Anda di halaman 1dari 11

Skenario 3

Kerasionalan Farmakoterapi Seorang pasien datang dengan keluhan demam, anyang-anyangen dan nyeri pinggang serta nyeri bila BAK. Oleh dokter di resepkan obat sebagai berikut R/ Amoxicilin no X S3 dd 1 R/ Antalgin no X S3 dd 1

Setelah minum obat, pasien mengeluh deg-degan, keringat dingin, kulit gatal danmelepuh. Pasien datang ke RS, oleh dokter di diagnosis alergi obat. Keluarga pasien menyalahkan dan menuntut dokter yang memberi resep.

STEP 1

1. Anyang-anyangen: Rasa ingin buang air kecil, tetapi dalam vesica urinaria sebenarnya tidak terdapat urin atau keadaan dimana frekwensi mixi kandung kemih lebih besar dari pada biasanya.

2. Alergi obat: Reaksi abnormal jaringan terhadap berbagai jenissubstansi atau suatu reaksi hipersensitivitas

3. Demam : Meningkatnya suhu tubuh diatas 37 derajat C. Dan merupakan suatu tanda seseorang terkenaa infeksi.

4. Keringat dingin : Keluh yang menyebabkan rasa dingin pada tubuh / keringat yang keluar karena respon tubuh yang hormonal.

5. Deg-degan : keadaaan tubuh merasakan denyut jantung berlebih(takikardi) dan biasanya dibarengi dengan tekanan darah naik (hipertensi)

6. Amoxicilin: suatu derivat semisintetik dari ampisilin yang efektif melawan spektrum luas bakteri gram positif dan gram negatif terutamadigunakan dalam pengobatan infeksi akibat strain haemophilusinfluenza,escheria colli,neisseria gonorhea,streptococci dan stafilokokusyang tidak menghasilkan penisilin diberikan secara oral.

7. Antalgin: derivat metansulfat dan amidopirina yang bekerja terhadapsusunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitifitas reseptor rasa nyeri danmempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh.

8. Resep: Permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk membuat obat dalam bentuk sediaantertentu dan menyerahkannya kepada pasien.

STEP 2

1. Mengapa dokter meresepkan obat antalgin dan amoxicilin? 2. Mengapa pasien mengalami demam, anyang-anyangen, dan sulit BAK? 3. Apa yang dimaksud alergi obat serta bagaimana mekanismenya? 4. Bagaimana penatalaksanaan awal alergi obat? 5. Jenis obat apa saja yang sering menimbulkan alergi? 6. Bagaimana diagnosis penyakit dan penyebabnya? 7. Diagnosis banding 8. Dalam hal ini, apakah dokter melakukan tindakan malpraktek? 9. Bagaiman kerasionalan obat diresepkan oleh dokter? 10. Bagaimana pencegahan untuk alergi obat?

1. Kenapa Amoxicillin dan Antalgin Amoxicilin : suatu derivat semisintetik dari ampisilin yang efektif melawan spektrum luas bakteri gram positif dan gram negatif terutama digunakan dalam pengobatan infeksi akibat strain haemophilus influenza,escheria colli,neisseria gonorhea,streptococci dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilin diberikan secara oral. Amoxicilin merupakan penisilin yang termasuk antibiotik, pada kasus adanya infeksi saluran kemih karena bakteri / mikroorganisme. Amoxicilin membunuh mikroorganisme, menghambat sintesis dinding sel bakteri. Antalgin : derivat metansulfat dan amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitifitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh Antalgin dalam kasus ini memberikan indikasi analgesik dimana pasien mengeluhkan nyeri bila BAK dan nyeri pinggang. Tidak hanya itu, antalgin memberikan efek antipiretik juga dengan manifestasi pasien mengalami demam.

2 . Dalam kasus ini pasien menderita gejala seperti demam, nyeri pinggang , anyanganyangen dan nyeri saat BAK merupakan salah satu tanda dari infeksi sauran kemih. Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. a. Ascending factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada lakilaki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal, sehingga menyebabkan bakteri masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan inflamasi kemudian menjadi demam.

b. Hematogen Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu : adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal tersebut menyebabkan terjadinya nyeri pada pinggang. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. Mobilitas menurun, Nutrisi yang sering kurang baik, System imunnitas yng menurun, Adanya hambatan pada saluran urin, Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.

3. Pengertian dan mekanisme alergi obat Pengertian alergi obat Alergi obat adalah respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya melaluireaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas yang terjadi selama atau setelah pemakaian obat. Alergi obat masuk kedalam penggolongan reaksi simpang obat (adverse drug reaction), yang meliputi toksisitas, efek samping, idiosinkrasi, intoleransi dan alergi obat.Toksisitas obat adalah efek obat berhubungan dengan kelebihan dosis obat. Efek samping obatadalah efek obat selain khasiat utama yang timbul karena sifat farmakologi obat atau interaksidengan obat lain. Idiosinkrasi adalah reaksi obat yang timbul tidak berhubungan dengan sifatfarmakologi obat, terdapat dengan proporsi bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui. Intoleransi adalah reaksi terhadap obat bukan karena sifat farmakologi, timbul karena proses non imunologi. Sedangkan alergi obat adalah respon abnormal terhadap obat ataumetabolitnya melalui reaksi imunologi.

Mekanisme terjadinya reaksi alergi Alergi obat dapat terjadi melalui semua 4 mekanisme hipersensitifitas Gell dan Coomb, yaitu : 1. Reaksi hipersensitivitas segera (tipe I), terjadi bila obat atau metabolitnya berinteraksimembentuk antibodi IgE yang spesifik dan berikatan dengan sel mast di jaringan atau sel basofil di sirkulasi. 2. Reaksi antibody sitotoksik (tipe II), melibatkan antibodi IgG dan IgM yang mengenaliantigen obal di membran sel. Dengan adanya komplemen serum, maka sel yang dilapisiantibodiakan dibersihkan atau dihancurkan oleh sistem monositmakrofag. 3. Reaksi kompleks imun (tipe III), disebabkan oleh kompleks soluble dari obat ataumetabolitnya dengan antibodi IgM dan IgG. 4. Reaksi hipersensitivitas lambat (delayed-type hypersensitivity reactions, tipe IV) adalahreaksi yang dimediasi oleh limfosit T yang spesifik obat.

4. TATALAKSANA Dasar utama penanganan alergi obat adalah penghentian obat yang dicurigai kemudian mengatasi gejala klinis yang timbul. Di samping itu perlu pula dipikirkan upaya pencegahan alergi obat. 1. Penghentian obat Penentuan obat yang harus dihentikan seringkali sulit karena biasanya, terutama pada anak, penderita mendapat berbagai jenis obat dalam waktu yang sama. Bila mungkin semua obat dihentikan dulu, kecuali obat yang memang perlu dan tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi, atau menggantikannya dengan obat lain. Bila obat tersebut dianggap sangat penting dan tak tergantikan, bila tidak ada alternatif lain dan reaksi alerginya relatif ringan, dapat terus diberikan dengan persetujuan penderita dan keluarga. Pada beberapa keadaan dapat dilakukan desensitasi obat atau prosedur provakasi bertahap. Desentisasi biasa dilakukan pada jenis obat penisilin, antibiotik non-beta laktam dan insulin. Sedangkan provokasi bertahap biasa dilakukan asam aminosalisilat, isoniazid, trimetoprim-sulfametoksazol, dapson, alopurinol, sulfasalazin dan difenilhidantoin.

Kalau mungkin semua obat dihentikan dulu,kecuali obat yang memang perlu dan tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi atau menggantikan dengan obat lain. Bila obat tersebut dianggap sangat penting dan tak dapat digantikan, dapat terus diberikan atas persetujuan keluarga, dan dengan cara desensitisasi. 2. Pengobatan Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk pruritus, urtikaria atau edema angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya, diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup luas diberikan pula adrenalin subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Difenhidramin diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam. Setirizin dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis, 1 kali/hari; > 6 tahun : 510 mg/dosis, 1 kali/hari. Loratadin dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari. Feksofenadin dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari, 4kali/hari. Bila gejala klinis sangat berat misalnya dermatitois eksfoliatif, ekrosis epidermal toksik, sindroma Steven Johnson, vaskulitis, kelainan paru, kelainan hematologi harus diberikan kortikosteroid serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, tranfusi, antibiotik profilaksis dan perawatan kulit sebagaimana pada luka bakar untuk kelainan-kelainan dermatitis eksfoliatif, nekrosis epidermal toksik dan Sindroma Steven Johnson.

