tersebut bisa dikendalikan. Pada proses ini, potensi yang berisiko muncul lebih disebabkan karena cara pengendalian yang belum sesuai yaitu cara pengendalian dengan memakai lat keselamatan berupa gloves seperti yang di bahas dalam tahap Carding. b. Merangkap sliver 1. Jari tangan terjepit mesin pre drawing Proses kedua dari tahap pre drawing ini adalah merangkap sliver di mesin pre drawing, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin pre drawing dimana empat sampai delapan sliver digabung dalam satu proses dan satu mesin, sehingga pekerja harus bergantian merangkap sliver agar tidak putus, konsekuensi dari proses ini adalah important, karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Pemaparan pada proses ini terjadi secara terus - menerus setiap hari sehingga tingkat paparan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, karena pekerja sudah terlatih

158

sebelum penempatan kerja dan bekerja secara hati-hati sehingga kemungkinnya termasuk dalam kategori Remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori kategori Priority 3 yaitu perlu adanya

pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar potensi terjadinya risiko tersebut tidak terjadi diproses ini.
Potensi risiko yang muncul pada saat merangkap sliver di proses pre drawing adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin pre drawing karena saat menggunakan tangan tanpa pelindung. Menurut Miner(1994) hal ini termasuk dalam unsafe behavior dimana pekerja melakukan pekerjaan namun dengan menyingkirkan alat-alat keselamatan yang pada proses ini memerlukan sarung tangan atau gloves untuk mencegah timbulnya risiko terjepit.

c. Mengirim sliver ke mesin Lap former 1. Kaki terlindas roli Proses ke tiga dari tahap ini adalah saat mengirim sliver ke mesin Lap former dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli dengan maksimal kapasitas 250 kg,

peristiwa tersebut mungkin terjadi jika pekerja tidak menjalin komunikasi yang baik antar pekerja untuk mengoperasikan roli yang dapat berakibat pada

ketidakmampuan dalam mengerjakan proses pemindahan sliver dengan roli, roli terlalu berat sehingga pekerja sulit mengendalikan dengan baik, konsekuensi dari proses ini termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan pada proses ini terjadi sekali dalam sehari, sehingga paparannya termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya,

159

risiko tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, komunikasi dengan pekerja lain kurang baik sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual.dengan demikian, maka tingkat risiko dari proses ini termasuk dalam kategori Substansial yaitu perlu pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak terjadi. Pada tahap ini, risiko yang muncul penyebabnya sama dengan kasus sebelumnya yaitu kurangnya komunikasi dalam melakukan suatu pekerjaan, seperti yang dibahas pada potensi risiko yang terjadi pada tahap Carding. d. Menyalakan dan mematikan mesin pre drawing ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya pada tahap pre drawing adalah saat menyalakan dan mematikan mesin pre drawing ketika produksi berlangsung, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik dengan voltase cukup tinggi atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat/air , konsekuensi proses ini termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan

risiko ini terjadi sekali dalam sehari yaitu pada saat menyalakan mesin ketika memulai pekerjaan dan mematikan mesin ketika pekerjaan selesai, sehingga paparanya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga termasuk kategori Conceivable. Dengan

160

demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut dapat di cegah dan tidak terjadi pada proses ini. Dari pembahasan urutan proses pre drawing di atas, risiko dominan selain masalah komunikasi kerja dan pekerjaan yang bersentuhan dengan aliran listrik yang telah di bahas pada proses sebelum pre drawing adalah yang potensi

terjadinya luka pada jari tangan/tergores karena gesekan. Dimana ketika bekerja, pekerja kurang memperhatikan jarak aman. Tidak di aturnya jarak aman saat bekerja bisa muncul karena pekerja tidak mengikuti cara kerja yang di tetapkan atau peralatan yang kurang sesuai dengan si pekerjanya, hal ini tergolong dalam unsafe act. Dari hasil wawancara di ketahui bahwa menurut pekerja, mereka telah bekerja pada jarak aman dan jarak nyaman. Pekerja berpendapat bahwa jika jaraknya nyaman, pasti bisa aman. Menurut Oshman(1995) unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah di tetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa pekerja yang kurang memperhatikan jarak aman dapat di golongkan ke dalam tindakan unsafe act yang berpotensi terhadap terjadinya risiko kecelakaan kerja yang berdampak pada kerugian baik pekerja maupun perusahaan.

161

6.3.4 Tahap Lap former a. Penyisiran sliver dari kotoran di mesin lap Former 1. Jari tangan terjepit mesin Lap former Proses pertama dari tahap ini adalah saat peneyisiran sliver dari kotoran di mesin lap former, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Lap former yang konsekuensinya tergolong pada kategori important, karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari karena selama sliver belum di pindahkan ke tahap lain proses tersebut akan terus berlangsung, sehingga paparannya termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, sehingga termasuk dalam kategori Remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 yaitu perlu

pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak terjadi pada proses ini. b. Membuang serat pendek 1. Jari tangan tergores Proses ke dua pada tahap Lap former adalah saat mensejajarkan serat pada mesin Lap former, potensi terjadinya risiko pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena luka gores tergesek gigi-gigi mesin lap former sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan risiko ini terjadi secara terus

162

- menerus setiap hari selama proses produksi ini berlangsung dan sesuai dengan target produksi harian, sehingga paparannya termasuk dalam kategori

continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja yang ada dan tidak memakai gloves, sehingga paparanya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 yaitu perlu pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak berpotensi untuk terjadi sehingga pekerja dan pekerjaanya berlangsung pada proses yang aman. c. Mengirim sliver ke mesin Combing 1. Kaki terlindas roli Proses ketiga dari tahap lap former adalah pada saat mengirim sliver ke mesin Combing dengan menggunakan roli dengan maksimal kapasitas 250 kg, potensi terjadinya risiko pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli akibat tidak dapat mengendalikan roli pada saat memindahkan sliver sehingga terjadi ketidakseimbangan posisi roli sehingga melindas kaki, risiko ini termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari karena

pengiriman sliver ke mesin combing dilakukan sekali dalam sehari, sehingga paparannya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja yang ada dan kurang berkomunikasi dengan pekerja lain, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya

163

termasuk dalam kategori Substansial perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak berpotensi untuk terjadi. d. Menyalakan dan mematikan mesin lap former ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya pada tahap lap former adalah pada saat menyalakan dan mematikan mesin Lap former ketika beroperasi, potensi terjadinya risiko pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air dan mesin yang beoperasi memiliki voltase yang cukup tinggi sehingga konsekuensi termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari sehingga termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja yang ada, sehingga paparannya termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable intensitas yang

menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak akan terjadi di proses ini dan pekerja dapat bekerja dalam kondisi yang aman. Dari urutan pembahasan pada tahap lap former, potensi risiko yang paling dominan adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin lap former dan jari tangan tergores tergesek gigi-gigi mesin, hal tersebut berpotensi terjadi jika

pekerja kurang konsentrasi dalam bekerja atau menganggap pekerjaan tersebut sudah sering di lakukan dan tidak terjadi apa-apa, sehingga menggampangkan

164

pekerjaan tersebut.

