KANKER GINEKOLOGIK

Syahrul Rauf
Sub Bagian Onkologi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

1

KANKER GINEKOLOGI
• • • • • • • • NIS = CIN KARSINOMA SERVIKS KARSINOMA OVARIUM KARSINOMA ENDOMETRIUM PENYAKIT TROFOBLAS GANAS = PTG KARSINOMA VULVA KARSINOMA VAGINA KARSINOMA TUBA

2

3

TUJUAN PEMBELAJARAN
• TIU : memahami dasar teori dan penanganan neoplasia intraepitelial serviks • TIK : mempelajari definisi, insidens, etiologi, patogenesis, gejala/tanda, diagnosis, cara pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan kanker ginekologi.

4

REFERENS
• Berek JS, Hacker NF. Practical gynecology oncology, 3rd. Ed., 2000 • Schein PS. Alih bahasa Kusuma W, Saputra L. Seri skema diagnosis dan penatalaksanaan onkologi, 1997 • Cartier R, Cartier I. Practical colposcopy, 3rd.ed.1993 • Rubin SC, Hoskins WJ. Cervical cancer and preinvasive neoplasia, 1996 • Deppe G, Baker VV. Gynecologic Oncology Principles and practice of chemotherapy, 1999

5

dan proses diferensiasi tidak terjadi sebagai proses perkembangan sel dari membrana basalis ke permukaan epitel. berupa inti pleomorfis.NEOPLASIA INTRAEPITELIAL SERVIKS = NIS CERVICAL INTRAEPITHELIAL NEOPLASIA = CIN Perubahan spektrum intraepitel yang umumnya diawali dengan neoplasma diferensiasi baik (displasia ringan) dan diakhiri dengan karsinoma invasif. mitosis yang abnormal. 6 . Perubahan ini terbatas pada epitel skuamosa di atas membrana basalis. hilangnya polaritas.

NIS 3 = severe dysplasia :  2/3 lapisan sel tidak berdiferensiasi Bila seluruh lapisan terkena disebut karsinoma in situ yang sering disebut NIS 3 7 .3 TINGKATAN NIS 1. NIS 2 = moderate dysplasia :  1/3 sampai  2/3 lapisan sel tidak berdiferensiasi 3. NIS 1 = mild dysplasia :  1/3 lapisan sel tidak berdiferensiasi 2.

Klasifikasi berdasarkan Sistem Bethesda : • LSIL ( Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion) : Infeksi oleh HPV dan NIS I • HISL (High Grade Squamous Intraepithelial Lesion) : NIS II dan NIS III 8 .

INSIDENS • • • • Usia rata-rata wanita terkena NIS 35-40 th Dalam 10 tahun  kanker serviks Displasia ringan : 25 .30 tahun NIS dan karsinoma serviks : penyakit yang sama dalam fase yang berbeda 9 .

NIS  erat hubungannya dengan infeksi HPV tipe 6 dan 11. Ca in situ dan karsinoma serviks invasif  infeksi HPV tipe 16 dan 18 10 .

kontrasepsi oral. frekuensi Pap smear.ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO • Aktifitas seksual • Infeksi HPV. Vaginalis. merokok. Gonorrhoeae dan T. riwayat reproduksi. C. kebiasaan seks pasangan pria 11 . barier kontrasepsi. diet. CMV. N. Trachomatis. imunosupresi. T. Pallidum • Pasangan seksual lebih dari 1 • Wanita dengan pasangan seks lebih dari 1 • Seks pertama pada usia dini • Sosioekonomi rendah. HSV tipe 2.

Skua. matur : risiko rendah KS • Met.PATOGENESIS • Lesi pra invasif pada Zona Transformasi • ZT : epitel kolumner  epitel skuamosa : metaplasia.skua. : pembentukan epitel skuamosa dan ZT yang baru • Met. proses normal • Met.skua. imatur : risiko tinggi KS 12 .

imunologik. atau disp.ringan • Lesi dengan HPV tipe onkogenik : meluas ke arah endoserviks dan menjadi karsinoma invasif 13 .PATOGENESIS • Virus HPV  sel serviks : ko faktor lingkungan. sel tidak terkendali. sel abnormal menggantikan sel metaplasia • Perubahan pada sitoplasma dan inti • Lesi dini : flat condyloma. infeksi • Perubahan sel.

kanalis servikalis dengan cytobrush 14 .DIAGNOSIS • Pap Smear : mengurangi insidens dan angka kematian KS • Dianjurkan pada wanita yang telah aktif seksual • False positif 20% • Sampel : permukaan serviks dengan spatula Ayre.

