Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ilmu adalah pengetahuan tentang hakikat sesuatu atau kebenaran tentang sesuatu perkara. Hadis ialah segala apa yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan Rasulullah SAW. Jadi Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi SAW. Hadis atau sunnah merupakan salah satu sumber ajaran islam yang menduduki posisi sangat signifikan, baik secara struktural maupun fungsional. Secara struktural menduduki posisi kedua setelah al-Quran, namun jika dilihat secara fungsional, ia merupakan bayan (eksplanasi) terhadap ayat-ayat al-Quran yang bersifat am (umum),mujmal (global) atau mutlaq. Untuk memahami dan mengambil pesan moral dalam suatu hadis, diperlukannya proses pembelajaran ilmu hadis dengan benar. Oleh karena itu, makalah ini ditulis untuk menambah pengetahuan tentang ilmu hadis.

B. Rumusan masalah Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas, maka penulis merumuskan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan Ulumul Hadis ? 2. Apa yang dimaksud Sunnah, Khabar dan Atsar ? 3. Apa saja yang termasuk Unsur-unsur Hadis ? 4. Apa saja Kedudukan dan Fungsi Hadis terhadap Al-Quran ? 5. Bagaimanakah Sejarah Perkembangan Hadis ? 6. Apa saja Cabang-cabang Ulumul Hadis ? 7. Bagaimanakah Klasifikasi Hadis dari berbagai Aspek ? 8. Siapa saja Tokoh Penulis Hadis ?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian Ulumul Hadis 2. Untuk mengetahui pengertian Sunnah, Khabar dan Atsar 3. Untuk mengetahui Unsur-unsur Hadis 4. Untuk mengetahui Kedudukan dan Fungsi Hadis terhadap Al-Quran 5. Untuk mengetahui Sejarah Perkembangan Hadis 6. Untuk mengetahui Cabang-cabang Ulumul Hadis 7. Untuk mengetahui Klasifikasi Hadis dari berbagai Aspek 8. Untuk mengetahui Biografi Para Penulis Hadis dan Kitab-kitabnya.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ulumul Hadis Ulumul Hadits adalah istilah ilmu hadits di dalam tradisi Ulama Hadits (arabnya : Ulum al-Hadits). Ulum al-Hadits terdiri atas dua kata, yaitu Ulum dan al-Hadits. Kata Ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ilm, yang berarti ilmu-ilmu; sedangkan al-Hadits di kalangan Ulama Hadits berarti Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat. Dengan demikian Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi SAW.

B. Pengertian Sunnah, Khabar dan Atsar 1. Sunnah menurut bahasa artinya jalan, atau cara dan metode. Menurut istilah, Sunnah adalah Setiap sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi SAW, baik dari ucapan, perbuatan maupun ketetapannya. 2. Khabar menurut bahasa artinya berita atau informasi tentang sesuatu yang disampaikan oleh sesorang atau orang lain. Menurut istilah, Khabar adalah Setiap segala sesuatu yang disandarkan atau berasal dari Nabi saw, atau yang berasal dari yang lainnya, yakni para sahabat beliau. 3. Atsar menurut bahasa artinya bekas, atau sisa sesuatu yang telah digunakan atau dimakan. Menurut istilah, Atsar adalah Segala sesuatu

yang dilakukan dan diucapkan oleh para sahabat dan tabiin yang dasar hukumnya disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.

C. Unsur-Unsur Hadis Suatu hadits mengandung beberapa unsur, diantaranya : Rawi ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab yang pernah didengarnya atau diterima dari seseorang (gurunya). Menyampaikan hadits disebut merawikan hadits. Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadits atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadits. Misalnya Imam Bukhori memberitakan dari tabiin (murid seorang sahabat Nabi SAW) A yang mendengar dari sahabat B yang mendengar dari sahabat C yang mendengar Nabi bersabda.....dst. Pada contoh tersebut rentetan mulai dari Imam Bukhori sampai sahabat (C) disebut sanad. Matan adalah materi atau teks hadits atau isi suatu hadits, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir, yang terletak setelah sanad terakhir. Matan dikatakan juga sabda Nabi SAW yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad. Mukharrij adalah periwayat hadis yang membukukan dan menjadi kolektor hadis. Shigaht al-Isnad adalah lafal yang digunakan periwayat ketika menerima dan/atau menyampaikan hadis.

D. Kedudukan dan Fungsi Hadis terhadap Al-Quran Hadis memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting, terutama dalam kaitannya dengan pemahaman atas isi kandungan Al-Quran. Sebab, tidak semua ayat-ayat Al-Quran dapat dipahami secara jelas dan rinci, melainkan ada juga yang bersifat global (ijmal) dan samar-samar (mutasyabihi). Oleh sebab itu, kedudukan dan fungsi hadis terhadap Al-Quran adalah sebagai berikut : 1. 2. Menguatkan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Menjelaskan secara rinci hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran. a. Menjelaskan hal-hal yang bersifat global dalam Al-Quran seperi hal-hal yang berkaitan dengan shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. b. Memberi batasan terhadap hal-hal yang belum jelas batasannya dalam Al-Quran. c. Mengkhususkan atas ayat-ayat Al-Quran yang bersifat umum.

E. Sejarah Perkembangan Hadis 1. Pada Masa Rasul Nabi menyampaikan hadis melalui media: majlis ilmi, melalui sahabat tertentu, ceramah pada tempat terbuka (seperti pada waktu haji wada), perbuatan langsung, dan sebagainya. Sahabat yang banyak menerima hadis antara lain: (1) as-Sabiqunal awwalun yaitu: Abu Bakar, Usman, Ali, dan Abdullah Ibn Masud (2) Ummahatul Mukminin atau istri-istri Rasul seperti Aisyah dan Ummu Salamah (3) Sahabat dekat yang menulis hadis yaitu Abdullah Amr bin

alAsh (4) Sahabat yang selalu memanfaatkan waktu bersama Nabi seperti Abu Hurairah (5) Sahabat yang aktif dalam majlis ilmi dan bertanya kepada sahabat yang lain seperti Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas. Hadis lebih banyak dihafal karena Rasul melarang menulis hadis agar tidak bercampur dengan al-Quran. Namun terdapat beberapa sahabat yang menulis hadis dan disimpan sendiri seperti: Abdullah bin Amr bin Ash (as-sahifah as-sadiqah), Jabir bin Abdullah (sahifah Jabir), Anas bin Malik, Abu Hurairah ad-Dausi (sahifah as-sahihah), Abu Bakar, Ali, Abdullah bin Abbas dan lain-lain.

2.

Hadis Masa Sahabat Disebut juga dengan masa pembatasan dan pengetatan riwayat karena perhatian difokuskan pada penyebaran al-Quran. Sahabat sangat hati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Setiap hadis yang diriwayatkan harus didatangkan seorang saksi. Terjadi perbedaan pendapat tentang pemaknaan larangan menulis hadis pada masa Rasul.

3.

Hadis Masa Tabiin Dikenal dengan masa penyebaran riwayat. Al-Quran sudah tertulis dalam mushaf sehingga perhatian terhadap hadis lebih besar.

Terbentuk pusat-pusat pembinaan hadis seperti Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam, dan Mesir, Maghrib dan Andalus, Yaman, dan Khurasan.

Terjadi perpecahan politik yang mengakibatkan munculnya hadis maudhu (hadis palsu).

4.

Masa Kodifikasi Hadis Disebut juga dengan masa pencatatan hadis atau pembukuan hadis. Masa ini terjadi pada awal abad kedua hijrah. Dimulai dengan adanya instruksi dari khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (gubernur Madinah) dan para ulama Madinah (Muhamad bin Syihab az-Zuhri) untuk mengumpulkan hadis dari para penghafalnya. Alasan pengumpulan hadis (1) khawatir hilangnya hadis dengan meninggalnya para ulama (2) khawatir tercampurnya hadis sahih dengan yang palsu. Kitab hadis yang berhasil ditulis dan masih ada adalah al-Muwatta karya Malik bin Anas.

5.