Padahal, semakin pekerja tidak memperhatikan detil

pekerjaanya, semakin besar potensi timbulnya risiko pada proses kerja tersebut karna pekerja dapat menyimpang dari prosedur kerja yang ada dan bekerja dengan caranya sendiri. Perilaku ini termasuk dalam unsafe behavior dimana masalah ini dapat di kendalikan dengan menghilangkan bahaya di tempat kerja dengan merekayasa faktor bahaya atau mengenalkan kontrol fisik. Cara ini di lakukan untuk mengurangi potensi terjadinya unsafe behavior, namun tidak selalu berhasil karena pekerja mempunyai kapasitas untuk berprilaku unsafe dan mengatasi kontrol yang ada. Masalah yang kedua adalah risiko yang berpotensi ketika pekerja melakukan pekerjaan dengan menggunakan roli, yang di sebabkan kurangnya komunikasi antar pekerja dalam pengoperasian roli yang memiliki berat kurang lebih 250 kg. Cohen dalam Bird(2003) mengatakan bahwa faktor-faktor penting dalam keselamatan yang berhasil yaitu bukti komitmen manajemen yang kuat terhadap keselamatan dan kontak-kontak yang sering terjadi antar pekerja, penyelia dan anggota-anggota manajemen terhadap masalah keselamatan. Jadi, komunikasi aktif antar pekerja dalam suatu proses kerja dapat membantu menanggulangi masalah keselamatan yang ada dalam proses kerja ini sehingga potensi timbulnya risiko juga dapat di hindari dalam suatu proses kerja.

165

6.3.5 Tahap combing a. Meluruskan serat di mesin Combing 1. Jari tangan terjepit mesin Combing Proses pertama dalam tahap Combing adalah pada saat meluruskan serat di mesin Combing, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Combing karena pada saat pekerja memperbaiki arah serat dengan menggunakan tangan, mesin masih dalam kondisi on dan produksi sedang berlangsung, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, oleh karena itu, risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja yang ada dan tidak berhati-hati dalam bekerja, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Substansial perlu pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar proses kerja tersebut belangsung aman. b. Mengirim sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd 1. Kaki terlindas roli Proses ke dua pada tahap Combing adalah saat mengirim sliver ke mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli karena ketidakseimbangan

pengoperasian roli atau kelebihan berat sehingga roli tidak stabil dan melindas kaki pekerja, risiko tersebut konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan

166

efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat

pemaparannya terjadi sekali dalam

sehari karena dalam waktu sehari sliver dipindahkan sekali dari mesin combing ke Drawing 1st, 2nd, 3rd, sehingga paparannya termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan kurang komunikasi dengan pekerja lain, sehingga kemungkinanya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Substansial perlu pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak berpotensi terjadi diproses ini dan pekerjaan dapat belangsung dengan aman. c. Menyalakan dan mematikan mesin Combing ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses ke tiga pada tahap Combing adalah saat menyalakan dan mematikan mesin Combing ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air dan mesin Combing yang sedang beroperasi menggunakan voltase yang cukup tinggi,sehingga konsekuensi risiko ini termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparannya terjadi sekali dalam sehari yaitu pada saat proses kerja akan dimulai dengan memyalakan mesin dan proses kerja berahir dan mematikan mesin, sehingga paparannya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika

pekerja tidak mematuhi standar kerja, sehingga kemungkinannya termasuk dalam

167

kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak berpotensi terjadi pada pekerja. Dari urutan pembahasan tentang potensi risiko yang ada pada proses combing, masalah yang dominan adalah risiko terjepit karena pada saat bekerja mesin masih dalam posisi on. Menurut Miner(1994) peristiwa ini termasuk dalam unsafe behavior dimana pekerja melakukan operasi pekerjaan pada kecepatan berbahaya, karena mesin masih menyala atau on. Dari pendapat di atas, dapat di ketahu bahwa pekerjaan yang dilakukan pada saat mesin masih menyala sangat berisiko untuk terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, unsafe behavior yang ada pada pekerja harus di rubah agar pekerja mau memperhatikan keselamatan dirinya, salah satu caranya dapat dapat dilakukan dengan safety training. Namun demikian, cara ini juga tidak sepenuhnya bisa berhasil karena perubahan sikap tidak selalu di ikuti dengan perubahan prilaku. Sikap sering merupakan apa yang seharusnya dilakukan bukan apa yang sebenarnya di lakukan. Risiko yang kedua adalah risiko terlindas roli karena ketidakseimbangan beban dan kelebihan beban yang di bawa dalam roli, umumnya hal ini dilakukan karena pekerja merasa mampu melakukan pekerjaan tersebut dan untuk menghemat waktu sehinga pekerja sering mengabaikan keselamatan diri. Dari hasil wawancara, pekerja berpendapat bahwa semakin banyak yang di angkut, maka semakin cepat pekerjaan tersebut dapat terselesaikan. Namun ternyata, hal ini termasuk dalam kondisi unsafe act, dimana menurut Silalahi(1995) unsafe act merupakan perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan

168

kecelakaan. Untuk menanggulangi masalah ini, dapat di berikan reward dan punishment agar pekerja lebih memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Sedangakan untuk risiko terkena aliran listrik, sangat kecil

kemungkinannya untuk terjadi. Sehingga, hal ini tidak menjadi masalah dominan dan dapat di kendalikan dengan peningkatan disiplin APD untuk meminimalisasi kontak dengan risiko. 6.3.6 Tahap drawing 1st, 2nd, 3rd a. meluruskan, mensejejajarkan serat dalam sliver ke arah sumbu pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd 1. Jari tangan terjepit mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd Proses pertama pada tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd adalah saat meluruskan, mensejejajarkan serat dalam sliver ke arah sumbu pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd karena saat mensejajarkan serat, silinder yang berada di atas sliver akan terus berputar, sehingga konsekuensi risiko tersebut termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari sehinga tingkat paparanya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman dengan mesin bergerak, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Substansial dimana pada tingkat risiko

169

tersebut mengharuskan adanya perbaikan secara teknis untuk mencegah risisko tersebut benar-benar terjadi. b. Memperbaiki kerataan, berat dan panjang, campuran dengan perangkapan 1. Jari tangan tergores Proses ke dua pata tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd adalah saat memperbaiki kerataan, berat dan panjang, campuran dengan perangkapan pada mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores karena tergesek gigi-gigi mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd yang konsekuensinya termasauk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat, hal tersebut bisa terjadi karena pada saat memperbaiki kerataan dan panjang, gigi-gigi mesin drawing berputar sangat cepat dan jika mengenai tangan atau jari akan meyebabkan goresan atau luka. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dengan nilai paparan 6 dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya berada dalam kategori Acceptable intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak berpotensi untuk terjadi.

170

c. Menyalakan dan mematikan mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya dari tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd adalah pada saat menyalakan dan mematikan mesin Drawing 1st, 2nd, 3rd ketika beroperasi, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air serta listrik yang digunakan pada mesin

menggunakan voltase yang cukup tinggi, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan

terjadi sekali dalam sehari, sehingga termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja, sehingga termasuk dalam kategori Conceivable.dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable dimana intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar potensi terjadinya risiko tersebut tidak muncul atau terjadi. c. Mengirim sliver ke mesin Simplex Frame 1. Kaki terlindas roli Proses ke tiga dalam tahap Drawing 1st, 2nd, 3rd adalah saat mengirim sliver ke mesin Simplex Frame dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli, hal tersebut bisa terjadi karena kelebihan beban pada lori dan pekerja tidak mampu mengendalikan laju dan arah roli, akhirnya melindas kaki pekerja, konsekuensi dari risiko ini

171

termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat risiko ini pemaparan terjadi sekali dalam sehari sehingga paparanya termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan menjalin komunikasi yang baik dengan pekerja lain, sehingga kemungkinanya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risiko pada proses ini termasuk dalam kategori Substansial dimana mengharuskan adanya perbaikan secara teknis untuk mengendalikan potensi risiko tersebut agar tidak terjadi lagi pada pekerja maupun proses kerjanya. Potensi risiko di pada proses drawing1st, 2nd, 3rd terutama pada saat

menggunakan roli dan meluruskan serat lebih dominan di sebabkan karena pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman dengan mesin bergerak. Hal ini merupakan tindakan yang tergolong unsafe behavior karena melakukan pekerjaan tanpa ijin atau tidak memenuhi ijin kerja. Dari hasil wawancara dengan pekerja pada proses drawing, mereka telah bekerja sesuai dengan standar proses kerja, kalaupun ada sesuatu yang menyebabkan timbulnya risiko atau kecelakaan lebih karena lelah dan butuh istirahat sejenak. Menurut Zuizer dalam Indrawan (2009) peningkatan peraturan

keselamatan, safety training, penegakan disiplin dan lain-lain di rasa cukup untuk mendisiplinkan standar kerja yang harus di laksanakan. Sehingga perlu adanya peningkatan kedisiplinan yang terus-menerus terhadap penerapan standar kerja di bagian tersebut agar pekerja tidak kembali ke kebiasaan semula.

172

6.3.7 Tahap simplex frame a. Peregangan lanjut di mesin simplex frame 1. Jari tangan terjepit mesin Simplex frame Proses pertama dari tahap Simplex frame adalah pada saat peregangan lanjut di mesin simplex frame, potensi terjadinya risiko pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Simplex frame , karena pada saat peregangan lanjut pekerja melakukanya dalam kondisi mesin menyala dengan tangan kiri memegang handle mesin dan tangan kanan memegang spatula, padahal jarak handle dengan silinder berjarak sekitar 8 cm, jika pekerja tidak berhati-hati maka risiko tersebut bisa saja terjadi,oleh karena itu konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari karena sepanjang proses produksi berlangsung maka pekerjaan peregangan ini juga terus berlangsung, sehingga paparnnya termasuk dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya, sehingga termasuk dalam kategori Remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 perlu adanya pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak berpotensi terjadi. Dari pembahasan di atas, risiko yang berpotensi untuk terjadi pada tahap ini di sebabkan karena pekerja melakukan pekerjaan pasa mesin yang sedang berjalan pada kecepatan tinggi. Karena merasa terbiasa melakukan dan telah ahli

173

dalam melakukan pekerjaan ini, pekerja lebih suka bekerja dengan caranya sendiri padahal hal ini bisa menimbulkan kejadian yang tidak di inginkan atau celaka. b. Memasang Shinomaki 1. Jari tangan tergores Proses ke dua pada tahap Simplex frame adalah saat memasang Shinomaki, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki atau pundak atau punggung luka dan lebam tertimpa shinomki penuh , karena shinomaki berada di ketinggian 180 cm dari permukaan lantai dengan berat shinomaki kurang lebih 5-8 kg jika penuh, jika pemasaganya tidak tepat maka shinomaki dapat jatuh dan menimpa pekerja,oleh karena itu konsekuensinya termasuk dalam kategori important,

karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari sehingga paparanya termasuk dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinan terjadinya, sehingga termasuk dalam kategori Remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 perlu pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut tidak berpotensi terjadi dip roses ini. Pada pembahasan risiko pada saat memasang shinomaki tersebut, dapat diketahui jika masalah tersebut bisa terjadi karena kurangnya kerja sama ketika proses kerja sedang terjadi, karena ketika mangangkat shinomaki membutuhkan bantuan dari pekerja lain, dan nyatanya kerjasama tersebut tidak di jalin dengan baik sehingga berdampak pada kejadian kecelakaan atau lebih tepatnya tertimpa shinomaki.

