Anda di halaman 1dari 6

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN

ARBORSI
PENGERTIAN ARBOSI Definisi aborsi adalah menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah abortus yang berarti mengeluarkan hasil konsepsi (pertemuan sel sperma dan ovum) sebelum janin dapat hisup di luar kandungan. Frekuensi aborsi di Indonesia agak sulit dihitung secara akurat karena memang sangat jarang pada akhirnya dilaporkan. PERMASALAHAN Berdasarkan perkiraan BKKBN, kejadian aborsi di Indonesia mencapai angka yang amat fantastis yakni janin dibunuh pertahun. Memang yang ada hanya angka-angka yang berupa data statistik, namun kita seharusnya dapat menganalisa secara lebih mendalam bahwa dari angka yang teramat besar itulah nyawa-nyawa bayi-bayi mungil yang tidak berdosa dipaksa untuk mati dengan dibunuh secara keji. Sungguh tingkat pembunuhan yang sangat terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan peristiwa peperangan ataupun peristiwa kematian akibat penyakit di suatu negara yang bahkan tidak sampai setengahnya dibandingkan dengan tingkat aborsi. Secara total dalam sejarah dunia pun, jumlah kematian karena aborsi jauh melebihi jumlah orang yang meninggal dalam semua perang jika digabung sekaligus. Bukan merupakan rahasia umum dan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi di mana-mana dan bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk oleh remaja yang terlibat pergaulan bebas ataupun para orang dewasa yang tidak mau dibebani tanggungjawab dan tidak menginginkan kelahiran sang bayi ke dunia ini.Menurut mereka, kelahiran anak yang seharusnya dianggap sebagai suatu anugerah yang tidak terhingga dari Allah SWT sebagai Sang Pencipta justru mereka anggap sebagai suatu beban yang kehadirannya tidak diinginkan. Ironis sekali, karena di satu sisi sekian banyak pasangan suami-isteri (pasutri -red) yang mendambakan kehadiran seorang anak selama bertahun-tahun masa perkawinan, namun di sisi lain ada pasangan yang membuang anaknya bahkan janin yang masih dalam kandungan tanpa pertimbangan nurani. Seharsusnya kita juga melihat permasalahan secara lebih komprehensif mengapa sampai terjadi hubungan seks di luar nikah? Begitu pula dengan kembali mempermasalahkan dampak yang lebih besar lagi ketika aborsi dilakukan terutama ketika alasan aborsi menyangkut masalah ekonomi. Solusi yang lain mungkin jauh lebih efektif daripada harus membahayakan keselamatan ibu atau setidaknya menghindari penderitaan psikologis dan harus membunuh jiwa yang tak berdosa. Kelahiran seorang bayi adalah anugerah yang teramat luar biasa dari Allah. Aborsi bukanlah jalan keluar karena setidaknya banyak alternatif yang bisa diharapkan untuk menjamin perkembangan bayi tersebut. Seperti membiarkan bayi tersebut diadopsi oleh orang lain misalnya, hal tersebut cukup bijak demi kebaikan bersama. Aborsi adalah salah satu tindakan yang bisa menimbulkan banyak dampak buruk bagi kesehatan. Kini bertambah lagi efek buruk dari aborsi yaitu meningkatkan risiko terkena gangguan mental. Selain dari keselamatan bayi, keselamatan wanita hamil yang melakukan aborsi juga sangat mengkhawatirkan dan memiliki risiko kematian cukup besar. angka tersbut merupakan angka resmi dari pemerintah sementara untuk kasus aborsi ilegal jumlahnya jauh lebih fantastis.

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN Bagaimana pula dengan petugas medis yang tampak tidak merasa bersalah ketika membantu proses aborsi berlangsung bahkan menjadikannya sebagai komoditi jasa yang menjanjikan pendapatan yang cukup besar. Sampai saat ini memang cukup banyak praktik aborsi yang bahkan sebagian besar ilegal. SUDUT PANDANG AGAMA Dari sudut pandang Islam bahkan jauh lebih tegas lagi mengenai permasalahn aborsi. Dalam alquran cukup banyak dalil yang mendukung untuk tidak melaukan aborsi seperti daalam QS. 5: 32 yang artinya Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan dimmuka bumi, maka seakan-akan dia elah mambunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelaihara keselamatan nyawa seorang nyawa manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselatmatan nayaea manusia seluruhnya. Sementara dalil lain yang melarang melakukan aborsi dengan alasan biaya untuk kehidupan bayi ada pada QS. 17.31 yang artinya Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena tekut melarat. Kamilah yang memberi rizki kepada meraaka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. Sangat jelas dantegas sekali makna secara tersurat maupun tersirat dalam ayat-ayat tersebut yang melarang adanya praktik-praktik aborsi. Yang mendewsak dilakukan sekarang ini adalah bagaimana memerangi dan melawan arus ghowzul fikri yang terus-menerus mendera umat ini agar dapat segera bangkit dari keterpurukan moral. Generasi muda harus segera dibangunkan dari tidurnya yang lelap sehinmgga peradaban Islam yang ikhsan dapat tercipta dan secara spesifik pola pergaulan bebas dapat semaik direduksi dan dijauhkan dari generasi muda. RESIKO YANG DIALAMI Selain dari keselamatan bayi, keselamatan wanita hamil yang melakukan aborsi juga sangat mengkhawatirkan dan memiliki risiko kematian cukup besar. angka tersbut merupakan angka resmi dari pemerintah sementara untuk kasus aborsi ilegal jumlahnya jauh lebih fantastis. Bagaimana pula dengan petugas medis yang tampak tidak merasa bersalah ketika membantu proses aborsi berlangsung bahkan menjadikannya sebagai komoditi jasa yang menjanjikan pendapatan yang cukup besar. Sampai saat ini memang cukup banyak praktik aborsi yang bahkan sebagian besar ilegal. Selain itu ada juga risiko komplikasi seperti pendarahan, infeksi dan kerusakan organ. Sementara komplikasi serius yang bisa timbul adalah: 1. Pendarahan hebat. Jika leher rahim robek atau terbuka lebar akan menimbukan pendarahan yang dapat berbahaya bagi keselamatan ibu. Terkadang dibutuhkan pembedahan untuk menghentikan pendarahan tersebut. 2. Infeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam rahim atau sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar. 3. Aborsi tidak sempurna. Adanya bagian dari janin yang tersisa di dalam rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi.

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN 4. Sepsis. Biasanya terjadi jika aborsi menyebabkan infeksi tubuh secara total yang kemungkinan terburuknya menyebabkan kematian. 5. Kerusakan leher rahim. Kerusakan ini terjadi akibat leher rahim yang terpotong, robek atau rusak akibat alat-alat aborsi yang digunakan. 6. Kerusakan organ lain. Saat alat dimasukkan ke dalam rahim, maka ada kemungkinan alat tersebut menyebabkan kerusakan pada organ terdekat seperti usus atau kandung kemih. 7. Kematian. Meskipun komplikasi ini jarang terjadi, tapi kematian bisa terjadi jika aborsi menyebabkan perdarahan yang berlebihan, infeksMenurutnya, kalau memang dokter Indonesia itu profesional, IDI (Ikatan Dokter Indonesia - red) harus bersikap transparan. "Akibat jaringan dunia kedokteran di Indonesia selama ini sangat tertutup, menyebabkan banyak kasus hukum yang melibatkan dokter seperti aborsi dan malpraktik tidak pernah bisa terbongkar. "Pelayanan dokter yang tidak profesional ini kerap dikeluhkan masyarakat. Karena itu, jika IDI ingin kondisi ini berubah, maka harus berani membongkar borok di dunia kedokteran, jangan malah menutup-nutupi," pungkas Richard seraya berjanji akan mengusulkan DPRD Sumut segera memanggil IDI untuk membicarakan soal banyaknya pelanggaran yang dilakukan dokter .

MEMBAHAS persoalan aborsi sudah bukan merupakan rahasia umum dan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi di mana-mana dan bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk oleh remaja yang terlibat pergaulan bebas ataupun para orang dewasa yang tidak mau dibebani tanggungjawab dan tidak menginginkan kelahiran sang bayi ke dunia ini. PERATURAN PERUNDANG2AN.. Seberapa pentingkah peran peraturan perundang-undangan dikaitkan dengan fenomena aborsi ilegal yang melanda bangsa ini? Kendati RUU yang mulai akan dibahas di DPR secara tersurat dimaksudkan untuk melindungi kaum perempuan dari praktik pengguguran kandungan yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab sebagaimana termaktub dalam pasal 56 ayat 1, namun secara tersirat hal ini jelas sebagai upaya mengamankan para profesional medis dari tuntutan hukum atas tindakan aborsi. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Dr. P.Y. Kusuma, DSOG, yang cukup lama berkecimpung di bagian kandungan dan kebidanan. Dengan tegas Dr. Kusuma menyatakan, Legalisasi tidak mencegah aborsi, justru meningkatkan tindak aborsi. Sebagai contoh kasus, pada tahun 1972 ketika aborsi masih ilegal di Amerika Serikat, tercatat angka 100.000 aborsi ilegal. Dengan disyahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (UU Kesehatan) menggantikan UU 23/1992, permasalahan aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam UU ini terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi, meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi di berbagai lapisan masyarakat. Meskipun UU melarang praktik aborsi, dalam keadaan tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam UU Kesehatan dituangkan dalam Pasal 75, 76 dan 77.

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN

Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. (3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra-tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh menteri.

Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang- undangan. Aborsi bukanlah suatu prosedur medis yang sederhana. Jika dilakukan secara sembarangan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Bahkan bagi beberapa perempuan hal ini dapat mempengaruhi fisik, emosional dan spiritualnya. Namun tidak semua orang tahu tentang risiko yang bisa dialami jika melakukan aborsi.

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN Studi menemukan perempuan yang melakukan aborsi berisiko dua kali lipat atau lebih berat mengalami masalah pada kesehatan mentalnya dibanding dengan perempuan yang tidak melakukan aborsi. "Hasil studi menunjukkan bahwa aborsi cukup konsisten dikaitkan dengan risiko yang sangat moderat untuk meningkatkan masalah psikologis setelah prosedur dilakukan,"Coleman, seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (2/9/2011)."Sangat penting untuk menyadarkan para perempuan akan risiko yang nyata dari tindakan aborsi termasuk dalam hal kesehatan mental," ujar Philippa Taylor dari Christian Medical Foundation. Studi ini didukung oleh Royal College of Psychiatrists dan telah dipublikasikan oleh British Journal of Psychiatry. Penelitian ini didasarkan pada analisis 22 studi terpisah yang melibatkan 877.000 perempuan. Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh menteri.

Pasal 77

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Berdasarkan ketentuan UU Kesehatan tersebut, jika dikaitkan dengan aborsi KTD (kehamilan yang tidak diinginkan) akibat perkosaan, kita dapat menyimpulkan: Pertama, secara umum praktik aborsi dilarang; Kedua, larangan terhadap praktik dikecualikan pada beberapa keadaan, kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

NAMA ; FRANSISKA APRILIA MEGDALENA PRODI ; FAKULTAS KEDOKTERAN Selain itu, tindakan medis terhadap aborsi KTD akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila: (1) setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra-tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang; (2) dilakukan sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; (3) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; (4) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; dan (5) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh menteri.

Kesimpulannya, UU Kesehatan memperbolehkan praktik aborsi terhadap kehamilan akibat perkosaan dengan persyaratan dilakukan oleh tenaga yang kompeten dan memenuhi ketentuan agama dan perundang-undangan yang berlaku. DATA ORGANISASI KESEHATAN...... Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia, 98% negara mengizinkan aborsi untuk menyelamatkan nyawa seorang perempuan. Aborsi diizinkan untuk menjaga kesehatan fisik dan/atau kesehatan mental seorang perempuan dalam kira-kira 63% negara. Aborsi juga diizinkan dalam kasus perkosaan dan incest di 43% negara dan di 39% negara jika ada gangguan janin. Kirakira sepertiga negara mengizinkan aborsi demi alasan sosio-ekonomi atau alasan pribadi.

Beberapa negara yang mengizinkan aborsi termasuk negara yang mempunyai pengaruh kuat dari agama Katholik, seperti Portugal dan Italia. Di Italia, aborsi diizinkan jika dimohon selama 90 hari pertama dari masa kehamilan. Aborsi diizinkan selanjutnya apabila kehidupan ibu hamil terancam atau jika janin mengalami malformasi yang sangat berat. KESIMPULAN Jadi, pernyataan tersebut haruslah melihat aborsi secara kasus perkasus karena ternyata UU Kesehatan di Indonesia sudah melegalkan aborsi yang mempunyai indikasi jelas bahkan negara harus menjamin keselamatan perempuan dari aborsi yang tidak aman, tidak bermutu dan tidak bertanggung jawab. i, kerusakan organ serta reaksi dari anestesi yang dapat menyebabkan kematian.