Anda di halaman 1dari 0

9

BAB I I
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMI KI RAN

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Model
Model adalah pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan
(Departemen P dan K, 1984: 75). Definisi lain dari model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya,
dalam gambaran yang lebih sederhan serta mempunyai tingkat prosentase yang bersifat menyeluruh,
atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada beberapa sifat
dari kehidupan sebenarnya (Simamarta, 1983: ix xii).
Model adalah penyederhanaan dari sesuatu. Istilah lainnya disebut tiruan model dunia nyata
yang dibuat virtual (sterman, 2000). Karena bentuknya tiruan model tidak harus sama persis dengan
aslinya, tetapi minimal memiliki keserupaan. Model menggambarkan objek atau suatu kegiatan.
Model adalah representasi suatu sistem (baik konkrit maupun konseptual) dengan menggunakan
sistem lain. Sistem lain ini, yang disebut model, tentunya lebih sederhana dari sistem sebenarnya
sehingga lebih mudah dipahami perilakunya. Model merupakan suatu representasi atau formulasi
dalam bahasa tertentu dari suatu sistem nyata (Simatupang, 1995).
Oleh karena itu, suatu model selalu mengandung pengertian simplifikasi dan abstraksi.
Secara umum model dapat digunakan untuk:
1. Memberikan gambaran (description)
1. Memberikan penjelasan (explanation)
2. Memberikan prakiraan (prediction).

2.1.1.1 Keuntungan Penggunaan Model
Penggunaan model dapat memperoleh keuntungan sebagai berikut:
1. Kecepatan proses simulasi menyediakan kemampuan untuk mengevaluasi dampak
keputusan dalam jangka waktu singkat. Dalam hitungan menit, dapat dibuat simulasi
operasi perusahaan untuk beberapa bulan, kuartal, atau tahun.
10

2. Model menyediakan daya prediksi suatu pandangan ke masa depan yang tidak dapat
diselesaikan oleh metoda penghasil informasi lain.
3. Model lebih murah dibandingkan oleh metoda trial and error. Proses pembuatan model
memang mahal dalam hal waktu pengembangan serta perangkat lunak dan perangkat
keras yang diperlukan untuk simulasi, tetapi biaya tersebut tidak setinggi biaya yang
disebabkan keputusan yang buruk.
Dalam prakteknya, pemahaman yang efektif dari model adalah yang terbaik, apalagi, ketika si
pembuat keputusan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan model tersebut.
2.1.1.2 J enis-J enis Model
J enis-jenis model dapat dibagi dalam lima kelas yang berbeda:
1. Kelas I, pembagian menurut fungsi
a) Model deskriptif : hanya menggambarkan situasi sebuah sistem tanpa rekomendasi
dan peramalan.
Contoh : peta organisasi
b) Model prediktif : model ini menunjukan apa yang akan terjadi, bila sesuatu terjadi.
c) Model normatif : model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan.
Model ini memberi rekomendasi tindakan-tindakan yang perlu diambil.
Contoh : model budget advertensi, model economics, model marketing.
2. Kelas II, pembagian menurut struktur.
a) Model ikonik : adalah model yang menirukan sistem aslinya, tetapi dalam suatu skala
tertentu.
Contoh : model pesawat.
b) Model analog : adalah suatu model yang menirukan sistem aslinya dengan hanya
mengambil beberapa karakteristik utama dan menggambarkannya dengan benda
atau sistem lain secara analog.
11