Prednison Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10 hari. Steroid parenteral yang digunakan adalah metil prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral. Cairan dan elektrolit dipenuhi dengan pemberian Dekstrosa 5% dalam 0,225% NaCl atau Dekstrosa 5% dalam 0,45% NaCl dengan jumlah rumatan dan dehidrasi yang ada. 3.Berikan air putih sebanyak mungkin kepada pasien, agar pasien tidak mengalami dehidrasi 5. Obat yang sering menimbulkan alergi adalah 1. Antibiotika Golongan Penisilin Penisilin adalah salah satu golongan antibiotika yang sering menimbulkan alergi pada orang-orang yang sensitif. Bagi pasien beriwayat alergi pebisilin sebaiknya juga menghindari obat-obat yang satu golongan seperti amoksisilin, ampisilin dan penisilin prokain. Bentuk alergi yang muncul berupa gatai-gatal, kemerahan di kulit, Steven Johnson Syndrome atau syok anafilaktik bila obat diberikan secara injeksi. 2. Antibiotika Golongan Sulfa Antibiotika golongan sulfa juga sering menimbulkan alergi seperti cotrimoxazol, sulfacloxin (biasanya kombinasi dengan pyrimethamine untuk pengobatan malaria), sulfodiazine dan sulfalazine. 3. Antalgin Antalgin merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit dan termasuk obat yang sering menimbulkan alergi. Reaksinya cukup unik karena bentuk alergi muncul cukup khas yaitu bengkak di kelopak mata dan terkadang disertai sesak napas. Namun ada pula yang mengalami alergi antalgin dalam bentuk gatal-gatal atau kemerahan di kulit. Bagi pasien yang beriwayat alergi antalgin sebaiknya menghindari obat-obat satu golongan yang termasuk analgetik-antiradang (obat NSAID) seperti asam mefenamat, piroxicam, diklofenak, ketoprofen dan ketorolac karena mempunyai potensi yang sama untuk menimbulkan alergi.

6. Diagnosis Dilihat dari keluhan pasien dalam kasus, kemungkinan diagnosis yaitu Infeksi Saluran Kemih (ISK). Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001) Gejala infeksi saluran kemih Penderita infeksi saluran kemih mungkin mengeluhkan hal-hal berikut:

Sakit pada saat atau setelah kencing Anyang-anyangan (ingin kencing, tetapi tidak ada atau sedikit air seni yang keluar) Warna air seni kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada darah Nyeri pada pinggang Demam atau menggigil, yang dapat menandakan infeksi telah mencapai ginjal (diiringi rasa nyeri di sisi bawah belakang rusuk, mual atau muntah)

Penyebab Infeksi saluran kemih Bakteri utama penyebab Infeksi saluran kemih adalah bakteri Escherichia coli (E. coli) yang banyak terdapat pada tinja manusia dan biasa hidup di kolon. Wanita lebih rentan terkena ISK karena uretra wanita lebih pendek daripada uretra pria sehingga bakteri ini lebih mudah menjangkaunya. Infeksi juga dapat dipicu oleh batu di saluran kencing yang menahan koloni kuman. Sebaliknya, ISK kronis juga dapat menimbulkan batu. Mikroorganisme lain yang bernama Klamidia dan Mikoplasma juga dapat menyebabkan ISK pada laki-laki maupun perempuan, tetapi cenderung hanya di uretra dan sistem reproduksi. Berbeda dengan E coli, kedua bakteri itu dapat ditularkan secara seksual sehingga penanganannya harus bersamaan pada suami dan istri.

7.

8. Dalam kasus dokter tidak melakukan medikolegal hanya tidak menggali informasi dan tidak menjalankankomunikasi dokter pasien, riwayat alergi pasien sehingga terjadi pemakaian antibiotik secara irasional. Dan pasien pun tidak

memberikaninformasi yang jelas kepada dokter bahwa apakah pasien mempunyai riwayat alergi obat, ataukah lupa dengan riwayat alergi dirinya atau juga bisa belum pernah terjadi alergi sebelumnya.

9. Kerasionalan obat, dengan rumus (5T1W) : 5T : 1. Tepat obat : jumlah obat, dosis obat, pemilihan obat 2. Tepat cara pemakaian obat : sesuai dengan aturan pemakaian 3. Tepat penderita : diberikan obat sesuai dengan penyakit, murah,efektif, serta efisien 4. Tepat indikasi : alergi obat dan riwayat penyakit 5. Tepat edukasi : pemberian informasi kepada pasien

1W : Waspadalah terhadap efek samping obat

10. Pencegahan alergi obat : -Pastikan obat yang diminum benar -Pastikan tidak memiliki alergi terhadap obat yang anda pergunakan -Gunakan obat sesuai petunjuk dokter -Informasikan kepada dokter bila memiliki alergi obat -Bawalah selalu catatan alergi obat bila memiliki riwayat alergi obat dan tunjukkan kepada dokter yang merawat -Lakukan skin test untuk menghindari alergi obat

STEP 4
Skema Pasien Dokter praktek Keluhan : -Demam -Anyang-anyangan -Nyeri BAK -Nyeri Pinggang

Diberi Amoxicillin dan Antalgin

-Indikasi -ESO -Kontraindikasi -Mekanisme kerja obat

-deg-degan -keringat dingin -gatal-gatal dan melepuh

Alergi obat

Mekanisme dan tipe hipersensitifitas Mekanisme dan tipe hipersensitifitas

Pencegahan

Penatalaksaan bila trejadi alergi obat