Anda di halaman 1dari 15

Disusun oleh : 1. Roby Finata 2. ... 3. ... 4. ...

(1207220044P)

Fakultas Program Studi

: Teknik : Teknik Elektro

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA TAHUN AJARAN 2012/2013

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Harta Menurut Syariat Islam. Makalah ini berisikan informasi tentang kedudukan harta dalam syariat Islam. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Harta Menurut Syariat Islam. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin. Wassalamualaikum wr.wb

Medan, Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................... Daftar Isi .............................................................................................................. BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................. B. Tujuan ................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN A. Pengertian Harta ............................................................................... B. Pandangan Islam Mengenai Harta .................................................... 1. Harta pada Hakekatnya Hanya Milik Allah SWT ...................... 2. Status Harta Dalam Islam ........................................................... 3. Harta yang Halal ......................................................................... 4. Islam Melarang Melupakan Allah SWT Saat Mencari Harta .... 5. Dilarang Menempuh Usaha yang Haram ................................... 6. Dilarang Menimbun Harta ......................................................... C. Kepemilikan Harta Dalam Islam ......................................................

BAB III : PENUTUP Kesimpulan .............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Al-Quran menyebut kata al-mal (harta) tidak kurang dari 86 kali. Penyebutan berulang-ulang terhadap sesuatu di dalam al-Quran menunjukkan adanya perhatian khusus dan penting terhadap sesuatu itu. Harta merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya terutama di dalam Islam. Islam memandang keinginan manusia untuk memperoleh, memiliki, dan memanfaatkan harta sebagai sesuatu yang lazim, dan urgen. Harta diperoleh, dimiliki, dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik bersifat materi maupun non materi. Manusia berusaha sesuai dengan naluri dan kecenderungan untuk mendapatkan harta. Al-Quran memandang harta sebagai sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Khaliq-Nya, bukan tujuan utama yang dicari dalam kehidupan. Dengan keberadaan harta, manusia diharapkan memiliki sikap derma yang memperkokoh sifat kemanusiannya. Jika sikap derma ini berkembang, maka akan mengantarkan manusia kepada derajat yang mulia, baik di sisi Tuhan maupun terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, harta dalam perspektif Al-Quran sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam makalah ini baik dalam hubungannya kepada sang Khaliq, maupun kegunanaan harta yang kita dapat bagi sesama manusia.

B. Tujuan Penulis mengambil tema/masalah mengenai harta menurut syariat Islam dengan tujuan agar para pembaca dapat mengetahui bagimana kedudukan harta dalam Islam, dan juga guna memberikan informasi mengenai bagaimana mencari harta, memanfaatkan, secara menafkahkan harta kita sesuai ajaran Islam.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HARTA Secara etimologi pengetian harta adalah setiap sesuatu yang dimiliki oleh manusia. Adapun menurut Terminologi/Istilah harta adalah Segala sesuatu yang bernilai, yang bagi orang yang merusaknya, harus mempertanggung jawabkannya. Kemudian harta tersebut Ulama membaginya ke dalam 2 bagian, yaitu : 1. Harta Al-Mutaqawim Setiap sesuatu yang dapat dipelihara secara nyata dan menurut syara` membolehkan memanfaatkannya, seperti harta yang tidak bergerak dan yang bergerak (makanan dan yang sejenisnya).

2. Harta Ghair Mutaqawwim Setiap sesuatu yang tidak dapat dipelihara secara nyata atau tidak dapat dimanfaatkan secara syara seperti : burung di udara, barang tambang di dalam perut bumi.

B. PANDANGAN ISLAM MENGENAI HARTA Pandangan Islam mengenai harta dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Harta pada Hakekatnya Hanya Milik Allah SWT Kepemilikan oleh manusia bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Apabila manusia telah memperoleh harta dari hasil usahanya itu, maka harta tersebut tidak dalam bentuk pemilikan yang mutlak, karena yang memilikinya secara mutlak hanya Allah. Oleh karena itu manusia dalam menguasai dan memanfaatkan harta harus sesuai dengan yang diridhoi Allah.

QS. Al-Hadiid : 7

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar Yang dimaksud dengan menguasai di sini ialah penguasaan yang bukan secara mutlak. Hak milik pada hakikatnya adalah pada Allah. Manusia menafkahkan hartanya itu haruslah menurut hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah. Karena itu tidaklah boleh kikir dan boros.

2. Status Harta Dalam Islam Status harta yang dimiliki manusia adlah sebagai berikut : a. Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Dalam memiliki harta, manusia harus menggunakan harta tersebut sesuai dengan ajaran Islam, karena harta di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Dalam sebuah Hadits riwayat Abu Daud, Rasulullah bersabda: Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan b. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan QS. Ali Imran : 14

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Sebagai perhiasan hidup harta sering menyebabkan keangkuhan, kesombongan serta kebanggaan diri. QS. Al-Alaq : 6-7

6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, 7. karena dia melihat dirinya serba cukup. c. Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. QS. Al-Anfal : 28

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. d. Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksankan perintah-Nya dan

melaksanakan muamalah diantara sesama manusia, melalui zakat, infak, dan sedekah. QS. At-Taubah : 41

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

QS. Ali-Imran : 133-134

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

3. Harta yang Halal Di dalam Islam pemilikan harta dapat dilakukan melalui usaha (amal) atau mata pencaharian (Maisyah) yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Karena harta yang halal adalah harta yang baik bagi diri sendiri, maupun orang lain yang menerimanya. QS. Al-Baqarah : 267

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja. Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah yang halal untuk keluarganya maka sama dengan mujahid di jalan Allah (HR. Ahmad).

Mencari rezki yang halal adalah wajib setelah kewajiban yang lain(HR Thabrani) jika telah melakukan sholat subuh janganlah kalian tidur, maka kalian tidak akan sempat mencari rezki (HR. Thabrani).

4. Islam Melarang Melupakan Allah SWT Saat Mencari Harta Dalam mendapatkan harta, Islam melarang setiap umatnya untuk mencari harta, berusaha, atau bekerja yang melupakan Allah SWT, kematian, melupakan sholat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Artinya setiap umat Islam hendaklah selalu mengingat Allah SWT, apabila hendak mencari kekayaan di dunia ini, karena Allah lah yang memberikan rezeki kepada umatnya. Selain itu, jangan lupa pula untuk menafkahkan sebagian harta nya di jalan Allah SWT. QS. Al-Munaafiqun : 9

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. QS. An-Nuur : 37-38

37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya ALlah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. QS. Al-Hasyr : 7

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

5. Dilarang Menempuh Usaha yang Haram Islam melarang menempuh usaha yang haram demi mendapatkan harta, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, jual beli barang yang haram, mencuri merampok, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap. QS. Al-Baqarah : 275

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba(***), padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

(***) Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

QS. Al-Maidah : 90-91

90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

QS. Al-Baqarah : 188

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

6. Dilarang Menimbun Harta Islam melarang setiap orang menimbun harta yang dimilikinya, karena setiap harta yg kita miliki sebagiannya merupakan harta milik fakir miskin/orang-orang yang berhak menerima zakat dari harta kita tersebut. QS. At-Taubah : 34-35

34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orangorang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, 35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada

mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

Menimbun

harta

maksudnya

membekukannya,

menahannya,

dan

menjauhkannya dari peredaran. Penimbunan harta menimbulkan bahaya besar terhadap perekonomian dan terhadap moral. Bahaya dari penimbunan ini dapat menimbulkan hilangnya kesempatan kerja (identik dengan menimbulkan

pengangguran), dapat mengurangi pendapatan yang akhirnya akan mengurangi daya beli masyarakat, produksi dan permintaan menjadi menurun, dan akhirnya dapat menciptakan penurunan ekonomi dalam masyarakat.

C. KEPEMILIKAN HARTA DALAM ISLAM Di atas telah disinggung bahwa Pemilik Mutlak harta adalah Allah SWT. Penisbatan kepemilikan kepada Allah mengandung tujuan sebagai jaminan emosional agar harta diarahkan untuk kepentingan manusia yang selaras dengan tujuan penciptaan harta itu sendiri. Dalam hal ini, akan lebih kita tekankan mengenai kalimat : Harta Individu Adalah Harta umat Dengan ini Islam telah meletakkan untuk para pemeluk dasar-dasar kaidah yang adil tentang harta, yaitu: Pertama: harta individu adalah harta umat dengan menghargai pemilikan dan memelihara hak-hak. Kepada orang yang mempunyai banyak harta, Islam mewajibkan hakhak tertentu demi maslahat-maslahat umum;dan kepada orang yang memiliki harta sedikit mewajibkan pula hak-hak lain bagi orang-orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan. Islam juga memerintahkan supaya berbuat kebaikan dan kebajikan, serta mengeluarkan sedekah di setiap waktu. Dengan dasar ini, maka di dalam negara Islam tidak akan terdapat orang-orang yang kekurangan makan atau telanjang, baik muslim maupun bukan muslim, karena Islam telah mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk menghilangkan kesusahan orang yang terpaksa, sebagaimana mewajibkan di dalam harta mereka hak-hak bagi para fakir miskin. Setiap orang yang bermukim di negara mereka melihat,bahwa harta umat adalah hartanya: dan jika dia membutuhkan harta, maka dia mendapatkan seakan-akan harta itu

simpanannya. Islam telah meletakkan harta wajib dari harta orang-orang kaya berada di bawah kekuasaan jamaah yang berkuasa di antara umat, sehingga orang yang berpenyakitan di dalam hatinya tidak akan menghalangi harta itu. Islam memerintahkan dan membuat mereka senang mengeluarkan harta, mencela kebakhilan, dan mewakilkan hal itu kepada diri mereka,agar sifat-sifat kemurahan, kemanusiaan kasih sayang melekat kuat dalam jiwa mereka. Kedua: Islam tidak membolehkan orang-orang yang butuh untuk mengambil kebutuhannya dari para pemilik tanpa seizin mereka, agar pengangguran dan kemalasan tidak tersebar luas di antara individu-individu umat, tidak terdapat kekacauan di dalam harta, dan akhlak serta sopan santun tidak rusak. Apabila kaum Muslimin menegakkan panji-panji agama mereka dan mengamalkan syariatnya, niscaya mereka telah memberikan contoh teladan kepada manusia, dan mereka mengetahui dengan jelas bahwa Islam benar-benar syariat terbaik yang dikeluarkan demi kepentingan umat manusia: dan niscaya mereka telah membangun suatu peradaban yang benar di zaman sekarang yang akan diikuti oleh setiap orang yang menginginkan kebahagiaan masyarakat, dan tidak akan melatakkannya di bawah injakan kebutuhan dan kemiskinan, sebagaimana terjadi dewasa ini, di mana para pekerja dengan berbondong-bondong lari memburu para kapitalis. Janganlah kalian termasuk orang-orang tamak yang memakan harta orang lain tanpa ganti mata uang uang atau suatu manfaat. Tetapi makanlah harta itu dengan perniagaan yang pokok penghalalannya ialah saling meridhai. Itulah yang patut bagi orang-orang yang menjunjung tinggi kemanusian dan agama, apabila ingin termasuk ke dalam golongan orangorang yang banyak hartanya.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Secara etimologi pengetian harta adalah setiap sesuatu yang dimiliki oleh manusia. Adapun menurut Terminologi/Istilah harta adalah Segala sesuatu yang bernilai, yang bagi orang yang merusaknya, harus mempertanggung jawabkannya. Pandangan Islam Mengenai Harta, yaitu : 1. Harta pada Hakekatnya Hanya Milik Allah SWT 2. Status Harta Dalam Islam 3. Harta yang Halal 4. Islam Melarang Melupakan Allah SWT Saat Mencari Harta 5. Dilarang Menempuh Usaha yang Haram 6. Dilarang Menimbun Harta