c) Model soimbolis : adalah suatu model yang menggambarkan sistem yang ditinjau
dengan simbol-simbol biasanya dengan simbol-simbol matematik. Dalam hal ini
sistem diwakili oleh variabel-variabel dari karakteristik sistem yang ditinjau.
3. Kelas III, pembagian menurut referansi waktu.
a) Statis : model statis tidak memasukan faktor waktu dalam perumusannya,
b) Dinamis : mempunyai unsur waktu dalam perumusannya.
4. Kelas IV, pembagian menurut referansi kepastian.
a) Deterministik : dalam model ini pada setiap kumpulan nilai input, hanya ada satu
output yang unik, yang merupakan solusi dari model dalam keadaan pasti.
b) Probabilistik : model probabilistik dari input atau proses dan menghasilkan suatu
deretan harga bagi paling tidak satu variabel output yang disertai dengan
kemungkinan-kemungkinan dari harga-harga tersebut.
c) Game : teori permainan yang mengembangkan solusi-solusi optimum dalam
menghadapi situasi yang tidak pasti.
5. Kelas V, pembagian menurut tingkat generalitas.
a) Umum
b) Khusus
Model yang akan disusun dalam penelitian ini termasuk model normatif, analog, dinamis, dan
probabilistik, yaitu model yang menyediakan jawaban terbaik terhadap satu persoalan; menirukan
sistem aslinya dengan hanya mengambil beberapa karakteristik utama; terdapat unsur waktu
didalamnya; dan berbagai kemungkinan-kemungkinan dari variabel tersebut.

2.1.2 Sistem
Banyak definisi mengenai sistem, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Sistem adalah sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama-sama untuk mencapai
tujuan tertentu (Forrester, 1968)
Sistem adalah sekumpulan entitas yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama untuk
memenuhi suatu tujuan akhir yang logis (Law et al, 1970)
12

Sistem adalah seperangkat objek yang merupakan suatu kesatuan yang merupakan suatu
kesatuan yang bersamaan dengan itu mempelajari hubungan-hubungan antar obyek dan
bagian-bagian secara sendiri-sendiri (King, 1971 dalam Sabari, 1991)
Sistem adalah suatu kombinasi dari dua atau lebih elemen-elemen yang saling terkait (Ford,
1999)
Sistem adalah setiap fenomena, baik strtuktural maupun fungsional yang memiliki paling
sedikit dua komponen yang saling berinteraksi (Syamsuddin, 2001)
Sistem adalah keseluruhan interaksi antar unsur dari sebuah objek dalam batas lingkungan
tertentu yang bekerja mencapai tujuan (Muhammadi et al, 2001)
Dari beberapa batasan mengenai pengertian sistem, dapat disimpulkan bahwa sistem ini
adalah seperangkat obyek yang membentuk susunan tertentu dan menunjukan sifat saling
berhubungan, baik antara obyek yang satu dengan yang lainnya ataupun antara bagian-bagian dari
masing-masing obyek yang bersangkutan. Secara lebih sederhana dapat diungkapkan bahwa sistem
adalah seperangkat obyek yang merupakan kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling
melakukan hubungan timbal balik. Dengan kata lain suatu sistem merupakan suatu keseluruhan yang
unsur-unsurnya tergantung bersama karena unsur-unsur itu saling mempengaruhi dari waktu ke
waktu dan beroperasi menurut tujuan bersama.
Berdasarkan pengertian sistem tersebut, secara umum ciri-ciri sistem adalah sebagai berikut:
(Awad, 1979 dalam Budihardjo, 1995)
a. Pada hakekatnya sistem itu bersifat terbuka, selalu berinteraksi dengan lingkungnnya;
b. Setiap sistem terdiri dari dua atau lebih subsistem, dan setiap subsistem terbentuk dari
beberapa subsistem yang lebih kecil;
c. Antar subsistem terjalin saling ketergantungan, dalam arti bahwa satu subsistem
membutuhkan masukan (input) dari subsistem lain dan keluaran (output) dari subsistem
tersebut diperlukan sebagai masukan bagi subsistem yang lain lagi;
d. Setiap sistem memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, melalui
mekanisme umpan-balik (feed-back);
e. Setiap sistem mempunyai tujuan dan sasaran tertentu yang ingin dicapai.
13