174

Westra (1980) dalam skripsi Dwi Kusumawarni yang berjudul pengaruh semangat dan disiplin kerja Terhadap produktivitas karyawan mengatakan bahwa kerjasama adalah sikap dari individu atau sekelompok untuk saling membantu atau menginformasikan agar dapat mencurahkan kemampuannya secara menyeluruh. Dari masalah tersebut jelas bahwa, kerjasama antar pekerja dapat mempengaruhi produktivitas sehingga dapat mencegah terjadinya kegagalan proses dalam pekerjaan. c. Memberikan antihan/twist 1. Jari tangan tergores Proses ke tiga pada tahap Simplex frame adalah saat memberikan antihan/twist di mesin simplex frame, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benang twist karena pada saat memberi antihan, posisi benang masih tetap dalam penggulungan dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dan termasuk dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 perlu adanya pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar potensi risiko tersebut tidak terjadi.

175

d. Menggulung benang pada Bobbin tegak 1. Kaki tertimpa Bobbin Proses keemapat dari tahap simplex frame adalah saat menggulung benang pada Bobbin tegak , risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam tertimapa Bobbin yang beratnya bisa mencapai 5 kg, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut membutuhkan penanganan medis. Untuk tingkat pemaparan terjadi secara terus menerus setiap hari selama proses produksi berlangsung, oleh karena itu konsekuensinya termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, kejadian tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, sehingga termasuk dalam kategori Remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 yaitu perlu adanya pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar potensi risiko tersebut bisa di kendalikan. Pada pembahasan potensi risiko yang ada pada saat menggulung benang dan memberikan antihan/ twist yang mungkin terjadi di atas, mempunyai penyebab yang mirip. Dari pembahasanya diketaui bahwa potensi risiko bisa muncul karena pekereja tidak mematuhi standar kerja yang ada. Penyebab risiko tersebut biasanya di golongkan ke dalam unsafe behavior dimana pekerja harus melakukan pekerjaan ketika mesin gulung dalam kondisi masih beroperasi, Namun karena umumnya pekerja ingin mempersingkat waktu kerja maka pekerjaan dilakukan dengan caranya sendiri yang sudah biasa di lakukan. Menurut Topobroto(2009) hal itu juga bisa terjadi karena pekerja memiliki

176

kesadaran yang rendah tentang keselamatan sehingga sering mengabaikan prosedur yang telah ada. Untuk menanggulangi hal itu, bisa di terapkan penegakan disiplin prosedur dan menerapkan punishment untuk pelanggar. e. Memperbaiki Bobbin dan arah gulungan 1. Jari tangan tergores Proses ke lima pada tahap simplex frame adalah saat memperbaiki Bobbin dan arah gulungan di mesin simplex frame, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benang yang sedang diluruskan, karena perputaran benang yang di perbaiki berputar sangat cepat, jka terkena tangan atau jari bisa melukai kulit luarnya, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari, sehingga

paparannya termasuk dalam kategori continuously. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman dengan mesin, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Priority 3 perlu adanya pengawasan dan diperhatikan secara berkesinambungan agar potensi risiko tersebut dapat dikendalikan. f. Mengirim Bobbin ke mesin Ring spinning 1. Kaki terlindas roli Proses selanjutnya adalah saat mengirim Bobbin ke mesin Ring spinning dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka

177

atau remuk terlindas roli, karena roli kelebihan beban dan pekerja tidak dapat mengendalikan keseimbangan yang akhirnya roli melindas kaki pekerja yang mengendalikannya, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori

important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mejalin komunikasi yang baik dengan pekerja lain, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Substansial dimana mengharuskan adanya perbaikan secara teknis agar risiko tersebut dapat di cegah dan tidak terjadi pada proses ini. g. Menyalakan dan mematikan mesin Simplex Frame ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya pada tahap simplex frame adalah saat menyalakan dan mematikan mesin Simplex Frame ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air dan mesin yang di operasikan memiliki voltase yang cukup tinggi, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparannya terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun

mungkin saja terjadi jika pekerja melakukan pekerjaanya di luar standar kerja

178

yang ada, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable dimana intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar potensi risiko tersebut dapat di cegah dan proses kerja ini tetap aman. Dari ketiga urutan proses kerja di atas yaitu Memperbaiki Bobbin dan arah gulungan mengirim Bobbin ke mesin Ring spinning dan menyalakan dan mematikan
mesin Simplex Frame , risiko dominan yang berpotensi terjadi adalah terlindas roli

pada saat mengirim benang. Karena jika risiko tersebut benar-benar terjadi maka kerugian yang di alami pekerja sangat tinggi dan berdampak pada kerusakan angota tubuh si pekerjanya. Hal tersebut bisa terjadi karena pekerja tidak melakukan prosedur kerja dengan baik, seperti mengisi kapasitas roli melebihi batas agar lebih cepat selesai sehingga potensi terjadinya risiko semakin besar dan mengancam keselamatan pekerja itu sendiri. 6.3.8 Tahap ring spinning a. Peregangan lanjut di mesin Ring Spinning 1. Jari tangan terjepit mesin Ring Spinning Proses pertama pada tahap Ring Spinning adalah saat peregangan lanjut di mesin Ring Spinning, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah luka jari atau remuk akibat terjepit mesin Ring Spinning karena pada saat peregangan,

perputaran silindernya sangat cepat dan mesin tetap beroperasi ketika pekerja memperbaiki regangan, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori

Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat.

179

Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak menjaga jarak aman dengan mesin dan mematuhi

standar kerja, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable atau intensitas yang

menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak terjadi pada proses ini. b. Menggulung benang pada Bobbin miring 1. Kaki tertimpa Bobbin Proses kedua pada tahap Ring Spinning adalah saat menggulung benang pada Bobbin miring pada mesin Ring Spinning, risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam tertimpa Bobbin yang beratnya bisa mencapai 5 kg saat penuh, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat

kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahuntahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan menjalin komunikasi yang baik dengan pekerja lain, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori Acceptable intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.

180

c. Meratakan gulungan Bobbin miring 1. Jari tangan tergores Proses ke tiga pada tahap ring spinning adalah saat meratakan gulungan bobbin miring, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah jari tangan tergores benang yang sedang diratakan, karena perputaran benang sangat cepat saat

pengggulungan, jika tidak hati-hati benang yang sedang berputar tersebut dapat melukai kulit luar pekerja, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan menjaga jarak aman, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Substansial yaitu mengharuskan adanya perbaikan secara teknis agar otensi tersebut dapat dihilangkan. d. Mengirim Bobbin ke mesin Winding 1. Kaki terlindas roli Proses ketiga pada tahap ring spinning adalah saat mengirim Bobbin ke mesin Winding dengan menggunakan roli, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli karena pekerja tidak dapat

mengendalikan roli saat memindahkan bobbin, akhirnya roli oleng dan melindas kaki pekerja, konsekuensi risiko tersebut termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan

181

efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat

kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman roli, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori Substansial mengharuskan adanya perbaikan secara teknis untuk menciptakan kondisi kerja yang aman. e. Menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya pada tahap ring spinning adalah saat menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air dan mesin yang digunakan menggunakan voltase yang cukup tinggi, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat

kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahuntahun namun mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja, sehingga termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori Acceptable intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar potensi risiko dapat di cegah dan di kendalikan.

182

Dari kelima proses kerja tersebut di atas yaitu

peregangan lanjut,

menggulung benang pada Bobbin miring, meratakan gulungan Bobbin miring, mengirim Bobbin ke mesin Winding serta menyalakan dan mematikan mesin. Potensi risiko yang paling dominan adalah kaki terlindas roli dan tertimpa bobbin di susul dengan risiko tangan terjepit mesin dan tergores benang dan yang terakhir adalah bersentuhan dengan aliran listrik . Namun penyebab dari berbagai risiko tersebut memiliki kesamaan yang umum, yaitu ketidakpatuhan terhadap standar kerja, kurang konsentrasi saat bekerja dan tidak mengatur jarak aman saat berdekatan dengan mesin berputar dan penyebab ini sudah di temukan pada proses kerja sebelumnya. Ketiga penyebab tersebut tergolong dalam tindakan unsafe yang bisa jadi perilaku unsafe tersebut mendapat reinforcement yang besar dari lingkungan sehingga terus dilakukan dalam pekejaannya. Bird (2005 dalam pengendalian kerugian praktis mengatakan bahwa pekerja sebenarnya ingin mengikuti kebutuhan akan keselamatan namun adanya kebutuhan lain yang menyebabkan keselamatan pada posisi yang kedua. Kebutuhan lain tersebut di antaranya kebutuhan menghemat waktu, menghemat usaha, mendapat kebebasan dan mendapat pengakuan dari lingkungan. Memberikan reward terhadap munculnya safety behavior di rasa cukup baik untuk sedikit-demi sedkit mengubah prilaku unsafe yang ada pada proses ini dan yang pasti pegendalian ini di laakukan setelah hierarki pengendalian risiko sebelumnya telah di terapkankan.

183

6.3.9 Tahap winding a. Menggulung benang pada Cones di mesin Winding 1. Kaki kejatuhan Cones Proses pertama pada tahap winding adalah saat menggulung benang pada Cones di mesin Winding, risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam karena tertimpa Cones benang seberat 4 kg atau lebih, jika cones tersebut menimpa kaki pekerja bisa menyebabkan luka atau lebam, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan menjalin komunikasi antar pekerja, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risikonya termasuk dalam kategori Acceptable yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut bisa di cegah sebelum terjadi. b. Memindahkan cones ke mesin heat setter 1. Kaki terlindas creell Proses kedua pada tahap winding adalah saat memindahkan Cones ke mesin heat setter dengan menggunakan creell, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas creell yang berisi kurang lebih 50 60 cones, jika creell melindas kaki pekerja maka akan menyebabkan luka, risiko tersebut termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi

184

luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar jarak aman creell, sehingga termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian, maka tingkat risiko pada proses ini termasuk dalam kategori Substansial yaitu mengharuskan adanya perbaikan secara teknis agar risiko dapat dicegah sedemikian rupa agar tidak terjadi pada proses ini. c. Proses penguapan dengan heat setter 1. Peledakan pada heat setter Proses ke tiga pada tahap winding adalah saat proses penguapan dengan heat setter, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah peledakan akibat tekanan uap atau kesalahan penutupan bejana penguapan, dengan suhu maksimum 140 derajat celcius, jika hal tersebut dibiarkan hingga bejana di nyalakan, maka bisa terjadi peledakan dan mengakibatkan bencana diproses tersebut, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori Disaster, karena pada risiko tersebut dapat menimbulkan kematian, kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari karena penguapan dilakukan sekali sehari sesuai dengan target produksi harian, oleh karena itu paparannya termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat

kemungkinannya, hal tersebut merupakan kejadian yang kemungkinan terjadinya sangat kecil, sehingga termasuk dalam kategori remotely pssible. Dengan

demikian, maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori very high dimana

185

aktifitas dihentikan sampai risiko bisa dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima, potensi risiko inilah yang paling besar dalam proses spinning sesuai dengan hasil identifikasi dan analisis yang telah dilakukan d. Menyalakan dan mematikan mesin Winding ketika beroperasi 1.Terkena aliran listrik Proses selanjutnya pada tahap winding adalah saat menyalakan dan mematikan mesin Ring Spinning ketika beroperasi, risiko yang berpotensi terjadi pada tahap ini adalah tekena aliran listrik atau kesetrum karena tangan basah oleh keringat atau air dan mesin yang digunakan menggunakan voltase yang cukup tinggi, sehingga konsekuensinya termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi secara terus - menerus setiap hari dan termasuk dalam kategori continuously, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut tidak pernah terjadi meskipun terpapar bertahun-tahun namun

mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi peraturan dan standar kerja yang ada, sehingga kemungkinan tersebut termasuk dalam kategori Conceivable. Dengan demikian, maka tingkat risiko pada proses ini termasuk dalam kategori Priority 3 dimana perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan agar risiko tersebut dapat dikendalikan dan tidak terjadi pada proses ini. e. Membongkar Cones dari mesin penguapan(Heat setter) 1. Kaki memar atau lebam karena tertimpa Cones Proses selanjutnya adalah saat membongkar Cones dari mesin penguapan(Heat setter), risiko yang berpotensi tejadi pada tahap ini adalah kaki memar atau lebam karena

186

tertimpa Cones benang seberat 4 kg atau lebih yang baru dikeluarkan dari mesin penguapan, sehingga konsekuensi termasuk dalam kategori Noticeable, karena pada risiko tersebut terjadi luka ringan, memar atau penyakit ringan dan kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam kategori Frequently, sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut merupakan kejadian yang kemungkinan terjadinya sangat kecil, sehingga termasuk dalam kategori remotely possible. Dengan demikian, maka tingkat risikonya tergolong dalam kategori Acceptable dimana intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin agar risiko tersebut tidak terjadi pada proses ini. f. Mengirim cones ke departemen Wieving 1. Proses terakhir pada tahap winding adalah saat mengirim cones ke departemen Wieving dengan menggunakan roli, potensi risiko yang terjadi pada tahap ini adalah kaki luka atau remuk terlindas roli karna pekerja yang memindahkan cones tidak dapat mengendalikan roli dengan baik, sehingga roli melindas kaki pekerja, konsekuensi risiko tersebut termasuk dalam kategori important, karena pada risiko tersebut terjadi luka yang butuh penanganan medis dan efeknya tidak terlalu merugikan. Tingkat pemaparan terjadi sekali dalam sehari dan termasuk dalam

kategori Frequently. Sedangkan untuk tingkat kemungkinannya, hal tersebut mungkin saja terjadi jika pekerja tidak mematuhi standar kerja dan mengatur jarak aman roli, sehingga kemungkinannya termasuk dalam kategori unusual. Dengan demikian,

maka tingkat risiko pada proses ini termasuk dalam kategori Substansial dimana

187

mengharuskan adanya perbaikan secara teknis agar risiko tersebut dapat di cegah dan dapat menciptakan proses kerja yang aman. Dari keenam proses winding di atas, yang potensi risiko paling dominan adalah pada saat proses penguapan dengan heat setter, risiko yang berpotensi terjadi pada

tahap ini adalah peledakan akibat tekanan uap atau kesalahan penutupan bejana penguapan, dengan suhu maksimum 140 derajat celcius. Meskipun belum pernah terjadi kegagalan proses pada saat melakukan penguapan, namun perlu di waspadai faktor-faktor yang bisa mengakibatkan terjadinya risiko tersebut agar pekerja yang mengoperasikan alat penguapan yang termasuk dalam bejana tekan atau bejana uap bisa memahami dengan baik cara pengendalian risiko yang ada pada proses ini. Menurut PERMENAKER No. 01 / MEN / 1988, kewajiban operator bejana uap adalah dilarang meninggalkan tempat pelayanan selama bejana uapnya dioperasikan, melakukan pengecekan kondisi kerja serta merawat bejana uap, alatalat pengaman, dan alat perlengkapan lainnya. Selain itu operator juga harus mengisi buku laporan harian pengoperasian bejana uap yang bersangkutan selama melayani bejana uap meliputi data tekanan kerja, produksi uap, debit air pengisi bejada uap, pH air, dan jumlah bahan bakar, serta tindakan operator yang dilakukan selama melayani bejana uap yang bersangkutan. Apabila bejana uap dan atau

perlengkapannya tidak berfungsi dengan baik, maka operator harus segera menghentikan operasinya dan segera melaporkan pada atasannya serta membuat laporan bulanan pemakaian pesawat uap kepada P2K3 di perusahaan yang bersangkutan.

188

Selain itu, potensi risiko yang lain pada proses winding lebih sering di sebabkan karena pekerja merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga tidak lagi melakukan proses kerja sesuai dengan SOP atau peraturan yang ada di proses tersebut. Frank E Bird. Jr. dalam Pengendalian kerugian praktis mengungkapkan bahwa pelaksanaan peraturan harus memenuhi Firm atau tegas, dimana para manager, pimpinan tim, anggota tim perlu mengingat bahwa peraturan yang ada adalah untuk melindungi keselamatan dan kesehatan dari semua karyawan dan lingkungan. Karena itu, peraturan tersebut harus dilaksanakan dengan tegas, tanpa reservasi atau keraguraguan dan membiarkan orang lain dalam tempat yang berisiko. Maka dari itu, penegasan peraturan di tempat kerja tersebut perlu lebih di tekankan lagi agar pekerja tidak merasa biasa atau ragu dalam menjalankan setiap proses kerja. Berdasarkan pembahasan dari kesembilan proses di atas, potensi risiko terbesar berada pada tahap Winding, karena jika risiko tersebut terjadi dapat menyebabkan disaster atau bencana yang sangat besar. Selebihnya, risiko-risiko pada setiap proses berpotensi terjadi karena safety behavior yang menjadi penyumbang terbesar dalam munculnya potensi risiko yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Selain pengendalian-pengendalian di atas yang telah di atur untuk mengendalikan risiko. Perlu adanya suatu jaminan atau penanganan terhadap risiko jika risiko tersebut benar-benar terjadi dan mengakibatkan kecelakaan kerja yang berdampak diri setiap pekerja. Jaminan untuk risiko yang sudah terjadi tersebut adalah dengan adanya asuransi bagi setiap pekerja yang dapat menjamin pembiayaan pemeliharaan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Hal ini di rasa sesuai dan tepat untuk menangani risiko yang tidak dapat di terima dan di tanggulangi

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

7.1

SIMPULAN 1. Hasil identifikasi risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses spinning di bagian produksi PT Unitex Tbk, yaitu : jari tangan terjepit mesin, jari kaki terlindas roli, tangan tergores mesin, terkena aliran listrik, kaki atau badan tertimpa shinomaki, jari tangan tergores benang, kaki tertimpa bobbin, peledakan, terkena uap panas dan kaki kejatuhan cones. 2. Konsekuensi risiko keselamatan kerja pada proses spinning yang terbesar adalah disaster yaitu saat penguapan di mesin heat setter. Kemudian terkecil adalah

Noticeable yaitu luka gores di jari tangan, kaki lebam tertimpa cones/bobbin. Paparan risiko keselamatan kerja pada proses spinning yang paling sering terjadi yaitu tergores benang, tertimpa sliver, kejatuhan bobbin, tertimpa cones, terjepit mesin, kejatuhan shinomaki, terlindah roli dan tersengat listrik. Kemungkinan risiko keselamatan kerja pada proses spinning yang tidak biasa terjadi tetapi mungkin yaitu Jari kaki remuk terlindas roli, Jari tangan tergores atau lecet terkenan mesin, Jari tangan tergores benang/serat. 4. Evaluasi risiko keselamatan kerja pada proses spinning adalah melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan, mengatur jarak aman dengan mesin, menjaga roli agar selalu dalam jalur lintasan, menjaga housekeeping lingkungan kerja, warning sign untuk menunjukkan adanya bahaya listrik dan menjaga proses kerja dalam keadaan aman.

