Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan keanekaragaman hayati termasuk tanaman obat. Tanaman obat telah digunakan sejak dahulu secara turun temurun untuk mencegah, menyembuhkan serta memelihara kesehatan. Dewasa ini penggunaan obat tradisional sebagai alternatif pengobatan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan kecenderungan masyarakat menerapkan gaya hidup back to nature atau kembali ke alam serta ditunjang oleh efek samping obat tradisional yang relatif kecil dan harganya dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Selain itu, pemanfaatan bahan alam yang digunakan sebagai obat jarang menimbulkan efek samping yang merugikan dibandingkan obat yang terbuat dari bahan sintesis. Menurut Aryanti et al (2005) banyak obat-obatan medik berasal dari tanaman, namun masih banyak dalam bentuk yang sederhana berasal dari bahan bakunya atau merupakan bahan aktif dari suatu ekstrak tanaman. Pengobatan secara tradisional sebagian besar ramuan dari tumbuh-tumbuhan baik berupa akar, kulit batang, kayu, daun, bunga atau bijinya. Pengobatan secara tradisional dapat dipertanggung jawabkan apabila setelah dilakukan penelitian ilmiah, seperti penelitian dibidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan. (Darwis, D, 2000). Tanaman sirih sudah lama dikenal sebagai tanaman obat dan banyak tumbuh di Indonesia. Bagian dari tanaman sirih yang dimanfaatkan sebagai obat adalah daunnya. Secara tradisional, sirih digunakan dalam dunia kedokteran gigi sebagai obat sariawan, mengontrol halitosis, pengendalian karies, menghentikan pendarahan

digusi, penyakit periodontal. Daun sirih hijau bersifat antibakteri karena mengandung Minyak atsiri yang terdiri dari 30% fenol dan beberapa derivatnya diantaranya: hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metieugenol, metanol, alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroida, saponin, karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan dan tanin. Zat tersebut terbukti mampu melawan bakteri gram positif dan gram negatif. Penelitian Fathilah menyatakan bahwa ekstrak daun sirih hijau menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap bakteri streptococcus mitis, streptococcus sanguis, streptococcus mutans dan actinomyces viscosus, serta beberapa koloni awal dari plak gigi. Afrilla, M, (2011), dalam Dhika, T. S, (2007). Berdasarkan acuan dari penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa kandungan dari daun sirih hijau memiliki zat antibakteri yang mampu melawan bakteri gram positif dan gram negatif, maka penulis tertarik untuk mempelajari senyawa aktif yang terkandung dalam daun sirih. B. Perumusan Masalah Apakah terdapat kandungansenyawa kimia fenol, tanin dan flavonoid pada daun sirih hijau (Piper betle linn) secara kualitatif? C. Tujuan 1. Tujuan Umum Membuktikan adanya senyawa kimia fenol, tanin dan flavonoid pada daun sirih hijau (Piper betle linn)? 2. Tujuan Khusus a. Membuktikan adanya senyawa kimia fenol pada daun sirih hijau (Piper betle linn) secara kualitatif? b. Membuktikan adanya senyawa kimia tanin (Piper betle linn) secara kualitatif? pada daun sirih hijau

c. Membuktikan adanya senyawa kimia flavonoid pada daun sirih hijau (Piper betle linn) secara kualitatif?

D. Manfaat 1. Manfaat Teoritis Memperoleh informasi ilmiah mengenai identifikasi senyawa aktif dalam ektrak daun sirih hijau (Piper betle linn) 2. Manfaat Praktis Memberikan pengetahuan sebagai dasar penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan daun sirih hiajau (Piper betle linn) sebagai obat tradisional dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pengembangan ilmu kedokteran gigi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman sirih (Piper betle linn) 1. Sistematika tanaman sirih (Piper betle linn) menurut Wardani (2009) : Kingdom Divisi Sub-divisi Kelas Sub-kelas Ordo Familia : Plantae : Spematophyta : angiospermae : dicotyledoneae : monochlamydae : Piperales : Piperaceae

Genus Spesies

: Piper : Piper betle linn

2. Deskripsi tanaman sirih (Piper betle linn) Sirih merupakan salah satu tanaman herbal, bau aromatiknya khas, rasanya pedas. Tinggi tanaman ini mencapai 2-4 meter, batang tanaman berbentuk bulat dan lunak serta beruas-ruas dan memiliki warna hijau abuabu. Sirih memiliki daun tunggal dan letaknya berseling dengan bentuk bervariasi mulai dari bundar sampai oval, ujung daun runcing, pangkal daun berbentuk jantung atau agak bundar simetris. Daun sirih memiliki warna bervariasi yaitu kuning, hijau sampai hijau tua dan berbau aromatis. Afrilla, 2011; Dhika, 2007.

