Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Persalinan adalah tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah, walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut. Oleh karena itu, mereka memerlukan penolong yang dapat dipercaya, yang data memberikan bimbingan dan semangat selalu siap di depan dalam mengatasi kesukaran. Kelahiran merupakan proses normal yang terjadi pada makhluk hidup seperti manusia sebagai upaya alamiah untuk berkembanh biak. Pada manusia sebelum kelahiran selalu diawali dengan kehamilan. Kehamilan normal berlangsung sekitar 40 minggu, yang dibagi menjadi tiga periode tiga bulanan atau trimester yaitu trimester pertama 1-13 minggu, trimester kedua 14-26 minggu dan trimester ketiga 27-40 minggu. Selama kehamilan, di dalam tubuh mengalami banyak perubahan seperti pembesaran uterus, dinding perut, ovarium, kulit, payudara, pertukaran zat dalam tubuh, dan perubahan volume darah. B. Rumusal masalah 1. Apa defenisi partus presipitatus ? 2. Apa penyebab terjadinya partus presipitatus ? 3. Bagaimana tanda dan gejala partus presipitatus ? 4. Bagaimana akibat partus presipitatus pada ibu ? 5. Bagaimana akibat partus presipitatus pada fetus atau neonatus ? 6. Bagaimana penanganan partus presipitatus ? C. Tujuan penulisan 1. Mengetahui defenisi partus presipitatus 2. Mengetahui penyebab terjadinya partus presipitatus 3. Mengetahui tanda dan gejala partus presipitatus 4. Mengetahui akibat partus presipitatus pada ibu 5. Mengetahui akibat partus presipitatus pada fetus dan neonatus 6. Mengetahui ppenangan partus presipitatus

BAB II KONSEP MEDIS

A. Defenisi partus presipitatus Partus presipitatus adalah persalinan berlangsung sangat cepat. Kemajuan cepat dari persalinan, berakhir kurang dari 3 jam dari awitan kelahiran, dan melahirkan di luar rumah sakit adalah situasi kedaruratan yang membuat terjadi peningkatan resiko komplikasi dan/atau hasil yang tidak baik pada klien/janin (Doenges, 2001). Saat kelainan terjadi, ibu mengalami robekan di jalan lahir, pendarahan pasca persalinan serta infeksi. Selain itu, jika kelahirannya terjadi pada posisi ibu kurang ideal (misalnya saat msih berdiri) maka bayi beresiko mengalami pendarahan di otak dan cedera akibat benturan kepala serta robekan tali pusar. ( Deri, reski. 2013) Persalinan presipitatus adalah suatu persalinan cepat abnormal, serta rusuh dimana dilatasi serviks terjadi dengan cepat dan desensus bagian presentasi cepat pula. Keadaan ini disebabkan karena kontraksi uterus yang terlalu aktif, terlau sering dan hebat, serta daya tahan bagianbagian lunak maternal yang terlalu lemah. Sering terdapat kontraksi penyerta yang sangat kuat dari otot-otot abdomen sehingga persalinan ditingkatkan dan kelahiran dipengaruhi dengan cepat. Persalinan presipitatus dapat melukai ibu dan bayi. Mortalitas perinatal meningkat akibat trauma dan hipoksia penyerta. (Ben-Zion,Taber. 1994) Persalinan dan pelahiran presipitatus dapat terjadi akibat dilatasi atau penurunan yang sangat cepat. Dilatasi presipitatus didefenisikan sebagai dilatasi fase aktif 5 cm/jam pada primipara atau 10 cm/jam pada multipara. Persalinan presipitatus biasanya diakibatkan oleh kontraksi yang sangat kuat (misalnya induksi oksitosin atau akibat solusio plasenta) atau tahanan jalan lahir yang rendah (misalnya multiparitas). Hentikan oksitosin jika digunakan. Namun, tidak ada pengobatan yang efektif dan upaya-upaya fisik untuk menunda pelahiran merupakan kontraindikasi absolut. ( Ralph C, Benson. 2008).