PENANGANAN • Evaluasi hasil Pap smear yang abnormal  untuk menyingkirkan karsinoma invasif dan menentukan luasnya lesi noninvasif • Kolposkopi : menampakkan daerah ZT dan semua lesi yang mungkin terlihat • Biopsi dilakukan pada daerah abnormal dan kuret endoserviks untuk menilai kanalis servikalis 15 .

Penemuan lesi pada Pap smear lebih tinggi dari penemuan kolposkopi. Biopsi : ka. Kolposkopi tidak adekuat 2. Kuret endoserviks positif 3.PENANGANAN • Konisasi : 1. 16 . Mikroinvasif atau invasif 4.

1. 17 .II dengan batas lesi yang masih dapat ditentukan  Terapi laser : terutama laser CO2. Destruksi Lokal :  Krioterapi : terutama pada NIS II dengan lesi yang teratas  Elektrokauter : terutama dilakukan pada NIS I  Diatermi elektrokoagulasi : terutama pada NIS I . pemusnahan jaringan lebih tepat baik luas maupun kedalamanya.

dengan ukuran > 2. batas konus bebas dari daerah abnormal  Histerektomi total : pada keadaan  NIS III dengan cukup anak  Bersama dengan kelainan patologi lain.2.5 cm  Konisasi : NIS III. Terapi Eksisi :  Eksisi dengan Loop diatermi : lesi derajat tinggi. mis : mioma uteri  PA terdapat NIS pada batas konus setelah konisasi  Lesi NIS pada puncak vagina 18 .

500 kasus baru.KARSINOMA SERVIKS INSIDENS Penyebab kematian kedua terbanyak dari seluruh kanker ginekologi 500. Pada negara maju : urutan ketiga setelah kanker payudara dan endometrium. 19 . 4500 meninggal Insiden lebih tinggi pada negara berkembang dibandingkan di negara maju.000 kasus ditemukan setiap tahun ACS : 14.

INSIDENS Di Indonesia : urutan teratas dari 10 jenis kanker ginekologi > 50% ditemukan pada stadium lanjut Usia rata-rata adalah 51.4 tahun Dapat ditemukan lebih dini. bila Pap Smear teratur Jenis kanker ganas pertama yang berhasil diobati 20 .

3. Neuroendocrine Ca 5. Ka sel skuamous : 85 . Tumor yang jarang : melanoma. koriokarsinoma. Mixed epithelial Ca 4.95% dari semua jenis Karsinoma Serviks 2.HISTOLOGI 1. meta dari tempat lain 21 . Adenokarsinoma : ditemukan sekitar 5%.

FAKTOR RISIKO • Erat hubungannya dengan perilaku seksual • Penyakit menular seksual dengan agen penyebab adalah virus HPV • DNA HPV ditemukan pada hampir 90% karsinoma serviks 22 .

usia pertama kali berhubungan seksual .FAKTOR RISIKO A.sering berganti pasangan . Status ekonomi rendah 4. Ras : wanita kulit putih lebih tinggi 3. UTAMA 1.multiparitas 5. Perokok 23 . Umur : terutama pada usia reproduksi 2. Faktor reproduksi dan sosial : .

terutama vitamin C 3.B. Infeksi HIV 4. Pemakaian kontrasepsi oral yang lama 2. Penyakit akibat hubungan seksual selain HPV : HSV 2 24 . RELATIF 1. Defisiensi nutrisi.

GAMBARAN KLINIK • Stad dini : tanpa gejala • Awal : keputihan berbau. perdarahan pasca menopause. tulang belakang. urin dan feses keluar dari vagina 25 . hidronefrosis • Akhir : hematuria. perdarahan vagina abnormal. hematokezia. perdarahan pasca sanggama • Lanjut : nyeri pelvik.

diagnosis ditegakkan dengan mikroskop : Invasi ke stroma 3 mm dan lebar 7 mm : Invasi ke stroma antara 3 mm dan 5 mm dan lebar 7 mm : Secara klinik lesi jelas terlihat pada serviks : Diameter lesi kurang dari 4 cm : Diameter lesi lebih dari 4 cm 26 B B1 B2 . NIS III : Proses terbatas pada serviks A A1 A2 : Ka invasif preklinik.STADIUM 0 I : Karsinoma in situ.

II A B III : Proses keluar dari serviks dan menyebar ke vagina atau parametrium tetapi belum mencapai1/3 distal vagina dan tidak sampai ke dinding pelvis : Penyebaran belum mencapai parametrium : Penyebaran sudah sampai ke parametrium : Penyebaran mencapai 1/3 distal vagina dan dinding pelvis. dinding pelvis B : Meluas sampai ke dinding pelvis atau terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal : Tumor mencapai mukosa vesika urinaria dan rektum atau meluas ke pelvis : Penyebaran ke organ sekitar : Metastasis jauh 27 IV A B . Terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal A : Penyebaran ke 1/3 distal vagina.