189

190

5. Tingkat risiko keselamatan kerja pada proses spinning di bagian produksi PT Unitex Tbk, yaitu : Very high (sangat tinggi) yaitu risiko peledakan pada heat setter/pengupan dengan bejana tekan. Substansial (penting) yaitu luka jari tangan atau kaki karena terlindas, terjepit mesin, tertimpa, tergesek benda, bahan atau mesin yang ada di dept spinning , wajah atau badan terkena uap panas dan peledakan. Priority 3 (prioritas 3) yaitu tersengat listrik/ kesetrum, luka gores di jari akibat kontak dengan gerigi mesin, benang yang berputar dll. Acceptable (diterima) yaitu jari kaki terluka / lebam tertimpa gumpalan serat atau kejatuhan Cones dll. 7.2 SARAN 1. Perusahaan perlu melakukan identifikasi dan penilaian risiko keselamatan kerja di masing-masing tahapan yang ada pada proses spinning di bagian produksi PT Unitex Tbk, sehingga perusahaan dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja. 2. Untuk meminimalisir risiko pada masing-masing tahapan proses kerja spinning perlu dilakukan upaya pengendalian, yaitu dengan cara : Engineering Control( House keeping, pengecekan listrik, mengatur jarak aman) Administrative Control (bekerja sesuai SOP, safety talk, komunikasi antar pekerja dan warning sign) Alat Pelindung Diri/APD(Memakai sarung tangan/gloves, menggunakan safety shoes, menggunakan face shield (saat proses penguapan)

191 3. Pengawasan atau monitoring risiko keselamatan pada proses spinning harus dilakukan secara periodik dan diprioritaskan pengendalian risiko pada kategori tingkat risiko substanstial sampai priority 1.Pada kategori tingkat risiko acceptable sampai priority 3 walaupun tingkat risiko rendah tetapi perlu diperhatikan karena risiko bisa terjadi jika operator dan pekerja kurang hati-hati dalam melakukan pekerjaannya. 4. Pengawasan supervisor terhadap penggunaan APD pada operator dan pekerja harus ditingkatkan, serta perlu adanya tindak lanjut berupa reward and punishment yang dilakukan oleh pihak perusahaan, karena masih ada operator dan pekerja yang tidak menggunakannya saat pekerjaan berlangsung. 5. Pencatatan kejadian kecelakaan sebaiknya tidak hanya yang menimbulkan efek yang parah dan memerlukan perawatan medis, namun juga perlu di catat pula kejadiankejadian kecil namun berisiko yang tidak dilaporkan oleh pekerja, dengan menggunakan pendekatan komunikasi personal agar pekerja tidak menganggap ringan risiko atau kecelakaan yang di rasa bisa di tangani dan sembuh sendiri. 6. Meningkatan safety performance dalam perusahaan untuk mengurangi unsafe behavior yang terjadi pada pekerja di rasa lebih baik di bandingkan dengan fokus terhadap angak kecelakaan. Karena kecelakaan merupakan hasil akhir dari rentetan unsafe behavior dan perusahaan hanya memperhatikan safety ketika kecelakaan meningkat, sebaliknya behavioral safety lebih proaktif yang cenderung

mengidentifikasi setiap unsafe behavior yang muncul sehingga bisa langsung di tanggulangi.

DAFTAR PUSTAKA

Anita , Marissa . metroTvNews. Benang untuk Ekspor Miliaran Rupiah Ludes Terbakar. diakses pada tanggal 12 Februari 2010 dari

http://www.metrotvnews.com Agustina, Nita Octa. Upaya Pengendalian Faktor Bahaya Di Unit Laundry pada Instalasi CSSD (Central Sterilisation Supply Departement) Di RSUD Setjonegoro Wonosobo. diakses pada tanggal 20 Desember 2010 dari http//:www.uns.ac.id Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Risk Management Guidelines. Sydney, 1999. Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 2004. Risk Management Guidelines. Sydney, 2004. Bird, Jr ,Frank E. and Goerge L, Germany, Practical Loss Control Leadership, Loganville, Georgia. 1996 Budiono, Sugeng A.M. Manajemen Risiko Dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bunga Rampai Hiperkes & KK Edisi Kedua. Semarang : Universitas Diponegoro, 2003. Calvin dan Joseph. Occupation Related Accidents in Selected Garment Industries in Bangalore City. Indian Journal of Community Medicine Volume 31, No. 3, July - September, 2006. Colling, David A. Industrial Safety Management and Technology. Pentice Hall Inc, 1990.
192

193

Cross, Jean. Study Notes SESC9211 Risk Management. Department of Safety Science University of New South Wales, 1998. Depnaker RI. Dokter Hiperkes. Jakarta. 1991 Deutsche Welle World. Kebakaran Pabrik Garmen di Bangladesh, 51 Tewas. Diakses Tgl 08 mei 2009 dari http://www.tor.cn Diberardinis, Louis J. Handbook of Occupational Safety and Health Second Edition. John Wiley & Sons Inc, 1999. European Agency for Safety and Health at Work. Occupational safety and health in the textiles sector. Diakses pada tanggal 13 mei 2010 dari http//:www. osha.europa.eu.org Fokus pagi on line. Gudang Pabrik Tekstil Terbakar. Diakses pada tanggal 1 juni 2010 dari http//:www.indosiar.com Geotsch, David. Occupational Safety and Health : In Manager, Second Edition, 1996. ICN(Diploma Mekanikal Tekstil).Teknologi Yarn 1 Spinning. Diakses pada tanggal 19 Desember 2009 dari http//:www.icn.com ICN(Indonesian Commercial Newsletter).Perkembangan Industri Spinning di Indonesia. Diakses pada tanggal 17 Okrober 2009 dari http//:www.icn.com Kolluru, Rao V, et. al. Risk Assessment and Mangement Handbook. New York : Mc Graw Hill Inc, 1996. Kusumawarni. Dwi. Pengaruh semangat dan disiplin kerja Terhadap produktivitas karyawan pada Perusahaan daerah air minum (pdam) Kabupaten kudus. Di akses pada tanggal 20 september 2010 dari http//:www.digilib.unnes.ac.id

194

Santoso, Budi . Liputan6 on line. Pabrik Tekstil di Bogor Meledak. Diakses pada tanggal 18 mei 2010 dari http//:www.liputan6.com Liputan6 on line. Pabrik Tekstil Terbakar. Diakses pada tanggal 18 mei 2010 dari http//:www.liputan6.com Management SDM.Pengertian Kesehatan dan Keselatan Kerja. Diakses pada tanggal 12 maret 2010 dari http//:www.jurnal-sdm.org Markkanen, Pia K (International Labour Organization Subregional office of south-East Asia and the Pasific Manila, Phlippines). Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia. Di akses pada tanggal 18 Juli 2009 dari http://www.ILO.org Medicare lippo insurance. Risiko industri tekstil. Dikases pada tanggl 27 februari 2009 dari http//:www.lippoinsurance.com Mulya, Adi. Analisis dan Pengendalian Risiko Keselamatan Kerja dengan Metode Semi Kuantitatif pada Pekerja Pengelasan di Bengkel Pabrik PT. ANTAM Tbk. UBP Emas Pongkor Bogor Tahun 2008. Skripsi S1 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Jakarta, 2008. Mungan, Meral(Departemen Teknik Lingkungan, Universitas Teknis Timur Tengah). Penilaian Risiko Lingkungan dari Pabrik Tekstil di Turki. Diakses pada tanggal 20 mei 2010 dari http//:www.archive.reg.org PT Unitex Tbk. Annual Report PT Unitex Tbk tahun 2009 . GA Departement. Bogor. 2009 PT Unitex Tbk. Laporan Kecelakaan pada Jam Kerja PT Unitex Tbk Periode Bulan Januari 2009 Desember 2009. Jakarta : Bagian P2K3 PT Unitex Tbk, 2009.

195

Ridley and Channing, John. Risk Management Safety at Work. Butterworh-Heinemann : Elsivier Science Ltd, 1998. Sahab, Syukri. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT. Bina Sumber Daya Manusia, 1997. SI.ITS. Analisis risiko. Diakses pada tanggal 24 maret 2010 dari

http//:www.si.its.ac.id Slote, Lawrence. Handbook of Occupational Safety and Health. New York : New York University, 1987. Soeripto, IR. Job Safety Analysis. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Volume XXXI : No. 1 Oktober Desember 1997. Suardi, Rudi. Sistem Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja. Jakarta: Penerbit PPM. 2005. Sumamur, PK. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung,1986 Ramdani, Alwan Ridha. Tempo On-Line. Gudang Pabrik Tekstil Terbakar Satu Orang Terluka(Selasa,2 September 2008.). Diakses pada tanggal Diakses Tanggal 11 mei 2009 dari http://www.tempo.co.id

Lampiran
LEMBAR OBSERVASI

No.

Dasar pemikiran Menetukan ruang lingkup

Sasaran observasi Bagan struktur organisai PT Unitex Tbk Bagan Struktur organisasi dept spinning Bagan alur Tahapan proses kerja dept spinning Bagan Alur kerja dlm setiap tahap proses spinning Tahapan pekerjaan/ jenis pekerjaan & rincian pekerjaaan Alur proses kerja Risiko yg ada dan potensinya Pengendalian yg telah dilakukan SOP untuk setiap mesin pemintalan APD untuk Operator/ pekerja

Ada

Tidak

Keterangan

Identifikasi risiko

Peralatan penunjang untuk penanganan kecelakaan kerja(P3K) Alat pemadam kebakaran Maintenance dan jadwal pelaksanaanya Warning sign Safety briefing Lain-lain

Lampiran
Analisis risiko Informasi keparahan yg di timbulakan oleh risiko Informasi kekerapan kejadian kecelakaan yg terjadi Informasi kemungkinan terjadi suatu kejadian yang spesifik Informasi Pernah terjadi peristiwa/ kejadian kecelakaan Informasi rincian kejadian Pengendalian/penanganan yang telah dilakukan perusahaan

Konsekuensi

Paparan

Kemungkinan

Kejadian kecelakaan

Lampiran
Pedoman Wawancara

KAJIAN HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS TINGKAT RISIKO DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA PADA PROSES PEMINTALAN(SPINNING) DI BAGIAN PRODUKSI PT UNITEX TBK TAHUN 2010 Identitas informan No informan Nama lengkap Usia Jenis kelamin Pendidikan terkhir : __________________________________ : __________________________________ : __________________________________ : Laki-laki/Perempuan : SD/SMP/SMA/Perguruan Tinggi

Alamat lengkap : __________________________________

1. Menetukan ruang lingkup Bagaimana Struktur organisasi PT Unitex Tbk? Bagaimana Struktur organisasi dept spinning? Bagaimana Tahapan proses kerja dept spinning? Bagaimana Alur kerja dlm setiap tahap proses spinning?

2. Identifikasi risiko Apa saja Risiko yang pernah terjadi/ berpotensi untuk terjadi di dept spinning? Apa penyebabnya? pengendalian apa yang telah dilakukan? Apa saja tahapan proses kerja atau rincian pekerjaaan?

Lampiran
Bagaimana alur proses kerja di tahap/proses ini?

Apa saja risiko yg ada dan potensi adanya risiko dalam pekerjaan ini dan bagaimana bisa terjadi?

Apa saja pengendalian yg telah dilakukan?

3. Analisis risiko Seberapa parah kejadian kecelakaan yang menyebabkan kerugian, injuri yg di timbulkan oleh risiko pd setiap tahapan proses kerja spinning? Seberapa sering kejadian kecelakaan tersebut terjadi? Bagaimana kemungkinan terjadi suatu kejadian yang spesifik?

4. Kejadian kecelakaan Apa saja peristiwa/ kejadian kecelakaan yang pernah terjadi? Bagaimana rincian kejadiannya? Kapan kecelakaan tersebut terjadi? Apa dampak kecelakaan kerja tersebut?

Apa saja Pengendalian yang dilakukan perusahaan untuk menangani hal tersebut?