B. Etologi partus presipitatus Penyebab kejadian ini adalah terlalu kuatnya kontraksi dan kurang lunaknya jaringan mulut rahim. Kasus seperti ini sering terjadi pada ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari sekali (anak kedua dan seterusnya). ( Deri, reski. 2013), abnormalitas tahanan yang rendah pada bagian jalan lahir dan pada keadaan yang sangat jarang dijumpai oleh tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya proses-proses persalinan yang sangat kuat itu (Doenges, 2001). C. Tanda dan gejala partus presipitatus Dapat mengalami ambang nyeri yang tidak biasanya atau tidak menyadari kontraksi abdominal. Kemungkinan tidak ada kontraksi yang dapat diraba, bila terjadi pada ibu yang obesitas. Ketidaknyamanan punggung bagian bawah (tidak dikenali sebagai tanda kemajuan persalinan). Kontraksi uterus yang lama/hebat, ketidak-adekuatan relaksasi uterus diantara kontraksi. Dorongan invalunter lintula mengejan (Doenges, 2001). D. Akibat pada ibu Partus presipitatus jarang disertai dengan komplikasi maternal yagn serius jika serviks mengadakan penipisan serta dilatasi dengan mudah, vagina sebelumnya sudah teregang dan perineum dalam keadaan lemas (relaksasi). Namun demikian, kontraksi uterus yang kuat disertai serviks yang panjang serta kaku, dan vagina, vulva atau perineum yang tidak teregang dapat menimbulkan rupture uteri atau laserasi yang luas pada serviks, vagina, vulva atau perineum. Dalam keadaan yang terakhir, emboli cairan ketuban yang langka itu besar kemungkinannya untuk terjadi. Uterus yang mengadakan kontraksi dengan kekuatan yang tidak lazim sebelum proses persalinan bayi, kemungkinan akan menjadi hipotonik setelah proses persalinan tersebut dan sebagai konsekuensinya, akan disertai dengan perdarahan dari templat implantasi placenta (Sarwono, 2005).

E. Akibat pada fetus dan neonatus Mortalitas dan morbiditas perinatal akibat partus presipatatus dapat meningkat cukup tajam karena beberapa hal. Pertama, kontraksi uterus yang amat kuat dan sering dengan interval relaksasi yang sangat singkat akan menghalangi aliran darah uterus dan oksigenasi darah janin. Kedua, tahanan yang diberikan oleh jalan lahir terhadap proses ekspulsi kepala janin dapat menimbulkan trauma intrakronial meskipun keadaan ini seharusnya jarang terjadi. Ketiga, pada proses kelahiran yang tidak didampingi, bayi bisa jatuh ke lantai dan mengalami cedera atau memerlukan resusitasi yang tidak segera tersedia (Sarwono, 2005). F. Komplikasi partus presipitatus Persalinan presipitatus dapat menyebabkan emboli cairan amnion pada ibu, ruptur uteri, robekan serviks atau jalan lahir. Dapat disertai hipotonus uterus post partum dengan resiko pendarahan. Perinatal juga sangat beresiko mengalami partum dengan resiko pendarahan. Perinatal juga sangat beresiko mengalami hipoksia (terancamnya pertukaran darah uteroplasenta akibat kontraksi) dan pendarahan intrakranial perinatal (trauma langsung atau tidak langsung). Lebih lanjut,persalinan yang tidak didampingi (trauma langsung, tidak ada resusitasi, kedinginan) akan membahayakan bayi baru lahir. ( Ralph C, Benson. 2008). G. Penanganan Kontraksi uterus spontan yang kuat dan tidak lazim, tidak mungkin dapat diubah menjadi derajat kontraksi yang bermakna oleh pemberian anastesi. Jika tindakan anastesi hendak dicoba, takarannya harus sedemikian rupa sehingga keadaan bayi yang akan dilahirkan itu tidak bertambah buruk dengan pemberian anastesi kepada ibunya.

Penggangguan anastesi umum dengan preparat yang bisa mengganggu kemampuan kontraksi rahim, seperti haloton dan isofluran, seringkali merupakan tindakan yang terlalu berani. Tentu saja, setiap preparat oksitasik yang sudah diberikan harus dihentikan dengan segera. Preparat tokolitik, seperti ritodrin dan magnesium sulfat parenteral, terbukti efektif. Tindakan mengunci tungkai ibu atau menahan kepala bayi secara langsung

dalam

upaya

untuk

memperlambat

persalinan

tidak

akan

bisa

dipertahankan. Perasat semacam ini dapat merusak otak bayi tersebut. (Sarwono, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Prawiroharjo, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta : EGC

Ralph C, Benson.2008. Buku saku obsetri dan ginekologi. Jakarta : EGC Ben-Zion,Taber. 1994. Kapita selekta kedaruratan obsetri dan ginekologi. Jakarta : EGC Deri, Reski. 2013. Kupas tuntas masalah kehamilan. Jakarta. : Agromedia pustaka.