Anda di halaman 1dari 22

Asuhan Keperawatan Gerontik Terkait Sistem Gastrointestinal dan Nutrisi A.

Pengertian Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat- zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Nutrisi adalah zat-zat gizi atau zat-zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuh serta mengeluarkan sisanya. B. Anatomi Penuaan dicirikan dengan kehilangan banyak sel tubuh dan penurunan metabolism di sel lainnya. Proses ini menyebabkan penurunan fungsi tubuh dan perubahan komposisi tubuh. Organ sistem pencernaan terdiri dari : 1. Mulut 2. Tenggorokan ( Faring) 3. Kerongkongan (Esofagus) Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: a. bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)

b. bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus) c. serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus). 4. Lambung Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu :Kardia, Fundus, dan Antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : a. Lendir Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. b. Asam klorida (HCl) Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. c. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein) 5. Usus halus (usus kecil) Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M sirkuler ), lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah Luar ) Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). 6. Usus Besar (Kolon) Usus besar terdiri dari : a. Kolon asendens (kanan) b. Kolon transversum c. Kolon desendens (kiri) d. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) 7. Usus Buntu (sekum) 8. Umbai Cacing (Appendix) 9. Rektum dan anus

10. Pankreas Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu : a. Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan b. Pulau pankreas, menghasilkan hormon contoh insulin. 11. Hati Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. 12. Kandung empedu Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu: a. Membantu pencernaan dan penyerapan lemak b. Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol. C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Pada Lansia 1. Berkurangnya 2. Berkurangnya kemampuan indera mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit. 3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. 4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. 5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. 6. Penyerapan makanan di usus menurun. D. Kebutuhan Nutrisi Pada Lansia 1. Kalori Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya. Bagi

lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia lakilaki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus. 2. Protein Pada lansia, masa ototnya berkurang, tetapi kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan. 3. Lemak Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh. 4. Karbohidrat Dan Serat Makanan Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat

(yang dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat. 5. Vitamin Dan Mineral Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan serat. 6. Air Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari. E. Proses Penuaan Normal pada Saluran Gastrointestinal Proses penuaan memberikan pengaruh pada setiap bagian dalam saluran gastrointestinal (GI). Namun, karena luasnya persoalan fisiologi pada sistem gastrointestinal, hanya sedikit masalah-masalah yang berkaitan dengan usia yang dilihat dalam kesehatan. Banyak masalah-masalah GI yang dihadapi oleh lansia lebih erat dihubungkan dengan gaya hidup mereka.

Perubahan Normal Terkait Usia

Implikasi Klinis

Rongga Mulut: Hilangnya tulang

periosteum Tanggalnya gigi Mempertahankan pelekatan gigi palsu yang pas Perubahan sensasi rasa: Peningkatan penggunakan garam

dan peridontal Retraksi dan struktur gusi Hilangnya kuncup rasa

Esofagus, lambung, usus : Dilatasi esofagus Kehilangan tonus sfingter Penurunan refleks muntah Penurunan motilitas lambung

Peningkatan risiko aspirasi

Penurunan absorpsi obat-obatan, zat besi, kalsium, vitamin B12

Tabel Perubahan-Perubahan Proses Penuaan Pada Sistem Gastrointestinal Yang Normal

Kehilangan gigi, penyebab utama adanya periodontal desease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun. Penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Pada Lansia keluahan-keluhan seperti kembung, perasaan tidak enak di perut dan sebagainya, seringkali disebabkan makanan yang kurang dicerna akibat berkurangnya fungsi kelenjar pencernaan. Juga dapat disebabkan karena berkurangnya toleransi terhadap makanan terutama yang mengandung lemak. Keluhan lain yang sering dijumpai adalah konstipasi, yang disebabkan karena kurangnya kadar selulosa, kurangnya nafsu makan bisa disebabkan karenanya banyaknya gigi yang sudah lepas. Dengan proses menua bisa terjadi gangguan motilits otot polos esophagus, bisa juga terjadi refluks disease (terjadi akibat refluks isi lambung ke esophagus), insiden ini mencapai puncak pada usia 60 70 tahun. Dan berikut gangguan sistem gastrointestinal pada lansia: 1. Gannguan pada Sistem Gastrointestinal Atas

a) Penyakit Periodontal Penyakit periondontal (gingivitis dan periodontitis) adalah inflamasi dari struktur yang menyokong gigi, dengan hasil akhir berupa kerusakan tulang. Kerusakan ini menyebabkan kehilangan secara progresif dan pada akhirnya terjadi kehilangan gigi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang terdapat di dalam plak. Tanda Gingivitis Gusi kemerahan dan gusi bengkak yang beerdarah ketika gosok gigi. Jika infeksi makin berkembang, bau napas tidak seap (halitosis), rasa tidak enak dalam mulut, atau rasa tidak enak di mulut, atau adanya eksudat purulen di sekitar garis gusi. b) Disfagia Disfagia atau kesulitan menelan dianggap sebagai konsekuensi normal akibat penuaan, penyebab struktural, vaskular atau neurogenik sekarang telah dikenal sebagai patologi yang mendasari. Gangguan menelan biasanya berpangkal pada daerah

presofagus tepatnya di daerah osofaring penyebabnya tersembunyi dalam system saraf sentral atau akibat gangguan neuromuskuler seperti jumlah ganglion yang menyusut sementara lapisan otot menebal dengan manometer akan tampak tanda perlambatan pengosongan usofagus. Selain itu, produksi saliva yang menurun dapat mempengaruhi proses perubahan kompleks krbohidrat menjadi disakarida. Fungsi ludah sebagai pelican makanan berkurang sehingga proses menelan menjadi sukar. c) Refluks Gastroesofagus Dan Hernia Hiatal Refluk Gastroesofagus merupakan aliran balik getah lambung masuk ke dalam esofagus. Dinding esofagus lebih tipis dan sensitif pada lansia.

Hernia Hiatal adalah masuknya lambung, dan organ-organ dalam abdomen lainya ke dalam rongga toraks melalui suatu pembesaran hiatus esofagus dalam diafragma. Namun, banyak pula lansia yang mengalami gejala refluks tanpa hernia hiatal.

2.

Gangguan-gangguan pada Usus Halus Penyakit Malabsorbsi Merupakan gangguan asimilasi nutrisi dari usus halus. Penurunan sekresi asam lambung dan penggunaan antasid pada waktu yang lama mendorong menyebabkan ke pertumbuhan bakteri lansia. secara berlebihan, dapa sering pula malabsorbsi pada Malabsorbsi

dihubungkan dengan operasi sebelumnya dikonsumsi seperti

atau obat-obatan yang

antikolinergik, dan narkotik yang memperlambat

motilitas usu kemudian meningkatkan pertumbuhan bakteri. Berat total usus halus berkurang diatas usia 40 tahun meskipun penyerapan zat gizi pada umumnya masih dalam batas normal, kecuali kalsium (diatas 60 tahun)dan zat besi. Manifestasi Klinik Malabsorbsi bukan akibat yang normal dari penuaan, walaupun masalah malabsorbsi dapat muncul pada lansia, sering dengan manifestasi lain yang menyertainya. Tanda dan gejala malabsorbsi sering terlihat dalam hubungan dengan gangguan inflamasi usus. Diare, nyeri abdomen, dan perdarahan rektum adalah gejala-gejala yang paling jelas. 3. Penyakit-penyakit pada Usus Besar Gangguan yang sering terjadi pada usus besar yang mempengaruhi lansia adalah divertikulosis, kanker, konstipasi dan diare. a) Penyakit Divertikular

Divertikulum kolonik adalah suatu kantong di luar atau herniasi melalui mukosa kolon. Biasanya terdapat penebalan dinding kolon yang jelas. Gangguan motilitas usus dianggap merupakan predisposisi pembentukan divertikula pada lansia. b) Obstruksi usus Obstruksi usus adalah penghentian sebagai atau keseluruhan dari majunya aliran isi usus, biasanya terjadi sebagai akibat dari penutupan lumen usus yang aktual. Obstruksi dapat disebabkan pula oleh tumor, penyakit usus iskemik dsb. c) Konstipasi Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi pergerakan usus yang disertai dengan perpanjangan waktu dan kesulitan pergerakan feses. Konstipasi adalah masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas dan penurunan kekuatan dan tonus otot. Banyak pula lansia yang mengalami ini akibat dari penurunan sensasi saraf, tidak sempurnanya pengososngan usus, atau kegagalan dalam menangani sinyal untuk defekasi. d) Diare Diare adalah defekasi yang meningkat dalam frekuensi, lebih cair, dan sulit untuk dikendalikan. Infeksi bakteri dan virus, impaksi fekal, pemberian makanan melalui slang, dan diet yang berlebihan dapat menyebabkan diare akut pada lansia. Diare dapat disebabkan oleh malabsorbsi, penyakit divertikular, gangguan inflamasi usus, atau obat-obatan, terutama antasid, antibiotik, antisidisritmia, antihipertensi dan penyakit sistemik lainya.

F. Masalah Gizi Pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang penghasilan Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi pada organ tubuh yang vital. Faktor penyebab malnutrisi pada lanjut usia: a) Penyakit akut dan kronis b) Keterbatas sumber/penghasilan c) Faktor psikologis d) Hilangnya gigi e) Kesalahan dalam pola makan f) Kurangnya energi untuk mempersiapkan makanan g) Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang tepat 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu

makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat. 4. Osteoporosis Kondisi dimana sering disebut tulang kropos yang disebabkan oleh penurunan densitas tulang akibat kurangnya konsumsi kalsium dalam jangka waktu yang lama. Mencapai maksimum pada usia 35 tahun pada wanita dan 45 tahun pada pria. 5. Anemia Kondisi dimana sel-sel darah mengandung tingkat haemoglobil yang tidak normal, kimia yang bertugas membawa oksigen di seluruh tubuh yang disebabkan kurang Fe, asam folat, B12 dan protein. Akibatnya akan cepat lelah, lesu, otot lemah, letih, pucat, kesemutan, sering pusing, mata berkunang-kunang, mengantuk, HB <8 gr/dL. 6. Kekurangan anti oksidan (Banyak dijumpai dalam buah-buahan dan sayuran) mampu menangkal efek merusak radikal bebas terhadap tubuh, sehingga konsumsi yang kurang dapat meningkatkan resiko berbagai penyakit akibat radikal bebas, seperti serangan jantung dan stroke, katarak, persendian hingga menurunnya penampilan fisik seperti kulit menjadi keriput. 7. Sulit buang air besar Ini karena pergerakan usus besar semakin lambat, makanan lambat diolah dalam tubuh. Akibatnya, buang air besar jadi jarang. 8. Kelebihan gula dan garam
o

Garam (natrium) dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada orangtua Makanan tinggi gula membuat tubuh mudah gemuk, meningkatkan kolesterol dan gula darah

Karena itu, sebaiknya kurangi konsumsi gula dan garam

G. Pemeriksaan penunjang

1. Sel darah lengkap (CBC) menghitung atau mencari tanda-tanda infeksi dan dehidrasi. Sebuah peningkatan tanda jumlah dan sel darah putih(15.000-20.000/mm3) adalah infeksi mungkin

menunjukan sumbatan atau perforasi usus. Peningkatan tingkat hematokrit dapat berarti dehidrasi. 2. Pemeriksaan elektrolit dan urinalisis untuk mengevaluasi ketidakseimbangan cairan elektrolit dan sepsis. 3. Kleatinin dan nitrogen urea darah (BUN), tingkat peningkatan kadar serum ini menunjukan bahwa kemungkinan pasien mengalami dehidrasi 4. Rongten abdomen, untuk menentukan lokasi pola dan jenisnya(mekanisme atau nonmechanical,sebagian atau seluruhnya) dari obstruksi. 5. Kolonoskopi untuk membantu dalam penilaian dan diagnosis dari obstruksi usus besar. 6. Tes fungsi hati 7. CT scan abdomen 8. USG.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan A. Pengkajian secara umum Pengkajian ini meliputi identitas klien, status kesehatan saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik sistem gastrointestinal, pola aktivitas sehari-hari, serta pengkajian pola psikososial dan spiritual. a. Status kesehatan saat ini : o status kesehatan secara umum o keluhan kesehatan saat ini o Pengetahuan, b. Riwayat kesehatan masa lalu: o penyakit masa kanak-kanak o penyakit kronik o Pernah mengalami trauma c. Pengkajian umum status gizi individu Pengkajian Status Gizi 1) Pengukuran antropometri, yaitu pengukuran tinggi badan (TB), dan berat badan (BB). 2) Menghitung indeks masa tubuh IMT = Kg BB / (TB)2 IMT < 18,5 18,5 24,9 25,0 29,9 30,0 34,9 35.0 39.9 >39,9 Kategori Berat badan kurang Berat badan normal Berat badan lebih Obesitas I Obesitas II Sangat obesitas pemahaman, dan penatalaksanaan masalah kesehatan

Pada Lansia terjadi pengurangan tinggi padan, hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain: Komponen cairan tubuh berkurang sehingga diskus

intervertebralis relatif kurang mengandung air sehingga menjadi lebih pipih Semakin tua cenderung semakin kifosis, sehingga tinggi dan tagak lurus tulang punggung berkurang Osteoporosis yang sering kali terjadi pada wanita lansia akan mudah mengakibatkan fraktur vertebra sehingga tinggi badan berkurang. Penurunan tinggi badan tersebut mempengaruhi hasil penghitungan IMT (Indeks Massa Tubuh). Oleh karena itu dianjurkan memakai ukuran tinggi lutut (knee hight). Tinggi lutut tidak akan berkurang kecuali terjadi fraktur tungkai bawah. Berikut rumusnya: TB pria : 59,01 + (0,28 x TL cm) TB wanita : 75,00 + (1,91 x TL cm) (0,17 x U)

3) Pengukuran Biochemical (Laboratorium) 4) Pengkajian secara umum status gizi induvidu: Area pengkajian Penampilan umum dan vitalitas Berat badan Tanda-tanda normal Gesit, energik, mampu beristirahat dengan baik Dalam rentang normal sesuai dengan usia dan tinggi badan Bercahaya, berminyak dan tidak kering Tanda-tanda abnormal Apatis, lesu, tampak lelah Obesitas, underweight

Rambut

Kusam, kering, pudar, kemerahan, tipis, pecah/

patah-patah Kulit Lembut, sedikit lembab, turgor kulit baik Merah muda, keras Berbinar, jernih, lembab, konjungtiva merah muda Lembab merah muda Kering, pucat, iritasi, petichie, lemak di subkutan tidak ada Mudah patah, berbentuk seperti sendok Konjungtiva pucat, kering, exoptalmus, tand-tanda infeksi Kering, pecah-pecah, bengkak, lesi, stomatitis, membrane mukosa pucat Perdarahan, peradangan, 11 berbentuk seperti spon Fleksia/ lemah, tonus kurang, tenderness, tidak mampu bekerja Denyut nadi lebih dari 100X/ menit, irama abnormal, tekanan darah rendah atau tingi Anorexia, konstipasi, diare, flatulensi, pembesaran liver Bingung, rasa terbakar, paresthesia, reflek menurun

Kuku Mata

Bibir

Gusi Otot

Merah muda, lembab Kenyal ,berkembang dengan baik Nadi dan tekanan darah normal, irama jantung normal Nafsu makan baik, eliminasi normal dan teratur Reflek normal, waspada, perhatian baik, emosi stabil

System kardiovaskuler

System pencernaan System persarafan

d. Bau Bau mulut (kurangnya kebersihan mulut, penyakit pada rongga mulut dan paru-paru, infeksi abses paru, penyakit paru dan uremia). e. Kulit

Turgor kulit yang jelek dihubungkan dengan dehidrasi, kulit bersisik, gatal, kulit yang pucat, pengikisan kulit bisa disebabkan oleh bermacam-macam defisiensi nutrisi. Kaji adanya edema akibat gangguan sistem lain. f. Pemeriksaan rongga mulut : Bibir Kesimetrisan, warna, kelembaban, kebiru-biruan (rendahnya kadar O2). Bibir pecah-pecah (defisiensi riboflafin atau perlukaan oleh gigi yang tajam). Rongga mulut Inspeksi kelembaban dan kemerahan membran mukosa Membran mukosa dan lidah kering (dehidrasi), bintik putih pada mukosa (infeksi moniliasis). Gusi bengkak penyakit periodontal juga akibat fenitoin atau leukimia. Keracunan timah dideteksi dengan timbulnya garis biru kehitaman jika gigi masih ada. Faring Selama proses menelan, nervus fagus palatun lunak terangkat dan menutup nasofaring dan aspirasi tidak terjadi. Kaji fungsi gangguan refleks, tekan lidan pada bagian tengah, tetapi tidak terlalu jauh kebelakang respon tersedak. Suruh lansia mengatakan ah palatum lunak terangkat. Jika terjadi rasa sakit dan kemerahan, atau adanya bintik putih dikerongkongannya. g. Pemeriksaan abdomen a) Suruh pasien mengosongkan abdomen, lihat (tanya) apakah ada bekas luka akibat apendektomi 50 tahun yang lalu. b) Lihat apakan ada striae (biasanaya biru-pink atau warna perak) Hasil dari obesitas, ansites, kehamilan, atau tumor. Lihat adanya ruam.

c) Kaji kesimetrisan abdomen dan mencakup semua keempat kuadran. Catat adanya temuan dan lokasi.distensi bagian bawah abdomen (dibawah pusar)distensi kandung kemih atau tumor pada uterus dan ovarium. d) Kaji adanya nyeri atau ketegangan. e) Perkusi (bunyi abnormal pada sebagian organ abdomen, misal hati, lambung,dll). f) Kaji bising usus normal (terdengar satu kali setiap 5-15 detik, biasanya tidak teratur), jika tidak terdengar, stimulasi dengan jari. Tidak adanya bising usus kurang dari 5 menit dibutuhkan evaluasi medis. Peningkatan suara sampai penurunan peristaltik. Palpasi seharusnya tidak ada masa. Pemeriksaan rektum a) Inspeksi perianal (hemoroid), lakukan DRE untukmengkaji (fisura, tumor, inflamasi, dankebersihan yang kurang) b) Minta klien untuk meneran (ada tambahan hemoroid atau rectal prolaps). Masa yang keras bias menghalangi palpasi penuh pada rektum. h. Pemeriksaan feses a) DRE (pemeriksaan spesimen feses) b) Feses hitam (makanan yang tinggi besi atau perdarahan usus proksimal) c) Darah merah segar (perdarahan usus bagian distal atau hemoroid). Pucat atau berlemak (masalah absorbsi). Feses yang abu-abu (obstruksi jaundice) mukus (inflamasi) (Eliopoulus, 2005) B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Menurut Tamher, Intervensi Keperawatan pada Gangguan Pencernaan dan Nutrisi berdasarkan sebuah sumber, Penyuluhan sehubungan dengan nutrisi dan pencernaan meliputi 3 hal yang penting, yaitu:

1. Kondisi rongga mulut dan gigi a. Kebersihan mulut dan gigi b. Menggunakan sikat yang lunak serta pasta gigi yang mengandung uor. c. Hindari pemakaian obat kusia, karena dapat menyebabkan kekeringan mulut d. Hindari makanan manis seperti permen atau sejenisnya e. Sehabis memakan makanan yang manis harus berkusia dan menyikat gigi f. Minta pelayanan dokter gigi secara teratur, misalnya dua kali setahun g. Bila menggunakan gigi palsu, copot di malam hari, rendam dalam air, dan bersihkan saebelum dipakai lagi 2. Penyuluhan tentang konstipasi a. Defekasi setiap hari bukanlah suatu norma, karena masing-masing lansia memiliki pola sendiri-sendiri yang berkisar antara 3 kali sehari sampai 3 kali seminggu b. Perlu memperhatikan diet tinggi serta berupa sayuran segar serta beberapa jenis sayuran mentah, kacang-kacangan, serta makanan sereal dari zat terapung c. Minum air yang cukup sebaiknya disertai jus buah setiap hari d. Hindari menggunakan obat pencahar, anjurkan lansia agar jangan menunda bila merasa hendak buang air besar 3. Penyuluhan tentang kekeringan rongga mulut a. Hal ini mungkin timbul akibat gangguan atau penyakit mulut atau oleh pengaruh obat yang memerlukan dilakukanya pengkajian seksama. b. Merangsang produksi saliva dapat dilakukan dengan mengunyah permen yang tak mengandun gula serta banyak minum air, hindari alkohol, dan minuman asam.

c. Hindari pemakaian obat kusia, rokok, serta tingkatkan higiene mulut dan gigi. Sedangkan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut : 1. Diagnosa : Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen, perubahan motilitas traktus gastrointestinal, asupan serat dan cairan yang tidak cukup, ketidakadekuatan gigi geligi, ketidakadekuatan higiene oral (Nanda, 2012). Tujuan : pasien dapat defekasi dengan teratur, sesuai pola Kriteria Hasil : mendapatkan kembali pola fungsi yang normal konsistensi feses lembut, lunak eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan :

Intervensi

1. Auskultasi bising usus, Observasi pola defekasi klien sebelumnya dan pola diet klien 2. Berikan cairan jika tidak kontraindikasi 2-3 liter per hari 3. Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi 4. Jelaskan manfaat makanan berserat atau beri penyuluhan mengenai diet yang berhubungan 5. Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi Rasional : 1. Membantumenentukan intervensiselanjutnya 2. Cairan membantu pergerakan cairan,kopi bersifatdiuretic danmenarik cairan, dapat bertindak sebagaistimulus untuk evakuasi feses 3. Diet tinggi serat yang seimbang akan menstimulasi peristaltic. 4. Meningkatkan pengetahuan pasien 5. Laksatif akan mengganggu program defekasi karena dapat menyebabkan pengosongan usus yang berlebihan dan defekasi yang tidak terjadwal. Apabila digunakan terus-menerus, laksatif dapat menyebabkan penurunan tonus kolon dan retensi feses. Pelunak feses mungkin tidak diperlukan jika asupan makanan dan cairan adekuat

2. Diagnosa : Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh b.d ketidakmampuan untuk mencerna makanan, ketidakmampuan menelan makanan, ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien (Nanda, 2012) Tujuan : Kebutuhan nutrisi bisa terpenuhi secara adekuat. Kriteria Hasil : NOC I : Status nutrisi Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien diharapkan mampu: Asupan nutrisi tidak bermasalah Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah Energy tdak bermasalah Berat badan ideal :

Intervensi

NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management / 1030) 1. Observasi BB, dan napsu makan pasien. 2. Kembangkan hubungan suportif dengan pasien 3. Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan kenaikan atau pemeliharaan berat badan 4. Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat badan. 5. Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat badan, jika berat badan pasien tdak sesuai dengan usia dan bentuk tubuh. 6. Jelaskan konsep nutrisi yang baik pada pasien. 7. Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan atau mempertahankan berat badan sesuai target.

3. Diagnosa : Diare berhubungan dengan malabsorpsi (Nanda, 2012) Tujuan : Setelah dilakukan diagnosa keperawatan selama ... x ... jam, diare pasien berkurang dari sebelumnya, frekuensi defekasi kembali normal Kriteria Hasil : NOC, Bowel elimination (0501) Tidak terjadi diare Tidak ada darah dalam tempat buang air

Intervensi :

Tidak ada lender dalam tempat buang air

NIC, Diarea Management (0460) 1. Observasi intake untuk kecukupan nutrisi 2. Observasi turgor kulit 3. Monitor tanda dan gejala diare 4. Measure diarea / bowel input 5. Ajarkan pasien / keluarga pasien bagaimana menjaga kebiasaan makan 4. Diagnosa : Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses (diare) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan elektrolit dipertahankan secara maksimal Kriteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50C, RR : < 40 x/mnt ) Turgor kulit < 2detik, membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari atau normal sesuai pola : keseimbangan dan

Intervensi

1. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium 2. Pantau intake dan output. 3. Berikan cairan parenteral sesuai dengan program rehidrasi 4. Beri informasi mengenai pentingnya kesimbangan cairan 5. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif. Rasionali : 1. Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa. 2. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti. 3. Peningkatkan pengetahuan pasien. 4. Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.

5. Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui.

Daftar Pustaka

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta Evelyn C.Pearce,cet. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic,.24,Jakarta: GM Jhonson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise, Missouri : Mosby, Inc. Lueckenotte, Annette Giesler.Ed . 1998. Pengkajian gerontology..2.Jakarta.EGC McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louise, Missouri : Mosby, Inc. Subekti, Nike Budhi. 2007. Asuhan keperawatan geriatric/editor,Jaime L.Stockslager,et al : alih bahasa,;editor edisi bahasa Indonesia Nur Meity Sulistia Ayu.ed.2.jakarta : EGC Tamher. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pemdekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba