Anda di halaman 1dari 4

I. DASAR TEORI A. Tinjauan Umum Tentang Darah 1.

Pengertian Darah Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh yang lain berada dalam konsistensi cair beredar dalam suatu sistem terutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transfor sebagai bahan serta fungsi hemoestasis. Darah pada umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suatu ruang tertutup yang dinamai. Penggolongan darah sebagai suatu jaringan didasarkan atas devenisi jaringan yaitu sekelompok sel atau beberapa jenis sel, yang mempunyai bentuk yang sama dan menjalankan fungsi tertentu. Hanya saja berbeda dengan jaringan lain, sel-sel yang terdapat dalam darah dan dinamai sebagai sel-sel darah tidaklah terikat satu sama lain membentuk suatu struktur tang bernama organ, melainkan berada dalam kedua suspensi dalam suatu cairan (Sadikin,M 2001). 2. Fungsi Darah Darah merupakan bagian dari cairan ekstrasel yang berfungsi untuk mengambil oksigen (O2) dari paru-paru, bahan-bahan nutrisi dari seluruh cerna dan mengangkut hormon dari kelenjar endokrin. Bahan-bahan tersebut akan berdifusi dari kapiler kejaringan interstitial, masuk kedalam sel dan selanjutnya akan dipergunakan untuk semua aktivitas sel, bahan-bahan yang dihasilkan dari proses metabolisme sel akan dikeluarkan dan diangkut oleh darah untuk diekskresi.

3. Plasma, Serum dan Antikoagulan a. Plasma Plasma merupakan komponen cairan dari darah yang mengandung fibrinogen terlarut. Setelah aktivasi oleh enzim plasmin, terbentuklah gumpalan fibrin. Sesudah gumpalan ini disingkirkan, sisa yang tertinggal disebut serum. Plasma terdiri untuk sebagian besar dari air dengan terlarut dalam zat-zat elektrolit dan beberapa protein, yakni globulin (alfa-, beta-, gamma-), albumin dan faktor pembekuan darah. Rasio normal eritrosit terhadap plasma adalah

sekitar 40:60 juga dinyatakan sebagai hematokrit normal adalah 45-50% (hematokritt adalah penentu penting fiskositas darah gangguan yang

mengakibatkan propersi eritrosit sangat meningkat (polisitemia) disebabkan oleh peningkatan fiskositas darah. b. Serum Serum adalah cairan yang tersisa setelah darah dibiarkan menggumpal didalam sebuah tabung. Serum menyerupai plasma kecuali bahwa fibrinogen dan faktor-faktor koagulasi, lian berkurang akibat proses pembentukan bekuan yang ditambahkan dalam pembuatan serum sel-sel darah menggumpal secara baur dan terjebak dalam suatu anyaman yang luas dan kontraktif dari jaringan serat-serat fibrin.sel-sel ini tidak dapat di lihat secara terpisah-pisah melalui mikroskop. c. Antikoagulan Antikoagulan terdapat didalam darah untuk mencegah terbentuknya bekuan. Sebagai contoh, heparin adalah suatu anti koagulan yang di bentuk oleh sel monosit dan basofil sebagai respon terhadap cedera jaringan dan peradangan. Heparin menhentikan tahap koagulan dan menyebabkn terurainya trombin. Protein-protei anti trombin juga bersirkulasi dalam plasma untuk membantasi pembentukan bekuan darah (Corwin, J. Elizabeth, 2000). Tidak semua antikoagulan dapat dipakai karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau leukosit yang akan diperiksa morfologinya. Antikoagulan yang dapat dipakai adalah: EDTA (Ethilene Diamine Tetra Acetat) Sebagai garam natrium atau kaliumnya. Garam-garam itu mengubah ion kalsium dan darah menjadi bentuk yang bukan ion. EDTA tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya eritrosit dan tidak juga terhadap bentuk leukosit. Selain itu EDTA mencegah trombosit bergumpal, tiap 1 mg EDTA menghindarkan membekunya 1 ml darah. EDTA sering dipakai dalam bentuk laturan 10%. Kalau ingin menghindarkan terjadi pengenceran darah, zat kering pun boleh dipakai, akan tetapi dalam hal terakhir ini perlu sesekali mengocokkan wadah berisi darah dan EDTA selama 1-2 menit, itu sebabnya EDTA kering lambat melarut.

Heparin Berdaya seperti antitrombin, tidak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit dan leukosit. Dalam praktek sehari-hari heparin kurang digunakan karena mahal harganya. Tiap 1mg heparin menjaga membekunya 10 ml darah. Heparin boleh dipakai sebagai larutan atau dalam bentuk kering. Natriumsitrat Dalam larutan 3,8%, yaitu larutan yang isotonik dengan darah. Dapat dipakai untuk beberapa macam percobaan hemoragik dan untuk laju endap darah cara Westergreen. Campuran amoniumoxalat dan kaliumoxalat Menurut Paul dan Heller yang juga dikenal sebagai campuran oxalat seimbang. Dipakai dalam keadaan kering agar tidak mengencerkan darah yang diperiksa (Gandasoebrta, R. 2001). B. Tinjauan Umum Tentang LED Laju Endap Darah (LED) adalah pemeriksaan untuk mengukur kecepatan pengendapan sel darah dalam waktu tertentu. Eritrosit dalam darah bila didiamkan cenderung untuk membentuk rouleaux yang mempunyai peranan penting pada proses pengendapan sel tersebut. Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa inggrisnya Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darahnya. Laju endap darah (Erithrocyte Sedimentation Rate, ESR) yang juga disebut kecepatan endap darah (KED) atau laju sedimentasi eritrosit adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. (labkesehatan, 2009 laju-endap-darah-led). Mekanisme terjadinya LED dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu : Fase pertama adalah fase agregasi, dimana fase ini eritrosit baru mulai saling menyatukan diri atau membentuk Rouloeux sehingga pengendapan eritrosit dalam fase ini lambat sekali. Fase kedua adalah fase pengendapan eritrosit dengan cepat (keadaan maksimal) oleh karena terjadi agregasi atau pembentukan Rouleux atau dengan kata lain

partikel-partikel eritrosit menjadi lebih besar dengan permukaan yang lebih kecil oleh karena lebih cepat pula pengendaannya. Fase yang ketiga kecepatan pengendapan eritrosit sudah mulai berkurang oleh karena sudah terjadi pemantapan dari eritrosit. (Arif Dkk, 2004).

C. Metode Pengukuran LED (Laju Endap Darah) Ada beberapa cara untuk menetapkan LED, tetapi hanya cara Westergren dan Wintrobe yang sering di pergunakan. Dilaboratorium cara untuk memeriksa LED yang sering dipakai adalah cara wintrobe dan cara westergreen. 1. Metode Wintrobe Pada tahun 1936 wintrobe memperkenalkan metode dengan menggunakan tabung wintrobe yang memiliki panjang 120 mm, diameter dalam tabung 2,5 mm, dengan skala 0-100 mm, sampel yang dipakai adalah darah EDTA tanpa pengenceran, pengisian sampel dilakukan dengan menggunakan pipet Pasteur yang panjang, kelebihan metode wintrobe merupakan metode pemeriksaan Led yang lebih praktis dan hanya memerlukan sedikit sampel darah ( 1 ml) dan sekaligus dapat digunakan untuk pemeriksaan makro hematokrit, kekurangan metode ini lebih banyak menggunak peralatan. 2. Metode Westergreen Westergreen pada tahun 1921 memperkenalkan teknik pemeriksaan LED yang dikenal dengan metode westegren. Metode ini memakai tabung/ pipet dengan panjang 300,5 mm, 0,5 mm, diameter luar 5,5 mm 0,5 mm dan diameter dalam 2,35 mm 0,15 mm, memiliki skala, 200 mm. rak yang digunakan vertical dengan batas kemiringan tidak lebih dari 1o. LED metode westergren memiliki prinsip yang hamper sama dengan metode lainnya, yaitu darah dengan antikoagulan yang dimasukan kedalan tabung berlumen kecil kemudian dibiarkan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan : volume eritrosit