Masa Seleksi dan Penyempurnaan Penyusunan Kitab Hadis Terjadi pada akhir abad kedua atau awal abad ketiga hijriah (masa pemerintahan al-Makmun dari bani Abbasiyah). Diadakan penyaringan terhadap hadis pada masa sebelumnya, dan dikelompokkan menjadi hadis marfu, mauquf, dan maqtu. Disamping itu

juga diseleksi mana yang sahih dan mana yang dhaif. Ulama menetapkan kaidah-kaidah kesahihan hadis. Kitab hadis yang disusun dengan penyaringan ini dikenal dengan Kutub al-Sittah atau kitab induk yang enam, yaitu: (1) al-Jami as-Sahih karangan Bukhari (2) al-Jami as-Sahih karangan Muslim (3) As-Sunan karangan Abu Daud (4) As-Sunan karangan at-Turmuzi (5) As-Sunan karangan anNasai dan (6) As-Sunan karangan Ibn Majah. Masa selanjutnya ulama menyusun kitab hadis dengan sistematika jawami (mengumpulkan kitab-kitab hadis menjadi satu), kitab syarah (komentar), kitab mukhtasar (ringkasan), kitab athraf (menyusun pangkal suatu hadis sebagai petunjuk kepada materi hadis), mentakhrij (mengkaji sanadnya). Muhammad bin Abdullah al-Jauzaqi dan Ibn al-Furrat mengumpulkan isi kitab Bukhari Muslim, Abdul Haq ibn Abdurrahman al Asybili, al-Fairuz Zabdi, dan Ibn Atsir al-Jazari mengumpulkan kitab hadis yang enam. Ad-Daruqutni, al-Baihaqi, Ibn Hajar al-Asqalani mengumpulkan kitabkitab hadis mengenai hukum.

F. Cabang-cabang Ulumul Hadis Ilmu hadist terbagi menjadi dua : 1. Ilmu Hadis Riwayah, yaitu ilmu hadis yang berupa periwayatan atau ilmu yang menukilkan segala yang disandarkan kepada Nabi. Kegunaannya adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya.

2.

Ilmu Hadis Dirayah, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan hadis dari segi kesahihan, sandaran, maupun sifat-sifat periwayatnya. Kegunaannya adalah untuk mengetahui pertumbuhan hadis, untuk mengetahui tokoh-tokoh hadis, untuk megetahui kaidah-kaidah yang digunakan, dan untuk mengetahui istilah dan kriteria hadis.

Dari dua ilmu ini terpecah menjadi beberapa cabang-cabang ilmu, cabangcabang tersebut diantaranya: Ilmu Jarh wa At-Tadil Ilmu ini membahas mengenai para perawi, sekitar masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafadz-lafadz tertentu. Ilmu Rijalul Hadis Ilmu ini adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui para perawi (periwayat hadis) layak menjadi perawi hadis atau tidak. Ilmu Mukhtalaful Hadis Ilmu ini adalah ilmu yang membahas hadis-hadis yang secara lahiriyah bertentangan, namun ada kemungkinan dapat diterima dengan syarat-syarat tertentu, mungkin dengan cara membatasi kemutlakan atau keumumannya dan lainnya, yang bisa disebut sebagai ilmu Talfiqul Hadis. Ilmu Ilalul Hadis Ilmu ini membahas tentang sebab-sebab tersembunyi yang dapat merusak keabsahan suatu hadis.

Ilmu Gharibul Hadis Ilmu ini membahas dan menjelaskan Hadis Nabi yang sukar diketahui dan dipahami orang banyak karena telah bercampur dengan bahasa lain atau bahasa Arab pasaran. Ilmu Nasikh wal Mansukh Hadist Ilmu ini adalah ilmu yang membahas tentang hadis-hadis yang bertentangan dan tidak mungkin diambil jalan tengah. Hukum hadis yang satu menghapus (me-Nasikh) hukum yang lain (mansukh). Yang datang dahulu disebut mansukh, dan yang muncul belakangan dinamakan nasikh. Ilmu Asbabul Wurud Hadis Ilmu ini adalah ilmu yang membicarakan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan saat beliau menuturkannya, seperti sabda Nabi tentang air laut, ketika seorang sahabat yang sedang berada di tengah laut mendapatkan kesulitan untuk berwudhu, kemudian Nabi bersabda: Laut itu menyucikan airnya dan halal bangkainya. Ilmu At-Tashif wa At-Tahri Ilmu ini adalah ilmu yang berusaha menerangkan hadis-hadis yang sudah diubah titik atau syakalnya (Musahhaf) dan bentuknya (Muharraf). Contoh: Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa salah seorang dari Bani Sulaiman yang meriwayatkan Hadis dari Nabi Muhammad SAW adalah Utbah Ibn Al-Bazr, padahal yang sebenarnya adalah Utbah Ibn An-Nazr. Dalam hadist ini terjadi perubahan sebutan An-Nazr menjadi Al-Bazr.

10

Ilmu Tarikh Ar-Ruwah Ilmu ini adalah ilmu yang membahas tentang keadaan dan identitas para perawi, seperti kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang

meriwayatkan hadis darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan dan lain-lainnya. Ilmu ini mengkhususkan

pembahasannya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan.

G. Klasifikasi Hadis dari berbagai Aspek Pembagian Hadis Berdasarkan Kuantitas Periwayat Berdasarkan sedikit banyaknya periwayat yang meriwayatkan hadis dibagi menjadi tiga: 1. Hadis Mutawattir : yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak, diterima oleh orang banyak dan mustahil mereka berdusta. Syarat bagi hadis mutawatir adalah: a. Diriwayatkan oleh banyak periwayat. Ulama berbeda pendapat tentang ukuran banyaknya, ada yang berpendapat minimal 4 periwayat, ada yang berpendapat 40, atau 70, atau 313 orang. b. Adanya keyakinan bahwa mereka tidak mungkin berdusta. c. Ada keseimbangan jumlah sanad dalam setiap thabaqatnya (tingkatan generasi periwayat hadis).

11

d. Berdasarkan tanggapan pancaindera. Hadis yang diriwayatkan harus berasal dari pengamatan pencaindera, bukan berupa hasil perenungan, pemikiran atau rangkuman. 2. Hadis Aziz : yaitu hadis yang diriwayatkan oleh dua orang periwayat atau lebih. 3. Hadis Ahad : yaitu hadis yang diriwayatkan oleh satu orang periwayat.

Pembagian Hadis Berdasakan Kualitas Periwayat Berdasarkan kualitas periwayat hadis dibagi menjadi tiga yaitu: 1. Hadis Sahih, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang adil, sempurna kedhabitannya dan bersambung sanadnya. Syarat hadis Sahih adalah : a. b. c. d. e. 2. Diriwayatkan oleh periwayat yang adil. Kedhabitan periwayatnya sempurna. Sanadnya bersambung. Tidak ada cacat atau illat. Matannya tidak syaz atau janggal.

Hadis Hasan, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang adil, kurang kuat hafalannya dan bersambung sanadnya. Syarat hadis hasan adalah: a. b. c. Para periwayatnya adil. Kedhabitan periwayatnya dibawah periwayat hadis sahih. Sanadnya bersambung.

12

d. e. 3.

Tidak mengandung kejanggalan pada matannya. Tidak ada cacat atau illat.

Hadis Dhaif, yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat sebagai hadis sahih maupun hadis hasan.

Pembagian Hadis Berdasakan Sampai tidaknya Kepada Nabi SAW Dari segi sampai tidaknya kepada Nabi, Hadis dibagi menjadi tiga: 1. 2. Hadis Marfu : yaitu hadis yang periwayatannya sampai kepada Nabi. Hadis Mauquf : yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada Sahabat. 3. Hadis Maqtu : yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada Tabiin. Berdasarkan pengertiannya, maka yang termasuk kategori hadis yang dapat

digunakan sebagai sumber ajaran Islam adalah Hadis Marfu. Sedangkan Hadis Mauquf hanya menempati tingkatan Khabar dan Hadis Maqtu hanya merupakan Atsar.

Pembagian Hadis Berdasakan Isinya. Ditinjau dari segi isinya, Hadis dibagi menjadi tiga: 1. 2. Hadis Qauly : hadis yang isinya berupa perkataan atau ucapan Nabi. Hadis Fily : hadis yang isinya berupa pebuatan Nabi yang dideskripsikan oleh sahabat. 3. Hadis Taqriry : hadis yang isinya berupa ketetapan tindakan Nabi

13

Diantara ketiga bentuk hadis tersebut hadis qauly menempati kedudukan tertinggi, baru kemudian di bawahnya hadis fily. Hadis taqriry merupakan bentuk hadis yang terlemah.

Pembagian Hadis Berdasakan Sumbernya. Ditinjau dari segi sumbernya, Hadis dibagi menjadi : 1. Hadis Qudsi, yaitu sesuatu yang diberitakan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui ilham atau mimpi lalu Nabi kemudian membahasakannya dengan bahasanya sendiri. 2. Hadis Nabi/Hadis Nabawi yaitu apa yang dinisbahkan kepada Rasulullah dan diriwayatkan dari beliau. 3. Hadis Maudhu yaitu adalah hadis yang dibuat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi. Cara Mengetahui Hadis Maudhu: Adanya pengakuan dari pembuatnya. Maknanya rusak, dalam arti bertentangan dengan al-Quran, hadis mutawatir, dan hadis sahih. Matannya menyebutkan janji yang besar untuk perbuatan kecil. Periwayatnya pendusta. Menurut Ahmad Amin hadis maudhu sudah ada sejak masa Rasulullah. Dasarnya adalah munculnya hadis: man kazzaba alayya

14

Ulama Hadis lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik. Faktor Penyebab: Pertentangan politik antara Ali dan Muawiyah. Menurut Ibnu Abi al-Hadid kelompok Syiah adalah yang pertama kali membuat hadis maudhu. Usaha kaum zindiq, yaitu golongan yang berusaha merusak Islam dari dalam, seperti Abdul Karim Ibn al-Auja. Perselisihan dalam ilmu Kalam dengan tujuan untuk memperkuat pandangan kelompok masing-masing. Menarik simpati kaum awam. Menjilat kepada penguasa. Usaha Penyelamatan: Menyusun kaidah penelitian hadis, khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya. Kitab yang memuat tentang hadis maudhu antara lain: al-Maudhu al-Kubra yang disusun oleh Abu al-Fajri.

15

H. Biografi Para Penulis Hadis dan Kitab-kitabnya a. Imam Bukhari Nama lengkapnya: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Jafari. Lahir tanggal 13 Syawal 194 H di Bukhara dan wafat tahun 256 H. Pada usia 16 tahun sudah menghafalkan matan hadis dari para ulama hadis seperti Ibn al-Mubarak, Waki, dll. Kitabnya: al-Jami al-Musnad as-Sahih al-Mukhtashar min umuri Rasulullah wa sunanihi wa Ayyamihi. Kitab ini ditulis selama 16 tahun. Isi Kitab: jumlah hadis yang terdapat dalam kitabnya sebanyak 9.082 buah. Jika tanpa pengulangan jumlahnya 2.602 buah. Kitab ini direvisi oleh Bukhari sebanyak tiga kali. Kritik: terdapat 80 periwayat yang tidak standar dan 110 hadis yang lemah.

b. Imam Muslim Nama lengkap: Abdul Husayn Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi. Lahir tahun 204 H. Kitabnya: al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min al-Sunan bi Naql al-Adl an Rasulillah. Metode penyusunan kitab hadisnya dipengaruhi oleh Bukhari. Isi: Jumlah hadisnya sebanyak 3033 buah. Muslim hanya membukukan hadis sahih yang diterima masyarakat.

16

c. Abu Dawud Nama lengkapnya: Abu Dawud Sulaiman bin al-Asyats al-Azdi alSijistani. Lahir tahun 202 H dan wafat tahun 275 H. Kitabnya: Sunan Abu Dawud. Isi kitab: Menyeleksi 4800 hadis dari 50.000 hadis yang diterima. Tidak memuat masalah moralitas, sejarah dan zuhud. Merupakan kitab hadis terlengkap dalam bidang hukum. Tidak semua hadis yang dimuat sahih.

d. At-Tirmizi Nama lengkap : Muhammad bin Isa bin Sawa bin Musa bin al-Dahhak alTirmizi. Lahir tahun 209 H dan wafat tahun 279 H. Metode penyusunannya dipengaruhi oleh Bukhari. Kitabnya: Sunan at-Tirmizi. Isinya: Jumlah hadis yang ditulis sebanyak 3956 buah. Dalam setiap hadisnya disebutkan apakah hadis tersebut sahih, hasan, atau dhaif. Tema hadis yang dimuat antara lain: ibadah, adab, muamalah, tafsir, akidah, sejarah Nabi dan sahabat dan lain-lain.

e. An-Nasai Nama lengkap: Abdurrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani an-Nasai. Lahir tahun 215 H.

17

Kitabnya: asalnya Sunan al-Kubra yang dihadiahkan kepada gubernur Ramlah (Paletina), lalu diseleksi yang sahih dan dinamakan dengan asSunan al-Mujtaba. Isi Kitab: disamping hadis sahih, terdapat juga hadis yang lemah, tetapi beliau menyebutkan cacat isnadnya.

f. Ibnu Majah Nama lengkap: Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini. Lahir tahun 209 dan wafat tahun 273 H. Kitabnya: Sunan Ibn Majah. Isi Kitab: jumlah hadis seluruhnya yang ditulis 4.341 buah, 3002 diantaranya terdapat dalam kutub as-sitah yang lain. Sebanyak 1339 diriwayatkan sendiri. Terdapat 613 hadis yang lemah sanadnya. Dari segi sistematika kitab hadis ini merupakan yang terbaik.

18

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi SAW. Suatu hadits mengandung tiga unsur ; yakni rawi (yang meriwayatkan hadits), sanad (sandaran hadits), dan matan (teks hadits). Kedudukan dan fungsi hadis terhadap Al-Quran adalah sebagai berikut : 1. 2. Menguatkan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Menjelaskan secara rinci hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran. a. Menjelaskan hal-hal yang bersifat global dalam Al-Quran seperi halhal yang berkaitan dengan shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. b. Memberi batasan terhadap hal-hal yang belum jelas batasannya dalam Al-Quran. c. Mengkhususkan atas ayat-ayat Al-Quran yang bersifat umum. Ilmu hadist terbagi menjadi dua : (1) Ilmu Hadis Riwayah, yaitu ilmu hadis yang berupa periwayatan atau ilmu yang menukilkan segala yang disandarkan kepada Nabi. Kegunaannya adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya. (2) Ilmu Hadis Dirayah, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan hadis dari segi kesahihan, sandaran, maupun sifatsifat periwayatnya. Kegunaannya adalah untuk mengetahui pertumbuhan hadis, untuk mengetahui tokoh-tokoh hadis, untuk megetahui kaidah-kaidah yang digunakan, dan untuk mengetahui istilah dan kriteria hadis.

19

B. Saran Diharapkan kepada seluruh mahasiswa untuk mempelajari Ulumul Hadis serta memahami hal-hal yang berkaitan dengannya secara benar, agar dapat diambil pesan dan manfaatnya. Penulis merasa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam segi teknis ataupun penulisannya. Oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran dari pembaca. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

20

DAFTAR PUSTAKA
http://mydatanet.blogspot.com/2012/02/silabus-ulumul-hadis-tahun-2012.html http://sumberpiji.wordpress.com/2011/11/16/ilmu-hadist-dan-cabang-cabangnya/ Munzier Suprapta. 2006. Ilmu Hadis. Grafindo Persada : Jakarta. http://santrikuliah.blogspot.com/2009/11/pengertian-hadis-dan-hubunganhadis.html Drs. H. Mahrus Asad, M.Ag. 2004. Memahami Quran Hadis. CV.ARMICO : Bandung.

21