3. Klasifikasi daun sirih (Piper betle linn) a. Daun Sirih Banda Daun sirih banda berdaun besar, berwarna hijau tua dan kuning dibeberapa bagian, memiliki rasa dan aroma yang sengak. b. Daun Sirih Cengkeh

Daun

sirih

cengkeh

berwarna

kuning,

rasanya

tajam

menyerupai cengkeh. c. Daun Sirih Hitam Daun sirih hitam rasanya sengak, biasanya digunakan untuk campuran obat. d. Daun Sirih Jawa Daun sirih jawa berwarna hijau tua dan rasanya tidak begitu tajam. Daun sirih ini merupakan jenisyang sering digunakan masyarakat untuk menyirih. e. Ekologi dan penyebaran Sirih ditemukan dibagian timur pantai Afrika, disekitar pulau Zanzibar, daerah sekitar sungai Indus ke timur menelusuri sungai Yang Tse Kiang, kepulauan Bonin, kepulauan Fiji dan kepulauan Indonesia. Sirih tersebar di Nusantara dalam skala yang tidak terlalu luas. Di Jawa tumbuh liar di hutan jati atau hutan hujan sampai ketinggian 300m diatas permukaan laut. Untuk memperoleh pertumbuhan yang baik diperlukan tanah yang kaya akan humus, subur dan pengairan yang baik (Materia Medika Indonesia, 1980). 4. Kandungan daun sirih (Piper betle linn) Minyak atsiri dari daun sirih mengandung 30% fenol dan beberapa derivatnya diantaranya: hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metieugenol, metanol, alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroida, saponin, karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan dan tanin. Komposisi kimia daun sirih hijau dalam 100 gram bahan segar, ditunjukan pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Komposisi kimia daun sirih dalam 100 gram bahan segar Komponen kimia Kadar air Protein Lemak Karbohidrat Serat Bahan mineral Kalsium Fosfor Besi Besi ion Karoten (dalam bentuk vitamin A) Tiamin Riboflavin Asam nikotinat Vitamin C Yodium Kalium nitrit Kanji Gula non reduksi Gula reduksi Sumber : Darwis, 1992 Jumlah 85,14% 3,1% 0,8% 6,1% 2,3% 2,3% 230,0 mg 40,0 mg 7,0 mg 3,5 mg 96000,0 Iu 70,0 mg 30,0 mg 0,7 mg 5,0 mg 3,4 mg 0,26-0,42 mg 1,0-1,2% 0,6-2,5% 1,4-3,2%

Senyawa aktif dalam Daun Sirih : a. Senyawa fenol Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan yang umumnya ditemukan di dalam vakuola sel, mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil (Hardborne, 1987). Salah satu golongan terbesar fenol adalah flavonoid, lignin, melanin, dan tanin. Dalam dunia medis, senyawa fenol yang dikenal sebagai zat antiseptik dapat membunuh sejumlah bakteri (bakterisid). Sifat senyawa fenol yaitu mudah larut dalam air, cepat membentuk komplek
7

dengan protein dan sangat peka pada oksidasi enzim. Fenol memilki peran sebagai toksin dalam protoplasma, merusak dan menembus dinding serta mengendapkan protein sel bakteri. Senyawa fenolik bermolekul besar mampu menginaktifkan enzim essensial didalam sel bakteri meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah. Fenol dapat menyebabkan kerusakan pada sel bakteri, denaturasi protein, menginaktifkan enzim dan menyebabkan kebocoran sel (Yunilawati, R, 2002). b. Senyawa Tanin Tanin merupakan zat organik yang sangat komplek dan terdiri dari senyawa fenolik. Tanin terdapat secara meluas dalam dunia tumbuh-tumbuhan, antara lain terdapat pada bagian kulit kayu, batang, daun dan buah-buahan. Selain flavonoid, golongan bahan alam lain yang memberikan rasa kesat dan pahit dalam tanaman dan makanan adalah senyawa tanin. Golongan ini terdiri atas senyawa polifenol larut air, yang dapat memiliki bobot molekul tinggi. Secara garis besar, tanin terbagi menjadi dua golongan antara lain: tanin dapat terhidrolisis yang terbentuk dari esterifikasi gula (misalnya glukosa) dengan asam fenolat sederhana yang merupakan tanin turunan sikimat (misalnya asam galat), dan tidak dapat terhidrolisis yang kadang disebut tanin terkondensasi, yang berasal dari reaksi polimerisasi (kondensasi) antar flavonoid. Sesuai dengan namanya, tanin yang dapat terhidrolisis dapat dihidrolisis oleh basa untuk membentuk asam sederhana dan gula. Pada industri farmasi tanin digunakan sebagai antiseptik pada jaringan luka, misalnya luka bakar yaitu dengan cara mengendapkan protein. Selain itu, tanin digunakan untuk campuran obat cacing dan antikanker (Harborne, 1987). c. Senyawa flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang tersebar luas pada tumbuhan hijau dan mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Pada umumnya senyawa flavonoid dalam tumbuhan terikat dengan gula sehingga disebut sebagai glikosida atau aglikon flavonoida yang mungkin saja terdapat pada satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida. Olehkarena itu, dalam menganalisis flavonoid biasanya lebih baik memeriksa aglikon yang telah dihidrolisis dibandingkan dalam bentuk glukosida dengan kerumitan strukturnya. Flavonoid berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi (Harborne, 1987). 5. Manfaat dan kegunaan daun sirih (Piper betle linn) Penggunaan daun sirih secara tradisional biasanya dilakukan dengan cara merebus daun sirih kemudian air rebusan digunakan untuk kumur atau membersihkan bagian tubuh lain, atau daun sirih dilumatkan kemudian ditempelkan pada luka. Senyawa fenol yang terkandung dalam minyak atsiri dalam daun sirih bersifat bakterisid. Penelitian Fathilah menyatakan bahwa ekstrak daun sirih hijau menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap bakteri streptococcus mitis, streptococcus sanguis, streptococcus mutans dan actinomyces viscosus, serta beberapa koloni awal dari plak gigi Afrilla, 2011; Dhika, 2007. Senyawa fenol berinteraksi dengan dinding sel mikroorganisme akan terjadi denaturasi protein dan meningkatkan permeabilitas mikroorganisme. Hasil interaksi antar mikroorganisme dapat mengakibatkan perubahan keseimbangan muatan dalam molekul protein, sehingga terjadi perubahan struktur protein dan menyebabkan terjadinya koagulasi. Protein yang mengalami denaturasi dan
9

koagulasi akan kehilangan aktivitas fisiologis sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Perubahan struktur protein pada dinding sel bakteri akan meningkatkan permeabilitas sel sehingga pertumbuhan sel akan terhambat dan sel menjadi rusak. Metanol memiliki kemampuan antimikroba terhadap bakteri gram positif dan negatif. Senyawa kariofilen bersifat antiseptik dan anestesi lokal, sedangkan senyawa eugenol bersifat analgesik topikal dan antiseptik. Daun sirih memiliki kemampuan untuk mencegah proses

terjadinya plak dengan cara : mengurangi kemampuan pelikel yang terbentuk pada permukaan gigi untuk mengikat bakteri sehingga fase awal pembentukan plak tidak terjadi, mengurangi sifat hidrofobik permukaan sel bakteri yang sangat penting dalam proses perlekatan bakteri. Menurut Nalina dan Rahim (2006) ekstrak daun sirih dapat menghambat aktifitas glucosyltransferase (GTF) yang dibutuhkan untuk pembentukan glukan bagi bakteri streptococcus mutans yang menyebabkan karies gigi. Fathilah dan Rahim (2003) melaporkan bahwa konsentrasi minimal sirih untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Minimal Inhibitory Concentration) yaitu 0,216-0,469 gr/100 ml dan konsentrasi minimal sirih untuk bias membunuh bakteri (Minimal Bacterisidal Concentration) yaitu 0,521-1,042 gr/100ml (Pratiwi, I, 2009). Menurut Yunilawati (2002) tanaman sirih secara tradisional dapat digunakan sebagai obat sariawan, halitosis, abses, mengobati sakit gigi, sakit tenggorokan, obat batuk, obat cuci mata, obat keputihan, pendarahan pada hidung, mempercepat penyembuhan luka.

10

B. Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum melalui proses pengolahan, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia yang diperoleh dapat berupa rajangan atau serbuk. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia dari tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan (mineral) adalah simplisia yang berupa bahan pelikan (mineral) yang diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. (Anonim, 1995).

C. Ekstraksi Ekstraksi adalah teknik pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang saling bercampur. Tujuan pembuatan sediaan ekstrak agar zat yang berkasiat yang terdapat pada simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya

11

(Anonim,

1995).

Proses

pemisahan

senyawa

dalam

simplisia,

menggunakan pelarut tertentu sesuai dengan sifat senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan pelarut berdasarkan kaidah like dissolved like artinya suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan zat yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar (khopkar, 2003). Faktor yang paling menentukan berhasilnya proses ektraksi adalah mutu dari pelarut yang digunakan. Pelarut yang ideal harus memiliki syarat sebgai berikut (Guether, 2006): a. Dapat melarutkan senyawa dengan cepat dan sempurna b. Memiliki titik didih yang cukup rendah agar pelarut dapat mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi, tetapi titik pelarut tidak boleh terlalu rendah karena akan mengakibatkan hilangnya sebagian pelarut akibat penguapan. c. Bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan senyawa yang diekstrak. d. Memiliki titik didih yang seragam dan jika diuapkan tidak akan tertinngal dalam residunya. e. Harganya harus serendah mungkin dan tidak mudah terbakar.

Pemilihan pelarut untuk ekstraksi harus mempertimbangkan beberapa faktor. Pelarut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: murah, mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Ahmad, 2006). Ekstraksi dapat dilakukan beberapa macam metode, tergantung dari tujuan ekstraksi, jenis pelarut yang digunakan dan senyawa yang diinginkan. Metode ektraksi yang sederhana adalah maserasi (Noerono
12

dalam Pratiwi, 2009). Metode masserasi digolongkan menjadi 2 berdasarkan cara kerjanya, yaitu cara pendinginan, dan cara pemanasan (Darwis, 2000 ; Sofia, 2006). a. Cara Pendinginan 1) Maserasi Maserasi adalah perendaman bahan alam yang telah

dikeringkan (simplisia) dalam suatu pelarut. Maserasi digunakan untuk ekstraksi simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan pelarut, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan pelarut dan tidak mengandung benzoin. Metode ini dapat menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak, serta terhindar dari perubahan kimia senyawa-senyawa tertentu karena pemanasan. Pelarut yang dpat digunakan berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut lain. Metode ini mempunyai keuntungan dan kerugian dalam beberapa hal. Keuntungan cara ekstraksi ini adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana. Kerugian cara ekstraksi ini adalah proses pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama dan hasil ekstraksi kurang sempurna (Ahmad, 2006). 2) Perlokasi Perlokasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip perlokasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawah diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dari sel-sel yang dilalui. Alat yang digunakan untuk perlokasi disebut percolator. Bentuk perlokator ada

13

tiga macam yaitu percolator berbentuk tabung, perlokator berbentuk paruh dan perlokator berbentuk corong.

b.

Cara Pemanasan 1) Refluks Metode refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut pada titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. 2) Soxhletasi Metode ekstraksi menggunakan alat soxhlet merupakan penyarian secara berkesinambungan dengan menggunakan pelarut yang murni. Keuntungan metode ini yaitu caian penyari yang diperlukan lebih sedikit, secara langsung diperoleh hasil yang lebih pekat, serbuk simplisia disari oleh cairan penyari yang murni, penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan tanpa menambah volume cairan penyari. Namun kerugian dari metode ini yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengekstraksi cukup lama sampai beberapa jam sehingga kebutuhan energinya (listrik,gas) tinggi, cairan penyari dipanaskan terus menerus sehingga kurang cocok untuk zat aktif yang tidak tahan panas, cairan yang digunakan harus murni. 3) Digesti Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar, yaitu umumnya pada suhu 40-50o C.

14

4) Infus Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperature, penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98o C selama waktu tertentu (15-20 menit). 5) Dekok Dekok adalah infus pada waktu lebih lama (kurang lebih 30 menit) dan temperatur hingga titik didih air. D. Rendemen Rendemen adalah perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal. (Depkes RI, 2000). Perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal dapat dihitung dengan rumus: Perhitungan rendemen (%) = Bobot ekstrak x 100% Bobot simplisia

E. Skrining fitokimia Skrining fitokima adalah pemeriksaan kimia secara kualitatif terhadap senyawa-senyawa aktif biologis yang terdapat dalam simplisia tumbuhan. Senyawa-senyawa tersebut adalah senyawa organik seperti : alkaloid, glikosida, flavonoid, terpenoid, tanin dan lain-lain. Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada
15

tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Dalam pengujian fitokimia menggunakan pereaksipereaksi yang dapat memberikan warna pada sampel yang dianalisis. Pemeriksaan fitokimia teknik skrining dapat membantu langkah-langkah fitofarmakologi yaitu melalui seleksi awal dari pemeriksaan tumbuhan tersebut untuk membuktikan ada tidaknya senyawa kimia tertentu dalam tumbuhan tersebut dapat dikaitkan dengan aktifitas biologinya (Farnsworth, 1996).

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Jenis penelitian Jenis penelitian ini dilakukan secara eksperimen laboratorium.


16

B. Lokasi Penelitian 1. Determinasi daun sirih dilakukan di Laboratorium Taksonomi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. 2. Ekstraksi dan identifikasi di Laboratorium Jurusan Farmasi FKIK, jalan Dr. Soeparno komplek FKIK Universitas Jenderal Soedirman.

C. Waktu Penelitian Kegiatan Praktik Belajar Lapangan dilaksanakan pada tanggal 28 oktober sampai tanggal 04 nopember 2011.

D. Sampel Penelitian Bahan yang diuji dalam kegiatan magang ini adalah daun sirih yang dibeli dari pasar tradisional, kemudian dibuat ekstrak etanol 96% dan diidentifikasi senyawa fenol, tanin, pereaksi warna. flavonoid secara kualitatif dengan menggunakan

E. Bahan dan Alat 1. Bahan

17

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah daun sirih (Piper betle linn), akuades, larutan FeCl3, larutan HCl 2N, serbuk Mg, etanol 96%, kertas saring. 2. Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah erlenmeyer, water bath, pelat tetes (droble plat), pipet tetes, gelas beker, alumunium foil, batang pengaduk, corong Buchner, oven, gelas ukur, cawan porselen, timbangan, blender, pisau, karet.

F. Ringkasan Jalannya Penelitian


Daun Sirih Hijau

Simplisia Serbuk Daun Sirih Hijau

Determinasi Penyortiran Pencucian Pengeringan Penghalusan (penggilingan)

Simplisia Serbuk Daun Sirih Hijau

Ekstrak kental DaunSirih Hijau

maserasi dengan pelarut etanol 96% 1X24 jam penyaringan evaporasi

Ekstrak kental Daun Sirih Hijau Ekstrak kental Daun Identifikasi Senyawa Sirih Hijau Fenol, Flavonoid, tanin Identifikasi Senyawa Fenol, Flavonoid, tanin 18

Identifikasi Senyawa Fenol, Flavonoid, tanin

G. Cara kerja 1. Determinasi Tumbuhan Sirih (Piper betle linn) Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Taksonomi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. 2. Preparasi Serbuk Simplisia Bahan berupa daun sirih diperoleh dari Pasar Wage, Purwokerto. Daun sirih kemudian disortasi yaitu dipilih daun diantara tengah-tengah cabang. Daun sirih sebanyak kg dicuci dengan air mengalir, dikeringkan di dalam oven pada suhu 700C dan dihaluskan menjadi serbuk dengan cara diblender sehingga didapat serbuk simplisia kering, penyerbukan ini bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan simplisia sehingga proses ekstraksi akan berjalan baik. Penyarian akan bertambah baik apabila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan cairan penyari akan makin luas. Penyerbukan tidak boleh terlalu kasar karena akan mengakibatkan penyarian yang tidak sempurna akibat tebalnya lapisan batas antara penyari dan zat aktif sehingga zat aktif tidak ikut terektraksi. Penyerbukan juga tidak boleh terlalu halus karena dinding sel akan pecah dan zat yang tidak terlarut akan keluar dan membentuk suspensi sehingga mempersulit pemisahan pada saat penyaringan (Anonim,1986).

19

2. Pembuatan Ekstrak Serbuk daun sirih dimasukkan kedalam tabung 1 dan tabung 2 masingmasing 30 gr dimaserasi 1x24 jam menggunakan pelarut alkohol 96% sebanyak 150 ml setiap 1 tabung dan dilakukan pengadukan sampai homogen dengan menggunakan batang pengaduk lalu ditutup rapat menggunakan alumunium foil. Pemilihan metode maserasi bertujuan mengurangi resiko rusaknya ekstrak karena pemanasan yang terlalu lama. Etanol akan menembus dinding sel dan masuk ke rongga sel yang mengandung zat aktif. Ekstrak akan larut karena ada perbedaan kadar ekstrak antara larutan di dalam dan di luar sel. Zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam dan di luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut terjadi secara berulang-ulang sehingga terjadi keseimbangan kadar antara larutan di dalam dan di luar sel. Setelah 24 jam, dilakukan filtrasi menggunakan corong Buchner dan kertas saring lalu didapat filtrat. Hasil filtrat yang diperoleh dievaporasi pada suhu 40 0C sampai bebas pelarut dan untuk mengkentalkan hasil evaporasi dilakukan pemanasan di atas penangas air (water bath) untuk mendapatkan ekstrak kental etanol daun sirih yang homogen (anonim, 1986). 3. Perhitungan rendemen Perhitungan rendemen (%) = Bobot ekstrak x 100% Bobot simplisia = 1,5 gr x 100% 60 gr = 2,5 % 4. Uji kualitatif preaksi warna (Harborne, 1987)
20

a. Senyawa fenol Ekstrak yang diperoleh diambil sebanyak satu tetes, diteteskan pada pelat tetes kemudian ditambah satu tetes FeCl3 dan diamati perubahan warna yang terjadi. Uji ini akan positif terhadap senyawa fenolik apabila terbentuk warna merah, biru, hijau, ungu atau hitam kuat. b. Senyawa tanin Ekstrak yang diperoleh diambil sebanyak satu tetes, diteteskan pada pelat tetes kemudian dilarutkan dalam satu tetes aquades. Filtrat yang diperoleh ditambah dengan tiga tetes FeCl3 dan diamati perubahan warna yang terjadi. Uji ini akan positif terhadap senyawa tanin apabila terbentuk warna biru kehitaman atau hijau kehitaman. c. Senyawa flavonoid Ekstrak yang diperoleh diambil sebanyak satu tetes, diteteskan pada pelat tetes kemudian ditambah dengan serbuk Mg sebanyak dua sendok kecil dan 4-5 tetes asam klorida pekat. Terbentuknya warna oranye hingga merah menunjukkan adanya senyawa aglikon Flavonoid.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Hasil
21

1. Determinasi tumbuhan sirih (Piper betle linn) Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Taksonomi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Hasil determinasi menyebutkan bahwa tumbuhan yang digunakan adalah Piper betle linn, berasal dari famili Piperaceae. 2. Hasil simplisia Berat basah daun sirih Simplisia kering Serbuk simplisia 3. Hasil ekstrak 500 gram 100 gram 100 gram

Perhitungan rendemen (%) = Bobot ekstrak x 100% Bobot simplisia = 1,5 gr x 100% 60 gr = 2,5 %

4. Identifikasi senyawa fenol, tanin, flavonoid. Tabel 4.1. Hasil identifikasi golongan senyawa ekstrak etanol 96% daun sirih hijau (Piper betle linn). No. 1. 2. 3. Golongan Senyawa Fenol Tanin Flavonoid FeCl3 FeCl3+ akuades Serbuk Mg+HCL2N Pereaksi Hasil (+) (+) (+)

22

BAB V PEMBAHASAN 1. Determinasi tumbuhan sirih (Piper betle linn) Determinasi tanaman dilakukan dengan tujuan untuk memastikan kebenaran dari tanaman yang digunakan serta menghindari kesalahan dalam pemilihan tanaman yang digunakan dalam penelitian. Daun sirih (Piper betle linn) diperoleh dari Pasar Wage Purwokerto. Determinasi tanaman sirih dilakukan dengan cara mencocokkan ciri-ciri morfologi yang ada pada tanaman sirih terhadap kepustakaan dan dibuktikan di Laboratorium Taksonomi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Hal ini sesuai dengan (Simpson,1953) bahwa daun sirih memiliki bau aromatik yang khas dan rasanya pedas. Tanaman ini tumbuh merambat dan menjalar, tingginya mencapai 2-4 meter, batang tanaman berbentuk bulat dan lunak serta beruas-ruas dan memiliki warna hijau abu-abu. Sirih memiliki daun tunggal dan letaknya berseling dengan bentuk bervariasi mulai dari bundar sampai oval, ujung daun runcing, pangkal daun berbentuk jantung atau agak
23

bundar simetris. Hasil determinasi menyebutkan bahwa tumbuhan yang digunakan adalah Piper betle linn, berasal dari famili Piperaceae.

2. Tahap simplisia a. Pengeringan Hasil tanaman obat untuk dibuat simplisia umumnya perlu dikeringkan, tujuannya adalah untuk mengurangi kadar air, untuk menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur, serta mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu. Dalam pengeringan yang penting adalah suhu, kelembaban dan aliran udara (ventilasi). Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40-600C. Pengeringan menggunakan bahan sinar dapat dilakukan ataupun secara secara tradisional modern dengan dengan matahari

menggunakan alat pengering seperti oven, rak pengering, blower, ataupun dengan fresh dryer.Agar dalam pengeringan tidak terjadi proses pembusukan, hendaknya simplisia tidak tertumpuk terlalu tebal sehingga proses penguapan berlangsung dengan cepat. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif , sehingga mutunya dapat
24

menurun. Namun suhu yang tidak terlalu tinggi dapat menyebabkan warna simplisia menjadi lebih menarik. Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzimatis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Cirri-ciri waktu pengeringan sudah berakhir apabila daun sudah dapat dipatahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air 80-10%. Dengan jumlah kadar air tersebut, kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan maupun waktu penyimpanan. b. Pengawetan Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga, cemaran atau mikroba dengan pemberian bahan atau penggunaan cara yang sesuai sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan kesehatan. c. Wadah Wadah yang digunakan untuk menyimpan bahan simplisia harus tertutup baik itu harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan distribusi. d. Suhu penyimpanan Suhu yang digunakan untuk tanaman yang mengandung minyak atsiri atau komponen lain yang termolabil, dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi melainkan sesuai suhu ruangan. e. Tanda dan penyimpanan Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang medali berwarna merah diatas putih dan harus disimpan dalam lemari terkunci. Semua simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang
25

termasuk daftar narkotika, diberi tanda tengkorak dan harus disimpan dalam lemari terkunci. f. Kemurnian simplisia Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloid, glikosida, atau zat aktif lain tidak harus memenuhi persyaratan tersebut (DEPKES RI,1979). 3. Ekstrak Ekstraksi adalah teknik pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang saling bercampur. Tujuan pembuatan sediaan ekstrak agar zat yang berkasiat yang terdapat pada simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya (Anonim, 1995). Proses pemisahan senyawa dalam simplisia, menggunakan pelarut tertentu sesuai dengan sifat senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan pelarut berdasarkan kaidah like dissolved like artinya suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan zat yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar (khopkar, 2003). Pemilihan pelarut untuk ekstraksi harus mempertimbangkan beberapa faktor. Pelarut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: murah, mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Ahmad, 2006). Pelarut yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan tingkat kepolarannya, yaitu : etanol. Penggunaan etanol untuk mengekstrak komponen aktif dari daun sirih yang
26

bersifat polar. Disamping itu, etanol juga melarutkan asam lemak rantai panjang maupun minyak atsiri. Pelarut etanol merupakan pelarut yang universal, sehingga senyawa-senyawa yang bersifat polar banyak yang ikut tertarik dari ekstrak (Kusmayati dan Agustini, 2007). Metode ektraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik maserasi. Maserasi adalah perendaman bahan alam yang telah dikeringkan (simplisia) dalam suatu pelarut. Tujuan Maserasi untuk ekstraksi simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan pelarut, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan pelarut dan tidak mengandung benzoin.Metode ini dipilih karena memiliki keuntungan yaitu cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana serta dapat menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak,dan terhindar dari perubahan kimia senyawa-senyawa tertentu karena pemanasan (Ahmad, 2006). 4. Identifikasi senyawa fenol, tanin, flavonoid a. Identifikasi senyawa fenol Hasil dari identifikasi senyawa fenol pada ekstrak etanol 96% daun sirih dengan menggunakan pereaksi FeCl3 menghasilkan warna hitam pekat. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ada warna hitam yang terdapat pada daun sirih dengan pelarut FeCl3, hal ini sesuai dengan penelitian Harborne (1987), bahwa uji positif terhadap senyawa fenolik dapat dilakukan dengan cara menetesi ekstrak dengan larutan FeCl 3 sehingga menghasilkan warna merah, biru, hijau ungu atau hitam kuat. Adanya perbedaan warna membuktikan bahwa senyawa fenol yang terkandung dalam ekstrak daun sirih apabila dilarutkan dengan pelarut berbeda maka akan menghasilkan warna yang berbeda. Menurut Suradikusumah (1989) perbedaan senyawa ini disebabkan oleh perbedaan jumlah gugus hidroksil yang terikat pada cincin aromatiknya.
27

Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna hitam pekat bahwa adanya senyawa fenol yang terkandung dari ekstrak daun sirih. Hal tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nuri, 1996) dengan judul penelitian Aktivitas Antioksidan dari Daun Sirih (Piper betle linn). Mekanisme kerja fenol dalam mempengaruhi fungsi sel dengan cara mendenaturasi protein sel yang terdapat dalam dinding sel bakteri serta protein funsional (Volk and Wheeler, 1990). Menurut Lehninger (1998), pada denaturasi protein terjadi pemecahan ikatan disulfida dalam rantai polipeptida. Ikatan disulfida adalah ikatan yang menghubungkan salah satu bagian dari suatu rantai polipeptida dengan bagian lain pada rantai yang sama sehingga membentuk lipatan-lipatan pada rantai polipeptida. Pecahnya ikatan disulfida menyebabkan rantai polipeptida tidak dapat mempertahankan bentuk asalnya. Hal ini menyebabkan kerusakan pada dinding sel (Adisoemarto, 1988). b. Identifikasi senyawa Tanin Hasil dari identifikasi senyawa tanin pada ekstrak etanol 96% daun sirih dengan menggunakan pereaksi akuades dan FeCl3 menghasilkan biru kehitaman. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru kehitaman yang berasal dari senyawa kompleks FeCl 3 dengan tanin yang berarti menunjukkan bahwa senyawa tanin diduga terdapat dalam larutan yang diperiksa. Hal tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh (Siti, 2009) dengan judul penelitian Uji Aktivitas Anttibakteri Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans. Menurut makkar (1991) dalam safera (2005) menyatakan bahwa tanin berperan sebagai antibakteri, karena memiliki kemampuan
28

membentuk

senyawa

kompleks

dengan

protein

melalui

ikatan

hidrogen.mekanisme penghambatan pertumbuhan bakteri oleh tanin yaitu : bereaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, destruksi, atau inaktivasi fungsi dari material genetik. c. Identifikasi flavonoid Hasil dari identifikasi senyawa flavonoid pada ekstrak etanol 96% daun sirih dengan menggunakan pereaksi serbuk Mg dan HCL pekat menghasilkan warna jingga. Terbentuknya warna jingga menunjukkan adanya senyawa flavonoid. Hal tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nurul, 2009) dengan judul penelitian Uji Antibakteri efektivitas Ekstrak Kasar Daun Teh (Camelilia sinensis L, v. assamica) Tua Hasil Ekstraksi Menggunakan Pelarut Akuades dan Etanol. Terbentuknya warna merah atau jingga disebabkan karena terjadinya reduksi senyawa flavonoid oleh pereaksi Mg dan HCL pekat (Robinson, 1995). Menurut Depkes RI (1980) identifikasi senyawa flavonoid menggunakan pereaksi serbuk Mg dan HCL pekat, jika dalam waktu 2-5 menit menghasilkan warna merah atau jingga, menunjukan adanya flavonoid.

29

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Uji kualitatif untuk membuktikan adanya senyawa fenol dilakukan dengan menggunakan pereaksi FeCl3 menghasikan warna hitam pekat. 2. Uji kualitatif untuk membuktikan adanya senyawa fenol dilakukan dengan menggunakan pereaksi akuades dan FeCl3 menghasilkan warna biru kehitaman.

30

3. Uji kualitatif untuk membuktikan adanya senyawa fenol dilakukan dengan menggunakan pereaksi serbuk Mg dan HCL pekat menghasilkan warna jingga. Hasil positif yang diperoleh dari uji kualitatif, ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna. B. Saran Setelah dilakukan penelitian tentang ekstraksi dan identifikasi daun sirih dengan metode maserasi, maka disarankan ekstrak daun sirih ( Piper betle linn) dapat dijadikan bahan alternatif dalam pengobatan tradisional khususnya untuk kesehatan gigi dan mulut dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan adanya aktivitas antibakteri dari daun sirih (Piper betle linn).

http://www.scribd.com/doc/74247696/bono

31

32