CT scan. laparoskopi 28 . MRI. barium enema. arteriografi. serviks teraba kaku dan membesar • Periksa : inguinal. hepar • Biopsi • Kuret endoserviks • Kolposkopi • Konisasi diagnostik • Foto toraks. tulang belakang.DIAGNOSIS • Sitologi : Pap smear • Pemeriksaan fisik : endofitik. Limfangiografi. IVP. eksofitik. supraklavikula.

TERAPI • Pembedahan 1. Histerektomi abdominal ekstrafasial 3. Eksentrasi pelvik 29 . Histerektomi radikal + limfadenektomi pelvik bilateral 4. Konisasi serviks 2.

Vincristin.TERAPI • Radiasi 1. Bleomycin) • Bahan biologi 30 . External beam therapy 2. Brachytherapy • Kemoterapi : PVB (Cis platinum.

LEEP. konisasi.TERAPI • Karsinoma in situ : Krioterapi. histerektomi (anak cukup). radiasi • Stadium I B .II A : Histerektomi radikal. laser. kemoterapi 31 . radiasi • Stadium II B .IV : radiasi. histerektomi ekstrafasial. radiasi (brachytherapy) • Stadium I A : konisasi.

PROGNOSIS Ditentukan oleh : • Umur penderita • Keadaan umum • Stadium • Gambaran histologik sel tumor • Kemampuan ahli dalam pengobatan • Sarana pengobatan yang ada Penderita dengan pengobatan primer mempunyai rekurensi • 1 tahun : sekitar 50% • 2 tahun : lebih dari 80% Rekurensi > 70% mempunyai pemeriksaan sitologi serviks dan vagina yang abnormal 32 .

60% .90% .Stadium III 20 .Stadium IV 5 .Angka harapan hidup setelah pengobatan : • Karsinoma in situ 100% • Stadium mikroinvasif 98% • Karsinoma invasif : .10% 33 .25% .Stadium II 40 .Stadium I 75 .

TUMOR GANAS OVARIUM 34 .

PENDAHULUAN • Kumpulan tumor dengan histogenesis yang beraneka ragam • Sifatnya asimtomatik. pasien sering datang pada stadium lanjut.500 meninggal 35 . 14. sulit deteksi dini. • Kedua terbanyak di USA • 1998: 25 ribu kasus.

Tumor germ sel 36 . Tumor epitelial 2. Tumor stroma gonad 3.Terbagi dalam 3 kategori : 1.

terutama pada usia 59 .INSIDEN  5 .15 % kasus per 100.000 wanita/tahun  5% dari semua kanker  Sering pada dekade ke-5 dan ke-6.60 tahun  1 dari 70 wanita akan menderita kanker genitalia 37 .

ETIOLOGI Tidak jelas. diduga akibat stimulus hormonal pada masa reproduksi FAKTOR PREDISPOSISI • Nulipara • Riwayat ka ovarium dalam keluarga • Riwayat kanker payudara • Riwayat infertilitas • Induksi ovulasi dengan menggunakan obat 38 .

serosa .tumor tidak berdiferensiasi/tidak terklasifikasi 39 .KLASIFIKASI Berdasarkan gambaran histologik a. Tipe .clear cell .musinosa .endometrioid .

jinak .b. limfoma.tumor granulosa-theca sel . Tumor pada stroma Khusus : Sex-cord stroma tumor .ganas c.sertoli-leydig Tidak khusus : tumor mixed mesodermal.borderline/low malignant potensial . leiomyosarcoma 40 . Diferensiasi .

disgerminosa .diferensiasi embrionik : * teratoma kistik jinak * teratoma maligna .d.diferensiasi ekstraembrionik * tumor endermal sinus/kanker embrional * koriokarsinoma 41 . Tumor Germ-cell .

Sel ganas ditemukan dalam cairan asites dan peritoneum : meluas ke pelvis : ditemukan pada uterus & tuba : ditemukan pada jar.Klasifikasi berdasarkan FIGO I I-A I-B I-C : terbatas pada ovarium : mengenai 1 ovarium. pelvis lain II IIA IIB 42 . tumor pd permukaan. kapsul intak : mengenai ke-2 ovarium. kapsul intak : kapsul ruptur.

scr mikroskopik IIIC : metastasis ke peritoneum >2 cm & atau pd limfonodus regional IV : metastasis jauh metastasis 43 .IIC : sel ganas pada cairan asites atau peritoneum III : metastase pd peritoneum di luar pelvis atau ke limfonodus regional IIIA : metastasis ke peritoneum scr mikroskopik IIIB : metastasis ke peritoneum < 2 cm.

60%  tipe endometroid & musinosa10 .15% Tipe musinosa lebih sering ditemukan pada wanita usia tua dibanding tipe serosa dan endometroid 44 .PATOLOGI • Tumor ganas ovarium berasal dari epitel permukaan  tipe serosa 50 .20% tipe clear cell 5%  tipe tidak berdifferensiasi 10 .

Efeknya tergantung pada usia wanita. 45 . Thecoma jarang & biasanya jinak.• Tumor sel stroma berasal dari mesenkim ovarium & menghasilkan hormon yang dapat berubah menjadi ganas. Keduanya menghasilkan estrogen  disebut mesenkim feminizing. tergantung tipe sel. dapat terjadi pubertas prekoks. perdarahan inter menstrusi atau pasca menopause. • Sel tumor granulosa dengan atau tanpa komponen sel theca  tumor tersering pd kelompok ini.

Biasanya baru diketahui setelah tumor membesar atau bermetastasis. biasanya asimptomatis.obstruksi • pelvik • toraks fatique : nyeri pelvik. perdarahan abnormal vagina. Gejala : • abdomen : nyeri abdomen. dispareunia. dispepsia.DIAGNOSIS & GEJALA Diagnosis dini sukar. konstipasi : dispneu dan nyeri pleura kaheksia & 46 .

teraba massa pada pasien pascamenopause. Diagnosis pasti  laparatomi eksplorasi. nodul Cul de sac. 47 . efusi pleura. limfadenopati supraklavikuler. Pap smear : Ditemukan sel ganas dengan psammoma bodies  bukan diagnosis pasti. USG & CT scan  untuk mengetahui ukuran dan perluasan tumor.Pemeriksaan fisik : Asites.

Eksfoliasi dan implantasi 2.PENYEBARAN Terdapat 2 cara : 1. Metastasis melalui kelenjar limfe retroperitoneum ke ovarium 48 .

histerektomi + salpingoooforektomi bilateral + omentektomi 49 . IB • Pembedahan .PENGOBATAN Stadium IA.Ooforektomi + reseksi tumor .

Stadium IC • Pembedahan .Ooforektomi + reseksi tumor .histerektomi + salpingoooforektomi bilateral + omentektomi • Terapi radiasi : radioisotop intraperitoneal • Kemoterapi : kombinasi Cis platinum dan Endoxan 50 .

biopsi diafragma dan pelvis • Terapi radiasi definitif pada seluruh abdomen/pelvis • Kemoterapi 51 .Ooforektomi + reseksi tumor . eksisi adhesi.Stadium II • Pembedahan .histerektomi + salpingoooforektomi bilateral. omentektomi.

Stadium III • Pembedahan : sito reduktif • Terapi radiasi definitif pada seluruh abdomen/pelvis • Kemoterapi Stadium IV • Pembedahan : debulking • Terapi radiasi paliatif • Kemoterapi 52 .

Relaps dan rekuren • Pembedahan : second look laparotomy • Terapi radiasi paliatif • Kemoterapi 53 .

DIAGNOSIS BANDING • • • • • Kanker lambung Kanker kolon Asites Kehamilan ektopik Kandung kemih yang menggembung 54 .

55 . • Stadium II : 80%. • Stadium III : 15% • Stadium IV : 5%.PROGNOSIS Tergantung pada gambaran histologik dan stadium klinik tumor. Angka harapan hidup dalam 5 thn : • Stadium I : 90%.

KARSINOMA ENDOMETRIUM 56 .

INSIDENS • Terutama mengenai wanita post-menopause pada usia 61 tahun • 25% kasus ditemukan pada wanita perimenopause • 5% pada wanita yang lebih muda • Wanita kulit hitam mempunyai risiko lebih rendah (40%) • Sekitar 54% berakhir dengan kematian karena keterlambatan diagnosis 57 .

khususnya estrogen • Didasarkan atas adanya kemungkinan hiperpalsia endometrium bersama karsinoma dihubungkan dengan pemakaian estrogen lama. 58 .ETIOLOGI • Berawal dari hiperplasia endometrium yang berkembang menjadi karsinoma • Dihubungkan dengan hormon ovarium.

Diabetes melitus 59 .FAKTOR RISIKO 1. Pemakaian anti estrogen Tamoxifen 8. Nulipara 2. Menopause > 52 thn memiliki risiko 2. Risiko lebih tinggi pada wanita gemuk 5. Keterpaparan estrogen jangka lama 6. riwayat haid ireguler 3. Infertilitas.4 kali lebih besar dibandingkan menopause < 49 thn 4. Menopause dengan penggunaan terapi pengganti estrogen tanpa progestin 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful