Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH DIETETIKA LANJUT

Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dietetika Lanjut Yang dibimbing oleh dan Ibu Eny Sayuningsih, SKM, M.Kes

Oleh : Kelompok 2 1. Githa Ayu Prameswari 2. Sylviana Radina R 3. Yunike Hajar P27835111010 P27835111034 P27835111039

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA

D-III JURUSAN GIZI TAHUN PELAJARAN 2012-2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sindroma nefrotik (SN) merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan diIndonesia.Angka kejadian SN pada anak tidak diketahui pasti, namun diperkirakan pada anak berusia dibawah 16 tahun berkisar antara 2 sampai 7 kasus per tahun pada setiap1.000.000 anak. Sindroma nefrotik tanpa disertai kelainan sistemik disebut SN primer, ditemukan pada 90% kasus SN anak 1,2,3. Insiden sindroma nefrotik primer ini 2 kasus per tahun tiap 100.000 anak berumur kurang dari 16 tahun, dengan angka prevalensi kumulatif 16 tiap 100.000 anak kurang dari 14 tahun. Rasio antara laki-laki dan perempuan pada anak sekitar 2:1. Laporan dari luar negeri menunjukkan dua pertiga kasus anak dengan SN dijumpai pada umur kurang dari lima tahun. Berdasarkan kelainan histopatologis, SN pada anak yang paling banyak ditemukan adalah jenis kelainan minimal. International Study Kidney Disease in Children (ISKDC) melaporkan 76% SN pada anak adalah kelainan minimal 1,2. Apabila penyakit SN ini timbul sebagai bagian dari penyakit sistemik dan berhubungandenganobat atau toksin maka disebut sindroma nefrotik sekunder Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12% penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 Untuk mengetahui pengertian penyakit Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis Untuk mengetahui etiologi Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis Untuk mengetahui gejala dari Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis Untuk mengetahui terapi diet pada pasien Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis Apakah yang dimaksud dengan Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis? Bagaimana etilogi dari Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis? Bagaimana gejala dari Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis? Bagaimana terapi diet pada pasien Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis?

1.4 Manfaat 1.4.1 Agar mahasiswa memahami penyakit Nefrotik Sindrom & Nefrolitiasis , beserta etiologi dan gejalanya 1.4.2 Agar mahasiswa dapat menerapkan terapi diet pada pasien Nefrotik Sindrom & Nefroliatisis

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nefrotic syndrome Nefrotic syndrome atau nefrosis adalah suatu syndrome (kumpulan gejala-gejala) yang terjadi akibat berbagai penyakit yang menyerang ginjal ditandai dengan peningkatan protein urin ( proteinuria masif 3,5 g/hari) dan kelebihan lipid dalam darah. Kejadian ini diakibatkan oleh kelebihan pecahan plasma protein ke dalam urine karena peningkatan permeabilitas membran kapiler glomerulus, sehingga menyebabkan proteinuria, menurunnya kadar albumin dalam darah, penimbunan garam dan air yang berlebihan, meningkatkan kadar lemak dalam darah. Syndrome ini bisa terjadi pada segala usia. Pada anak-anak paling sering timbul pada usia 18 bulan sampai 4 tahun dan lebih banyak menyerang anak laki-laki.

2.2 Etiologi Sindrom Nefrotik biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah kecil (glomeruli) di dalam ginjal yang menyaring kotoran dan kelebihan air dalam darah. Glomeruli yang sehat menjaga protein dalam darah (terutama albumin) yang dibutuhkan

untuk memelihara jumlah cairan yang tepat dalam tubuh (dari penyerapan hingga pengeluaran) melalui urin. Jika rusak, glomeruli membiarkan jumlah protein dalam darah keluar dari tubuh melalui urin.

2.2.1

Beberapa penyebab Sindrom Nefrotik :

a. Penyakit 1) Penyakit Metabolik: Amiloidosis (penimbunan protein fibriler yang tidak larut(amyloid)) 2) Kanker 3) Diabetes 4) Glomerulopati 5) Inveksi HIV 6) Penyakit Pendarahan: Hemolitik Uremik Syndrome 7) Penyakit Keganasan: Leukemia 8) Limfoma 9) Penyakit kolagen: Lupus eritematosus sistemik

b. Obat-obatan : 1) Obat pereda nyeri yang menyerupai aspirin 2) Senyawa emas 3) Heroin intravena 4) Penisilamin 2.2.3 Alergi ;

1) Gigitan serangga 2) Racun pohon ivy 3) Racun pohon ek 4) Cahaya matahari 2.3 Gejala 1) Berkurangnya nafsu makan 2) Pembengkakan (edema), terutama bengkak di ke dua kelopak mata, perut, tungkai bawah, atau seluruh tubuh dan dapat disertai jumlah urin yang berkurang. 3) Pengkisutan otot 4) Pembengkakan jaringan akibat penimbunan garam dan air 5) Air kemih berbusa disebabkan oleh berlebihnya kadar protein dalam urin. Keluhan lainnya dapat pula ditemukan seperti urin berwarna kemerahan (hematuria) 6) Penurunan tekanan darah pada anak-anak sedangkan pada dewasa bisa rendah, normal atau tinggi 7) Peradangan pada lapisan perut 8) Kenaikan berat badan yang disebabkan oleh penumpukan cairan di dalam tubuh.

2.4 Tujuan diet a) Mengganti kehilangan protein terutama albumin b) Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh

c) Memonitor hiperkolesterolemia dan penumpukan trigliserida d) Mengontrol hipertensi e) Mengatasi anoreksia

2.5 Terapi diet 1) Energy cukup untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif yaitu 35kal/kg bb/hari 2) Protein sedang yaitu 0,8-1 gr/kg bb/hari ditambah jumlah protein yang dikeluarkan melalui urin. Utamakan protein bernilai bilogik tinggi. 3) Lemak sedang yaitu 15-20% dari kebutuhan energy total. 4) Karbohidrat sisa kebutuhan energy. Utamakan karbohidrat kompleks. 5) Natrium dibatasi 1-4 gr sehari tergantung berat ringannya edema. 6) Kolesterol dibatasi <300 mg begitu pula gula murni bila ada peningkatan trigluserid darah 7) Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui urin +500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan pernapasan

2.6 Pengertian Nefrolitiasis atau batu ginjal

Nefrolitiasis atau batu ginjal adalah batu didalam saluran kemih (kalkulus uriner) merupakan massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal maupun didalam kandung kemih. Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis)

2.7 Etiologi Tergentuknya batu terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Batu ginjal terbentuk akibat pengendapan senyawa mineral dan organik. Pengendapan batu ini diakibatkan oleh infeksi pada ginjal atau penggenangan air seni dalam ginjal. Salah satu penggenangan ini dikibatkan oleh tekanan balik ketika kandung kemih juga tersumbat. Beberapa penyebab batu ginjal yang lainnya adalah komplikasi penyakit asam urat, makanan tidak seimbang, atau kurang vitamin dan adanya garamgaram kimia pada air seni seperti fosfat dan urates sebagai dasar terbentuknya batu ginjal. Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik yaitu: 1). Faktor intrinsik, meliputi: a. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.

b. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. c. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.

2). Faktor ekstrinsik, meliputi: a. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). b. Iklim dan temperatur. c. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. d. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih. e. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedenta Jenis- jenis Batu Ginjal Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif. 1). Batu Kalsium Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah: a. Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.

b. Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam. c. Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen. d. Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama. e. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium dengan oksalat.

2). Batu Struvit Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit. 3). Batu Urat Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar

untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.

2.8 Gejala 1) Nyeri perut bagian bawah 2) Nyeri punggung atau kolik renalis yang hebat yang hilang timbul di daerah tulang rusuk dan tulang pinggang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam 3) Mual, muntah, perut menggelembung 4) Demam 5) Menggigil dan darah dalam air kemih

Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

2.9 Tujuan diet 1) Mencegah atau memperlambat terbentuknya kembali batu ginjal 2) Meningkatkan ekskresi garam dalam urin dengan mengencerkan urin melalui peningkatan asupan cairan 3) Memberikan diet sesuai dengan komponen utama batu ginjal

2.10

Terapi diet 1) Energy diberikan sesuai kebutuhan 2) Protein sedang 10-15% dari kebutuhan energy total 3) Lemak sedang yaitu 15-25% dari kebutuhan energy total 4) Karbohidrat sisa dari kebutuhan energy total 5) Cairan tinggi yaitu 2,5-3 liter per hari separuhnya berasal dari minuman 6) Pembatasan makanan sesuai dengan jenis batu

BAB III

KESIMPULAN
Nefrotic syndrome atau nefrosis adalah suatu syndrome (kumpulan gejala-gejala) yang terjadi akibat berbagai penyakit yang menyerang ginjal ditandai dengan peningkatan protein urin ( proteinuria masif 3,5 g/hari) dan kelebihan lipid dalam darah. Syndrome nefrotik dapat disebabkan karena penyakit lain, alergi atau obat-obatan. Nefrolitiasis atau batu ginjal adalah batu didalam saluran kemih (kalkulus uriner) merupakan massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ginjal terbentuk akibat pengendapan senyawa mineral dan organik. Pengendapan batu ini diakibatkan oleh infeksi pada ginjal atau penggenangan air seni dalam ginjal. Jenis-jenis batu gnjal adalah batu kalsium, batu struvit dan batu urat.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.terapisehat.com/2010/10/glomerulopati.html 2. http://dokteranakku.net/articles/2010/08/sindrom-hemolitik-uremik.html 3. 3http://www.news-medical.net/health/What-is-Lymphoma-%28Indonesian%29.aspx 4. http://medicastore.com/penyakit/538/Lupus_Eritematosus_Sistemik.html 5. http://id.wikipedia.org/wiki/Hematuria

GLOSARIUM

1. Glomerulopati : Glomerulopati merupakan peradangan pada glomeruli. 2. Hemolitik Uremik Syndrome : Sindrom hemolitik uremik (SHU) adalah sekelompok gangguan heterogen dengan gejala klinis yang beragam dan berat. Sindrom ini pertama kali dikenalkan oleh Gesser dkk pada tahun 1955 dan merupakan penyebab gagal ginjal akut tersering pada anak. Sindrom ini ditandai dengan tiga gejala klinis yaitu : anemia hemolitik mikroangiopati, trombositopeni dan gagal ginjal akut. Pada fase akut merupakan penyakit yang serius dan memerlukan penanganan yang intensif guna mencegah penderita terhindar dari bahaya kematian atau kerusakan fungsi ginjal. SHU biasanya berhubungan dengan epidemi dan penyakit gastroenteritis (GE) diare berdarah yang disebabkan oleh Shigella dysentriae sebagai penghasil toksin shiga dan E.coli terutama yang tergolong jenis STEC, VTEC atau EHEC yang dapat menghasilkan verotoksin atau shiga-like toksin. Di Amerika serikat sendiri, E.coli 0157:H7 adalah penghasil shiga-like toksin yang paling dikenal, bahkan paling penting sebagai penyebab SHU 3. Limfoma : kanker yang dimulai di dalam limfosit dari sistem kekebalan tubuh dan muncul sebagai tumor padat dari sel-sel limfoid. Hal ini dapat diobati dengan kemoterapi, dan dalam beberapa kasus radioterapi dan / atau transplantasi sumsum tulang, dan dapat disembuhkan, tergantung pada histologi, jenis, dan tahap penyakit. Sel-sel ganas sering berasal dari kelenjar getah bening, menyajikan sebagai pembesaran node (tumor). 4. Lupus eritematosus sistemik : penyakit autoimun menahun yang menimbulkan peradangan dan bisa menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, persendian dan organ dalam. Sistem pertahanan tubuh ini berbalik melawan tubuh, dimana antibodi yang dihasilkan menyerang sel tubuhnya sendiri. Antibodi ini menyerang sel darah, organ dan jaringan tubuh sehingga terjadi penyakit menahun. 5. Hematuria : kehadiran sel-sel darah merah (eritrosit) dalam urin. Ini mungkin idiopatik dan / atau jinak, atau dapat menjadi tanda bahwa ada batu ginjal atau tumor dalam saluran kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, prostat, dan uretra), mulai dari yang sepele hingga

yang mematikan. Jika sel-sel darah putih ditemukan di samping sel-sel darah merah, maka itu adalah tanda infeksi saluran kemih.