Complex system merujuk pada sebuah sistem yang terdiri dari banyak elemen yang saling
berhubungan secara non linier. Karena hubunganya adalah non linier, complex system bukan hanya
sekedar jumlah dari unsur-unsurnya, tetapi lebih dari itu. Pada hubungan non linier, perubahan pada
suatu sisi tidak proporsional dengan perubahan pada yang lainnya. Hal ini menyebabkan, pada
complex system yang terdiri dari banyak elemen. Perilaku dari sistem bisa menjadi menarik maupun
tidak terduga (http://en.wikipedia.org/wiki/Complex_system).
Menurut J ames A. OBrien, sistem adalah kumpulan komponen yang saling berhubungn yang
bekerja bersama ke satu arah, satu tujuan dengan menerima input dan menghasilkan output di
dalam perubahan bentuk yang terorganisir (J ames A. OBrien, 2004, halaman8).
Sebuah sistem mempunyai tiga dasar interaksi komponen atau fungsi:
Input, meliputi mengumpulkan dan merkaitkan unsur yang akan diproses yang memasuki
sistem.
Proses, meilputi proses perubahan bentuk yang mengubah input menjadi output.
Output, meliputi perpindahan unsur yang sudah dihasilkan pada proses perubahan bentuk
menuju tujuan akhirnya.
Suatu sistem akan mentransformasikan input menjadi output dimana proses transformasi
secara khas ditandai dengan adanya feedback (umpan balik). Feedback adalah esensi dari sebuah
sistem, tanpa umpan balik maka tidak ada sistem. Dengan umpan balik maka akan diketahui
konsekuensi dari langkah yang telah dilakukan sebagai masukan kembali karena akan mempengaruhi
langkah berikutnya.

2.1.3 Berpikir Sistem
Berpikir sistem adalah paradigma sistem dinamik. Berpikir secara sistemik yang mempelajari
keterkaitan objek dari pengamatan dan penyelidikan dalam dunia nyata. Berpikir sistem telah ada
pada proses berpikirnya manusia dalam memecahkan permasalahan hidupnya dengan mencari tau
(know) terhadap realitas yang dihadapinya. Dalam menyelidiki dan mengamati realitas, manusia
senantiasa melihat keterkaitan antara faktor-faktor yang diamatinya dengan memilah-milah (analisis)
kemudian merangkainya (sintesa). Dengan cara tersebut akan dicapai sebuah solusi yang
komprehensif (menyeluruh).
14

Dalam konteks organisasi, berpikir sistemik sebagai alat perkakas untuk pemahaman terbaik
salam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Untuk menerapkan ini tentunya tidak mudah, karena
memerlukan pergeseran paradigma dari melihat kejadian sebagai kegiatan yang terisolasi menjadi
melihatnya sebagai sebuah sistem yang terdiri dari kejadian yang saling berinteraksi untuk mencapai
tujuan. Misalnya penurunan kinerja keuangan disebabkan oleh faktor kinerja non-keuangan
(kekayaan intelektual, kepuasan pelanggan, karyawan, R&D dan proses bisnis)
Berpikir sistem adalah upaya untuk memahami struktur dari sebuah sistem yang diamati
kemudian mempelajari pola perilaku untuk disimpulkan kejadian yang terjadi pada sistem tersebut.
System Thinking adalah sebuah disiplin baru untuk memahami komplesitas dan perubahan-
perubahan (Maani & Cavana, 2000). Berpikir sistemik merupakan pendekatan yang melihat dunia
sebagai sebuah complex system, semuanya saling berhubungan, sehingga tidak mungkin hanya
melakukan satu hal (Sterman, 2000, halaman 4). System Thinking cocok untuk suatu lingkungan
yang kompleks, dimana dengan pendekatan berpikir sistem maka kekompleksan akan dilihat sebagai
suatu yang holistik dan saling terkait.
System Thinking mempelajari sebuah organisasi sebagai sebuah kesatuan interaksi dengan
lingkungannya (Haines, 2000, halaman 34). System Thinking kemudian berkerja mundur untuk
memehami bagaimana setiap bagian dari kesatuan itu dapat saling berhubungan dan saling
mendukung tujuan sistem tersebut.
System Thinking melihat beberapa jenis sistem dari perspektif yang sama, sehingga
membentuk diagram casual loop yang sama pula. Cara System Thinking ini biasanya diikuti dengan
pembentukan dan pengujian model dengan mengunakan simulasi komputer serta pengujian alternatif
kebijakan atau rekomendasi model tersebut. Proses inilah yang disebut system dynamics. System
Dynamics memiliki kriteria sebagai berikut: (1) perilaku yang selalu berubah terhadap waktu, (2)
adanya kompleksitas detail maupun dinamik, (3) tidak bersifat linier.

