Anda di halaman 1dari 7

27-Feb-13

PETA KONSEP
A. Pengertian Jalan B. Jenis Jalan C. Klasifikasi Jalan D. Ruang Penguasaan Jalan E. Bagian Bagian Melintang Jalan dan Dimensinya

PENGERTIAN JALAN
Geometrik jalan adalah suatu bangun jalan raya yang menggambarkan tentang bentuk/ukuran jalan raya baik yang menyangkut penampang melintang, memanjang, maupun aspek lain yang terkait dengan bentuk fisik jalan. Secara filosofis, dalam perencanaan (perancangan) bentuk geometrik jalan raya harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga jalan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada lalu lintas sesuai dengan fungsinya.

KLASIFIKASI JALAN

27-Feb-13

I. Medan Jalan
Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Klasifikasi menurut medan jalan untuk perencanaan geometrik dapat dilihat dalam tabel. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus

Tabel I.Klasifikasi menurut medan jalan (TCPGJAK 1997).

NO. JENIS MEDAN KEMIRINGAN MEDAN (%) 1 2 3 Datar Perbukitan Pegunungan <3 325 >25

mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-

perubahan pada bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut.

II. Fungsi Jalan


Klasifikasi menurut fungsi jalan terbagi atas (TCPGJAK 1997)
KLASIFIKASI JALAN
Jalan Arteri

IV. Kelas Jalan dan LHRT


Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban
PENJELASAN

lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton. Klasifikasi menurut kelas jalan dan

Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, Jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi

Jalan Kolektor

ketentuannya serta kaitannya dengan kasifikasi menurut fungsi jalan dapat dilihat dalam Tabel II (Pasal 11, PP. No.43/1993).

Jalan Lokal

27-Feb-13

Tabel II. Klasifikasi menurut kelas jalan


FUNGSI KELAS I Arteri II III A III A Kolektor III B Lokal III C 8 8 MUATAN SUMBU TERBERAT (TON) > 10 10 8

V. Sistem Jaringan dan Wilayah


Klasifikasi menurut jaringan dan wilayah terbagi atas :
KLASIFIKASI JALAN
Jalan Utama (Primer)

PENJELASAN
jalan raya yang melayani lalu lintas yang tinggi antara kota kota yang penting atau antara pusat pusat produksi dan pusat pusat ekpor. Sifat lalu lintas jalan ini adalah cepat dan berat jalan raya yang melayani lalu lintas yang cukup tinggi antara kota kota penting dan kota kota yang lebih kecil, serta melayani daerah daerah di sekitarnya. Jalan Penghubung adalah jalan untuk keperluan aktifitas daerah yang juga dipakai sebagai jalan penghubung antara jalan jalan dari golongan yang sama atau yang berlainan.

Jalan Sekunder

Jalan Penghubung

RUANG PENGUASAAN JALAN

VI. Status dan Wewenang


Klasifikasi jalan menurut wewenang pembinaannya sesuai PP. No.26/1985 adalah jalan Nasional, Jalan Propinsi, Jalan

Ruang penguasaan jalan terdiri dari : I. Daerah Manfaat Jalan (Damaja)

II. Daerah Milik Jalan (Damija) III. Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja)

Kabupaten/Kotamadya, Jalan Desa, dan Jalan Khusus.

27-Feb-13

I. Daerah Manfaat Jalan (Damaja)


Daerah Manfaat Jalan (Damaja) adalah daerah yang meliputi seluruh badan jalan, saluran tepi jalan dan ambang pengaman. lebar antara batas ambang pengaman konstruksi jalan di kedua sisi jalan, tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, dan kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah muka jalan.

II. Daerah Milik Jalan (Damija)


Daerah Milik Jalan (Damija) adalah daerah yang meliputi seluruh daerah manfaat jalan dan daerah yang diperuntukkan bagi pelebaran jalan dan penambahan jalur lalu lintas di kemudian hari serta kebutuhan ruangan untuk pengaman jalan Ruang Daerah Milik Jalan (Damija) dibatasi oleh lebar yang sama dengan Damaja ditambah ambang pengaman konstruksi jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 meter

III. Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja)


Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah lajur lahan yang berada di bawah pengawasan penguasa jalan, ditujukan untuk penjagaan terhadap terhalangnya pandangan bebas pengemudi kendaraan bermotor dan untuk pengamanan konstruksi jalan dalam hal ruang daerah milik jalan tidak mencukupi. Ruang Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah ruang

sepanjang jalan di luar Damaja yang dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari sumbu jalan sebagai berikut : jalan Arteri minimum 20 meter, jalan Kolektor minimum 15 meter, jalan Lokal minimum 10 meter Untuk keselamatan pemakai jalan, Dawasja di daerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang bebas

27-Feb-13

BAGIAN BAGIAN MELINTANG JALAN DAN DIMENSINYA


Penampang melintang jalan terdiri atas bagianbagian sebagai berikut : I. II. Jalur Lalu Lintas Lajur

I. Jalur Lalu Lintas


Jalur lalu lintas adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan yang secara fisik berupa perkerasan jalan. Batas jalur lalu lintas dapat berupa median, bahu, trotoar, pulau jalan dan separator. Jalur lalu lintas dapat terdiri atas beberapa lajur. Lebar jalur sangat ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur peruntukannya. Tabel II. menunjukkan lebar jalur dan bahu jalan sesuai VLHR-nya. Lebar jalur minimum adalah 4.5 meter, memungkinkan 2 kendaraan kecil saling berpapasan. Papasan dua kendaraan besar yang terjadi sewaktu-waktu dapat menggunakan bahu jalan

III. Bahu Jalan IV. Median Jalan V. Fasilitas Pejalan Kaki

Tabel III. Penentuan Lebar Jalan dan Bahu Jalan (TCPGJAK 1997)

Keterangan: **) = Mengacu pada persyaratan ideal *) = 2 jalur terbagi, masing masing n 3, 5m, di mana n= Jumlah lajur per jalur = Tidak ditentukan

27-Feb-13

II. Lajur
Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan, memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana. Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana, yang dalam hal ini dinyatakan dengan fungsi dan kelas jalan seperti ditetapkan dalam Tabel III. Jumlah lajur ditetapkan dengan mengacu kepada MKJI berdasarkan tingkat kinerja yang direncanakan, di mana untuk suatu ruas jalan dinyatakan oleh nilai rasio antara volume terhadap kapasitas yang nilainya tidak lebih dari 0.80. Untuk kelancaran drainase permukaan, lajur lalu lintas pads alinemen lurus memerlukan kemiringan melintang normal sebagai berikut (lihat Gambar): 2-3% untuk perkerasan aspal dan perkerasan beton; 4-5% untuk perkerasan kerikil

Tabel IV.Lebar Lajur Jalan Ideal (TCPGJAK 1997)

FUNGSI

KELAS JALAN I

LEBAR LAJUR IDEAL (M) 3,75 3,50

Arteri

II III A

Kolektor lokal

III A III B III C

3,00 3,00

III. Bahu Jalan


Bahu Jalan adalah bagian jalan yang terletak di tepi jalur lalu lintas dan harus diperkeras. Fungsi bahu jalan adalah sebagai berikut: lajur lalu lintas darurat, tempat berhenti sementara, dan atau tempat parkir darurat; ruang bebas samping bagi lalu lintas; dan penyangga sampai untuk kestabilan perkerasan jalur lalu lintas. Kemiringan bahu jalan normal antara 3 - 5%.

27-Feb-13

IV. Median Jalan


Median adalah bagian bangunan jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalu lintas yang berlawanan arah. Fungsi median adalah untuk: memisahkan dua aliran lalu lintas yang berlawanan arah; ruang tunggu penyeberang jalan; penempatan fasilitas jalan; tempat prasarana kerja sementara; penghijauan; mengurangi silau dari sinar lampu kendaraan dari arah yang berlawanan.

Median dapat dibedakan atas : Median direndahkan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah jalur yang direndahkan. Median ditinggikan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah jalur yang ditinggikan. Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,250,50 meter dan bangunan pemisah jalur, ditetapkan dapat dilihat dalam Tabel IV.. Perencanaan median yang lebih rinci mengacu pada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Maret 1992

V. Fasilitas Pejalan Kaki


Fasilitas pejalan kaki berfungsi memisahkan pejalan kaki dari jalur lalu lintas kendaraan guna menjamin

keselamatan pejalan kaki dan kelancaran lalu lintas. Jika fasilitas pejalan kaki diperlukan maka

perencanaannya mengacu kepada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Maret 1992