Anda di halaman 1dari 5

Epilepsi Batasan dan Uraian umum Epilepsi adalah terjadinya dua atau lebih bangkitan kejang tanpa provokasi

yang dipisahkan oleh interval lebih dari 24 jam. Insiden epilepsi pada populasi umum diperkirakan 20-70 per 100.000 orang per tahun, dengan prevalens 4-10 per 1000 orang, insiden lebih tinggi pada anak dari pada orang dewasa dan tertinggi pada neonatus. Namun demikian, kurang dari sepertiga kasus kejang pada anak disebabkan oleh epilepsi. Berdasarkan etiologinya, dikenal epilepsi idopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan epilepsi simtomatik (timbul sebagai manifestasi kelainan intra atau ektrakranial yang diketahui). Panduan ini hanya membahas secara rinci mengenai epilepsi idiopatik. Manifestasi Klinis Berdasarkan gambaran klinis elektroensefalografis, international league Against Epilepsy (ILAE) menyusun klasifikasi kejang epileptik menjadi 3 jenis utama, yaitu kejang parsial, kejang umum, dan kejang yang tidak dapat diklasifikasikan. Klasifikasi selengkapnya dapat dilihat di tabel 1. Anamnesa Anamnesis merupakan kunci diagnosis epilepsi. Sebaiknya keterangan diperoleh dari orang yang telah beberapa kali menyaksikan kejang yang dialami pasien. Jika pasien cukup umur ,hendaknya juga dilakukan autoanamnesis. Hal-hal yang perlu ditanyakan meliputi: Adanya kejang: apakah pasien memang benar kejang? Jenis kejang: apa yang dialami atau dilakukan pasien selama kejang? Bila mana mungkin ,orang yang menyaksikan kejang diminta untuk menirukannya. Dalam hal kejang parsial atau fokal, keterangan tentang bagian tubuh yang mengalami kejang dapat membantu menentukan fokus awitan kejang di otak. Kesadaran selama kejang dan ingatan pasien akan kejadian kejang Lamanya kejang Keadaan pasien sesudah kejang dan waktu yang dibutuhkan untuk kembali pada keadaan sebelumnya. Adanya faktor pencetus: kejang yang tergolong epilepsi tidak didahului faktor pencetus Saat terjadinya kejang: sering kali kejang epileptik terjadi pada dini hari atau saat pasien baru bangun tidur
13

Adanya aura: misalnya berupa rasa takut, mati rasa atau kesemutan pada jari, atau cahaya terang pada satu lapang pandang. Jika tidak ada aura, biasanya pasien tidak dapat mengingat apapun dari kejadian kejang. Adanya massa prodromal yang ditandai dengan rasa tidak enak badan (unwellness), iritabilitas, perubahan mood, nyeri kepala, atau perubahan keperibadian. Masa prodromal dapat berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa hari sebelum terjadinya aura dan kejang. Jika ada, terapi antiepileptik sebelumnya, dosis dan jenis obat yang didapat, serta respons pasien terhadap terapi tersebut. Riwayat tumbuh kembang anak. Gejala lain yang menyertai,misalnya muntah atau demam, penting ditanyakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab kejang lainnya. Adanya riwayat epilepsi dalam keluarga.

Tabel.1 Klasifikasi kejang epileptik menurut international Leagua Against

EpIlepsy I. Kejang parsial

Parsial sederhana (pasien tetap sadar) Motor Sensorik Autonomik Psikik Parsial kompleks (kesadaran terganggu) Parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran Kesadaran terganggu saat awitan Kejang parsial dengan generalisasi sekunder II. Kejang umum

Absens Tipikal Atipikal


14

Kejang umum tonik-klonik Tonik Klonik Mioklonik Atonik Spasme infantil III. Kejang yang tidak dapat diklasifikasikan

Pemeriksaan fisis Pemeriksaan fisis, termasuk pemeriksaan neurologik lengkap, ditujukan terutama untuk menyingkirkan penyebab kejang lain dan mendiagnosa adanya sindrom epilepsi. Hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi keadaan umum, kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningeal, dan tanda peningkatan intrakranial. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium dilakukan sesuai kebutuhan atas dasar anamnesis dan pemeriksaan klinis, ditujukan untuk menyingkirkan adanya penyebab kejang ekstrakranial. Pemeriksaan yang dilakukan dapat meliputi darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum, dan BUN. Pemeriksaan kadar obat anti konvulsan mungkin diperlukan pada kecurigaan ketidakpatuhan pasien terhadap regimen pengobatan. Elektroensefalografi (EEG) mutlak diperlukan pada setiap kasus yang dicurigai sebagai epilepsi, EEG bermanfaat dalam menentukan jenis epilepsi dan prognosisnya Pungsi lumbal dilakukan bila dicurigai adanya infeksi susunan saraf pusat. Pemeriksaan pencitraan berupa CT scan atau MRI kepala dilakukan bila dicurigai adanya trauma kepala, lesi struktural otak, atau peningkatan tekanan intrakranial.

Tatalaksana Algoritme tatalaksana epilepsi dapat dilihat pada Gambar 1.

Medikamentosa

15

Jika pasien datang dalam keadaan kejang, penghentian kejang harus segera dilakukan tanpa menunggu anamnesis dan pemeriksaan fisis lengkap Bila diagnosis epilepsi telah ditegakkan, ditentukan regimen terapi antikonvulsan sesuai jenis epilepsi. Terapi anti konvulsan diberikan sampai pasien bebas kejang selama paling tidak 1-2 tahun atau sampai usia remaja.

Edukasi Edukasi mengenai penyakit dan pengobatannya, kepatuhan minum obat dan efek samping obat. Edukasi mengenai fungsi dalam kehidupan sehari-hari Pasien dapat beraktivitas normal seperti anak-anak lain seusianya, termasuk berolahraga Pada aktivitas fisik tertentu, seperti berenang, sebaiknya pasien ditemani orang lain. Aktivitas fisik yang ekstrim, kurang tidur, stres psikis sebaiknya dihindari termasuk

Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kepatuhan minum obat, respons terhadap obat, dan timbulnya efek samping obat (bila perlu dilakukan pemeriksaan darah tepi dan fungsi hati). Juga perlu dilakukan evaluasi neurologik ulang secara berkala. Daftar Pustaka 1. Johnson MV. Seizures in childhood. Dalam; Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson textbook of pediatrics, 17th edition. Philadelphia : WB saunders, 2004. 2. Passat J. Epidemiologi epilepsi. Dalam: Soetomenggolo TS, Ismael s, penyunting, Buku ajar neurologi anak edisi ke-2 Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2000. 3. Moe PG, Seay AR. Neurologic and muscular disorders. Dalam; Hay WW, Hayward AR, Levin MJ, Sondheimer JM, penyunting. Current pediatric diagnosis and treatment, 26th edition. New York; Large Medical Book/McGraw Hill,2003. 4. Lumbantobing SM, Etiologi dan faal sakitan epilepsi. Dalam: Soetomenggolo TS, Ismael S, penyunting. Buku ajar neurologi anak, edisi ke-2. Jakarta: Badan penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2000.

16

5. Cavazos JE, Lum F Spitz M. Seizures and epilepsy: overview and classification. Ditunduh dari: http://www.emedicine.com/neuro/topic415.htm. diakses pada 10 april 2006

17