2.1.4 Sistem Dinamik
Berikut ini pengertian sistem dinamik adalah sebagai berikut :
a. Sistem dinamik adalah suatu metode analisis permasalahan dimana waktu merupakan salah satu
faktor penting, dan meliputi pemahaman bagaimana suatu sistem dapat dipertahankan dari
15

gangguan di luar sistem, atau dibuat sesuai dengan tujuan dari pemodelan sistem yang akan dibuat
(Coyle, 1979).
b. Sistem dinamik adalah metodologi untuk memahami suatu masalah yang kompleks. Metodologi ini
dititikberatkan pada kebijakan dan bagaimana kebijakan tersebut menentukan tingkah laku masalah-
masalah yang dapat dimodelkan oleh sistem dinamik (Richardson dan Pugh, 1986).
c. Sistem dinamik adalah suatu metode pendeskripsian kualitatif, pemahaman, dan analisis sistem
kompleks dalam ruang lingkup proses, informasi, dan struktur organisasi, yang memudahkan dalam
simulasi pemodelan kuantitatif dan analisis kebijakan dari struktur sistem dan kontrol (Wolstenholme,
1989 di dalam Daalen dan Thissen, 2001).
d. Sistem dinamik adalah suatu bidang untuk memahami bagaimana sesuatu berubah menurut
waktu. Sistem ini dibentuk oleh persamaan-persamaan diferensial. Persamaan diferensial digunakan
untuk masalah-masalah biofisik yang diformulasikan sebagai keadaan di masa datang yang
tergantung dari keadaan sekarang (Forrester, 1999).
Metodologi sistem dinamik diperkenalkan pertama kali oleh J ay Forrester pada tahun 1958.
kemudian pada tahun 1961 Forrester menerbitkan buku pertama dalam sistem dinamik yang berjudul
Industrial Dynamics. Dalam buku ini Forrester memberikan definisi dinamika insudtri sebagai
berikut: Dinamika industri adalah penelitian tentang karakter informasi umpan balik pada sistem
industri dan menggunakan model untuk merancang bentuk organisasi yang lebih terstruktur dan
penentuan kebijakan.
Metodelogi sistem dinamik dibangun atas dasar tiga latar belakang disiplin yaitu manajemen
tradisional, teori umpan balik atau cybernetic, dan simulasi komputer. Prinsip dan konsep dari ketiga
disiplin ini dipadukan dalam sebuah metodologi untuk memecahkan permasalahan manajerial secara
holistik, menghilangkan kelemahan dari masing-masing disiplin, dan menggunakan kekuatan setiap
disiplin untuk membentuk sinergi. Akar dari metodologi sistem dinamik dan input yang diberikan
terhadap model sistem dinamik dapat di lihat pada Gambar 2.1
16


Gambar 2.1 Dasar Metodologi Sistem Dinamik
Manajemen tradisional adalah dunia nyata dari praktisi manajerial yang mengandalkan
pengalaman dan penilaian dari para manager. Dasar utama dari manajemen tradisional adalah basis
data mental dan model mental dengan kekuatan utama pada kekayaan atas informasi kualitatif yang
didapat dari pengamatan langsung dan pengalaman.
Cybernetic adalah ilmu mengenai komunikasi dan kontrol yang didasari oleh teori umpan
balik. Kekayaan informasi yang terkandung dalam basis data mental tidak dapat digunakan secara
efektif tanpa adanya prinsip tentang pemilihan yang relevan dan prinsip tentang strukturasi informasi.
Dengan adanya cybernetic maka informasi yang ada dapat difiltrasi dan dihubungkan satu sama lain
untuk membentuk struktur kausal dan umpan balik dalam sistem.
Simulasi komputer digunakan untuk mempelajari konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku
dinamis dari suatu sistem. Perkembangan yang amat pesat dalam dunia simulasi komputer membuat
simulasi dari konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku dinamis ini dapat dilakukan dengan biaya
yang rendah. Simulasi komputer memberikan sumbangan besar dalam perancangan kebijakan-
kebijakan yang akan diterapkan dalam suatu sistem dengan kemampuan untuk memberikan
konsekuensi yang akan ditimbulkan atas setiap kebijakan tersebut.
Didasari oleh filosofi kausal, tujuan metodologi sistem dinamik adalah mendapatkan
pemahaman yang mendalam tentang cara kerja suatu sistem. Permasalahan dalam suatu sistem
dilihat tidak disebabkan oleh pengaruh luar namun dianggap disebabkan oleh struktur internal sistem.
Fokus utama dari metodologi sistem dinamik adalah pemahaman atas sistem sehingga
langkah pemecahan masalah dengan metodologi sistem dinamik, yaitu: (Gambar 2.2)
17

1. Identifikasi dan definisi masalah
2. Konseptualisasi sistem
3. Formulasi model
4. Simulasi dan validasi model
5. Analisis kebijakan
6. Impementasi

Gambar 2.2 Metodologi Sistem Dinamik

2.1.4.1 Konsep Sistem Dinamik
Pemahaman tentang sistem melahirkan identifikasi dan definisi atas permasalahan yang
terjadi dalam sistem tersebut. Konseptualisasi sitem kemudian dilakukan atas dasar permasalahan
yang didefinisikan. Ini akan menimbulkan pemahaman yang lebih mendalam atas sistem yang
selanjutnya mungkin akan menimbulkan redefenisi masalah sampai konseptualisasi sistem dinyatakan
dapat diterima. Didasari atas konseptualisasi sistem ini, selanjutnya model diformulasikan secara
detail dalam persamaan matematis yang juga akan menimbulkan tambahan pemahaman atas sistem.
Formulasi terus berlangsung dengan tujuan mendapatkan model logis yang dapat merepresentasikan
sistem nyata. Kemudian model disimulasikan dan dilakukan validasi yang juga akan menimbulkan
umpan balik tentang pemahaman atas sistem. Hasil validasi kemudian akan menimbulkan proses
18

perbaikan dan reformmulasi model. Akhirnya dilakukan analisis kebijakan pada model yang telah valid
dan ini akan menambah pemahaman atas sistem.
Kebijakan yang menimbulkan perbaikan selanjutnya diimplementasikan dan umpan balik
yang diperoleh dari sistem nyata, pada akhirnya juga akan menimbulkan tambahan pemahaman atas
sistem. Langkah-langkah yang dilakukan dalam metodologi sistem dinamik dapat dilihat pada
Gambar.
Sterman (2000) mendefinisikan, bahwa sistem dinamik adalah metode untuk meningkatkan
pembelajaran dalam sistem yang kompleks. Lebih lanjut, metode ini diilustrasikan seperti sebuah
simulasi dalam kokpit pesawat bagi manajemen untuk memahami dalam belajar dinamika yang
kompleks, memahami sumber resistensi (hambatan) dalam keijakan, dan merancang kebijakan yang
lebih efektif. Untuk memahami ke kompleksan tersebut, maka sistem dinamik didasarkan atas teori
dinamika non-linier dan kontrol umpan balik yang dikembangkan dalam disiplin ilmu matematika,
fisika, dan kerekayasaan.
Metode sistem dinamik merupakan salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi dampak jangka pendek dan jangka panjang dari satu kebijaksanaan. System Dynamics
adalah sebuah metoda untuk meningkatkan pembelajaran pada Complex System. Metode sistem
dinamik berhubungan erat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang trend atau pola perilaku dinamik
(sejalan dengan bertambahnya waktu) dari sebuah sistem yang kompleks. Penggunaan system
dynamics diarahkan kepada bagaimana dengan memahami perilaku sistem tersebut orang dapat
meningkatkan efektivitas dalam merencanakan suatu kebijakan dan pemecahan masalah yang timbul.
Yang membedakan System Dynamics, dengan pendekatan lain dalam mempelajari complex system,
adalah pengunaan feedback loop. Stock dan flow membantu menggambarkan bagaimana sebuah
sistem dihubungkan oleh feedback loop yang menyebabkan kenonlinieran yang sering kali sitemukan
pada masalah sehari-hari di di dunia modern. Software komputer digunakan untuk menstimulasi
sebiuah model System Dynamics dari situasi yang sedang dipelajari. Menjalankan simulasi what if
untuk menguji kebijakan tertentu pada sebuah model dapat benar-benar membantu dalam mengerti
bagaimana sistem berubah sejalan dengan waktu (http://web.mit.edu/sdg/www/what_is_sd.html).
19

System Dynamics adalah metoda unik yang pada mulanya ditujukan untuk membantu para
manajer dan pembuat peraturan untuk masyarakat dalam menerapkan kebijakan yang
menguntungkan dan sukses bertahan lama.
Dengan kata lain System Dynamics didesain sebagai alat dimana para pembuat keputusan
dapat memakainya untuk membantu menyelesaikan masalah yang mendesak yang mereka hadapi di
organisasi atau perusahaan.
Tindakan menggunakan model disebut simulasi. Simulasi adalah satu-satunya cara yang
praktis dalam menguji model. J uga dalam situasi seperti feedback yang sangat lambat, kurang, dan
rancu dan sering diubah menjadi tidak efektif oleh kompleksitas dynamics, penundaan waktu,
kurangnya keahlian dalam menjabarkan, reaksi yang muncul belakangan, serta biaya-biaya
percobaan. Simulasi memperkirakan dampak dari keputusan pemecah masalah.
Menurut sudut pandang system dynamics, model dibuat untuk menjawab serangkaian
pertanyaan. J adi, yang dimodelkan adalah tentang sistem dan bukannya sistem secara total.
Proses pemodelan seperti yang diuraikan Sterman (2000) adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah (penetapan batasan), yaitu menyeleksi tema, kunci variabel dan konsep,
waktu dan pendefinisian permasalahan dinamik.
b. Formulasi dinamik hipotesa, yaitu mengurutkan hipotesa awal dan pemetaan (diagram Batasan
model, diagram subsistem, diagram sebab akibat, pemetaan stok dan aliran, diagram struktur
kebijakan).
c. Formulasi model simulasi, yaitu spesifikasi dari struktur dan aturan keputusan, estimasi
parameter, hubungan perilaku dan kondisi awal, dan pengujian untuk konsistensi dengan tujuan
dan batasan.
d. Pengujian, yaitu membandingkan dengan referensi, kekuatan dalam kondisi ekstrim dan
sensitifitas.
Perancangan kebijakan dan evaluasi, yaitu spesifikasi skenario, perancangan kebijakan,
analisis sensitivitas dan interaksi atar kebijakan. Hal ini perlu ditekankan karena tujuan pemodelan
akan sangat membantu dalam melakukan formulasi model, penentuan batas model, valiadasi model,
20

analisis kebijaksanaan dan penerapan model. Tujuan suatu model sistem dinamik adalah memahami,
mengenal dan mempelajari bagaimana struktur kebijaksanaan dan delay dalam pengambilan
keputusan mempengaruhi perilaku sistem.
Analisis model sistem dinamik menggunakan analisis model simulasi. Simulasi sebagai teknik
penunjang keputusan dalam pemodelan, misalnya pemecahan masalah bisnis secara ekonomis dan
tepat menghadapi perhitungan rumit dan data yang banyak. Simulasi adalah aktifitas dimana
pengkaji dapat menarik kesimpulan tentang perilaku dari suatu sistem melalui penelaahan perilaku
model yang selaras, di mana hubungan sebab akibatnya sama dengan atau seperti yang ada pada
sistem yang sebenarnya (Eriyatno, 1998)

2.1.4.2 Perangkat Lunak Simulasi
Untuk melakukan simulasi dari sebuah model, diperlukan perangkat lunak (software) yang
secara tepat dapat melihat perilaku dari model yang telah dibuat. Ada berbagai macam perangkat
lunak yang dapat digunakan untuk keperluan ini, seperti Vensim, Dynamo, Ithink, Stella dan Power
Simulation. Tetapi dalam penelitian ini, software yang digunakan adalah Powersim 2.5. Powersim
digunakan untuk membangun dan melakukan simulasi suatu model dinamik.

2.1.4.3 Pola Dasar Perilaku Sistem
Perilaku adalah suatu sistem timbul dari strukturnya. Dimana struktur itu terdiri dari feedback
loop, stock dan flow. Dan nonlinearitas yang tercipta oleh interaksi struktur secara fisik dan
kelembagaan dengan proses pengambilan keputusan dari agen yang bertindak didalamnya. Flow
dalam sistem pada dasarnya adalah variabel keputusan yang diatur oleh satu atau lebih struktur
kebijakan. Flow akan menentukan aliran masuk/keluar baik dari/menuju suatu level. Keputusan yang
diambil adalah menentukan besar pengaruh flow dalam suatu waktu terhadap level dan informasi
tentang sistem. Flow tidak dapat diukur secara langsung pada suatu titik waktu melainkan diukur oleh
kebijakan yang diterjemahkan dalam bentuk aliran-aliran informasi yang mempengaruhi flow
tersebut. Selanjutnya flow pada dasarnya diatur secara endogen oleh variabel level atau secara
eksogen sebagai konstanta atau fungsi.
21

Beberapa model perilaku yang fundamental adalah exponential growth, goal seeking, dan
oscillation. Masing-masing perilaku ini dihasilkan dari struktur feedback sederana.
Exponential growth timbul dari positive feedback. Merupakan perilaku hasil penyederhanaan,
dari kompleksitas kemampuan sistem untuk menciptakan keluaran berdasarkan proses sebelumnya.
Disebut juga perilaku pembelajaran (Muhammadi et al, 2001), dimana hasil proses adaptasi melalui
penciptaan umpan balik positif dapat melebihi hasil pengalaman sebelumnya, yang berarti ada proses
pembelajaran menciptakan pengalaman baru untuk adaptasi berikutnya. Pada tahap awal
perubahannya lambat kemudian bergerak cepat.
Goal seeking timbul dari negative feedback yang simpalnya mencari tujuan dibentuk oleh
umpan balik negatif yang berkerja memberikan keadaan terhadap system untuk mencapai tujuan
atau keadaan yang di inginkan. Pola ini mirip seperti system tindakan koreksi dengan penundaan
yang dibahas pada bagian pola gelombang.
Oscillation timbul dari negative feedback dengan time delay pada loop-nya. Secara sederhana
model berstruktur oscillation merupakan model dengan struktur dengan umpan balik negatif yang
mengandung fungsi keterlambatan respon yang panjang. Struktur ini menggambarkan keadaan
dimana terdapat saling keergantungan antara kedua pihak disertai faktor keterlambatan (delay time)
artinya koreksi tidak langsung menghasilkan sebuah perbaikan. Oleh karena tindakan pertama tidak
lagsung menghasilkan perbaikan, sehingga masalah akan meningkat yang berakibat tindakan koreksi
kedua lebih besar dari pertama. Kejadian ini berlanjut terus dan menimbulkan kejadian naik turun
(bergelombang).

Gambar 2.3: Mode Perilaku Fundamental Dynamics System
22


2.1.4.4 Umpan balik (Feed Back)
Kerangka kerja berpikir sistem menggunakan beberapa alat konseptual untuk
merepresentasikan dalam menguraikan sebuah realita agar mudah dipahami. Umpan baik sebagai
konsep utama berpikir sistem yang lebih dari sekedar berpikir. Untuk menggambarkan sebuah konsep
umpan balik pada struktur sistem, dalam SD dikenal diagram kausal (causal loop diagrams [CLD]).
CLD sangat baik untuk (Sterman, 2000):
1. Menangkap secara cepat sebuah hipotesis tentangf penyebab dinamika
2. Menimbulkan dan menangkap model mental individu atau kelompok.
3. Komunikasi umpan balik penting yang dipercaya sebagai tanggung jawab untuk sebuah
masalah.
CLD terdiri dari variabel yang saling berhubungan dengan tanda panah untuk menandaan
pengaruh penyebab diantara variabel. Keterkakitan variabel A dan variabel B berkonsekuensi saling
memberi sebab, misalnya A mengakibatkan B atau B mengakibatkan A. Kadangkala dalam realitas
ditemukan bahwa pada saat B akibat A dan B akibat berbalik lagi menjadi penyebab dari A. Kejadian
ini membentuk sebuah lingkaran sebab-akibat yang dikenal dengan istilah simpal kausal.
Keterkaitan antara unsur dapat pula memiliki dampak pengaruh yang diberikannya. Pengaruh
tersebut dapat berupa pengaruh positif (menguatkan) biasanya disimbolkan dengan huruf R
(reinforcement), artina jika A menguat (melemah) menyebabkan B menguat (melemah). Hubungan
yang lain dapat berupa pengaruh negatif (menyeimbangkan) biasanya disimbolkan dengan huruf B
(Balance), artinya jika A menuat (melemah) menyebaban B melemah (menguat). Hubuangan terakhir
dapat beruap hubungan yang memberi pengaruh tapi terdapa penundaan (delay), artinya A menunda
akibat pada B (Balle, 1994).

2.1.4.5 Stock Flow Diagram (SFD)
SFD sebagai konsep sentral dalam teori SD. Stock adalah akumulasi atau pengumpulan dan
karakteristik keadaan sistem dan pembangkit informasi, di mana aksi dan keputusan didasarkan
padanya. Stock digabungkan dengan rate atau flow sebagai aliran informasi, sehingga stock menjadi
sumber ketidakseimbangan dinamis dalam sistem. SFD secara umum dapat diilustrasikan dengan
23

sebuah sistem bak mandi yang dihubungkan dengan dua kran masukan dan keluaran air. Kedua kran
sebagai poengontrol akumulasi air dalam bak. Besar kecilnya nilai dalam stock dan flow berdasarkan
perhitungan persamaan matematik integral dan diferensial. Persamaan matematik stock merupakan
integrasi dari nilai inflow dan outflow.
SFD diterjemahkan lebih luas dengan menggunakan simbol-simbol komputer sesuai dengan
perangkat lunak yang dipilih, simbol tersebut meliputi simbol yang menggambarkan stock (level), flow
(rate), auxiliary, dan constant.

Tabel 2.1 Simbol-simbol dalam SFD
a) Level merupakan variabel yang menyatakan akumulasi dari sejumlah benda (nouns) seperti
orang, uang, inventori, dan lain-lain, terhadap waktu. Level dipengaruhi oleh variabel rate
dan dinyatakan dengan simbol persegi panjang. Pada bagian bawah simbol variabel level
menunjukkan nama variabel (Powersim, 2005).
b) Rate merupakan suatu aktivitas, pergerakan (movement), ataualiran yang berkontribusi
terhadap perubahan per satuan waktu dalam suatu variabel level. Rate merupakan satu-
satunya variabel yang mempengaruhi variabel level (Tasrif, 2004). Dalam Powersim symbol
rate dinyatakan dengan kombinasi antara flow dan auxiliary. Simbol ini harus
terhubung dengan sebuah variabel level.
24

c) Auxiliary merupakan variabel tambahan untuk menyederhanakan hubungan informasi
antara level dan rate (Shintasari, 1988). Seperti variabel level, variabel auxiliary juga
dapat digunakan untuk menyatakan sejumlah benda (nouns). Simbol auxiliary dinyatakan
dengan sebuah lingkaran (Powersim, 2005).
d) Constant
Konstanta merupakan input bagi persamaan rate baik secara langsung maupun melalui
auxiliary. Konstanta menyatakan nilai parameter dari sistem real. Simbol konstanta
dinyatakan dengan segiempat (Powersim, 2005).

2.1.5 Pengertian Pengembangan
Pengembangan berasal dari kata kembang yang berarti bertambah sempurna. Adapun
pengembangan adalah proses atau cara mengembangkan atau menjadikan sesuau lebih bertambah
sempurna atau lebih baik (Yusuf, 1995: 58). Dengan demikian, arti pengembangan di sini adalah
suatu upaya untuk mengubah dan menambah sesuatu ke arah yang lebih maju, lebih besar, atau
lebih baik.

2.1.5.1 Pengembangan Model
Pemahaman yang baik akan sistem sebenarnya sangat diperlukan dalam membentuk model
dan merupakan hal yang sulit juga untuk dilakukan. Tidak ada pendekatan yang baku dalam
membentuk model. Ada dua pendekatan yang dapat kita gunakan, yaitu pendekatan aliran fisik dan
perubahan status. Dalam pendekatan aliran fisik, pemrosesan atau perpindahan entiti secara fisik
ditunjukkan dalam model.







25





2.2 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran